METODE PENELITIAN/ILMIAH
BAB MATERI KULIAH DOSEN PEMBINA
I Pendahuluan Rudi
II Cara memperoleh kebenaran dan ilmu pengetahuan
III Metode dan jenis penelitian
IV Beberapa metode pengumpulan data V Masalah topik, sampling, dan variable VI Perencanaan penelitian
VII Pengolahan dan analisis data
VIII Kerangka penelitian – langkah-langkah dalam penelitian
IX Peranan statistika dalam penelitian X Penulisan laporan
PUSTAKA
Ann Majchrzak. Methode for Policy Research,. Sage Publication. Beverli
Hills. London. 1984.
Arjatmo Tjokronegoro (Editor). 1979. Metodologi Penelitian Bidang
Kedokteran. Komisi Pengembangan Riset dan Perpustakaan. FKUI.
Jakarta.
Fred. N. Kelinger. 1990. Azas-azas Penelitian. (Terjemahan). Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Masri Singarimbun dan SofianEffendi. 1987. Metode Penelitian Survei.
LP3ES. Yogyakarta.
Mohamad Zainuddin. 1988. Metode Penelitian. Universitas Airlangga.
Surabaya.
Moch. Nasir. 1985. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Sumadi Suryabrata. 1981. Metodologi Penelitian. Jakarta. Rajawali.
Sutrisno Hadi. 1987. Metodologi Research. Jilid 2. Yogyakarta. Yayasan
Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Winarno Surachmad. 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar dan
Teknik. Bandung. Tarsito.
FKM
Metodologi
Penelitian
Ilmu ttg Metode (Cara, tehnik, dsb)
Merupakan salah satu langkah dari Metode Ilmiah
Metode dalam rangka mendapatkan/ memperoleh pengetahuan yang
disebut Ilmu
Pengetahuan Ilmiah & Teknologies Pengetahuan ? Dari rasa ingin tahu
Ilmu/ Science/ Sains ?
Pendekatan Ilmiah
1. Objektif
artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya.
2. Metodik
artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
3. Sistematik
artinya pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem.
4. Berlaku umum
artinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi semua orang dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama atau konsisten.
5. Dibuktikan secara empirik dan rasional.
6. Menggabungkan cara berfikir induktif dan dedukatif.
Keterbatasan Metode Ilmiah :
Panca iﺣndra (alat Pengamatan) mempunyai Keterbatasan
menangkap suatu fakta fakta keliru kesimpulan keliru
kekeliruan dari suatu kesimpulan ilmiah tetap ada
Berfikir ilmiah (Deduktif dan Induktif)
1. Deduktif : menarik kesimpulan dimulai dari pernyataan umum/luas
menuju
ke
pernyataan
khusus/sempit
dengan
menggunakan penalaran atau rasio.
Contoh (1) : setiap benda padat kalau dipanaskan akan
memuai/mengembang (umum); Besi, Seng, Tembaga,
Kuningan, dlll adalah benda padat. Oleh karena itu,
Besi, Seng, Tembaga, dll akan memuai/mengembang
bila dipanaskan (pernyataan khusus)
Contoh (2) : Biinatang akan mati (pernyataan umum) Harimau,
sapi, Anjing adalah binatang, jadi pasti akan mati
(khusus)
2. Induktif :
pengambilan kesimpulan dimulai dari pernyataan
khusus/ sempit menuju ke kesimpulan umum/ luas
(kebalikan dari deduktif)
Proses berfikir induktif tidak dimulai dari
TEORI yang bersifat umum tetapi didasarkan dari
fakta/
data
khusus
berdasarkan
pengamatan
dilapangan atau pengalaman empiris.
Dari
hasil
pengamatan
empiris
tersebut
kemudian
- disusun
- diolah
- dikaji
(dilakukan dengan menggenelalisir
– berlaku umum/
luas – fakta melalui statistika)
Ditarik kesimpulan/ pernyataan
yang bersifat umum
KeunggulanMetode Ilmiah
- Mencintai kebenaran yang objektif. Bersifat adil ~
mengurus ke arah hidup bahagia.
-
Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut.
-
Tidak percaya pada tahayul.
-
Membimbing kita untuk ingn tahu lebih banyak.
-
Membimbing kita berfikir secara terbuka/ objektif, dan
suka menerima pendapat orang lain/ toleran.
-
Membimbing kita untuk tidak percaya begitu saja pada
suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata
serta berano membuat suatu persyaratan yang menurut
keyakinan ilmiah kita adalah benar.
METODOLOGI PENELITIAN
METODOLOGI : (METHOD = CARA, LOGOUS = ILMU)
PENELITIAN : TO RE SEARCH
RE = Kembali
To Search = to look for = mencari
Penelitian : - adalah suatu proses, yaitu rangkaian langkah-
langkah yang dilakukan secara terencana dan
sistematis
guna
mendapatkan
pemecahan
masalah atau mendapatkan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan tertentu.
(Langkah-langkah yang dilakukan itu harus serasi dan saling
mendukung satu sama lain, agar penelitian yang dilakukan itu
mempunyai bobot yang cukup memadai dan memberikan /
menghasilkan kesimpulan yang tidak diragukan kebenarannya.
Merupakan penyelidikan sistematis yang ditujukan
pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan (masalah)
-
Macam Penelitian
1. Jenis
Murni/ dasar
terapan
2. Pendekatan :
Survey, expost facto, experiment, naturalistik (kualitatif),
policy research, action research, evaluasi, sejarah.
3. Tingkat eksplorasi ; deskriftif, komparatif, asosiatif
4. Jenis data
Kualitatif
Kuantitatif
5. Metode : Sejarah, deskritif
Survey
Kasus, eksperimentasi, partisipatory, dll.
6. Sifat : exploratory, deskriptif, explanatory
1. Tidak berakhir atau belum berhenti hanya sampai pada membuktikan, menerangkan atau mengungkapkan tentang adanya sesuatu
2. Harus berlanjut pada
PENELITIAN TERAPAN :
Merupakan kegiatan ilmiah untuk mengungkapkan gejala alam dan
gejala sosial dalam kehidupan, yang dipandang perlu diperbaiki
karena memiliki berbagai kekurangan atau kelemahan dengan
mempergunakan metode yang sistematis, teratur, tertib, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
PENELITIAN TERAPAN :
a. Mengungkapkan dan menerangkan tentang bagaimana adanya sesuatu itu
b. Mengungkapkan tentang mengapa demikian atau apa sebabnya adanya sesuatu itu demikian (sebab-sebabnya)
c. Menyususn implementasi berupa saran-saran tindakan dalam mengatasi atau menghindari sebab-sebab tersebut, agar adanya sesuatu sesuai dengan harapan atau yang diinginkan
Merupakan
penyelidikan
sistematis
yang
memberi
informasi
untuk
membantu
pengambilan keputusan di bidang bisnis.
PENELITIAN BISNIS : (BUSINESS RESEARCH)
Penelitian yang baik : selalu menggunakan METODE
ILMIAH
Ciri-ciri Metode Ilmiah :
1.
Masalah dan tujuan penelitian harus jelas dan tajam
jangan “ngambang”
2.
Prosedur penelitian harus diuraikan jelas
3.
Rancangan penelitian harus direncanakan dengan baik
dan seksama ~ hasil seobjektif mungkin
4.
Jujur dalam menulis laporannya
5.
Analisis data harus cukup memadai dan metoda
analisisnya harus cocok
6.
Kesimpulan-kesimpulan harus diambil dari analisa data
yang dikumpulkan (jangan menganalisis dari luar)
METODA PENELITIAN
Salah satu alat pendekatan ilmiah yang digunakan untuk ; (1) Mencari kebenaran
(2) Menemukan sesuatu pengetahuan baru
(3) Mencari pemecahan masalah yang dihadapi
Tujuan Penelitian
1. Tujuan; umumnya penelitian bertujuan untuk :
Menemukan/ mendapatkan suatu yang baru
Mengembangkan, artinya memperluas dan menggali lebih dalam
realitas/ program yang sudah ada
Menguji kebenaran suatu pengetahuan yang berarti menguji lagi
suatu kebenaran atau suatu peristiwa karena dirasakan adanya
data atau informasi yang masih diragukan
2. Kegunaan - mencari kebenaran
- mencari pemecahan masalah yang dihadapi
3. Peranan :
1) Mencandra/ mendeskripsi/ menggambarkan/ menjelaskan hal-hal
yang menjadi pokok permasalahannya
2) Menerangkan/
explanasi
kondisi-kondisi
yang
mendasari
munculnya permasalahan atau terjadinya peristiwa.
3) Untuk menyusun teori, prinsip atau aturan-aturan mengenai
hubungan antara kondisi atau peristiwa yang satu dengan yang
lain
4) Untuk mengadakan prediksi/ perkiraan dan proteksi terhadap
permasalahan atau peristiwa terhadap dampak yang akan terjadi
5) Untuk mengendalikan terhadap tindakan-tindakan atau peristiwa.
1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah
2. Studi kepustakaan/ literature study
3. Penyusunan hipotesis
4. Identifikasi, klasifikasi, dan pemberian definisi operasional variabel-variabel
5. Pengambilan/ pengembangan alat pengambil data
6. Penyusunan rancangan penelitian
7. Penentuan sampel/ contoh
8. Pengumpulan data
9. Pengolahan dan analisis data
10. Interprestasi hasil analisis
11. Penyusunan laporan/ skripsi/ tesis.
STRUKTUR
PROSES/ PROSEDUR PENELITIAN
(PROSEDUR) (LANGKAH) (PROSES)
PERNYATAAN MASALAH
PENETAPAN TOPIK/ OBYEK
PENALARAN DEDUKTIF DAN/
ATAU EDUKTIF (INDUKTI-DEDUKTIF)
PENGAJUAN MASALAH : Latar Belakang, Identifikasi/ Perumusan Masalah, Tujuan/ Kegunaan Penelitian PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN PENYUSUNAN KERANGKA PENALARAN DAN PERUMUSAN HPOTESIS Berdasarkan Kajian Pustaka (Hukum, Teori, Fakta)
BAHAN DAN METODE : Tempat/ Waktu/ Bahan Metode (Teknik Pengumpulan dan Analisis Data)
HASIL DAN PEMBAHASAN : Data Variabel yang diteliti
Putusan Analisis Data Interpretasi dan Simpulan Implikasi/ Saran METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA EMPIRIK PENALARAN INDUKTIF BERDASARKAN SEBAB AKIBAT PENGUJIAN PERNYATAAN PENDUGAAN JAWABAN PERNYATAAN JAWABAN (HIPOTESIS) (VERIFIKASI/KOROBORASI) (SIMPULAN)
PENGAJUAN MASALAH (Langkah 1)
MASALAH :
- SESUATU, YANG BELUM/ TIDAK KITA KETAHUI,: BERTANYA
MENGENAI :
♦ APA, BAGAIMANA, BILAMANA, DI MANA
♦ MENGAPA
- ADA KESENJANGAN ANTARA DAS SOLLEN DENGAN DAS SEIN
- ADA PERBEDAAN ANTARA YANG SEHARUSNYA DENGAN YANG
NYATA ADA, ANTARA HARAPAN DENGAN KENYATAAN, DSB.
Masalah tidak selalu tampak jelas harus diidentifikasi
Masalah banyak harus dibatasi/ diseleksi
Masalah harus dirumuskan dengan jelas melalui perumusan masalah
kalimat pertanyaan
Masalah tidak berdiri sendiri, ada dalam sistem tertentu latar belakang
Masalah tidak sama dengan obyek/topik
Masalah penelitian umumnya dimuat pada bagian utama dari usulan
penelitian (Proposal) . Usulan Penelitian (proposal) terdiri dari :
- Latar belakang masalah
- Identifikasi/ perumusan masalah
- Tujuan dan kegunaan penelitian
- Landasan Teoritis/ Kerangka Pemikiran/ Kerangka Pemahaman
- Hipotesis
A. Latar Belakang
Latar belakang ini memuat penjelasan mengenai alasan-alasan
mengapa masalah-masalah yang dikemukakan dalam suatu penelitian
tersebut dipandang menarik, penting dan perlu diteliti, dilihat dari segi
profesi
peneliti,
pengembangan
ilmu
atau
pengembangan
pembangunan. Masalah ini beranjak dari berbagai sumber :
- intuisi/ilham
- pengamatan sepintas
- bacaan karya ilmiah
- pernyataan pemegang otoritas ilmiah
Masalah yang didapatkan lewat penelaahan kepustakaan/ bacaan
karya ilmiah sebagai studi pendahuluan untuk mengetahui masalah
penelitian sangat penting karena untuk memperkuat cakrawala
penelitian.
Dengan studi Pendahuluan (langkah 2), peneliti akan :
1.
Mengetahui apa yang akan diteliti
2.
Tahu bagaimana ia berada dan kepada siapa informasi dapat diperoleh
3.
Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi lebih lanjut
4.
Dapat menunjukkan cara analisis data yang tepat
5.
Peneliti tahu bagaimana cara mengambil kesimpulan serta
memanfaatkan hasil penelitian
6.
Peneliti menjadi yakin bahwa penelitian tersebut perlu dilakukan dan
dapat dilaksanakan
* Studi pendahuluan ini meliputi 3 obyek :
1. Melalui paper; * majalah – majalah ilmiah (jurnal-jurnal penelitian, bulletin penelitian * buku-buku ilmiah
2. Melalui manusia sebagai sumber keahliannya 3. Melalui lokasi/ tempat penelitian.
B. Identifikasi/Perumusan Masalah
Setelah diidentifikasi, masalah hendaklah dirumuskan → penting bagi
langkah-langkah selanjutnya.
Bentuk dan isi perumusan masalah :
1. Masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2. Rumusan itu hendaklah singkat dan jelas
3. Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan
data guna menjawab pertanyan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.
Misal : Judul “Hubungan antara konsumsi kalori dengan kelelahan
pada tenaga wanita Konfeksi pakaian di Desa Loram Wetan
Kecamatan Jati Kabupaten Kudus”
♦ Latar belakang : - mengapa kelelahan
♦ Identifikasi/ rumusan masalah
Apakah ada hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan
kelelahan pada pekerja wanita. Apakah dengan meningkatnya
konsumsi kalori, tingkat kelelahan makin menurun atau tidak.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian adalah merupakan rumusan kalimat yang
menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian
selesai.
Kegunaan penelitian adalah merupakan aplikasi dari hasil
penelitian serta merupakan kelanjutan dari tujuan penelitian. Selain
itu bahwa dari hasil penelitian diharapkan dapat menambah
informasi tentang penggunaan suatu objek.
Berfikir secara cepat/tergesa-gesa
Praktis/ tidak bertele-tele
Dangkal dalam pemikiranya
Berlangsung tidak cermat
Kurang tepat (kadang-kadang) dan tidak murni
Bukti-bukti untuk menarik kesipulannya kurang sekali (berfikir “sempit”
tanpa kebijaksanaan → non ilmiah)
II. Berfikir secara arif bijaksana (ilmiah)
Berfikir dalam kaitan yang lebih luas/ lebar
Merupakan jaringan pengertian yang lebih luas/ lebar
Pandangannya lebih jauh, lebih bervariasi
Dilandasi oleh pengujian yang sistematik
Pembuktian dan faktuil
Pengecekan dan verifikasi berulang-ulang
PEMECAHAN MASALAH
I. Berfikir sempit/ pendek/sepintas lalu (non ilmiah)
TIADA PERNYATAAN ATAU PROPOSISI TANPA PENGERTIAN ATAU
KONSEP, PEMECAHAN MASALAH DILAKUKAN BERDASARKAN
PENALARAN KERANGKA PEMIKIRAN
MASALAH YANG DIRUMUSKAN BERUPA PERTANYAAN YANG
DINYATAKAN
DENGAN
KALIMAT
PERTANYAAN
HARUS
DIPECAHKAN BERUPA JAWABAN YANG DINYATAKAN DENGAN
KALIMAT PERNYATAAN.
Tugas : Tiap mahasiswa membuat judul beserta latar belakang, Identifikasi/
Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai
dengan
minat masing-masing.
Ada kaitan antara Judul dengan permasalahan. Judul itu sendiri harus mencerminkan permasalahan yang ada/timbul/diteliti
Komparatif (antar variabel) (banding/beda)
Asosiatif (antar variabel) (hubungan)
Uji beda (uji f, uji t, dst)
Oleh karena itu judul penelitian harus memiliki syarat-syarat : 1. Harus menarik
2. Harus dapat dilaksanakan 3. Harus dapat dicari datanya
4. Harus jelas (penting), tidak asal-asalan
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGOROR SEMARANG PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN 1999
ABSTRAK Guswani
Pengaruh Ketebalan Lapisan Batu Gamping (Limestone) Terhadap pH Dan Kadar Cu Pada Limbah Cair Industri Peleburan Emas di Desa Warukidul Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan.
Limbah cair industri peleburan emas masih asam dan mengandung bahan logam berbahaya diantaranya tembaga (Cu). Dalam rangka penanganan limbah industri peleburan emas tersebut, maka perlu peneitian mengenai pengaruh pemberian gamping terhadap pH dan kadar Cu.
penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pre test post test control group design. Sebagai variabel bebas adalah ketebalan batu gamping dan sebagai variabel terkait adalah pH dan kadar Cu dalam air limbah industri peleburan emas.
dengn taraf signifikan sebesar 0,05 menunjukan secara statistik ada perbedaan yyang
signifikan dalam kenaikan rata-rata pH antara ketebalan 0,01; ketebalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian air limbah. Utuk kadar Cu, ternyata harga uji F = 8,39 lebih besar dari nilai krisis F 0,05:2:12=3,89, maka ada perbedaan yang signifikan dalam rata-rata penurunan kadar Cu antara ketebalan 0,01; ketbalan 0,05 dan ketebalan 0,10 bagian.
untuk mendapatkan ketebalan gamping yang tepat, masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai tingkat ketebalan pemberian gamping sehingga dapat digunakan untuk pengolahan air limbah, khususnya limbah industri peleburan emas.
Kata kunci : gamping, pH da Cu. Kepustakaan : 24; 1970-1997
CONTOH-CONTOH JUDUL SKRIPSI
1.
Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Rawat Tinggal Dengan
Kepuasan Pasien Dalam Pelayanan di RSU RAA . Soewando. Kab. PAti
2.
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Tenaga Staf Dinas
Kesehatan Kodya Bogor.
3.
Hubungan Motivasi Kerja Perawat dan Mutu Pelayanan Pasien Rawat
Nginap di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.
4.
Kaitan Pengorganisasian dengan Prestasi Kerja Tenaga Perawat di
Ruang Rawat Inap RS Bethesda Yogyakarta.
5.
Beberapa Faktor yyang Berhubungan dengan Upaya Pemberantasan /
Pengawasan Tikus di Daerah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
6.
Hubungan Karakteristik Kepala Ruang Rawat Inap dengan Kegiatan
Pengawasan Pelayanan Keperawatan di RSUP Dr, Sardjito
Yogyakarata.
7.
Hubungan Karakteristik Tenaga Keperawatan dengan Pelaksanaan
Proses Keperawatan Nifas di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
8.
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan, Sistem Pencatatan Pelaporan
dan Penyediaan Format dengan Kebenaran dan Ketepatan Laporan
Stratifikasi Puskesmas di Kodya Yogyakarata.
9. Studi Komparatif di wilayah Kerja Puskesmas Kec. Abung
Barat Terhadap Kinerja Bidan PNS dan Bidan PTT di
Kabupaten Lampung Utara.
10. Analisis Biaya Efektivitas Pembangunan Alkon MKPJ pada
Beberapa Sarana Yankes di Kec. Banyumanik, Semarang
Tahun 1997.
11. Pengaruh Aspek Kebijaksanaan RS. Swandana Terhadap
Motivasi Kerja Perawat RSUD RAA Soewondo PAti.
12. Hubungan Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Pasien
Rawat Jalan di Puskesmas II Kartasura Kab. Sukoharjo.
PEMECAHAN PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN
MASALAH DAN PERUMUSAN HIPOTESIS (LANGKAH 3)
# PENYUSUNAN KERANGKA PEMIKIRAN
Bila tujuan dan kegunaan sudah dirumuskan maka tahap berikutnya adalah
menyusun kerangka penalaran/ pemikiran yang didasarkan kepada pendekatan
teoritis dan studi pustaka.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti mempunyai kerangka
berpikir untuk dapat memberi jawaban tentang masalah yang diteliti dan jawaban
tersebut dirumuskan dalam bentuk HIPOTESIS. Jadi hipotesis adalah jawaban
sementara dari masalah yang telah dirumuskan serta didasarkan pada pendekatan
teoritis dan studi pustaka. Namun demikian tidak semua penelitian memerlukan
hipotesis, misalnya penelitian eksploratif (misal : penelitian ke luar angkasa). Yang
kita lakukan dalam menyusun kerangka penalaran adalah penalaran atau reasoning.,
baik penalaran deduktif maupun induktif. Penalaran deduktif adalah penalaran dari
yang umum ke yang khusus, sedangkan penalaran induktif adalah penalaran dari
yang khusus ke yang umum. Dimana penalaran tersebut dilakukan :
1.
Untuk menyusun/ mengkaji teori-teori, konsep-konsep yang relevan
dengan masalah penelititan.
2.
Mengkaji hasil-hasil penelitian lain yang relevan dengan masalah
penelitian melalui generalisasi
Kegiatan penyusunan kerangka pemikiran/ penalaran tersebut
umumnya berdasarkan kajian pustaka
TEKNIK PENCARIAN PROPOSISI UNTUK PENYUSUNAN
KERANGKA PEMIKIRAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
* MELALUI KAJIAN PUSTAKA
Sumber pengetahuan ilmiah
Terdokumentasi dan terkomunikasi
BAHAN PUSTAKA
PRIMER- PUBLIKASI BERKALA
Jurnal yang diterbitkan oleh organisasi ilmuwan dan lembaga penelitian
berisi hasil penelitian (fakta); diterbitkan berkala dengan nama jurnal,
buletin penelitian, komunikasi penelitian, dsb.
Ikhtisar (Review)
Berisi ikhtisar hasil-hasil penelitian (dengan penyimpulan) yang belum
terdokumentasi dalam buku teks dan/atau referensi mutakhir.
SEKUNDER – Buku teks, buku referensi, ensiklopedi, dsb.
Berisi hukum, teori, fakta (yang diikhtisarkan/ disimpulkan)
# TEKNIK KAJIAN PUSTAKA
Pencarian (Search/ Inquiry) Bahan Pustaka
Penulisan hasil kajian * PENCARIAN
1. Langkah Pertama : Kajian Bahan Pustaka Tersier, Informasi mengenai :
a. Buku teks dan buku referensi (yang diperoleh selama program pendidikan harus dikuasai)
b. Informasi mengenai publikasi berkala : contoh : - Current contents - Chemical abstract, medical abstract, dsb.
- Scince citation index, dsb. - Biblirografhy of cotton, dsb. Ditelusur dan ditapis/ diseleksi yang relevan dengan rencana penelitian.
2. Langkah Kedua : Kajian Bahan Pustaka Sekunder
Dikaji/ dikaji kembali buku teks/ referensi 3. Langkah Ketiga : Kajian Bahan Pustaka Primer
Contoh : Agronomi Jurnal Crop Science
Research Buletin of……… Annual review of ……, dsb.
Dikaji secara mendalam publikasi berkala hasil penapisan/ seleksi langkah pertama. Ketiga langkah itu didahului oleh persiapan atau dibantu dengan informasi selama
pelaksanaan langkah-langkah itu mengenai lokasi bahan pustaka.
Bahan pustaka “Kuarter”, Contoh :BULL AMERICAN LIBRARIAN ASCOC.
* HIPOTESIS *
Hipotesis dibuat berdasarkan kerangka pemikiran
Hipotesis adalah tentative answer to the problem (jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi)
Hipotesis dirumuskan berdasarkan teori prinsip generalisasi yang didapatkan dari kajian pustaka dan disusun berdasarkan kerangka penalaran dalam bentuk kalimat pernyataan. MERUMUSKAN HIPOTESIS
1. Ditulis dalam kalimat pernyataan/ deklaratif 2. Kalimat pendek dan jelas
3. Hendaklah menyatakan hubungan atau perbedaan dua atau lebih variable 4. Hendaklah dapat diuji
Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan perbedaan/ persamaan
- perbedaan/ persamaan sesuatu yaitu apakah sesuatu berbeda
dengan
yang lain dan apakah perbedaan tersebut lebih besar
atau lebih kecil
atau juga lebih baik, dsb.
- dalam hipotesis umumnya disampaikan hipotesis alternatif, bukan
hipotesis nol.
Hipotesis dapat dipakai untuk menyatakan kaitan/ hubungan antara
variabel
Beberapa kegunaan hipotesis adalah :
1.
Memberi batasan pada jangkauan pekerjaannya
2.
Mengorganisasikan fakta ke dalam hubungan-hubungan sehingga
peneliti tidak tersesat di dalam lembah fakta.
3.
Hipotesis menunjukkan informasi dan data apa yang harus
dikumpulkan, termasuk dimana data dan informasi dicari dan berapa
banyak informasi yang telah dikumpulkan.
CONTOH HIPOTESIS :
Mahasiswa memiliki Indek Prestasi yang lebih tinggi dibanding Mahasiswi
Obat A lebih baik daripada obat B terhadap penyakit X
Varietas A lebih responsif daripada varietas B terhadap pemupukan Urea
Belajar bahasa dengan cara diskusi lebih baik dibandingkan dengan cara
ceramah
Ada pengaruh pemberian kapur terhadap pH dan kadar Cu pada limbah pabrik
Terdapat hubungan antara tingkat konsumsi kalori dengan kelelahan pada
pekerja wanita
Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dengan
perilaku dalam memelihara kesehatan
Tugas II : Tiap mahasiswa melanjutkan tugas I (judul beserta latar belakang,
Identifikasi/Rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan penelitian. Sesuai dengan minat masing-masing) ditambah Kerangka Pemikiran dan
MENGUJI HIPOTESIS
Fungsi hipotesis adalah pernyataan terkaan/ sementara tentang
hubungan tentatif antara fenomena-fenomena dalam penelitian.
Hubungan tentatif ini akan diuji validitasnya menurut teknik yang sesuai
untuk keperluan pengujian.
Hipotesis tidak selalu harus diterima kebenarannya. Penolakan hipotesis
dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan
ketidaktahuan (ignorance) yang universal.
Peneliti dapat mengetahui bukti positif atau negatif bila memiliki
hipotesis dan telah menguji hipotesis tersebut
HIPOTESIS TIDAK DIUJI KEBENARANNYA TETAPI DIUJI VALIDITASNYA, sehingga hipotesis merupakan konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.
Dalam pengajuan hipotesis diperlukan data.
Teknik pengujian tergantung dari metode dan desain penelitian yang digunakan.
Pengujian hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori,
kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik, dan teknik
pengujian.
IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI DAN PEMBERIAN DEFINISI
OPERASIONAL VARIABEL-VARIABEL
Langkah 4
Variabel : - adalah gejala atau faktor yang berpengaruh/ berperan dalam kegiatan
penelitian.
- adalah suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek
yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulan.
- adalah suatu faktor yang jika diukur akan menghasilkan skor yang
bervariasi.
Macam-macam variabel dibagi berdasarkan :
a. Hasil pengukuran/pengamatan :
1. Variabel berskala nominal
Variabel berskala nominal adalah variabel yang menunjukkan label yang
hanya mampu membedakan antara ciri atau sifat unit satu dengan yang
lainnya.
Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilah (mutually exlusiv) antara kategori yang
satu dengan yang lain. Contoh variabel nominal antara lain adalah jenis kelamin :
perbedaan antara pria dan wanita. Variabel ini tidak memiliki jenjang bertingkat. Jadi
pengertian lebih tinggi atau lebih rendah dalam hal ini tidak berlaku. Apalagi untuk
diukur jarak perbedaan antara kedua ciri itu serta perbandingkannya, pada variabel
nominal tidak mungkin.
Variabel nominal dapat dikategorikan
nominal dikotomus dan nominal
non dikotomus (kategorial). Jenis kelamin merupakan contoh variabel nominal
dikotomus sedang contoh dari nominal non dikotomus (kategorial) adalah jenis
pekerjaan, jurusan di suatu fakultas, jenis sekolah SMTA, jenis SMK, dan
lain-lainnya.
2. Variabel berskala ordinal
Variabel berskala ordinal adalah variabel yang tersususn berdasarkan
jenjang dalam atribut tertentu. Variabel ordinal memiliki variabel bertingkat yang
menunjukkan urutan (order). Urutan ini menggambarkan adanya gradasi atau
peringkat, jarak tingkat yang satu dengan yang lainnya tidak dapat diketahi dengan
pasti. Penetapan kejuaraan dalam perlombaan lari (juara satu, dua, dan tiga)
merupakan sebuah contoh variabel ordinal.
Selisih waktu yang dicapai pelari nomor satu dan nomor berikutnya tidak menjadi
masalah, yang penting disini adalah nomor satu lebih cepat dari nomor dua dan
seterusnya.
Contoh lain variabel ordinal adalah urutan dari pendapat mengenai
persetujuan tentang adanya pendidikan sex di tingkat SLTP, misalnya mencari
berapa orang yang sangat setuju, setuju, kurang setuju, dan tidak setuju.
3. Variabel berskala interval
Variabel berskala interval adalah variabel yang skala pengukurannya
memiliki jarak yang konsisten atau memiliki satuan/ unit tertentu. Misalnya nilai
atau prestasi belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk skor, dapat dikenal adanya
skor 5,6,10 dan sebagainya. Skala penlaian antara 1 sampai dengan 10 memiliki
satuan 1,0 per unit, namun skor-skor tersebut tidak memiliki perbandingan.
Jelasnya, bahwa skor 5 yang dicapai oleh seorang siswa tidak berarti setengah dari
skor 10 yang dicapai oleh siswa lain.
variabel yang berskala interval mempunyai sifat dapat membedakan antara
unit yang satu dengan yang lain, menunjukkan peringkat, dan memiliki jarak yang
tetap. Namun pada variabel yang berskala interval tidak memiliki titik nol mutlak,
sehingga skor-skor yang ada di dalamnya tidak bersifat bandingan (ratio).
4. Variabel Ratio
Variabel rasio interval adalah variabel yang dalam kuantifikasinya
mempunyai nol mutlak. Variabel yang berskala ratio dapat menunjukkan sifat
perbandingan. Seperti hasil pengukuran berat badan, seorang yang berat badannya
50 kg adalah setengah dari orang yang berat badannya 100 kg.
Dalam statistika, perlakuan terhadap variabel interval dan ratio ini sama,
karena keduanya memiliki sifat yang serupa untuk dikenai operasi matematik, yaitu
misalnya skor-skornya dapat ditarik rata-rata., dipangkatkan, dibagi dan sebagainya.
Oleh karena itu secara singkat kedua variabel itu dijadikan prasarat untuk
penggunaan statistika parametrik.
Gambaran tenttang ciri komulatif dan masing-masing skala pengukuran
variabel tersebut di atas, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel tentang ciri-ciri komulatif skala pengukuran variabel
Skala variabel
Bertingkat
Jarak
Banding
Nominal
Ordinal
Interval
Ratio
-
v
v
v
-
-
v
v
-
-
-
v
b. Dari sifatnya
Dilihat dari sifatnya, variabel dafat dibedakan menjadi dua yaitu :
1)
Variabel Aktif, adalah variabel yang memungkinkan untuk dimanipulasi
atau diubah sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh peneliti. Metode
mengajar merupakan suatu contoh variabel aktif. Pada suatu proses belajar
mengajar, setiap saat seorang guru dapat mengganti metode mengajar yang
digunakannya jika guru itu menghendakinya.
2)
Variabel atributif merupakan variabel yang sifatnya tetap, dan dalam
kondisi yang wajar sifat sifat itu sukar diubahnya. Variabel ini identik
dengan variabel nominal. Seperti jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan jenis
sekolah, tempat tinggal, dan sebagainya. Sifat yang ada padanya adalah
tetap, untuk itu peneliti senantiasa hanya mampu berbuat untuk memilih
atau menyeleksi. Oleh karena itu variabel jenis ini disebut juga variabel
selektif. Dalam proses pengelompokan subjek, misalnya, peneliti akan
mengelompokkan ke dalam sub kelompok sampai dengan kriteria sebagai
berikut :
• Kelompok wanita yang anak guru.
• Kelomok wanita yang bukan anak guru.
• Kelompok pria yang anak guru.
Peneliti hanya menyeleksi subjek sesuai dengan karakteristik yang ada
pada tiap subjek atau unit sampel.
b. Dari peranannya
Jenis variabel ditinjau dari fungsinya di dalam penelitian adalah sebagai
berikut :
1) Variabel bebas (independent variabel)
2) Variabel tak bebas atau tergantung atau terikat (dependent variabel)
3) Variabel perabtara (intervening variabel).
Variabel bebas dapat dibedakan lagi menjadi beberapa variabel, antara
lain yaitu variabel moderator, terkendali, dan variabel random. Dalam bentuk
diagram kedudukan variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut :
Sebab
Hubungan
Akibat
Variabel Bebas Moderator Terkendali Random/rambang Variabel perantara Variabel terikat
Untuk mengklasifikasikan variabel berdasarkan
peranannya cenderung
orang memulai dengan mengidentifikasi variabel terikatnya (dependent variabel). Hal
ini terjadi karena variabel terikat yang menjadi titik pusat permasalahan, sehingga
peneliti sering juga menyebut sebagai variabel kriterium. Contohnya dalam bidang
pendidikan adalah prestasi belajar sebagai pokok persoalannya (sebagai variabel
terikat). Variabel terikat tersebut tergantung kepada banyak faktor yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut sebagai variabel
bebas. Satu atau lebih variabel bebas tersebut yang akan dipelajari pengaruhnya
terhadap variabel terikat. Contoh variabel tergantungnya adalah
prestasi belajar.
Variabel bebasnya dapat berupa metode megajar. Di samping metode mengajar masih
banyak variabel yang mempengaruhi presasi belajar, misalnya: Jenis kelamin (kalau
peneliti memperhitungkan pengaruh jenis kelamin dalam penelitiannya).
Jenis
kelamin tersebut berperan sebagai variabel moderator. Umur juga
mempengaruhi prestasi belajar anak. Jika peneliti menetralisisr umur, dalam
penelitiannya dengan mengambil kelompok umurtertentu saja, maka variabel umur
berperan sebagai variabel kendali. Kemudian variabel-variabel lain yang masih banyak
jumlahnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, tetapi dianggap tidak
menimbulkan pengaruh yang berarti, sehingga variabel tersebut diabaikan dalam
penelitian. Variabel yang diabaikan pengaruhnya itu disebut rembang.
Dalam contoh model di atas yang menjadi
variabel intervening adalah proses
belajar yang terjadi pada diri subjek yang diteliti.
Ada variabel yang disebut dengan
extraneous variabel yang termasuk
variabel bebas yang tidak dikontrol. Variabel ini tampaknya identik dengan variabel
rembang.
Pada penelitian eksperimental, variabel bebas yang utama disebut variabel
perlakukan (treament variabel), karena variabel itu secara sengaja dikenakan kepada
subjek/ objek caba untuk kemudian diamati akibat yang terjadi pada subjek/ objek
coba itu. Variabel akibat yang muncul dan/atau berubah karena perlakuan yang
dikenakan pada subjek/ objek coba itu disebut pula variabel respon.
Gambaran tentang jenis-jens variabel penelitian di atas, difisualisasikan
sebagaimana skema berikut ini,
Jenis-jenis variabel penelitian dilihat dari peranannya siftnya Skala pengukuran Rasio Interval Ordinal Nominal Variabel terikat Variabel Bebas Non dikotomi dikotomi Intervening variabel Variabel antributif Variabel aktif rambang terkendali moderator
Bentuk
1. Variabel kuantitatif
Diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu :
1.1. Variabel Diskrit disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik
1.2. Variabel kontinum, menjadi 3 variabel kecil yaitu
• Variabel ordinal yang menunjukkan tingkatan-tingkatan
• Variabel interval yaitu variabel yang mempunyai jarak
• Variabel ratio yang variabel perbandingan
B. Berdasarkan Fungsinya
1. Variabel bebas/ Independen
Merupakan variabel yang sengaja dipelajari pengaruhnya
terhadap
variabel terikat. Variabel ini sering disebut sebagai
variabel stimulan,
prediktor, antecedent.
2. Variabel Tergantung/ Dependen
Variabel yang kondisinya ditentukan oleh variabel bebas
sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen.
Definisi operasional variabel adalah penjelasan secara rinci terhadap variabel-variabel yang akan
PEMILIHAN/ PENGEMBANGAN ALAT PENGAMBIL DATA
Langkah 5
Prinsip : meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang
baik
Instrumrn penelitian (alat untuk
mengukur variabel penelitian)
disebut
Variabel ilmu-ilmu alam (banyak tersedia dan telah teruji vakiditas dan reliabilitasnya), misal :
- Panas dengan calorimeter - suhu dengan termometer - berat dengan timbangannya - panjang dengan meteran
Variabel ilmu-ilmu sosial (sedikit yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya, namun cepat mengalami perubahan ~ tergantung waktu dan tempat.
Oki penelitian dalam bidang sosial, instrumen penelitian sering dibuat sendiri oleh peneliti termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya
Cara menyusun instrumen :
Titik tolak penyusunan instrumen adalah variabel penelitian yang telah
ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut ditentukan indikator
yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir
pertanyaan atau pernyataan untuk menetapkan indikator-indikator dari setip
variabel diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang
diteliti ~ dikembangkan dari teori yang ada.
Misal :
- Variabel penelitiannya tingkat kekayaan
Indikator kekayaan, misalnya : rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan
anak, jenis makanan yang dikonsumsi, jenis olah raga yang dilakukan dan
sebagainya.
Indikator rumah, bentuk pertanyaannya :
1. Berapa jumlah rumah
2. Dimana letak rumah
3. Berapa luas masing-masing rumah
4. Kualitas bangunan rumah, dst.
1. Instrumen berbentuk test
misal : untuk mengukur prestasi/pengetahuan
2. Instrumen berbentuk non test (misal dengan angket)
misal : untuk mengukur sikap, dll.
Sedangkan menurut bentuknya ada 3 bentuk instrumen, yaitu :
1.
Bentuk pilihan ganda
2.
Checklist
3.
Rating scale : menjawab salah satu dari jawaban kuontitatif yang telah
disediakan
misal :
4. bila kesehatan sangat baik
3. bila kesehatan cukup baik
2. bila kesehatan kurang baik
1. bila kesehatan sangat tidak baik
~ interval jawaban : 4 3 2 1
PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
Pada setiap instrumen baik test maupun non test terdapat butir-butir (item) pertanyaan maupun pernyataan untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut , maka setelah dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya diujicobakan dan dianalisis dengan analisis item yaitu dengan menghitung korelasi antara setiap skor butir instrumen dengan skor total (taraf signifikansi 0.05)
Sedangkan untuk menguji reliabilitas, hanya dilakukan pada item-item yang sudah memiliki validitas, yaitu dengan teknik :
1. Test re test
Pengukuran dengan instrumen sama, respondennya sama dan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya (taraf signifikansi 0,05)
2. Belah Dua (equivalen)
Pengujian/ pengukuran cukup 1 kali pada responden dan waktu yang sama, namun instrumen dua berbeda dengan maksud sama (misal : sudah berapa tahun bekerja dengan dari tahun berapa bekerja), selanjutnya kedua data dikorelasikan, bila + dan signifikan maka instrumen dinyatakan reliabel/ andal/ dapat dipercaya.
3. Gabungan 1 dan 2 4. Interval consistency
MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN
Langkah 6
Rancangan penelitian merupakan pedoman dan langkah-langkah yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakuakan penelitiannya. Dalam menyusun rancangan penelitian ini tentu peneliti sudah dapat mengantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan yang menghambat terlaksananya penelitian.
penelitian dilakuakan berangkat daria adanya suatu permasalahan. Masalah merupakan “penyimpanagn” atau deviasi dari suatu yang “standard”. Masalah itu muncul pada ruang (tempat) dan waktu tertentu. Untuk itu maka peneitian dilakukan pada temat dan pada waktu tertentu, untuk masalah tertentu.
rancangan penelitian harus dibuat secara sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang betul-betul mudah diikuti. Secara mendasar isi rancangan penelitian akan memuat hal-hal seperti berikut :
A. Permasalahan, berisi tentang :
1. Latar belakang masalah.
Di sini akan berisi tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi pada suatu proyek penelitian, tetapi dlam peristiwa itu, sekarang ini nampaknya ada penyimpangan-penyimpangan dari standard yang ada, baik standard yang bersifat keilmuan maupun aturan-aturan. Oleh karena itu dalam latar belakang masalah ini pada garis besarnya peneliti harus menuliskan mengapa hal ini perlu diteliti.
2. Identifikasi Masalah.
Dalam hal ini perlu dituliskan semua variabel yang berkaitan dengan variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti itu kedudukanna di mana di antar semua variabel-variabel itu. Variabel apa saja yang mempengaruhi secara positif dan negatif terhadp variabel yang akan diteliti. Demikian juga variabel yang diteliti itu mempengaruhi apa terhadap variabel yang lain. Dengan dapat diketahui semua variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, maka kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas.
Karena adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori-teori dan supaya penelitian dapat dilakuakn secara lebih mendalam, maka tidak semua variabel yang mempengaryhi dan dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti, fijadikan obyek penelitian. Untutk itu maka peneliti memberi batasan, tidak semua variabl akan dijadikan obyek penelitian, tetapi hanya beberapa variabel saja. Jadi judul penelitian itu secara eksplisit berisi sejumlah variabel yang akan diteliti, sesuai yang ada pada batasan masalah.
3. Batasan Masalah.
4. Rumusan Masalah.
Setelah masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa sajayang akan diteliti), dan supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu dirumuskan secara spesifik. Seperti telah diuraikan dalam Bab rumusan masalah, maka sebalisnya rumusan masalah itu dinyatakan dalam kalimat pernyataan.
Tujuan dan kegunaan penelitian berikut sebenarnya dapat diletakkan di luar pola pikir dalam merumuskan masalah. Tetapi ada kaitannya dengan permasalahan, oleh karena itu dua hal ini ditempatkan pada bagian ini.
Tujuan penelitian di sini tidak sama dengan tujuan sampul skripsi atau tesis,yang merupakan tujuan formal (misalnya untuk memenuhi salah satu syarat mendapat gelar sarjana), tetapi tujuan di sini berkaitan dengan tujuan peneliti dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang dituliskan. Misalnya rumusan masalahnya: Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A?, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui swbwrapa tingi produktivtas kerja pegawai di lembaga A. kalau rumusan masalahnya : apakah ada pengaruh latihan terhadap produktivitas kerja pegawai, maka tujuan penelitiannya adalah : ingin mengetahui apakah ada hubungan antara latihan dan produktivitas kerja pegawai, dan kalau ada seberapa besar.
Jadi pola pikir dalam merumuskan masalah itu dapat empat tahapan yang dapat digambarkan seperti pada halaman berikut :
Latar Belakang Masalah
berisi tentang sejarah dan peristiwa yang terjadi pada obyek yang akan diteliti, tetapi peristiwa itu nampaknya ada penyimpangan dari standard keilmuan maupun aturan. Peneliti perlu menuliskan mengapa hal itu diteliti.
Identifikasi Masalah
semua variabel yang mempengruhi/ dipengaruhi oleh variabel yang akan diteliti perlu diuraikan, sehingga kedudukan variabel yang akan diteliti menjadi jelas
Batasan Masalah
karena keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori dan supaya penelitian lebih mendlam maka penelitian dibatasi pada beberapa variabel saja
Rumusan Masalah
Kegunaan hasil penelitian merupakan dampak dari tercapainya tujuan. Kalau tujuan penelitian dapat tercapai, dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat maka sekarang kegunaannya apa. Kegunaan hasil penelitian ada dua hal yaitu :
1. Kegunaan untuk mengembangkan ilmu/ kegunaan teoritis.
2. Kegunaan praktis, yaitu membantu memecahkan dan mengantisipasi masalah yang ada pada obyek yang diteliti.
Jadi penelitian ini nanti, jawabannya terletak pada kesimpulan penelitian 6. Kegunaan HasilPenelitian
B. Landasan Teori dan Hipotesis
Landasan teori adalah, teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (hipotesis)
Teori-teori yang digunakan bukan sekedar pendapat dari pengarang, pendapat penguasa, tetapi teori yang betul-betul telah teruji kebenarannya. Di sini juga diperlukan dukungan hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya yang ada kaiannya dengan variabel yanga akan diteliti. Kalau ada dua variabel yang akan diteliti, maka akan diperlukan berbagai teori yang berkenaan dengan variabel tersebut. Misal akan meneliti pengaruh iklim kerja organisasi terhadap produktivitas kerja, maka akan diperlakukan teori-teori yang berkenaan dengan iklim kerja dan produktivitas kerja serta bagaimana hubungan keduanya.
Rumusan masalah yang dapat terjawab hanya dengan teori maka disebut hipotesis. Jawaban dengan teori ini sifatnya masih semenara, untuk membuktikan kebenarannya maka harus ada data dari lapangan (harus terjawab secara empirik). Karena hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka titik tolak untuk merumuskan hipotesis adalah rumusan masalah. Kalau ada rumusan masalah penelitian seperti ; Bagaimana produktivitas kerja pegawai di lembaga A, maka hipotesisnya adalah : produktivitas kerja di lembaga Arendah/ tinggi/ sangat tinggi. Kalau rumusn masalahnya : apakah pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai, maka hipotesisnya adalah : ada pengaruh yang tinggi/ rendah kepemimpinan terhadap motivasi kerja pegawai.
Untuk merumuskan hipotesis, perlu adanya asumsi terlebih dahulu, karena asumsi ini merupakan titik tolak untuk merumuskan msalah.
C. Prosedur Penelitian
Setelah hipotesis diajukan, maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana langkah selanjutnya supaya hipotesis tersebut dapat teruji secara empirik. Untuk itu diperlukan langkah sebagai berikut :
1. Menentukan poulasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data. Bila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan data sampel untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai sumber data harus representatif dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari populasi secara random sampai jumlah tertentu.
2. Teknik Pengumpulan Data.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga betul-betul didapat data yang valid dan reliabel. Jangan semua teknik pengumpulan data (angket, observasi, wawancara) dicantumkan kaalau nantinya tidak dapat dilaksanakan. Selain itu konsekuensi dari mencantumkan ke tiga teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus ada datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan obyektif perlu penggunaan berbagi teknik, tetapi bila suatu teknik dipandang telah mencukupi maka teknik yang lain bila digunakan akan menjadi tidak efisien.
3. Menentukan Teknik Analisis Data
Untuk penelitian dengan pendekatan kuantitatf, maka teknik analisis data ii berkenaan dengan pengujian hipotesis yang diajukan. Benuk hipotesis mana yang diajukan, akan menentukan teknik statistik mana yang digunkan. (lihat bab teknik analisis data). Jadi sejak membuat rancangan, maka teknik analisis data ini telah ditentukan. Bila peneliti tidak membuat hipotesis, maka rumusan masalah penelitian itulah yang perlu dijawab. Tetapi kalau hanya rumusan masalah itu dijawab, maka kesimpulan yang dihasilkan hanya dapat berlaku untuk sampel yang digunakan, tidak dapat berlaku untuk populasi.
D. Organisasi Pelaksana Penelitian
Bila peneliti dilaksanakan oleh tim/ kelompok maka diperlukan adanya organisasi pelaksana penelitian. Minimala ada ketua yang bertanggung jawab dan anggota, sebagai pembantu ketua.
E. Jadwal Penelitian
Rancangan penelitian juga perlu sekali adanya jadwal pelaksanaan penelitian. Berapa lama satu program penelitian akan dapat diselesaikan. Jadwal kegiatan penelitian meliputi :
1. Persiapan ……….. 1 bulan a. Mengurus perizinan..
b. Menentukan responden.
2. Pelaksanaan ……….. 1 bulan a. Pengumpulan data.
b. Klasifikasi dan tabulasi data. c. Penarikana kesimpulan.
3. Penyelesaian ………. 1 bulan a. Penyusunana laporan peneitian.
b. Diskusi.
c. Cetak/ perbanyakan/ penggandaan laporan.
Jumlah waktu yang diperlukan ………. 3 bulan
Contoh rancangan penelitian diberikan pada lampiran
POPULASI DAN SAMPEL
Langkah 7
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/ subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi populasi bkan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/ subyek yang dipelajari, tetapi melputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh oleh subyek atau obyek itu.
Misalnya akan melakukan penelitian di Lembaga X, maka Lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang/ subyek dan obyek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/ kuantitas. Tetapi Lembaga X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya dan lain-lain; dan juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur kerja, tata ruang produk yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir berti populasi dalam arti karakteristik.
Satu oarngpun dapat dipergunakan sebagai populasi, karena satu orang itu mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, displin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y maka kepemimpinan itu merupakan sampel dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y.
Dalam bidang kedokteran, satu orang sering bertindak sebagai populasi. Darah yang ada pada setiap orang adalah populasi, kalau akan diperiksa cukup diambil sebagian darah yang ada pada orang tersebut.
B. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewkili).
Bila sampel tidak representatif, ibarat orang buta disuruh menyimpulkan karakteristik gajah. Satu orang memegang telinga gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti kipas. Orang kedua memegang badan gajah, maka ia menyimpulkan gajah itu seperti tembok besar. Satu orang lagi memegang ekornya, maka ia menyimpulkan gajah iti kecil bulat seperti seutas tali. Begitulah kalau sampel yang dipilih tidak representatif, maka ibarat 3 orang buta itu yang membuat kesimpulan salah tentang gajah.
C. Teknik Sampling
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan.
Secara skematis, teknik sampling ditunjukan pada gambar 5.1. Teknik Sampling non-probability Sampling Probability Sampling
1. Simple random sampling 2. Proportionate stratified
random sampling
3. Disproportionate stratified random sampling
4. Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)
1. Sampling Sistematis 2. Sampling Kuota 3. Sampling Aksidental 4. Purposive Sampling 5. Sampling Jenuh 6. Snowball Sampling Gambar 5.1. Teknik Sampling
Dari gambar tersebut terlihat bahwa, teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; proability sampling dan non probabilty sampling. Probability samplig meliputi, simple random, Proportionate stratified random sampling, disproportionate stratified random, dan area random. Nonprobability meliputi, sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
1. Probability Sampling
Probability sampling, adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi :
a. Simple Random Sampling
Dikaitkan simpel (sederhana) karena cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakuakan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu. Cara demikian dilakuakan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.2. berikut.
Populasi homogen
Diambil secara random
Sampel yang representatif Gambar 5.2. Teknik Simple Random Sampling
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S1 – 45, S2 - 30, STM – 800, ST – 900, SMEA – 400, SD – 300. Jumlah sampel yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan tersebut yang dimbil secata proporsional. Jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel diberikan setelah bab ini. Teknik proportionate stratified random sampling dapat digambarkan seperti gambar 5.3. berikut ini Populasi berstrata Diambil secara proporsional Sampel yang representatif Gambar 5.3. Teknik Proportionate Stratified Random Sampling
c. DisproportionateRandom Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah smpel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya populasi pegawai dari PT tertentu mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SLTA, 700 orang lulusan SLTP, maka 3 orang lulusan S3 dan 4 orang lulusan S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SLTA, dan SLTP.
d. Clutser Sampling (Sampling Daerah)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari syatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.
Misal di Indinesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling
Teknik sampling daerah itu sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampe daerah, dan ahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan seperti gambar 5.4. berikut.
A C B E G F D I H C I G E A diambil dengan random diambil dengan random Popuasi daerah Sampel individu Sampel daerah
Gambar 5.4. Teknik Clutser Random Sampling
2. Nonprobability Sampling
Nonprobability sampling, adalah teknik sampling yang memberi peluang/ kesempatan tidak sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampling ini meliputi :
a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis, adalah teknik penentuan smpel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnyaanggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dri semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor urut 1 sampai dengan 100 orang. Pengambilan sampel dapat dilakkukan dengan nomor ganjil saja, atau genap saja, atu kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
b. Sampling Kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah sampel ditentukan umpama 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golngan II) sebanyak 20 orang.
c. Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel, berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebeulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d. Purpose Sampling
Purpose Sampling, adalah teknik penentuan sampel untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel ya.ng dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja
e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh, adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota ppulasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain dari sampling jenuh ini adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball Sampling
Snowball Sampling, adalah teknik penentuan sampel syang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang bila menggelinding, makin lama mkin besar. Teknik sampling ditunjukkan pada gambar 5.5. di halaman berikut.
3. Menentukan Jumlah Sampel
Jumlah sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah populasi.
Jadi bila jumlah populasi 10000 dan hasil penelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaiknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
A C B F E G H L I M K N O J P Sampel pertama Pilihan A Pilihan H Pilihan E Pilihan C Pilihan B
Ada berbagai rumus yang dapat digunakan untuk menghitung besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian. Tetapi pada buku ini disajikan cara menentukan ukuran sampel yang sangat praktis, yaitu dengan tabel dan nomogram. Tabel yng digunakan adalah tabel Krejcie dan nomogram yang digunakan adalah nomogram Harry King. Dengan kedua cara tersebut di tidak perlu dilakukan perhitungan yang rumit.
Krejcie dalam melakukan perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel yang diperoleh itu mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi. Tabel Krejcie ditunjukkan pada tabel 5.1. Dari tabel itu terlihat bila jumlah populasi 100 maka sampelnya 80, bila populasi 1000 maka sampenya 278, bila jumlah populasi 10.000 maka sampelnya 370, dan bila jumlah populasi 100.000 maka jumlah sampelnya 384. Dengan demikian makin besar populasi semakin kecil persentase sampel. Oleh karena itu tidak tepat bila ukuran populasinya berbeda persentase sampelnya sama, misalnya 10%.
Harry King dalam menghitung sampelnya tidak hanya didasarkan atas kesalahan 5% saja, tetapi bervariasi sampai 15%. Tetapi jumlah populasi paling tinggi hanya 200. Nomogram ini ditunjukkan pada gambar 5.6. Dari gambar tersebut diberikan contoh bila populasi 200, kepercayaan sampel dalam mewakili populasi 95%, maka jumlah sampelnya sekitar 66% dari populasi. Jadi 0,66 x 200 = 132. Bila populasi 800, kepercayaan sampel 90% atau kesalahan 10% maka jumlah sampelnya = 7,5% dari jumlah populasi. Jadi 0,075 x 800 = 60. Terlihat disini semakin besar kesalahan akan semakin kecil jumlah sampel. Contoh mencari ukuran sampel diberikan dibawah nomogram (gambar 5.6.).