• Tidak ada hasil yang ditemukan

PTNNT memiliki komitmen dalam melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar tambang, hal ini secara tegas dinyatakan dengan mencantumkan nilai-nilai kepemimpinan yang dianut, yaitu mewujudkan kepemimpinan di bidang keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial. Landasan nilai pada tanggung jawab sosial, diwujudkan melalui rancangan dokumen Renstra, yang dijadikan rujukan bagi program

pengembangan masyarakat, dengan menetapkan visi “Masyarakat yang sehat, cerdas, mandiri, sejahtera dan religious”, dan akan dicapai melalui lima bidang utama yaitu: (1) Bidang Kesehatan, (2) Bidang Pendidikan, (3) Bidang Ekonomi Masyarakat, (4) Bidang Pertanian dan Pariwisata, dan (5) Bidang Sosial Budaya dan Agama, termasuk didalamnya peningkatan infrastruktur untuk seluruh bidang. Khusus pada salah satu bidang utama yaitu bidang pendidikan, telah merumuskan

Misi: “Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia cerdas dan produktif”, dengan sasaran yang ingin dicapai adalah: “Terwujudnya kapasitas masyarakat yang terampil, berpendidikan, kompetititf dan berbudi pekerti”.

Dalam dokumen Renstra (2009-2013), telah tercantum berbagai rencana program tanggung jawab sosial, yang telah disusun secara partisipatif dengan diharapkan akan mampu memberikan banyak manfaat dan pembelajaran bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat, khususnya masyarakat yang berada di wilayah sekitar tambang. Komitment PTNNT ditunjukkan dengan mengalokasikan anggaran setiap tahun dalam mendukung pelaksanaan program pengembangan masyarakat senilai US$ 5.44 juta atau sekitar Rp 54.4 milyar, dimana 56 persen dialokasikan untuk pengembangan kapasitas masyarakat dan 44 persen dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur (PTNNT 2012).

Penyusunan perencanaan program pengembangan masyarakat yang termuat dalam dokumen Renstra, telah dimulai dengan menggunakan metode

Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dilakukan di 13 desa. Hasil dari PRA menjadi sumber masukan utama untuk menyusun draf program kerja Dokumen Renstra, yang memuat visi, misi, sasaran jangka panjang, tujuan dan kerangka program yang tersaji dalam bentuk logframe. Draft Dokumen Renstra, kemudian didiskusikan dalam sebuah konsultasi publik yang melibatkan pemerintah serta perwakilan dari para pemangku kepentingan, sehingga menjadi sebuah dokumen Renstra lima tahunan, yang menjadi landasan PTNNT dalam melaksanakan program tanggung jawab sosial bagi masyarakat sekitar tambang.

Hasil wawancara mendalam dengan masyarakat, LSM/ Mitra Kerja, pemerintah Kecamatan, serta pemerintah Desa Benete, didapatkan bahwa; meskipun dalam proses penyusunan dokumen Renstra telah dilakukan secara partisipatif, melibatkan pemerintah dan perwakilan masyarakat dalam konsultasi publik, akan tetapi hasil akhir dari Renstra tidak dilakukan sosialisasi kembali ke tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat menyatakan tidak mengetahui rencana program maupun substansi Renstra, mereka hanya mengetahui tentang pelaksanaan program dari apa yang dilihat langsung di lapangan, atau pada saat program berjalan, karena tidak adanya laporan dalam bentuk lisan maupun tulisan atau pemberian informasi tentang setiap rencana program pada masyarakat, dan

50

hanya pemerintah desa yang menyatakan selalu dilibatkan dalam program pengembangan masyarakat yang akan dilakukan di desa mereka.

Masyarakat dan pemerintah Desa Benete, mengetahui bahwa dalam pelaksanaan program kerja pengembangan masyarakat, PTNNT berpedoman pada program yang sudah tersusun dalam dokumen Renstra, meskipun pada dasarnya, sebagian besar dari masyarakat maupun pemerintah Desa, tidak mengetahui secara rinci tentang program apa saja yang sudah tersusun dan direncanakan bagi pengembangan masyaraka pada desanya, karena tidak ada sosialisasi dari pihak PTNNT maupun pembagian dokumen Renstra tersebut, sehingga mereka baru akan dapat mengetahui adanya program saat akan dikerjakan, seperti yang disampaikan Kepala Desa Benete berikut :

“kami memang mengetahui bahwa di dalam melaksanakan program pemberdayaan itu menggunakan atau berpedoman dengan Renstra, dan setiap pelaksaan program pemberdayaan, kami selalu dilibatkan oleh pihak

perusahaan (Bapak S)”

Sedangkan LSM/ Yayasan mitra kerja PTNNT, sebagian besar mengetahui bahwa pelaksanaan program kerja pengembangan masyarakat mengacu kepada Renstra, dan bahkan sebagian dari mitra kerja telah ikut terlibat dalam proses penyusunannya, mulai dari tahap perencanaan, penyusunan draf, konsultasi publik, hingga final menjadi dokumen Renstra, seperti yang disampaikan oleh Direktur Lakmus, lembaga mitra kerja bidang kesehatan masyarakat di Desa Benete:

“kita pernah ikut membuat Renstra melalui PRA bersama NGO dari luar juga pada proses penyusunannya yang melibatkan banyak pihak, unsur- unsur terkait seperti dari Pemerintah Desa, masyarakat penerima manfaat, Pemerintah, NGO dan perusahaan. Renstra ini semacam Musrembang di Pemerintah. Metodologi yang digunakan dalam penyusunan adalah PRA. Tahapannya juga macam-macam, ada wawancara mendalam, FGD dan hasilnya juga diplenokan. Terkadang Renstra perusahaan ini dikawinkan dengan Renstra Desa dan Renstra Kecamatan” (Bapak MY).

Menurut GenSup SR wilayah Jereweh Maluk, bahwa proses penyusunan Renstra 2009-2013, menggunakan pihak ketiga (NGO) dari luar sebagai fasilitator dan penanggung jawab, serta melibatkan para pemangku kepentingan dan pemerintah daerah pada setiap tahapan prosesnya. Pada saat ini PTNNT telah memasuki rencana penggunaan dokumen Renstra generasi ke-3 (Renstra 2014- 2018), dimana proses penyusunan rancangan dan substansi program telah dimulai pada tahun 2013, melalui kerjasama dengan lembaga mitra perguruan tinggi, sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam mendesain rancangan program, menentukan sasaran dan tujuan program yang akan capai, baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, yang berpedoman pada rujukan Renstra sebelumnya.

“kita berangkat dari Rencana Strategis atau Renstra yang sudah disusun 5 tahun sebelumnya, bahkan sekarang kita sudah masuk pada Renstra generasi ke 3. Prosesnya tetap kita libatkan semua unsur yang ada di

51 masyarakat, baik dari Desa, Kecamatan, Kabupaten, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda serta LSM. Selain itu kita juga mengundang pihak ketiga di dalam penyusunan Renstra tersebut, mekanismenya hampir mirip

musrembang” (Bapak AW).

Proses penyusunan rentra (2009-2013) adalah bersumber dari PRA yang telah dilakukan pada tahun 2004, yang kemudian diverifikasi ulang dengan informasi serta berbagai masukan dari perwakilan masyarakat maupun dari semua pihak terkait, hingga menjadi sebuah dokumen Renstra dengan berbagai program kerja yang tersusun sebagai acuan dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat pada kurun waktu 2009 sampai dengan 2013. Karena penggunaan PRA yang bersumber dari tahun 2004, mengakibatkan situasi, kebutuhan serta kondisi faktual masyarakat sekitar tambang tidak dapat terserap dan tergambarkan dengan baik pada program yang sudah tersusun dalam Renstra tersebut. Hal ini tergambar dari hasil penilaian pemangku kepentingan dari 40 responden, terhadap 10 aspek seputar proses penyusunan Renstra sampai menjadi sebuah dokumen Renstra yang dipergunakan sebagai panduan pelaksanaan program pengembangan masyarakat di wilayah sekitar tambang, dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Skor penilaian responden terhadap proses dan implementasi Renstra PTNNT

Skor penilaian responden tersebut memiliki skala 0 - 4, dan untuk memudahkan penilaian, maka skor tersebut dikelompokkan menjadi 0 - 3 = tidak setuju, dan 3 - 4= setuju. Pengelompokkan ini berdasarkan asumsi bahwa dalam pengisian kuesioner, responden terkadang merasa sungkan dalam mengisi/ memberikan penilaian sangat rendah, sehingga lebih memilih memberi penilaian setingkat lebih baik dari sudut persepsinya. Pada Tabel 7 disajikan skor penilaian dan pengakuan responden terhadap masing-masing aspek pertanyaan terkait proses penyusunan Renstra.

0 1 2 3 4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 Q10 4 = Sangat Setuju 3 = Setuju 2 =. Ragu-ragu 1 = Tidak Setuju 0 = Sangat tdk setuju

52

Tabel 8 Skor penilaian dan pengakuan responden terhadap aspek proses dan implementasi Renstra

No Aspek penilaian responden (Q) Skor Pengakuan Q1 Kepemilikan dokumen renstra 3.3 setuju Q2 Partisipasi stakeholder dalam penyusun renstra 3.1 setuju Q3 Keterlibatan responden dalam penyusunan renstra 2.68 tidak setuju Q4 sosilisasi renstra 2.93 tidak setuju Q5 program resntra sesuai aspirasi dan kebutuhan 2.73 tidak setuju Q6 Pelaksanaan program tepat sasaran dan bermanfaat 2.8 tidak setuju Q7 Koordinasi pelaksanaan program 2.95 tidak setuju Q8 Peran dan dukungan stakeholder terhadap pelaksanaan

program 2.93 tidak setuju

Q9 Renstra perlu diperbaiki dan disesuaikan dengan

kebutuhan masyarakat 3.63 setuju Q10 Komitemen PTNNT terhadap pendidikan masyarakat 3.25 setuju

Dari 10 aspek pertanyaan terkait proses Renstra, responden memberikan rataan skor penilaian dan pengakuan terhadap proses dan implementasi 40 persen setuju dan 60 persen tidak setuju, artinya bahwa secara keseluruhan kinerja dan efektivitas implementasi Renstra belum dapat dilaksanakan secara maksimal oleh pengelola, dalam hal ini PTNNT selaku pemilik.

Aspek penilaian terendah adalah pada keterlibatan responden dalam proses penyusunan Renstra (Q3 2.68), sehingga berimbas terbalik menjadi program yang termuat dalam Renstra tidak sesuai harapan dan kebutuhan masyarakat (Q5 2.73). Melihat hasil penilaian dari 10 aspek tersebut, menjadi signifikan ketika responden meletakkan skor penilaian tinggi (setuju) pada aspek Q9 3.63 bahwa Renstra perlu diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Melihat hasil skor penilaian responden terhadap 10 aspek diatas, maka untuk lebih jelasnya, dilakukan pemilahan penilaian berdasarkan kategori responden, yang dibagi menjadi 3 kelompok.

Tabel 9 Skor penilaian dan persentase rataan jawaban berdasarkan kategori kelompok responden

No Kategori Responden Jumlah

(orang) Skor Pengakuan

Persentase (%) rataan jawaban 0 1 2 3 4

1 Masyarakat dan

penerima manfaat 14 2.8

tidak

setuju 0 1.4 25.7 64.3 8.6 2 Pihak pengelola (Mitra

Kerja & PTNNT) 15 3.1 setuju 0 4 8.7 58.6 28.7 4 Aparat pemerintah dan

dinas instansi terkait 11 3.11 setuju 0 5.5 8.2 56.4 30 Total Responden 40

Menganalisis penilaian 14 responden dari pihak masyarakat dan penerima manfaat program, memiliki rataan skor penilaian 2.8 (tidak setuju), dimana hal ini secara tidak langsung telah menggambarkan kondisi yang dirasakan masyarakat maupun penerima program terhadap proses kinerja dan efektivitas implementasi

53 Renstra. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan hasil penilaian dari pihak pengelola program (mitra kerja dan PTNNT), dimana hasil rataan penilaian mendapat skor 3.1 (setuju), dan skor penilaian tersebut masih hampir sama atau bahkan lebih rendah jika dibandingkan dari hasil penilaian aparat pemerintah dan instransi terkait yang memiliki rataan skor penilaian 3.11 (setuju). Gambaran ini menunjukkan bahwa aparat pemerintah dan instansi terkait, secara tidak langsung telah memberikan apresiasi terhadap upaya pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PTNNT yang telah memiliki panduan kerja berupa dokumen Renstra.

Berdasarkan wawancara, FGD maupun hasil skor penilaian responden, terhadap proses penyusunan dokumen Renstra, sampai pada tahapan pelaksanaan program di masyarakat, dapat dikatakan bahwa proses Renstra telah berjalan sesuai dengan tahapan prosedur maupun pelaporan rutin pelaksanaan program. Tetapi hasil analisa secara menyeluruh, bahwa masih terdapat beberapa proses yang tidak berjalan dengan efektif dan intensif, terutama pada tingkat partisipasi pemangku kepentingan, seperti pelibatan selama proses pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program, sampai pada lemahnya sosialisasi dan pelaporan hasil pelaksanaan program ke dalam masyarakat, sehingga berpangaruh terhadap kinerja dan efektivitas program maupun manfaatnya bagi pengembangan masyarakat. Kurangnya sumber informasi yang tersusun dengan baik dan mudah diakses oleh masyarakat, mengakibatkan berbagai aktivitas program pengembangan masyarakat yang sedang berjalan, program yang sudah selesai, maupun yang masih dalam perencanaan, tidak dapat tersampaikan ke masyarakat secara kontinyu, akuntabilitas dan transparan sesuai prinsip dan nilai dasar dalam Renstra. Kondisi ini menciptakan tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perusahaan, rendahnya tingkat kesadaran, tanggung jawab, dan rendahnya kontrol sosial sehingga mengakibatkan program tidak berjalan dengan baik ataupun berhasi secara maksimal.

Diperlukan kesungguhan kongkrit dan komitmen kuat dari PTNNT dalam menjalankan prinsip serta nilai-nilai dasar Renstra, membuka ruang yang seluasnya terhadap akses informasi, mendorong partisipasi aktif masyarakat pada semua tahapan proses, hingga tersusunnya sistem pelaporan secara kontinyu kepada masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, maka akan terbangun komunikasi aktif dan transparansi informasi dua arah, dapat menciptakan tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap program, yang pada akhirnya berbagai aktivitas pengembangan masyarakat, akan dapat berjalan dengan efektif, efisien, tepat sasaran, sustainable serta dapat dirasakan manfaat yang sebesarnya oleh masyarakat sekitar, sehingga dapat terwujud pencapaian visi, misi, sasaran dan tujuan pokok program pengembangan masyarakat sesuai dokumen Renstra.

6. PENILAIAN KEGIATAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS

Dokumen terkait