Langkah 8
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data : 1) Tujan pengumpulan data
2) Penentuan jenis data yang akan dikumpulkan 3) Teknik pengumpulan data yang akan digunakan 4) Penentuan alat bantu pengumpulan data.
Mengumpulkan data adalah mengamai variabel yang akan diteliti. Secara umum pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian.
ad. (1) Tujuan
i. Data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka, kategori, misalnya : Produksi padi sangat meningka, harga daging sangat mahal, dsb
ad. (2) Jenis Data Secara Umum a. Menurut sifatnya :
ii. Data kuantitatif yaitu dalam bentuk angka, ada 2 :
1) Diskrit (hasil penghitungan/ pembilanga, misal : Kabupaen Tasikmalaya sudah membangun 300 gedung sekoah, keluarga A mempunyai 3 anak laki-laki + 2 anak perempuan, dsb)
2) Kontinu (hasil pengukuran, misalnya : tinggi badan, luas daerah, dsb).
Kedua data tersebut secara umum mempunyai nilai/ harga yang selalu berubah-ubah ~ bersifat variabel ~ peubah.
i. Data intern yaitu data yang menggambbarkan keadaan/ kegiatan di dalam suatu organisasi/ badan (Negara, Departemen, Perusahaan, Rumah Tangga, dsb) misalnya : data personalia, data keuangan, data peralatan, data produksi, hasil penjualan, dsb.
ii. Data ekstern, yaitu yang menggambarkan kedaan/ kegiatan diluar suatu organisasi. Misal : bagi suatu perusahaan : data tingkat daya beli masyarakat, perkembangan harga barang-barang ekspor, krisis moneter/ energi, dsb.
Data ekstern mempengaruhi karya suatu organisasi (intern) misal : naik turun daya beli masyarakat mempengaruhi hasil penjualan, krisis moneter mempengaruhi hasi ekspor Indonesia.
i. Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari objeknya. Misalnya : BPS melakukan sensus penduduk untuk memperoleh data penduduk langsung menghubungi rumah tangga-rumah tangga. Perusahaan susu langsung mewawancarai kepada penduduk untuk mengetahui rata-rata konsumsi susu bagi penduduk tersebut.
ii. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, umumnya sudah dalam bentuk publikasi, misalnya : suatu perusahaan memperoleh data ekonomi dari BPS, data harga dari BPS, data perbankan dari BI, dsb.
c. Menurut Cara Perolehannya :
i. Data Cross Section (Kerat Lintang) yaitu data yang dikumpulkan pada suatu waktu tertentu yang menggambarkan keadaan/ kegiatan pada waktu tertentu, umumnya menggambarkan/ memperbandingkan keadaan objek yang satu dengan objek yag lain. Misal : membandingkan kinerja dari PNS dengan PTT, dsb.
ii. Data Berkala/ Deret Waktu? Times Series Data/ Data Historis yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk memberikan gambaran tentang perkembangan suatu kegiatan dari waktu ke waktu.
Misal : perkembangan produksi padi selama 5 tahun terakhir, harga bahan pokok selama 5 bulan terakhir.
Setiap jenis data dapat dikumpulkan dengan menggunakan salah satu teknik pengumpulan data. Perbedaannya hanyalah dalam hal cara menghasikan data yang dimaksud, terutama dalam hubungannya dengan pengolahan dan penyajian data. Teknik pegumpulan data secara umum dapat dibedakan menjadi teknik pengamatan langsung dan pengamatan tidak langsung. Cara yang terakhir kemudian dapat pula dibedakan menjadi beberapa teknik yang lebih rinci. Dalam suatu penelitian jarang sekali hanya digunakan satu teknik pengumpulan data, namun demikian berikut ini akan dibahas masing-masing teknik yang paling banyak digunakan.
ad. (3) Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang paling umum adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian, artinya pengamat atau peneliti berada di tempat terjadinya fenomena yang diamati. Pengamatan langsung yang dapat dikategorikan sebagai teknik pengumpulan data adalah (a) pengamatan tersebut digunakan untuk penelitian dan direncanakan secara sistematis, (b) pengamatan tersebut berkaitan dengan tujuan penelitian, (c) pengamatan dilakukan secara sistematis, dan (d) hasil pengamatan dapat dipertanggung jawabkan (di cek dan di kontrol).
Teknik pengamatan langsung dapat dibedakan menjadi pengamatan tidak berstruktur dan pengamatan berstruktur. Pengamatan tidak berstruktur adalah pengamatan dimana pengamat atau peneliti belum mengetahui sebelumnya aspek-aspek apa yang perlu diamati yang relevan dengan penelitiannya. Pengamatan tidak berstruktur umumnya justru untuk menemukan aspek-aspek yang dpat dijadikan objek pengamatan lebih lanjut. Teknik ini lebih banyak digunakan untuk penelitian antropoogis dan eksploratori.
Pengamatan berstruktur adalah pengamatan dimana pengamat atau peneliti sudah mengetahui sebelumnya aspek-aspek atau fenomena apa yang akan diamati sesuai dengan tujuan penelitiannya. Pengamatan berstruktur ini umumnya adalah pengamatan yang mendalam dan bersifat khusus pada aspek tertentu dari obyek yang diamati, serta pola pengamatan dilakukan untuk menunang hipotesa yang telah disusun. Tknik sangat berhubungan dengan rancangan penelitian (research design), yaitu apakah rancangan bersifat non eksperimental atau eksperimental.
Pada rancangan penelitian yang pertama maka pengamat atau peneliti tidak mempunyai kontrol teerhadap objek yang diamati. Dengan demikian struktur pengamatan akan lebih banyak disesuaikan dengan keadaan obyek yang diamati. Sedangkan pada rancangan penelitian eksperimental peneliti memiliki kontrol atas objel yang diamati, sehingga struktur pengamatannya dapat disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi pada objek berdasarkan perakuan tertentu. Misalnya aka diadakan pengamatn terhadap kemampuan belajar 30 murid SD yang memperoleh perlakuan berbeda berupa, 15 murid yang pertama diberi buku panduan pengerjaan soal matematika sedangkan 15 murid yang lain tidak. Struktur pengamatan dapat dilakukan dengan memberikan test sebelum dan sesudah buku panduan dibagikan.
Teknik pengamatan langsung memiliki keuntungan yaitu tidak perlu mengandalkan pada ingatan seseorang, baik objek yang diteliti maupun peneliti sendiri, karena fenomena yang terjadi dapat langsung dicatat. Disamping itu dengan pengamatan langsung dimungkinkan untuk memperoleh gambaran dari fenomena yang sulit atau tidak dapat dikomunikasikan secara verbal. Misalnya perilaku bayi, proses panen padi, dan sebagainya. Sebaliknya kelemahan pengamatan langsung adalah bahwa seringkali waktu yang diperlukan untuk mengadakan pengamatan menjadi lama, keterbatasan terhadap fenomena yang tidak dapat diamati secara langsung, adanya pengaruh dari persepsi dan prasangka pengamat, serta adanya pengaruh dari pengamatan sebelumnya atau pengaruh dari kesan umum.
Dalam pengumpulan data dengan menggunakan pengamatan langsung perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1) Mengumpulkan pengetahuan umum yang cukup, baik mengeni tujuan penelitian, objek yang diteliti, maupun pengetahuan tentang faktor lain yang mungkin akan berpengaruh terhadap proses pengamatan. Dengan demikian sebaiknya pengamatan langsung dilakukan oleh peneliti sendiri dan bukan oleh pembantu pengumpul data (enumerator). 2) Perlu disusun panduan pengamatan, misalnya kategori perilaku tertentu, fenomena
khusus, dan lain-lain. Hal ini diperlukan karena data dari pengamatan langsung umumnya adalah data kualitatif.
3) Harus ditentukan lebih dahulu unit pengukuran akan digunakan. 4) Satuan pengamatan harus jelas, baik wilyah, obyek maupun waktu.
5) Perlu kejelasan terhadap informasi yang dikumpulkan, apakah hal tersebut merupakan fakta atau hasil interpretasi pengamat. Misal, rata-rata setiap keluarga memiliki banyak anak adalah fakta, dan dapat diinterpretasikan bahwwa daerah tersebut program KB belum berhasil.
6) Proses pencatatn harus dilakukan selengkap dan seteliti mungkin.
Wawancara merupakan salah satu bentuk pengamatan atau pengumpulan data secara tidak langsung. Pengumpulan data dengan wawancara adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secar lisan untuk dijawab secara lisan pula. Perbedaan teknik wawancara dengan pengamatan langsung adalah bahwa pada teknik wawancara harus selalu diusahakan terjadiya komunikasi dan interaksi dua arah antara peneliti dan objek penelitian. Keuntungan wawancara adalah dimungkinkannya penggalian yang mendalam terhadap informasi yang dibutuhkan dari responden. Sedangkan kelemahan pokoknya adalah seringkali kegiatan wawancara membutuhkan waktu yang lama dan berulang-ulang.
b. Wawancara
Kegiatan wawancara memiliki beberapa tujuan, antara lain: untuk memperoleh, mengkonfirmasikan atau memperkuat fakta, untuk meningkatkan kepercayaan atas informasi yang telah diperoleh sebelumnya, untuk memperkuat perasaan atau pandangan-pandangan pribadi seseorang yang menjadi objek penelitian, atau untuk memperoleh standar suatu kegiatan.
Dengan demikian faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dapat berpengaruh terhadap keberhasilan wawancara adalah keadaan responden atau orang yang akan diwawancara (karakteristik sosial, kemampuan menangkap pertanyaan, kemampuan menjawab pertanyaan), pewancara sendiri (karakteristik sosial, kemampuan wawancara, motivasi), siuasi wawancara (waktu, tempat), dan isi wawancara (tingkat kepekaan, kesukaran, minat). Secara garis besar wawancara dapat dilakukan dalam bentuk wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancar terstruktur, seluruh pertanyaan sudah ditentukan sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian. Umumnya tekni wawancara ini menggunakan daftar pertanyaan sebagai alat bantu. Wawancara tidak terstruktur tidak menggunakan daftar pertanyaan, walaupun tetap perlu menggunakan panduan wawancara (interview guige) yang berisi pokok-pokok informasi yang ingin diketahui. Dalam wawancara tidak terstruktur pertanyaan yang diajukan akan berkembang sesuai dengan jawaban responden atas pertanyaan sebelumnya.
Selain menyiapkan panduan wawancara atau daftar pertanyaan, pengumpulan data dengan teknik wawancara perlu memperhatikan faktor-faktor berikut :
1) Penggunaan gaya bahasa yang sopan dan baik. Jika dapat gunakanlah bahasa yang digunakan oleh responden sehari-hari (bahasa daerah).
2) Perlu memperhatikan tahapan wawancara : perkenalan, penjelasan mengenai tujuan wawancara, mulai dengan pertanyaan ringan dan umum, akhiri dengan baik disertai dengan ucapan terima kasih.
3) Hindari situasi yang tegang dan kurang menyenangkan (pewancara teburu-buru, menggurui, mengintrograsi, sinis, tegang, mencela).
4) Perhatikan situasi, waktu, tempat wawancara, terutama kehadiran orang lain yang mungkin akan mempengruhi jawaban responden.
5) Urutan pertanyaan harus sistematik dan berurutan. Hindari pengulangan pertanyaan yang sama, atau “meloncat-loncat”.
6) Lakukan pencatatan dengan baik. Perhatikan bahwa pada situasi tertentu kurang menguntungkan jika pecatatan dilakukan didepan responden. Jika dianggap perlu ada baiknya untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada responden untuk melakukan pencatatan.
Bentuk lain dari kegiatan wawancara adalah pengisian daftar pertanyaan yang merupakan bentuk wawancara tidak langsung. Kepada responden diberikan suatu daftar pertanyaan, dan responden tersebut dipersilahkan untuk menjawab sendiri. Pemberian dan pengisian daftar pertanyaan dapat dilakuakn langsung atau dengan menggunakan tenaga pembantu pengumpul data (enumerator)
Keuntungan teknik pengumpulan data dengan pengisian daftar pertanyaan adalah bahwa responden yang dikumpulkan datanya dapat berjumlah sanagat banyak, misalnya, dengan menyebarkan daftar pertanyaan melalui pos atau melalui media masa, dan peneliti tidak perlu bertemu dengan responden. Sedangkan kelemahannya adalah informasi yang diperoleh hanya terbatas pada pertanyaan yang diajukan, dan jika terjadi kesalahan pada penyusunan pertanyaan, tidak dapat langsung diatasi. Disamping itu, kontrol terhadap responden sangat lemah. Terdapat pula kemungkinan bahwa daftar pertanaan tidak diinterpretasikan sama seperti yang dimksud peneliti atau dapat diinterpretasikan berbeda oleh responden yang berbeda.
Dalam pengumpulan data dengan pengisian daftar pertanyaan, kunci pokoknya adalah pada daftar pertanyaan itu sendiri sehingga penyusunan daftar pertanyaan harus dilakukan secermat mungkin. Hal ini juga perlu didukung dengan pengenalan umum terhadap responden agar dapat disusun daftar pertanyaan yang benar benar sesuai
Teknik pengumpulan data yang saat ini semakin umum digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui studi pustaka. Berbagai kegiatan penelitian telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga, sehingga sebenarnya telah tersedia cukup banyak data mengenai banyak aspek.
Data-data ini dapat dikumpulkan kembali, untuk digunakan dalam kerangka penelitian ang berbeda. Teknik studi pustaka ini memiliki keuntungan terutama dalam hal biaya dan waktu, bahkan terdapat beberapa penelittian yang tidak bisa tidak harus menggunakan teknik pengumpulan data ini, seperti penelitian sejarah. Kelamahan yang sering dihadapi adalah dalam hal kedalaman masalah yang dianalisa dan ketergantungan hasil penelitian terhadap pustaka yang digunakan.
Bebrapa faktor yang perlu dperhatikan dalam pengumpulan data melalui studi pustaka adalah :
a) Peneliti harus memiliki penghayatan dan pengertian yang mendalam terhadap kerangka penelitiannya sendiri, sehinga tidak mudah terpengaruh oleh kerangka yang ada pad pustaka yang diteliti.
b) Peneliti perlu mengumpulkan seluruh, atau sebanyak mungkin, pustaka yang relevan dengan masalah yang akan diteliti sehingga dapat diperoleh informasi yang objektif dan tidak berkesan memihak.
c) Perlu diperhatikan setiap sumber pustaka dan sumber informasi, baik pustaka yang tengah menjadi obyek penelitian maupun sumber yang digunakan oleh penulis pustaka tersebut.
d) Perlu diperhatikan tujuan penulisan pustaka yng digunakan. Misalnya perlu kehati-hatian dalam melakukan interpretasi terhadap data yang diperoleh dari suatu laporan dinas dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian perguruan tinggi (skipsi, tesis, atau disertasi) walaupun mencakup objek yang sama.
Pada dasarnya setiap teknik pengumpulan data memerlukan alat bantu yang berbeda. Disamping itu pemilihan alat bantu yang akan digunakan juga sanagt tegantung pada tujuan penelitian dan jenis data yang akan dikumpulkan. Perkembangan teknologi juga telah memberikan tambahan alternatif alat bantu pengumpulan data, seperti kamera foto, kamera video, tape-recorder, komputer, dan foto-copy; yang kesemuanya akan berpengaruh pada kemampuan peneliti dalam mengumpulkan data yang dperlukan. Namun demikian jika dilihat dari fungsinya seluruh alat bantu pengumpulan data dapat dikelompokkan menjadi catatn penelitian, daftar pertanyaan, dan daftar cek (check list). Alat-alat seperti kamera, tape recorder, buku dan lain-lain dapat disertakan kedalam masing-masing kelompok.
ad (4) Alat Bantu Pengumpulan Data
e) Perlu selalu dihindari adanya “pencontohan” (plagiasi) dari pustaka yang diteliti.
Catatan penelitian merupakan alat bantu utama dalam melakukan penelitian. Bentuk catatan yang pertama adalah catatan lapangan. Catatan lapangan dibuat pada saat kegiatan kegiatan penelitian sedang berlangsung dan berisi pokok-pokok temuan penelitian. Catatan ini umumnya singkat, tidak sistematis, dan banyak berisi „kesan‟ peneliti. Catatan ini sangat penting artinya pada eknik pengamatan langsung maupun pengamatan tidak langsung (wawancara atau studi pustaka), karena catatan ini merupakan „hasil‟ utama kegiatan penelitian.
Pada studi pustaka, catatan lapangan umumnya merupakan ringkasan atau ikhtisar atau pernyataan-pernyataan khusus dari pustaka yang dibeli, yang akan digunakan sebagai bahan penulisan laporan. Pada teknik pengumpulan data wawancara dengan daftar pertanyaan, catatan lapangan digunakan untuk menampung hasil-hasil pengamatan yang tidak tertampung pada daftar pertanyaan. Rekaman peristiwa dengan menggunakan kamera foto maupun video atau tape-recorder dapat digunakan sebagai pelengkap catatan lapangan.
Bentuk catatan kedua adalah catatan harian. Catatan ini merupakan rekapitulasi dari perincian dari catatan lapangan. Kegiatan penelitian umumnya tidak dilakukan dalam satu hari. Jika kegiatan pengumpulan data dilakukan pada siang hari, maka pada malam hhari hendaknya merupakan waktu dimana peneliti membuat catatan hariannya. Atau jika pola tersebut tidak dimungkinkan, setidaknya tiga hari sekali peneliti perlu melakukan rekapitulasi atas catatan lapangan yang telah dkumpulkan. Catatan harian bersifat lebih lengkap, sistematis, dan mengandung berbagai „penjelasan‟. Penulisan catatan harian ilakukan untuk mengurangi adanya data atau informasi yang hilang karena keterbatasan ingatan peneliti, sekaligus untuk memudahkan pekerjaan membuat laporan penelitian. Pada catatan harian dimungkinkan untuk membuat interpretasi atau pembahasan peneliti terhadap data yang diperolehnya. Penggunaan komputer lapangan, jika dimungkinkan, akan sangat membantu penyusunan catatan harian. Hasil rekaman yang diperoleh melalui kamera foto maupun viideo juga masih tetap dapat digunakan untuk melengkapi catatan harian. Bentuk catatn lainnya adalah catatan berkala. Catatan ini digunakan untuk mengumpulkan data deret waktu.
Pada waku yang berbeda, secara berkala dilakukan pengamatan atas suatu objek, kemudian dicatat. Contoh catatan berkala adalah kartu bayi yang diberikan di Pos Yandu, yang mencatat perkembangan bai dari waktu ke waktu. Catatan berkala merupakan bentuk catatan yang sudah dirancang sebelumnya, memiliki peubah pengamat yang terbatas, umumnya hanya menunjukkan hasil akhir suatu pengamatan, dan dapat dilengkapi dengan grafik perkembangan.
Daftar pertanyaan (questioner/kuesioner) merupakan alat bantu yang sangat penting dalam kegitan penelitian. Daftar pertanyaan atau kuesioner diartikan sebagai suatu daftar tertulis yang berisikan rangkaian-rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal tertentu untuk dijawab secara tertulis pula. Kuesioner dapat dibedakan menjadi kuesioner terbuka, yaitu bila responden diberi kesempatan untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri, dan kuesioner tertutup, yaitu bia responden hanya diberi kesempatan untuk memilih jawaban yang telah disediakan. Pertanyaan dalam kuesioner tertutup dapat berbentuk pilihan berganda, check list, atau skala bertingkat. Pertanyaan dalam kuesioner dapatersifat langsung, yaitu mengenai keadaan responden itu sendiri, maupun tidak langsung, yaitu mengenai keadaan responden itu sendiri, maupun tidak langsung, yaitu mengenai keadaan diluar responden.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun kuesioner adalah :
1) Harus tetap dijaga agar pertanyaan dalam kuesioner relevan dan memang terkait dengan tujuan dan hipotesa penelitian. Dalam penyusunan kuesioner peneliti perlu bertanya sendiri : Apakah pertanyaan ini perlu ? Apa hubungannya dengan pertanyaan lain ?
2) Perlu disusun terlebih dahulu hal-hal pokok yang akan ditanyakan, untuk menghindari pertanyaan yang terlupakan atau terulang.
3) Pergunakan kalimat yang jelas, umum, dan sederhana. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan (bermakna ganda, terlalu subjektif/ pribadi). Dalam menyusun kuesioner perlu peneliti perlu bertanya sendiri : Bagaimana kira-kira jawabnya?
4) Pertanyaan hendaknya berjenjang. Misalnya sebelumnya ditanyakan “jelas alat kontrasepsi apa yang saudara digunakan ?” Demikian pula dalam hal tingkat kesulitan pertanyaan. Pertanyaan yang ringan dan mudah sebaiknyya ditempatkan pada bagian awal.
5) Jika akan digunakan tenaga pembantu pengumpul data (enumerator) harus dilakukan penjelasan yang mendalam terlebih dahulu agar enumerator yang bersangkutan dpat mengerti dengan jelas seluruh sistematika daftar pertanyaan dan maksud dari setiap pertanyaan. Enumerator bukan hanya sekedar penanya dan pencatat tetapi juga harus dapat menjelaskan maksud pertanyaan kepada responden.
6) Bentuk fisik daftar pertanyaan harus cukup baik : jelas tulisannya, cukup ruang untuk menjawab, dan cukup unutk lembaran untuk menjawab. Misalnya akan ditanyakan penggunan sarana produksi pertanian perlu disediakan 7 – 8 lembar pertanyaan/ jawaban karena kemungkinan petani memiliki beberapa jenis lahan (sawah, kebun, tegalan) dan masing-masing jenis lahan dapat terdiri dari beberapa persil.
7) Susunan daftar pertanyaan juga perlu memperlihatkan metode pengolahan data yang akan dilakukan. Jika pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan komputer, penyusunan daftar pertanyaan sebaiknya sudah menggunakan kode untuk setiap data.
Daftar cek (Check list) adalah suatu daftar dari kegiatan yang harus dilakukan selama penelitian. Daftar cek dapat menyangkut daftar kegiatan itu sendiri (misalnya: a. menghubungi kepala des/lurah, b. mengumpulkan data harga, c. mengamati kegiatan pasar, dan seterusnya), daftar pertanyaan atau daftar bahan yang harus dikumpulkan. Daftar cek digunakan untuk memandu peneliti agar tidak ada kegiatan yang terlewatnya. Pengisian daftar cek dilakukan dengan melingkari, menyilang, atau memberi tanda (ö).