BAB IV UPAYA PEMERINTAH MELINDUNGI TENAGA KERJA
A. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pada suatu bangsa memiliki konstribusi terhadap kemajuan bangsa tersebut. Sebuah bangsa yang maju ternyata adalah bangsa yang didukung oleh sumber daya yang berkualitas, dan dapat melahirkan berbagai kreatifitas untuk mendukung pengembangan bangsanya. Indikator dalam menentukan kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari rata-rata tingkat pendidikan anggota masyarakatnya dan juga kualitas pendidikannya.1
Tingkat produktivitas merupakan indikator penting daya saing, daya saing TKL relatif masih tertinggal dibandingkan dengan daya saing tenaga kerja di negara-negara yang selama ini dianggap sebagai kompetitor, seperti Malaysia dan Thailand, Brunei Darussalam, Philipina, bahkan dengan negara Vietnam yang baru saja bangkit dari keterpurukannya .2
Dengan demikian, meskipun secara kuantitas Indonesia memiliki angkatan kerja yang besar, tetapi rendahnya kualitas membuat angkatan kerja yang berhasil memasuki pasar kerja belum benar-benar berperan secara optimal dalam mendukung peningkatan daya saing perekonomian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lulusan SD masih mendominasi angkatan kerja di Indonesia.
1 Yerma, Pengembangan SDM Dalam Menghadapi Globalisasi, https://yermanetri.wordpress.com/2011/04/21/pengembangan-sdm-dalam-menghadapi-globalisasi-2/ Diakses Pada Tanggal 22 Oktober 2019 Pukul 13.38 WIB.
2 Latif Adam, Membangun Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia Melalui Peningkatan Produktivitas, Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. 11 No. 2, 2016. Hal: 72.
44 Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) .
Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia yang memberi banyak manfaat terutama pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai diberlakukan pada desember 2015, mengharuskan pemerintah Indonesia lebih berkomitmen dan memiliki perencanaan serta langkah-langkah implementasi yang jelas dan terstruktur untuk mendorong peningkatan daya saing tenaga kerja.3
Sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi juga merupakan faktor penentu reformasi ekonomi, dan memberikan pengaruh yang sangat baik apabila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Manfaat yang baik akan berguna bagi masyarakat dan negara itu sendiri. dalam konteks ini sejalan dengan teori negara kesejahteraan (walfare state) yang dikemukakan Jeremy Bentham bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin perlindungan dan kesejahteraan masyarakatnya. Menurutnya, seluruh aksi-aksi pemerintah harus
3 Latif Adam, Membangun Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia Melalui Peningkatan Produktivitas. Hal: 72.
0% 10% 20% 30% 40% 50%
SD kebawah SMP SMA SMK Universitas
Pekerja Indonesia Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan (2017-2019)
2019 2018 2017
45 selalu diarahkan untuk mendorong agar setiap SDM dimanfaatkan secara produktif untuk menggerakan roda perekonomian.4
SDM yang berkualitas hanya dapat dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas. Manusia yang memiliki kompetensi akan siap bersaing di era globalisasi. Untuk itu, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak dapat mampu menjalankan tugas dan fungsinya membangun manusia berkualitas sendiri, perlu peran serta masyarakat dalam mewujudkan SDM berkualitas.5
Direktur pengendalian penggunaan tenaga kerja asing, kementerian ketenagakerjaan Wisnu Pramono, mengatakan ada tiga cara meningkatkan kualitas SDM agar berkualitas dan bersaing. Antara lain jalur Pendidikan pelatihan dan pelatihan kerja, dan pengembangan karier di tempat kerja.6
Menteri ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan pemerintah telah melakukan upaya dalam menghadapi tenaga kerja asing dengan menetapkan 85 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta akreditasi 725 balai latihan kerja dan Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS), pemerintah juga bekerja sama dengan seluruh stakeholder (kementerian/Lembaga, Kadin, Apindo dan asosiasi profesi) sebagai percepatan peningkatan kompetensi dan daya saing tenaga kerja untuk mempercepat pengembangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKNNI) dan percepatan Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).7
4 Oman Sukmana, Konsep Dan Design Negara Kesejahteraan (Walfare State), Jurnal Social Politik, Vol.2 No.1, 2016. Hal: 105.
5 Rudihartono Ismail dan Helmawati, Meningkatkan SDM Berkualitas Melalui Pendidikan Menyiapkan SDM Papua Yang Berdaya Saing, (Bandung: Alfabeta), 2018. Hal: 16.
6 Akfa Nasrulhaq, Kemnaker Beberkan Tiga Strategi Tingkatkan Kualitas SDM, Diakses Dari Https://News.Detik.Com/Berita/D-4448778/Kemnaker-Beberkan-Tiga-Strategi-Tingkatkan-Kualitas-Sdm Pada Tanggal 20 November 2019 Pukul 22.49 WIB.
7 Pusat Humas Kemnaker, Upaya Pemerintah Persiapkan Pekerja Jelang MEA, Diakses Dari Https://Www.Tribunnews.Com/Tribunners/2016/01/04/Upaya-Pemerintah-Persiapkan-Pekerja-Jelan-Mea Pada Tanggal 18 November 2019 Pukul 21.30 WIB.
46 Disamping itu, kementerian pendidikan dan kebudayaan dan kementerian perindustrian juga telah menggagas kerjasama yang melibatkan 1.245 SMK dan 415 industri untuk menyelaraskan kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan industri. Melalui kerjasama ini, perusahaan yang terlibat dapat memberikan pembinaan dan bantuan peralatan untuk praktek kepada SMK yang menjadi mitranya.8Pemerintah juga telah menggalakkan program wajib belajar selama 9 tahun, yaitu setingkat dengan sekolah menengah pertama, serta memberi insentif dalam bentuk beasiswa di berbagai sekolah dan perguruan tinggi.9
Dalam hal pendanaan peningkatan kualitas SDM melalui jalur Pendidikan, pemerintah membentuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Hal ini dilatarbelakangi adanya amanah UUD 1945 mengamanahkan bahwa sekurang-kurangnya 20% Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) digunakan untuk fungsi pendidikan. Melalui Undang-undang Nomor 2 tahun 2010 tentang APBN-P 2010, pemerintah dan DPR sepakat bahwa sebagian dari dana fungsi pendidikan dijadikan sebagai Dana Pengembangan Pendidikan Nasional yang dikelola dengan mekanisme pengelolaan dana abadi (endowment fund) oleh sebuah Badan Layanan Umum (BLU).10
Selain itu, pada tahun 2015 tiap tenaga kerja diharapkan sudah memiliki sertifikat profesi sebagai modal penting, juga sebagai bukti dan pengakuan kompetensi yang sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), dengan begitu, mereka tidak kalah dalam persaingan dengan tenaga kerja asing yang sudah memiliki sertifikat. Selain itu sertifikasi juga berguna bagi pribadi, perusahaan dan negara. Bagi perusahaan, dengan adanya sertifikasi pekerja, mereka akan lebih mudah untuk merekrut karyawan yang
8 Awhan Putri, Peningkatan Kualitas SDM Menghadapi Tantangan Global, diakses dari Https://Www.Dev-Cafe.Org/Peningkatan-Kualitas-Sdm-Menghadapi-Tantangan-Global/ Pada Tanggal 19 November 2019 Pukul 14.57 WIB.
9 Sintaningrum Dan Liiklai Felfina, Kebijakan Proteksi Tenaga Kerja Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, Jurnal Fisip Universitas Padjajaran Vol.15 No.1. 2017.
Hal: 93.
10 Diana Harding, Anissa Lestari Kadiyono, Pelatihan Dan Pengembangan Sdm Sebagai Salah Satu Upaya Menjawab Tantangan MEA, Jurnal Psikologi Sains dan Profesi. 2018. Hal: 186.
47 sesuai kriteria. Sedangkan bagi negara, terjaminnya sertifikasi akan berdampak pada kemajuan ekonomi.11
Pada awal tahun 2000 menteri tenaga kerja bekerja sama dengan menteri pendidikan nasional dan ketua umum Kadin Indonesia membentuk lembaga independen, yaitu Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang bertanggung jawab kepada presiden yang memiliki kewenangan sebagai otoritas sertifikasi personil dan bertugas melaksanakan sertifikasi kompetensi profesi bagi tenaga kerja. Pembentukan BNSP merupakan bagian integral dari pengembangan paradigma baru dalam sistem penyiapan tenaga kerja yang berkualitas.12
Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga berperan dalam meningkatkan kualitas SDM, salah satunya membuat strategi pembangunan dalam mencapai visi Indonesia kedepan,13 dalam mencapai visi tersebut, berikut target dan strategi yang dirancang Bappenas, antara lain:
No Target Pembangunan SDM Strategi Pembangunan SDM 1. Membentuk sumber daya
manusia yang sehat
a. Perluasan jaminan kesehatan.
b. Penguatan gerakan masyarakat hidup sehat
c. Pencegahan dan pengendalian penyakit
d. Pelayanan berkualitas dan inovatif.
2. Pemrataan Pendidikan yang berkualitas
a. Pengembangan anak usia dini b. Percepatan wajib belajar 12 tahun.
c. Pemenuhan sarana prasarana Pendidikan yang berkualitas.
11 Ridwan Iskandar dan Budi Setiawan, Sertifikasi Kompetensi Sebagai Upaya Perlindungan Hukum Bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pariwisata Dalam Menyambut MEA,Vol. 2 No 2, 2015. Hal: 239.
12 Diakses Dari https://bnsp.go.id/informasi/93/Sejarah-BNSP Pada Tanggal 21 November 2019 Pukul 17.00 WIB.
13 Diakses Dari Https://Lpmpkaltara.Kemdikbud.Go.Id/Wp Content/Uploads/2019/02/Bappenas.Pdf Pada Tanggal 21 November 2019 Pukul 17.26 WIB.
48 d. Profesionalisme, kualitas,
pengelolaan, dan penempatan guru.
e. Pembelajaran keterampilan abad-21
3. Perlibatan industri dalam pengembangan vokasi
d. Lulusan vokasi yang kompeten dan tersertifikasi
4. Peningkatan relevansi dan daya saing Pendidikan tinggi
a. Kerja sama perguruan tinggi dengan industri dan pemerintah.
b. Perguruan tinggi sebagau pengembangan iptek dan pusat unggulan.
c. Pemanfaat teknologi untuk inovasi pembelajaran.
d. Peningkatan kualitas lulusan perguruan tinggi..
5. Penguasaan adopsi teknologi dan menciptakan inovasi
a. Penguasaan teknologi
b. Penciptaan ekosistem inovasi.
c. Peningkatan produktivitas SDM iptek.
6. Membangun manusia Indonesia berkarakter
a. Pengembangan budaya literasi.
b. Pendidikan agama, karakter dan budi pekerti.
c. Pengembangan budaya dan prestasi olah raga.
49 d. Pendidikan kewarganegaraan dan
bela negara.
Pun dalam hal penggunaan TKA yang bertujuan untuk alih keahlian/tekonologi juga sebagai salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM, pemerintah telah mengaturnya pada pasal 26-29 Perpres TKA 2018, yang mengatur tentang pelaksanaan Pendidikan dan pelatihan. Pada pasal 26 yang berbunyi : “ setiap pemberi kerja TKA wajib:
a. Menunjuk tenaga kerja Indonesia sebagai tenaga kerja pendamping.
b. Melaksanakan Pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kerja Indonesia sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh TKA, dan
c. Memfasilitasi Pendidikan dan pelatihan Bahasa Indonesia kepada TKA.”
Selanjutnya pada pasal 29 Perpres TKA 2018 disebutkan bahwa “Tenaga kerja pendamping yang mengikuti pendidikan dan pelatihan mendapat sertifikat pelatihan dan/ atau sertifikat kompetensi sesuai dengan perundang-undangan”.
Maka dari itu TKA yang didatangkan oleh perusahaan pemerintah/swasta hendaknya yang benar-benar terampil sehingga dapat membantu proses pembangunan ekonomi di Indonesia. Dimana diharapkan dalam jangka waktu tertentu tersebut, alih teknologi khususnya transfer of knowledge telah dikuasai atau sekurang-kurangnya dipahami dengan baik oleh tenaga kerja dalam negeri.
Untuk itu proses alih teknologinya kepada tenaga kerja lokal harus mendapatkan pengawasan yang ketat oleh pengawas ketenagakerjaan pada kementerian dan dinas provinsi serta memberikan sertifikasi kepada tenaga kerja pendamping.
50 B. Dukungan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah mengakui daya saing tenaga kerja Indonesia masih kurang dalam segi kualitas dan kuantitasnya dibanding negara-negara lain. Namun, pemerintah menyatakan untuk tetap menyepakati pasar bebas. Apabila kita kembali melihat keadaan ketenagakerjaan di Indonesia ditandai oleh beberapa masalah pokok, antara lain:
1. Kesempatan kerja yang terbatas.
2. Rendahnya kualitas Angkatan kerja.
3. Masih tingginya tingkat pengangguran.14
Kondisi ini mengharuskan Indonesia untuk mencari terobosan dan pemecahan. Sebagai negara hukum (rechtstaat) tentunya yang menjadi salah satu kewajiban bagi negara Indonesia untuk memberikan kepastian hukum, yaitu bentuk-bentuk perlindungan terhadap tenaga kerja lokal tanpa harus melanggar kesepakatan-kesepakatan yang dibuat dalam dengan negara lain.15 Hal ini karena posisi tawar pekerja Indonesia baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri sangat juga ditentukan oleh dukungan politik dan hukum dari Pemerintah Indonesia.16
Peran pemerintah merupakan hal yang mutlak dalam membangun kesejahteraan negara, menurut teori negara kesejahteraan (walfare state) dimana pemerintah memegang peranan penting dalam melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyatnya melalui kebijakan yang mengakomodasi kepentingan rakyat demi tercapainya kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan. Sebagaimana yang telah diamanatkan oleh negara pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Pemerintah melindungi segenap bangsa dan seluruh
14 Sunarso Dan Puji Lestari, Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan Dalam PJPT II Sebagai Strategi Untuk Memperkokoh Ketahanan Nasional, Jurnal Pendidikan No.1, 1995. Hal: 151.
15 Anis Tiana Pottag, Politik Hukum Pengendalian Tenaga Kerja Asing Yang Bekerja Di Indonesia, Jurnal Politik Hukum Vol. 1 No. 2, 2018. Hal: 239
16 Muhammad Fadli, Optimalisasi Kebijakan Ketenagakerjaan Dalam Menghadap Masyarakat Ekonomi Asean 2015, Jurnal Rechtvinding Vol.3 No.4, 2014, Hal : 284.
51 tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.17
Berdasarkan hasil telusur kebijakan, berikut adalah peraturan perundangan yang telah dikeluarkan Pemerintah dalam membuat payung hukum untuk melindungi TKI dalam menghadapi derasnya TKA yang bekerja di indonesia,
No Kebijakan Keterangan
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
Terdiri dari 193 pasal: pasal 42-49 mengenai penggunaan Tenaga Kerja Asing dan pasal 67-101 tentang Perlindungan, Pengupahan, dan Kesejahteraan. Pasal 185 tentang sanksi bagi pemberi kerja TKA yang melanggar.
2. Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 Tentang
Penggunaan Tenaga Kerja Asing.
Terdiri dari 38 pasal, ruang lingkung pengaturan dalam Peraturan Presiden ini adalah Tata Cara Penggunaan dan Pengesahan Rencana penggunaan TKA, Persyaratan TKA yang ingin bekerja di indonesia, pelatihan dan pendidikan, pelaporan, pengawasan, sanksi, pembayaran dana kompensasi penggunaan TKA, dan Ketentuan Penutup.
Peraturan ini merupakan petunjuk teknis penggunaan TKA sehingga lebih bersifat prosedural.
17 Eddy Kiswanto, Negara Kesejahteraan (Walfare State): Mengembalikan Peran Negara Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial Di Indonesia. Jurnal Kebijakan Dan Administrasi Politik Vol.9 No.2, 2005. Hal: 97.
52
Terdiri dari 43 pasal, yang merupakan penegasan kembali serta rincian syarat dan peraturan yang telah diatur sebelumnya oleh peraturan diatasnya
seperti Undang-Undang
Ketenagakerjaan tahun 2013 serta Perpres TKA 2018.
4. Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Dan Transmigrasi Nomor 40 Tahun 2012 Tentang Jabatan Tertentu Yang Dilarang Diduduki Oleh Tenaga Kerja Asing
Dalam keputusan Menteri ini terdapat 19 jabatan yang tidak boleh diduduki TKA. Dikarenakan jabatan tersebut berhubungan langsung dengan kepegawaian.
Disamping itu, saat ini kementerian ketenagakerjaan tengah menyusun Rencana Strategis (Renstra) ketenagakerjaan tahun 2020-2024 sebagai upaya peningkatan kesiapan sumber daya manusia Indonesia. Dalam paparannya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) kemnaker Khairul Anwar menyebut delapan arah kebijakan renstra kemnaker pada tahun 2020-2024. Rinciannya sebagai berikut:
1. Mengembangkan pasar tenaga kerja terbuka bagi sektor-sektor pekerjaan yang bernilai tambah tinggi.
2. Meningkatkan kualitas Pendidikan dan pelatihan yang adptif terhadap teknologi, khususnya bagi milenial (Pendidikan vokasi) dan soft skills.
3. Pengembangan pusat-pusat pelatihan ketenagakerjaan (Lembaga kursus/komunitas) bagi kelompok berpendidikan rendah.
4. Mengembangkan informasi pasar kerja yang terbuka serta menjangkau seluruh daerah serta potensi “demand” tenaga kerja.
53 5. Menguatkan relevensi dunia Pendidikan dan dunia kerja baik dari kurikulum, pendidik, sarana dan prasarana, metode pembelajaran, hingga sertifikasi keahlian (SKKNI).
6. Meningkatkan kualitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada bidang dan keahlian tertentu serta pengembangan pasar baru PMI di luar negeri.
7. Peningkatan kuantitas dan kualitas hubungan industrial untuk menciptakan iklim ketenagakerjaan yang baik.
8. Peningkatan kapasitas pengawasan ketenagakerjaan untuk iklim ketenagakerjaan yang baik.18
Penyusunan renstra ini diharapkan dapat memetakan apa saja yang dilakukan pemerintah khususnya kemnaker dan sesuai target yang sudah disepakati untuk menjadi indikator kinerja pemerintah kedepan.
C. Pengendalian Laju Tenaga Kerja Asing (TKA)
Hadirnya Tenaga Kerja Asing (TKA) di negara Indonesia akan berdampak bagi ekonomi negara sebagai investasi jangka panjang dalam hal pembangunan nasional. Permasalahan yang timbul adalah bahwa jumlah TKA yang bekerja di Indonesia semakin meningkat dan dikhawatirkan berdampak pada kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal. Terlebih kualitas SDM dan ketenagakerjaan di Indonesia yang masih berada diperingkat bawah.
Indonesia perlu melakukan upaya untuk menata tenaga kerja lokal.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan diantaranya adalah pengembangan standar kompetensi kerja, pengembangan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi, serta harmonisasi regulasi antar instansi. Terkait harmonisasi regulasi antar instansi, langkah ini memegang peranan yang penting.
Untuk dapat mengendalikan jumlah TKA di Indonesia maka pemerintah harus membatasi penggunaan TKA dan melakukan pengawasan. Pembatasan
18 Kemnaker Beberkan 8 Rencana Strategis Ketenagakerjaan, Diakses Dari Https://Money.Kompas.Com/Read/2019/04/09/185936726/Kemnaker-Beberkan-8-Rencana-Strategis-Ketenagakerjaan-2020-2024 Pada Tanggal 18 November 2019 Pukul 21.56.
54 TKA sangat diperlukan sebagai penjamin atas kesempatan kerja yang layak di indonesia bagi TKL. Sesuai penetapan pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi “ Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.
Hal ini merupakan implementasi dari pemenuhan hak asasi manusia termasuk dalam hak ekonomi, sosial dan budaya yang berkaitan dengan hak individu dalam pemenuhan kebutuhan hidup, yang meliputi hak atas pekerjaan, hak asasi untuk bekerja secara bebas di negaranya sendiri.19
Dalam hal pengendalian TKA, pemerintah telah mengatur secara tegas tentang penggunaan tenaga kerja asing di Indonesia untuk mencegah terjadinya penggunaan TKA yang berlebihan. Pemerintah membuat kebijakan-kebijakan, salah satunya Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing sebagai peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
Secara prinsip pemerintah mengendalikan masuknya TKA melalui berbagai persyaratan yang telah diatur dalam regulasi, kemudian melakukan pengawasan dan penegakan hukum. Salah satunya adalah mewajibkan kepada seluruh perusahaan memiliki Rencana Penggunaan Tenaga kerja Asing (RPTKA) yang disahkan pejabat yang berwenang sebagaimana yang telah diatur pada pasal 7 ayat (1) Perpres TKA 2018 yang menyebutkan : “ Setiap pemberi kerja TKA yang menggunakan TKA harus memiliki RPTKA yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk ”, dilanjutkan dengan pasal 7 ayat (2) Perpres TKA 2018 yang berbunyi “ RPTKA sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. Alasan penggunaan TKA.
b. Jabatan dan atau kedudukan TKA dalam struktur organisasi perusahaan yang bersangkutan.
19 Ario Adrianto, Skripsi: Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Ketenagakerjaan Di Tinjau Dari Perspektif Hukum Islam, Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2017. Hal: 69.
55 c. Jangka waktu penggunaan TKA, dan
d. Penunjukan tenaga kerja Indonesia sebagai pendamping TKA yang dipekerjakan.”
Untuk mendapatkan pengesahan RPTKA, pemberi kerja mengajukan permohonan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk, sebagaimana yang dimuat pada pasal 7 ayat (4) Perpres TKA 2018 yang menyebutkan: “ permohonan pengesahan RPTKA yang dimaksud pada ayat (3) Perpres TKA 2018 disampaikan oleh pemberi kerja TKA dengan melampirkan :
a. Surat izin usaha dari instansi yang berwenang.
b. Akta dan keputusan pengesahan pendirian dan atau perubahan dari instansi yang berwenang.
c. Bagan struktur organisasi perusahaan
d. Surat pernyataan untuk penunjukan tenaga kerja pendamping dan pelaksanaan Pendidikan dan pelatihan kerja.
e. Surat pernyataan untuk melaksanakan Pendidikan dan pelatihan kerja bagi tenaga kerja Indonesia sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh TKA.”
Selain itu perlunya RPTKA dimaksudkan agar penggunaan TKA dilaksanakan secara selektif dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja lokal dan juga pengawasan bagi TKA.20 Pengendalian laju tenaga kerja asing melalui RPTKA merupakan langkah pemerintah untuk melindungi TKL Indonesia, dalam konteks ini maka sesuai dengan teori perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo ialah perlindungan yang diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.21
Berdasarkan perpres TKA 2018 ini, setiap pemberi kerja yang mempekerjakan TKA wajib mengutamakan tenaga kerja lokal pada semua jenis
20 Hasil Wawancara Peneliti Dengan Khairul Anwar Sekretaris Jendral Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia Pada 14 November 2019
21 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Karya Bakti), 2000. Hal: 53.
56 jabatan yang tersedia dan memperhatikan jabatan-jabatan yang dilarang diduduki oleh TKA, oleh karenanya pemerintah mempertegas pada pasal 4 Perpres TKA 2018 yang mengharuskan kepada seluruh pemberi kerja untuk mengutamakan TKL pada semua jenis jabatan yang tersedia kecuali jabatan tersebut tidak dapat diduduki oleh TKL. Adapun jabatan yang tidak boleh diduduki oleh TKA yang disebutkan di pasal 5 ayat (1) Perpres TKA 2018 yaitu
“ TKA dilarang untuk menduduki jabatan yang mengurusi personalia, atau jabatan tertentu yang ditetapkan oleh Menteri ”, Aturan mengenai posisi kerja atau jabatan yang tidak boleh diduduki oleh Tenaga Kerja Asing tertuang didalam Keputusan Menteri Tenaga kerja Nomor 40 Tahun 2012 Tentang Jabatan-Jabatan Tertentu Yang Dilarang Diduduki Tenaga Kerja Asing.
Didalam aturan tersebut, tertulis jabatan apa saja yang tidak boleh diduduki oleh TKA yang bekerja di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut berikut adalah jabatan yang tidak boleh dipegang oleh TKA:
1. Direktur Personalia (Personnel Director).
2. Manajer Hubungan Industrial (Industrial Relation Manager).
3. Manajer Personalia (Human Resource Manager).
4. Supervisor Pengembangan Personalia (Personnel Development Supervisor).
5. Supervisor Perekrutan Personalia (Personnel Recruitment Supervisor).
6. Supervisor Penempatan Personalia (Personnel Placement Supervisor).
7. Supervisor Pembinaan Karir Pegawai (Employee Career Development Supervisor).
8. Penata Usaha Personalia (Personnel Declare Administrator).
9. Kepala Eksekutif Kantor (Chief Executive Officer).
10. Ahli Pengembangan Personalia dan Karir (Personnel and Careers Specialist).
11. Spesialis Personalia (Personnel Specialist).
12. Penasehat Karir (Career Advisor).
57 13. Penasehat tenaga Kerja (Job Advisor).
14. Pembimbing dan Konseling Jabatan (Job Advisor and Counseling).
15. Perantara Tenaga Kerja (Employee Mediator).
16. Pengadministrasi Pelatihan Pegawai (Job Training Administrator).
17. Pewawancara Pegawai (Job Interviewer).
18. Analisis jabatan (Job Analyst).
19. Penyelenggaraan penempatan kerja (Occupational Safety Specialist ).
Perusahaan dilarang merekrut TKA untuk ditempatkan didalam posisi kerja sebagaimana tercantum diatas. Hal ini karena jabatan diatas berhubungan langsung dengan pengelolaan sumber daya manusia, pengembangan, keselamatan dan perekrutan personalia. Tentu saja semua hal yang berkaitan dengan personalia harus dipegang oleh tenaga kerja lokal yang memiliki kewarganergaraan Indonesia (WNI).
Hal ini bertujuan agar setiap keputusan yang diambil tidak akan berdampak buruk terlebih jika berkaitan dengan personalia atau karyawan. Sebagaimana dalam teori perlindungan hukum dan hak asasi manusia , yaitu perlindungan bagi tenaga kerja lokalyangdimaksudkan untuk menjamin hak-hak asasi dasar pekerja dan menjamin kesamaan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha dan kepentingan pengusaha.
Pemberi kerja juga dilarang untuk mempekerjakan TKA yang berpendidikan rendah/ sebagai buruh kasar. Pada pasal 5 ayat (3) Perpres TKA 2018 tentang syarat kualifikasi dan kompetensi TKA, syarat tersebut disampaikan pada pasal 5 Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2018, yaitu : 1. Memiliki Pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki
oleh TKA.
2. Memiliki sertifikat kompetensi atau memiliki pengalaman kerja paling sedikit 5 (lima) tahun yang sesuai dengan kualifikasi jabatan yang akan diduduki TKA.
58 3. Mengalihkan keahliannya kepada tenaga kerja pendamping.
Pada pasal 30 Perpres TKA 2018 ini juga mewajibkan pemberi kerja TKA untuk melapor pelaksanaan penggunaan TKA setiap 1 (satu) kepada Menteri, yang meliputi :
a. Pelaksaan penggunaan TKA, dan
b. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja pendamping.
Dilanjutkan pada pasal 31 Perpres TKA 2018 yang berbunyi “ Menteri atau pejabat yang ditunjuk harus menyampaikan data yang dipekerjakan oleh pemberi kerja TKA kepada unit kerja pemerintahan provinsi/kabupaten/kota
Dilanjutkan pada pasal 31 Perpres TKA 2018 yang berbunyi “ Menteri atau pejabat yang ditunjuk harus menyampaikan data yang dipekerjakan oleh pemberi kerja TKA kepada unit kerja pemerintahan provinsi/kabupaten/kota