• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Pemenuhan Gizi Keluarga

Upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan diantaranya sumberdaya alam (lahan dan air) yang semakin terbatas, konversi lahan pertanian ke non pertanian kian meningkat, konversi bahan pangan menjadi bahan bakar menuntut pemerintah mengeluarkan peraturan/undang-undang yang mendukung ketahanan pangan serta perubahan iklim, maka pemerintah menciptakan program-program yang berbasis pangan. Undang-undang maupun program tentang pangan yang telah dibuat oleh pemerintah, disamping untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah juga untuk menciptakan kemandirian maupun kedaulatan pangan, walaupun dalam membangun ketahanan pangan ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Ketika dimulainya kekuasaan era orde baru, sekitar tahun 1969, bertepatan dengan tuntutan masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik, maka program peningkatan ketahanan pangan untuk memenuhi gizi keluarga mulai digalakkan dan dikampanyekan. Pada tahun 1950-an diperkenalkan usaha penganekaragaman pangan; tahun 1960-an pemerintah mulai menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi pangan non beras; tahun 1963 pemerintah terus mengembangkan usaha perbaikan gizi keluarga melalui perbaikan makanan rakyat; tahun 1974 di akhir pelita I pemerintah mencanangkan kebijakan diversifikasi pangan dengan membentuk Unit Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR) melalui Inpres No 14 tahun 1974; tahun 1979 pemerintah menyempurnakan kebijakan tersebut dengan mengeluarkan Inpres No. 20 tahun 1979 tentang program Diversifikasi Pangan dan Gizi Keluarga (DPG). Program-program ketahanan pangan inilah yang menjadi andalan pemerintah era orde baru. Perkembangan kebijakan tentang penganekaragaman konsumsi pangan sejak tahun 1960 sampai dengan 2012 dapat dilihat dalam Tabel 1. Namun demikian implementasi program tersebut hingga kini masih berjalan lamban, hal tersebut menurut Krisnamurti (2003) disebabkan oleh (1) lemahnya promosi tentang pentingnya diversifikasi

konsumsi pangan; (2) rendahnya produk sumber karbohidrat non beras yang diterima oleh konsumen; (3) anggapan masyarakat tentang mutu, gizi, citra, dan nilai sosial ekonomi produk non beras rendah.

Tabel 1. Perkembangan Kebijakan Tentang Penganekaragaman Konsumsi Pangan pada Lahan Pekarangan

Tahun Program Kebijakan

1960 Program Perbaikan Menu Makanan Rakyat

1969 Pemerintah mempopulerkan slogan “Pangan Bukan Hanya Beras” dengan tujuan untuk memanfaatkan bahan pangan lokal, maka diperkenalkan Beras Tekad dari singkong untuk mengganti beras. 1974 Pencanangan kebijakan diversifikasi pangan (INPRES No. 14 Tahun

1974) tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat disempurnakan dengan Inpres Nomor 20 Tahun 1979 tentang Menganekaragamkan Jenis Pangan dan Meningkatkan Mutu Gizi Makanan Rakyat.

1993-1998 Program Diversifikasi Pangan dan Gizi dilaksanakan oleh Departemen Pertanian

1989 Dibentuk Kantor Menteri Negara Urusan Pangan dengan Program “Aku Cinta Makanan Indonesia”.

1996 Undang-undang No. 7 Tentang Pangan

2002 Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tentang Ketahanan Pangan

2009 Peraturan Presiden RI No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber daya Lokal 2009 Peraturan Menteri Pertanian No. 43/Permentan/ OT.140/10/2009,

Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP).

2009 Undang-Undang No. 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan 2010 Peraturan Menteri Pertanian No.65/Permentan/ OT.140/12/2010

tentang SPM Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota. 2010 Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2010 tentang Pembangunan yang

berkeadilan

1. Kementerian PPN/Bappenas bertanggung jawab dalam Penyusunan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) 2011-2015;

2. Pemerintah Provinsi melalui Gubernur diinstruksikan untuk menyusun Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (atau disingkat RAD-PG) pada Tahun 2011

2010 Undang-Undang No. 13 tentang Hortikultura 2012 Undang-Undang No.18 tentang Pangan

Program seperti Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (m-KRPL) dan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) merupakan strategi yang dilakukan pemerintah dalam upaya meningkatkan konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman berdasarkan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya setempat. Keberagaman pola konsumsi pangan atau diversifikasi pangan dilakukan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya saing. Program tersebut juga dimaksudkan sebagai upaya menurunkan konsumsi beras sebagai bahan pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Data Human

Development Reports UNDP (United Nations Development Programme) tentang Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) 2011, mengindikasikan bahwa Indonesia dikategorikan ke dalam Medium Human Development dan menduduki peringkat 124 dari 187 negara, sementara Singapura peringkat 26, Brunei Darussalam peringkat 33, Malaysia peringkat 61, Thailand peringkat 103 dan Vietnam peringkat 128 (Kementerian Pertanian, 2012).

Pendekatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) menjadi pilihan pemerintah pada tahun 2013. Pendekatan ini memanfaatkan dan mengoptimalkan setiap celah pekarangan di sekitar rumah tinggal, seperti di bagian depan, belakang, samping, bahkan atap rumah, tembok rumah, pagar maupun ruang bawah dapat dijadikan sebagai media penanaman atau budidaya aneka tanaman. Program ini melibatkan kelompok wanita dalam mengelola KRPL, program optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara nasional dalam kurun waktu tahun 2011-2015 adalah sebesar 12.000 desa di 33 Provinsi (Badan Ketahanan Pangan, 2013).Program ini telah didukung oleh pemerintah Provinsi dengan terbitnya peraturan/surat edaran Gubernur di 33 provinsi dan peraturan/surat edaran bupati/walikota di hampir 300 kabupaten/kota. Bentuk dukungan berupa peraturan maupun surat edaran tersebut perlu di tindak lanjuti dengan pendampingan ke lokasi yang telah di tentukan. Partisipasi dan swadaya masyarakat untuk mewujudkan KRPL sangat menentukan keberhasilan program. Dukungan pemerintah berupa dana/biaya serta peraturan akan lestari apabila masyarakat mempunyai human capital yaitu pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan seseorang yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut. Sedangkan social capital merupakan syarat dalam menggerakkan sebuah kelompok, modal sosial ini sebagai perekat yang mengikat semua orang dalam sebuah kelompok (KWT). Pengalaman di lapangan dapat memberikan gambaran bahwa kegiatanm-KRPL yang dilaksanakan BPTP Jawa Tengah di beberapa Kabupaten tingkat keberhasilannya ditentukan oleh partisipasi masyarakat, dan keberadaan agen pembaharu di desanya. Agen pembaharu yang umumnya mempunyai human capital akan mampu mengelola ide,gagasan secara kolektif, sehingga akan terbangun modal sosial yang berperan dalam penguatan kelembagaan kelompok (KWT). karena modal sosial tersebut akan memfokuskan pada jaringan, yaitu hubungan antar individu, saling percaya dan norma setempat yang mengatur jaringan kerjasama tersebut (Yohanes et al., 2009). Didalam kelompok akan terbangun nilai berbagi yang terekspresikan dalam hubungan-hubungan individu, kepercayaan, serta tanggung jawab bersama dalam pengambilan peran di kelompoknya.

Daftar Pustaka

Badan Ketahanan Pangan, 2012. Roadmap Diversifikasi Pangan 2011-2015:Edisi 2. . Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Badan Ketahanan Pangan, 2013. Pedoman Pelaksanaan Gerakan Percepatan

Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Tahun 2013.Jakarta: Kementerian

Pertanian Republik Indonesia.

Krisnamurti,B., 2003. Penganekaragaman Pangan: Pengalaman 40 Tahun dan Tantangan Kedepan. Jurnal Ekonomi Rakyat II.

Nugroho, dan Dahuri, 2012.Pembangunan wilayah: perspektif

ekonomi

,

sosial

, dan lingkungan. Jakarta: LP3ES.

Widoyoko Y, BW Andibya, B Nugroho, AG Affansha, MY Arbi, dan Riwanto, 2010.

Suara Dari Desa Peran Strategis KTNA dalam Pengembangan Pertanian Nasional.

Jakarta: Gibon Books.

Yohanes, GB, Sunaru, Ageng, dan Mudiono, 2009. Pengaruh Modal Sosial dan Keterdedahan Informasi Inovasi Terhadap Tingkat Adopsi Inovasi Jagung di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.Jurnal Agro Ekonomi 27(1).

MENUJU TUMPENG GIZI SEIMBANG