• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Kesehatan Perbankan Melalui Analisis CAMEL

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Penilaian Kesehatan Perbankan Melalui Analisis CAMEL

Dalam industri perbankan, rasio-rasio ini dipilah kembali dan digunakan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kesehatan bank-bank atau yang lazim dikatakan sebagai rasio-rasio keuangan CAMEL. Dalam hal ini kinerja dari bank diukur dengan kriteria kecukupan modal, kualitas aktiva produktif, aspek manajemen, rentabilitas dan likuiditas. Machfoedz (1999) mengemukakan bahwa teknik CAMEL tidak dapat diterapkan sepenuhnya (hanya berdasar rasio keuangan yang digunakan dalam pengukuran kinerja aspek permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, dan likuiditas) namun disesuaikan dengan ketersediaan data yang ada. Rinaldi dkk (1995) mengatakan bahwa CAMEL tidak bisa diterapkan sepenuhnya karena aspek-aspek dasar yang menjadi landasan penilaian kesehatan perbankan belum bisa dilacak dari laporan keuangan bank.

Penulis berusaha mendapatkan formula perhitungan CAMEL berdasar peraturan yang ada dan menemukan sebuah acuan yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu perhitungan CAMEL berdasar Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 lampiran 14 tentang pedoman

perhitungan rasio keuangan. Berdasarkan lima aspek tersebut akan dapat diketahui tingkat kesehatan bank-bank dalam sampel. Sedangkan rekapitulasi faktor-faktor yang dinilai beserta masing-masing bobotnya dapat diketahui berdasarkan tatacara penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (SK BI No. 30/277/KEP/DIR 19 Maret 1998) dan akan dicantumkan dalam lampiran beserta data dari masing-masing rasio dalam CAMEL.

Masing-masing aspek dalam CAMEL adalah (Karo Karo, 2001): 2.6.1 Aspek Permodalan

Pemerintah selalu menganjurkan kepada kalangan perbankan agar memperhatikan ketentuan pemerintah dalam hal permodalan terutama menyangkut CAR yang mengindikasikan kekuatan permodalan perbankan Indonesia. Perhitungan CAR ini sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 lampiran 14 tentang pedoman perhitungan rasio keuangan. Bank yang diangap sehat adalah bank yang memiliki CAR diatas 8% dengan bobot perhitungan sebesar 25%. Komponen modal inti meliputi modal disetor, modal sumbangan, agio saham, cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak, dan laba bank setelah diperhitungkan pajak. Modal pelengkap terdiri dari modal pinjaman, pinjaman subordinasi, dan cadangan yang dibentuk tidak berasal dari laba. Pinjaman subordinasi yang diperhitungan tidak lebih dari 50% dari modal inti, sedangkan modal pelengkap yag diperhitungakan sebagai modal bank setinggi-tinginya 100% dari modal inti.

CAR, merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. Rumus CAR adalah :

% 100 Resikox Menurut tertimbang Aktiva Bank Modal CAR= (2.1)

Aktiva tertimbang menurut resiko mencakup beberapa pos dalam neraca yang dengan bobot resiko tersendiri sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001.

2.6.2. Kualitas Aktiva Produktif

Kualitas aktiva produktif adalah semua aktiva dalam rupiah atau valas yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya, yaitu: pemberian kredit, kepemilikan surat-surat berharga, dan penempatan dana kepada bank lain baik dari dalam maupun luar negeri terkecuali penanaman dana dalam bentuk giro atau penyertaan (Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001).

Keadaan kualitas aktiva produktif akan terus dipantau oleh pihak bank karena kualitas aktiva produktif dalam neraca bank akan mempengaruhi keadaan serta perkembangan dari bank itu sendiri. Penanaman modal yang dilakukan dalam aktiva produktif akan dinilai kualitasnya dengan menentukan kolektibilitas dari aktiva yang bersangkutan. Kolektibilitas itu sendiri adalah keadaan pembayaran pokok pinjaman atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh nasabah serta tingkat kemungkinan

diterimanya kembali dana yang telah ditanamkan dalam surat berharga atau penanaman dalam bentuk lain. Kesemuanya itu dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yaitu: Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan, Dan Macet. Penilaian kualitas aktiva produktif dapat dilakukan dengan empat rasio (Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001), yaitu:

a. Aktiva produktif bermasalah terhadap total akitva produktif. Aktiva produktif bermasalah adalah aktiva produktif dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Aktiva produktif bermasalah tidak dihitung secara bersih (neto) karena tidak dikurangkan terhadap penyisihan penghapusan aktiva produkif.

b. NPL (Non Performing Loan). Rasio ini menghitung tingkat kredit bermasalah bila dibandingkan dengan total kredit yang telah diberikan kepada pihak ketiga namun tidak termasuk kredit yang diberikan ke bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit yang dklasifikasikan dalam kredit kurang lancar, diragukan, dan macet. Sedangkan kredit bermasalah itu sendiri dihitung secara kotor (gross) dengan tidak mengurangkan dengan penyisihan penghapusan aktiva produktif. Secara umum NPL dirumuskan : % 100 x diberikan yang kredit Jumlah bermasalah Kredit NPL= (2.2)

c. Penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap total aktiva produktif. Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat penyisihan penghapusan aktiva produktif yang telah dibentuk pihak bank bila dibandingkan dengan total aktiva yang dimiliki. Sementara itu, cakupan komponen aktiva produktif yang

dipakai sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001.

d. Pemenuhan penyisihan penghapusan aktiva produktif. Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat penyisihan penghapusan aktiva produktif yang telah dibentuk bank apabila dibandingkan dengan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang telah diwajibkan untuk dibentuk sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001.

2.6.3 Aspek Manajemen

Kemampuan pihak manajemen dalam menjalankan bisnis perbankan yang dia kelola menjadi salah satu kebutuhan yang sangat menonjol. Apalagi dalam kondisi krisis seperti ini, manajemen yang handal diharapkan akan dapat mencerahkan kembali sektor perbankan nasional yang sempat terpuruk akhir-akhir ini. Oleh karena itu, pihak manajemen bank juga akan diberikan daftar pertanyaan yang wajib diisi oleh pihak manajemen dan pertanyaan ini akan diberi skor total dengan bobot perhitungan sebesar 25%. Pertanyaan wajib yang harus diisi oleh pihak manajemen perbankan terdiri dari pertanyaan tentang manajemen resiko dengan bobot 10% dan manajemen umum dengan bobot 15%. (Karo-Karo, 2001).

Aspek manajemen pada penelian kinerja bank tidak dapat menggunakan pola yang ditetapkan Bank Indonesia, tetapi diproksikan dengan profit margin (Riyadi, 2003). Alasannya, seluruh kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup

manajemen permodalan, manjemen kualitas aktiva, menajemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen likuiditas pada akhirnya akan mempengaruhi dan bermuara pada perolehan laba.

NIM (Net Interest Margin). Rasio ini digunakan untuk mengetahui pendapatan bunga bersih dalam 12 bulan yang mampu diperoleh bank apabila dibandingkan dengan rata-rata aktiva produktif bank. Pendapatan bunga bersih ini diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi dengan beban bunga. Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aktiva produktif yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan bunga. Rumus NIM yaitu :

produktif aktiva rata rata bersih pendapa NIM − = tan (2.6) 2.6.4. Penilaian Rentabilitas

Penilaian rentabilitas penting karena menyangkut kemampuan bank dalam memperoleh laba. Dengan laba yang kuat bank akan dapat berkembang dengan baik. Rentabilitas digunakan untuk menilai keberhasilan bank dalam menghasilkan laba sebelum pajak melalui penanaman yang dilakukan untuk seluruh aktiva yang dimiliki atau berdasarkan kemampuan bank manghasilkan laba setelah pajak berdasarkan modal yang dimiliki. Selain itu, rentabilitas juga dapat dilihat dari pendapatan bunga bersih yang mampu dihasilkan pihak bank bila dibandingkan dengan aktiva produktif yang dimiliki oleh pihak bank. Rentabilitas juga dinilai berdasarkan total beban operasional yang ditanggung oleh pihak bank dibandingkan dengan kemampuan bank

dalam menghasilkan pendapatan operasional. Rasio yang digunakan dalam perhitungan rasio ini adalah (Surat Edaran Bank Indonesia Nomer 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001):

a. ROA (Return On Assets). Rasio ini digunakan untuk mengetahui tingkat laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir bila dibandingkan dengan rata-rata volume usaha dalam periode yang sama. Dengan kata lain, ROA ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menggunakan asset yang dimilikinya untuk menghasilkan laba kotor. Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan ROA menunjukkan kemampuan atas modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba. ROA (Return On Asset) adalah rasio keuntungan bersih setelah pajak untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari asset yang dimiliki oleh perusahaan. ROA yang negatif disebabkan laba perusahaan dalam kondisi negatif pula atau rugi. Hal ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan secara keseluruhan belum mampu untuk menghasilkan laba. ROA adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari total aktiva. ROA dirumuskan sebagai berikut:

aktiva total tax tafter profi ROA= (2.4)

b. ROE (Return On Equity). Rasio ini digunakan untuk mengetahui tingkat laba setelah pajak dalam 12 bulan terakhir apabila dibandingkan dengan tingkat equity yang dimiliki bank. Dengan kata lain, ROE digunakan untuk mengetahui

kemampuan bank dalam penggunaan modal yang dimiliki untuk menghasilkan laba bersih. ROE merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan suatu laba bagi pemegang saham biasa. Rasio ini menunjukkan bagian keuntungan perusahaan yang berasal dari (atau menjadi hak) modal sendiri. Rasio ini menunjukkan bagian keuntungan yang berasal dari shareholders’ equity (modal sendiri). Rasio ini membandingkan laba bersih setelah pajak (EAT) dan menunjukkan earning power perusahaan. ROE dapat dirumuskan sebagai berikut: equity total tax after profit ROE= (2.5)

c. BOPO (Beban operasi terhadap pendapatan operasi). Rasio ini digunakan untuk mengetahui tingkat perbandingan antara biaya operasional yang ditanggung bank apabila dibandingkan dengan pendapatan oprasional yang mampu dihasilkan. Rasio ini diharapkan kecil karena biaya yang terjadi diharapkan dapat tertutupi dengan pendapatan operasional yang dihasilkan pihak bank. Rumus BOPO yaitu :

operasi pendapa operasi beban BOPO tan = (2.7) 2.6.5 Penilaian Likuiditas

Likuiditas diukur dengan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhannya, misalnya untuk rasio lancar (quick ratio) digunakan untuk mengukur kemampuan aktiva lancar dalam menjamin hutang lancar perusahaan. Likuiditas ini dapat dibagi dua, yaitu likuiditas jangka pendek dan likuiditas jangka panjang. Dalam perbankan,

rasio yang digunakan hanya satu, yaitu: LDR (Loan to Deposit Ratio). LDR merupakan rasio yang menggambarkan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang mungkin dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dana ini dapat berupa giro, tabungan, maupun deposito yang dimiliki deposan. LDR, merupakan rasio untuk mengukur komposisi jumlah kredit yang diberikan dibandingkan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan. Besarnya Loan to Deposit Ratio menurut peraturan pemerintah maksimum adalah 110%. Kasmir (2006). Rumus untuk mencari Loan to Deposit Ratio sebagai berikut:

% 100 Deposit Total x Loan Total Ratio Deposit to Loan = (2.8)

Dokumen terkait