6.3 Konstruksi Masyarakat terhadap Ahmadiyah
6.3.6 Penilaian Masyarakat terhadap Fatwa MUI dan
Paling tidak ada empat peraturan atau keputusan yang berkaitan dengan Ahmadiyah, yaitu SKB 3 Menteri (2008), Fatwa MUI (1980 dan 2005), Pergub Jawa Barat (No. 12 Tahun 2011) dan SKB Muspida. SKB 3 Menteri (Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri) berisi tujuh poin yang isinya antara lain; Jemaat Ahmadiyah Indonesia dilarang melakukan penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Di samping itu warga masyarakat juga diminta untuk menjaga kerukunan umat beragama serta menghindari perbuatan melawan hukum terhadap anggota Jemaat Ahmadiyah.
Fatwa MUI yang dikeluarkan pada 29 Juli 2005 tersebut berbunyi bahwa Ahmadiyah keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan. Pergub Jawa Barat berisi tentang pelarangan kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Jawa Barat. Anggota dan pengurus Ahmadiyah dilarang melakukan aktivitas dan atau kegiatan dalam bentuk apapun, sepanjang berkaitan dengan kegiatan penyebaran penafsiran dan aktivitas yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran yang menyimpang di provinsi Jabar.
Pergub ini mengacu kepada SKB 3 Menteri meski masih bisa diperdebatkan karena dalam SKB 3 Menteri memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini (poin keenam). Sementara itu, SKB Muspida Kabupaten juga berisi tentang pelarangan
melakukan aktifitas. SKB ini lahir tidak lama setelah penyerangan Kampus Mubarak Parung pada tahun 2005.
Dari keempat peraturan atau keputusan yang berkaitan dengan Ahmadiyah ini pemahaman dan pengetahuan masyarakat tidaklah sama. Hampir semua lapisan masyarakat tidak memahami isi SKB 3 Menteri meski mereka, kecuali masyarakat biasa, tahu adanya keputusan tersebut. Ketiga lapisan masyarakat (tokoh agama, aparat desa dan masyarakat biasa) mengetahui isi fatwa MUI yang mengatakan Jemaat Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. Berkaitan dengan Pergub Jawa Barat, hanya aparat desa dan beberapa elit agama yang mengetahui dikeluarkannya peraturan tersebut dan memahami isinya. Sementara itu, hampir semua lapisan masyarakat tahu dikeluarkannya SKB Muspida dan mengetahui inti dari isi SKB tersebut. Pengetahuan tentang SKB ini bisa dimengerti karena penandatanganan oleh unsur Muspida dan pengurus Ahmadiyah dilakukan di Kampung Ciladong yang kopiannya banyak beredar di kalangan masyarakat.
Tokoh agama dan aparat desa sangat mengetahui dikeluarkannya regulasi berupa SKB 3 Menteri, fatwa MUI, Pergub Jawa Barat dan SKB Muspida terkait dengan Ahmadiyah. Di antara tiga regulasi dan fatwa MUI tersebut hanya SKB Muspida dan fatwa MUI yang diketahui oleh kebanyakan masyarakat umum. Masyarakat umum tidak begitu mengetahui SKB 3 Menteri dan Pergub Jawa Barat dikarenakan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. Sebaliknya, kebanyakan masyarakat umum sangat mengetahui fatwa MUI dan SKB Muspida lantaran sosialisasi yang baik kepada masyarakat yang dilakukan oleh pemerintahan desa (SKB Muspida) dan elit agama (fatwa MUI).
Hal yang menarik untuk dicermati adalah bahwa dari ketiga regulasi dan fatwa MUI tentang Ahmadiyah tersebut kebanyakan dari ketiga lapisan masyarakat setuju dengan dikeluarkannya regulasi dan fatwa tersebut dengan alasan yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik masing-masing lapisan masyarakat tersebut. Bagi tokoh agama, keberadaan regulasi dan fatwa MUI sangat diperlukan untuk menekan keberadaan Jemaat Ahmadiyah yang menyimpang dari ajaran Islam. Dengan adanya fatwa MUI yang mengatakan Jemaat Ahmadiyah adalah golongan yang sesat dan menyesatkan, maka masyarakat diminta hati-hati untuk tidak mengikuti ajarannya.
Berbeda dengan tokoh agama, aparat desa melihat keberadaan regulasi dan fatwa MUI dari sisi keamanan dan ketertiban masyarakat desa. Selama regulasi dan fatwa tersebut berisi dan bisa menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat desa, maka regulasi dan fatwa akan didukung penuh. Cara pandang yang cukup berbeda diperlihatkan oleh kalangan masyarakat umum yang kebanyakan mereka setuju dengan keberadaan regulasi dan fatwa MUI dan lebih banyak mengikut elit agama atau mereka yang ditokohkan. Masyarakat umum berpendapat bahwa pada dasarnya mereka tidak mengetahui ajaran Ahmadiyah secara mendalam. Pengetahuan yang sangat dangkal mengenai Ahmadiyah didapat dari elit agama melalui pengajian-pengajian atau informasi sekilas melaui orang lain yang dianggap tahu tentang Ahmadiyah.
Tidak berbeda jauh dengan pengetahuan mengenai Ahmadiyah, sebenarnya sikap setuju kebanyakan masyarakat tentang regulasi dan fatwa MUI juga banyak dipengerahui oleh keberadaan elit agama atau mereka yang ditokohkan. Elit agama atau mereka yang ditokohkan di desa banyak berperan memberitahukan secara sekilas (kecuali fatwa MUI dan SKB Muspida) keberadaan regulasi dan fatwa MUI kepada masyarakat, namun masyarakat umum tidak memahami isi dari regulasi dan fatwa MUI.
Khusus untuk fatwa MUI sebagian masyarakat berpendapat bahwa keberadaan fatwa dengan penanganan di masyarakat tidak sejalan. Bagi masyarakat, kalau Ahmadiyah dianggap sesat kenapa para ulama tidak melakukan upaya-upaya untuk menghimbau atau melakukan pembinaan terhadap mereka yang dianggap sesat (Ahmadiyah). Bahkan masyarakat juga menilai bahwa elit agama di desa terlalu keras kepada Ahmadiyah dan tidak menunjukkan pembinaan kepada Ahmadiyah. Lepas dari itu semua kebanyakan masyarakat umum bersikap setuju dengan dikeluarkannya fatwa MUI karena masyarakat menganggap (hasil transformasi pengetahuan yang dangkal dari elit agama) bahwa Ahmadiyah sesat. Harus diingat pendapat masyarakat umum ini kebanyakan terkonsentrasi di Kampung Sukasari dan Mekarsari, dua kampung yang berdekatan langsung dengan Kampung Ciladong.
Ada dua peraturan atau keputusan yang paling akrab dan dikenal di masyarakat, yaitu fatwa MUI dan SKB Muspida. Dalam hal ini, sikap masyarakat
tidak sama dalam menilai keputusan tersebut. Bagi masyarakat Kampung Mekarsari dan Sukasari yang berbatasan dengan Kampung Ciladong menerima dan mendukung penuh kedua keputusan tersebut. Menurut masyarakat, kedua keputusan tersebut sudah benar dan seharusnya begitu bahkan meminta pemerintah mengawal terus implementasi kedua keputusan itu.
Meski menerima fatwa MUI dan SKB Muspida, namun bagi masyarakat Kampung Nanggrek dan Sadang tidak mesti melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah apalagi sampai melarang dan membubarkannya. Dalam hal ini MSH menuturkan:
“Menurut saya, penyelesaian masalah Jemaat Ahmadiyah harus dengan
jalan tanpa kekerasan. Kalau ada pengajian-pengajian setingkat desa sebaiknya Jemaat Ahmadiyah diundang dan dirangkul (lagi). Ulama dan tokoh agama harus melakukan itu, dan terkesan tokoh agama selama ini enggan mendekati Ahmadiyah. Meski fatwa MUI menyatakan mereka (Ahmadiyah) sesat, tetapi kenapa mereka dijauhi dan bukannya didekati dan
diberi pembinaan”.(Wawancara, 10 Juni 2012).
Tabel 12 Penilaian Masyarakat Terhadap Peraturan/Keputusan tentang Ahmadiyah
Aspek Penilaian
Peraturan/Keputusan yang Berkaitan dengan Ahmadiyah SKB 3
Menteri
Fatwa MUI Pergub Jabar SKB Muspida
TA AD MU TA AD MU TA AD MU TA AD MU Tahu (ada aturan) 8 4 2 8 3 7 5 5 2 8 5 8 Tidak Tahu - 1 8 - 2 3 3 - 8 - - 2 Setuju 8 5 8 8 4 9 7 5 8 8 5 6 Tidak Setuju - - 2 - 1 1 1 - 2 - - 4 Jumlah Informan 8 5 10 8 5 10 8 5 10 8 5 10 Total Informan 23
Sumber : Hasil Pengolahan dan Analisis Data Primer, 2012 Keterangan: TA = Tokoh Agama
AD = Aparat Desa
MU = Masyarakat Umum
Tahu/Tidak tahu = keberadaan aturan Setuju/Tidak setuju = keberadaan aturan
6.4 Munculnya Konflik Komunal