• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENILAIAN KETERAMPILAN (KINERJA)

Dalam dokumen Pedoman Penilaian oleh Pendidik (Halaman 78-103)

BAB I PENDAHULUAN

BAB 3 MODEL-MODEL PENILAIAN KELAS

C. PENILAIAN KETERAMPILAN (KINERJA)

Penilaian keterampilan atau kinerja (performance assessment)adalah penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Para ahli menggunakan istilah “Performance Assessment” secara berbeda-beda dengan merujuk kepada pendekatan penilaian yang berbeda pula.Menurut Fitzpatrick dan Morison (1971) sebenarnya tidak ada perbedaan yang berarti antara “Performance Assessment”dengan tes lainnya yang dilaksanakan peserta didik di dalam kelas, yang membedakan adalah sejauh mana tes itu dapat mensimulasikan situasi dari kriteria-kriteria yang diharapkan.Sementara menurut Trespeces (1999) “Performance Assessment” adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahamannya dan mengaplikasikan pengetahuan, serta keterampilannya dalam berbagai macam konteks.

Karakteristik Dasar

Menurut Maertel (1992), performance assessment mempunyai dua karakteristik dasar yaitupeserta didik diminta untuk (1) mendemontrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas

(proses/perbuatan/praktik), dan (2)menghasilkan suatu produk, atau kedua-duanya. Dalam hal memilih, apakah yang akan dinilai itu produk atauproses(perbuatan) tergantung pada karakteristik domain yang diukur (Messirh, 1994). Misalnya, dalam bidang seni sepertiactingdan menari, proses (perbuatan) dan produknya sama penting. Selanjutnya, dalamcreative writing menilai produk adalah fokus yang utama.

Kualitas Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja yang berkualitas harus memperhatikan kriteria berikut:

1) Generability, artinya kinerja peserta didik dalam melakukan tugas yang diberikan pendidik dapat digeneralisasikan dengan tugas-tugas lainnya, terutama bila peserta didik diberi tugas dalam penilaian keterampilan yang berlainan.

2) Authenticity, artinya tugas yang diberikan kepada peserta didik sudah sesuai dengan apa yang sering dihadapinya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

3) Multiple foci, artinya tugas yang diberikan kepada peserta didik mengukur lebih dari satu aspek kemampuan yang diinginkan.

4) Teachability, artinya tugas yang diberikan merupakan tugas yang hasilnya relevan dengan yang diajarkan pendidik di kelas.

5) Fairness, artinya tugas yang diberikan sudah adil (fair) untuk semua peserta didik, tidak “bias” untuk semua kelompok jenis kelamin, suku bangsa, agama, atau status sosial ekonomi. 6) Feasibility, artinya tugas-tugas yang diberikan kepada peserta

didik dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja dapat dilaksanakan oleh peserta didik, misalnya yang berkaitan dengan faktori biaya, ruangan (tempat), waktu, atau peralatannya.

7) Scorability, artinya tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat diskor dengan akurat dan reliabel. Karena memang salah satu yang sensitif dari penilaian keterampilan atau penilaian kinerja adalah penskorannya.

Langkah-langkah dalam Penilaian Kinerja

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja antara lain adalah:

1) Mengidentifikasi semua langkah-langkah penting yang akan mempengaruhi hasil akhir (output).

2) Menuliskan dan menpendidiktkan semua aspek kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir (output) yang terbaik. 3) Mengusahakan aspek kemampuan yang akan diukur tidak

terlalu banyak, sehingga semuanya dapat diobservasi selama peserta didik melakspeserta didikan tugas.

4) Mendefinisikan dengan jelas semua aspek kemampuan yang akan diukur. Kemampuan tersebut atau produk yang akan dihasilkan harus dapat diamati (observable).

5) Memeriksa dan membandingkan kembali semua aspek kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan (jika ada pembandingnya).

PenilaianKinerja

Dalam melakukan penilaian kinerja digunakan dua metoda/pendekatan, yaitu holistic dananalytic.Metoda holistic digunakan apabila pemberi skor (rater) hanya memberikan satu macam skor atau nilai (single rating) berdasarkan kesan mereka secara keseluruhan dari hasil kinerja peserta didik. Sedangkan

pada metoda analytic pemberi skor (rater) memberikan penilaian (skor) pada berbagai aspek kinerja yang berbeda.

Dalam penilaian kinerja dengan metoda analytic dapat menggunakan (1)checklistdan (2)rating scales.

1. Checklist

Penilaian/penskoran menggunakan checklists merupakan cara yang paling sederhana. Melalui cara penskoran ini semua aspek kinerja/perbuatan tertentu dari peserta didik atau produk yang dihasilkan peserta didik dapat diamati oleh penilai atau penskor. Peserta didik akan mendapat skor (centang) jika ia mengerjakan tahapan tertentu dari tugas yang diberikan dan sebaliknya. Jadi metoda checklist hanya memberikan dua kategori penilaian (dichotomous scoring).

Ada beberapa kelemahan dari metoda checklist, yaitu: (1) penilai atau penskor hanya bisa memilih dua pilihan yang absolut, yaitu aspek kinerja teramati dan tidak teramati, jadi tidak ada nilai di tengahnya. (2) sukar sekali untuk menyimpulkan kinerja seseorang dalam satu skor, misalnya untuk mengurutkan kinerja dari beberapa peserta didik.

Contoh Soal (Biologi SMA)

Siapkan 2 jenis jamur yang dapat kamu temukan di lingkungan! (1) Buatlah catatan mengenai tempat jamur tersebut ditemukan

dan keadaan di sekitarnya yang dapat menjelaskan habitatnya, misalnya: di lingkungan terbuka, lembab, banyak mendapat sinar matahari, di sekitarnya banyak tumbuhan, di air, atau keterangan lain.

(2) Amati ciri-ciri morfologi kedua jenis jamur tersebut, meliputi: bentuk, warna, ukuran, bau, dan lain sebagainya. (3) Bila diperlukan, lakukan pengamatan dengan menggunakan

mikroskop!

(4) Identifikasilah kedua jamur tersebut berdasarkan ciri-ciri morfologinya!

(5) Buatlah gambar atau skema kedua jamur tersebut dan tunjukkan bagian-bagian tubuhnya!

(6) Tentukan golongan kedua jamur itu!

(7) Tentukan cara reproduksi kedua jamur itu melalui studi pustaka!

(8) Buatlah laporan dari hasil pengamatanmu!

Contoh pedoman penilaian dengan menggunakanchecklist.

Nama: Petunjuk:

Berilah tanda centang (V) di depan huruf yang menunjukkan kemampuan peserta didik bila kemampuan itu teramati.

I. Persiapan pengamatan jamur

_________ A. Bahan dan alat yang diperlukan lengkap. _________ B. Jamur yang dipilih tepat.

_________ C. Semua alat dan bahan tersusun rapi untuk mempermudah kerja.

_________ D. Catatan mengenai habitat jamur lengkap. _________ E. Langkah-langkah pengamatan telah dibuat

dengan tepat II. Pelaksanaan pengamatan jamur

_________ A. Ciri-ciri yang diamati jelas _________ B. Ciri-ciri yang diamati lengkap _________ C. Prosedur pengamatan tepat _________ D. Penggunaan alat tepat

_________ E. Catatan hasil pengamatan dibuat langsung III. Hasil

_________ A. Hasil pengamatan lengkap

2.

Rating Scale

Penilaian kemampuan keterampilan/kinerja dengan cara lain adalah dengan menggunakan rating scale (skala rentang). Walaupun cara ini serupa dengan “checklists”, tetapi “rating scale” memungkinkan penilai atau pemberi skor untuk menilai kemampuan peserta didik secara kontinum (continuous scoring).

Contoh pedomanan penilaian dengan menggunakan rating scale (numerical rating scale)

Petunjuk: Untuk setiap kemampuan peserta didik, berilah tanda √ berdasarkan kriteria:

Skor 4 bila peserta didik melakukan dengan tepat Skor 3 bila peserta didik melakukan kurang tepat Skor 2 bila peserta didik melakukan tidak tepat Skor 1 bila peserta didik tidak melakukan Nama Peserta didik:

Aspek yang dinilai

Pelaksanaan oleh peserta didik (Skor)

1 2 3 4

A. Persiapan pengamatan jamur

1. Bahan dan alat yang diperlukan lengkap

√ 2. Jamur yang dipilih tepat √ 3. Semua alat dan bahan tersusun

rapi untuk mempermudah kerja

√ 4. Catatan mengenai habitat jamur

lengkap √

5. Langkah-langkah pengamatan

telah dibuat dengan tepat √

6. Ciri-ciri yang diamati jelas √ 7. Ciri-ciri yang diamati lengkap √ 8. Prosedur pengamatan tepat √

9. Penggunaan alat tepat √

10. Catatan hasil pengamatan

dibuat langsung √

C. Hasil

11. Hasil pengamatan lengkap √

12. Laporan hasil pengamatan

jelas dan lengkap √

Skor Perolehan 6 9 28 Skor Maksimum 48 Nilai akhir =

100

Maksimum

Total

skor

Jumlah

Sumber kesalahan dalam penskoran Penilaian

Kinerja

Kesukaran yang paling utama ditemukan dalam penilaian keterampilan/kinerja (performance assessment) adalah dalam hal penskorannya.Paling tidak ada tiga sumber kesalahan dalam penskoran penilaian keterampilan (Popham, 1995) yaitu :

(1) Masalah dalam instrumen

Instrumen pedoman penskoran tidak jelas sehingga sukar untuk digunakan oleh penilai. Selain itu aspek-aspek yang harus dinilai juga sukar untuk diskor, karena aspek-aspek tersebut sukar

untuk diamati (unobservable). Hal yang demikian akan mengakibatkan hasil penskoran menjadi tidak valid dan tidak akurat (tidak reliabel).

(2) Masalah prosedural

Prosedur yang digunakan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja tidak baik sehingga dapat mempengaruhi hasil penskoran.Masalah yang biasanya terjadi adalah pemberi skor (rater) harus menskor aspek-aspek yang terlalu banyak. Bagi rater,makin sedikit aspek yang harus dinilai, makin baik. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa dalam membuat pedoman penskoran, semua aspek penting yang mempengaruhi kualitas hasil akhir harus dicantumkan. Masalah lainnya adalah jumlah rater hanya satu orang, sehingga sukar untuk membuat perbandingan terhadap hasil penskorannya (adjustment). (3) Masalah bias pada pemberi skor

Pemberi skor (rater) cenderung sukar dalam hal menghilangkan masalah “personal bias”. Pada waktu melakukan penskoran terhadap hasil pekerjaan peserta didik, ada kemungkinanrater mempunyai masalah “generosity error”, artinyaratercenderung memberi nilai yang tinggi-tinggi, walaupun kenyataan yang sebenarnya hasil pekerjaan peserta didik tidak baik. Kemungkinan juga rater mempunyai masalah “severity error”, artinya rater cenderung memberi nilai yang rendah-rendah, walaupun kenyataannya hasil pekerjaan peserta didik tersebut baik. Kemungkinan lain, rater juga cenderung dapat memberi skor yang sedang-sedang saja, walaupun kenyataan yang sebenarnya hasil pekerjaan peserta didik ada yang baik dan ada yang tidak baik. Masalah lain adalah adanya kemungkinanrater tertarik atau simpati kepada peserta tes sehingga sukar baginya untuk memberi nilai yang objektif (halo effect).

Bentuk-Bentuk Penilaian Kinerja

Dalam penerapannya di lapangan beberapa penilaian dapat juga dikatagorikan ke dalam penilaian kinerja (performance assessment) yaitu penilaian kinerja yang menghasilkan suatu

produk dinamakanPenilaian Produk(product assessment).Ada pula bentuk tugas yang harus diselesaikan dalam periode tertentu, penilaian kinerja semacam ini disebut jugaPenilaian Proyek(project assessment).Adapun penjelasan rinci dari kedua bentuk penilaian kinerja tersebut adalah sebagai berikut.

Penilaian Produk

Penilaian Produk (hasil kerja peserta didik) adalah penilaian terhadap kualitas hasil karya peserta didik termasuk di dalamnya penilaian terhadap proses pengerjaan karya tersebut. Dalam penilaian produk terdapat dua aspek keterampilan yang dinilai yaitu:

1) Keterampilan peserta didik untuk menggunakan alat serta prosedur kerja dalam menghasilkan suatu karya (praktik); 2) Aspek kualitas teknis dan estetik karya peserta didik.

Penilaian ini biasa dilakukan pada matapelajaran kerajinan tangan dan kesenian, menggambar, praktek di laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),dan matapelajaran produktif di sekolah kejuruan yang hasil akhirnya berupa produk tertentu.

Hasil kerja peserta didik yang dimaksud adalah suatu benda yang dibuat misalnya dari kain, kertas, metal, kayu, plastik, keramik, dan hasil karya seni seperti lukisan, gambar, dan patung. Hasil kerja yang berupa aransemen musik, koreografi, karya sastra tidaktermasuk hasil kerja yang dimaksud disini..

Penetapan aspek penilaian

Pada proses pembuatan suatu produk, ada tiga tahapan yang harus dilalui peserta didik yaitu tahap persiapan atau perencanaan, tahap produksi, dan tahap akhir. Ketiga tahap itu merupakan suatu proses yang terpadu, sehingga penilaiannya pun harus terpadu.

Berikut adalah contoh penilaian hasil keterampilan peserta didik.

Perencanaan untuk menilai produk

Dalam merencanakan penilaian produk, pendidik harus melakukan seleksi terhadap karya yang akan dinilai dengan tujuan untuk menentukan tingkat kompetensi peserta didik. Kriteria tingkat kompetensi peserta didik didasarkan pada tingkat kesulitannya dalam membuat produk. Adapun kriteria tersebut sebagai berikut:

1) Relevan dan mewakili kompetensi yang diukur

Penilaian tingkat kompetensi peserta didik selain didasarkan pada sejumlah karya yang relevan, juga didasarkan pada keseluruhan aspek kompetensi yang diukur. Misalnya, penilaian produk harus didasarkan pada pemahaman dasar teorinya, proses kerjanya/keterampilannya, dan kualitas produknya. Jadi penilaian produk harus komprehensif.

Tahap persiapan: keterampilan peserta didik untuk merancang bentuk hiasan yang akan disulam ; keterampilan membuat gambar dan menyusun bahan yang diperlukan untuk membuat tas;

Tahap produksi: keterampilan untuk memilih motif dan jenis bahan yang cocok untuk gaun pesta;

Tahap akhir: keterampilan peserta didik untuk menghasilkan tas yang dapat berfungsi dan sekaligus mengandung aestetika atau indah. Pada tahap ini dinilai juga kemampuan peserta didik untuk mengevaluasi hasil karyanya.

Strategi yang dapat dilakukan untuk memastikan relevansi dan lingkup prroduknya adalah (a) Menentukan jenis tugas yang akan diberikan/dikembangkan kepada peserta didik(yang belum dan sudah terampil); (b) menetapkan tingkatan kompetensi yang akan diukur (setingkat di bawah dan atau setingkat diatasnya); dan (3) menetapkan aspek kompetensi yang akan diukur untuk setiap tahap pengerjaan tugas (tahap persiapan/perencanaan, tahap produksi, dan tahap akhir).

2) Jumlah dan objektivitas produk

Semakin banyak jenis produk yang dinilai untuk masing-masing kompetensi, akan semakinhandal kesimpulan yang dihasilkan. Penilaian produk yang objektif adalah penilaian yang tidak dipengaruhi oleh jenis bahan, pilihan karya peserta didik, dan pendidik yang menilai. Agar penilaian objektif, pendidik harus tetap berpegang pada kompetensi atau keterampilan menggunakan alat/bahan dan prosedur kerja yang benar serta kualitas teknis dan estetik karya peserta didik.

Pengelolaan Produk

Dalam menilai produk, pendidik harus mengelola karya peserta didik yang jumlahnya tidak sedikit dan mencatat hasil penilaiannya. Biasanya pendidik sudah merencpeserta didikan jenis produk yang harus dikumpulkan oleh peserta didik selama satu tahun ajaran. Jenis produknya tergantung pada spesifikasi tugas yang diberikan kepada peserta didik. Spesifikasi tugas ini yang dijadikan sebagai dasar penilaian hasil karya peserta didik. Spesifikasi tugas, yang tercantum pada lembar kerja, dapat bersifat umum (tidak rinci) atau bersifat rinci. Spesifikasi tugas yang bersifat umum memberi keleluasaan bagi peserta didik untuk berkreasi.

Spesifikasi tugas sebaiknya berisi hal-hal sebagai berikut: 1) Ada batasan (deskripsi pada lembar kerja tentang bahan/alat

kerja apa saja yang dapat digunakan untuk membuat karya tertentu) pada tahap persiapan/perencanaan. Batasan ini

diperlukan untuk membantu peserta didik agar dapat memfokuskan diri pada proses kerja. Selain itu, untuk mempermudah pendidik dalam menilai keterampilan atau aspek kompetensi yang diukur dalam tugas tersebut.

2) Merinci langkah-langkah yang harus dilakukan peserta didik dalam membuat karya tertentu. Hal ini akan membantu peserta didik untuk memfokuskan diri pada langkah-langkah yang akan dinilai.

3) Membuat kriteria penilaian secara jelas. Rincian tentang aspek, kompetensi, langkah/prosedur kerja, kualitas produk yang akan dinilai perlu ditulis secara eksplisit disertai nilainya.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk memastikankeadilan dan kehandalan penilaian produk antara lain sebagai berikut:

1) Menggunakan berbagai produk peserta didik untuk menilai satu kompetensi. Agar hasil penilaian dapat memberikan kesimpulan tentang tingkat kompetensi peserta didik secara akurat, penilaian harus didasarkan pada kumpulan beberapa produk peserta didik (portofolio untuk setiap peserta didik), dan bukan hanya berdasar pada satu produk.

2) Membuat rincian/spesifikasi tentang produk yang akan dinilai.

3) Membuat kriteria penilaian (beserta skornya) secara eksplisit, jelas dan rinci dalam hal: aspek, kompetensi, langkah kerja, dan kualitas produk yang akan dinilai.

Metode Penilaian Produk

Pendidik sebaiknya menfokuskan diri pada kompetensi produk yang sangat penting saja dan menyimpan serta mencatatnya secara efisien.Beberapa metode yang digunakan pendidik untuk menilai dan mencatat produk/hasil karya peserta didik antara lain:

1) Skala Penilaian Analitis/SPA (Analytic Rating)

Skala Penilaian Analitis (SPA) adalah penilaian yang dibuat berdasarkan beberapa aspek pada hasil karya peserta didik.Dalam hal ini pendidik menilai produk peserta didik dari berbagai perspektif atau kriteria.Misalnya, pada jurusan fotografi, foto hasil karya peserta didik dinilai dari segi keterampilan teknis dan kualitas hasil foto secara visual.

SPA biasanya digunakan untuk menilai kemampuan pada tahap persiapan/perencanaan dan tahap akhir.Pada kedua tahap tersebut pendidik dapat menilai desain atau hasil kerja peserta didik dari berbagai perspektif atau kriteria.Untuk setiap keterampilan yang diukur, ditentukan beberapa kriteria yang harus dipenuhi.Berikut adalah contoh Skala penilaian Analitis. Contoh.Penggunaan analytic rating di jurusan seni dan desain.

No. Kriteria 1Tingkat kemampuan2 3 4 5

1 Pemikiran dan ekspresi yang

kreatif

2 Ketekunan dalam riset 3 Keterampilan teknis

4 Pemahaman karakteristik dan fungsi dari media yang dipilih

5 Pemahaman dasar-dasar desain 6 Evaluasi diri sendiri

(Sumber:ACER) Catatan: Skala bergerak dari 1 – 5, skala nilai yang terendah (1)

menunjukkan kualitas keterampilan yang rendah, sedang skala nilai yang tinggi (5) menunjukkan kualitas keterampilan yang tinggi.

Ada beberapa cara pencatatan hasil penilaian dalam SPA, yaitu pencatatan dengan menggunakan tiga kategori (rendah – sedang – tinggi), lima kategori (nilai 1 – 5), atau enam kategori (sangat tinggi – tinggi – sedang – rendah – sangat rendah – tidak tampak).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun SPA:

(1) Kriteria yang ditetapkan harus berdasarkan keterampilan yang menjadi tujuan pembelajaran. Semakin mirip antara kriteria dengan keterampilan yang menjadi tujuan pembelajaran, semakin sahih bukti atau data tersebut. Misalnya, tujuan pembelajaran: “Mampu menggunakan elemen, keterampilan, teknik, dan proses seni untuk membentuk karya seni”, penilaiannya dapat dilakukan melalui beberapa tugas dengan kriteria “Dapat mengeksplorasi berbagai teknik dan menentukan satu teknik yang tepat untuk media tertentu”. Kriteria tersebut merupakan contoh perilaku yang mencerminkan keterampilan pada tujuan pembelajaran tersebut.

(2) Untuk setiap kategori pada criteria, sebaiknya dibuat deskripsi keterampilan yang diharapkan pada kategori tersebut.

2) Skala Penilaian Holistik/SPH (Holistic Rating)

Skala Penilaian holistik (SPH) adalah penilaian secara menyeluruh terhadap produk.Penilaian holistik biasanya digunakan untuk penilaian pada tahap akhir.Misalnya, penilaian terhadap kualitas produk dan penilaian terhadap kemampuan peserta didik untuk mengevluasi produk/hasil karyanya.

Holistic rating terhadap kualitas hasil seni peserta didik: “Sejauh mana hasil seni peserta didik dapat mengkomunikasikan ide peserta didik”. Pendidikdapat membuat skala penilaian yang memiliki interval 0 – 4, dimana masing-masing kategori diikuti deskripsi perilakunya.Berikut adalah contohHolistic rating.

3) Checklist (Daftar Cek)

Pendidik biasanya menuliskan sejumlah keterampilan yang akan diukur dalam setiap tugas yang diberikan, dan kemudian menilai apakah selama penyelesaian tugas tersebut peserta didik sudah menunjukkan keterampilan yang dimaksud. Jadi dalam checklist hanya dinilai keterampilan yang dapat dilakukan peserta didik (bukan kualitas karya peserta didik).

Bila keterampilan yang akan diukur masih bersifat umum (misalnya mampu merancang bentuk dan menentukan bahan/alat yang diperlukan untuk membuat lampu duduk), pendidik masih mempertimbangkan berapa kali harus melakukan pengamatan dan dalam konteks apa saja pengamatan itu dilakukan. Tetapi bila keterampilan yang akan diukur bersifat spesifik (misalnya menjahit keliman/lipatan pada baju), pendidik harus mempertimbangkan apakah perilaku tersebut merupakan

Sangat tinggi

Hasil karya mengandung pesan yang kuat dengan menggunakan elemen seni yang meyakinkan; keterampilannya prima, dan penyelesaian hasil yang baik.

Baik

Punya tujuan yang jelas, menunjukkan penggunaan elemen yang cukup, penyampaian pesan yang memadai.

Cukup

Menggunakan elemen seni untuk mengkomunikasikan ide pokok, memiliki keterkaitan antara kesan dengan ide dan tujuan, tetapi tanpa “rasa”.

Rendah

Kurang tampak tujuannya, tidak ada keterkaitan antara kesan dengan ide.

Tidak tampak

Tidak mengandung makna, tidak ada “rasa”, tidak tampakadanya kesan.

indikator dari keterampilan yang diukur pada tujuan pembelajaran.

Pada waktu menggunakan metode analitis atau holistik, pendidik dapat meminta bantuan orang lain untuk melakukan penilaian, seperti: peserta didik, teman-teman sekelasnya, atau orang tuanya. Penilaian yang dilakukan oleh orang lain akan membantu pendidik memperoleh informasi yang tidak dapat diperoleh pendidik di kelas, seperti kemampuan peserta didik untuk menganalisis dan mengevaluasi hasil kerjanya. Penilaian dari orang tua akan memberi informasi tentang proses/prosedur kerja di luar konteks sekolah. Misalnya keterampilan peserta didik untuk memasak dan menyajikan makan malam.

Dalam melakukan penilaian produk/hasil karya perlu diperhatikan hal berikut:(1) Pedoman penskoran agar dibuat sejelas mungkin supaya skor dari penilai yang berbeda dapat diperbandingkan;(2) Pelatihan untuk pendidik dalam melakukan penilaian. Pendidik harus memiliki konsep yang sama tentang kriteria yang ditetapkan dalam penilaian.

Pelaporan

Penilaian produk dapat digunakan untuk melaporkan prestasi belajar peserta didik. Estimasi tentang prestasi peserta didik akansahih, handal dan objektif bila bukti yang dijadikan sebagai dasar dalam penilaian berkualitas baik. Kesahihan estimasi itu tergantung pada relevansi antara keterampilan yang diamati pendidik dengan kompetensi yang dilaporkan. Kehandalan estimasi tergantung pada jumlah informasi atau karya peserta didik yang dapat dinilai. Semakin banyak bukti yang dapat dinilai, semakinhandalestimasi tersebut. Objektivitas estimasi tergantung pada sejauhmana hasil penilaian dipengaruhi oleh jenis karya yang dipilih peserta didik dan penilai.

1) Pelaporan menggunakan cara holistik

Pelaporan prestasi peserta didik dengan menggunakancara holistikadalah dengan membuat rata-rata nilai dari seluruh karya peserta didik yang dinilai.Misalnya, terdapat 4 tugas yang dinilai. Seorang peserta didik memperoleh nilai sebagai berikut: 3 tugas berada pada level 3, dan 1 tugas berada pada level 4. Kesimpulan yang tepat adalah meletakkan peserta didik pada level 3 bagian atas (yang mendekati level 4).

2) Pelaporan menggunakanchecklist

Pelaporan peserta didik dapat juga dilakukan dengan checklist. Bila menggunakan cara ini, pendidik harus dapat menentukan kriteria kapan seorang peserta didik dikatakan sudah kompeten. Apakah cukup menguasai beberapa kemampuan saja, hampir semua kemampuan, atau menguasai semua kemampuan. Biasanya pendidik menggunakan kriteria bahwa untuk dikatakan kompeten pada level tertentu peserta didik harus menguasai semua kemampuan kunci pada level tersebut.

Penilaian Proyek

Penilaian Proyek (project assessment) merupakan salah satu bagian dari penilaian kinerja (performance assessment). Penilaian Proyek didefinisikan sebagai penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam periode tertentu. Tugas yang dimaksud adalah suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data, sedangkan periode untuk menyelesaikannya, misalnya, selama dua minggu, satu bulan, satu semester, atau lebih.

Penilaian proyek juga dilakukan pada proses dan produk

Dalam dokumen Pedoman Penilaian oleh Pendidik (Halaman 78-103)

Dokumen terkait