BAB III : OBJEK WISATA DESA LINNGA
3.3 Peninggalan Sejarah dan Budaya Desa Lingga
Pada era tahun 1970, di desa Lingga masih terdapat sekurang-kurangnya 29 bangunan tradisional, bangunan tersebut diantaranya berupa:
i. Bangunan rumah adat Karo Lingga
Rumah adat karo Linnga mempunyai ciri serta bentuk yang sangat khusus, didalamnya terdapat ruangan yang besar dan tidak mempunyai kamar-kamar dengan empat buah dapur/tunggkuyang terdapat ditengah ruangan. Rumah adat berupa rumah panggung, tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar. Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang
ternak. Pada rumah ini terdapat dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satunya lagi menghadap ke sebelah timur. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat yang disusun. Ture ini digunakan untuk tempat bertenun, mengayam tikar atau pekerjaan lainnya, pada malam hari ture atau serambi ini berfungsi sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi untuk memadu kasih. Atap rumah dibuat dari ijuk. Pada kedua ujung atapnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga, disebut ayo-ayo. Pada puncak ayo-ayo terdapat tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Rumah adat Karo Lingga dinamakan siwaluh jabu (waluh artinya delapan, jabu berarti keluarga/ bagian utama rumah/ ruang utama). Bangunan berbentuk rumah panggung itu, pada waktu dulu kala menjadi rumah tinggal masyarakat Karo. Tiang-tiang penyangga rumah panggung, dinding rumah, dan beberapa bagian atas, semuanya terbuat dari kayu. Bagian semacam teras rumah -juga berbentuk panggung-, tangga naik ke dalam rumah, dan penyangga atap, terbuat dari bambu. Sedangkan atap rumah sendiri, semuanya menggunakan ijuk. Di bagian paling atas atap rumah adat, kedua ujung atap masing-masing dilengkapi dengan dua tanduk kerbau. Tanduk itu dipercaya penduduk sebagai penolak bala. Satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu kepala keluarga, dalam satu ruangan besar.
c. Bangunan Sopo Ganjang
Sopo Ganjang merupakan sebuah bangunan yang difungsikan untuk sebagai tempat pertemuan/musyawarah bagi masyarakat. Bentuk bangunan ini hampir
mirip dengan bangunan rumah adat Lingga namun bangunan ini tidak memiliki dapur dan juga tidak memiliki dingding pembatas. Sopo Ganjang didirikan pada tahu 1870.
d. Jambur
Jambur merupakan bangunan yang mirip dengan rumah adat, tetapi jambur bukan merupakan bangunan berpanggung dan tidak berdinding. Jambur difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan pesta bagi masyarakat juga sebagai tempat musyawarah, tempat mengadili orang-orang yang melanggar perintah raja dan adat yang berlaku. Jambur juga merupakan tempat tidur bagi pemuda-pemuda selain sapo ganjang.
e. Griten
Geriten merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kerangka atau tulang-tulang sanak keluarga pemilik griten yang telah meninggal di bagian atasnya sedangkan bagian bawah merupakan tempat duduk atau tempat berkumpul bagi sebagian warga, terutama kaum muda. Geriten mempunyai dua lantai. Lantai bawah tidak berdinding sedang lantai di atasnya berdidnding. Di lantai yang bawah ini terdapat sebuah pintu. Dan dari pintu inilah dimasukkan kerangka orang yang telah meninggal. Griten juga menjadi tempat bertemunya muda mudi untuk dapat saling lebih mengenal antara satu dengan yang lainnya. f. Lesung
Lesung merupakan bangunan yang biasa digunakan oleh masyarakat desa Lingga zaman dahulu untuk menumbuk padi, dan juga menum
memanjang dari sisi utara sampai kesisi selatan bangunan, dimana pada kedua sisi kayu tersebut telah dibuatkan lubang lesung dengan jarak yang disesuaikan. g. Katur-kantur
Kantur-kantur merupakan sebuah bangunan kecil yang terdapat disebelah timur rumah Raja. Bengunan ini difungsikan oleh raja untuk melakukan pertemuan dengan tokoh-tokah masyarakat desa dalam membahas permasalah- permasalahan serta hal-hal lain yang menyakut tatanan kerajaan masyarakat Lingga.
Namun sayangnya hingga saat sekarang ini desa Lingga hanya memiliki bebertapa peninggalan sejarah dan budaya saja yang masih terjaga dan merupakan satu aset yang sangat berharga yang harus tetap dilestarikan. Adapun peninggalan sejarah dan budaya desa Lingga yang masih tersisa hingga saat ini yaitu berupa dua bangunan rumah adat yang masih difungsikan oleh masyarakat desa Lingga sebagai tempat tinggal. Diantaranya yaitu Rumah Gerga yang memiliki ukuran kapasitas 12 jabu/keluarga dan didirikan pada tahu 1860 an dan satunya lagi Rumah Belang Ayo yang berkapasitas 8 jabu/keluarga dan didirikan pada tahun 1862.
Namun kedua rumah ini pada saat sekarang ini masing-masing hanya dihuni oleh satu keluarga saja yang memang merupakan keturunan dari raja lingga. Ini dikarenakan para keluarga yang lainya yang juga merupakan keturunan raja lingga lebih memilih untuk tinggal di rumah dengan arsitektur modern yang dibangun
mereka sendiri yang sebagian bahkan ada di luar daerah desa lingga. Karena itu pula, dengan semakin berkembangnya zaman dan semakin banyak nya pengaruh budaya yang datang sehingga seiring berjalanya waktu karifan budaya dan tradisi adat khususnya pada masyarakat desa lingga pun secara perlahan mulai di tinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.
Selain kedua bangunan rumah adat tersebut, juga masih terdapat satu bangunan sopo ganjang yang kini telah dialih fungsikan oleh masyarakat sebagai taman bacaan bagi anak-anak desa Lingga. Hal ini dilakukan guna mempertahankan dan merawat bangunan agar tetap terjaga. Karena, menurut penuturan Bapak Servis Ginting selaku kepala desa Lingga pada saat wawancara dengan penulis, salah faktor utama yang menjadi penyemab punahnya beberapa bangunan rumah adat di Desa Lingga dikarnakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat bangunan-bangunan tersebut sehingga bangunan-bangunan tersebut dibiarkan rusak sendirinya yang diakibatkan oleh pelapukan pada kayu-kayu yang menjadi bahan utama bangunan.
Tidak hanya peninggalan berupa bangunan, di desa Lingga juga terdapat beberapa benda-benda bersejarah lainya seperti peralatan dan perlengkapan keseharian yang digunakan oleh Raja dan masyarakat Lingga pada zaman dahulunya. Benda-benda tersebut berupa peralatan bertani, memasak, kesenian, pakaian, hingga benda-benda pusaka milik Raja Lingga. Semua benda-benda ini sekarang menjadi koleksi museum Karo Lingga yang terletak di desa Lingga.
Dalam hal kesenian, masyarakat Lingga juga masih mewarisi beberapa tarian daerah seperti Tarian Guro-Guro Aron, yang biasanya ditarikan khusus pada waktu pesta muda-mudi yang diadakan setelah panen. Kemudian, ada Tarian Simelungun Raja yang merupakan tarian adat yang ditarikan khusus pada upacara-upacara adat seperti perkawinan, kematian dan memasuki rumah baru.
Selain itu, juga ada tarian adat Gundala-Gundala yang berhubungan dengan kepercayaan. Tarian ini biasanya dilakukan pada saat musim kemarau dan bertujuan untuk meminta huja yang sering disebut sebagai upacara "Ndilo Wari Udan". Dalam upacara tersebut, Tarian Gundala-Gundala ditampilkan dengan empat penari berjubah dan memakai topeng kepala burung.
Selain tarian, nyanyian juga mempunyai arti penting dalam pelaksanaan upacara adat pada masyarakat desa Lingga. Seperti Lagu Talas yang biasanya dinyanyikan oleh seorang pemuka agama sewaktu memimpin upacara Erpangir Kulau, atau saat sang guru meramu obat-obatan tradisonal untuk mengobati orang sakit.