Kegiatan pengembangan masyarakat yang disusun dalam Renstra telah melalui berbagai rangkaian proses PRA, melibatkan pemangku kepentingan untuk dapat menyerap aspirasi masyarakat setempat, sehingga didapatkan program yang tersusun berdasarkan kebutuhan nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, program akan dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dan dapat dirasakan manfaat sebesar besarnya, baik dari sisi perubahan perilaku, peningkatan produktivitas, perbaikan pendapatan, maupun dalam memperbaiki mutu dan kesejahteraan kehidupan masyarakat itu sendiri.
Menurut Bapak AW GenSupv. SR wilayah Kecamatan Jereweh dan Maluk, terkait pelibatan pemangku kepentingan dalam proses perumusan program:
“Kita berangkat dari rencana strategis yang sudah kita susun 5 tahun sebelumnya, bahkan sekarang kita sudah masuk generasi Renstra ke 3. Prosesnya tetap kita libatkan semua unsur yang ada di masyarakat, baik dari desa, kecamatan, kabupaten, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda serta LSM. Selain itu kami juga mengundang pihak ketiga didalam penyusunan Renstra tersebut. Mekanismenya hampir mirip musrembang. Pada proses implementasi Renstra itu kita selalu berkoordinasi dengan multi pihak, dan pemerintah sebagai mitra wajib kita laporkan baik itu di level Desa hingga Kabupaten untuk dicatat. Selain itu juga dengan masyarakat luas terkait dengan peluang, tujuan serta manfaat dari program-program kita”.
Hal ini selaras dengan pendapat Martinez (1985) dalam Totok Mardikantor (2010) yang menyatakan bahwa bahwa: pembangunan (pedesaan) yang efektif, bukanlah semata-mata karena adanya kesempatan, tetapi merupakan hasil dari penentuan pilihan-pilihan kegiatan, bukan hasil “trial and error” tetapi akibat dari
perencanaan yang baik.
Berdasarkan hasil persentase penilaian pemangku kepentingan, terhadap aspek (Q12) PTNNT mengadakan berbagai jenis pelatihan, kursus atau magang, telah sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat, sehingga program sangat dirasakan manfaatnya, terdapat 10.0 persen penilaian sangat setuju, 55 persen setuju, serta 35 persen kurang setuju (ragu-ragu) dan tidak ada (0.0%) responden tidak setuju ataupun sangat tidak setuju.
Menurut Kepala Desa Benete, terkait penyusunan program tersebut, disampaikan bahwa:
“Kami sangat berharap agar dalam penyusunan program tersebut kami
68
Minat dan Partisipasi Masyarakat
Motivasi merupakan unsur yang paling penting dalam kegiatan proses belajar yang efisien, karena seseorang akan berhasil jika seseorang itu memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Dahama dan Bhatnagar (1980) bahwa motivasi merupakan proses awal untuk tumbuhnya kesadaran untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat. Sedang motif adalah dorongan-dorongan dari dalam diri seseorang untuk berbuat guna mencapai pemenuhan kebutuhan. Berdasarkan pengertian tersebut, disimpulkan bahwa motivasi muncul karena adanya minat dan atau kebutuhan yang dirasakan ingin dipehuni oleh seseorang, sehingga berpengaruh positif pada tingkatan partisipasi.
Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pelatihan peningkatan produktivitas dan keterampilan, dilihat dari keterlibatan masyarakat untuk ikut aktif secara langsung dalam setiap tahapan kegiatan pelatihan.
Motivasi dan partisipasi masyarakat terhadap setiap pelatihan yang diadakan oleh PTNNT melalui berbagai lembaga mitra termasuk kategori tinggi, baik dilihat dari tingkat kehadiran, keaktifan selama pelatihan maupun sikap kritis dan antusias terhadap materi pelatihan yang disampaikan. Hal ini juga dapat dilihat dari tingkat partisipasi berbagai pihak dalam mendukung proses dan pelaksaanaan pelatihan, terutama komitmen PTNNT itu sendiri dalam implementasi program. Tingginya minat dan partisipasi masyarakat terhadap pelatihan karena masyarakat berharap melalui pelatihan yang diselenggarakan akan mendapat pengetahuan dan keterampilan baru sebagai bekal mencari pekerjaan ataupun dalam berwirausaha, disamping program sesuai aspirasi yang diusulkan, dan menjadi kebutuhan mereka. Tingginya minat dan partisipasi ini merupakan bentuk kesadaran masyarakat dalam upaya mengatasi masalah yang dihadapi melalui peningkatan kemampuan diri, inovasi, pengetahuan, keterampilan dan proses proses dalam peningkatan produktivitas usaha. Seperti yang disampaikan Bapak Ar, tokoh masyarakat:
“Karena ini program dalam rangka peningkatan sumber daya manusia
yang ada, jadi sangat diminati karena ini benar-benar sesuai dengan aspirasi masyarakat. Program PTNNT ini tidak dilakukan begitu saja melainkan disesuaikan dengan aspirasi masyarakat”
Berdasarkan hasil skor dan persentase penilaian responden, terkait aspek kegiatan pelatihan, kursus dan magang mendapat, skor penilaian Q4:3.20 (setuju), dimana masyarakat sangat berminat dan termotivasi mengikuti pelatihan yang diadakan PTNNT, dengan sebaran persentase penilaian 25 persen sangat setuju, 70 persen setuju, dan hanya 5 persen kurang setuju (ragu-ragu), serta tidak terdapat (0.0%) tidak setuju ataupun sangat tidak setuju.
Tingginya penilaian pemangku kepentingan terhadap minat dan partisipasi masyarakat dalam mengikuti pelatihan, seharusnya dapat diikuti oleh komitmen PTNNT dalam memenuhi harapan pemangku kepentingan dengan melakukan berbagai pelatihan keterampilan, kursus dan magang secara optimal hingga dapat menyentuh kebutuhan dasar masyarakat dalam meningkatkan keterampilan dan produktivitas yang tinggi, sesuai dengan sasaran dan tujuan pokok yang tersusun dalam dokumen Renstra. Hal ini menjadi signifikan dengan skor penilaian pemangku kepentingan terhadap Q10:3.45 bahwa program pelatihan, kursus dan
69 magang, harus terus dilanjutkan oleh PTNNT, serta perlu ditingkatkan lagi jenis/ragam pelatihannya, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan kerja saat ini dan masa mendatang, dengan persentase penilaian yaitu: 50 persen sangat setuju, 45 persen setuju, dan hanya 5 persen kurang setuju (ragu- ragu). Maka relevan jika komitmen PTNNT dipertanyakan terhadap keberhasilan implementasi kegiatan pelatihan, kursus dan magang, dan apakah kegiatan tersebut telah sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat. Berikut pengakuan dari skor penilaian responden Q1:2.8 (tidak setuju) terhadap komitmen PTNNT dalam melaksanakan program pelatihan, kursus atau magang, telah dapat dilaksanakan secara optimal, menyentuh kebutuhan dan tepat sasaran, sehingga efektif meningkatkan produktivitas dan keterampilan masyarakat, terdapat 10 persen sangat setuju, 60 persen setuju, dan terdapat 30 persen kurang setuju (ragu- ragu).
Manfaat Pelatihan terhadap Peningkatan Produktivitas dan Keterampilan Masyarakat
Manfaat pelatihan dalam peningkatan produktivitas dan keterampilan masyarakat yang telah diselenggarakan, dilihat dari kemampuan penggunaan hasil dari program pelatihan bagi peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengelola aktivitas yang berproduktif, sehingga dapat menjadi sumber mata pencaharian bagi kelangsung hidup dan kesejahteraan keluarganya
Menurut Bapak S, tokoh masyarakat Desa Benete, terkait manfaat langsung yang dirasakan maupun terhadap peningkatan produktivitas masyarakat dari pelaksanaan kegiatan pelatihan, kursus, magang, disampaikan berikut:
“Saya melihat pelatihannya, Alhamdulillah. dulu ada adik saya dilatih masalah pertanian yaitu penanaman jeruk manis dan itu berhasil. Tapi saya tidak tahu sekarang kok tidak lagi. Trus untuk sopir, sudah banyak anak muda sekarang dapat pekerjaan membawa dump truk. Untuk pertanian lainnya juga terasa, di Benete dahulu tidak ada yang menanam padi seperti sekarang, hanya memakai sistim gogorancah. Tetapi setelah PTNNT memberikan pelatihan sistem tanam SRI. masyarakat sekarang sudah mulai menanam padi dengan hasil produksi yang lebih meningkat dari
sebelumnya”
Mengacu kepada hasil skor penilaian responden terhadap Q5:2.8 (tidak
setuju) terhadap aspek “masyarakat peserta pelatihan telah dapat merasakan manfaat hasil pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya”, dengan persentase 5 persen sangat setuju, 70 persen setuju, serta 25 persen kurang setuju (ragu-ragu). Sedangkan untuk mengetahui penilaian responden terhadap adanya peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengelola aktivitas yang berproduktif sehingga menjadi sumber mata pencahariannya, ditunjukkan oleh skor penilaian Q6:2.6 (tidak setuju) terhadap aspek “masyarakat peserta pelatihan telah dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya program, dan mengelola dengan benar bantuan yang diberikan/ peralatan kerja/ permodalan (jika ada menerima
70
dari program) sehingga program (usaha) dapat terus dijalankan sampai saat ini dan dapat menjadi sumber mata pencaharian, terdapat 5 persen sangat setuju, 55 persen setuju, 35 persen kurang setuju (ragu-ragu) dan 5 persen tidak setuju.
Melihat kondisi hasil persentase penilaian pemangku kepentingan tersebut, menunjukan bahwa masih terdapat permasalahan yang dihadapi program, terkait pemanfaatan dan pengelolaan kegiatan pasca pelatihan, terutama persoalan pada pelatihan keterampilan pemuda pencari kerja, dimana terjadi bahwa rata-rata pemuda peserta pelatihan hanya berkeinginan untuk bekerja di PTNNT, dan ketika gagal diterima maka mereka menjadi penganggur. Disamping itu juga terdapat persoalan pada pasca pelatihan wirausaha, dimana ada yang menjual peralatan bantuan yang diberikan karena membutuhkan uang. Hal ini tidak terlepas dari pola pikir masyarakat itu sendiri. Akan tetapi terdapat juga yang berhasil menggunakan keterampilannya untuk berwirausaha, membuka lapangan kerja sendiri maupun yang mendapat pekerjaan di kontraktor atau sub kontraktor PTNNT, seperti yang disampaikan oleh Bapak Ar, berikut:
“Kalau masalah kelemahannya pasti ada. Tapi semua itu bermuara pada
pesertanya. Seperti ada sebagian peserta program itu hanya ingin bekerja dengan perusahaan besar (seperti PTNNT). Jika kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan itu gagal mereka langsung menganggur lagi. Bahkan ada yang menjual peralatan yang diberikan oleh perusahaan agar mereka punya uang. Berikutnya ini masalah pola pikir masyarakat. Namun ada juga yang menggunakan skillnya tersebut untuk membuka usaha kecil-kecilan seperti membuka lapangan kerja sendiri”.
Dampak Pelatihan terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat
Dampak pelatihan yang telah diselenggarakan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, dilihat dari adanya kemampuan dan peningkatan aktivitas produktif yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan ekonomi, sehingga terjadi peningkatan taraf hidup serta kesejahteraan keluarganya.
Dampak pelatihan yang telah dilaksanakan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, tentu sulit diukur secara keseluruhan karena tidak adanya data informasi kondisi rona awal masyarakat penerima program, disamping tidak memiliki data dasar (baseline) sebelum program dijalankan, laporan pelaksanaan program, serta data akhir kondisi aktual setelah program berjalan hingga program berhasil dilaksanakan. Maka untuk dapat mengetahui dampak umum pelaksanaan program terhadap adanya peningkatan pendapatan masyarakat penerima program, dilakukan melalui penilaian berdasarkan persepsi pemangku kepentingan. Hasil wawancara terkait pengaruh yang signifikan dari program pelatihan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, disampaikan berikut:
“Ya, otomatis, karena dengan adanya skill dari masyarakat, maka kesempatanpun ada, contoh: mereka rata-rata pengangguran, dengan skill yang didapatkan dari pelatihan dan kursus tersebut, merekapun berniat berusaha meningkatkan kehidupan mereka. Niat itu kemudian didukung
71 oleh Perusahaan seperti diberikan alat yang sesuai dengan skill yang
dimiliki” (Bapak Ar).
Senada seperti disampaikan Bapak M, bahwa dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki melalui pelatihan, maka akan dapat membuka peluang bagi pemuda yang telah selesai pelatihan, untuk kemudahan mencari pekerjaan berbebekal sertifikat keterampilan yang telah dimiliki:
“Jumlah yang mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Ada sebagian
dari mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan. Kalau sudah bekerja otomatis dapat meningkatkan pendapatan atau kesejahteraannya. Tapi sebagian besar belum bekerja. Tapi yang pasti mereka mendapatkan
pengetahuan tentang materi pelatihan dari kursus itu”
Secara keseluruhan dari berbagai wawancara, berdasarkan hasil pengamatan lapangan maupun dari penilaian pemangku kepentingan, belum dapat dikatakan bahwa kegiatan pelatiahn tersebut berdampak maksimal terhadap pencapaian tujuan yang ditetapkan, disebabkan karena adanya faktor sosial dan pola pikir dalam masyarakat itu sendiri, sehingga kegiatan pelatihan belum dapat dikatakan menunjukkan dampak signifikan terhadap adanya peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, hal ini tercermin dari hasil skor penilaian responden pada aspek Q8:24 (tidak setuju) masyarakat peserta pelatihan telah berhasil bekerja/berwirausaha sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan/ pendapatan ekonomi keluarga mereka, dengan sebaran persentase 2.5 persen sangat setuju, 42.5 persen setuju, 47.5 persen kurang setuju (ragu-ragu), serta 7.5 persen tidak setuju.
Relevan dengan hasil penilaian responden pada aspek Q7:2.45 (tidak setuju) terhadap masyarakat peserta pelatihan telah dapat mandiri, produktif dan mampu menerapkan hasil pelatihan/keterampilan yang dimilikinya, baik dalam berwirausaha, usaha pertanian, perkebunan, peternakan, skill pencari kerja, dimana persentase penilaian 2.5 persen sangat setuju, 47.5 persen setuju, 42.5 persen kurang setuju (ragu-ragu) dan 7.5 persen tidak setuju.
73