BAB I KINERJA
C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi
Pertemuan Dewan Menteri International Tripartite Rubber
Council (ITRC) dilaksanakan di Phuket, Thailand, pada tanggal
12 Desember 2012. Pertemuan dihadiri Menteri Perdagangan R.I., Wakil Menteri Pertanian R.I., Deputy Minister of
Agriculture and Cooperatives Thailand, dan Minister of Plantation Industries and Commodities Malaysia. Pertemuan
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012 33
ITRC dengan Board of Directors International Rubber
Consortium Limited (IRCo) pada tanggal 10-11 Desember
2012.
Gambar 3. Pertemuan Tingkat Menteri ITRC
Peran ITRC/IRCo 10 tahun Mendatang
Menindaklanjuti hasil Pertemuan Dewan Menteri di Bali pada tanggal 12 Desember 2012, IRCo menyusun paper mengenai
Future Roles of ITRC/IRCo in the Next Ten Years (2012-2021)
dan mengusulkan beberapa rekomendasi. Dalam tanggapannya, Dewan Menteri sepakat agar tujuan ITRC dan IRCo tetap sebagaimana tercantum dalam Joint Declaration 2001 dan MoU 2002, yaitu:
1) Tujuan ITRC: menjaga harga pada level yang remuneratif bagi produsen dan mengatasi ketidakseimbangan
supply-demand karet alam yang menyebabkan harga menurun,
melalui dua mekanisme: Supply Management Scheme (SMS) dan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS).
2) Tujuan IRCo: menjalankan Strategic Market Operation (SMO), yang meliputi pembelian dan penjualan karet alam, sebagai pendukung SMS dan AETS.
Atas usulan Indonesia, Dewan Menteri meminta peningkatan kapasitas ITRC/IRCo dalam menanggapi secara pre-emptive setiap ancaman terhadap stabilitas dan peningkatan harga karet alam, serta meminta IRCo untuk memiliki tujuan-tujuan komersial yang terfokus guna memberikan keuntungan optimal kepada Pemerintah ketiga negara selaku pemegang saham IRCo.
Additional Capital Call-up IRCo
Memperkuat kesepakatan pada Pertemuan Bali (2011), ketiga negara akan menggenapi registered capital IRCo sebesar US$ 12 juta dengan menambah modal IRCo sebesar US$ 7,5 juta. Dalam hal ini tambahan modal yang menjadi
34 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012
kewajiban untuk dibayar Indonesia adalah sebesar US$ 2,5 juta. Disepakati bahwa pembayaran modal tersebut dibayarakan paling lambat bulan Desember 2013.
Penambahan modal IRCo berikutnya, yaitu sebesar US$ 25,83 juta atau lebih, akan ditetapkan Dewan Menteri jika telah disepakati peran ITRC/IRCo di masa mendatang.
Rubber Funds Thailand dan Malaysia memiliki dana khusus untuk sektor
karet alam dengan jumlah masing-masing sebesar 60 miliar Baht (15 miliar Baht untuk operasi pasar, 30 miliar Baht untuk rubber fund dan 15 miliar Baht untuk pinjaman lunak bagi eksportir) dan RM 113,5 juta untuk operasi pasar. Indonesia tidak memiliki dana khusus bagi sektor karet alam, namun memiliki kebijakan-kebijakan yang dialokasikan dalam APBN untuk mendukung petani dan pengembangan sektor karet nasional.
Pembentukan Pasar Karet Regional
(Regional Rubber Market)
Dewan Menteri sepakat untuk menunjuk konsultan independen yang akan melakukan studi kelayakan pembentukan pasar regional. Sesuai saran Indonesia, konsultan dimaksud diminta memperhatikan pematangan pasar fisik dan pasar berjangka di tingkat nasional sebelum proses pembentukan pasar regional dilakukan. Mengenai lokasi pasar regional, Indonesia mengusulkan opsi antara berada di salah satu di antara ketiga negara anggota ITRC atau di negara lainnya.
Partisipasi Vietnam ke dalam ITRC
Selama tahun 2012, IRCo selaku Sekretariat ITRC telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Vietnam agar dapat dilaksanakan pertemuan untuk menjajaki kemungkinan Vietnam bergabung dengan ITRC. Upaya tersebut belum membawa hasil.
ITRC akan tetap melakukan langkah-langkah konkret agar negara-negara produsen karet alam lainnya di ASEAN, khususnya Vietnam, bergabung atau bekerja sama dengan ITRC.
Laporan Implementasi AETS
ITRC menerapkan AETS mulai tanggal 1 Oktober 2012 guna mengurangi volume ekspor karet alam sebesar 300.000 ton selama 6 bulan. Untuk memverifikasi kepatuhan Anggota ITRC terhadap kesepakatan AETS tersebut, Monitoring and
Surveillance Committee (MSC) telah melakukan ground surveillance di Indonesia, Thailand, dan Malaysia pada bulan
November dan Desember 2012.
MSC melaporkan kepada Dewan Menteri bahwa hasil ground
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012 35
ITRC terhadap kesepakatan alokasi penurunan volume ekspor (AETS) yang telah ditetapkan bagi masing-masing negara. Dengan pertimbangan melambatnya pertumbuhan ekonomi beberapa negara konsumen utama karet, yang akan berdampak pada penurunan demand, Indonesia mengusulkan agar dilakukan pengkajian yang mendalam dan kuantitatif untuk mengetahui lebih akurat tentang dampak penerapan AETS terhadap pergerakan harga.
Untuk menguji efektivitas penerapan AETS, ITRC/IRCo diminta untuk mengkaji dampak substitutif kenaikan harga terhadap tingkat pendapatan, serta menghitung tingkat elastisitas permintaan karet.
Upaya-upaya Memperkuat Posisi Karet Alam
Dewan Menteri sepakat untuk mengurangi supply karet alam di pasar internasional melalui percepatan replanting dan peningkatan konsumsi domestik karet alam. Atas usulan Indonesia, Dewan Menteri juga sepakat untuk menjadikan karet alam sebagai green product yang diakui negara konsumen, dan mengupayakan agar karet alam dapat dimasukkan ke dalam daftar Environmental Goods (EGs) di APEC dan WTO.
Lain-lain Dewan Menteri menyepakati bahwa Pertemuan Tingkat Menteri ITRC 2013 akan dilaksanakan di Malaysia.
Dalam upaya membangun confidence building, diadakan
Working Lunch antara Menteri-menteri ITRC dengan wakil
dari Laos, Kamboja dan Vietnam, di sela-sela Pertemuan Dewan Menteri. Pada kesempatan tersebut dibahas manfaat kolaborasi antar negara produsen karet.
Usai Pertemuan Dewan Menteri, Mendag R.I. memimpin pertemuan bilateral dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia. Pertemuan tersebut membahas kerja sama komoditi yang lebih erat bagi kedua negara khususnya di sektor kelapa sawit.
2. Pertemuan Informal Tingkat Pejabat Senior APEC
Menyongsong perannya sebagai Ketua tahun 2013, Indonesia menyelenggarakan Pertemuan Informal Tingkat Pejabat Senior APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) di Jakarta pada tanggal 7 Desember 2012. Pada pertemuan yang dikenal sebagai Informal Senior Officials Meeting (ISOM) tersebut hadir sekitar 100 delegasi dari ke-21 ekonomi anggota APEC selain Indonesia, yaitu: Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, Republik Rakyat China, Hongkong
36 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012
China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Selandia Baru, Singapura, Taipei, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.
ISOM didahului oleh Simposium yang dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2012, simposium menghadirkan para pembicara dari kalangan pemerintah, pengusaha, dan akademisi.
Gambar 4. APEC Symposium and Informal Senior Officials Meeting
ISOM dan Simposium dimaksudkan sebagai ajang pengumpulan pandangan para anggota APEC guna penajaman prioritas kerja APEC tahun 2013. Indonesia sendiri, sebagai Ketua, telah menetapkan tema besar APEC 2013 "Resilient Asia-Pacific, the Engine of Global Growth." Prioritas yang akan diperjuangkan Indonesia adalah Attaining
the Bogor Goals (Pencapaian "Cita-cita Bogor"), Achieving Sustainable Growth with Equity (Mewujudkan Pertumbuhan
Berkelanjutan dan Adil), serta Promoting Connectivity (Mendorong Saling Ketersambungan).
ISOM merupakan gerbang pembuka bagi pelaksanaan berbagai kegiatan dan puluhan persidangan APEC pada berbagai tingkatan selama 2013 yang akan dilakukan di berbagai kota di Indonesia, khususnya Jakarta, Bali, Medan dan Surabaya.
Garis besar rencana kerja Keketuaan Indonesia pada APEC 2013, yang antara lain akan: menekankan penguatan Sistem Perdagangan Multilateral dan penyelesaian perundingan perdagangan Putaran Doha; peningkatan integrasi ekonomi kawasan yang didukung liberalisasi serta fasilitasi perdagangan dan investasi; serta intensifikasi kerja sama pembangunan yang ditopang program capacity building yang berkualitas.
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Desember 2012 37
Capacity building perlu diarahkan bagi peningkatan
kemampuan sektor-sektor ekonomi dalam menjalankan reformasi struktural dalam menopang penguatan ekonomi kawasan serta membangun strategi pembangunan yang seimbang, inklusif dan adil, berkelanjutan, inovatif, dan aman.
Pada simposium yang membahas masa depan APEC, Dirjen KPI menjelaskan bahwa tahun 2013 merupakan momen penting bagi APEC untuk mendalami kembali arti Deklarasi Bogor dan merumuskan cara-cara terbaik dalam mengatasi tantangan integrasi ekonomi regional Asia-Pasifik. APEC pada tahun 2013 perlu membangun rencana kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan di Asia-Pasifik pasca-2020, di samping melaksanakan berbagai kegiatan penting sebagaimana diamanatkan Para Pemimpin APEC di Bogor, Yokohama, Honolulu, dan Vladivostok. APEC dapat belajar dari berbagai framework of connectivity yang telah terintegrasi dalam kawasan seperti ASEAN dan membahas kemungkinan untuk pengembangan melalui technical
connectivity.