PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
6. Penimbangan dan pengemasan ( weighing and bagging )
Gula yang berukuran normal selanjutnya dikirim ke tempat penimbangan dan pengemasan. Penimbangan gula dibagi menjadi beberapa ukuran diantaranya 50 kg, 1 kg, 0.5 kg dan selanjutnya dikemas dalam karung plastik maupun kantong plastik sesuai ukuran, dan kemudian akan disimpan ke dalam gudang penyimpanan.
Aspek Manejerial
Pelaksanaan Pengelolaan Tingkat Staf, Non Staf dan Tenaga Kerja Lapangan
Pelaksanaan pengelolaan tingkat staf dipimpin oleh seorang manajer yang bertugas menyusun rencana kerja bulanan dan tahunan serta mengawasi pelaksanaan kerja tersebut dan mengevaluasinya. Officer melakukan pelaksanaan kegiatan di lapang setiap hari dan memberikan intruksi kepada pengawas serta mandor untuk dikerjakan oleh tenaga kerja harian. Evaluasi kegiatan di lapangan dilakukan oleh pengawas dan hasil kerjanya dilaporkan kepada officer. Laporan tersebut meliputi jumlah tenaga kerja yang digunakan dan hasil kerja yang berupa luasan areal yang telah dikerjakan.
Tenaga kerja lapangan terdiri atas tenaga kerja harian musiman dan tenaga kerja harian kontraktual. Tenaga kerja harian musiman dibutuhkan untuk kegiatan tanam dan tebang, sedangkan tenaga kerja kontraktual melaksanakan kegiatan budidaya lainnya. Tenaga kerja kontraktual bekerja tujuh jam sehari atau sekitar 40 jam/minggu.
Pengumpulan Data, Pelaporan dan Sistem Pembayaran
Data yang dikumpulkan untuk setiap kegiatan lapangan meliputi kegiatan, lokasi, hasil pekerjaan, jumlah tenaga kerja, nama pekerja, jam kerja, dan penggunaan material. Data ini disiapkan oleh mandor dan diperiksa oleh teknisi lapang, pengawas serta officer. Kemudian data tersebut diserahkan ke bagian administrasi masing-masing divisi untuk dibukukan dan dibuatkan check roll
setiap harinya. Selanjutnya check roll tersebut diperiksa oleh officer dan kepala divisi lalu diserahkan kepada bagian keuangan.
Pembayaran untuk tenaga kerja harian dilakukan seminggu sekali berdasarkan upah menurut jumlah hari kerja dan jam lembur. Pembayaran tenaga kerja borongan diberikan atas dasar laporan komulatif hasil kerja yaitu berdasarkan tarif per hektar dengan periode pembayaran dilakukan secara mingguan.
PEMBAHASAN
Aspek Teknis
PT. Gula Putih Mataram menggunakan sistem mekanisasi dalam kegiatan pengolahan lahan, hal ini menyebabkan dalam pelaksanaan pengolahan tanah sangat tergantung pada kondisi tanah. Kondisi tanah yang ideal dalam kegiatan pengolahan tanah yaitu pada kondisi lapang atau tanah dalam keadaan lembab. Pengolahan tanah pada saat kondisi basah menyebabkan kerusakan pada traktor beserta implemennya selain itu juga mempengaruhi kualitas hasil pengolahan tanahnya.
Penyemprotan pre emergence dilakukan untuk mengendalikan gulma setelah tanaman utama tumbuh namun gulma belum tumbuh, hal ini dilakukan untuk mencegah perkecambahan gulma. Penyemprotan pre emergence di PT. Gula Putih Mataram menggunakan pertisida sistemik dengan bahan aktif diuron, ametrin dan 2,4 D. Penggunaan 2,4 D dinilai tidak efektif karena mengingat penyemprotan pre emergence dilakukan sebelum tebu dan gulma tumbuh, sedangkan 2,4 D merupakan herbisida yang yang digunakan untuk mengendalikan gulma pasca tumbuh dan berdaun lebah.
Rippenner merupakan kegiatan pemberian zat pemacu kemasakan atau hormon untuk mempercepat pemanenan. ZPK (zat pemacu kemasakan merupakan zat yang termasuk zat penghambat tumbuh sistesis yang berfungsi sebagai pengatur tumbuh tanaman. ZPK yang digunakan pada saat rippenner berbahan aktif sulfosat yang merupakan salah satu jenis herbisida yang bersifat sistemik. Penggunaan sulfosat sebagai ZPK memberikan dampak terhambatnya pertumbuhan tanaman keprasan, hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman ratoon di PT. Gula Putih Mataram tidak seragam dan presentase tanaman tebu ulang sama dengan tanaman tebu keprasan.
Aspek Khusus Sistem Irigasi
Sistem irigasi yang dilakukan di PT. Gula Putih Mataram adalah sistem irigasi curah (sprinkler). Irigasi curah (sprinkle irrigation) disebut juga overhead irrigation karena pemberian air dilakukan dari bagian atas tanaman terpancar menyerupai curah hujan (Prastowo, 2002).
Komponen irigasi curah terdiri dari: (a) pompa dengan tenaga penggerak sebagai sumber tekanan, (b) pipa utama, (c) pipa lateral, (d) pipa peninggi (riser), dan (e) kepala sprinkler (sprinkler head). Kapasitas kerja mesin kecil adalah 2.5 ha/hari dan untuk mesin besar adalah 4 ha/hari dengan jam kerja mesin maksimum 18 jam. Dalam perancangan sistem irigasi digunakan debit hisap sekitar 40 l/s dengan overlap semprotan lebih dari 10 %.
Instalasi pipa untuk membentuk teknik irigasi disesuaikan dengan lokasi yang akan diirigasi. Tiap kali penyemprotan digunakan dua gun sprayer. Jangkauan semproran dari gun sprayer sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin, bila angin berhembus kencang pada siang hari maka jarak antar pipa dengan gun dikurang agar overlap dapat terjadi dan jangkauan gun semakin jauh sehingga areal dapat tersiram secara merata. Lamanya penyiraman setiap titik dilakukan selama 2 jam dengan asumsi selama dua jam kedalaman air irigasi mencapai 15 cm dari permukaan tanah atau setara dengan curah hujan 5.76 mm/cm2. Jika 2 titik selama 2 jam mampu mengirigasi seluas 0.5 ha dalam waktu 10 jam 2.5 ha lahan tebu dapat diirigasi.
Penetapan areal irigasi
Penetapan areal irigasi dilakukan sebelum areal diirigasi. Sumber air yang digunakan adalah lebung yang memiliki cadangan air yang cukup dan dekat dengan areal. Jumlah lebung yang terdapat di PT. Gula Putih Mataram rata-rata untuk satu blok (1 blok rata-rata seluas 10 ha) berjumlah 5 lebung. Penetapan areal irigasi diprioritaskan pada areal yang akan di tanam ulang atau areal yang keprasannya dipelihara. Penetapan areal yang akan diirigasi juga didasarkan dari data hasil pengukuran kelembaban tanah.
Pengukuran Kelembaban Tanah
Pengukuran kelembaban tanah dilakukan untuk mengetahui kadar air tanah yang tersedian di dalam tanah dan dapat diserap oleh perakaran tanaman. Kelembaban air di dalam tanah diukur sehari dua hari sekali dengan menggunakan Diviner 2000 yaitu suatu alat ukur kelembaban tanah yang terdiri dari probe, complete tube, dan display. Probe terdiri dari grey sensor head berfungsi sebagai sensor untuk mengukur kelembaban tanah, kabel dan stick diviner. Complete tube
ditanamkan ke dalam tanah, dua buah complete tube mewakili 1 blok areal.
Display berfungsi untuk menyimpan data hasil pengukuran.
Setiap melakukan pengukuran, stick diviner yang panjangnya 1 m dimasukkan ke dalam complete tube, hasil pengukurannya disimpan secara otomatis di dalam display. Daerah di luar prioritas berarti jumlah air didalam tanah masih mencukupi. Bila kandungan air di dalam tanah mendekati red point
lahan harus segera diirigasi, bila tidak tanaman tebu akan mati. Sedangkan bila kandungan air berada pada yellow point menunjukan bahwa tanaman dalam kondisi siaga tetapi masih aman dan tiadak perlu di berikan irigasi. Green point
menunjukkan bahwa tanaman dalam kondisi aman, artinya kandungan air didalam tanah mencukupi untuk kebutuhan tanaman. Namun demikian hasil dari program diviner juga harus dibandingkan dengan hasil nyata di lapangan karena sering kali ditemukan kasus dimana berdasarkan data pembacaan display diviner menunjukkan bahwa tanaman berada pada red point atau tanaman menunjukkan kondi kekurangan air namun penampakan di lapang menunjukkan tanaman dalam keadaan normal.
Tabel 7. Penggolongan ketersediaan air tanah
Kategori Kadar air tanah (%)
Cukup > 60
Sedang 40 - 60
Kurang < 40
Sumber : Laporan tahunan MIS Plantation PT. GPM, 2010
Penggolongan ketersediaan air tanah yang tercantum pada tabel 6 didasarkan pada kadar air tanah pada kedalaman jelajah perakaran tebu. Tebu memerlukan curah hujan yang merata sepanjang masa pertumbuhannya, idealnya antara 1.500 – 2.000 mm per tahun dengan hari hujan antara 150- 200 hari per
tahun dengan musim kemarau pada saat tebang.Pada kondisi lapang penyiraman selama 2 jam diperoleh kedalaman air irigasi mencapai 15 cm dari permukaan tanah atau setara dengan curah hujan 5.76 mm/cm2 Pemberian air irigasi meningkatkan kadar air tanah lebih dari 60% sehingga kadar air tanah cukup tersedia bagi perakaran tanaman.
Aplikasi Irigasi
Aplikasi irigasi harus dilakukan pada waktu yang tetap mengingat biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, penentuan waktu aplikasi yang tepat dimaksudkan untuk mencapai efisiensi irigasi. Pada tanaman RPC irigasi dilakukan pada saat pengeceran atau pencacahan bibit dan setelah penutupan bibit. Sedangkan pemberian air irigasi untuk selanjutnya disesuaikan dengan umur tanaman dan kondisi kelembaban tanah. Pada tanaman RC pemberian irigasi hanya dilakukan sekali saja yaitu sebelum kegiatan pre emergence. Pemberian irigasi diprioritaskan pada tanaman RPC dibandingkan tanaman RC dikarenakan nilai ekonomis tanaman RPC lebih tinggi dibandingkan tanaman RC, dan kondisi perakaran tanaman RPC lebih sensitive terhadap kekurangan air dibandingkan tanaman RC sebab tanaman RC memiliki perakaran yang lebih kuat dibandingkan tanaman RPC.
Tabel 8. Volume air tertampung pada alat ukur
Panjang curahan (m) 1500 rpm 1800 rpm Volume (ml) Volume (ml) 5.8 171.36** 189.20** 11.6 242.40** 240.24** 17.4 174.24** 169.84** 23.2 124.80** 128.04** 29.0 86.40** 91.96** Total 799.20 ** 819.28**
Keterangan : Tanda (**) menunjukkan hasil berbeda sangat nyata pada hasil perhitungan uji T pada taraf 5 %.
Berdasarkan tabel 7 volume curahan terbesar tertampung pada jarak 11.6 m dari
dengan putaran 1500 rpm maupun 1800 rpm. Volume curahan terbanyak terdapat pada mesin 1800 rpm yaitu mencapai 819.28 ml.
Gambar 211. Hubungan prosentase curahan irigasi dengan panjang curahan sprinkler
Berdasarkan gambar 22 volume curahan terbesar tertampung pada panjang curahan 11.6 m dan 17.4 m hal ini yang dijadikan pertimbangan oleh perusahaan dalam penempatan posisi gun sprayer. Setiap satu titik penyiraman, perusahaan menggunakan dua gun sprayer dengan jarak antara gun sprayer sejauh 46.4 m dengan overlap siraman 10%.
Tabel 9. Lebar semprotan dan waktu putaran gun sprayer
RPM Lebar semprotan (m) Waktu putaran (s)
1500 34.8 324
1800 40.6 298
Berdasarkan tabel 9 lebaran semprotan pada mesin pompa dengaan putaran 1800 rpm lebih jauh dibandingkan dengan mesin pompa dengan putaran 1500 rpm, namun untuk waktu putaran sprayer, menunjukkan hal yang sebaliknya. Pada kondisi normal, dimana sumber air yang tersedia cukup, kecepatan angin normal serta suhu harian tidak terlalu tinggi, sebaiknya mesin pompa diset dengan putaran 1500 rpm, hal ini dilakukan guna mengurangi besarnya penggunaan bahan bakar. Semakin besar putaran pada pompa menyebabkan penggunaan bahan bakar semakin tinggi. Konsumsi bahan bakar
pada mesin dengan putaran 1500 rpm rata-rata menghabiskan solar sekitar 12 l/jam, sedangkan pada mesin dengan putaran 1500 rpm rata-rata menghabiskan solar sekitar 18 l/jam. Konsumsi bahan bakar pada mesin dengan putaran 1500 rpm rata-rata menghabiskan solar sekitar 12 l/jam, sedangkan pada mesin dengan putaran 1500 rpm rata-rata menghabiskan solar sekitar 18 l/jam.
Waktu dan Frekuensi Irigasi
Pemberian irigasi pada tanaman ratoon selain bertujuan untuk menambah kelembaban tanah juga bertujuan untuk menghilangkan pengaruh dari ZPK yang diaplikasikan sebelum tanaman sebelumnya sehingga diharapkan pertumbuhan ratoonnya seragam. Karena perakaran tanaman ratoon sudah kuat dibandingkan tanaman RPC maka penyiraman pada tanaman ratoon biasanya hanya dilakukan satu kali yaitu pada sebelum dilakukan pre emergence hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah engine pump, terbatasnya tenaga kerja serta besarnya biaya yang dikeluarkan, sehingga penyiraman lebih diprioritaskan pada tanaman RPC.
Tabel 10. Frekuensi irigasi di Divisi 3 PT. Gula Putih Mataram tahun 2009 Kategori Luas areal (ha) Luas areal yang di irigasi
Irigasi I Irigasi II Irigasi III Irigasi IV
RPC 2321.00 1780.86 1199.42 609.66 186.59
R1 2119.18 1435.66 734.42 183.84 33.33
R2 388.55 234.27 181.72 68.56 48.77
Sumber : Laporan tahunan MIS Plantation PT. GPM, 2010 dengan pengolahan
Berdasarkan tabel 10 pemberian irigasi bisa mencapai empat kali dalam satu musim tanam. Frekuensi pemberian irigasi terbesar terdapat pada tanaman RPC, hal ini dapat dilihat dari besarnya luasan areal yang diirigasi pada tanaman RPC dibandingkan tanaman RC. Banyaknya frekuensi pemberian irigasi diluar pemberian wajib didasarkan pada kondisi tanaman di lapangan dan hasil pengukuran kelembaban tanah. Pemberian irigasi juga tergantung pada pertumbuhan tanaman, bila tinggi tanaman terlalu tinggi , maka dapat menyulitkan dalam pemasangan peralatan irigasi di lapangan selain itu tajuk tanaman yang mulai rapat menyebabkan sebagian besar air menguap karena sebagian besar air mengenai tajuk dan tidak sampai membasahi tanah.
Sistem ketenagakerjaan
Sistem pelaksanaan irigasi di PT. Gula Putih Mataram dilakukan oleh tenaga kerja harian musiman dengan sistem borongan dimana setiap rombongan terdiri dari tiga orang yang masing-masing bertugas untuk menjaga engine serta pemasangan instalasi pipa dan gun di areal. Selama masa kontrak, tenaga kerja bertempat tinggal di areal pertanaman tebu.
Lamanya aplikasi pemberian irigasi untuk setiap titik adalah 2 jam dengan luasan areal yang disirami 0.5 ha. Dalam satu hari setiap mesin maksimal dapat beroperasi selama 10 jam, sehingga didapat luasan areal yang diirigasi per rombongan adalah 2.5 ha.