• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.2.1. Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan di PT Trans TV bertempat di Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14A Mampang Jakarta Selatan 12790. Kegiatan pengumpulan data dilakukan selama tiga bulan, yaitu Maret- Mei 2006.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil pengamatan di lokasi perusahaan, hasil wawancara langsung dengan pihak program acara “Extravaganza” (Lampiran 2) yang mengerti kondisi program acara “Extravaganza” dan memiliki kontribusi dalam merumuskan strategi program acara tersebut, yaitu produser dan program research

and development (R & D). Wawancara dengan menggunakan

kuesioner (Lampiran 3), yang cara pengisiannya dipandu oleh peneliti. Data sekunder diperoleh dari laporan tertulis perusahaan atau dokumen perusahaan, data-data dari literatur yang relevan dengan penelitian yang berasal dari buku, artikel yang ada di koran dan majalah, internet.

Data-data yang diperoleh digunakan untuk melakukan analisis terhadap strategi program acara “Extravaganza”. Data yang dibutuhkan untuk menganalisis lingkungan perusahaan meliputi : 1. Data untuk analisis lingkungan internal

a. Gambaran umum perusahaan.

b. Segmentasi, target pasar dan posisi pasar. c. Bauran Pemasaran

2. Data untuk analisis lingkungan eksternal a. Kondisi lingkungan makro

b. Kondisi analisis persaingan 3.2.2. Pengolahan dan Analisis Data

A. Matriks IFE dan EFE

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membentuk matriks IFE dan EFE (Tabel 4 dan 5) adalah :

a. Menuliskan daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting (critical succes factors atau CSF) untuk aspek internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) pada kolom pertama.

b. Menentukan bobot setiap peubah. Penentuan bobot dilakukan dengan cara mengajukan identifikasi faktor strategis internal dan eksternal kepada pihak manajemen atau ahli dengan menggunakan metode “Paired Comparison” (Kinnear and Taylor, 2000). Metode ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap bobot setiap faktor penentu internal dan eksternal. Untuk menentukan bobot setiap peubah digunakan skala 1, 2 dan 3. Skala yang digunakan adalah :

1. Jika indikator vertikal kurang penting daripada indikator horizontal.

2. Jika indikator vertikal sama penting dengan indikator horizontal.

3. Jika indikator vertikal lebih penting daripada indikator horizontal.

Tabel 4. Penilaian bobot faktor strategi internal perusahaan Faktor Strategi Internal A B C D ... Total

A Xi B C D ... Total n Σ Xi i= 1 Sumber : Kinnear and Taylor, 2000.

Tabel 5. Penilaian bobot faktor strategi eksternal perusahaan Faktor Strategi Eksternal A B C D ... Total

A Xi B C D ... Total n Σ Xi i= 1 Sumber : Kinnear and Taylor, 2000.

26

Bobot setiap peubah diperoleh dengan menentukan nilai setiap peubah terhadap jumlah nilai keseluruhan dengan menggunakan rumus berikut :

Xi ai =

n

Σ

Xi

i = 1

ai = Bobot peubah ke-i Xi = Nilai peubah ke-i i = 1, 2, 3, ...., n n = Jumlah peubah

Total bobot yang diberikan harus sama dengan 1,0. Pembobotan ini kemudian ditempatkan pada kolom kedua matriks IFE-EFE.

c. Menentukan rating setiap peubah antara 1-4, yaitu untuk matriks IFE rating 1 = Kelemahan utama; 2 = Kelemahan kecil; 3 = Kekuatan kecil; 4 = Kekuatan utama. Sedangkan untuk matriks EFE, rating 4 = Respon tinggi; 3 = Respon di atas rataan; 2 = Respon rataan; 1 = Respon kurang atau di bawah rataan. Rating 1-4 ditentukan dengan membandingkan fakta dengan kinerja ideal yang diinginkan perusahaan.

d. Mengalikan nilai bobot dengan nilai rating untuk mendapatkan skor pembobotan.

e. Menjumlahkan semua skor secara vertikal untuk mendapatkan skor total bagi perusahaan yang dinilai. Total skor berkisar antara 1-4 dengan rataan 2,5. Pada matriks IFE, total skor di bawah 2,5 menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kondisi internal yang lemah, sedangkan jika di atas 2,5 menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kondisi internal kuat. Pada matriks EFE, nilai 4,0 menunjukkan bahwa perusahaan telah merespon dan memanfaatkan dengan baik peluang-peluang yang ada untuk menghadapi ancaman-

ancaman. Sedangkan nilai 1,0 menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk menghindari dan mengatasi ancaman-ancaman usaha. Matriks IFE dan EFE disajikan pada Tabel 6 dan 7. Tabel 6. Matriks IFE

Faktor Strategi Internal Bobot (a) Rating (b) Nilai (a x b = c) A. Kekuatan 1. 2. 3. : n Jumlah (A) B. Kelemahan 1. 2. 3. : n Jumlah (B) Total (A+B) Sumber : David, 2002. Tabel 7. Matriks EFE

Faktor Strategi Eksternal Bobot (a) Rating (b) Nilai (a x b = c) A. Peluang 1. 2. 3. : n Jumlah (A) B. Ancaman 1. 2. 3. : n Jumlah (B) Total (A+B) Sumber : David, 2002.

28

B. Analisis Matriks IE

Analisis ini menggunakan matriks yang terdiri dari sembilan sel yang menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dilakukan pihak perusahaan secara rinci pada setiap divisi. Analisis matriks IE ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu :

Kuat Rataan Lemah 3,0-4,0 2,0-2,99 1,0-1,99

Gambar 4. Matriks Internal-External (David, 2002). a. Growth and Build Strategies (tumbuh dan bina)

Kondisi ini terletak pada sel I, II atau IV. Jenis strategi yang dapat diterapkan pada bagian ini adalah strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar dan pengembangan produk) dan strategi integrasi (integrasi ke belakang, integrasi ke depan dan integrasi horizontal).

b. Hold and Maintain Strategies (pertahankan dan pelihara) Kondisi ini terletak pada sel III, V dan VII. Jenis strategi yang dapat diterapkan pada bagian ini adalah strategi yang bersifat penetrasi pasar dan pengembangan produk.

I Tumbuh dan Bina (Growth and Build) II Tumbuh dan Bina (Growth and Build) III Pertahankan dan Pelihara (Hold and Maintain) IV Tumbuh dan Bina (Growth and Build) V Pertahankan dan Pelihara (Hold and Maintain) VI Panen atau Divestasi (Harvest or Divestiture) VII Pertahankan dan Pelihara (Hold and Maintain) VIII Panen atau Divestasi (Harvest or Divestiture) IX Panen atau Divestasi (Harvest or Divestiture) TO T A L NIL A I EFE YANG DIBERI BO BO T Tinggi 3,0-4,0 Sedang 2,0-2,99 Rendah 1,0-1,99 TOTAL NILAI IFE YANG

c. Harvest or Divest Strategies (panen atau divestasi)

Kondisi ini terletak pada sel VI, VIII dan IX. Strategi yang sering digunakan adalah strategi penciutan dan memangkas unit bisnis yang kurang menguntungkan.

C. Matriks QSP

Setelah melewati tahap input dan pemaduan, perusahaan perlu melakukan pengambilan keputusan tentang strategi terbaik yang akan dipilih dari berbagai alternatif strategi yang di dapat, yaitu melalui QSPM. Dalam menyusun QSPM perlu dilakukan langkah-langkah berikut :

a. Mendaftarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman perusahaan pada kolom sebelah kiri.

b. Membuat bobot pada masing-masing kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dengan ketentuan bahwa bobot ini sama dengan bobot pada matriks IFE dan EFE.

c. Menuliskan dan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus dipertimbangkan perusahaan, kemudian mencatat strategi-strategi tersebut di bagian atas baris QSPM.

d. Menetapkan nilai daya tarik atau Attractiveness Score (AS). Nilai AS ini diperoleh dari hasil kuesioner kepada pihak-pihak manajemen perusahaan. Batasan nilai AS adalah 1-4 yaitu, Nilai 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = cukup menarik dan 4 = sangat menarik terhadap faktor-faktor internal dan eksternal.

e. Menghitung total nilai daya tarik atau Total Attractiveness Score (TAS) dari hasil perkalian bobot yang terdapat pada matriks IFE dan EFE dengan AS yang diperoleh. TAS menunjukkan kemenarikan relatif dari masing-masing alternatif strategi.

f. Menghitung jumlah total nilai daya tarik atau TAS pada masing-masing kolom QSPM. Berdasarkan beberapa nilai TAS yang didapat, maka nilai TAS dari alternatif strategi itu

30

dapat menjadi pilihan utama. Nilai TAS terkecil menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir. Matriks QSPM dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Matriks QSP Faktor

Kunci

Bobot Strategi I Strategi II Strategi III AS TAS AS TAS AS TAS Peluang - - Ancaman - - Kekuatan - - Kelemahan - - Sumber : David, 2002.

4.1. Gambaran Umum TRANS TV 4.1.1. Visi dan Misi

Dalam menjalankan kegiatannya, TRANS TV memiliki lima visi yang dianut, yaitu (1) menjadi televisi terbaik di Indonesia maupun ASEAN, (2) memberikan hasil usaha yang positif bagi stakeholders, (3) menyampaikan program-program bermutu, (4) berperilaku berdasarkan nilai-nilai moral budaya kerja yang dapat diterima oleh stakeholders dan mitra kerja, serta (5) memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan dan kecerdasan masyarakat.

Misi TRANS TV, yaitu merupakan wadah gagasan dan aspirasi masyarakat untuk mencerdaskan dan mensejahterakan bangsa, memperkuat persatuan dan menumbuhkan nilai-nilai demokrasi.

4.1.2. Target Audiens

TRANS TV membidik segmen pemirsa kelas menengah atas golongan A, B dan C (Tabel 9).

Tabel 9. Kelas sosial

No Kelas Sosial Tingkat Pendapatan (Rp) 1. Kelas atas-atas (A+) > 3.000.001 (A1) 2. Kelas atas bagian bawah (A) 2.000.001 – 3.000.000 (A2) 3. Kelas menengah atas (B+) 1.500.001 – 2.000.000 (B) 4. Kelas menengah bawah (B) 1.000.001 – 1.500.000 (C1) 5. Kelas bawah bagian atas

(C+)

700.001 – 1.000.000 (C2) 6. Kelas bawah bagian bawah

(C)

500.001 – 700.000 (D) 7. Kelas paling bawah < 500.000 (E) Sumber : Lyoyd Warmer dalam Morissan, 2005.

4.1.3. Siaran

TRANS TV mulai mengudara pada tanggal 22 Oktober 2001. Sampai saat ini terdapat 30 transmisi yang tersebar di kota-kota

32

strategis Indonesia. Daftar alamat stasiun transmisi daerah dapat dilihat pada Lampiran 4.

4.1.4. Logo

Logo TRANS TV berbentuk berlian menandakan keindahan dan keabadian. Kilauannya merefleksikan kehidupan dan adat istiadat dari berbagai pelosok daerah di Indonesia sebagai simbol pantulan kehidupan serta budaya masyarakat Indonesia. Huruf dari jenis serif mencerminkan karakter abadi, klasik, namun akrab dan mudah dikenali.

4.1.5. Gedung

Gedung TRANS TV merupakan gedung pertama di Indonesia yang dirancang khusus bagi stasiun televisi, dimana dalam gedung sembilan lantai ini ditanam kabel-kabel (termasuk kabel serat optik) sepanjang 1.300 m, untuk mendukung sistem siaran digital yang digunakan oleh Trans TV.

Gedung TRANS TV terletak di atas tanah seluas 2 Ha di jalan Kapten Tendean kav. 12-14A, Mampang Jakarta Selatan 12790. Gedung ini dibangun dengan arsitektur neo klasik dan terdiri dari sembilan lantai.

4.1.6. SDM

Sejak tahun 2000 TRANS TV melakukan road show ke kampus-kampus di berbagai kota di Indonesia, guna merekrut bakat-bakat terbaik para mahasiswa, agar dapat menjadi sumber kreatifitas bagi pengembangan suatu program acara.

Sejak awal berdirinya TRANS TV, pihak manajemen merencanakan tekad untuk merekrut sebagian besar karyawannya dari tenaga-tenaga yang baru lulus dari bangku kuliah, melalui program yang dinamakan Broadcaster Development Program (BDP). Manajemen yakin, tenaga-tenaga yang masih produktif ini akan memudahkan perusahaan membangun budaya kerja yang baru, serta akan menjadi sumber kreatifitas.

Para kandidat ini lalu mengikuti pelatihan selama 3 bulan. Kurikulum pelatihan di desain oleh para staf TRANS TV dengan tekanan pada kerjasama dan pemahaman yang menyeluruh antar bagian. Pelatihan dalam skala yang besar merupakan yang pertama kalinya dilakukan dalam sejarah pertelevisian di Indonesia.

TRANS TV juga merekrut tenaga-tenaga berpengalaman dari semua stasiun televisi swasta yang ada, meskipun jumlahnya tidak sebesar tenaga yang belum berpengalaman. Semua ini dilakukan guna mewujudkan visi TRANS TV untuk menjadi televisi terbaik, dengan menyajikan program-program berkualitas dan turut serta meningkatkan kesejahteraan serta kecerdasan masyarakat. Struktur organisasi TRANS TV disajikan dalam Lampiran 5.

4.1.7. Teknologi

TRANS TV dibangun untuk dapat menggunakan teknologi digital penuh, mulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi serta siaran. Tapi karena sistem penyiaran di Indonesia masih menggunakan sistem analog, output (keluaran) yang bersifat digital ini, pada menara diubah menjadi analog. Walaupun demikian, pemirsa akan menikmati tayangan audio visual yang lebih jernih dan bersih. Kelak jika sistem penyiaran di Indonesia sudah beralih ke sistem digital, TRANS TV hanya perlu memodifikasi pemancar-pemancarnya saja.

Selain output yang lebih baik, teknologi digital juga memungkinkan proses kerja yang lebih efisien. Video tape (peran kaset) nyaris hilang, karena semua materi produksi mengalir dari satu server ke server komputer lainnya, melalui jaringan kabel optik yang terpasang di seluruh gedung. Keempat studio juga terintegrasi satu sama lain, sehingga memungkinkan siaran yang simultan.

4.1.8. Data Pendukung

a. Satelit : Telkom 1

34

Surabaya Kabelvision c. PT. Satelit : Indovision

d. Peralatan : Panasonic, Leitech, NEC, Thomson, dan lain-lain.

e. Pemasok Program

(1) Asing : Warner Brothers, Universal, Colombia, FOX, Dream Works, Sonny Corp, Warner dan lain-lain.

(2) Lokal : Rapi Film, Multivision, Teguh Bakti Multivisitama, Starvision, GMM dan lain- lain.

4.1.9. Investasi

TRANS TV dibangun dengan modal investasi Rp. 600 milyar yang berasal dari grup PARA Rp. 300 milyar dan sisanya berupa dana pinjaman komersial dari Bank Mandiri.

Melihat prospek belanja iklan pada tahun 2002, TRANS TV optimis mampu meraup pendapatan iklan yang cukup baik dan break event (kembali modal) pada tahun 2003. Jika target-target tersebut tercapai, TRANS TV akan segera go public (menjual bagian sahamnya pada masyarakat).

4.1.10. Program Acara

Siaran TRANS TV menganut konsep general entertainment, sehingga pemirsa dapat menikmati berbagai tayangan hiburan drama maupun non drama, serta tayangan berita. Sampai saat ini, program in house sebesar 70% dan sisanya 30% out source. Pada Lampiran 6 dan 7 disajikan performance TRANS TV program.

4.2. Profil Program Acara “Extravaganza” 4.2.1. Latar Belakang

Awalnya ide untuk membuat tayangan ini berasal dari managing director TRANS TV, yaitu Bapak Wisnutama pada tahun 2004. Idenya yaitu membuat satu acara variety, tetapi

terdapat sketsa komedi. Sketsa merupakan suatu penggalan- penggalan cerita yang hanya beberapa menit. Pilihan komedi karena ingin menghibur orang dengan hal yang tidak terlalu serius. Selain itu juga, ingin membedakan komedi tayangan ini dengan tayangan komedi lainnya. “Extravaganza” lebih memperkuat skrip dengan pemain-pemain yang bisa memainkan skrip dengan baik. Sedangkan, tayangan komedi lain benar-benar dari pelawak yang berimprovisasi. Kemudian, Bapak Wisnutama menunjuk M. Ikhsan, Andrian Saputra dan tim kreatif sebagai pelaksana program ini.

Setelah melewati tahap diskusi yang cukup lama, akhirnya tercetuslah sebuah program acara variety show dan comedy bernama “Extravaganza”. “Extravaganza” mulai ditayangkan pada stasiun TRANS TV pada tanggal 5 April 2004, dan merupakan pioner comedy scripted di Indonesia. “Extravaganza” berasal dari kosa kata bahasa Inggris yang berarti kemeriahan, gemerlap atau pertunjukkan yang spektakuler, dan kesan tersebut yang ingin ditampilkan kepada audiens ketika menonton “Extravaganza”. 4.2.2. Personel “Extravaganza”

Para pemain yang menjadi pengisi acara bukanlah para pelawak, tetapi memiliki kemampuan untuk bercerita, karena kemampuan story telling dituntut dalam pemahaman suatu cerita. Para pemain “Extravaganza” terdiri dari sembilan orang, antara lain (1) Tora Sudiro, (2) Indra Birowo, (3) Virnie Ismail, (4) Mieke Amalia, (5) Tike Priyatnakusumah, (6) Sogi Indra Dhuaja, (7) Ronal Surapradja, (8) Roni Dozer dan (9) Aming Sugandhi. Struktur utama program acara “Extravaganza” dapat dilihat pada Lampiran 8.

4.2.3. Kegiatan Syuting

Jam tayang “Extravaganza” yaitu pada setiap hari Senin dan Sabtu pukul 19.00 WIB. Evaluasi terhadap pra-proses-pasca produksi dilakukan setiap minggu. Jika terdapat masalah yang

36

membutuhkan tindakan koreksi secepatnya, maka evaluasi dilakukan setelah syuting (Senin dan Selasa). Akan tetapi, jika masalah tersebut relatif tidak terlalu gawat, maka evaluasi dilakukan pada hari Rabu. Pada mulanya kegiatan syuting dilakukan secara live, kemudian berubah menjadi taping (merekam kegiatan syuting). “Extravaganza” mengalami perubahan jam tayang sebanyak empat kali yaitu (1) 10-11 malam, (2) 9-10 malam, (3) 8-9 malam dan sekarang (4) 7-9 malam. Selain itu juga, “Extravaganza” menambah jam tayangnya menjadi dua kali dalam seminggu.

4.2.4. Divisi-Divisi Pendukung

Divisi-divisi lain yang mendukung kelancaran proses produksi yaitu facilities, wardrobe, set, property, dan technical support.

4.2.5. Penghargaan

Sejumlah penghargaan telah diraih oleh “Extravaganza” dari berbagai media, diantaranya yaitu Harian Jawa Pos, Majalah Gadis, Majalah Bobo, Tabloid Bintang, dan lain-lain. Penghargaan diraih sebagai kategori program terfavorit dan program yang paling berkilau. Akan tetapi, sangat disayangkan “Extravaganza” gagal meraih penghargaan dalam ajang pertelevisian “Panasonic Awards” tahun 2005. Namun, dua pemain “Extravaganza”, yaitu Tora Sudiro dan Aming meraih penghargaan dengan masing- masing kategori yaitu sebagai aktor terbaik dan pelawak terbaik (Bintang, 2005b).

4.2.6. Strategi

Beberapa trik yang dilakukan agar penonton tidak bosan, yaitu mempertahankan apa yang orang suka dan mencoba materi- materi baru. Seperti sekarang, “Extravaganza Malam Mingguan” menghadirkan segmen talkshow. Pada segmen tersebut, bintang tamu diwawancarai oleh salah satu pemain. Bedanya, setiap bintang tamu diduetkan dengan karakter-karakter yang diciptakan.

Strategi tersebut dilakukan untuk mengurangi tingkat kejenuhan audiens, serta sebagai pembeda antara “Extravaganza” dengan “Extravaganza Malam Mingguan”. Pada Lampiran 9 disajikan performance TV rating “Extravaganza” dalam Top 100 program all station.

4.3. Analisis Faktor Internal

4.3.1. Segmentasi, Targeting dan Positioning A. Segmentasi

Segmen audiens yang dituju yaitu golongan A, B dan C. Alasannya yaitu dari segi bisnis masyarakat Indonesia mayoritas berada pada golongan C D E, akan tetapi sebagai pemilik uang adalah golongan A, B dan C. Jadi, semakin banyak golongan A, B dan C, maka berimplikasi pada semakin banyak pengiklan.

Akhir-akhir ini segmen audiens melebar, yaitu anak-anak dan orang berusia > 50 tahun. Hal ini dibuktikan dengan penghargaan yang diraih oleh “Extravaganza” dari “Majalah Bobo”, yaitu sebagai program terfavorit. Seperti yang kita ketahui, “Majalah Bobo” merupakan majalah untuk anak-anak (Nova, 2005). Sedangkan segmen audiens melebar ke segmen berumur > 50 tahun, karena audiens yang menonton tayangan ini secara langsung di studio 1 TRANS TV, terdapat orang yang sudah berusia lanjut. Selain itu, loyalitas audiens merupakan suatu faktor yang membuat tayangan ini terus berjalan.

B. Targeting

Target audiens yaitu golongan A, B dan C pria dan wanita yang berusia antara 17-45 tahun. Semakin luas segmen audiens tayangan “Extravaganza”, hal ini memberi nilai lebih kepada pengiklan, karena iklan yang ditampilkan dapat disaksikan oleh audiens dari semua umur. Selain itu, “Extravaganza” merupakan salah satu program acara yang menduduki “Top 10 Program Unggulan TRANS TV”, semakin menarik pengiklan untuk

38

beriklan di TRANS TV. Hal tersebut dapat dijadikan dasar sebagai indikator kekuatan “Extravaganza”.

C. Positioning

Citra yang ingin ditanamkan melalui tayangan “Extravaganza”, yaitu memberikan hiburan, kemeriahan dan suasana gemerlap pada diri audiens. Dalam hal ini diharapkan audiens merasa terhibur melalui tayangan ini.

4.3.2. Bauran Pemasaran Jasa A. Product

“Extravaganza” merupakan salah satu program in-house production TRANS TV yang ditayangkan pada prime time (jam tayang utama), yang menampilkan berbagai cerita seru dalam bentuk sketsa komedi, yang diangkat dari kisah keseharian, film, bahkan legenda masa silam. Tayangan ini berjenis variety comedy show yang menggunakan script (naskah). Acara ini telah mampu memberi warna baru pada wajah dunia hiburan di tanah air, dimana unsur komedi dikemas secara dari tayangan komedi lainnya.

Sejauh ini lebih banyak mengenal tayangan komedi yang lebih mengandalkan kemampuan improvisasi pelawaknya, contohnya “Srimulat” dan “Ngelaba”.

Konsep acara “Extravaganza” merupakan variety show yang mengetengahkan unsur live music dan komedi. Dalam setiap episode terdapat beberapa tema cerita komedi yang dikemas dalam bentuk sketsa dengan setting berbeda. Cerita komedi yang diangkat pun beragam, dari dinamika sosial yang terjadi di masyarakat hingga cerita yang diambil dari legenda rakyat. Dari unsur live music, “Extravaganza” selalu menampilkan grup band atau musisi yang namanya tengah naik daun. Uniknya, aksi band atau musisi tersebut ditampilkan bersama dengan para pemain “Extravaganza”.

Ciri khas komedi “Extravaganza” menghadirkan sembilan cerita dalam satu episode. Semua itu diikat dengan naskah yang utuh. Dalam satu episode ada berbagai macam cerita. Durasinya singkat dan pemainnya sama .

B. Price

Sumber daya keuangan berasal dari iklan. Struktur biaya yang harus dikeluarkan terdiri dari biaya promosi, administrasi, produksi dan lain-lain. Ketika awal-awal penayangannya, “Djarum 76” sempat menjadi sponsor utama. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena biaya yang dikeluarkan setiap episodenya besar, pihak “Djarum 76” tidak melanjutkan kontraknya dengan pihak TRANS TV sebagai sponsor utama program “Extravaganza”. Sumber daya keuangan hanya diperoleh dari pemasukan iklan. Saat ini, program “Extravaganza” tidak memiliki sponsor utama, padahal jika saja terdapat sponsor utama, proses produksi dapat memperoleh dana yang lebih besar.

C. Promotion

Promosi dilakukan secara Above The Line (ATL) dan Below The Line (BTL).

1. Above The Line (ATL)

Promosi ini dilakukan melalui promo TV. Media yang digunakan yaitu TRANS TV.

2. Below The Line (BTL)

Selain melalui word-of-mouth, baru-baru ini dalam rangka ulang tahun tayangan program acara “Extravaganza” yang kedua yaitu dengan menyelenggarakan road show jumpa fans para pemain “Extravaganza” di tiga kota besar, yaitu Surabaya, Bandung dan Jakarta. Road show tersebut dilakukan untuk meningkatkan awarness masyarakat. Media yang digunakan yaitu media-media cetak yang mengulas tentang “Extravaganza” dan secara tidak langsung jika

40

pemain “Extravaganza” membintangi sebuah film maupun sebagai bintang iklan sebuah produk.

Kegiatan promosi kurang gencar, karena lebih mengandalkan promosi secara ATL melalui TRANS TV.

D. Place

Kegiatan syuting dilakukan di studio 1 TRANS TV yang memiliki kapasitas 280 sit dengan luas 900 m2. Gedung TRANS TV terletak pada lokasi yang strategis, sehingga memudahkan bagi audiens yang ingin menyaksikan “Extravaganza” secara langsung.

E. People

Kru “Extravaganza terdiri dari 40 orang, yang terdiri dari produser, asisten produser, tim kreatif, penulis naskah dan floor director. Para pemain bukan hanya orang-orang yang sudah terkenal di layar televisi, akan tetapi di combine dengan pemain baru yang belum terkenal. Para pemain yang menjadi pengisi acara bukanlah para pelawak, tetapi memiliki kemampuan untuk bercerita, karena kemampuan story telling dituntut dalam pemahaman suatu cerita.

Salah satu tujuan “Extravaganza” yaitu mengorbitkan bakat-bakat baru dalam industri pertelevisian di Indonesia. Maka dari itu, setiap tahun melahirkan bintang. Ini bagian dari regenerasi bintang-bintang “Extravaganza”. Dengan tambahan bintang baru, pemain “Extravaganza” memiliki kesempatan bermain hanya dalam beberapa sketsa dan dapat konsentrasi mendalami cerita. Seiring berjalannya waktu, terdapat pemain yang masuk dan keluar, pemain yang sudah keluar adalah Zaldi, Cut Tary dan Tinka Dasiah.

Tidak dapat dipungkiri, tingkat kejenuhan kerap dialami oleh para pemain dan kru, terutama kru “Extravaganza”, karena selama 1 minggu jadwal benar-benar padat, dimulai dari

Dokumen terkait