• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODE PENELITIAN"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

METODE PENELITIAN/ILMIAH

BAB MATERI KULIAH DOSEN PEMBINA

I Pendahuluan Rudi

II Cara memperoleh kebenaran dan ilmu pengetahuan

III Metode dan jenis penelitian

IV Beberapa metode pengumpulan data V Masalah topik, sampling, dan variable VI Perencanaan penelitian

VII Pengolahan dan analisis data

VIII Kerangka penelitian – langkah-langkah dalam penelitian

IX Peranan statistika dalam penelitian X Penulisan laporan

(2)

PUSTAKA

Ann Majchrzak. Methode for Policy Research,. Sage Publication. Beverli

Hills. London. 1984.

Arjatmo Tjokronegoro (Editor). 1979. Metodologi Penelitian Bidang

Kedokteran. Komisi Pengembangan Riset dan Perpustakaan. FKUI.

Jakarta.

Fred. N. Kelinger. 1990. Azas-azas Penelitian. (Terjemahan). Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta.

Masri Singarimbun dan SofianEffendi. 1987. Metode Penelitian Survei.

LP3ES. Yogyakarta.

Mohamad Zainuddin. 1988. Metode Penelitian. Universitas Airlangga.

Surabaya.

Moch. Nasir. 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

(3)

Sumadi Suryabrata. 1981. Metodologi Penelitian. Jakarta. Rajawali.

Sutrisno Hadi. 1987. Metodologi Research. Jilid 2. Yogyakarta. Yayasan

Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

Winarno Surachmad. 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar dan

Teknik. Bandung. Tarsito.

(4)

FKM

Metodologi

Penelitian

Ilmu ttg Metode (Cara, tehnik, dsb)

Merupakan salah satu langkah dari Metode Ilmiah

Metode dalam rangka mendapatkan/ memperoleh pengetahuan yang

disebut Ilmu

Pengetahuan Ilmiah & Teknologies Pengetahuan ? Dari rasa ingin tahu

Ilmu/ Science/ Sains ?

(5)

Pendekatan Ilmiah

1. Objektif

artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya.

2. Metodik

artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.

3. Sistematik

artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem.

4. Berlaku umum

artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.

5. Dibuktikan secara empirik dan rasional.

6. Menggabungkan cara berfikir induktif dan dedukatif.

(6)

Keterbatasan Metode Ilmiah :

Panca iﺣndra (alat Pengamatan) mempunyai Keterbatasan

menangkap suatu fakta fakta keliru kesimpulan keliru

kekeliruan dari suatu kesimpulan ilmiah tetap ada

(7)

Berfikir ilmiah (Deduktif dan Induktif)

1. Deduktif : menarik kesimpulan dimulai dari pernyataan umum/luas

menuju

ke

pernyataan

khusus/sempit

dengan

menggunakan penalaran atau rasio.

Contoh (1) : setiap benda padat kalau dipanaskan akan

memuai/mengembang (umum); Besi, Seng, Tembaga,

Kuningan, dlll adalah benda padat. Oleh karena itu,

Besi, Seng, Tembaga, dll akan memuai/mengembang

bila dipanaskan (pernyataan khusus)

Contoh (2) : Biinatang akan mati (pernyataan umum) Harimau,

sapi, Anjing adalah binatang, jadi pasti akan mati

(khusus)

2. Induktif :

pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan

khusus/ sempit menuju ke kesimpulan umum/ luas

(kebalikan dari deduktif)

(8)

Proses berfikir induktif tidak dimulai dari

TEORI yang bersifat umum tetapi didasarkan dari

fakta/

data

khusus

berdasarkan

pengamatan

dilapangan atau pengalaman empiris.

Dari

hasil

pengamatan

empiris

tersebut

kemudian

- disusun

- diolah

- dikaji

(dilakukan dengan menggenelalisir

– berlaku umum/

luas – fakta melalui statistika)

Ditarik kesimpulan/ pernyataan

yang bersifat umum

(9)

KeunggulanMetode Ilmiah

- Mencintai kebenaran yang objektif. Bersifat adil ~

mengurus ke arah hidup bahagia.

-

Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut.

-

Tidak percaya pada tahayul.

-

Membimbing kita untuk ingn tahu lebih banyak.

-

Membimbing kita berfikir secara terbuka/ objektif, dan

suka menerima pendapat orang lain/ toleran.

-

Membimbing kita untuk tidak percaya begitu saja pada

suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata

serta berano membuat suatu persyaratan yang menurut

keyakinan ilmiah kita adalah benar.

(10)

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI : (METHOD = CARA, LOGOUS = ILMU)

PENELITIAN : TO RE SEARCH

RE = Kembali

To Search = to look for = mencari

Penelitian : - adalah suatu proses, yaitu rangkaian langkah-

langkah yang dilakukan secara terencana dan

sistematis

guna

mendapatkan

pemecahan

masalah atau mendapatkan jawaban terhadap

pertanyaan-pertanyaan tertentu.

(Langkah-langkah yang dilakukan itu harus serasi dan saling

mendukung satu sama lain, agar penelitian yang dilakukan itu

mempunyai bobot yang cukup memadai dan memberikan /

menghasilkan kesimpulan yang tidak diragukan kebenarannya.

Merupakan penyelidikan sistematis yang ditujukan

pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan

persoalan-persoalan (masalah)

-

(11)

Macam Penelitian

1. Jenis

Murni/ dasar

terapan

2. Pendekatan :

Survey, expost facto, experiment, naturalistik (kualitatif),

policy research, action research, evaluasi, sejarah.

3. Tingkat eksplorasi ; deskriftif, komparatif, asosiatif

4. Jenis data

Kualitatif

Kuantitatif

5. Metode : Sejarah, deskritif

Survey

Kasus, eksperimentasi, partisipatory, dll.

6. Sifat : exploratory, deskriptif, explanatory

(12)

1. Tidak berakhir atau belum berhenti hanya sampai pada membuktikan, menerangkan atau mengungkapkan tentang adanya sesuatu

2. Harus berlanjut pada

PENELITIAN TERAPAN :

Merupakan kegiatan ilmiah untuk mengungkapkan gejala alam dan

gejala sosial dalam kehidupan, yang dipandang perlu diperbaiki

karena memiliki berbagai kekurangan atau kelemahan dengan

mempergunakan metode yang sistematis, teratur, tertib, dan dapat

dipertanggungjawabkan.

PENELITIAN TERAPAN :

a. Mengungkapkan dan menerangkan tentang bagaimana adanya sesuatu itu

b. Mengungkapkan tentang mengapa demikian atau apa sebabnya adanya sesuatu itu demikian (sebab-sebabnya)

c. Menyususn implementasi berupa saran-saran tindakan dalam mengatasi atau menghindari sebab-sebab tersebut, agar adanya sesuatu sesuai dengan harapan atau yang diinginkan

(13)

Merupakan

penyelidikan

sistematis

yang

memberi

informasi

untuk

membantu

pengambilan keputusan di bidang bisnis.

PENELITIAN BISNIS : (BUSINESS RESEARCH)

Penelitian yang baik : selalu menggunakan METODE

ILMIAH

(14)

Ciri-ciri Metode Ilmiah :

1.

Masalah dan tujuan penelitian harus jelas dan tajam

jangan “ngambang”

2.

Prosedur penelitian harus diuraikan jelas

3.

Rancangan penelitian harus direncanakan dengan baik

dan seksama ~ hasil seobjektif mungkin

4.

Jujur dalam menulis laporannya

5.

Analisis data harus cukup memadai dan metoda

analisisnya harus cocok

6.

Kesimpulan-kesimpulan harus diambil dari analisa data

yang dikumpulkan (jangan menganalisis dari luar)

(15)

METODA PENELITIAN

Salah satu alat pendekatan ilmiah yang digunakan untuk ; (1) Mencari kebenaran

(2) Menemukan sesuatu pengetahuan baru

(3) Mencari pemecahan masalah yang dihadapi

Tujuan Penelitian

1. Tujuan; umumnya penelitian bertujuan untuk :

Menemukan/ mendapatkan suatu yang baru

Mengembangkan, artinya memperluas dan menggali lebih dalam

realitas/ program yang sudah ada

Menguji kebenaran suatu pengetahuan yang berarti menguji lagi

suatu kebenaran atau suatu peristiwa karena dirasakan adanya

data atau informasi yang masih diragukan

(16)

2. Kegunaan - mencari kebenaran

- mencari pemecahan masalah yang dihadapi

3. Peranan :

1) Mencandra/ mendeskripsi/ menggambarkan/ menjelaskan hal-hal

yang menjadi pokok permasalahannya

2) Menerangkan/

explanasi

kondisi-kondisi

yang

mendasari

munculnya permasalahan atau terjadinya peristiwa.

3) Untuk menyusun teori, prinsip atau aturan-aturan mengenai

hubungan antara kondisi atau peristiwa yang satu dengan yang

lain

4) Untuk mengadakan prediksi/ perkiraan dan proteksi terhadap

permasalahan atau peristiwa terhadap dampak yang akan terjadi

5) Untuk mengendalikan terhadap tindakan-tindakan atau peristiwa.

(17)

1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah

2. Studi kepustakaan/ literature study

3. Penyusunan hipotesis

4. Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variabel-variabel

5. Pengambilan/ pengembangan alat pengambil data

6. Penyusunan rancangan penelitian

7. Penentuan sampel/ contoh

8. Pengumpulan data

9. Pengolahan dan analisis data

10. Interprestasi hasil analisis

11. Penyusunan laporan/ skripsi/ tesis.

(18)

STRUKTUR

PROSES/ PROSEDUR PENELITIAN

(PROSEDUR) (LANGKAH) (PROSES)

PERNYATAAN MASALAH

PENETAPAN TOPIK/ OBYEK

PENALARAN DEDUKTIF DAN/

ATAU EDUKTIF (INDUKTI-DEDUKTIF)

PENGAJUAN MASALAH : Latar Belakang, Identifikasi/ Perumusan Masalah, Tujuan/ Kegunaan Penelitian PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN PENYUSUNAN KERANGKA PENALARAN DAN PERUMUSAN HPOTESIS Berdasarkan Kajian Pustaka (Hukum, Teori, Fakta)

BAHAN DAN METODE : Tempat/ Waktu/ Bahan Metode (Teknik Pengumpulan dan Analisis Data)

HASIL DAN PEMBAHASAN : Data Variabel yang diteliti

Putusan Analisis Data Interpretasi dan Simpulan Implikasi/ Saran METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA EMPIRIK PENALARAN INDUKTIF BERDASARKAN SEBAB AKIBAT PENGUJIAN PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN PERNYATAAN JAWABAN (HIPOTESIS) (VERIFIKASI/KOROBORASI) (SIMPULAN)

(19)

PENGAJUAN MASALAH (Langkah 1)

MASALAH :

- SESUATU, YANG BELUM/ TIDAK KITA KETAHUI,: BERTANYA

MENGENAI :

♦ APA, BAGAIMANA, BILAMANA, DI MANA

♦ MENGAPA

- ADA KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN DENGAN DAS SEIN

- ADA PERBEDAAN ANTARA YANG SEHARUSNYA DENGAN YANG

NYATA ADA, ANTARA HARAPAN DENGAN KENYATAAN, DSB.

(20)

Masalah tidak selalu tampak jelas harus diidentifikasi

Masalah banyak harus dibatasi/ diseleksi

Masalah harus dirumuskan dengan jelas melalui perumusan masalah

kalimat pertanyaan

Masalah tidak berdiri sendiri, ada dalam sistem tertentu latar belakang

Masalah tidak sama dengan obyek/topik

Masalah penelitian umumnya dimuat pada bagian utama dari usulan

penelitian (Proposal) . Usulan Penelitian (proposal) terdiri dari :

- Latar belakang masalah

- Identifikasi/ perumusan masalah

- Tujuan dan kegunaan penelitian

- Landasan Teoritis/ Kerangka Pemikiran/ Kerangka Pemahaman

- Hipotesis

(21)

A. Latar Belakang

Latar belakang ini memuat penjelasan mengenai alasan-alasan

mengapa masalah-masalah yang dikemukakan dalam suatu penelitian

tersebut dipandang menarik, penting dan perlu diteliti, dilihat dari segi

profesi

peneliti,

pengembangan

ilmu

atau

pengembangan

pembangunan. Masalah ini beranjak dari berbagai sumber :

- intuisi/ilham

- pengamatan sepintas

- bacaan karya ilmiah

- pernyataan pemegang otoritas ilmiah

Masalah yang didapatkan lewat penelaahan kepustakaan/ bacaan

karya ilmiah sebagai studi pendahuluan untuk mengetahui masalah

penelitian sangat penting karena untuk memperkuat cakrawala

penelitian.

(22)

Dengan studi Pendahuluan (langkah 2), peneliti akan :

1.

Mengetahui apa yang akan diteliti

2.

Tahu bagaimana ia berada dan kepada siapa informasi dapat diperoleh

3.

Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi lebih lanjut

4.

Dapat menunjukkan cara analisis data yang tepat

5.

Peneliti tahu bagaimana cara mengambil kesimpulan serta

memanfaatkan hasil penelitian

6.

Peneliti menjadi yakin bahwa penelitian tersebut perlu dilakukan dan

dapat dilaksanakan

* Studi pendahuluan ini meliputi 3 obyek :

1. Melalui paper; * majalah – majalah ilmiah (jurnal-jurnal penelitian, bulletin penelitian * buku-buku ilmiah

2. Melalui manusia sebagai sumber keahliannya 3. Melalui lokasi/ tempat penelitian.

(23)

B. Identifikasi/Perumusan Masalah

Setelah diidentifikasi, masalah hendaklah dirumuskan → penting bagi

langkah-langkah selanjutnya.

Bentuk dan isi perumusan masalah :

1. Masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya

2. Rumusan itu hendaklah singkat dan jelas

3. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan

data guna menjawab pertanyan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

Misal : Judul “Hubungan antara konsumsi kalori dengan kelelahan

pada tenaga wanita Konfeksi pakaian di Desa Loram Wetan

Kecamatan Jati Kabupaten Kudus”

♦ Latar belakang : - mengapa kelelahan

(24)

♦ Identifikasi/ rumusan masalah

Apakah ada hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan

kelelahan pada pekerja wanita. Apakah dengan meningkatnya

konsumsi kalori, tingkat kelelahan makin menurun atau tidak.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian adalah merupakan rumusan kalimat yang

menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian

selesai.

Kegunaan penelitian adalah merupakan aplikasi dari hasil

penelitian serta merupakan kelanjutan dari tujuan penelitian. Selain

itu bahwa dari hasil penelitian diharapkan dapat menambah

informasi tentang penggunaan suatu objek.

(25)

Berfikir secara cepat/tergesa-gesa

Praktis/ tidak bertele-tele

Dangkal dalam pemikiranya

Berlangsung tidak cermat

Kurang tepat (kadang-kadang) dan tidak murni

Bukti-bukti untuk menarik kesipulannya kurang sekali (berfikir “sempit”

tanpa kebijaksanaan → non ilmiah)

II. Berfikir secara arif bijaksana (ilmiah)

Berfikir dalam kaitan yang lebih luas/ lebar

Merupakan jaringan pengertian yang lebih luas/ lebar

Pandangannya lebih jauh, lebih bervariasi

Dilandasi oleh pengujian yang sistematik

Pembuktian dan faktuil

Pengecekan dan verifikasi berulang-ulang

PEMECAHAN MASALAH

I. Berfikir sempit/ pendek/sepintas lalu (non ilmiah)

(26)

TIADA PERNYATAAN ATAU PROPOSISI TANPA PENGERTIAN ATAU

KONSEP, PEMECAHAN MASALAH DILAKUKAN BERDASARKAN

PENALARAN KERANGKA PEMIKIRAN

MASALAH YANG DIRUMUSKAN BERUPA PERTANYAAN YANG

DINYATAKAN

DENGAN

KALIMAT

PERTANYAAN

HARUS

DIPECAHKAN BERUPA JAWABAN YANG DINYATAKAN DENGAN

KALIMAT PERNYATAAN.

Tugas : Tiap mahasiswa membuat judul beserta latar belakang, Identifikasi/

Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai

dengan

minat masing-masing.

(27)

Ada kaitan antara Judul dengan permasalahan. Judul itu sendiri harus mencerminkan permasalahan yang ada/timbul/diteliti

Komparatif (antar variabel) (banding/beda)

Asosiatif (antar variabel) (hubungan)

Uji beda (uji f, uji t, dst)

Oleh karena itu judul penelitian harus memiliki syarat-syarat : 1. Harus menarik

2. Harus dapat dilaksanakan 3. Harus dapat dicari datanya

4. Harus jelas (penting), tidak asal-asalan

(28)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGOROR SEMARANG PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN 1999

ABSTRAK Guswani

Pengaruh Ketebalan Lapisan Batu Gamping (Limestone) Terhadap pH Dan Kadar Cu Pada Limbah Cair Industri Peleburan Emas di Desa Warukidul Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.

Limbah cair industri peleburan emas masih asam dan mengandung bahan logam berbahaya diantaranya tembaga (Cu). Dalam rangka penanganan limbah industri peleburan emas tersebut, maka perlu peneitian mengenai pengaruh pemberian gamping terhadap pH dan kadar Cu.

penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pre test post test control group design. Sebagai variabel bebas adalah ketebalan batu gamping dan sebagai variabel terkait adalah pH dan kadar Cu dalam air limbah industri peleburan emas.

dengn taraf signifikan sebesar 0,05 menunjukan secara statistik ada perbedaan yyang

signifikan dalam kenaikan rata-rata pH antara ketebalan 0,01; ketebalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian air limbah. Utuk kadar Cu, ternyata harga uji F = 8,39 lebih besar dari nilai krisis F 0,05:2:12=3,89, maka ada perbedaan yang signifikan dalam rata-rata penurunan kadar Cu antara ketebalan 0,01; ketbalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian.

untuk mendapatkan ketebalan gamping yang tepat, masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai tingkat ketebalan pemberian gamping sehingga dapat digunakan untuk pengolahan air limbah, khususnya limbah industri peleburan emas.

Kata kunci : gamping, pH da Cu. Kepustakaan : 24; 1970-1997

(29)

CONTOH-CONTOH JUDUL SKRIPSI

1.

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Rawat Tinggal Dengan

Kepuasan Pasien Dalam Pelayanan di RSU RAA . Soewando. Kab. PAti

2.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Tenaga Staf Dinas

Kesehatan Kodya Bogor.

3.

Hubungan Motivasi Kerja Perawat dan Mutu Pelayanan Pasien Rawat

Nginap di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.

4.

Kaitan Pengorganisasian dengan Prestasi Kerja Tenaga Perawat di

Ruang Rawat Inap RS Bethesda Yogyakarta.

5.

Beberapa Faktor yyang Berhubungan dengan Upaya Pemberantasan /

Pengawasan Tikus di Daerah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

6.

Hubungan Karakteristik Kepala Ruang Rawat Inap dengan Kegiatan

Pengawasan Pelayanan Keperawatan di RSUP Dr, Sardjito

Yogyakarata.

7.

Hubungan Karakteristik Tenaga Keperawatan dengan Pelaksanaan

Proses Keperawatan Nifas di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

8.

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan, Sistem Pencatatan Pelaporan

dan Penyediaan Format dengan Kebenaran dan Ketepatan Laporan

Stratifikasi Puskesmas di Kodya Yogyakarata.

(30)

9. Studi Komparatif di wilayah Kerja Puskesmas Kec. Abung

Barat Terhadap Kinerja Bidan PNS dan Bidan PTT di

Kabupaten Lampung Utara.

10. Analisis Biaya Efektivitas Pembangunan Alkon MKPJ pada

Beberapa Sarana Yankes di Kec. Banyumanik, Semarang

Tahun 1997.

11. Pengaruh Aspek Kebijaksanaan RS. Swandana Terhadap

Motivasi Kerja Perawat RSUD RAA Soewondo PAti.

12. Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Pasien

Rawat Jalan di Puskesmas II Kartasura Kab. Sukoharjo.

(31)

PEMECAHAN PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN

MASALAH DAN PERUMUSAN HIPOTESIS (LANGKAH 3)

# PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN

Bila tujuan dan kegunaan sudah dirumuskan maka tahap berikutnya adalah

menyusun kerangka penalaran/ pemikiran yang didasarkan kepada pendekatan

teoritis dan studi pustaka.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti mempunyai kerangka

berpikir untuk dapat memberi jawaban tentang masalah yang diteliti dan jawaban

tersebut dirumuskan dalam bentuk HIPOTESIS. Jadi hipotesis adalah jawaban

sementara dari masalah yang telah dirumuskan serta didasarkan pada pendekatan

teoritis dan studi pustaka. Namun demikian tidak semua penelitian memerlukan

hipotesis, misalnya penelitian eksploratif (misal : penelitian ke luar angkasa). Yang

kita lakukan dalam menyusun kerangka penalaran adalah penalaran atau reasoning.,

baik penalaran deduktif maupun induktif. Penalaran deduktif adalah penalaran dari

yang umum ke yang khusus, sedangkan penalaran induktif adalah penalaran dari

yang khusus ke yang umum. Dimana penalaran tersebut dilakukan :

(32)

1.

Untuk menyusun/ mengkaji teori-teori, konsep-konsep yang relevan

dengan masalah penelititan.

2.

Mengkaji hasil-hasil penelitian lain yang relevan dengan masalah

penelitian melalui generalisasi

Kegiatan penyusunan kerangka pemikiran/ penalaran tersebut

umumnya berdasarkan kajian pustaka

TEKNIK PENCARIAN PROPOSISI UNTUK PENYUSUNAN

KERANGKA PEMIKIRAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

* MELALUI KAJIAN PUSTAKA

Sumber pengetahuan ilmiah

Terdokumentasi dan terkomunikasi

(33)

BAHAN PUSTAKA

PRIMER- PUBLIKASI BERKALA

Jurnal yang diterbitkan oleh organisasi ilmuwan dan lembaga penelitian

berisi hasil penelitian (fakta); diterbitkan berkala dengan nama jurnal,

buletin penelitian, komunikasi penelitian, dsb.

Ikhtisar (Review)

Berisi ikhtisar hasil-hasil penelitian (dengan penyimpulan) yang belum

terdokumentasi dalam buku teks dan/atau referensi mutakhir.

SEKUNDER – Buku teks, buku referensi, ensiklopedi, dsb.

Berisi hukum, teori, fakta (yang diikhtisarkan/ disimpulkan)

(34)

# TEKNIK KAJIAN PUSTAKA

Pencarian (Search/ Inquiry) Bahan Pustaka

Penulisan hasil kajian * PENCARIAN

1. Langkah Pertama : Kajian Bahan Pustaka Tersier, Informasi mengenai :

a. Buku teks dan buku referensi (yang diperoleh selama program pendidikan harus dikuasai)

b. Informasi mengenai publikasi berkala : contoh : - Current contents - Chemical abstract, medical abstract, dsb.

- Scince citation index, dsb. - Biblirografhy of cotton, dsb. Ditelusur dan ditapis/ diseleksi yang relevan dengan rencana penelitian.

2. Langkah Kedua : Kajian Bahan Pustaka Sekunder

Dikaji/ dikaji kembali buku teks/ referensi 3. Langkah Ketiga : Kajian Bahan Pustaka Primer

Contoh : Agronomi Jurnal Crop Science

Research Buletin of……… Annual review of ……, dsb.

(35)

Dikaji secara mendalam publikasi berkala hasil penapisan/ seleksi langkah pertama. Ketiga langkah itu didahului oleh persiapan atau dibantu dengan informasi selama

pelaksanaan langkah-langkah itu mengenai lokasi bahan pustaka.

Bahan pustaka “Kuarter”, Contoh :BULL AMERICAN LIBRARIAN ASCOC.

* HIPOTESIS *

Hipotesis dibuat berdasarkan kerangka pemikiran

Hipotesis adalah tentative answer to the problem (jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi)

Hipotesis dirumuskan berdasarkan teori prinsip generalisasi yang didapatkan dari kajian pustaka dan disusun berdasarkan kerangka penalaran dalam bentuk kalimat pernyataan.  MERUMUSKAN HIPOTESIS

1. Ditulis dalam kalimat pernyataan/ deklaratif 2. Kalimat pendek dan jelas

3. Hendaklah menyatakan hubungan atau perbedaan dua atau lebih variable 4. Hendaklah dapat diuji

(36)

Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan perbedaan/ persamaan

- perbedaan/ persamaan sesuatu yaitu apakah sesuatu berbeda

dengan

yang lain dan apakah perbedaan tersebut lebih besar

atau lebih kecil

atau juga lebih baik, dsb.

- dalam hipotesis umumnya disampaikan hipotesis alternatif, bukan

hipotesis nol.

Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan kaitan/ hubungan antara

variabel

Beberapa kegunaan hipotesis adalah :

1.

Memberi batasan pada jangkauan pekerjaannya

2.

Mengorganisasikan fakta ke dalam hubungan-hubungan sehingga

peneliti tidak tersesat di dalam lembah fakta.

3.

Hipotesis menunjukkan informasi dan data apa yang harus

dikumpulkan, termasuk dimana data dan informasi dicari dan berapa

banyak informasi yang telah dikumpulkan.

(37)

CONTOH HIPOTESIS :

 Mahasiswa memiliki Indek Prestasi yang lebih tinggi dibanding Mahasiswi

 Obat A lebih baik daripada obat B terhadap penyakit X

 Varietas A lebih responsif daripada varietas B terhadap pemupukan Urea

 Belajar bahasa dengan cara diskusi lebih baik dibandingkan dengan cara

ceramah

 Ada pengaruh pemberian kapur terhadap pH dan kadar Cu pada limbah pabrik

 Terdapat hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan kelelahan pada

pekerja wanita

 Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan

perilaku dalam memelihara kesehatan

Tugas II : Tiap mahasiswa melanjutkan tugas I (judul beserta latar belakang,

Identifikasi/Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai dengan minat masing-masing) ditambah Kerangka Pemikiran dan

(38)

MENGUJI HIPOTESIS

Fungsi hipotesis adalah pernyataan terkaan/ sementara tentang

hubungan tentatif antara fenomena-fenomena dalam penelitian.

Hubungan tentatif ini akan diuji validitasnya menurut teknik yang sesuai

untuk keperluan pengujian.

Hipotesis tidak selalu harus diterima kebenarannya. Penolakan hipotesis

dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan

ketidaktahuan (ignorance) yang universal.

Peneliti dapat mengetahui bukti positif atau negatif bila memiliki

hipotesis dan telah menguji hipotesis tersebut

HIPOTESIS TIDAK DIUJI KEBENARANNYA TETAPI DIUJI VALIDITASNYA, sehingga hipotesis merupakan konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.

Dalam pengajuan hipotesis diperlukan data.

Teknik pengujian tergantung dari metode dan desain penelitian yang digunakan.

Pengujian hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori,

kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik, dan teknik

pengujian.

(39)

IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI DAN PEMBERIAN DEFINISI

OPERASIONAL VARIABEL-VARIABEL

Langkah 4

Variabel : - adalah gejala atau faktor yang berpengaruh/ berperan dalam kegiatan

penelitian.

- adalah suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek

yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan ditarik kesimpulan.

- adalah suatu faktor yang jika diukur akan menghasilkan skor yang

bervariasi.

Macam-macam variabel dibagi berdasarkan :

a. Hasil pengukuran/pengamatan :

1. Variabel berskala nominal

Variabel berskala nominal adalah variabel yang menunjukkan label yang

hanya mampu membedakan antara ciri atau sifat unit satu dengan yang

lainnya.

(40)

Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilah (mutually exlusiv) antara kategori yang

satu dengan yang lain. Contoh variabel nominal antara lain adalah jenis kelamin :

perbedaan antara pria dan wanita. Variabel ini tidak memiliki jenjang bertingkat. Jadi

pengertian lebih tinggi atau lebih rendah dalam hal ini tidak berlaku. Apalagi untuk

diukur jarak perbedaan antara kedua ciri itu serta perbandingkannya, pada variabel

nominal tidak mungkin.

Variabel nominal dapat dikategorikan

nominal dikotomus dan nominal

non dikotomus (kategorial). Jenis kelamin merupakan contoh variabel nominal

dikotomus sedang contoh dari nominal non dikotomus (kategorial) adalah jenis

pekerjaan, jurusan di suatu fakultas, jenis sekolah SMTA, jenis SMK, dan

lain-lainnya.

2. Variabel berskala ordinal

Variabel berskala ordinal adalah variabel yang tersususn berdasarkan

jenjang dalam atribut tertentu. Variabel ordinal memiliki variabel bertingkat yang

menunjukkan urutan (order). Urutan ini menggambarkan adanya gradasi atau

peringkat, jarak tingkat yang satu dengan yang lainnya tidak dapat diketahi dengan

pasti. Penetapan kejuaraan dalam perlombaan lari (juara satu, dua, dan tiga)

merupakan sebuah contoh variabel ordinal.

(41)

Selisih waktu yang dicapai pelari nomor satu dan nomor berikutnya tidak menjadi

masalah, yang penting disini adalah nomor satu lebih cepat dari nomor dua dan

seterusnya.

Contoh lain variabel ordinal adalah urutan dari pendapat mengenai

persetujuan tentang adanya pendidikan sex di tingkat SLTP, misalnya mencari

berapa orang yang sangat setuju, setuju, kurang setuju, dan tidak setuju.

3. Variabel berskala interval

Variabel berskala interval adalah variabel yang skala pengukurannya

memiliki jarak yang konsisten atau memiliki satuan/ unit tertentu. Misalnya nilai

atau prestasi belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk skor, dapat dikenal adanya

skor 5,6,10 dan sebagainya. Skala penlaian antara 1 sampai dengan 10 memiliki

satuan 1,0 per unit, namun skor-skor tersebut tidak memiliki perbandingan.

Jelasnya, bahwa skor 5 yang dicapai oleh seorang siswa tidak berarti setengah dari

skor 10 yang dicapai oleh siswa lain.

variabel yang berskala interval mempunyai sifat dapat membedakan antara

unit yang satu dengan yang lain, menunjukkan peringkat, dan memiliki jarak yang

tetap. Namun pada variabel yang berskala interval tidak memiliki titik nol mutlak,

sehingga skor-skor yang ada di dalamnya tidak bersifat bandingan (ratio).

(42)

4. Variabel Ratio

Variabel rasio interval adalah variabel yang dalam kuantifikasinya

mempunyai nol mutlak. Variabel yang berskala ratio dapat menunjukkan sifat

perbandingan. Seperti hasil pengukuran berat badan, seorang yang berat badannya

50 kg adalah setengah dari orang yang berat badannya 100 kg.

Dalam statistika, perlakuan terhadap variabel interval dan ratio ini sama,

karena keduanya memiliki sifat yang serupa untuk dikenai operasi matematik, yaitu

misalnya skor-skornya dapat ditarik rata-rata., dipangkatkan, dibagi dan sebagainya.

Oleh karena itu secara singkat kedua variabel itu dijadikan prasarat untuk

penggunaan statistika parametrik.

Gambaran tenttang ciri komulatif dan masing-masing skala pengukuran

variabel tersebut di atas, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel tentang ciri-ciri komulatif skala pengukuran variabel

Skala variabel

Bertingkat

Jarak

Banding

Nominal

Ordinal

Interval

Ratio

-

v

v

v

-

-

v

v

-

-

-

v

(43)

b. Dari sifatnya

Dilihat dari sifatnya, variabel dafat dibedakan menjadi dua yaitu :

1)

Variabel Aktif, adalah variabel yang memungkinkan untuk dimanipulasi

atau diubah sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Metode

mengajar merupakan suatu contoh variabel aktif. Pada suatu proses belajar

mengajar, setiap saat seorang guru dapat mengganti metode mengajar yang

digunakannya jika guru itu menghendakinya.

2)

Variabel atributif merupakan variabel yang sifatnya tetap, dan dalam

kondisi yang wajar sifat sifat itu sukar diubahnya. Variabel ini identik

dengan variabel nominal. Seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan jenis

sekolah, tempat tinggal, dan sebagainya. Sifat yang ada padanya adalah

tetap, untuk itu peneliti senantiasa hanya mampu berbuat untuk memilih

atau menyeleksi. Oleh karena itu variabel jenis ini disebut juga variabel

selektif. Dalam proses pengelompokan subjek, misalnya, peneliti akan

mengelompokkan ke dalam sub kelompok sampai dengan kriteria sebagai

berikut :

• Kelompok wanita yang anak guru.

• Kelomok wanita yang bukan anak guru.

• Kelompok pria yang anak guru.

(44)

Peneliti hanya menyeleksi subjek sesuai dengan karakteristik yang ada

pada tiap subjek atau unit sampel.

b. Dari peranannya

Jenis variabel ditinjau dari fungsinya di dalam penelitian adalah sebagai

berikut :

1) Variabel bebas (independent variabel)

2) Variabel tak bebas atau tergantung atau terikat (dependent variabel)

3) Variabel perabtara (intervening variabel).

Variabel bebas dapat dibedakan lagi menjadi beberapa variabel, antara

lain yaitu variabel moderator, terkendali, dan variabel random. Dalam bentuk

diagram kedudukan variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut :

Sebab

Hubungan

Akibat

Variabel Bebas Moderator Terkendali Random/rambang Variabel perantara Variabel terikat

(45)

Untuk mengklasifikasikan variabel berdasarkan

peranannya cenderung

orang memulai dengan mengidentifikasi variabel terikatnya (dependent variabel). Hal

ini terjadi karena variabel terikat yang menjadi titik pusat permasalahan, sehingga

peneliti sering juga menyebut sebagai variabel kriterium. Contohnya dalam bidang

pendidikan adalah prestasi belajar sebagai pokok persoalannya (sebagai variabel

terikat). Variabel terikat tersebut tergantung kepada banyak faktor yang

mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut sebagai variabel

bebas. Satu atau lebih variabel bebas tersebut yang akan dipelajari pengaruhnya

terhadap variabel terikat. Contoh variabel tergantungnya adalah

prestasi belajar.

Variabel bebasnya dapat berupa metode megajar. Di samping metode mengajar masih

banyak variabel yang mempengaruhi presasi belajar, misalnya: Jenis kelamin (kalau

peneliti memperhitungkan pengaruh jenis kelamin dalam penelitiannya).

Jenis

kelamin tersebut berperan sebagai variabel moderator. Umur juga

mempengaruhi prestasi belajar anak. Jika peneliti menetralisisr umur, dalam

penelitiannya dengan mengambil kelompok umurtertentu saja, maka variabel umur

berperan sebagai variabel kendali. Kemudian variabel-variabel lain yang masih banyak

jumlahnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, tetapi dianggap tidak

menimbulkan pengaruh yang berarti, sehingga variabel tersebut diabaikan dalam

penelitian. Variabel yang diabaikan pengaruhnya itu disebut rembang.

(46)

Dalam contoh model di atas yang menjadi

variabel intervening adalah proses

belajar yang terjadi pada diri subjek yang diteliti.

Ada variabel yang disebut dengan

extraneous variabel yang termasuk

variabel bebas yang tidak dikontrol. Variabel ini tampaknya identik dengan variabel

rembang.

Pada penelitian eksperimental, variabel bebas yang utama disebut variabel

perlakukan (treament variabel), karena variabel itu secara sengaja dikenakan kepada

subjek/ objek caba untuk kemudian diamati akibat yang terjadi pada subjek/ objek

coba itu. Variabel akibat yang muncul dan/atau berubah karena perlakuan yang

dikenakan pada subjek/ objek coba itu disebut pula variabel respon.

Gambaran tentang jenis-jens variabel penelitian di atas, difisualisasikan

sebagaimana skema berikut ini,

(47)

Jenis-jenis variabel penelitian dilihat dari peranannya siftnya Skala pengukuran Rasio Interval Ordinal Nominal Variabel terikat Variabel Bebas Non dikotomi dikotomi Intervening variabel Variabel antributif Variabel aktif rambang terkendali moderator

(48)

Bentuk

1. Variabel kuantitatif

Diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu :

1.1. Variabel Diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik

1.2. Variabel kontinum, menjadi 3 variabel kecil yaitu

• Variabel ordinal yang menunjukkan tingkatan-tingkatan

• Variabel interval yaitu variabel yang mempunyai jarak

• Variabel ratio yang variabel perbandingan

(49)

B. Berdasarkan Fungsinya

1. Variabel bebas/ Independen

Merupakan variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya

terhadap

variabel terikat. Variabel ini sering disebut sebagai

variabel stimulan,

prediktor, antecedent.

2. Variabel Tergantung/ Dependen

Variabel yang kondisinya ditentukan oleh variabel bebas

sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen.

Definisi operasional variabel adalah penjelasan secara rinci terhadap variabel-variabel yang akan

(50)

PEMILIHAN/ PENGEMBANGAN ALAT PENGAMBIL DATA

Langkah 5

Prinsip : meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang

baik

Instrumrn penelitian (alat untuk

mengukur variabel penelitian)

disebut

Variabel ilmu-ilmu alam (banyak tersedia dan telah teruji vakiditas dan reliabilitasnya), misal :

- Panas dengan calorimeter - suhu dengan termometer - berat dengan timbangannya - panjang dengan meteran

Variabel ilmu-ilmu sosial (sedikit yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, namun cepat mengalami perubahan ~ tergantung waktu dan tempat.

Oki penelitian dalam bidang sosial, instrumen penelitian sering dibuat sendiri oleh peneliti termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya

(51)

Cara menyusun instrumen :

Titik tolak penyusunan instrumen adalah variabel penelitian yang telah

ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut ditentukan indikator

yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir

pertanyaan atau pernyataan untuk menetapkan indikator-indikator dari setip

variabel diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang

diteliti ~ dikembangkan dari teori yang ada.

Misal :

- Variabel penelitiannya tingkat kekayaan

Indikator kekayaan, misalnya : rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan

anak, jenis makanan yang dikonsumsi, jenis olah raga yang dilakukan dan

sebagainya.

Indikator rumah, bentuk pertanyaannya :

1. Berapa jumlah rumah

2. Dimana letak rumah

3. Berapa luas masing-masing rumah

4. Kualitas bangunan rumah, dst.

(52)

1. Instrumen berbentuk test

misal : untuk mengukur prestasi/pengetahuan

2. Instrumen berbentuk non test (misal dengan angket)

misal : untuk mengukur sikap, dll.

Sedangkan menurut bentuknya ada 3 bentuk instrumen, yaitu :

1.

Bentuk pilihan ganda

2.

Checklist

3.

Rating scale : menjawab salah satu dari jawaban kuontitatif yang telah

disediakan

misal :

4. bila kesehatan sangat baik

3. bila kesehatan cukup baik

2. bila kesehatan kurang baik

1. bila kesehatan sangat tidak baik

~ interval jawaban : 4 3 2 1

(53)
(54)

PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN

Pada setiap instrumen baik test maupun non test terdapat butir-butir (item) pertanyaan maupun pernyataan untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut , maka setelah dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya diujicobakan dan dianalisis dengan analisis item yaitu dengan menghitung korelasi antara setiap skor butir instrumen dengan skor total (taraf signifikansi 0.05)

Sedangkan untuk menguji reliabilitas, hanya dilakukan pada item-item yang sudah memiliki validitas, yaitu dengan teknik :

1. Test re test

Pengukuran dengan instrumen sama, respondennya sama dan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya (taraf signifikansi 0,05)

2. Belah Dua (equivalen)

Pengujian/ pengukuran cukup 1 kali pada responden dan waktu yang sama, namun instrumen dua berbeda dengan maksud sama (misal : sudah berapa tahun bekerja dengan dari tahun berapa bekerja), selanjutnya kedua data dikorelasikan, bila + dan signifikan maka instrumen dinyatakan reliabel/ andal/ dapat dipercaya.

3. Gabungan 1 dan 2 4. Interval consistency

(55)
(56)
(57)

MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN

Langkah 6

Rancangan penelitian merupakan pedoman dan langkah-langkah yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakuakan penelitiannya. Dalam menyusun rancangan penelitian ini tentu peneliti sudah dapat mengantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan yang menghambat terlaksananya penelitian.

penelitian dilakuakan berangkat daria adanya suatu permasalahan. Masalah merupakan “penyimpanagn” atau deviasi dari suatu yang “standard”. Masalah itu muncul pada ruang (tempat) dan waktu tertentu. Untuk itu maka peneitian dilakukan pada temat dan pada waktu tertentu, untuk masalah tertentu.

rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul-betul mudah diikuti. Secara mendasar isi rancangan penelitian akan memuat hal-hal seperti berikut :

A. Permasalahan, berisi tentang :

1. Latar belakang masalah.

Di sini akan berisi tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi pada suatu proyek penelitian, tetapi dlam peristiwa itu, sekarang ini nampaknya ada penyimpangan-penyimpangan dari standard yang ada, baik standard yang bersifat keilmuan maupun aturan-aturan. Oleh karena itu dalam latar belakang masalah ini pada garis besarnya peneliti harus menuliskan mengapa hal ini perlu diteliti.

(58)

2. Identifikasi Masalah.

Dalam hal ini perlu dituliskan semua variabel yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti itu kedudukanna di mana di antar semua variabel-variabel itu. Variabel apa saja yang mempengaruhi secara positif dan negatif terhadp variabel yang akan diteliti. Demikian juga variabel yang diteliti itu mempengaruhi apa terhadap variabel yang lain. Dengan dapat diketahui semua variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, maka kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas.

Karena adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori-teori dan supaya penelitian dapat dilakuakn secara lebih mendalam, maka tidak semua variabel yang mempengaryhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, fijadikan obyek penelitian. Untutk itu maka peneliti memberi batasan, tidak semua variabl akan dijadikan obyek penelitian, tetapi hanya beberapa variabel saja. Jadi judul penelitian itu secara eksplisit berisi sejumlah variabel yang akan diteliti, sesuai yang ada pada batasan masalah.

3. Batasan Masalah.

4. Rumusan Masalah.

Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa sajayang akan diteliti), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Seperti telah diuraikan dalam Bab rumusan masalah, maka sebalisnya rumusan masalah itu dinyatakan dalam kalimat pernyataan.

(59)

Tujuan dan kegunaan penelitian berikut sebenarnya dapat diletakkan di luar pola pikir dalam merumuskan masalah. Tetapi ada kaitannya dengan permasalahan, oleh karena itu dua hal ini ditempatkan pada bagian ini.

Tujuan penelitian di sini tidak sama dengan tujuan sampul skripsi atau tesis,yang merupakan tujuan formal (misalnya untuk memenuhi salah satu syarat mendapat gelar sarjana), tetapi tujuan di sini berkaitan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang dituliskan. Misalnya rumusan masalahnya: Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A?, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui swbwrapa tingi produktivtas kerja pegawai di lembaga A. kalau rumusan masalahnya : apakah ada pengaruh latihan terhadap produktivitas kerja pegawai, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui apakah ada hubungan antara latihan dan produktivitas kerja pegawai, dan kalau ada seberapa besar.

Jadi pola pikir dalam merumuskan masalah itu dapat empat tahapan yang dapat digambarkan seperti pada halaman berikut :

(60)

Latar Belakang Masalah

berisi tentang sejarah dan peristiwa yang terjadi pada obyek yang akan diteliti, tetapi peristiwa itu nampaknya ada penyimpangan dari standard keilmuan maupun aturan. Peneliti perlu menuliskan mengapa hal itu diteliti.

Identifikasi Masalah

semua variabel yang mempengruhi/ dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti perlu diuraikan, sehingga kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas

Batasan Masalah

karena keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori dan supaya penelitian lebih mendlam maka penelitian dibatasi pada beberapa variabel saja

Rumusan Masalah

(61)

Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan hasil penelitian ada dua hal yaitu :

1. Kegunaan untuk mengembangkan ilmu/ kegunaan teoritis.

2. Kegunaan praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada obyek yang diteliti.

Jadi penelitian ini nanti, jawabannya terletak pada kesimpulan penelitian 6. Kegunaan HasilPenelitian

B. Landasan Teori dan Hipotesis

Landasan teori adalah, teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis)

(62)

Teori-teori yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang, pendapat penguasa, tetapi teori yang betul-betul telah teruji kebenarannya. Di sini juga diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya yang ada kaiannya dengan variabel yanga akan diteliti. Kalau ada dua variabel yang akan diteliti, maka akan diperlukan berbagai teori yang berkenaan dengan variabel tersebut. Misal akan meneliti pengaruh iklim kerja organisasi terhadap produktivitas kerja, maka akan diperlakukan teori-teori yang berkenaan dengan iklim kerja dan produktivitas kerja serta bagaimana hubungan keduanya.

Rumusan masalah yang dapat terjawab hanya dengan teori maka disebut hipotesis. Jawaban dengan teori ini sifatnya masih semenara, untuk membuktikan kebenarannya maka harus ada data dari lapangan (harus terjawab secara empirik). Karena hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka titik tolak untuk merumuskan hipotesis adalah rumusan masalah. Kalau ada rumusan masalah penelitian seperti ; Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A, maka hipotesisnya adalah : produktivitas kerja di lembaga Arendah/ tinggi/ sangat tinggi. Kalau rumusn masalahnya : apakah pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai, maka hipotesisnya adalah : ada pengaruh yang tinggi/ rendah kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai.

Untuk merumuskan hipotesis, perlu adanya asumsi terlebih dahulu, karena asumsi ini merupakan titik tolak untuk merumuskan msalah.

(63)

C. Prosedur Penelitian

Setelah hipotesis diajukan, maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana langkah selanjutnya supaya hipotesis tersebut dapat teruji secara empirik. Untuk itu diperlukan langkah sebagai berikut :

1. Menentukan poulasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data. Bila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan data sampel untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari populasi secara random sampai jumlah tertentu.

2. Teknik Pengumpulan Data.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga betul-betul didapat data yang valid dan reliabel. Jangan semua teknik pengumpulan data (angket, observasi, wawancara) dicantumkan kaalau nantinya tidak dapat dilaksanakan. Selain itu konsekuensi dari mencantumkan ke tiga teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus ada datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan obyektif perlu penggunaan berbagi teknik, tetapi bila suatu teknik dipandang telah mencukupi maka teknik yang lain bila digunakan akan menjadi tidak efisien.

(64)

3. Menentukan Teknik Analisis Data

Untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatf, maka teknik analisis data ii berkenaan dengan pengujian hipotesis yang diajukan. Benuk hipotesis mana yang diajukan, akan menentukan teknik statistik mana yang digunkan. (lihat bab teknik analisis data). Jadi sejak membuat rancangan, maka teknik analisis data ini telah ditentukan. Bila peneliti tidak membuat hipotesis, maka rumusan masalah penelitian itulah yang perlu dijawab. Tetapi kalau hanya rumusan masalah itu dijawab, maka kesimpulan yang dihasilkan hanya dapat berlaku untuk sampel yang digunakan, tidak dapat berlaku untuk populasi.

D. Organisasi Pelaksana Penelitian

Bila peneliti dilaksanakan oleh tim/ kelompok maka diperlukan adanya organisasi pelaksana penelitian. Minimala ada ketua yang bertanggung jawab dan anggota, sebagai pembantu ketua.

E. Jadwal Penelitian

Rancangan penelitian juga perlu sekali adanya jadwal pelaksanaan penelitian. Berapa lama satu program penelitian akan dapat diselesaikan. Jadwal kegiatan penelitian meliputi :

(65)

1. Persiapan ……….. 1 bulan a. Mengurus perizinan..

b. Menentukan responden.

2. Pelaksanaan ……….. 1 bulan a. Pengumpulan data.

b. Klasifikasi dan tabulasi data. c. Penarikana kesimpulan.

3. Penyelesaian ………. 1 bulan a. Penyusunana laporan peneitian.

b. Diskusi.

c. Cetak/ perbanyakan/ penggandaan laporan.

Jumlah waktu yang diperlukan ………. 3 bulan

Contoh rancangan penelitian diberikan pada lampiran

(66)

POPULASI DAN SAMPEL

Langkah 7

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/ subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Jadi populasi bkan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang dipelajari, tetapi melputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh oleh subyek atau obyek itu.

Misalnya akan melakukan penelitian di Lembaga X, maka Lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang/ subyek dan obyek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/ kuantitas. Tetapi Lembaga X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya dan lain-lain; dan juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur kerja, tata ruang produk yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir berti populasi dalam arti karakteristik.

Satu oarngpun dapat dipergunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, displin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y maka kepemimpinan itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y.

(67)

Dalam bidang kedokteran, satu orang sering bertindak sebagai populasi. Darah yang ada pada setiap orang adalah populasi, kalau akan diperiksa cukup diambil sebagian darah yang ada pada orang tersebut.

B. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewkili).

Bila sampel tidak representatif, ibarat orang buta disuruh menyimpulkan karakteristik gajah. Satu orang memegang telinga gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar. Satu orang lagi memegang ekornya, maka ia menyimpulkan gajah iti kecil bulat seperti seutas tali. Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representatif, maka ibarat 3 orang buta itu yang membuat kesimpulan salah tentang gajah.

(68)

C. Teknik Sampling

Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan.

Secara skematis, teknik sampling ditunjukan pada gambar 5.1. Teknik Sampling non-probability Sampling Probability Sampling

1. Simple random sampling 2. Proportionate stratified

random sampling

3. Disproportionate stratified random sampling

4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)

1. Sampling Sistematis 2. Sampling Kuota 3. Sampling Aksidental 4. Purposive Sampling 5. Sampling Jenuh 6. Snowball Sampling Gambar 5.1. Teknik Sampling

(69)

Dari gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; proability sampling dan non probabilty sampling. Probability samplig meliputi, simple random, Proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random, dan area random. Nonprobability meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.

1. Probability Sampling

Probability sampling, adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi :

a. Simple Random Sampling

Dikaitkan simpel (sederhana) karena cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakuakan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Cara demikian dilakuakan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.2. berikut.

Populasi homogen

Diambil secara random

Sampel yang representatif Gambar 5.2. Teknik Simple Random Sampling

(70)

b. Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S1 – 45, S2 - 30, STM – 800, ST – 900, SMEA – 400, SD – 300. Jumlah sampel yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan tersebut yang dimbil secata proporsional. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bab ini. Teknik proportionate stratified random sampling dapat digambarkan seperti gambar 5.3. berikut ini Populasi berstrata Diambil secara proporsional Sampel yang representatif Gambar 5.3. Teknik Proportionate Stratified Random Sampling

(71)

c. DisproportionateRandom Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah smpel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya populasi pegawai dari PT tertentu mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SLTA, 700 orang lulusan SLTP, maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SLTA, dan SLTP.

d. Clutser Sampling (Sampling Daerah)

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari syatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.

Misal di Indinesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling

Teknik sampling daerah itu sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampe daerah, dan ahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.4. berikut.

(72)

A C B E G F D I H C I G E A diambil dengan random diambil dengan random Popuasi daerah Sampel individu Sampel daerah

Gambar 5.4. Teknik Clutser Random Sampling

2. Nonprobability Sampling

Nonprobability sampling, adalah teknik sampling yang memberi peluang/ kesempatan tidak sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi :

(73)

a. Sampling Sistematis

Sampling sistematis, adalah teknik penentuan smpel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnyaanggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dri semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor urut 1 sampai dengan 100 orang. Pengambilan sampel dapat dilakkukan dengan nomor ganjil saja, atau genap saja, atu kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

b. Sampling Kuota

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah sampel ditentukan umpama 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golngan II) sebanyak 20 orang.

c. Sampling Aksidental

Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebeulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

(74)

d. Purpose Sampling

Purpose Sampling, adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel ya.ng dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja

e. Sampling Jenuh

Sampling jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota ppulasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampling jenuh ini adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f. Snowball Sampling

Snowball Sampling, adalah teknik penentuan sampel syang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang bila menggelinding, makin lama mkin besar. Teknik sampling ditunjukkan pada gambar 5.5. di halaman berikut.

3. Menentukan Jumlah Sampel

Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah populasi.

(75)

Jadi bila jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaiknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).

A C B F E G H L I M K N O J P Sampel pertama Pilihan A Pilihan H Pilihan E Pilihan C Pilihan B

(76)

Ada berbagai rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi pada buku ini disajikan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis, yaitu dengan tabel dan nomogram. Tabel yng digunakan adalah tabel Krejcie dan nomogram yang digunakan adalah nomogram Harry King. Dengan kedua cara tersebut di tidak perlu dilakukan perhitungan yang rumit.

Krejcie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Tabel Krejcie ditunjukkan pada tabel 5.1. Dari tabel itu terlihat bila jumlah populasi 100 maka sampelnya 80, bila populasi 1000 maka sampenya 278, bila jumlah populasi 10.000 maka sampelnya 370, dan bila jumlah populasi 100.000 maka jumlah sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi semakin kecil persentase sampel. Oleh karena itu tidak tepat bila ukuran populasinya berbeda persentase sampelnya sama, misalnya 10%.

Harry King dalam menghitung sampelnya tidak hanya didasarkan atas kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15%. Tetapi jumlah populasi paling tinggi hanya 200. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar 5.6. Dari gambar tersebut diberikan contoh bila populasi 200, kepercayaan sampel dalam mewakili populasi 95%, maka jumlah sampelnya sekitar 66% dari populasi. Jadi 0,66 x 200 = 132. Bila populasi 800, kepercayaan sampel 90% atau kesalahan 10% maka jumlah sampelnya = 7,5% dari jumlah populasi. Jadi 0,075 x 800 = 60. Terlihat disini semakin besar kesalahan akan semakin kecil jumlah sampel. Contoh mencari ukuran sampel diberikan dibawah nomogram (gambar 5.6.).

Gambar

Gambar 5.4. Teknik Clutser Random Sampling
Gambar 5.5. Snowball Sampling
Gambar 5.7. TSampel yang diambil dari populasi berstrata dengan  kesalahan 5% S1 50 SM 300 STM 500 SMP 100 SD 50 Populasi 1.000 Sampel  287  28 83 139 14  14

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan ini merupakan rancangan penelitian non-eksperimental yang dianalisis secara deskriptif dan bersifat retrospektif Hasil yang diperoleh dari

Telah dilakukan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif yang bersifat retrospektif mengenai " Pemantauan Interaksi Obat pada Peresepan

Rancangan yang digunakan adalah penelitian non eksperimental bersifat observasional dengan pendekatan cross sectional yang mengkaji hubungan kadar Hb dengan prestasi

experimental design merupakan pengembangan dari true experimental design yang sulit dilaksanakan (Sugiyono, 2012: 114). Eksperimental semu diartikan sebagai penelitian

Telah dilakukan penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif analisis yang bersifat retrospektif mengenai analisis efektivitas biaya (cost-effectiveness

Bentuk penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental design dengan rancangan non equivalent control grup design. Penentuan sampel dilakukan dengan cara

Penelitian ini merupakan penelian quasi eksperimental sedangkan rancangan penelitian ini bersifat pre and post test one group design yang bertujuan untuk

JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan pendekatan cross sectional dengan pendekatan uji klinis kadar BDNF pada wanita hamil