• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Sumber daya Alam Kawasan TNKS

Luas TNKS yang sangat besar menjadikan TNKS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki keanekaragaman ekosistem yang sangat bervariasi, tercatat beberapa fauna yang hidup di kawasan TNKS terdiri dari 85 dari total 199 mamalia sumatera (5 di antaranya endemic sumatera dan 371 jenis burung,

termasuk 17 dari 22 jenis endemic Sumatera). Salah satu mamalia yang paling

langka dan paling terancam di dunia adalah badak sumatera (dicerorhinus sumatrensis), terdapat di TNKS wilayah Bengkulu dan Jambi, dalam jumlah yang

belum diketahui. TNKS terkenal sebagai daerah perlindungan yang sangat penting untuk konservasi harimau sumatera (panther tigris sumatrae). Kedua jenis di atas

terancam oleh kegiatan perburuan liar di seluruh daerah jelajahnya, termasuk di dalam TNKS. Kelinci sumatera (nesolagus netscheri) yang merupakan kelinci endemic sumatera yang kurang dikenal juga terdapat di TNKS. Populasi gajah

sumatera (Elephas maximus sumatranus) dibengkulu dan jambi memiliki daerah

jelajah sampai ke dalam taman . TNKS merupakan habitat paling penting di dunia bagi tapir (tapirus indicus). Beruang madu (helarctos malayanus), macan tutul

(neofelis nebulosa), dan anjing liar asia (cuon alpines).

TNKS juga merupakan habitat dari berbagai jenis pepohonan, dikawasan TNKS juga dapat ditemui lebih dari 4000 jenis tumbuhan, termasuk 300 jenis anggrek. serta Bunga terbesar didunia, Raflesia arnoldi, bisa ditemukan di TNKS

wilayah Bengkulu. Dua jenis bunga tertinggi di dunia, amorphopallus titanum dan amorphopallus gigas sering ditemukan di TNKS pada elevasi di bawah 900 meter

dari permukaan laut.

Selain sebagai kawasan yang memiliki kekayaan flora dan fauna, TNKS juga memiliki 2 air terjun (Air Terjun Telun Berasap dan Air Terjun Lumpo) serta 3 danau (Danau Gunung Tujuh, Danau Pauh, Danau Belibis, dan Danau Kumbang) dan beberapa daerah aliran sungai (DAS) yang merupakan sumber air bagi masyarakat di 4 provinsi di sekitar kawasan TNKS, sekaligus sebagai daya tarik wisata. Selain danau dan air terjun, daya tarik wisata lain dari TNKS adalah gunung. Terdapat 4 gunung dikawasan TNKS yaitu Gunung Kerinci, Gunung Seblat, Gunung Masurai, dan Gunung Sumbing. Serta beberapa daerah wisata lain seperti Rawa Bento, Rawa Ladeh Panjang serta Goa Kasah.

Kekayaan alam lain yang terdapat dikawasan TNKS adalah semburan air panas (grao) yang terletak di kawasan Jangkat Kabupaten Merangin. Keunikan

dari grao ini adalah semburan airnya yang mencapai tinggi 15 meter dan sangat jernih. Grao ini menyerupai pulau - pulau kecil yang berbatu dan dikelilingi oleh hutan primer yang sangat lebat. Semburan airnya mengalir ke sungai-sungai yang membentuk sungai air panas, sehingga sangat menarik untuk pemandian. Hutan di sekitar grao ini merupakan habitat mamalia besar serta berbagai jenis satwa lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui sumberdaya yang terdapat di kawasan TNKS dan dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat adalah kayu. Pemanfaatan kayu ini bersifat non komersil dan masih ditransportasikan dengan cara tradisional. Pengambilan kayu hanya dilakukan apabila masyarakat

kekurangan kayu untuk membangun rumah. Kayu yang diambil merupakan kayu yang berusia sekitar 1 – 2 tahun dengan tinggi tertentu. Sumberdaya lain yang dimanfaatkan secara langsung adalah kayu bakar, rotan, madu, dan tanaman obat serta air. Air dimanfaatkan oleh masyarakat walaupun dengan cara yang berbeda namun dari sumber yang sama yaitu dari sungai yang mengalir dari kawasan hutan hingga sekitar pemukiman masyarakat. Masyarakat memanfaatkan air sungai selain sebagai kebutuhan sehari – hari juga digunakan oleh petani untuk menyiram ladang.

Selain nilai guna langsung terdapat juga nilai guna tidak langsung dari kawasan yang berupa fungsi ekologis yaitu kemampuan hutan untuk menyimpan karbon. Luas TNKS yang berjumlah sekitar 1,4 juta hektar menjadikan fungsi ekologis hutan TNKS sebagai penyimpan karbon cukup potensial untuk dapat dipertahankan. Selain nilai serapan karbon terdapat nilai estetika berupa pemandangan bentang alam pegunungan dan danau yang juga dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi. Hutan TNKS juga memiliki fungsi tidak langsung yang penting yaitu sebagai penahan banjir dan sebagai sumber kebudayaan lokal masyarakat. Diketahui masih terdapat beberapa kelompok masyarakat tradisional yang hidup di wilayah buffer zone sekitar kawasan TNKS yaitu masyarakat Suku Anak Dalam (SAD).

Menghitung Nilai Ekonomi Total Kawasan TNKS

Nilai ekonomi total pada kawasan TNKS yang dihitung dalam penelitian ini meliputi nilai guna langsung (direct use values) yang dihitung menggunakan productivity method berdasarkan atas beberapa komoditi yang dimanfaatkan

masyarakat, nilai air menggunakan metode water residual value, nilai guna tidak

langsung (indirect use values) yaitu nilai kawasan hutan sebagai penyimpan

karbon menggunakan metode perhitungan biomassa, dan yang terakhir adalah nilai non guna kawasan (non use values) yang meliputi nilai kelestarian

(existence) dan warisan (bequest) yang dihitung menggunakan metode CVM. Menghitung Nilai Guna Langsung Kawasan TNKS

Productivity Method

Nilai guna langsung kawasan TNKS dihitung menggunakan pendekatan produktifitas (productivity method) yaitu mengetahui komoditas yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan, berapa besar komoditas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat, serta berapa harga pasarnya. Nilai guna langsung dari kawasan TNKS dalam penelitian ini telah dikelompokkan sebelumnya menjadi beberapa komoditas, yaitu kayu, kayu bakar, rotan, madu, dan tanaman obat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai guna langsung dari kawasan TNKS secara keseluruhan adalah sebesar Rp. 608.993.247 yang

diperoleh dari 70 responden yang secara langsung memanfaatkan hutan, sesuai dengan komoditi yang telah ditetapkan sebelumnya. Nilai guna langsung tersebut diperoleh dari nilai penerimaan keseluruhan responden yang memanfaatkan TNKS yaitu sebesar Rp. 740.993.247 dikurangi biaya yang dikeluarkan responden baik untuk tenaga kerja maupun pungutan yang dibebankan kepada responden

untuk memperoleh komoditi tersebut yaitu sebesar Rp. 132.000.000. Secara rinci pengelompokkan pemanfaatan masyarakat dari kawasan TNKS berdasarkan masing – masing komoditi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 11Jumlah dan nilai pemanfaatan TNKS

Jenis komoditi Jumlah/th Harga (rp) Nilai/th (rp)

Kayu (kubik) 147 3.500.000 514.500.000

Kayu bakar (ikat) 26112 4.000 104.448.000

Tanaman obat (batang) 22992 2.000 45.984.000

Rotan (batang) 56 150.000 8.400.000

Madu (liter) 3360 10.000 33.600.000

Air (m3) 9155 800 34.061.247

TOTAL 740.993.247

Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa penerimaan paling besar dari komoditi yang dimanfaatkan oleh responden diperoleh dari pemanfaatan kayu yaitu sebesar Rp. 514.500.000 /th, selanjutnya Rp. 104.448.000 /th diperoleh dari pemanfaatan kayu bakar, selanjutnya Rp. 45.984.000 /th diperoleh dari nilai tanaman obat, setelah itu Rp. 8.400.000 /th yang diperoleh dari pemanfaatan rotan, selanjutnya Rp. 33.600.000 /th yang diperoleh dari pemanfaatan madu, dan yang terakhir yaitu sebesar Rp. 34.061.247 /th yang diperoleh dari pemanfaatan air. Sehingga diperoleh hasil keseluruhan nilai pemanfaatan langsung oleh masyarakat adalah sebesar Rp. 740.993.247 /th. Sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh responden baik untuk biaya tenaga kerja maupun biaya pungutan lain diluar tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 132.000.000 /th.

Besarnya jumlah pemanfaatan komoditi kayu di atas dihitung hanya berdasarkan masyarakat yang termasuk kedalam wilayah penelitian dan menjadi responden, sedangkan pengambilan lain yang dilakukan oleh pihak yang tidak berada di dalam wilayah penelitian tidak diketahui karena itu dapat diperkirakan jumlah pemanfaatan kayu oleh masyarakat lebih besar dari nilai di atas.

Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pemanfaatan komoditi yang diperoleh dari kawasan TNKS merupakan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan karena menggunakan tenaga kerja non keluarga. Biaya ini umumnya dikeluarkan oleh responden untuk pemanfaatan komoditi dalam jumlah yang relatif besar atau komoditi tersebut sulit untuk diperoleh. Diketahui pengeluaran biaya tenaga kerja sebagian besar dikeluarkan pada pemanfaatan komoditi kayu, madu, dan rotan. Selain biaya tenaga kerja responden juga mengalami pengeluaran dari pungutan yang dibebankan kepada responden yang tergabung kedalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

Nilai Air (Water Residual Value)

Berdasarkan hasil penelitian diketahui tidak keseluruhan responden yang diwawancarai memanfaatkan sumber air atau aliran sungai yang berada di kawasan TNKS, dari keseluruhan responden hanya sekitar 86. Pemanfaatan air dikawasan TNKS dalam penelitian ini merupakan pemanfaatan air untuk keperluan sehari – hari masyarakat, berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa nilai air dikawasan TNKS adalah sebesar Rp. 34.061.247 dari keseluruhan total

nilai ekonomi kawasan. Nilai air diperoleh dari jumlah penggunaan air masyarakat berdasarkan beberapa kegiatan yang menggunakan metode benefit transfer berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Menurut

Kindler (1984) penggunaan air pada rumah tangga pada umumnya digunakan sebagai keperluan masak, pembersihan, mandi, dan mencuci. Berdasarkan beberapa kegiatan penggunaan air tersebut nilai pemanfaatan air diperoleh dengan cara mengetahui kegiatan konsumsi air yang dilakukan oleh masyarakat selanjutnya dikalikan dengan harga air yang diperoleh berdasarkan harga air resmi PDAM di Kabupaten Kerinci yaitu Rp. 800. Selanjutnya penggunaan air oleh masyarakat untuk mengairi ladang mengacu kedalam standar internasional yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) untuk beberapa

komoditi yang kemudian disesuaikan dengan lokasi penelitian yang sebagian besar responden atau masyarakat di wilayah penelitian menanam padi atau menanam sayuran dengan rata – rata luas lahan 0.25 ha. Lebih lengkapnya dapat dilihat tabel 12 berikut ini :

Tabel 12Jumlah dan nilai pemanfaatan air Jenis kegiatan Volume air yang digunakan

(liter/orang/hari) Volume / th (m3) Nilai / th (rp) Masak 45 1.445 1.156.320 Mandi 60 2.059 1.646.880 Mencuci 45 1.577 1.261.440 Mengairi ladang 142 3.360 29.996.607 Total 292 9.155 34.061.247

Dari tabel 12 dapat dilihat keseluruhan total nilai air yang diperoleh dari responden persentase pemanfaatan air paling besar yang digunakan oleh responden adalah sebagai sumber air untuk pengairan ladang yaitu sebesar 3.360 m3/th atau Rp 29.996.607 /th, setelah itu dipergunakan untuk mandi yaitu sebesar

Rp. 1.646.880 /th atau sekitar 2.059 m3/th. Walaupun tidak keseluruhan responden

memiliki lahan pertanian, namun dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden memanfaatkan air untuk kebutuhan rumah tangga. Selanjutnya penggunaan air yang besar dimanfaatkan oleh responden untuk memasak Rp. 1.156.320 /th atau sekitar 1.445 m3/th dan mencuci Rp. 1.261.440 /th atau sekitar 1.577 m3/th. Nilai air yang diperoleh pada penelitian ini didasarkan harga air pada

PDAM yang ditetapkan didaerah penelitian yaitu sebesar Rp. 800 /m3. Harga yang

ditetapkan PDAM cukup murah karena masyarakat di wilayah penelitian tidak memerlukan biaya untuk memperoleh air dikarenakan di lokasi tempat tinggal masyarakat adalah di wilayah sekitar DAS dari kawasan TNKS, atau daerah dataran tinggi yang terdapat aliran air maupun sumber mata air.

Menghitung Nilai Guna Tidak Langsung Kawasan TNKS

Nilai Simpanan Karbon

Nilai simpanan karbon kawasan TNKS tergantung dari tipe tutupan hutan kawasan TNKS yang paling dominan, berdasarkan data yang diperoleh dari Balai Besar TNKS pada tahun 2013 tutupan hutan didominasi oleh tipe hutan primer.Nilai serapan karbon dihitung berdasarkan persamaan yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu luas wilayah hutan yang ada dikawasan penelitian dikalikan dengan harga karbon yang telah ditetapkan berdasarkan harga karbon pada pasar internasional yang ditetapkan oleh Bank Dunia (2014) untuk negara Eropa yaitu sebesar 4 – 5$ US (dalam penelitian ini memakai nilai 4$ US), dengan nilai tukar rupiah pada tahun yang sama yaitu sebesar 9.600 rp/$ US. Kemampuan simpanan karbon untuk tiap hektar hutan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 13Tipe Tutupan hutan dan daya serap karbon

Tipe hutan Luas (ha) Total serapan karbon (tC) Jumlah (rp/th)

Primer 1.130.018 1.291.610.574 49.597.846.042

Sekunder 86.283 98.621.583 3.787.064.410

Rusak 45.072 51.517.296 1.978.264.166

JUMLAH 1.171.229 1.338.714.747 55.363.174.618 Sumber : BBTNKS dan Dinhut Kab. Kerinci (2013)

Total serapan pada tabel 13 diperoleh berdasarkan luas kawasan TNKS berdasarkan tipe 2 golongan tipe hutan diformulasikan menggunakan data penelitian yang telah dilakukan sebelumnya diketahui bahwa kerapatan pohon pada tiap hektar kawasan TNKS berdasarkan Laporan Surili TNKS (2011) rata – rata adalah 18 (pohon/ha) dengan asumsi bahwa setengah dari total biomassa pohon adalah karbon sehingga diperoleh nilai total karbon adalah sebesar Rp. 55.363.174.618 /th setelah dikurangi dengan hutan yang rusak pada Kabupaten Kerinci. Penelitian ini tidak mencantumkan hutan yang rusak dikawasan TNKS yang lain karena pada penelitian ini difokuskan hanya pada kawasan TNKS di Kabupaten Kerinci. Total biomassa yang terdapat pada tiap satu pohon dalam penelitian ini mengadopsi dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di Kebun Percobaan Carita dengan mengambil data jumlah biomassa pohon dengan beberapa diameter diketahui bahwa rata – rata jumlah biomassa pohon adalah 127 kg untuk daerah penelitian, sedangkan nilai karbon diasumsikan setengah dari total biomassa pohon.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Kabupaten Kerinci dapat diketahui bahwa luas wilayah hutan TNKS yang berada di Kabupaten Kerinci adalah sebesar 215.000 ha pada tahun 2007 jika dilihat dari persentase tutupan hutan kawasan TNKS pada tahun 2010 maka dapat diketahui luas hutan kawasan TNKS adalah sebesar 197.381 ha dan mengalami kerusakan sebesar 45.072,00 ha hingga menjadi 152.309 ha pada tahun 2012. Jumlah kerusakan kawasan hutan TNKS tersebut jika dinilai menggunakan harga karbon yang telah

ditetapkan pada awal penelitian maka akan diperoleh nilai karbon yang hilang akibat rusaknya hutan adalah sebesar Rp. 1.978.264.166 /th, dapat diketahui bahwa nilai serapan karbon untuk kawasan TNKS dengan luas 152.309 ha pada tahun 2012 di daerah Kabupaten Kerinci maka diperoleh nilai serapan karbon adalah sebesar Rp. 6.685.024.781 /th. Nilai karbon yang dihitung dalam penelitian ini merupakan nilai yang paling besar dari nilai ekonomi jika dibandingkan dengan nilai lainnya namun nilai tersebut belum dapat dirasakan manfaatnya secara ekonomi karena sistem carbon trade belum diterapkan pada kawasan

penelitian.

Menghitung Nilai Non Guna Kawasan TNKS

Nilai non guna yang dihitung dalam penelitian ini adalah nilai keberadaan (existence value) serta nilai warisan (bequest value). Seperti telah dijelaskan

sebelumnya masing – masing nilai tersebut dihitung menggunakan metode CVM yaitu dengan cara mengetahui karakteristik responden dan berapa keinginan responden bersedia membayar untuk masing – masing nilai yang ditanyakan (WTP). Penghitungan nilai non guna berdasarkan WTP ini dipengaruhi berbagai faktor yang dalam penelitian ini difokuskan terhadap beberapa karakteristik responden. Oleh karena itu untuk mengetahui besarnya nilai WTP dan karakteristik responden yang mempengaruhi nilai responden tersebut perlu diketahui terlebih dahulu karakteristik responden di wilayah penelitian.

Nilai Keberadaan (Existence) Kawasan TNKS

Hasil penelitian menunjukkan nilai rata – rata WTP untuk keberadaan TNKS adalah sebesar Rp. 9.846/orang yang diperoleh dari 65 responden. Tidak keseluruhan responden dalam penelitian yaitu sebanyak 133 responden yang dimasukkan dalam analisis regresi karena beberapa responden menunjukkan pelanggaran asumsi regresi jika ikut dimasukkan dalam analisis. Jika nilai rata – rata WTP tersebut dikalikan dengan keseluruhan populasi masyarakat 2 desa di wilayah penelitian yaitu sebanyak 3625 jiwa maka diperoleh nilai keberadaan TNKS adalah sebesar Rp. 35.691.750 Jumlah nilai keberadaan TNKS tidak terlalu besar diperkirakan karena jumlah populasi masyarakat yang hanya dihitung berdasarkan preferensi masyarakat dari 2 desa saja yaitu sebanyak 133 KK, faktor selanjutnya yaitu karena nilai penawaran WTP yang tidak besar yaitu paling rendah Rp. 5000 dan paling tinggi Rp. 25.000. Seperti dijelaskan sebelumnya nilai paling rendah WTP tersebut ditetapkan berdasarkan tiket masuk ke kawasan TNKS dan selanjutnya dibatasi hingga pada tahap tertentu.

Faktor – faktor yang mempengaruhi nilai WTP keberadaan dari TNKS diamati dengan lima variabel yaitu : lama tinggal responden, jarak tempat tinggal responden dengan hutan, pendidikan, pendapatan, dan yang terakhir yaitu banyaknya jumlah anggota keluarga. Berdasarkan hasil regresi diperoleh model sebagai berikut :

Nilai WTP exs = 1,632 + 0.628 PD – 0.067 JT + 0.50 TP - 0.204 LT +

0.146 JR – 0.065 KL + 0.029 KU Keterangan :

PD : Pendapatan Responden (rp) JT : Jumlah anggota keluarga (orang) TP : Tingkat pendidikan responden (th) LT : Lama tinggal responden (th)

JR : Jarak rumah responden dari kawasan hutan (km) KL : Kelestarian hutan menurut persepsi responden KU : Kualitas udara menurut persepsi responden

Berdasarkan model tersebut diketahui bahwa setiap variabel yang diamati dalam penelitian berpengaruh positif terhadap nilai WTP responden kecuali variabel jumlah anggota keluarga. Model di atas menunjukkan bahwa setiap peningkatan besaran pendapatan responden (kecil – sedang – besar) akan mempengaruhi nilai WTP responden untuk menjaga keberadaan TNKS sebesar 0,628, selain itu juga dapat dilihat bahwa lama tinggal responden tidak mempengaruhi kesediaan responden untuk melestarikan TNKS, hal ini ditunjukkan oleh koefisien dari hasil regresi yang menunjukkan koefisien negatif. Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa terdapat 2 variabel yang masing – masing mempengaruhi WTP secara signifikan pada taraf nyata 90% yaitu variabel pendapatan dan lama tinggal responden (R2 = 50,6%) serta hasil uji F hitung

(8,350) yang menunjukkan nilai lebih besar dari F tabel yang berarti bahwa uji model untuk variabel pendidikan dan pendapatan mempengaruhi nilai WTP signifikan pada taraf nyata 90% setelah dibandingkan dengan nilai F tabel . Walaupun nilai R2 masing – masing variabel yang signifkan mempengaruhi WTP

tidak terlalu besar namun menurut Mitchell dan Carson (1989) dalam Hanley dan

Spash (1993) penelitian yang berkaitan dengan barang lingkungan dapat mentolerir nilai R2 sampai 15%, karena itu, hasil pelaksanaan CVM dalam

penelitian ini dinilai masih dapat dianggap benar dan dapat diandalkan walaupun nilai R2 yang diperoleh dari hasil analisis regresi tidak terlalu besar.Hasil analisis regresi nilai WTP responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 14Hasil analisis regresi nilai WTP existence

Variabel Coeff. Sig. Keterangan

Constant 1,632 0,000 Signifikan pada taraf nyata 90%

Pendidikan 0,050 0,632 Tidak Signifikan pada taraf nyata 90% Pendapatan 0,628 0,000 Signifikan pada taraf nyata 90% Lama Tinggal -0,204 0,039 Signifikan pada taraf nyata 90% Jumlah Keluarga -0,067 0,488 Tidak signifikan pada taraf nyata 90% Jarak Rumah 0,146 0,139 Tidak signifikan pada taraf nyata 90% Kualitas Udara 0,029 0,767 Tidak signifikan pada taraf nyata 90% Kelestarian -0,065 0,518 Tidak signifikan pada taraf nyata 90%

F hitung 8,350 F tabel 1.82381

T hitung 6,448 T tabel 1.29279

Adjusted R2 44,6% Durbin Watson 2,018

Sedangkan uji variabel masing – masing yang meliputi uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov - Smirnov, uji heteroskedastisitas menggunakan

uji scatterplot, sedangkan multikolinieritas menggunakan uji VIF (Variance Inflation Factor), yang menunjukkan bahwa tiap - tiap variabel dapat di analisis

untuk memperoleh model yang baik, masing - masing uji variabel untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

Nilai Warisan (Bequest) Kawasan TNKS

Nilai warisan (bequest) kawasan TNKS dihitung berdasarkan preferensi

responden yaitu dengan menggunakan seberapa besar nilai keinginan responden untuk membayar (WTP) untuk mewariskan TNKS kepada generasi selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata – rata WTP untuk keberadaan TNKS adalah sebesar Rp. 10.643/orang yang diperoleh dari 70 responden yang terdiri dari 65 responden masyarakat lokal dan 5 responden diperoleh dari masyarakat luar yang pernah berkunjung ke kawasan TNKS. Tidak keseluruhan responden dalam penelitian yaitu sebanyak 133 responden yang dimasukkan dalam analisis regresi karena beberapa responden menunjukkan pelanggaran asumsi regresi jika ikut dimasukkan dalam analisis. Jika nilai rata – rata WTP tersebut dikalikan dengan keseluruhan populasi masyarakat 2 desa di wilayah penelitian yaitu sebanyak 3625 jiwa maka diperoleh nilai warisan TNKS adalah sebesar Rp. 37.300.146 Sama halnya dengan nilai keberadaan, nilai warisan TNKS tidak terlalu besar karena jumlah populasi masyarakat yang hanya dihitung berdasarkan preferensi masyarakat dari 2 desa pada Kabupaten Kerinci yaitu sebanyak 460 KK. Hal ini merupakan proporsi yang tidak terlau besar jika dibandingkan dengan luas kawasan TNKS yang mencapai 1,38 juta hektar yang terletak di 4 provinsi. Faktor selanjutnya yaitu karena nilai penawaran WTP yang tidak besar yaitu paling rendah Rp. 5000 dan paling tinggi Rp. 25.000. Komposisi penyusunan nilai WTP responden untuk warisan TNKS dimana nilai WTP 31% responden sebesar Rp. 5000, berikutnya sebanyak 40% responden menunjukkan nilai WTP Rp. 10.000, selanjutnya 13% responden menunjukkan nilai WTP Rp. 15.000, dan yang terakhir 16% responden menunjukkan nilai WTP Rp. 20.000.

Faktor – faktor yang mempengaruhi nilai WTP warisan dari TNKS diamati dengan lima variabel yaitu : lama tinggal responden, jarak tempat tinggal responden dengan hutan, pendidikan, pendapatan, dan yang terakhir yaitu banyaknya jumlah anggota keluarga. Berdasarkan hasil regresi diperoleh model sebagai berikut :

Nilai WTP beq = 1,002 + 0.27 PD + 0.1 JT + 0.18 TP – 0.32 LT –

0.08 JR + 0.22 KH + 0.28 PH Keterangan :

PD : Pendapatan Responden (rp) JT : Jumlah tanggungan (orang)

LT : Lama tinggal responden (th)

JR : Jarak rumah responden dari kawasan hutan (km) KH : Kondisi hutan menurut persepsi responden PH : Pengelolaan TNKS menurut persepsi responden

Berdasarkan hasil analisis regresi diketahui bahwa setiap variabel yang diamati pada model di atas dalam penelitian berpengaruh positif terhadap nilai WTP responden untuk mewarisi TNKS kecuali variabel lama tinggal responden dan jarak rumah responden dari hutan. Model di atas menunjukkan bahwa setiap peningkatan besaran pendapatan responden akan mempengaruhi nilai WTP responden untuk mewarisi TNKS sebesar 0,27 selain itu juga dapat dilihat bahwa persepsi responden tentang kondisi hutan juga mempengaruhi nilai WTP responden untuk mewarisi TNKS sebesar 0,22 dan yang terakhir adalah pengelolaan hutan menurut persepsi responden diketahui juga akan mempengaruhi nilai WTP sebesar 0,28. Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi WTP secara signifikan pada taraf nyata 90% yaitu variabel pendapatan, kondisi hutan menurut persepsi responden, dan pengelolaan TNKS menurut persepsi responden (T hitung = 1,8) serta hasil uji F hitung (3,64) yang menunjukkan nilai lebih besar dari F tabel yang berarti bahwa uji model untuk variabel pendidikan dan pendapatan mempengaruhi nilai WTP signifikan pada taraf nyata 90% setelah dibandingkan dengan nilai F tabel. Walaupun nilai R2 masing – masing variabel yang signifkan mempengaruhi WTP tidak terlalu besar namun menurut Mitchell dan Carson (1989) dalam Hanley dan

Splash (1993) penelitian yang berkaitan dengan barang lingkungan dapat mentolerir nilai R2 sampai 15%, karena itu, hasil pelaksanaan CVM dalam

penelitian ini dinilai masih dapat dianggap benar dan dapat diandalkan walaupun nilai R2 yang diperoleh dari hasil analisis regresi tidak terlalu besar.Hasil analisis

regresi nilai WTP responden dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 15 Hasil analisis regresi WTP Bequest

Dokumen terkait