BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
1. Pengungkapan LKPD
Pengungkapan yang terdapat dalam Catatan atas Laporan Keuangan harus sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 2005 dan PP No. 71 Tahun 2010. Sehingga tingkat pengungkapan sebagai variabel dependen merupakan perbandingan antara pengungkapan yang telah disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dengan pengungkapan yang seharusnya disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan berdasarkan checklist SAP.
Metode pengungkapan yang digunakan dalam penelitian ini serupa dengan yang digunakan oleh(Hilmi dan Martani, 2012), (Setyaningrum dan Syafitri, 2012) dan (Arifin dan Fitriasari, 2014). Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :
Tahapan mekanisme pengukuran tingkat pengungkapan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1) Membuat daftar pengungkapan berdasarkan PSAP 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
2) Memberikan nilai untuk setiap pengungkapan dalam laporan keuangan kementerian/lembaga, dimana jika suatu item diungkapkan diberi nilai 1 pada kolom Ya, jika seharusnya diungkapkan tetapi tidak diungkapkan diberi nilai 1 pada kolom Tidak, sedangkan jika memang tidak ada/ tidak perlu diungkapkan maka diberi nilai 1 pada kolom N/A (Not Applicable).
3) Menjumlahkan nilai pada kolom Ya dan Tidak untuk setiap entitas pelaporan
4) Menghitung tingkat pengungkapan dengan cara membagi total skor Ya dengan jumlah total skor Ya dan Tidak.
DISC = Pengungkapan dalam LKPD
2. Kekayaan Daerah
Menurut Liestiani dan Martini (2010) Tingkat kekayaan lokal diukur dengan membagi pendapatan asli dan penduduk atau dalam konteks pemerintah daerah di Indonesia adalah pendapatan asli per kapita. dalam beberapa penelitian, kekayaan daerah diukur dengan pengukuran yang berbeda. Liestiani dan martani (2010) serta Hilmi dan Martani (2012) menggunakan pengukuran total pendapatan dibagi dengan jumlah penduduk. Sedangkan Setyaningrum (2012) dan Khaanah (2014) menggunakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditransformasikan dalam bentuk logaritma natura sebagai proksi untuk mengukur kekayaan daerah.
Penelitian ini mengukur kekayaan daerah dengan menggunakan pengukuran yang digunakan oleh setyaningrum (2012). PAD digunakan karena perannya, yang walaupun kontribusinya tidak terlalu besar terhadap total kekayaan pemerintah daerah secara keseluruhan, namun PAD merupakan satu-satunya sumber yang keuangan yang berasal dari pemerintah daerah itu sendiri dan merupakan potensi pendapatan asli daerah. Penelitikekayaan daerah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus :
3. Tingkat ketergantungan
Menurut ingram (1984) tingkat ketergantungan diukur dengan membagi intergovernmental revenue dengan total pendapatan. Patrick (2007) dalam Setyaningrum (2012) mendefinisikan intergovernmental revenue sebagai jenis pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada Pemda untuk membiayai kegiatan operasional pemerintah daerah. Di Indonesia intergovernmental revenue dikenal dengan dana perimbangan atau dana transfer. Dana perimbangan merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dalam liestiani dan martini (2010), Hilmi dan martani (2012), heriningsih (2013), tingkat ketergantungan diukur dengan membagi dana transfer dengan total pendapatan.
4. Total Aset
Total aset adalah semua sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dari mana manfaat ekonomi/sosial dimasa depan yang diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur
DEPEND = Dana transfer Total pendapatan
dalam satuan uang, termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan untuk pemeliharaan sumber – sumber daya karena alasan sejarah dan budaya (Mahsun 2007 dalam Heriningsih 2013). Aset yang dimiliki oleh pemerintah daerah meupakan salah satu komponen yang terdapat dalam laporan keuangan. Seperti yang di gunakan oleh Hilmi (2012), Heriningsing (2013) dan arifin (2014), asset diukur dengan :
5. Tipe Pemerintahan
Tipe pemerintahan daerah didefinisikan sebagai bentuk pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah di Indonesia terbagi atas tiga bagian, yaitu pemerintahan provinsi, pemerintahan kota, dan pemerintahan kabupaten. Penelitian ini hanya menggunakan pemerintah kota dan pemerintah kabupaten. Variabel ini menggunakan variabel dummy sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Martini dan Liestiani (2010) dan Arifin dan Fitriasari (2014).
Asset = LnTotal Aset
TYPE = 1 = Pemerintah Daerah Kota 0 = Pemerintah Daerah Kabupaten
6. Jumlah penduduk
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Daerah yang mempunyai banyak penduduk berpotensi mempunyai tingkat pengungkapan yang tinggi. Sehingga dalam penelitian ini, jumlah penduduk akan diukur berdasarkan besarnya jumlah penduduk suatu daerah yang sejalan dengan penelitian Hilmi dan Martani (2012).
7. Jumlah SKPD
PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menjelaskan bahwa SKPD merupakan entitas akuntansi yang diwajibkan menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Necara SKPD dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) untuk dikonsolidasikan menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
Hilmi dan Martani (2012) menggunakan jumlah SKPD untuk mengukur kompleksitas pemerintah. Sejalan dengan penelitian Hilmi dan martini (2012), Setyaningrum (2012), Syafitri (2012) dan Arifin dan Fitriasari (2014), penelitian ini juga menggunakan jumlah SKPD untuk mengukur variabel kompleksitas pemerintah.
8. Temuan Audit
Temuan audit BPK merupakan kasus-kasus yang ditemukan BPK terhadap laporan keuangan Pemda atas pelanggaran yang dilakukan suatu daerah terhadap ketentuan pengendalian intern maupun terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Temuan audit yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada penelitian Hilmi dan Martini (2012), Andriani (2012) dan Arifin dan Fitriasari (2014) yaitu dengan menggunakan jumlah temuan audit pemeriksaan BPK atas ketidakpatuhan pemerintah daerah terhadap peraturan perundang–undangan yang berlaku sebagai proksi dalam mengukur temuan audit.
9. Tingkat Penyimpangan
Dalam Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dijelaskan bahwa jika pemeriksa menemukan ketidakpatuhan, maka pemeriksa akan melaporkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang- undangan termasuk pengungkapan atas tingkat penyimpangan
SKPD = Jumlah SKPD
yang berunsur tindak pidana serta ketidakpatuhan yang signifikan (andriani 2012).
Dalam penelitian ini seperti yang dilakukan oleh Martani dan Hilmi (2012) dan Arifin dan Fitriasari (2014), tingkat penyimpangan diukur dengan membandingkan jumlah temuan audit dalam Rupiah dengan total belanja daerah yang merupakan total Rupiah yang diperiksa.
DEV = Total nilai temuan ( dalam Rupiah) ` Total Belanja