Segmentasi pemasaran dodol nenas ditujukan pada konsumen menengah ke atas. Ruvendi (2006) menyatakan bahwa strategi pemasaran dilakukan menggunakan 4 P meliputi strategi produk (product), harga (price), distribusi/tempat pemasaran (place) dan promosi (promotion). Strategi produk dilakukan dengan mengolah dodol nenas tanpa bahan pengawet dan tanpa pemanis buatan sehingga berkarakter sehat. Selain itu, tambahan rasa wijen semakin memperkaya rasa dan menjadi pembeda dengan produk dodol nenas lainnya.
Harga yang relatif lebih mahal dibandingkan produk dodol nenas lainnya bukan menjadi suatu masalah karena adanya jaminan kualitas produk, selain itu segmentasi pasarnya adalah konsumen dengan pendapatan menengah ke atas. Strategi promosi dan tempat pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti event-event perlombaan atau pameran-pameran tingkat kabupaten/provinsi untuk memperkenalkan dan memasarkan produk (Gambar 3). Pemasaran produk juga dilakukan dengan cara menerima pesanan dari berbagai konsumen. Identifikasi konsumen berasal dari berbagai instansi pemerintah misalnya Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan, organisasi PKK, Badan Penyuluhan dan lainnya. Permintaan dodol nenas mengalami kenaikan terutama pada saat hari-hari besar.
Anggota KWT “Karya Mandiri “ sedang memperkenalkan produk Dodol Nenas
kepada Gubernur Jawa Tengah
Dodol Nenas rasa wijen yang diproduksi oleh KWT
“Karya Mandiri”
Gambar 3. Dodol Nenas produk KWT “Karya Mandiri” dalam Pameran Hari Pangan Sedunia (HPS) di Kabupaten Purbalingga Tahun 2013.
Persaingan Usaha
Industri dodol nenas di Kabupaten Purbalingga belum banyak ditekuni, sehingga persaingan usaha belum terlalu kuat. Pada umumnya dodol nenas yang masuk ke wilayah Purbalingga merupakan produk dari kabupaten lain yang dipasarkan secara bebas (toko, warung dan pasar) dan hanya memiliki cita rasa nenas saja. Oleh karena itu, dodol nenas yang diproduksi oleh KWT “Karya Mandiri” memiliki cita rasa wijen sebagai ciri khas dan pembeda dari dodol nenas lainnya. Cita rasa wijen dan produk yang sehat dengan jaminan kualitas merupakan keunggulan yang diusung dalam persaingan industri dodol nenas oleh KWT “Karya Mandiri”.
Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku berupa buah nenas sangat melimpah di Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Purbalingga merupakan sentra produksi nenas terbesar ketiga di Jawa Tengah setelah Kabupaten Pemalang dan Wonosobo. Lokasi Kabupaten Pemalang dan Wonosobo juga tidak terlalu jauh dari kabuaten Purbalingga, hal ini menjadi peluang prospektif secara teknis untuk ketersediaan bahan baku. Selain itu, wilayah Desa Pagerandong juga memiliki potensi untuk mengembangkan tanaman nenas di pekarangan rumah karena didukung oleh lahan pekarangan yang relatif masih luas.
Pembiayaan dan Kelayakan Usaha Dodol Nenas
Hambali et al. (2006) mengemukakan bahwa biaya investasi merupakan penggunaan sejumlah besar dana untuk menjalankan usaha baru. Biaya investasi tetap terdiri dari biaya untuk membeli sumberdaya berwujud dan tidak berwujud. Pada usaha ini hanya menggunakan biaya investasi untuk membeli sumberdaya berwujud (Tabel 1). Biaya investasi yang paling mahal yaitu pada pembelian kompor dan blender.
Tabel 1. Biaya Investasi Pengolahan Dodol Nenas di KWT “Karya Mandiri” di Kabupaten Purbalingga, Tahun 2013.
Uraian Jumlah satuan Harga (Rp) Nilai (Rp)
- Pembelian kompor 1 buah 400.000 400.000
- Pembelian blender 1 buah 350.000 350.000
- Pembelian wajan 2 buah 80.000 160.000
- Pembelian baskom 2 buah 40.000 80.000
- Pembelian tabung gas elpiji 3 kg 1 buah 150.000 150.000
- Timbangan 1 buah 100.000 100.000
Total Biaya Investasi 1.240.000
Biaya investasi memiliki nilai penyusutan dan di akhir penggunaannya biasanya masih memiliki nilai sisa. Suratiyah (2006) menyatakan bahwa nilai penyusutan atas biaya investasi diperhitungkan per bulan menggunakan metode garis lurus (Tabel 2).
Tabel 2. Nilai Penyusutan Atas Investasi Berdasarkan Metode Garis Lurus.
Jenis
Investasi Jumlah (buah)
Nilai beli (Rp) Umur ekonomis (bulan) Nilai penyusutan per bulan (Rp) Nilai sisa (Rp) Kompor 1 400.000 48 7.708 30.000 Blander 1 350.000 24 13.750 20.000 Wajan 2 160.000 24 6.667 0
Tabung gas elpiji 1 150.000 60 833 100.000
Baskom 2 80.000 24 3.333 0
Timbangan 1 100.000 24 2.917 30.000
Total 1.240.000 32.292 180.000
Biaya variabel atau Variable Cost adalah biaya-biaya yang berubah sesuai dengan perubahan ouput (Arsyad, 1993). Pada kajian ini, biaya variabel terdiri dari bahan baku produksi dodol nenas dan upah tenaga kerja. Pengeluaran biaya variabel didominasi pada pembelian bahan baku sebesar Rp 63.325,- dan upah tenaga kerja sebesar Rp 45.000,- sehingga total biaya variabel adalah Rp 108.325,-. Biaya untuk pembelian buah nenas merupakan komponen biaya bahan baku yang paling besar yaitu mencapai 31,6%. Buah nenas bersifat musiman sehingga harganya sangat fluktuatif.
Tabel 3. Biaya Variabel Satu Kali Proses Produksi Dodol Nenas di KWT “Karya Mandiri” di Kabupaten Purbalingga, Tahun 2013.
Uraian Jumlah Satuan Harga (Rp) Jumlah (Rp)
A. Bahan baku *) Buah Nenas 2 kg 10.000 20.000 Gula pasir 1 kg 11.000 11.000 Tepung beras 0,2 kg 11.000 2.200 Tepung Ketan 0,5 kg 15.000 7.500 Wijen 0,1 kg 48.000 4.800 Mentega 0,2 kg 24.000 4.800 Plastik pembungkus 150 bh 16 2.400
Mika plastik ukuran kecil 15 buah 175 2.625
Elpiji 8.000
Total Bahan 63.325
B.Upah tenaga kerja 1 HOK 45.000 45.000
Total Biaya Variabel 108.325
Keterangan: *) Harga bahan baku berlaku pada bulan September 2013
Fariyanti et al. (2013) mengemukakan bahwa fluktuasi harga buah terjadi karena kondisi permintaan dan penawaran buah yang terjadi di pasar dan karakteristik buah itu sendiri. Produksi dodol nenas selama satu kali produksi mampu menghasilkan 15 buah kemasan mika dengan netto 200 gr, satu kemasan mika berisi 10 bungkus dodol nenas bentuk balok. Berdasarkan potensi, kemampuan dan permodalan yang masih terbatas, maka KWT “Karya Mandiri” diasumsikan mampu berproduksi 6 kali selama 1 bulan. Oleh karena itu, dalam satu bulan KWT “Karya Mandiri” mampu menghasilkan 90 kemasan mika dengan harga Rp 10.000,- per kemasan. Pada volume produksi tersebut, maka penerimaan dari dodol nenas yang dihasilkan selama 1 bulan sebesar Rp 900.000,- dengan keuntungan sebesar Rp 217.758,- (Tabel 4).
Tabel 4 mengindikasikan bahwa total produksi mencapai 68,2 kemasan atau harga dodol Rp 7.580,- /kemasan maka usaha dodol nenas mencapai titik impas. Artinya bahwa pada kondisi tersebut maka KWT “Karya Mandiri” tidak mendapat untung maupun rugi tetapi impas (penerimaan = total biaya). Pada kenyataanya, KWT “Karya Mandiri” mampu menjual produknya di atas BEP Harga yaitu Rp 10.000,- dengan volume melebihi BEP produksi yaitu 90 kemasan, hal ini menunjukkan bahwa usaha dodol nenas yang dilakukan oleh KWT “Karya Mandiri” layak untuk dilanjutkan. Hasil analisis R/C usaha dodol nenas adalah 1,32. Artinya bahwa setiap biaya yang dikeluarkan oleh KWT “Karya Mandiri” sebesar Rp 1.000,- akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.320,-. R/C > 1 menunjukkan bahwa produksi dodol nenas oleh KWT “Karya Mandiri” layak diusahakan. Imbangan keuntungan dan biaya (B/C) pada penjualan dodol nenas sebesar 0,32 artinya bahwa setiap Rp 1.000,- biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi dodol nenas telah memberikan keuntungan sebesar Rp 320,-.
Tabel 4. Kelayakan Usaha Produksi Dodol Nenas Selama Satu Bulan di KWT “Karya Mandiri” Kabupaten Purbalingga, Tahun 2013.
Komponen Biaya Satuan Nilai
Biaya Tetap Rp
Biaya Investasi
Biaya Penyusutan 32.292
Biaya Variabel Rp 649.950
Bahan baku 379.950
Upah tenaga kerja 270.000
Total Biaya Produksi Rp 682.242
Pendapatan (Q x P) 900.000
Produksi (Q)* Kemasan 90
Harga (P) Rp 10.000
Keuntungan Rp 217.758
BEP Harga Rp/Kemasan 7.580
BEP Produksi Kemasan 68,2
R/C 1,32
B/C 0,32
Keterangan:
* Satuan unit kemasan dodol = kotak mika (netto 200 gr berisi 10 bungkus dodol balok)
Penutup
Teknologi pengolahan dodol nenas merupakan teknologi yang relatif sederhana dan sangat cocok dikembangkan pada skala rumah tangga oleh kelompok wanita tani. Pengolahan dodol nenas mampu meningkatkan nilai tambah buah nenas terutama pada saat panen raya, sekaligus untuk mengaktifkan ekonomi produktif rumah tangga dan menambah pendapatan keluarga. Dodol nanas yang diproduksi oleh KWT “Karya Mandiri” menonjolkan keunggulan produk yaitu memiliki cita rasa wijen, tidak menggunakan bahan pengawet, bebas dari pemanis buatan dan dijamin kualitas rasanya.
Analisis finansial usaha dodol nenas yang dilaksanakan oleh KWT “Karya Mandiri” memiliki kapasitas produksi dan harga yang lebih tinggi dibandingkan nilai BEP produksi dan BEP harga, serta memiliki nilai R/C >1 yaitu 1,32 dan nilai B/C sebesar 0,32. Hal ini menunjukkan bahwa produksi dodol nenas yang dilaksanakan layak diusahakan.
Daftar Pustaka
Arsyad, L., 1993. Ekonomi Manajerial. Ekonomi Mikro Terapan untuk Manajemen Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
BPS, 2012. Jawa Tengah dalam Angka 2012.Semarang: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
Fariyanti, A., M. Firdaus, E Gunawan dan H. Harti, 2013. Resiko Harga Buah nenas dan Belimbing.(http://pkht.or.id/publikasi/154-risiko-harga-buah-nenas-dan-belimbing, diakses 25 Febuari 2014).
Hambali E, Ani S, Dadang, Hariyadi, Hasim H, Iman K.R., 2006. Jarak Pagar Tanaman
Penghasil Biodiesel. Bogor: Penebar Swadaya.
Kamsiati, E., 2010. Peluang Pengembangan Teknologi Pengolahan Keripik Buah dengan Menggunakan Penggoreng Vakum. Jurnal Litbang Pertanian 29(2):73-77. Ma‟mun, N., 2012. Manfaat Buah Nanas. (http://manfaatdankandungan.blogspot. com
/2012/11/ manfaat-buah-nanas.html, diakses 10 Februari 2014).
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2013. Informasi Komoditas Hortikultura. (Eksim.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/C4_nenas.pdf, diakses 15 Febuari 2014).
Qanytah, S. C. B. Setyaningrum dan I. Ambarsari, 2009. Teknologi Pengolahan Dodol dan
Selai Strawberry: Rekomendasi Paket Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Ungaran:
BPTP Jawa Tengah.
Ruvendi, R., 2006. Studi Kelayakan Bisnis:Pendekatan Praktis.Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Binaniaga.
Sismihardjo, 2008. Kajian Agronomis Tanaman Buah dan Sayuran pada Struktur Agroforestri
Pekarangan di Wilayah Bogor, Puncak dan Cianjur (Studi Kasus di DAS Ciliwung dan DAS Cianjur). Tesis, Program Studi Agronomi, Sekolah Pasca Sarjana.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Soedarya, P., 2009. Budidaya Usaha Pengolahan Agribisnis Nanas. Bandung: Pustaka Grafika.
Sofyan, I., 2004. Mempelajari Pengaruh Ketebalan Irisan dan Suhu Penggorengan Secara Vakum terhadap Karakteristik Keripik Melon.Infomatek 6(3): 161−180. Suratiyah, K., 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.