Kebijakan pengelolaan TNKS disusun menggunakan metode Analisis Hierarki Proses (AHP). Struktur hierarki perumusan kebijakan ditetapkan berdasarkan beberapa faktor yaitu aktor, kriteria, alternatif, dan strategi pengelolaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Perhitungan perumusan kebijakan menggunakan metode AHP ini dilaksanakan melalui wawancara menggunakan bantuan kuesioner dengan pihak – pihak yang terkait dengan pengelolaan kawasan TNKS atau dalam hal ini adalah Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Dinas Kehutanan Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA), Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), dan yang terakhir adalah perwakilan dari masyarakat (Camat). Goal yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah Kebijakan Pengelolaan Kawasan TNKS Provinsi Jambi. Kuesioner penelitian untuk merumuskan kebijakan ini disusun dengan skala pembobotan dengan nilai (1 – 9) dan digunakan metode perbandingan antara 2 keputusan dimana nilai 1 untuk nilai terendah dan 9 untuk nilai tertinggi. Setelah dilakukan wawancara kepada responden terkait, data hasil wawancara lalu diolah dengan bantuan program computer Expert Choice 11.
Elemen Aktor Terhadap Goal
Berdasarkan hasil analisis data dari kuesioner yang telah dikumpulkan dapat diketahui bahwa pengelolaan TNKS secara keseluruhan dengan penggabungan keseluruhan responden menunjukkan hasil bahwa pihak yang sebaiknya mengelola TNKS adalah Balai Besar TNKS, setelah itu Pemerintah, BKSDA, dan yang terakhir adalah Masyarakat. Agar lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut:
Berdasarkan hasil wawancara diketahui pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan TNKS saat ini adalah Balai Besar TNKS, hasil penelitian menunjukkan aktor yang lebih di prioritaskan oleh keseluruhan responden yang diwawancara dapat dilihat pada gambar di atas menunjukkan hasil yang sama. Balai Besar dianggap sebagai pihak yang tepat untuk mengelola TNKS dengan bobot (0.636) karena merupakan lembaga langsung di bawah Kementerian Kehutanan sehingga tidak terpengaruh dengan pihak lain yang memiliki kepentingan misalnya pemerintahan Kabupaten maupun Provinsi. Namun dari gambar di atas dapat diketahui bahwa setelah TNKS pihak yang sebaiknya mengelola TNKS adalah Pemerintah dengan bobot (0.196), hal ini berarti dalam upaya untuk pengelolaan kawasan TNKS, pihak Balai Besar TNKS sebaiknya bekerjasama dengan pihak pemerintah (Dinas Kehutanan) karena merupakan aktor yang bekerja dalam bidang yang sama, selain itu kenyataan dilapangan menjukkan bahwa wilayah kerja antara Dinas Kehutanan dan Balai Besar TNKS saling berbatasan untuk itu diperlukan koordinasi yang baik antara kedua pihak terkait.
Elemen Kriteria terhadap Aktor
Setelah diketahui aktor yang paling berperan dalam pengelolaan kawasan TNKS, selanjutnya analisis yang akan dilakukan sesuai dengan hierarki yang telah ditetapkan sebelumnya adalah analisis untuk elemen kriteria. Hasil analisis data untuk perumusan prioritas elemen kriteria terhadap elemen aktor dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 18Perbandingan elemen kriteria terhadap aktor
Kriteria Aktor
Dinhut BSKDA BBTNKS Masyarakat
Ekonomi 0.106 0.019 0.081 0.031
Sosial 0.026 0.017 0.078 0.009
Budaya 0.02 0.009 0.048 0.005
Hukum 0.044 0.067 0.428 0.012
Berdasarkan tabel 18 dapat dilihat bahwa alternatif pengelolaan kawasan TNKS jika dilihat dari posisi masing – masing aktor dari sisi pemerintah lebih memprioritaskan bidang Ekonomi dengan bobot (0.106), aktor selanjutnya adalah BKSDA yang lebih memprioritaskan Kriteria Hukum dengan bobot (0.067), selanjutnya adalah aktor TNKS yang lebih memprioritaskan Kriteria Hukum dengan bobot (0.428), dan aktor yang terakhir adalah masyarakat yang lebih memprioritaskan Kriteria Ekonomi dengan bobot (0.031). Jika dilihat dari sisi kriteria, maka dapat diketahui untuk Kriteria Ekonomi aktor yang paling diprioritaskan adalah pemerintah dengan bobot (0.106), selanjutnya untuk Kriteria Sosial aktor yang lebih di prioritaskan adalah TNKS dengan bobot (0.078), selanjutnya Kriteria Budaya aktor yang paling di prioritaskan adalah TNKS dengan bobot (0.048), dan yang terakhir adalah Kriteria Hukum dengan aktor yang paling di prioritaskan adalah TNKS dengan bobot (0.428). Sedangkan secara keseluruhan dapat dilihat bahwa kriteria yang paling di prioritaskan adalah hukum
dengan bobot (0.428). Hasil tersebut menunjukkan bahwa masih kurangnya tegasnya penegakan hukum dalam pengelolaan kawasan TNKS. Hal ini juga terbukti dari wawancara kepada responden masyarakat diketahui bahwa masih ada sebagian anggota masyarakat yang mengambil kayu di kawasan hutan walaupun bukan menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Setelah kriteria hukum yang perlu diprioritaskan adalah kriteria ekonomi, hal tersebut sesuai dengan hasil pengamatan di lapangan yang menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan kawasan TNKS sebagai lahan pertanian untuk menunjang kebutuhan ekonomi.
Elemen Alternatif Terhadap Kriteria
Setelah kriteria, faktor yang selanjutnya yang perlu diperhatikan sesuai dengan hierarki adalah alternatif. Hasil analisis data untuk alternatif guna mencapai pengelolaan kawasan TNKS di Provinsi Jambi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 19Perbandingan elemen alternatif terhadap kriteria
Alternatif Kriteria
Ekonomi Sosial Budaya Hukum
Peningkatan Pendapatan 0.049 0.004 0.003 0.003
Perubahan Pemanfaatan 0.006 0.002 0.001 0.008
Kesadaran Masyarakat 0.015 0.007 0.005 0.01
Sanksi UU 0.035 0.013 0.011 0.023
Berdasarkan tabel 19 dapat diketahui dari beberapa alternatif yang ditetapkan untuk mencapai pengelolaan kawasan TNKS berkelanjutan yang dapat dilihat dari sisi kriteria untuk Kriteria Ekonomi yang perlu diprioritaskan adalah peningkatan pendapatan masyarakat dengan bobot (0.049) dan yang paling rendah adalah perubahan pemanfaatan hutan oleh masyarakat dengan bobot (0.006). Selanjutnya dari Kriteria Sosial alternatif yang perlu di prioritaskan adalah Sanksi Undang – Undang dengan bobot (0.013) dan yang paling rendah adalah perubahan pemanfaatan hutan oleh masyarakat dengan bobot (0.002), setelah itu kriteria Budaya alternatif yang perlu diperhatikan adalah Sanksi undang – undang dengan bobot (0.011) dan yang paling rendah adalah perubahan pemanfaatan hutan oleh masyarakat dengan bobot (0.001), kriteria yang terakhir adalah hukum dengan prioritas utama adalah alternatif Sanksi Undang – Undang dengan bobot (0.023) dan yang terendah adalah Kesadaran Masyarakat dengan bobot (0.01). Apabila dilihat dari sisi alternatif, maka untuk Alternatif Peningkatan Pendapatan kriteria yang perlu di prioritaskan adalah Ekonomi dengan bobot (0.049) dan yang terendah adalah Budaya dan Hukum dengan bobot (0.03), setelah itu untuk alternatif perubahan pemanfaatan hutan kriteria yang perlu di prioritaskan adalah Kriteria Hukum dengan bobot (0.008) sedangkan yang terendah adalah Kriteria Budaya dengan bobot (0.001), selanjutnya adalah alternatif kesadaran masyarakat melestarikan hutan dengan kriteria yang perlu di prioritaskan adalah kriteria Ekonomi dengan bobot (0.015) dan yang terendah adalah Kriteria Budaya dengan bobot (0.005) dan yang terakhir adalah alternatif Sanksi Undang – Undang dengan kriteria utama yang perlu di prioritaskan adalah Kriteria Ekonomi dengan
bobot (0.035) yang yang terendah adalah Kriteria Budaya dengan bobot (0.011). Secara keseluruhan responden menganggap alternatif Peningkatan Pendapatan perlu lebih diprioritaskan dengan bobot (0.049) karena stakeholder yang diwawancarai menganggap apabila masyarakat sudah memiliki kesejahteraan yang baik maka kecenderungan masyarakat untuk merusak hutan akan berkurang. Setelah alternatif peningkatan pendapatan alternatif berikutnya adalah Snaksi Undang – Undang dengan bobot (0.035) hal ini disebabkan karena pada kenyataan dilapangan masih ada oknum masyarakat yang menebang hutan baik untuk memanfaatkan kayu atau membuka lahan perkebunan, namun berdasarkan tabel yang telah dijelaskan sebelumnya dapat diketahui bahwa prioritas peningkatan pendapatan masyarakat merupakan prioritas utama jika dibandingkan dengan sanksi undang – undang yang dapat disimpulkan bahwa pihak pengelola kawasan TNKS sebaiknya memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan
Elemen Strategi Terhadap Elemen Alternatif
Setelah alternatif, faktor yang terakhir perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan sesuai dengan hierarki adalah Strategi. Analisis data menunjukkan prioritas strategi yang perlu dilakukan sesuai dengan hierarki dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 20Perbandingan elemen strategi terhadap alternatif
Strategi Peningkatan Alternatif
Pendapatan Perubahan Pemanfaatan Kesadaran Masyarakat Sanksi UU
Carbon Trade 0.134 0.140 0.110 0.046
Tumpang Sari 0.205 0.187 0.320 0.267
Sosialisasi 0.305 0.229 0.221 0.198
Sanksi Hukum 0.356 0.444 0.349 0.490
Berdasarkan tabel 20 dapat diketahui bahwa untuk strategi pengelolaan kawasan TNKS jika dari sisi alternatif maka dapat dilihat secara keseluruhan yang lebih diprioritaskan adalah strategi Penetapan Sanksi Hukum dengan bobot (0.490) sedangkan yang terendah adalah strategi penetapan sistem carbon trade.
Sedangkan jika dilihat dari elemen strategi, untuk penetapan strategi carbon trade
yang perlu diprioritaskan adalah alternatif peningkatan pendapatan masyarakat dengan bobot (0.094) dan yang terendah adalah alternatif sanksi undang – udangn dengan bobot (0.023), selanjutnya untuk strategi tumpang sari alternatif yang perlu di prioritaskan adalah Kesadaran Masyarakat Melestarikan Hutan dengan bobot (0.229) dan yang terendah adalah alternatif Perubahan Pemanfaatan Hutan oleh Masyarakat dengan bobot (0.105). Selanjutnya Sosialisasi Nilai Hutan alternatif yang perlu di prioritaskan adalah Peningkatan Pendapatan Masyarakat dengan bobot (0.214) sedangkan yang paling rendah adalah alternatif Sanksi Undang – Undang dengan bobot (0.101). Terakhir adalah strategi Penetapan Sanksi Hukum yang perlu di prioritaskan adalah seluruh alternatif dengan bobot (0.25). Strategi pengelolaan kawasan TNKS ini sesuai dengan kriteria dan alternatif yang sebelumnya telah dijelaskan dimana elemen strategi jika
dibandingkan dengan elemen alternatif menunjukkan bahwa yang lebih di prioritaskan adalah alternatif peningkatan pendapatan masyarakat. Namun untuk masing – masing alternatif responden yang diwawancarai menganggap dari sisi hukum merupakan hal yang menjadi prioritas utama.
Kriteria lebih di prioritaskan pada bidang Ekonomi dan Alternatif yang prioritaskan adalah Penetapan Sanksi Undang – Undang, namun jika diamati selain strategi yang diprioritaskan terdapat strategi pengelolaan lain yang memiliki bobot hampir sama yaitu Pertanian Tumpang Sari, Kesadaran Masyarakat Melestarikan Hutan dan Sosialisasi Nilai Hutan, hal ini berarti secara keseluruhan responden menganggap kesejahteraan masyarakat termasuk kedalam faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan kawasan TNKS, selain itu untuk mencapai pengelolaan kawasan TNKS yang berkelanjutan perlu diperhatikan tentang informasi nilai hutan yang terdapat di kawasan TNKS serta perlunya informasi tersebut bagi masyarakat. Penetapan sistem carbon trade
menjadi strategi yang terakhir dipilih, berdasarkan wawancara kepada responden di lapangan hal ini disebabkan karena beberapa responden belum mengetahui mekanisme penetapan carbon trade dan bagaimana peraturan – peraturan yang
terkait dengan hal tersebut. Selain itu, beberapa responden beranggapan sistem
carbon trade terlalu rumit dan mempunyai peluang untuk menguntungkan
beberapa pihak tertentu. Strategi penetapan sistem carbon trade ini dapat
ditetapkan jika telah terdapat peraturan tertulis yang jelas dan disosialisasikan secara penuh kepada seluruh aktor – aktor terkait pengelolaan kawasan TNKS dan pihak – pihak terkait paham hak dan tanggung jawab mereka sesuai dengan peraturan tersebut.
Secara keseluruhan berdasarkan beberapa elemen yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan metode AHP diperoleh nilai Consistency Ratio
(CR) sebesar 0.005 < 0.1 yang berarti bahwa model AHP dinilai cukup baik. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa aktor pengelolaan kawasan TNKS yang mendapat bobot paling besar adalah pihak Balai Besar TNKS dengan nilai (0.636) hal ini sesuai dengan keputusan pemerintah yang telah menetapkan pihak Balai Besar sebagai pengelola. Elemen selanjutnya yaitu kriteria berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa kriteria ekonomi merupakan yang paling diprioritaskan dengan nilai (0.540) perlunya kriteria ekonomi ini diprioritaskan juga sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal dikawasan TNKS masih tergolong berpendapatan sedang dan kecil. Selanjutnya yaitu elemen alternatif, dari beberapa alternatif yang telah ditetapkan berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa alternatif yang paling dominan adalah peningkatan pendapatan masyarakat dengan nilai (0.466) hal ini sesuai dengan kriteria yang menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat merupakan prioritas dengan meningkatnya pendapatan masyarakat diharapkan kesadaran masyarakat terhadap hutan semakin besar. Elemen terakhir adalah strategi, berdasarkan hasil analisis AHP diketahui bahwa strategi yang perlu diprioritaskan adalah Sanksi hukum sesuai Undang – Undang dengan nilai (0.356) hal ini sesuai dengan kondisi di lapangan dimana masih ditemukan hutan yang ditebang.
Pada gambar berikut dapat dilihat bobot pada tiap komponen strategi pengelolaan TNKS berdasarkan beberapa elemen yang telah ditetapkan menggunakan metode AHP.
Gambar 21 Bobot hasil analisis AHP
Kebijakan Pengelolaan Kawasan TNKS Provinsi Jambi Ekonomi (0.106) Sosial (0.078) Budaya (0.048) Hukum (0.428) Kesadaran Masyarakat Melestarikan Hutan (0.015)
Sanksi Adat & Pemerintah (Undang - Undang) (0.03) Perubahan Pemanfaatan hutan oleh Masyarakat (0.008) Peningkatan Pendapatan Masyarakat (0.049) Goal Kriteria Alternatif Menetapkan Sistem Carbon Trade (0.134) Pertanian Tumpang Sari Dikawasan Hutan (0.320) Sosialisasi Mengenai Jasa Lingkungan dan Nilai Hutan bagi
masyarakat (0.305) Hukuman Sesuai UU atau Sanksi Adat sesuai Peraturan (0.490) Strategi Aktor Dinas Kehutanan (0.196) BKSDA (< 0,1) Masyarakat (< 0,1) TNKS (0.636)
Berdasarkan analisis AHP dapat diketahui strategi yang menjadi prioritas untuk pengelolaan TNKS berdasarkan persepsi beberapa stakeholder adalah penegakan dibidang hukum. Penegakan dibidang hukum ini hendaknya dilakukan dengan saling berkoordinasi antara pihak penanggung jawab pengelolaan kawasan dan pihak pemerintah daerah. Mengingat luasnya kawasan akan lebih efektif bila masyarakat di tiap desa yang berbatasan dengan kawasan ikut dilibatkan. Apabila telah diketahui pelaku yang melakukan pelanggaran, maka penetapan sanksi hukum menurut undang – undang hendaknya harus tegas dan tidak melihat status pihak yang melanggar baik masyarakat, pihak pengelola maupun pemerintah daerah, atau aparat keamanan sekalipun hendaknya dihukum sesuai sanksi yang telah ditetapkan bahkan jika perambahan hutan telah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan maka sanksi adat dapat juga diterapkan.
Setelah strategi penetapan hukum dapat diketahui bahwa strategi sosialisasi nilai hutan bagi masyarakat menjadi prioritas kedua menurut stakeholder. Upaya penetapan strategi ini dapat dilakukan dengan cara misalnya pertemuan berkala antara pihak pengelola kawasan dengan masyarakat. Karena pada umumnya masyarakat di sekitar kawasan adalah petani, maka pendekatan sosialisasi dapat dilakukan dengan pendekatan melalui kelompok tani yang ada di tiap desa. Selain petani sosialisasi juga penting dilakukan bagi siswa sekolah yang terdapat disekitar kawasan, agar rasa menghargai lingkungan dapat tumbuh dalam masyarakat sejak dini. Dalam pelaksanaannya pihak pengelola dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dengan memberikan waktu disekolah kepada pihak terkait pengelolaan hutan secara rutin.
Strategi yang menjadi prioritas selanjutnya menurut stakeholder adalah pertanian tumpang sari dikawasan hutan. Strategi ini dapat dilaksanakan namun dengan dilakukan pengawasan yang ketat dari pihak terkait. Pertanian hanya dapat dilakukan di zona pemanfaatan dan pembukaan lahan baru tidak boleh diizinkan. Masyarakat juga hendaknya tidak hanya melakukan kegiatan perladangan tetapi juga membantu pengelolaan dan pengawasan hutan. Pertanian agroforestry juga
dapat menjadi pilihan untuk menetapkan strategi pertanian dikawasan hutan. Pola
agroforestry yang dilakukan misalnya pola silvikultur yaitu penanaman yang
mengkombinasikan tanaman berkayu dan tanaman non kayu.
Strategi terakhir adalah penetapan sistem carbon trade. Strategi ini
mendapat prioritas paling rendah karena pihak stakeholder berpendapat sistem
carbon trade ini belum memiliki ketentuan yang jelas. Namun apabila strategi ini
ingin dilaksanakan dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan TNKS dan kekayaan alamnya secara nasional dan internasional kepada pemerintah maupun perusahaan. Identifikasi tentang TNKS flora fauna dan kekayaan alam yang ada dikawasan TNKS lebih ditingkatkan lagi. Pihak pengelola juga dapat mencari informasi kepada pihak lain yang pernah bekerjasama dengan pihak luar.
Implikasi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui nilai ekonomi total kawasan hutan TNKS adalah sebesar Rp. 56.177.159.761 dengan nilai yang mendominasi adalah nilai TNKS sebagai penyerap karbon. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat luas hutan yang sangat besar di TNKS dan memiliki fungsi sebagai penunjang kehidupan masyarakat di masa depan apabila dapat dilestarikan.
Setelah nilai karbon nilai yang menunjukkan jumlah yang cukup besar adalah nilai pemanfaatan langsung kawasan TNKS yang berarti masyarakat di sekitar kawasan untuk menunjang hidupnya masih bergantung kepada hutan, selain itu nilai tidak langsung kawasan hutan juga berperan penting terhadap ketersediaan air bagi masyarakat karena dengan kondisi pekerjaan masyarakat yang sebagian besar adalah petani maka masyarakat memerlukan air tidak hanya untuk kebutuhan sehari – hari tetapi juga sebagai input penting dalam kegiatan pertanian masyarakat untuk memperoleh pendapatan.
Selain nilai langsung dan tidak langsung, nilai lain yang diperoleh dari hasil penelitian adalah nilai non guna yang terdiri dari nilai keberadaan (existence) dan
warisan (bequest) yang diperoleh menggunakan metode regresi. Analisis
menggunakan metode regresi menunjukkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi nilai keberadaan (existence) hutan bagi masyarakat adalah
pendapatan dan pendidikan, sedangkan untuk nilai warisan (bequest) adalah
pendapatan. Berdasarkan analisis regresi tersebut diketahui pendapatan masyarakat merupakan faktor yang mempengaruhi keinginan masyarakat untuk melestarikan hutan, hal ini dapat berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar adalah petani yang memerlukan input dari keberadaan hutan secara tidak langsung yaitu air selain itu berdasarkan hasil penelitian juga diketahui nilai pemanfaatan langsung yang cukup besar hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memanfaatkan hutan kawasan TNKS sebagai penunjang kehidupan masyarakat melalui pemanfaatan kayu bakar, tanaman obat, madu, dan sebagai tempat berladang dan menanam kayu oleh masyarakat.
Besarnya manfaat dan nilai ekonomi kawasan TNKS bagi masyarakat yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dari itu untuk melestarikan kawasan TNKS perlu ditetapkan strategi pengelolaan agar dapat menjaga kelestarian kawasan yang melibatkan beberapa elemen baik pemerintah, Balai Besar TNKS, masyarakat, dan BKSDA. Penelitian ini menggunakan strategi perumusan kebijakan dengan AHP dengan tujuan utama adalah kebijakan pengelolaan kawasan TNKS dengan melibatkan aktor yang terkait dalam pengelolaan kawasan dan mempertimbangkan beberapa kriteria yaitu sosial, ekonomi, budaya, dan hukum. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pihak pengelola TNKS saat ini merupakan pihak yang berperan utama sebagai aktor, selanjutnya kriteria yang paling diutamakan adalah kriteria ekonomi karena responden yang diwawancara berpendapat bahwa masyarakat tidak akan merusak hutan apabila kesejahteraan mereka telah terjamin. Dari beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk menunjang kebijakan pengelolaan kawasan, alternatif peningkatan pendapatan masyarakat dinilai yang perlu diprioritaskan, hal ini sesuai dengan penetapan kriteria yang telah dilakukan sebelumnya. Terakhir adalah penetapan strategi pengelolaan kawasan, masing – masing aktor lebih perlu menekankan pada penetapan sanksi hukum sesuai undang – undang, hal ini disebabkan karena masih adanya pihak yang melakukan perusakan terhadap kawasan. Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa pihak diketahui bahwa oknum yang merusak hutan adalah masyarakat dari luar kawasan oleh karena itu untuk tetap menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang sangat tergantung dari keberadaan hutan maka strategi yang paling tepat adalah dengan penetapan sanksi hukum sesuai undang – undang.