BAB 3. ANALISIS RISIKO BENCANA DESA DILEM
3.3. Penilaian Kapasitas
Asian Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) dalam Terimologi Pengurangan Risiko Bencana mendefinisikan Kapasitas sebagai Gabungan antara semua kekuatan, ciri yang melekat dan sumber daya
27 Hasil FGD PRA Pokja Ketangguhan Desa Dilem tahun 2017.
yang tersedia dalam sebuah komunitas, masyarakat atau organisasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang disepakati.28
Sedangkan menurut Peraturan Kepala BNPB Nomor 02 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian akibat bencana. Kapasitas merupakan tolak ukur di masyarakat untuk melihat tingkat kemampuan dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana yang akan terjadi.
Dalam Peraturan Kepala BNPB Nomor 02 tahun 2012 tersebut komponen yang digunakan untuk menghitung kapasitas adalah indikator ketahanan yang ada dalam Kerangka Aksi Hyugo atau Hyugo Frame Work for Action (HFA) yang terdiri dari lima komponen yaitu:
1. Regulasi dan kelembagaan;
2. Sistem peringatan dini dan pengkajian risiko bencana;
3. Pendidikan dan pelatihan kebencanaan;
4. Pengurangan faktor risiko dasar;
5. Mitigasi dan sistem kesiapsiagaan.29
Sedangkan dalam pengkajian ini komponen tersebut disederhanakan menjadi tiga komponen yaitu:
Kebijakan, kelembagaan dan anggaran, Kesiapsiagaan, serta Peran serta masyarakat.30 Meskipun demikian, baik variabel yang digunakan dalam kajian ini maupun variabel yang dikeluarkan oleh HFA, keduanya memiliki substansi yang sama.
Kapasitas warga dalam menghadapi suatu bencana baik secara kebijakan, kelembagaan, dan anggaran, kesiapsiagaan maupun peran serta masyarakatnya menjadi bagian yang harus diukur untuk mengetahui seberapa tangguh masyarakat Dilem dalam menghadapi masing-masing bencana. Berikut hasil penilaian kapasitas Desa Dilem terhadap bencana yang dilakukan secara partisipatif:
3.3.1. Kapasitas terhadap Ancaman Tanah Longsor
Secara umum kapasitas Desa Dilem dalam menghadapi bahaya tanah longsor masih perlu ditingkatkan, hal tersebut dikarenakan secara kebijakan ancaman tanah longsor belum menjadi sesuatu yang diprioritaskan oleh pemerintah. Selain itu sistem peringatan dini yang berkebang di masyarakat diperoleh dari pengetahunan tradisional yang diwarisi secara turun temurun.
Kebijakan, Kelembagaan dan Anggaran
Desa Dilem belum memiliki kebijakan, perencanaan maupun anggaran khusus untuk penanganan jika terjadi bencana longsor. Selain itu belum ada lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana.
Kegiatan penanggulangan bencana dilakukan secara responsif saat bencana terjadi.
Kesiapsiagaan
Selama ini Desa Dilem belum memiliki sistem peringatan dini bahaya longsor. Di desa juga belum ada kelompok relawan siaga bencana yang disahkan dalam bentuk lembaga secara legal formal. Namun demikian telah ada 25 orang warga yang pernah dilatih dalam peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan
28 ADRRN, op. cit., hlm 18.
29 Sofyan, op. cit., hlm. 52.
30 Ibid.,
kedaruratan bencana oleh BPBD Kabupaten Mojokerto. Selain itu masyarakat juga telah memiliki kearifan lokal dalam mendeteksi gejala awal terjadinya longsor.
Peran Serta Masyarakat
Kepedulian masyarakat Dilem sangat tinggi untuk menangani bencana secara gotong royong baik saat tanggap darurat hingga pemulihan pasca bencana.
Menilai dari indikator kapasitas yang dimiliki masyarakat Dilem dalam menghadapi bahaya longsor yang meliputi kebijakan kelembagaan, komponen kesiapsiagaan dan peran serta masyarakat yang ada, dapat disimpulkan bahwa Desa Dilem memiliki kapasitas SEDANG dalam menangani ancaman Tanah Longsor.
3.3.2. Kapasitas terhadap Ancaman Banjir
Secara umum kapasitas Desa Dilem dalam menghadapi bahaya banjir sama dengan bahaya tanah longsor, masih ada banyak komponen yang perlu ditingkatkan. Sama halnya dengan ancaman tanah longsor, secara kebijakan ancaman banjir belum menjadi sesuatu yang diprioritaskan oleh pemerintah.
Pemerintah desa juga belum mengalokasikan anggaran khusus untuk pengurangan risiko bencana. Selain itu sistem peringatan dini yang berkebang di masyarakat diperoleh dari pengetahunan tradisional yang diwarisi secara turun temurun.
Kebijakan, Kelembagaan dan Anggaran
Desa Dilem belum memiliki kebijakan, perencanaan maupun anggaran khusus untuk penanganan bencana banjir maupun anggaran untuk memitigasinya. Selain itu belum ada lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana banjir. Kegiatan penanggulangan bencana dilakukan secara tradisional saat bencana tersebut melanda.
Kesiapsiagaan
Desa Dilem belum memiliki sistem peringatan dini untuk mitigasi bencana banjir. Proses kesiapsiagaan hanya dilakukan secara tradisional dengan mengamati pola yang terjadi, seperti intensitas hujan.
Begitu pun dengan keberadaan kelompok relawan, desa belum memiliki kelompok relawan yang resmi secara kelembagaan. Meskipun demikian, telah ada 25 orang warga yang pernah dilatih dalam peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan kedaruratan bencana oleh BPBD Kabupaten Mojokerto.
Peran Serta Masyarakat
Upaya yang dilakukan masyarakat hanyalah sebatas mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak bermain di dekat sungai saat hujan turun karena menganggap bahwa banjir tidak memiliki dampak yang signifikan bagi pemukiman masyarakat
Menilai dari indikator kapasitas yang dimiliki masyarakat Dilem dalam menghadapi bahaya banjir yang meliputi kebijakan kelembagaan, komponen kesiapsiagaan dan peran serta masyarakat yang ada, dapat disimpulkan bahwa Desa Dilem memiliki kapasitas SEDANG dalam menangani ancaman Banjir.
3.3.3. Kapasitas terhadap Ancaman Banjir Bandang
Kapasitas Desa Dilem dalam menghadapi bahaya banjir bandang tidak jauh berbeda dengan kapasitas terhadap bahaya tanah longsor dan banjir, sehingga masih ada banyak komponen yang perlu
ditingkatkan secara serius. Komponen yang menjadi nilai lebih berasal dari tingginya peran serta masyarakat untuk bergotong royong saat bencana melanda.
Kebijakan, Kelembagaan dan Anggaran
Seperti halnya dalam penanganan bencana tanah longsor dan banjir, terhadap ancaman banjir bandang pun Desa Dilem belum memiliki kebijakan, perencanaan, sistem penganggaran maupun lembaga khusus untuk penanggulangan maupun mitigasi bahaya banjir bandang.
Kesiapsiagaan
Demikian halnya dengan kesiapsiagaan masyarakat Dilem saat menghadapi banjir bandang, desa belum memiliki sistem peringatan dini untuk mitigasi bencana banjir bandang. Proses kesiapsiagaan hanya dilakukan secara tradisional dengan mengamati pola yang terjadi, seperti intensitas hujan maupun informasi terkait adanya longsoran yang terjadi di hutan dekat aliran sungai oleh warga yang baru kembali dari hutan.
Selain itu desa belum memiliki kelompok relawan yang resmi secara kelembagaan. Meskipun demikian, telah ada 25 orang warga yang pernah dilatih dalam peningkatan kapasitas kesiapsiagaan dan kedaruratan bencana oleh BPBD Kabupaten Mojokerto.
Peran Serta Masyarakat
Masih kentalnya sikap gotong-royong masyarakat yang ada di Desa Dilem menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi bencana yang terjadi, termasuk bencana banjir bandang, masyarakat secara bersama-sama bahu membahu berupaya menyelesaikan persoalan yang ada.
Menilai dari indikator kapasitas yang dimiliki masyarakat Dilem dalam menghadapi bahaya banjir bandang yang meliputi kebijakan kelembagaan, komponen kesiapsiagaan dan peran serta masyarakat yang ada, dapat disimpulkan bahwa Desa Dilem memiliki kapasitas SEDANG dalam menangani ancaman banjir bandang.
3.3.4. Kapasitas terhadap Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan
Kapasitas masyarakat Dilem dalam menghadapi bahaya kebakaran hutan dan lahan masih tergolong rendah. Hal tersebut dikarenakan secara kewilayahan hutan dan lahan yang ada berada dibahawah pengelolaan Tahura Raden Soerjo dan Perum Peruhutani, sehingga secara kebijakan pemerintah dan masyarakat desa tidak dapat berbuat banyak. Namun demikian peran serta masyarakat masih menjadi nilai lebih yang harus dipertahankan.
Kebijakan, Kelembagaan dan Anggaran
Desa belum memiliki aturan khusus untuk mengatur warganya terkait pembersihan dan pengelolaan ladang agar tidak terjadi kebakaran hutan. Selain itu karena ladang dan hutan yang ada di sekitar desa adalah milik Perhutani dan Tahura, maka kebijakan sangat bergantung pada kedua lembaga tersebut.
Kesiapsiagaan
Beberapa orang warga Dilem sudah pernah dilatih teknik pemadaman api saat terjadi kebakaran di hutan oleh Tahura R. Soerjo. Selain itu juga pernah dibentuk tim DAMKAR 15 tahun yang lalu yang melibatkan 8 orang relawan, namun belum dilembagakan dan di resmikan dalam bentuk legal formal berupa SK.
Peran Serta Masyarakat
Beberapa warga yang memiliki pemahaman dan kesadaran yang baik terhadap bahaya kebakaran hutan akan mengingatkan warga lainnya saat melakukan pembersihan ladang dengan teknik membakar.
Namun upaya tersebut tidak selalu berhasil, karena tidak semua warga yang memanfaatkan ladang/hutan adalah warga Dilem.
Menilai dari indikator kapasitas yang dimiliki masyarakat Dilem dalam menghadapi bahaya kebakaran hutan dan lahan yang meliputi kebijakan kelembagaan, komponen kesiapsiagaan dan peran serta masyarakat yang ada, dapat disimpulkan bahwa Desa Dilem memiliki kapasitas SEDANG dalam menangani ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan.
Tabel 9: Indeks Kapasitas Desa Dilem31 No Jenis Ancaman Kebijakan Kelembagaan
dan Anggaran Kesiapsiagaan Peran Serta
Masyarakat Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis ancaman, kerentanan dan kapasitas yang ada di Desa Dilem, masyarakat kemudian melakukan analisis tingkat risiko untuk setiap ancaman. Pada proses ini, masyarakat bersama dengan Pokja kembali menganalisis berbagai kondisi dan isu dalam menentukan bobot risiko. Selain itu, penentuan indikator dari setiap variabel ancaman, kerentanan dan kapasitas juga ditentukan dengan kesepakatan bersama di komunitas sesuai dengan hasil pengamatan langsung di daerah kajian yang diperkuat dengan hasil analisis spasial dan informasi terkait proyeksi iklim yang diperoleh dan difahami oleh masyarakat.
Penghitungan tingkat risiko pada masing-masing ancaman ini didahului dengan melakukan analisis kerugian. Selanjutnya, kajian risiko bencana ini juga mengikut sertakan analisis proyeksi iklim sebagai salah satu komponen yang dikaji dalam menentukan tingkat risiko bencana.
3.4.1. Analisis Kerugian
Analisis kerugian merupakan penilaian yang didasarkan pada hasil membandingkan tingkat ancaman dengan tingkat kerentanan dari masing-masing bahaya/ancaman. Seperti yang terlihat pada Gambar 19, dimana tinggi/rendahnya ancaman akan dibandingkan dengan tinggi/rendahnya kapasitas, sehingga menghasilkan nilai kerugian.
Kerugian Akibat Bencana Tanah Longsor
Bencana longsor mengakibatkan bak air minum dan pipa air bersih terputus. Selain itu rusaknya ladang hutan mengakibatkan gagal panen. Bencana longsor bisa mengganggu perekonomian warga dan suplai air bersih, sehingga kerugian akibat Tanah Longsor di Desa Dilem berada pada kategori TINGGI.
31 Hasil FGD PRA Pokja Ketangguhan Desa Dilem tahun 2017.