TINJAUAN PUSTAKA
II.5. Kesehatan Kerja
II.8.3. Penilaian Prestasi Kerja
Menurut Martoyo (2000), “Penilaian prestasi kerja adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Apabila penilaian prestasi kerja tersebut dilaksanakan dengan baik tertib dan benar, maka akan dapat membantu meningkatkan motivasi kerja dan sekaligus juga meningkatkan loyalitas organisasi dari para karyawan. Penilaian prestasi kerja (Performance Apprasial) ini pada dasarnya merupakan salah satu faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien”.
Rivai (2005), menyatakan bahwa, “Aspek-aspek penilaian prestasi kerja dapat dikelompokkan menjadi:
1. Kemampuan teknis, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya.
2. Kemampuan konseptual, yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam bidang operasional perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya individu tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggung jawabnya sebagai seorang karyawan.
3. Kemampuan hubungan interpersonal, yaitu antara lain kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, memotivasi karyawan, melakukan negosiasi dan lain-lain”.
Menurut Mathis dan Jackson (2003) bahwa, “Faktor-faktor yang dinilai dalam prestasi kerja adalah:
1. Kualitas kerja (mengacu pada akurasi dan marjin kesalahan). 2. Kuantitas kerja (mengaju pada jumlah produksi atau hasil).
3. Ketepatan waktu (mengaju pada penyelesaian tugas, dalam waktu yang diperkenankan).
4. Kehadiran dan ketepatan waktu (mengaju pada ketaatan pada jadwal kerja sebagaimana ditugaskan).
5. Tanggung jawab (mengaju pada penyelesaian tugas yang objek).
6. Kerjasama dengan yang lain (mengacu pada kerjasama dan komunikasi dengan penyelia dan rekan kerja)”.
II.9. Pengetahuan, Keterampilan, dan Keahlian II.9.1. Pengetahuan
Menurut Nawawi (2001), pengetahuan merupakan kesatuan informasi yang terorganisir yang biasanya terdiri dari sebuah fakta atau prosedur yang diterapkan secara langsung terhadap kinerja dan sebuah fungsi.
Menurut Sulistijani dan Rosida (2003), pengetahuan yaitu kemampuan yang dimiliki karyawan yang lebih berorientasi pada intelejensi dan daya pikir serta penguasaan ilmu yang lebih luas yang dimiliki karyawan. Pendidikan yang sesuai
dihadapkan dari seorang individu bila ia mengerjakan suatu pekerjaan. Pada saat teknologi berubah, pekerjaan juga berubah, di sini pengetahuan dari karyawan hendaknya juga disesuaikan. Teknologi cenderung memerlukan karyawan yang lebih profesional, ilmiah dan karyawan yang dapat mengoperasikan sistem. Dengan pengetahuan yang telah sesuai dengan kualifikasi pekerjaan yang disyaratkan, pegawai akan membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk mempelajari tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab pekerjaan, sehingga akan mengurangi waktu dalam pelaksanaan pelatihan terhadap upaya peningkatan produktivitas kerja, dan biaya pelatihan dapat lebih efisien.
II.9.2. Keterampilan
Menurut Nawawi (2001), keterampilan merupakan kemampuan melakukan suatu tindakan psikomotor yang dipelajari dan dapat mencakup suatu manipulasi tangan, lisan atau mental daripada data, orang atau benda-benda.
Menurut Sulistijani dan Rosida (2003), keterampilan adalah kemampuan dan penguasaan teknis operasional di bidang tertentu yang dimiliki karyawan. Kebutuhan modren akan keterampilan merupakan keharusan tenaga kerja yang terdidik dengan tingkat keterampilan tinggi telah memperbesar tuntutan adanya pegawai multifungsional. Pegawai multifungsional adalah orang-orang yang terlatih dalam dua atau lebih bidang keahlian atau disiplin ilmu, diharapkan mampu melaksanakan beberapa pekerjaan secara keseluruhan yang diperlukan oleh sistem kerja modern. Keragaman menimbulkan perasaan kompeten yang lebih besar bagi pegawai, karena
II.9.3. Keahlian
Menurut Sulistijani dan Rosida (2003), keahlian yaitu kemampuan yang terbentuk dari segala kompetensi yang dimiliki seorang karyawan. Faktor yang mempengaruhi keahlian pegawai adalah faktor pengetahuan dan keterampilan. Artinya, pegawai yang memiliki keahlian di atas rata-rata dengan pendidikan atau pengetahuan yang memadai untuk menjalankan pekerjaan dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari maka akan mudah baginya mencapai prestasi yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the right place, the right mano n the right job).
Menurut Hasibuan (2002), keahlian menentukan mampu tidaknya seseorang menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Keahlian meliputi technical skill, human skill, conceptual skill, kecakapan untuk memanfaatkan kesempatan, serta kecermatan penggunaan peralatan yang dimiliki perusahaan dalam mencapai tujuan.
Menurut Benardin dan Russel dalam Liliana (2002) Faktor-faktor Penempatan Karyawan dalam Posisi Tertentu Menyangkut dengan Karir agar karyawan tersebut dapat tugas dengan baik adalah:
1. Pengetahuan
Merupakan kesatuan informasi yang terorganisir yang biasanya terdiri dari sebuah fakta atau prosedur yang diterapkan secara langsung terhadap kinerja dan sebuah fungsi. Pendidikan dihadapkan dari seorang individu bila ia mengerjakan isi pekerjaan. Pada saat teknologi berubah, pekerjaan juga berubah, di sini pengetahuan dari karyawan hendaknya juga disesuaikan.
Teknologi cenderung memerlukan karyawan yang lebih profesional, ilmiah dan karyawan yang dapat mengoperasikan sistem.
Dengan pengetahuan yang telah sesuai dengan kualifikasi pekerjaan yang disyaratkan, pegawai akan membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk mempelajari tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab pekerjaan, sehingga akan mengurangi waktu dalam pelaksanaan pelatihan terhadap upaya peningkatan produktivitas kerja, dan biaya pelatihan dapat lebih efisien. 2. Keterampilan
Merupakan kemampuan melakukan suatu tindakan psikomotor yang dipelajari dan dapat mencakup suatu manipulasi tangan, lisan atau mental daripada data, orang atau benda-benda.
Kebutuhan modern akan keterampilan merupakan keharusan tenaga kerja yang terdidik dengan tingkat keterampilan tinggi telah memperbesar tuntutan adanya pegawai multifungsional. Pegawai multifungsional adalah orang-orang yang terlatih dalam dua atau lebih bidang keahlian atau disiplin ilmu, diharapkan mereka mampu melaksanakan beberapa pekerjaan integratif yang diperlukan oleh sistem kerja modern. Keragaman menimbulkan perasaan kompeten yang lebih besar bagi pegawai, karena mereka dapat melakukan jenis pekerjaan yang berlainan dengan cara berbeda.
3. Keahlian
Kemampuan, merupakan suatu kompetisi yang diperhatikan dalam kinerja melalui perilaku yang dapat diamati atau seluruh perilaku yang mengarah pada suatu hasil yang diamati.
4. Ciri-ciri lainnya meliputi faktor-faktor kepribadian, sikap atau fisik, sifat-sifat mental dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan.
Menurut Robbins (2002), keterampilan dibagi dalam tiga kategori,
1) Keterampilan teknis, yakni keterampilan yang berkaitan teknologi dan metode kerja yang dipakai.
2) Keterampilan antar pribadi, yakni kemampuan untuk berinteraksi secara aktif dengan rekan sekerja atau atasan mereka.
3) Keterampilan dalam pemecahan masalah, yakni kemampuan dalam memecahkan masalah dalam pekerjaannya. Ini mencakup kegiatan mempertajam logika, sebab akibat mengembangkan alternatif, menganalisa alternatif, dan memilih pemecahan.
Menurut Ruky (2001), keahlian yang harus dimiliki seorang pegawai dalam bekerja adalah:
1) Keahlian teknis, adalah keahlian dalam pokok pekerjaannya serta kemampuan menerapkan teknik dan prosedur mengenai bidang kegiatan tertentu.
2) Keahlian interaksi atau hubungan antar manusia, adalah keahlian untuk bekerjasama dengan orang lain, memahami pikiran dan perasaan orang lain, serta mampu merangsang dan mendorong orang lain, termasuk anak buah dan rekan kerja.
3) Keahlian konseptual, adalah keahlian mental dalam memadukan seluruh kegiatan organisasi agar organisasi mencapai tujuannya.
BAB III