• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Perilaku Masyarakat Nelayan Dalam Pemanfaatan Dan Perlindungan Sumberdaya Laut

1. Pengunaan Alat Tangkap

tingkat pendapatancukup rendah dan hal ini tentunya berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraannya. Walaupun demikian, alasan ini bukanlah merupakan satu-satunya penyebab dari maraknya penggunaan bahan dan alat tangkap yang merusak lingkungan, khususnya di desa Bontomarannu.

Dahuri (2001) mengemukan bahwa kawasan pesisir pada umumnya merupakan sumberdaya milik bersama (common property resources) yang dapat dimanfaatkan semua orang (open access). Padahal setiap pengguna sumberdaya pesisir biasanya berprinsip memaksimalkan keuntungan, oleh karenanya, wajar jika pencemaran, over eksploitasi sumberdaya alam dan konflik pemanfaatan ruang sering terjadi dikawasan ini.

B. Perilaku Masyarakat Nelayan Dalam Pemanfaatan Dan Perlindungan

digunakan dalam aktivitas penangkapannya, salah satunya penggunaan alat tangkap dan kapal penangkapan. Berikut penjelasan singkat mengenai

perilaku pemanfaatan sumberdaya laut, terlihat seperti pada tabel-tabel di bawah ini:

Tabel 10. Alat tangkap nelayan di Desa Bontomarannu, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.

Krietaria pertanyaan

No Jenis alat Tangkap

Ukuran Mata Pancing

Bahan dan Ukuran bahan

Jenis Perahu

Mesin yang digunakan

1.

Pancing Rewo (rawai)

Besar (no 1, no 2) Kecil

(no 8, no 10)

Tali Nilon 25, 35, 40, 60 lb/kekuatan Tali

Fiber 10 GT

Mesin yammar Mesin mobil

2.

Pancing biasa Besar (no 1, no 2) Kecil

(no 8, no 10)

Tasi

No 10, 9 dan 8

Fiber 10 GT

Mesin yammar Mesin mobil

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2017

Penggunaan alat tangkap merupakan sarana yang paling penting dimata nelayan karena akan menentukan seberapa besar hasil tangkapan yang akan kita peroleh. Biasanya alat tangkap akan mendefinisikan jenis tangkapan apa yang akan diperoleh dan peruntukannya digunakan pada daerah dasar atau permukaan.

Jenis alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan sesuai jenis ikan yang ditangkap.  Alat tangkap tradisional yang digunakan oleh masyarakat nelayan Desa Bontomarannu adalah pancing rewo (rawai) dan pancing biasa. Pancing rewo (rawai) dengan jumlah mata pancing yang berbeda-beda sesuai ukuran (terlihat pada tabel 10) tergantung jenis ikan yang akan ditangkap menggunakan bahan tali nilon dengan ukuran 25 sampai 60 lb (kekuatan tali). Pancing rewo (rawai) terdiri dari rangkaian tali-temali yang bercabang-cabang dan pada setiap ujung cabangnya dikaitkan sebuah pancing. Teknis operasionalnya tiap-tiap

pancing diberi umpan yang tujuanya untuk menarik ikan sehingga ikan memakan umpan tersebut dan terkait oleh pancing. Biasanya ada yang menggunakan alat bantu kayu atau bambu sebagai tempat untuk mengikat tasi.

Sedang pancing bias dengan jumlah mata pancing yang berbeda-beda sesuai ukuran tergantung jenis ikan yang akan ditangkap menggunakan bahan tasi nomor 10, 9 dan 8. Pancing ini terdiri dari tali utama dari polyetilen tempat mengikat tasi yang ujungnya telah dipasang satu mata kail. Biasanya ada yang menggunakan alat bantu kayu atau bambu sebagai tempat untuk mengikat tasi.

Pengoperasiannya sangat sederhana dimana ujung mata tasi yang ada diikat mata kail dipasang umpan. Alat tangkap yang digunakan cukup ramah lingkungan dan tidak merusak alam seperti halnya bom ikan dan bius.

Berikut adalah penuturan salah satu responden, (Dg. Saru, 56 thn) :

“…Tidak ada yang pakai bom disini orang luar (nelayan daerah lain) ji itu biasa pakai, dilarang orang pakai bom, apalagi bius. Tidak ada juga berani pakai bom disini, kalau meletus diperahu bahaya merusak laut juga.…”

Dari hasil penuturan responden menandakan bahwa perilaku nelayan dalam memanfaatkan dan melindungi sumberdaya laut bernilai positif, hal ini dikarenakan tidak ada penggunaan bahan dektruktif alat tangkap yang merusak seperti halnya bom ikan dan bius yang dilakukan nelayan saat melakukan penangkapan.

Jenis perahu yang digunakan sebagai armada transportasi laut yaitu perahu fiber. Pada umumnya perahu fiber ini memiliki ukuran 5-6 m. Adapun mesin yang di gunakan yaitu mesin yanmar dan mesin mobil (perahu bisa maju dan mundur) memiliki kapasitas 10 GT (Groos Ton dengan kekuatan mesin sekitar 10 DK (Daya Kuda) dan terdapat pada bagian tengah atau sudut perahu serta memiliki 2 sayap pada bagian samping. Perahu fiber dapat mencapai lokasi penangkapan yang cukup jauh.

Berikut adalah penurutan salah satu responden, (Dg. Sattu, 48 thn) :

“…Kalau musim-musim barat itu, berhentiki melaut. Besarki ombak baru hujan juga, teaki passai. Perahu kecilji dipakai, perahu fiberji kapalku…”

Para nelayan Bontomarannu juga melihat musim yang baik untuk melakukan penangkapan ikan. Pada angin musim barat para nelayan tidak pergi menangkap ikan, hal itu disebabkan pada saat angin musim barat terjadi angin kencang, hujan beserta gelombang laut yang besar. Pada musim ini para nelayan yang menggunakan kapal kecil tidak dapat mencari ikan karena dapat membahayakan keselamatan nelayan. Sedangkan untuk kapal yang berukuran besar yang telah berada dilaut, biasanya akan mencari pulau terdekat untuk bersandar dan berlindung dari angin dan gelombang yang besar. Pada waktu inilah berbagai jenis ikan melakukan pemijahan sehingga kegiatan tidak menangkap ikan memberikan kesempatan bagi berbagai jenis ikan untuk berkembang.

Pengetahuan nelayan mengenai musim dapat mengontrol hasil tangkapan, hal ini dapat dilihat pada tabel 11 mengenai hasil tangkapan nelayan berikut dibawah ini:

Tabel 11. Hasil Tangkapan di Desa Bontomarannu, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.

No

Krietaria pertanyaan Jenis Ikan Bahasa Lokal

Ikan

Ukuran ikan

Jumlah 5 thn terakhir Bertambah Berkurang

1.

Ikan kakap, Masidung Besar Sedang Kecil

- berkurang

2.

Kerapu Kerapu Besar

Sedang Kecil

- berkurang

3. Hiu Tinumbu Besar

Sedang

- berkurang Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2017

Hasil tangkapan nelayan desa Bontomarannu yang paling dominan adalah ikan kakap (masidung), baru diikuti oleh kerapu, dan hiu (tinumbu). Ikan dijual dalam bentuk segar kepada pengusaha lokal. Tidak ada nelayan yang menjual langsung ke pasar. Ikan ditampung oleh pengusaha lokal kemudian diekspor atau dijual ke pengumpul lebih besar. Harga ikan berfluktuasi sesuai dengan kurs dan sesuai dengan permintaan serta stok yang ada di pasaran.

Namun, jumlah 5 tahun terakhir hasil tangkapan mulai berkurang di akibatkan karena sering melakukan penangkapan dan adanya penggalian pasir oleh perusahaan untuk reklamasi pantai dikawasan pantai losari Makassar. Di samping kurangnya ikan, ada biota yang dilindungi oleh masyarakat nelayan setempat yaitu lumba-lumba, karena menurut mereka ikan lumba-lumba salah satu ikan yang langka hampir punah yang wajib dilindungi, hal ini membentuk pola perilaku masyarakat yang positif.

Hasil tangkapan nelayan ikan dengan ukuran yang besar dengan nilai jual yang tinggi sampai ukuran kecil dengan nilai jual rendah. Apapun jenisnya, para nelayan langsung menjualnya, mereka hanya menyisakan sedikit sebagai bahan lauk untuk keluarganya. Biasanya mereka membedakan ikan berdasarkan jenisnya, bila ikan konsumsi langsung, mereka jual pada pengumpul ikan konsumsi.

Dokumen terkait