• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Tingkat Risiko Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Penilaian Tingkat Risiko Kebakaran Lahan Gambut di Sumatera

Sumatera

Berdasarkan faktor-faktor yang telah dibahas sebelumnya, akan diperoleh skor dalam menentukan tingkat risiko kebakaran di lahan gambut. Risiko kebakaran lahan gambut dibagi menjadi enam kelas yang menunjukkan tingkat kemudahan untuk terbakar mulai dari sangat sulit sampai dengan sangat mudah. Tingkat Risiko kebakaran pada lahan gambut dapat dibagi menjadi, sangat rendah, rendah, sedang, agak tinggi, dan sangat tinggi.

ElNino dan DME merupakan faktor penyimpangan iklim yang mempengaruhi jumlah curah hujan yang jatuh di Sumatera. Kejadian ElNino dan DME memiliki korelasi yang memberikan dampak berbeda pada kejadian iklim di Sumatera. Kondisi iklim dibagi menjadi ketika ElNino kuat dan DME positif kuat pada kejadian kebakaran tahun 1997, La Nina kuat dan DME negatif kuat, ketiga merupakan kondisi dimana ElNino lemah dan DME positif lemah, dan kempat merupakan kondisi iklim yang normal.

Dari jumlah hotspot propinsi Riau dan Sumatera Selatan didapatkan bahwa jumlah hotspot tertinggi pada bulan September. Pada kejadian ElNino kuat dan DME positif kuat tahun 1997, jumlah hotspot di Riau maupun Sumatera Selatan karena kedua penyimpangan iklim tersebut mempengaruhi jumlah curah hujan. Kecilnya jumlah curah hujan akan mempengaruhi keadaan bahan bakaran yaitu dalam kondisi kering atau basah. Pada tahun 1997 dimana terdeteksi titik api tinggi di Sumatera merupakan tahun ElNino kuat dan DME positif kuat yang mengakibatkan iklim di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera kering.

Risiko kebakaran lahan gambut tergolong sedang sampai tinggi pada tahun ElNino. Pada tahun ElNino lemah, risiko kebakaran lahan akan rendah. Hal tersebut didukung oleh indikator DME yang negatif. Sehingga pengaruh negatif ElNino diperlemah karena pembentukan awan di Samudera Hindia berlangsung normal.

Jumlah hotspot pada wilayah Sumatera Selatan dan Riau juga dapat menentukan tingkat risiko kebakaran lahan gambut. Lahan gambut memberikan respon yang lebih besar terhadap NDVI dan curah hujan. Dari pembahasan sebelumnya bahwa kebakaran lahan gambut di

Sumatera, memiliki risiko yang tinggi ketika terjadi musim kering yang panjang. Curah hujan yang rendah akan mengakibatkan keringnya bahan bakar yang ada di permukaan. Ketika curah hujan rendah, deteksi titik-titik api akan semakin tinggi, yang menunjukkan peristiwa kebakaran lahan gambut. Pada analisa lainnya, risiko kebakaran pada lahan gambut dapat dilihat dari aktivitas di lahan gambut. Berdasarkan sebaran gambut dan kedekatan dengan pemukiman, dimana masyarakat memanfaatkan lahan gambut sebagai pemenuh kebutuhan, pada setiap Propinsi di Sumatera, terdapat pada lampiran 8. Pengaruh aktivitas manusia dapat dibuktikan dengan adanya data jumlah perusahaan dari tahun 2001 sampai dengan 2009 yang memanfaatkan lahan gambut sebagai area pengusahaan. Untuk tiga Propinsi di Sumatera yaitu Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan dari tahun ke tahun mengalami penurunan jumlah perusahaan dalam pemanfaatan lahan gambut, dilihat pada lampiran 9 Jumlah perusahaan hak pengusahaan hutan menurut Propinsi, tahun 2001-2009. Sedangkan pada lampiran 10 luas areal perusahaan hak pengusahaan hutan, tahun 2004- 2009 menunjukkan bahwa adanya penurunan luas area pengusahaan dari tahun 2004 sampai dengan 2009, kecuali di Propinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan luas area pengusahaan. Hal ini menunjukkan adanya usaha dalam melestarikan sumber daya gambut dengan mengurangi aktivitas pada pengurangan jumlah area pengusahaan. Berdasarkan penggunaan lahan kebakaran di lahan gambut memiliki variasi luas, dihubungkan dengan kondisi iklim pada tahun tersebut. Lampiran 11 luas kebakaran hutan dan lahan berdasarkan fungsi selama 5 tahun. Di tahun 2005 terjadi kebakaran yang cukup luas pada semua penutupan lahan. Pada tahun 2002 kawasan HPHTI memiliki luas kawasan yang terbakar yang tinggi, hal ini berkaitan dengan pengelolaan pada kawasan HPHTI yang tidak sesuai atau lahan dibiarkan begitu saja dan didukung oleh kondisi iklim pada tahun 2002. Selain peran dari perusahaan hak pengusahaan hutan, masyarakat lokal, dan perusahaan tanaman industri, risiko kebakaran lahan gambut juga disebabkan oleh kegiatan perkebunan kelapa sawit. Propinsi Riau, Jambi dan Sumatera Selatan merupakan tiga Propinsi di Sumatera yang memiliki luas areal gambut yang cukup luas dan degradasi pada lahan

gambut oleh perkebunan kelapa sawit sangat tinggi. Degradasi atau alih fungsi lahan dari lahan gambut menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, menyebabkan risiko kebakaran lahan gambut tinggi apabila penanganan dan pengelolaannya tidak selaras dengan kelestarian lingkungan. Berikut ditampilkan tabel 2 perubahan luas perkebunan kelapa sawit di Propinsi Riau, Propinsi Jambi, dan Propinsi Sumatera Selatan tahun 1980 sampai dengan 2010. Terlihat peningkatan luas areal dari tahun

ke tahun untuk usaha perkebunan kelapa sawit. Bertambahnya luas areal perkebunan kelapa sawit ini, merupakan indikasi adanya dorongan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Menghasilkan produk-produk dengan nilai ekonomi tinggi. Risiko kebakaran lahan gambut menjadi tinggi karena pangalihan fungsi lahan, bukan berarti lahan gambut tidak dapat dimanfaatkan namun harus selaras dengan nilai lingkungan.

Tabel 2 Luas areal kelapa sawit menurut Propinsi di Sumatera tahun 1980-2010

Tahun

Propinsi

Riau (hektar) Jambi (hektar) Sumatera Selatan (hektar)

1980 2.078 * * 1990 240.181 45.528 61.939 2000 815.646 406.315 557.849 2005 1.277.703 403.447 548.678 2006 1.547.942 568.751 630.214 2007 1.620.882 448.899 682.731 2008 1.673.553 484.137 690.729 2009 1.925.344 489.384 775.339 2010 1.949.061 494.078 789.065

Ket : * (tidak ada data)

Sumber : Buku Statistik Perkebunan 2009-2011, Direktorat Jenderal Perkebunan 4.4.1 Penilaian Risiko Kebakaran Lahan

Gambut Propinsi Riau Kedalaman gambut di Propinsi Riau lebih bervariasi yaitu pada sebaran dalam dan sangat dalam. Sebaran gambut di Riau berada pada Kabupaten Rokan Hilir dan Bengkalis. Di kedua Kabupaten ini dikembangkan perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kebakaran lahan gambut Propinsi Riau pada umumnya terjadi karena land clearing untuk kegiatan perkebunan dan HTI. Lampiran 12 menampilkan tingkat risiko kebakaran lahan gambut di Riau. Tingkat risiko kebakaran pada lahan gambut di Propinsi Riau termasuk sedang. Karena tinggi gambut yang tergolong dalam, pemanfaatan lahan dimanfaatkan oleh pihak- pihak perusahaan seperti pulp dan pemanfaatan kayu industri. Adapun perkebunan-perkebunan sawit swasta dan pemerintah. Kondisi pemanfaatan lahan seperti ini, memungkinkan untuk adanya pemantauan terhadap penggunaan lahan gambut. Perusahaan memiliki aturan dan teknologi dalam pemanfaatan lahan gambut

sehingga Risiko kebakaran pada lahan gambut sedang, meskipun eksploitasi terhadap lahan gambut dilakukan secara terus-menerus.

Penutupan lahan pada kawasan perusahaan bervariasi pada lahan yang masih difungsikan untuk perusahaan hak pengusahaan hutan dan bekas dari hak pengusahaan hutan yang lain. Tabel 3 menunjukkan luas area penutupan lahan HPH dan eks HPH yang terdiri dari hutan primer (hutan yang belum dijamah oleh aktivitas masyarakat sekitar dan perusahaan) dan hutan sekunder dalam kondisi baik dan kondisi rusak. Tabel menunjukkan bahwa nilai penutupan lahan pada hutan sekunder dalam keadaan yang tidak baik memiliki area yang luas, hal ini akan mengakibatkan tingginya risiko kebakaran, hutan alam di Propinsi Riau didominasi oleh lahan gambut. Namun, karena adanya kontrol dari perusahaan-perusahaan dan Pemerintah daerah mengakibatkan risiko kebakaran lahan gambut menjadi sedang.

Tabel 3 Keadaan penutupan lahan pada areal HPH dan eks HPH

Sumber : Pusat Data dan Pemetaan 2000 Propinsi Riau

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembangunan di lahan gambut adalah PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) yang merupakan anak perusahaan dari Asia Pacific International Holdings Ltd. (APRIL). Komoditas utama perusahaan ini adalah pulp dan kertas, untuk memenuhi kebutuhan srat kayu pabriknya, pasokan kayu diperoleh dari hutan tanaman seluas 350.000 hektar (Lorenzo, EP 2003). Risiko kebakaran lahan gambut di Riau memiliki tingkat yang sedang karena pada penggunaan api dan lahan memiliki kontrol yang baik. Seperti contoh pada PT RAPP memiliki cara dalam mengurangi Risiko kebakaran pada lahan gambut yaitu dengan menerapkan metode pemanenan pada lahan yang kayunya dapat tergantikan, pengaturan air di lahan basah, pembuatan dan perawatan kanal primer, sekunder, dan tersier serta kolam, dan penerapan sistem zero burning. Dengan perbaikan dalam manajemen hutan dan pelaksanaan pembangunan hutan tanaman akan membantu mengurangi Risiko terjadinya kebakaran pada lahan gambut. Tingkat risiko kebakaran lahan di Propinsi Riau diperjelas di lampiran 11 dengan menunjukkan luas kebakaran hutan dan lahan di Propinsi Riau berdasarkan fungsi penggunaan lahan selama 5 tahun, dimana hutan dan lahan yang sebagian besar terdiri dari lahan gambut. Pembangunan dan pemanfaatan lahan oleh perusahaan HPH, HPHTI, dan perkebunan.

4.4.2 Penilaian Risiko Kebakaran Lahan Gambut Propinsi Jambi

Lahan gambut Jambi memiliki sebaran yang beragam apabila dilihat dari kedalaman gambutnya. Mulai dari gambut dangkal, sedang, dalam, dan sangat dalam tersebar di Propinsi Jambi. Bahan bakar potensial pada lahan gambut adalah lahan gambut dengan kedalaman yang bervariasi. Tingkat risiko kebakaran lahan gambut di Jambi tergolong tinggi. TN Berbak yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung

Timur dan Muara Jambi. TN Berbak memiliki Risiko yang tinggi untuk terjadi kebakaran karena sumber daya alam di dalam TN Berbak dimanfaatkan oleh masyarakat dan perusahaan- perusahaan. Adanya pembalakan liar merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran. Tingginya Risiko kebakaran lahan gambut di Jambi, masih dikaitkan dengan aktivitas masyarakat dalam penggunaan api yang tidak terkendali.

Kekayaan sumber daya TN Berbak menimbulkan konflik kepentingan antar pihak berbeda yaitu, penduduk asli dan pendatang. Kebakaran karena musim kemarau panjang karena adanya ElNino pada tahun 1997, menyebabkan ekosistem lahan gambut telah berubah yaitu berubah dari bentuk tipe hutan rawa yang tertutup menjadi lahan terbuka. Pengelolaan daerah aliran sungai pada sungai air hitam di sekitar lahan gambut akan menentukan tingkat risiko kebakaran lahan gambut. Rusaknya sistem tata air pada DAS yang diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam menebang hutan di bagian hulunya. Kegitan ini juga berpengaruh terhadap fungsi hidrologi pada lahan gambut.

Tingkat risiko kebakaran pada lahan gambut tinggi terutama pada musim kemarau. Karakteristiknya berada pada tingkat fluktuasi air tanah yang berbeda pada musim hujan dan musim kemarau sehingga pada musim kemarau kondisi gambut kering. Gambut pada keadaan kering pada saat musim kemarau bercerai berai dan tidak dapat kembali pada kondisi semula. Tingginya tingkat risiko kebakaran gambut di Propinsi Jambi apabila dikaitkan dengan kedekatan dengan pemukiman memiliki risiko yang tinggi pada wilayah tertentu. Pada lampiran 13 terdapat tingkat Risiko kebakaran lahan gambut di Propinsi Jambi.

Tingginya risiko kebakaran lahan gambut di kawasan TN Berbak juga disebabkan oleh lahan HTI yang belum ditanami dengan tanaman baru. Konflik antar perusahaan dan masyarakat masih tinggi di kawasan TN Berbak. Risiko kebakaran lahan gambut pada kawasan TN Berbak dipicu oleh rendahnya tingkat ekonomi masyarakat sekitar kawasan, sehingga memicu masyarakat melakukan pembalakan liar, pencurian ikan, pengambilan jeluntung, berburu, pengambilan rotan, dan lain- lain. Perusahaan yang ada di Propinsi Jambi adalah PT Putraduta Indah Wood yang merupakan perusahaan kehutanan pemegang

Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Perusahaan ini telah menerapkan tiga prinsip kelestarian yaitu produksi, ekologi, sosial. Namun kegiatan dan konflik masyarakat dengan perusahaan menyebabkan adanya pembalakan yang tidak terkendali. Masalah ini menjadikan Propinsi Jambi memiliki Risiko kebakaran lahan gambut yang tinggi. Adapun kebakaran areal HTI PT Dyera Hutan Lestari (PT DHL), hal ini karena lahan HTI tidak terawat dan terjadi pemanasan di musim kemarau. Selain kedua perusahaan tersebut, Propinsi Jambi memiliki banyak perusahaan dibidang HPH dan HTI dalam meningkatkan risiko kebakaran lahan gambut di Propinsi Jambi.

Tabel 4 Kondisi umum HPH Propinsi Jambi

Sumber : Data Pokok Dinas Kehutanan Propinsi Jambi, 2007

45.825 hektar lahan gambut dimanfaatkan oleh perusahaan hak pengusahaan hutan untuk meningkatkan produksi dalam meningkatkan keuntungan ekonomi.

Tabel 5 Perkembangan pembangunan HTI

Sumber : Statistik Dinas Kehutanan Subdin BHKA, 2007

Dari data jumlah perusahaan hutan tanaman industri (HTI) pada tahun 2007 menunjukkan bahwa lahan gambut yang dimanfaatkan untuk industri cukup luas. Risiko yang tinggi ditimbulkan dari eksploitasi lahan gambut untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mengurangi risiko ini, dibutuhkan sosialisasi dalam pemanfaatan lahan gambut, baik dari jenis maupun kedalaman gambut.

4.4.3 Penilaian Risiko Kebakaran Lahan Gambut Propinsi Sumatera Selatan Tingkat risiko kebakaran lahan gambut di Propinsi Sumatera Selatan ditinjau dari aspek kedalaman gambut dan kedekatan dengan pemukiman penduduk yang berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan di lahan gambut. Sebaran gambut di Propinsi Sumatera Selatan didominasi oleh gambut yang memiliki kedalaman sedang. Kajian pada Kabupaten Ogan Kemiring Ilir (OKI) yaitu pada kecamatan Air Sugihan. Kedalaman gambut dan letak Kabupaten OKI, dimana masyarakat menjadikan lahan gambut sebagai alternatif pekerjaan. Tingkat risiko kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan dilampirkan pada lampiran 14. Risiko kebakaran pada wilayah ini tergolong pada tingkat II yaitu pada risiko tinggi. Penggolongan tingkat risiko kebakaran lahan gambut dilihat dari aktivitas masyarakat sekitar lahan gambut dalam pengelolaan lahan gambut dengan api oleh masyarakat Kabupaten Ogan Kemiring Ilir. Penggunaan api pada pengelolaah lahan gambut merupakan cara yang mudah dan murah alam memanfaatkan sumber daya alam lahan gambut di Kabupaten OKI. Contoh penggunaan api di lahan gambut pada kabupaten ini adalah dengan penanaman padi tradisional di lahan rawa (sonor), pembalakan kayu, produksi arang, dan juga dalam bidang perikanan. Penggunaan api oleh masyarakat pada Kabupaten ini tidak terkendali, sehingga Risiko kebakaran lahan gambut menjadi tinggi.

Mayarakat menyadari dampak negatif kebakaran lahan gambut, tetapi masyarakat yang lebih mengutamakan keuntungan adalah sangat penting untuk melanjutkan kehidupan, sementara itu alternatif pekerjaan lain tidak tersedia. Apabila dikaitkan dengan iklim dan kondisi lahan, aktivitas manusia di sekitar gambut berkaitan erat. Propinsi Sumatera Selatan memiliki dua musim yaitu musim hujan dengan curah hujan yang tinggi dan musim kemarau yang kering yang disertai dengan peristiwa ElNIno menambah besarnya Risiko di Propinsi Sumatera Selatan. Pada saat musim kemarau yang kering masyarakat akan menggunakan sistem pertanian sonor untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menghasilkan keuntungan. Sama seperti di Propinsi Riau dan Propinsi Jambi, risiko kebakaran lahan gambut di Propinsi Sumatera Selatan memiliki tingkat yang tinggi. Tingginya risiko kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan disebabkan oleh

aktivitas manusia. Umumnya aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dengan hak pengusahaan hutan dan hutan tanaman industri. Pada tabel 6 akan disajikan luas area yang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan dengan hak pengusahaan hutan. Perusahaan dengan hak pengusahaan hutan yang memiliki SK sah dari pemerintah dalam memanfaatkan lahan gambut. Perusahaan yang memiliki izin ini juga berkewajiban dalam menjaga kelestarian lahan gambut, dan mengurangi risiko kebakaran yang ditimbulkan oleh kegiatan penguahaan.

Tabel 6 Daftar perusahaan HPH Sumatera Selatan

Sumber : Pusat Data dan Pemetaan Propinsi Sumatera Selatan 2000

Sepuluh (10) perusahaan tersebut masih aktif dalam pemanfaatan lahan gambut di Sumatera Selatan. Selain perusahaan HPH, lahan gambut Sumatera Selatan dimanfaatkan untuk menghasilkan kayu-kayu industri. Kayu- kayu bernilai ekonomis tinggi tergabung kedalam perusahaan hutan tanaman industri (HTI). Adanya perusahaan bidang tanaman industri ini, menimbulkan dan meningkatkan risiko kebakaran. Hutan di Propinsi Sumatera Selatan didominasi oleh lahan basah/gambut. Alih fungsi lahan primer menjadi sekunder pada pemanfaatn di bidang industri membuat lahan memiliki risiko yang tinggi untuk terjadi kebakaran. Pada tabel 7 akan disajikan daftar perusahaan HTI yang memanfaatkan lahan gambut sebagai kegiatan pengusahaan mereka.

Dengan SK HPHTI sah dari pemerintah, perusahaan-perusahaan tanaman industri memiliki hak dalam memanfaatkan lahan. Hak tersebut digunakan sesuai dengan aturan yang tersedia. Dan perusahaan juga memiliki kewajiban dalam mengurangi risiko kebakaran yang terjadi dengan tidak membiarkan lahan, ditanami dengan tanaman yang sesuai dengan sifat dari gambut.

Tabel 7 Daftar perusahaan HTI Sumatera Selatan

Sumber : Pusat Data dan Pemetaan Propinsi Sumatera Selatan 2000

Dokumen terkait