BAB IV. HASIL PENELITIAN
B. DATA PENELITIAN DAN ANALISIS
1. Peningkatan Prestasi Belajar
metode inkuiri terarah.
2. Keterlibatan yang dilakukan siswa dalam kegiatan pembelajaran fisika
dengan metode inkuiri terarah (melalui kegiatan inkuiri seperti merumuskan masalah dan membuat hipotesis dalam lembar kegiatan siswa, menguji hipotesis dengan melakukan eksperimen dan mengamati percobaan dengan sungguh-sungguh, mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik kesimpulan dalam lembar kegiatan siswa).
3. Minat siswa terhadap proses pembelajaran fisika dengan metode inkuiri terarah.
E. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru dan calon guru, peneliti dan peserta didik. Untuk guru dan calon guru, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan gambaran bagi guru dan calon guru dalam memilih salah satu model pembelajaran menggunakan metode pembelajaran inkuiri terarah yang dapat diterapkan untuk lebih mengefektifkan pembelajaran fisika.
Untuk peneliti, dengan penelitian ini peneliti mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang cara mengajar dengan menggunakan metode inkuiri terarah dan mengetahui sikap siswa, pemahaman siswa, dan tentang materi pokok bahasan yang diajarkan menggunakan metode inkuiri terarah. Sedangkan bagi penelitian yang akan meneliti lebih lanjut, penelitian ini berguna untuk pengembangan metode inkuiri sebagai metode pembelajaran.
Untuk siswa, melalui kegiatan belajar yang dilaksanakan dalam pembelajaran ini, siswa akan memiliki pengalaman baru dalam proses belajar inkuiri di kelas, sehingga diharapkan siswa lebih tertarik untuk memahami konsep yang dipelajari.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. Pengertian Belajar
Menurut aliran belajar kognitif belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekedar proses menghafal dan memupuk ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir (Sanjaya, 2006: 193). Belajar pada hakikatnya bukan peristiwa behavioral yang dapat diamati, tetapi proses mental seseorang untuk memaknai lingkungan sendiri.
Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di
dalam suatu situasi permasalahan (Sanjaya, 2006: 118). Insight merupakan inti dari belajar tergantung pada kemampuan dasar, pengalaman masa lalu yang relevan, pengaturan dan penyediaan lingkungan, dan pemahaman itu sendiri. Pemahaman tersebut dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain.
Menurut teori medan belajar adalah proses pemecahan masalah yang mengakibatkan perubahan terhadap struktur kognitif.
Menurut filsafat konstruktivisme belajar merupakan proses aktif siswa mengkonstruksi arti, entah teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain (Suparno, 1997: 61). Dalam mengkonstruksi pemahaman, selain-lain dilakukan sendiri oleh siswa juga menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain. Dalam belajar siswa aktif mengolah bahan, mencerna, memikirkan, menganalisis, dan merangkumnya sebagai suatu pengertian yang utuh. Sedangkan dengan mencari dan menemukan sendiri, siswa akan lebih dapat memaknai pengertian tersebut.
Dengan demikian dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa belajar adalah kegiatan aktif siswa yaitu membangun pemahaman. Pemahaman tersebut dibentuk melalui pengalaman nyata dengan cara memecahkan masalah melalui kegiatan berpikir, dan terlibat langsung dengan melakukan sendiri maupun bersama orang lain.
2. Pembelajaran
Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng (dalam Uno, 2006: 2) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pembelajaran diperlukan perencanaan atau pendesainan seperti kegiatan memilih, menetapan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan.
Upaya yang dilakukan guru untuk membelajarkan siswa tersebut antara lain memikirkan bagaimana cara agar tercapai tujuan pembelajaran, memikirkan bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran,
menyampaikan isi pembelajaran, menata interaksi antara guru dan siswa serta sumber-sumber belajar yang ada agar dapat befungsi secara optimal, sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas bagi siswa.
Dalam pelaksanaan di kelas pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2003: 100). Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhi baik faktor internal dari dalam individu yang terlibat dalam proses pembelajaran, maupun faktor eksternal dari lingkungan.
Dalam pembelajaran guru mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa sesuai dengan desain yang telah direncanakan oleh guru.
Pelaksanaan pembelajaran meliputi pretest (tes awal), proses, dan posttest (tes akhir).
a. Pretest (tes awal)
Pretest dilaksanakan pada awal pembelajaran. Fungsi pretest di
awal pembelajaran antara lain untuk menyiapkan siswa dalam proses belajar, mengetahui tingkat kemajuan siswa dalam pemahaman yang dibandingkan dengan posttest, untuk mengetahui kemampuan awal siswa, dan untuk mengetahui tujuan-tujuan belajar yang harus dilakukan saat pembelajaran.
b. Proses
Proses sebagai kegiatan inti dari pelaksanaan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran diperlukan interaksi siswa dengan guru, dan semua sumber belajar lain yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, dengan cara guru membantu siswa agar terlibat secara aktif, baik mental dan fisik maupun sosial. Guru harus memilih salah satunya metode pembelajaran yang dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan belajar dan mengembangkan kemampuan siswa dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c. Posttest
Posttest dilaksanakan di akhir pembelajaran fungsi posttest
antara lain untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yaitu tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah ditentukan.
Akibat yang tampak dari pembelajaran adalah siswa akan belajar sesuatu yang mereka tidak akan pelajari tanpa adanya tindakan pembelajaran, atau mempelajari sesuatu dengan cara yang lebih efisien (Uno, 2007: 2). Sehubungan dengan hal tersebut, posttest merupakan langkah untuk mengetahui apakah ada yang dipelajari siswa melalui pembelajaran.
Pembelajaran dimaksudkan terciptanya suasana sehingga siswa belajar, dengan demikian dalam merancang aktivitas pembelajaran guru harus belajar dari aktivitas siswa. Guru harus mengupayakan agar
terbentuk motivasi dari dalam diri siswa. Bahan belajar yang tersedia dan upaya penyediaannya harus mendukung pencapaian tujuan belajar.
Dari penjelasan di atas dapat dinyatakan jika belajar merupakan kegiatan peningkatan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik menjadi lebih baik yang terjadi dalam diri siswa, sedangkan pembelajaran merupakan kondisi eksternal dari belajar yang direncanakan sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar yang akhirnya dapat menambah pengetahuan siswa.
3. Efektivitas Pembelajaran Fisika a. Efektivitas pembelajaran
Hasil pembelajaran dapat dinyatakan dengan keefektifan atau effectiveness. Mulyasa (2003: 82) menyimpulkan bahwa efektivitas
berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu dan adanya partisipasi aktif dari anggota. Dengan demikian efektivitas pembelajaran menunjukkan sejauh mana pembelajaran berhasil melaksanakan semua rencana kegiatan belajar, menjalin interaksi antara unsur-unsur dalam pembelajaran, memanfaatkan sumber-sumber belajar dan tercapainya tujuan belajar.
Makmun (dalam Komariah, Triatna, 2005: 8) menegaskan bahwa efektivitas sekolah pada dasarnya menunjukkan tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai (achievement atau observed
output) yang telah ditetapkan. Parameternya dapat dinyatakan sebagai
angka nilai.
Mulyasa (2003: 84) menyatakan indikator efektivitas secara
kuantitaif mengacu pada input, proses, output, dan outcome. Input
meliputi karakteristik guru, perlengkapan, fasilitator, materi pelajaran. Proses meliputi perilaku administratif, alokasi waktu guru, dan alokasi waktu siswa. Output meliputi hasil-hasil dalam bentuk perolehan siswa, hasil-hasil yang berhubungan dengan prestasi belajar, dan hasil-hasil yang berhubungan dengan perubahan sikap. Sedangkan outcome meliputi jumlah kelulusan. Secara kualitatif efektivitas pembelajaran salah satunya meninjau kepuasan siswa berkaitan dengan proses pembelajaran seperti minat dan perasaan senang, serta keterlibatan diri siswa dalam kegiatan belajar.
Pasaribu dan Simandjuntak (1983: 111) menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran dapat ditinjau dari (1) cara mengajar guru yaitu sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang direncanakan terlaksana, (2) dari belajar siswa yang menyangkut sejauhmana tujuan pelajaran yang diinginkan tercapai melalui kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dari tinjauan guru, efektivitas pembelajaran menunjukkan terlaksananya perencanaan pembelajaran yang menimbulkan partisipasi aktif, dan adanya interaksi guru dan siswa. Sedangkan dari tinjauan siswa, efektivitas pembelajaran dapat dilihat
dari sejauhmana prestasi belajar, keterlibatan dalam kegiatan belajar, dan minat terhadap pembelajaran.
b. Pembelajaran Fisika yang Efektif
Fisika dipandang sebagai suatu proses dan produk sehingga dalam pembelajarannya harus memperhatikan strategi atau metode pembelajaran yang efektif , yaitu salah satunya melalui kegiatan praktik, karena melalui kegiatan praktik siswa melakukan kegiatan olah pikir dan sekaligus olah tangan.
Amien (1987: 101) menyatakan beberapa cara yang membantu siswa belajar IPA secara efektif dan bermakna misalnya dengan kegiatan-kegiatan belajar melalui observasi, diskusi, demonstrasi, penggunaan alat peraga, eksperimen, simulasi, pemecahan masalah dan inkuiri.
Guru dapat memanfaatkan kegiatan tersebut untuk merancang pembelajaran agar siswa dapat aktif dan terlibat. Keefektifan yang lebih besar dalam proses belajar mengajar IPA dapat dicapai jika suatu tantangan masalah yang harus dipecahkan, yaitu satu masalah di mana siswa merasa bahwa masalah tersebut penting sekali untuk dipecahkan (Amien, 1987:102). Dengan masalah yang diberikan, siswa akan tertarik untuk memberikan hipotesis terhadap masalah, kemudian guru memberikan umpan balik, sehingga memungkinkan terjadi diskusi. Dalam merancang pemecahan masalah, guru dapat melibatkan siswa untuk melakukan pengamatan dalam kelompok-kelompok kecil,
merancang dan melaksanakan eksperimen, yang akan menghasilkan data dan informasi-informasi.
Amien (1987: 103) menyatakan bahwa dalam memecahkan masalah dapat menggunakan prosedur atau metode ilmiah. Metode ilmiah antara lain:
1) Mulai dengan suatu masalah, dilanjutkan dengan pengamatan
gejala melalui cara observasi yang teratur dan terarah. Selama itu guru menyemangati siswa untuk terus melakukan cara yang sama, dengan demikian siswa belajar mengamati dan menginterpretasikan lingkungan siswa.
2) Guru dapat memanfaatkan lingkungan dengan memberikan
kesempatan pada siswa untuk menggunakan sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.
3) Eksperimen dilaksanakan untuk memecahkan masalah di mana
siswa belum tahu jawabannya secara sendiri, ataupun membuktikan jawaban.
4) Pemanfaatan alat peraga dan media dapat menarik perhatian siswa
dan menimbulkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dalam menggunakan alat.
5) Pemanfaatan sumber-sumber belajar seperti buku-buku,
majalah-majalah ilmiah yang dapat memungkinkan siswa belajar tentang ide-ide dari orang lain. Dari buku siswa dapat memeriksa jawaban, mendapatkan keterangan-keterangan tambahan.
Selain itu bimbingan dari guru selama kegiatan belajar sangat penting agar proses belajar dapat terarah. Untuk dapat mengajar efektif, guru harus menggunakan media, sumber belajar, dan metode pembelajaran yang bervariasi, menguasai bahan ajar dan memahami teori - teori belajar (http://one.indoskripsi.com). Dengan demikian kegiatan-kegiatan di atas dapat memberikan kesempatan siswa untuk belajar IPA secara efektif.
4. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil usaha atau keberhasilan siswa dalam belajar setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa (Arifin, 1988: 3). Dengan kata lain keberhasilan siswa menunjukkan kualitas dan kuantitas pencapaian tujuan kegiatan belajar mengajar. Kuantitas berkaitan dengan jumlah siswa yang berhasil dalam tes, sedangkan kualitas berkaitan dengan mutu keberhasilanya.
Indikator prestasi belajar dapat berupa nilai. Agar nilai sungguh-sungguh menunjukkan pemahaman, maka kualitas alat tes yaitu soal-soal tes yang mewakili materi yang dipelajari mewakili unsur terpenting dalam pokok bahasan.
Hasil belajar menurut Bloom dibagi menjadi 3 ranah (aspek) yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi (Sudjana, 1992:2).
Aspek afektif berkaitan dengan sikap, dan aspek psikomotorik berkaitan dengan hasil belajar keterampilan dan bertindak. Dari ketiga ranah tersebut yang paling sering menjadi objek penilaian adalah aspek kognitif, karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi pokok bahasan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dalam pembelajaran adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dipilih oleh guru harus mendukung siswa agar terlibat dan berminat dalam mengikuti kegiatan belajar, sehingga akhirnya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. Minat
Minat adalah kecenderungan yang agak menetap dalam subjek, merasa tertarik pada bidang atau suatu hal tersebut dan merasa senang terlibat dalam bidang itu. Minat adalah suatu rasa suka dan keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 1988: 182).
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula ditunjukkan dengan partisipasi dalam suatu aktivitas, yaitu siswa akan ikut aktif dalam kegiatan belajar.
Aspek-aspek minat antara lain: merasa tertarik pada materi, merasa senang mengikuti pembelajaran, merasa suka, merasa menerima, konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran, perhatian terhadap pembelajaran, merasa puas, berperan aktif dengan terlibat langsung.
Usaha guru dalam mengelola pembelajaran yang menarik minat siswa dapat berupa membina hubungan akrab dengan siswa, menyajikan bahan belajar yang tidak terlalu sulit, menggunakan media pengajaran yang sesuai, bervariasi dalam prosedur mengajar.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya (Slameto, 1988: 59).
B. METODE INKUIRI TERARAH 1. Pengertian Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu inquiry, yang diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukan. Pertanyaan ilimiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan demikian inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003 dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id).
David L. Haury (dalam Joko Sutrisno pada http://www.erlangga.co.id) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak yang menyatakan bahwa inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain inqury berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993 dalam Joko Sutrisno pada http://www.erlangga.co.id).
Trowbridge dan Bybee, 1996 (dalam Suparno, 2007: 65) menyatakan bahwa secara umum inquiry adalah proses di mana para saintis mengajukan pertanyaan tentang alam dunia ini dan bagaimana mereka secara sistematis mencari tahu jawabannya. Sedangkan Hebrank, 2000; Budnitz, 2003; Chiapetta & Adam, 2004 (dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id) menyatakan inkuiri sebenarnya merupakan prosedur yang biasa dilakukan oleh ilmuwan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inkuiri adalah suatu proses dan aktivitas yang menggunakan keterampilan aktif untuk memperoleh dan mendapatkan informasi melalui penyelidikan yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan yaitu dengan melakukan obeservasi dan eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis.
2. Pengertian Metode Inkuiri
Menurut Hacket, 1998 (dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id), di dalam Standar Nasional Pendidikan Sains di Amerika Serikat, inkuiri digunakan dalam dua terminologi, yaitu sebagai pendekatan pembelajaran oleh guru, dan sebagai materi pelajaran sains yang harus mampu dilakukan oleh siswa. Sebagai strategi pembelajaran, inkuiri dapat digabungkan dengan strategi lain sehingga dapat membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan kegiatan inkuiri oleh siswa. Menurut Mulyasa, 2003 (pada http://yastaki56.space.live.com) metode inquiry adalah metode yang mampu membawa siswa untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar, inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang aktif.
Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah (http://www.erlangga.co.id).
Kourilsky merumuskan pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok siswa inquiry ke dalam suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural kelompok (Hamalik, 2001: 220).
Kindsvatter, Wilen, & Ishler lebih menjelaskan inquiry sebagai model pengajaran di mana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik (Suparno, 2007:65).
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa dalam metode pembelajaran inkuiri, siswa sebagai subjek belajar yang tidak hanya sebagai penerima materi melalui penjelasan guru secara verbal, namun siswa aktif menemukan sendiri melalui kegiatan-kegiatan penyelidikan ilimiah yang dilakukan secara sistematis dengan menggunakan keterampilan berpikir kritis dan logis untuk memecahkan masalah.
Melalui pembelajaran berbasis inkuiri, siswa belajar sains sekaligus juga belajar metode sains. Proses inkuiri memberi kesempatan pada siswa untuk memiliki pengalaman belajar secara nyata dan aktif. Siswa dilatih memecahkan masalah sekaligus membuat keputusan, dan ketika sedang bereksplorasi akan membuat siswa memunculkan pertanyaan.
3. Langkah-langkah Metode Inkuiri
Inkuiri merupakan proses bervariasi meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan, melaksanakan percobaan atau eksperimen menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasikan data,
membuat prediksi, dan mengkomunikasikan hasilnya (Depdikbud, 1997; NRC, 2000 dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id).
Secara sederhana proses inkuiri berisi tahap sebagai berikut:
Bagan 1. Tahap-tahap dalam proses kegiatan inkuiri
Kemampuan yang dikembangkan dalam proses inkuiri dijelaskan dalam tabel berikut:
Tabel 1. Kemampuan yang dikembangkan dalam proses inkuiri. Tahap Inkuiri Kemampuan yang dituntut Merumuskan masalah
a. Kesadaran terhadap masalah b. Melihat pentingnya masalah c. Merumuskan masalah
2. Merumuskan hipotesis
a. Menguji dan menggolongkan jenis data yang dapat diperoleh
b. Melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis
c. Merumuskan hipotesis
3. Menguji jawaban tentative
a. Merakit peristiwa
Mengidentifikasikan peristiwa yang dibutuhkan Mengumpulkan data Mengevaluasi data b. Menyusun data Mentranslasikan data Menginterpretasikan data Mengklasifikasikan c. Analisis data Melihat hubungan
Mencatat persamaan dan perbedaan
Mengidentifikasika tren, sekuensi dan keteraturan
4. Menarik kesimpulan a. Mencari pola dan makna hubungan b. Merumuskan kesimpulan
5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi
Menurut Suryosubroto, 2002 (pada http://yastaki56.space.live.com) metode inquiry adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih
mendalam. Artinya proses inquiry mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatanya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, dan sebagainya.
Kegiatan-kegiatan penyelidikan seperti observasi dan memprediksi tidak lain merupakan kegiatan penemuan (discovery) yang menggunakan proses mental siswa untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip, sehingga dalam inqury terdapat kegiatan discovery yang disertai dengan
penyelidikan lebih lanjut terhadap hasil temuan, seperti menganalisis hasil data dalam temuan dan menarik kesimpulan.
4. Tingkatan-tingkatan Metode Inkuiri
Bonnstetter, 2000 (dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id) membedakan inkuiri berdasarkan tingkat kesederhanaan kegiatan siswa menjadi lima tingkat, yaitu:
a. Traditional Hands-On (Praktikum)
Praktikum adalah jenis inkuiri yang paling sederhana di mana guru memberikan perencanan kegiatan mulai dari tahap memilih topik sampai penarikan kesimpulan yang harus dilakukan oleh siswa dalam bentuk buku petunjuk yang lengkap. Martin-Hansen, 2002 (dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id) menyatakan bahwa praktikum tidak termasuk kegiatan inkuiri, karena dalam praktikum tidak terdapat komponen esensial dari inkuiri yaitu pertanyaan dan masalah tidak muncul.
b. Structured Science Experiences (Pengalaman Sains yang Terstruktur)
Kegiatan inkuiri di mana guru menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur, sedangkan analisis hasil dan kesimpulan di lakukan oleh siswa.
c. Guided Inquiry (Inkuri Terbimbing)
Dalam inkuiri terbimbing siswa diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil, dan mengambil kesimpulan
secara mandiri. Sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya berperan sebagai fasilitator.
d. Student Directed Inquiry (Inkuiri Siswa Mandiri)
Dalam inkuiri ini siswa bertanggung jawab secara penuh terhadap proses belajarnya, dan guru hanya memberikan bimbingan terbatas pada pemilihan topik dan pengembangan pertanyaan.
e. Student Research (Penelitian Siswa)
Dalam inkuiri ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, sedangkan penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari seluruh komponen inkuiri menjadi tanggungjawab siswa.
Callahan, et al, 1992 (dalam Muslimin Ibrahim pada
http://kpicenter.web.id) membedakan tingkat inkuiri berdasarkan sejauhmana keterlibatan siswa. Ada tiga bentuk keterlibatan siswa dalam inkuiri, yaitu identifikasi masalah, pengambilan keputusan tentang teknik pemecahan masalah, dan identifikasi solusi tentatif terhadap masalah.
Ada 2 tingkatan inkuiri berdasakan variasi bentuk keterlibatan dan sejauhmana keterlibatan siswa yaitu:
1) Inkuiri terbimbing
Inkuiri tingkat pertama merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah diberikan oleh guru atau bersumber dari buku teks. Siswa melakukan kegiatan untuk menemukan jawaban terhadap masalah dengan pengawasan dan bimbingan dari guru.
Menurut Bonnstetter, 2000: Martten-Hansen, 2002: dan
Oliver-Hoyo, et al, 2004 (dalam Muslimin Ibrahim pada
http://kpicenter.web.id), yang termasuk dalam kriteria inkuiri ini adalah inkuiri terbimbing (guided inquiry), sedangkan Orlich, et al, 1998 (dalam Muslimin Ibrahim pada http://kpicenter.web.id) menyebutnya sebagai pembelajaran penemuan (discovery learning) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah.
Beberapa karakteristik dari inkuiri terbimbing yaitu:
a) Siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi
hingga membuat generalisasi.
b) Tujuan kegiatan mempelajari proses mengamati kejadian atau
obyek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai.
c) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya