Nilai Rata-rata Hasil Belajar Siswa Siklus II
C. Pembahasan Hasil Penelitian
2. Peningkatan Hasil Belajar
Pelaksanaan proses pembelajaran dengan implementasi Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam
Lesson Study pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa khususnya dalam ranah kognitif. Berikut adalah peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II: Tabel 22. Peningkatan Rata-rata Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan
Siklus II
Siklus Nilai Rata-Rata Kelas Peningkatan Absolut
Peningkatan Relatif Pre Test Post Test
I 48,81 64,38 15,57 31,90%
II 49,94 77,75 27,81 55,69%
Sumber: Data Primer yang Diolah
Peningkatan hasil belajar di atas juga dapat dilihat pada diagram di bawah ini:
Gambar 9. Peningkatan Rata-rata Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II Berdasarkan tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar siswa setelah diterapkannya Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam
Lesson Study. Rata-rata hasil belajar siswa pada pre test siklus I sebesar 48,81 meningkat menjadi sebesar 64,38 pada post test atau meningkat sebesar 15,57 (31,90%). Pada siklus II, rata-rata hasil belajar siswa pada
pre test sebesar 49,94 meningkat menjadi 77,75 pada post test atau meningkat sebesar 27,81 (55,69%). Jika kedua siklus dibandingkan, maka peningkatan yang terjadi pada siklus II lebih besar daripada peningkatan pada siklus I. Data tersebut di atas membuktikan bahwa implementasi Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
dalam Lesson Study dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Peningkatan hasil belajar siswa juga dapat dilihat dari peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa. Berikut adalah tabel peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa:
48,81 49,94 64,38 77,75 0 20 40 60 80 100 Siklus I Siklus II
Peningkatan Rata-rata Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Pre Test Post Test
Tabel 23. Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Siklus
Ketuntasan Hasil Belajar
Peningkatan Pre Test Post Test
N > 69 % N > 69 %
I 2 6,45 10 32,26 25,81%
II 4 12,90 24 77,42 64,52%
Sumber: Data Primer yang Diolah
Peningkatan ketuntasan hasil belajar ini juga dapat dilihat dalam diagram berikut ini:
Gambar 10. Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II Berdasarkan tabel dan diagram di atas dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa setelah adanya implementasi Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam Lesson Study. Ketuntasan hasil belajar siswa pada
pre test siklus I sebesar 6,45% meningkat menjadi 32,26% pada post test
atau meningkat sebesar 25,81%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada pre test siklus II sebesar 12,90% meningkat menjadi sebesar 77,42% pada post test atau meningkat sebesar 64,52%. Jika kedua siklus dibandingkan, maka peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II lebih besar
6,45% 12,90% 32,26% 77,42% 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% Siklus I Siklus II
Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Pre Test Post Test
daripada peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I. Selain itu, ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II juga telah memenuhi indikator keberhasilan belajar karena 77,42% siswa dalam satu kelas telah mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah. Data tersebut telah membuktikan bahwa implementasi Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam
Lesson Study dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya peningkatan hasil belajar melalui implementasi Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam Lesson Study, maka hipotesis tindakan dinyatakan sudah terjawab.
Instrumen tes berupa soal siklus I dan soal siklus II dari segi konstruksi kisi-kisi soal sudah menunjukkan kesetaraan antara kelompok soal pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3) seperti yang terlihat pada Tabel 4 dan Tabel 5. Dari kedua tabel tersebut diketahui bahwa soal siklus I dan soal siklus II sama-sama mempunyai 4 soal kelompok pengetahuan (C1), 4 soal kelompok pemahaman (C2), dan 4 soal kelompok penerapan (C3). Namun, secara empiris berdasarkan hasil analisis kualitas tes siklus I dan siklus II dari segi tingkat kesukaran dan daya beda dapat diketahui hasil seperti yang terlihat pada Tabel 10, Tabel 11, Tabel 17, dan Tabel 18 yang menunjukkan bahwa ternyata soal siklus I mempunyai tingkat kesukaran yang lebih sukar. Pada hasil tingkat kesukaran diketahui bahwa pada siklus I terdapat 7 soal yang tingkat kesukarannya mudah, 2 soal yang tingkat kesukarannya sedang, dan 3 soal
yang tingkat kesukarannya sukar. Pada siklus II diketahui terdapat 9 soal yang tingkat kesukarannya mudah dan 3 soal yang tingkat kesukarannya sedang. Sedangkan dari daya pembeda, pada siklus I terdapat 4 soal dengan daya beda jelek, 4 soal dengan daya beda cukup, 3 soal dengan daya beda baik, dan 1 soal dengan daya beda baik sekali. Pada siklus II terdapat 5 soal dengan daya beda jelek, 3 soal dengan daya beda cukup, 2 soal dengan daya beda baik, dan 2 soal dengan daya beda baik sekali. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa peningkatan hasil belajar siswa belum optimal. Hal ini dikarenakan secara empiris, soal siklus I mempunyai tingkat kesukaran yang lebih tinggi daripada soal siklus II walaupun secara teori soal siklus I dan soal siklus II dilihat dari konstruksi kisi-kisi soal sudah mempunyai kesetaraan.
Seperti yang dikemukakan oleh Trianto (2010: 110) bahwa Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
mempunyai karakteristik yang berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain yaitu kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, mengasyikkan, tidak membosankan (joyfull, comfortable), belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, dan menggunakan berbagai sumber siswa aktif. Dalam penelitian ini, karakteristik dari Strategi Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) inilah yang menjadikan proses pembelajaran di kelas lebih hidup sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, karakteristik dari Lesson Study yang mempunyai fokus utama dalam pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan
siswa menjadikan proses pembelajaran dirancang dengan cermat termasuk hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa yang optimal dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Selain terjadinya peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa, implementasi Lesson Study dalam penelitian ini pada dasarnya memberikan dampak positif secara langsung bagi guru baik guru model maupun maupun guru observer. Berikut adalah dampak positif bagi guru dengan adanya implementasi Lesson Study yang tampak dalam penelitian ini:
1. Guru lebih termotivasi untuk melakukan persiapan mengajar dengan baik melalui perencanaan pembelajaran yang matang.
2. Guru memikirkan dan mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan bervariasi.
3. Keterampilan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran semakin meningkat karena mereka sama-sama belajar dari suatu pembelajaran. 4. Guru model merasa lebih percaya diri dalam mengajar karena
perencanaan pembelajaran telah dipersiapkan dengan matang.
5. Guru observer memperoleh banyak pengetahuan dan pemahaman terutama tentang materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru model. 6. Guru model merasa keahliannya dalam mengajar meningkat baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun pada saat melaksanakan pembelajaran.
7. Kemampuan yang dimiliki guru observer dalam mengobservasi kelas meningkat mengingat selama dua siklus berlangsung guru observer mengamati bagaimana siswa belajar.
8. Lesson Study memberi peluang bagi guru untuk merefleksi dan memikirkan kembali cara mengajarnya.
9. Guru dapat menjalin hubungan kolegalitas yang lebih baik dengan guru lain melalui kolaborasi yang telah dilakukan.