BAB II LANDASAN TEOR
2.1.1 Kurikulum SD 2013
2.1.1.5 Penilaian Otentik
Penilaian merupakan proses sistematis dalam pengumpulan, analisis, dan
penafsiran informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang peserta didik
dapat mencapai tujuan pendidikan. Penilaian otentik telah lama dikenal dalam
dunia pendidikan, akan tetapi di Indonesia hal tersebut terkesan baru. Penilaian
otentik merupakan penilaian terhadap tugas-tugas yang menyerupai kegiatan
dalam membaca dan menulis sebagaimana halnya di dunia nyata maupun di
sekolah. Penilaian otentik menekankan pada kemampuan peserta didik untuk
mendemonstrasikan pengetahuan yang telah dimiliki secara nyata dan bermakna.
Kinerja ini secara nyata dari pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai
Nurhadi (2004: 172) menegaskan bahwa penilaian otentik merupakan
penilaian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi terkait
perkembangan dan pencapaian pembelajaran mengunakan berbagai teknik
hingga menunjukkan bahwa pembelajaran telah dikuasai siswa. Adapun Jenis-
jenis penilaian otentik yaitu:
1. Penilaian kinerja, berupa proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru
dapat melakukannya dengan cara meminta siswa menyebutkan unsur-
unsur atau tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria
penyelesaiannya. Cara merekam hasil penilaian berupa penilaian kinerja
menggunakan daftar cek, catatan anekdot, skala penilaian, dan memori
atau ingatan.
2. Penilaian proyek (project assessment) adalah kegiatan penilaian terhadap
tugas yang akan diselesaikan oleh peserta didik menurut periode atau
waktu tertentu. Penyelesaian tugas itu berupa investigasi yang dilakukan
peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data.
3. Penilaian portofolio merupakan penilian atas kumpulan artefak yang
menunjukan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kinerja dari dunia
nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik
baik individu atau kelompok, melalui refleksi, dan dievaluasi
berdasarkan beberapa dimensi.
4. Penilaian tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik
menganaalisis, mensitesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi
yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin
bersifat komperhensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap,
pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.
Ciri-ciri penilaian otentik Kunandar (2014: 38)
1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar,
2. Memanfaatkan berbagai sumber dan cara,
3. menggunakan tes sebagai salah satu alat pengumpul data,
4. Tugas-tugas yang dberikan harus mencerminkan kehidupan siswa,
5. harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan
kuantitasnya.
Secara lebih konkret Mueller (dalam Rustaman, 2006) menunjukkan
adanya persamaan dan perbedaan antara penilaian tradisional dengan penilaian
otentik. Berikut adalah karakteristik penilaian tradisional dengan penilaian
otentik :
NO Penilaian Tradisional Penilaian Otentik
1. Misi sekolah adalah untuk
mengembangkan warga
Negara yang produktif
Misi sekolah adalah untuk mengembangkan warga Negara yang produktif
2.
Untuk menjadi warga Negara produktif, seseorang harus menguasai disiplin keilmuan dan keterampilan tertentu.
Untuk menjadi warga Negara produktif, seseorang harus mampu
menunjukkan penguasaan
melakukan sesuatu secara bermakna dalam dunia nyata.
3. Sekolah mengajarkan peserta didik disiplin keilmuan dan keterampilan tersebut,
Sekolah mengembangkan peserta
didik untuk dapat
kemampuan/keterampilan melakukan sesuatu.
4. Untuk mengukur
keberhasilan pembelajaran, guru harus mengetes peserta didik untuk mengetahui tingkat penguasaan keilmuan dan keterampilan itu.
Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, guru harus meminta kepada peserta didik melakukan aktivitas tertentu secara bermakna yang mencerminkan aktivitas di dunia nyata.
5. Kurikulum menentukan
penilaian, pengetahuan yang harus dikuasai ditentukan terlebih dahulu.
Penilaian menentukan kurikulum, guru terlebih dahulu menentukan tugas-tugas yang akandilakukan oleh peserta didik untuk menunjukkan penguasaannya. Tabel 3. Karakteristik Penilaian Tradisional dan Penilaian Otentik
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Penilaian otentik adalah suatu
penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang
memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang
memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu
macam pemecahan. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik
mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup
dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil
akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa dan perkembangan
aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas
maupun diluar kelas.
Cakupan penilaian dalam kurikulum 2013, kompetensi inti ( KI) menurut
Hosnan, M (2014:391) dirumuskan sebagai berikut. KI-1 : kompetensi inti sikap spiritual
KI-3 : kompetensi inti pengetahuan KI-4 : kompetensi keterampilan
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan adalah sebagai berikut.
1. Kompetensi Sikap (Attitude)
Guru melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian
diri, penilaian “teman sejawat” oleh peserta didik dan jurnal.
a. Observasi: merupakan jenis penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera dengan menggunakan
pedoman observasi dan memperhatikan sejumlah indikator perilaku yang
diamati.
b. Penilaian diri: dilakukan dengan cara meminta peserta didik untuk
mengemukakan kelebihan dan kekurangan diri. Instrumen yang
digunakan adalah lembar penilaian diri.
c. Penilaian antar peserta didik/teman: dilakukan dengan cara meminta
peserta didik untuk saling menilai sesuai dengan pencapaian kompetensi.
Instrumen penilaian yang digunakan adalah lembar penilaian antar
peserta didik.
d. Jurnal/catatan guru: berisi catatan guru dalam melakukan pengamatan
peserta didik di dalam kelas maupun di luar kelas yang berkaitan dengan
2. Kompetensi Pengetahuan (Knowledge)
a. Instrumen tes tulis; yaitu berupa soal (pilihan ganda, isian, jawaban
singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian) dilengkapi dengan
pedoman penskoran.
b. Instrumen tes lisan; yaitu berupa daftar pertanyaan yang diberikan oleh
guru dan peserta didik merespon pertanyaan tersebut. Jawaban dapat
berupa kata, frase, kalimat atau paragraph yang diucapkan.
c. Instrumen penugasan berupa pekerjaan berupa projek yang dikerjakan
secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
3. Kompetensi Keterampilan (Skill)
Guru menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja.
Instrument yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian yang
dilengkapi dengan rubrik.
a. Tes praktik/kinerja, yaitu penilaian keterampilan dalam melakukan
suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
b. Penilaian projek adalag tugas-tugas belajar yang meliputi kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan.
c. Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara
menilai kumpulan seluruh karya peserta didik.