TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teoritis
2.1.3. Penilaian Kinerja Perusahaan
Tingkat kesehatan BUMN ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja
perusahaan untuk tahun buku yang bersangkutan yang meliputi penilaian:
a. Aspek Keuangan,
b. Aspek Operasional,
c. Aspek Administrasi.
Penilaian tingkat kesehatan BUMN diterapkan bagi BUMN apabila hasil
pemeriksaan akuntan terhadap perhitungan keuangan tahunan perusahaan yang
bersangkutan dinyatakan dengan kualifikasi “Wajar Tanpa Pengecualian” atau
kualifikasi “Wajar dengan Pengecualian” dari Kantor Akuntan Publik (KAP) atau
2.1.3.1. Aspek keuangan
a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Mengadakan analisis terhadap hubungan dari berbagai pos dalam suatu
laporan keuangan merupakan dasar untuk bisa menginterpretasikan kondisi keuangan
dan hasil operasi dalam suatu perusahaan. Untuk mengadakan interpretasi tersebut
tentunya seorang analisis memerlukan suatu ukuran. Ukuran yang umum digunakan
untuk mengetahui kinerja perusahaan di bidang keuangan adalah analisis keuangan.
Rasio merupakan alat yang digunakan dalam artian relative maupun absolute untuk
menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angka yang lain dari
suatu laporan keuangan (Alwi, 1994: 107). Pengertian lain tentang rasio keuangan
menurut Horne dalam Kasmir (2008: 104) merupakan indeks yang menghubungkan
dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka
lainnya. Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan
yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu (Helfert,
1996: 87).
Subramanyam (2010: 43) membagi analisa rasio untuk diterapkan dalam tiga
area penting analisis laporan keuangan:
1. Analisis Kredit (Risiko)
a. Likuiditas. Untuk mengevaluasi kemampuan kewajiban jangka pendek.
b. Struktur modal dan solvabilitas. Untuk menilai kemampuan memenuhi
2. Analisis Profitabilitas
a. Tingkat pengembalian atas investasi (return on investment-ROI). Untuk
menilai kompensasi keuangan kepada penyedia pendanaan ekuitas dan utang.
b. Kinerja Operasi. Untuk mengevaluasi margin laba dari aktivitas operasi.
c. Pemanfaatan aset (asset utilization). Untuk menilai efektivitas dan intensitas
dalam menghasilkan penjualan, disebut pula perputaran (turnover).
3. Valuasi. Untuk mengestimasi nilai instrinsik perusahaan (saham).
Bernsten dalam Mulyadi (2001: 75) membagi angka-angka keuangan ke
dalam beberapa bagian yaitu:
a. Rasio-rasio untuk menilai likuiditas,
b. Rasio-rasio untuk menilai struktur modal dan solvabilitas,
c. Return on Investment Ratios,
d. Rasio untuk menilai hasil produksi,
e. Rasio-rasio untuk menilai penggunaan aktiva tetap yaitu rasio perimbangan
antara penjualan dengan kas, persediaan, modal kerja, aktiva tetap dan
aktiva-aktiva lain. Tujuan analisis rasio keuangan adalah untuk mengetahui
hubungan-hubungan antara pos-pos neraca dan laba rugi dan merupakan alat
untuk mengukur kemampuan dan kelemahan suatu perusahaan berdasarkan
dari data yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang
bersangkutan. Dari beberapa pengertian di atas jelaslah bahwa mengadakan
analisis rasio keuangan sangat penting artinya terutama bagi pihak-pihak yang
berdasarkan data laporan keuangan yang telah tersedia, yang terdiri dari
neraca dan laporan laba-rugi.
b. Keunggulan Analisis Rasio
Analisis rasio keuangan memiliki keunggulan dibandingkan dengan analisis
lainnya. Menurut Harahap (2007) keunggulan tersebut adalah:
1. Rasio merupakan angka/ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan
ditafsirkan.
2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan
laporan keuangan yang sangat rinci.
3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan
keputusan.
5. Lebih mudah membandingkan rasio secara periodik atau timelines.
6. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa
yang akan datang.
c. Keterbatasan Analisis Rasio
Adapun keterbatasan analisis rasio (Harahap, 2000) itu adalah:
1. Kesulitan memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan
pemakainya.
2. Keterbatasan yang dimiliki aktivitas atau kapan keuangan juga menjadi
a. Bahan perhitungan rasio laporan keuangan itu banyak mengandung
taksiran dan judgement yang dapat dinilai bias atau subjektif.
b. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan atau rasio adalah nilai cost (perolehan) bukan harga pasar.
c. Metode penelitian yang tergambar dalam standar akuntansi bisa
diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
d. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan,
kesulitan menghitung rasio.
e. Jika ada perusahaan dibandingkan, bisa saja teknik dan standar akuntansi
yang dipakai tidak sama, oleh karena itu jika dilakukan perbandingan,
bisa menimbulkan kesalahan.
d. Indikator Keuangan
Menurut SK Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor:
KEP-100/MBU/2002 tanggal 04 Juni 2002 indikator dari aspek keuangan adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.1. Daftar Indikator dan Bobot Keuangan
Indikator Bobot
1. Imbalan Kepada Pemegang Saham (ROE) 20
2. Imbalan Investasi (ROI) 15
3. Rasio Kas 5
4. Rasio Lancar 5
5. Collection Period 5
6. Perputaran Persediaan 5
7. Perputaran Total Aset 5
8. Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aktiva 10
1. Imbalan kepada pemegang saham/Return On Equity (ROE) ROE = Laba setelah Pajak X 100%
Modal Sendiri
Laba setelah pajak adalah laba setelah dikurangi dengan laba hasil penjualan
dari:
1. Aktiva Tetap.
2. Aktiva Non Produktif.
3. Aktiva Lain-lain.
4. Saham Penyertaan Langsung.
Tabel 2.2. Daftar Skor Penilaian ROE
ROE (%) Skor 15 < ROE 20 13 < ROE < = 15 18 11 < ROE < = 13 16 9 < ROE < = 9 14 7,9 < ROE < = 13 12 6,6 < ROE < = 7,9 10 5,3 < ROE < = 6,6 8,5 4 < ROE < = 5,3 7 2,5 < ROE < = 4 5,5 1 < ROE < = 2,5 4 0 < ROE < = 1 4 ROE < 0 0
2. ROI = EBIT + Penyusutan X 100% Capital Employed
EBIT adalah laba sebelum bunga dan pajak dikurangi laba dari hasil penjualan
1. Aktiva Tetap.
2. Aktiva Non Produktif.
3. Aktiva Lain-lain.
4. Saham Penyertaan Langsung.
Capital Employed adalah posisi pada akhir tahun buku Total Aktiva dikurangi
Aktiva tetap dalam pelaksanaan.
Tabel 2.3. Daftar Skor Penilaian ROI
ROI (%) Skor 18 < ROI 15 15 < ROI < = 18 13,5 13 < ROI < = 15 12 12 < ROI < = 13 10,5 10,5 < ROI < = 12 9 9 < ROI < = 10,5 7,5 7 < ROI < = 9 6 5 < ROI < = 7 5 3 < ROI < = 5 5 1 < ROI < = 3 3 0 < ROI < = 1 2 ROI < 0 1
3. Rasio Kas = Kas + Bank + Surat Berharga Jangka Pendek X 100% (Cash Ratio) Hutang lancar
Tabel 2.4. Daftar Skor Penilaian Rasio Kas
Cash Ratio = x (%) Skor
x > =35 5 25 < = x < = 35 4 15 < = x < = 25 3 10 < = x < = 15 2 5 < = x < = 10 1 0 < = x < = 5 0
4. Rasio Lancar = Aktiva Lancar X 100% (Current Ratio) Hutang Lancar
Tabel 2.5. Daftar Skor Penilaian Rasio Lancar Current Ratio = x (%) Skor
125 < = x 5 110 < = x < = 125 4 100 < = x < = 110 3 95 < = x < = 100 2 90 < = x < = 95 1 x < = 5 0 5. Collection Periods (CP)
C P = Total Piutang Usaha X 365 hari Total Pendapatan Usaha
Tabel 2.6. Daftar Skor Penilaian Collection Periods
CP = x (Hari) Perbaikan (Hari) Skor x <= 60 X >35 5 60 < x <= 90 30 < x <= 35 4,5 90 < x <= 120 25 < x <= 30 4 120 < x <= 150 20 < x <= 25 3,5 150 < x <= 180 15 < x <= 20 3 180 < x <= 210 10 < x <= 15 2,4 210 < x <= 240 6< x <= 10 1,8 240 < x <= 270 3 < x <= 6 1,2 270 < x <=300 1 < x <= 3 0,6 300< x 0 < x < =1 0
Total Piutang Usaha adalah posisi Piutang Usaha setelah dikurangi Cadangan
Penyisihan Piutang pada akhir tahun buku.
6. Perputaran Persediaan (PP)
P P = Total Persediaan X 365 hari Total Pendapatan Usaha
Tabel 2.7. Daftar Skor Penilaian Perputaran Persediaan PP = x (Hari) Perbaikan (Hari) Skor x <= 60 35 < x 5 60 < x <= 90 30 < x <= 35 4,5 90 < x <= 120 25 < x <= 30 4 120 < x <= 150 20 < x <= 25 3,5 150 < x <= 180 15 < x <= 20 3 180 < x <= 210 10 < x <= 15 2,4 210 < x <= 240 6< x <= 10 1,8 240 < x <= 270 3 < x <= 6 1,2 270 < x <=300 1 < x <= 3 0,6 300< x 0
Total Persediaan adalah seluruh persediaan yang digunakan untuk proses produksi
pada akhir tahun buku yang terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan barang
setengah jadi dan persediaan barang jadi ditambah persediaan peralatan dan suku
cadang.
7. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO)
TATO = Total Pendapatan X 100% Capital Employed
Tabel 2.8. Daftar Skor Penilaian Perputaran Total Aset
TATO = x (%) Perbaikan = X (%) Skor 120< x 20 < x 5 105 < x <= 120 15< x <= 20 4,5 90 < x <= 105 10 < x <= 15 4 75< x <= 90 20 < x <= 25 3,5 60 < x <= 75 5 < x <= 10 3 40 < x <= 60 x <= 0 2,5 20 < x <= 40 x < 0 2 x < = 20 x < 0 1,5
8. Rasio Total Modal Sendiri terhadap Total Aset (TMS terhadap TA) TMS terhadap TA = Total Modal Sendiri X 100%
Total Aset
Tabel 2.9. Daftar Skor Penilaian Total Modal Sendiri terhadap Total Aset
TMS thd TA (%) = x Skor x < 0 0 0 < = x < 10 4 10 < = x < 20 6 20 < = x < 40 7,25 30 < = x < 20 10 40 < = x < 50 9 50 < = x < 60 8,5 60 < = x < 70 8 70 < = x < 80 7,5 80 < = x < 90 7 90 < = x < 100 6,5 2.1.3.2. Aspek operasional
Indikator yang dinilai dalam aspek operasional meliputi unsur-unsur kegiatan
yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan operasional
sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Jumlah indikator aspek operasional yang
digunakan untuk penilaian tingkat kesehatan setiap tahunnya minimal 2 (dua)
indikator dan maksimal 5 (lima) indikator, di mana apabila dipandang perlu
indikator-indikator yang digunakan untuk penilaian dari suatu tahun ke tahun
berikutnya dapat berubah. Misalnya, suatu indikator yang pada tahun sebelumnya
selalu digunakan dalam tahun ini tidak lagi digunakan karena dianggap bahwa untuk
kegiatan yang berkaitan dengan indikator tersebut perusahaan telah mencapai
dipandang lebih dominan pada tahun yang bersangkutan.
Di dalam aspek operasional ada beberapa indkator yakni: produktivitas,
produksi hasil jadi, biaya tanaman, biaya pengolahan dan biaya umum. Produktivitas
adalah perbandingan output (sawit, karet, tebu, tembakau) dalam kilogram/ton
terhadap input (luas lahan) dalam ha. Produksi hasil jadi adalah hasil dari kegiatan
bahan mentah menjadi hasil jadi (CPO, Gula, Karet Tembakau Ready Ball) dalam
kilogram. Biaya Tanam adalah adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan
kegiatan tanam di lapangan (dalam Rp) dibagi dengan pruduksi hasil jadi produk
tanaman yang bersangkutan. Biaya pengolahan adalah biaya sehubungan dengan
biaya yang terjadi dalam mengolah bahan mentah menjadi produk jadi di pabrik
(dalam Rp) dibagi dengan produk jadi (kilogram). Sedangkan biaya umum adalah
biaya yang terjadi di luar biaya tanam & biaya pengolahan (dalam Rp) dibagi dengan
produk jadi (Kilogram).
Klasifikasi skor aspek operasional menurut SK Menteri BUMN No.
Kep-100/MBU/2002 adalah sebagai berikut:
Indikator Bobot
1. Produktivitas Kg/Ha 3 2. Produksi Hasil Jadi (Kg) 3 3. Biaya Tanaman (Rp/Kg) 3 4. Biaya Pengolahan (Rp/Kg) 3 5. Biaya Umum (Rp/Kg) 3 15
1. Produktivitas
Tabel 2.10. Daftar Skor Penilaian Produktivitas
RKAP (%) = x Bobot Skor
0 - 10% > x = 100% x bobot 5 - 10% < x = 80% x bobot 10,1 - 20% < = x = 50% x bobot 20,1 keatas x = 30% x bobot
Jumlah Skor 3