% KONTRIBUSI KELOMPOK PANGAN
PENINGKATAN PRODUK PANGAN SEGAR YANG TERSERTIFIKASI (%)
Target indikator peningkatan produk pangan segar yang bersertifikasi pada tahun 2015 sebesar 10% dan terealisasi 3,16% atau 31,6%. Secara rinci di sajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 34.Target dan Realisasi Capaian Indikator Peningkatan Produk Pangan Segar yang Tersertifikasi
No Indikator Kinerja Tahun 2015 Target Akhir
Renstra Capaian s/d 2015 terhadap 2019 (%) Target Capaian % 1.. Persentase Peningkatan
Produk Pangan Segar yang Tersertifikasi
10% 7,4% 74% 10% 74%
Realisasi pencapaian kinerja indikator peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi baru mencapai 74% dari yang ditargetkan. Target renstra dan target nasional untuk indikator peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi adlah 10%, pada tahun 2014 peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi belum dijadikan indikator kinerja, baru tahun 2015 dijadikan indikator. Peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 56
Tabel 35. Pelaku Usaha dan Kebun yang sudah Teregister & sudah Tersertiifikasi
Tahun
Jumlah Kebun dan lahan usaha yang
sudah Teregister
Jumlah kebun dan lahan usaha
yang sudah tersertifikasi Presentase Tahun 2014 Tahun 2015 55 75 26 41 47,27 54,67
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi dari tahun 2014 sampai tahun 2015 baru mencapai 7,4% atau 74% dari yang ditargetkan yaitu 10%.
Upaya yang dilakukan dalam peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi yaitu dengan cara merubah pola pikir petani dengan cara sosiallisasi atau pelatihan pelatihan dan bimbingan teknis tentang cara untuk menghasilkan produk yang aman. Dalam upaya meningkatkan daya saing produk agribisnis dalam perdagangan domestik dan internasional, penerapan sistem jaminan/manajemen mutu dan keamanan pangan produk (food safety) agribisnis terutama untuk produk segar adalah sanngat penting dan menjadi satu keharusan, sehingga Petani/pelaku usaha dituntut menjalankan proses produksi yang baik, yang berujung pada penerapan Hazard analysis critical control point (HACCP), selain hal tersebut, untuk dapat melakukan penanganan keamanan pangan segar dengan benar diperlukan pengenalan teknologi penanganan keamanan pangan segar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pengawasan dan pembinaan. Bentuk jaminan mutu produk hasil pertanian adalah sertifikasi jaminan mutu dan atau label yang menyatakan kesesuaian produk terhadap standar nasional Indonesia (SNI) atau standar lain yang diacu. Untuk mendapatkan sertifkat jaminan mutu dan keamanan pangan, petani/pelaku usaha harus menerapkan system jaminan mutu dan mengajukan permohonan sertifikat ke lembaga sertifikasi terkait seperti Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP-D) yang ada di Badan Ketahanan Pangan Daerah
Provinsi Lampung.
Dalam pencapaian target indikator peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi sebesar 10% ini agak mengalami kesulitan dikarenakan beberapa faktor, yaitu :
1. Dari segi pelaku usaha
Dari pelaku usaha ini masih banyak pelaku usaha yang belum memahami tentang tata cara pengajuan sertifikasi baik sertifikasi prima 3 maupun prima 2 dan belum memahami nilai tambah yang akan diperoleh atas produk yang sudah bersertifikat/teregistrasi sehingga perlu kerja keras dari OKKP-D untuk mensosialisasikan tata cara pengajuan sertifikat/registrasi dan merubah pola pikir petani/pelaku usaha untuk menghasilkan produk yang aman yang mungkin selam ini kurang dipahami dan kurang diperhatikan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 57 Belum adanya tuntutan dari konsumen agar produk memilliki sertifikasi sehingga pelaku usaha belum begitu memperhatikan dan menganggap penting sertifikat untuk produk pangan segar asal tumbuhan yang dihasilkannya.
3. Dari segi pasar
Pasar belum menghargai sertifikat/registrasi yang dimiliki oleh petani/pelaku usaha, dipasaran harga produk pertanian baik yang bersertifikat maupun yang tidak memiliki sertifikat tidak ada bedanya, hal ini menjadi salah satu sebab petani enggan untuk mengajukan sertifikasi atas produk pangan segar yang dihasilkannya. Menghadapi kendala – kendala dilapangan seperti ini maka UPT melakukan bebrapa upaya, diantaranya yaitu melakukan bimbingan teknis tentang penerapan mutu dan keamanan pangan, melakukan surveilen terhadap produk yang sudah memiliki sertifikat agar tetap konsisten menerapkan mutu dan keamanan pangan dalam budidaya produk pangan segarnya, melakukan sosialisasi tentang manfaat sertifikasi dan registrasi produknya, dan juga melakukan pameran untuk produk produk yang sudah disertifikasi dan registrasi agar lebih dikenal di masyarakat sehingga akan menaikkan nilai jualnya. Masalah yang dihadapi dalam pencapaian indikator peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi, antara lain :
1. Konsumen belum menuntut produk yang bersertifikat maupun yang teregister 2. Petani/pelaku usaha belum memahami nilai tambah yang dapat diperoleh atas
produk yang telah bersertifikat/teregister
3. Sistem pemasaran belum menghargai mutu (sertifikasiregistrasi yang dimiliki oleh petani/pelaku usaha)
4. Pasar modern belum menuntut produk segar yang bersertifikat/teregistrasi
Solusi pemecahan masalah sebagai berikut :
1. Melakukan edukasi konsumen (retailer, supplier, dan konsumen akhir) untuk lebih menghargai mutu dan keamanan pangan melalui berbagai media massa secara intensif
2. Melakukan rintisan kerjasama dengan supplier, pasar modern, eksportir dalam hal pemasaran produk segar bersertifikat/teregistrasi
3. Memperkuat infrastruktur penerapan dan sertifikasi/registrasi
4. Meningkatkan kepedulian stakeholder tentang pentingnya sertifikasi/registrasi dalam rangka peningkatan keamanan, mutu dan daya saing produk hortikultura.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 58 PERSENTASE MENINGKATNYA KEAMANAN PANGAN SEGAR
Untuk mendukung kebijaksanaan pusat, Pemerintah Provinsi Lampung telah menerbitkan Peraturan Gubernur Lampung No. 36 Tahun 2013 tentang Sistem Keamanan Terpadu Provinsi Lampung dan adanya Surat Keputusan Gubernur Lampung No. G/564/II.06/HK/2015, tanggal 2 Desember 2015 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Jejaring Keamanan Pangan Daerah Provinsi Lampung merupakan revisi dari Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/744/II.05/HK/2013 tanggal 30 September 2013 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Jejaring Keamanan Pangan Daerah Provinsi Lampung dengan menambahkan tim pelaksana pengawasan terhadap bahan berbahaya yang disalahgunakan dalam pangan. Penanganan Keamanan Pangan Segar dilakukan melalui Pemantauan dan Pengawasan oleh Petugas Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung bersama sama dengan Tim Jejaring Keamanan Pangan Daerah Provinsi Lampung.
Realisasi pencapaian sasaran meningkatnya pengawasan mutu dan keamanan pangan segar, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 36. Target dan Realisasi Capaian Indikator Persentase Tingkat Keamanan Pangan Segar yang Diuji (%)
No Indikator Kinerja Capaian
2014 Tahun 2015 Target Akhir Renstra Capaian s/d 2015 terhadap 2019 (%) Target Capaian % 1. Persentase Tingkat Keamanan Pangan Segar (Uji Lab)
80,43% 80% (dibawah
ambang batas)
91,39% 114,24 80% (dibawah
ambang batas)
114,24
Dalam rangka pengawasan keamanan pangan segar di Provinsi Lampung, pada tahun 2015 tim koordinasi jejaring keamanan pangan daerah Provinsi Lampung melakukan inspeksi mendadak (SIDAK) ke pasar tradisional dan pasar modern. Sidak dilaksanakan dalam rangka hari besar keagamaan yaitu menjelang hari raya idul fitri 1436 H serta menjelang hari raya natal tahun 2015 serta saat adanya issue ketidakamanan pangan yang beredar di masyarakat.
Dari hasil pengawasan keamanan pangan segar di Provinsi Lampung, di dapatkan hasil tingkat keamanan pangan segar di Provinsi lampung mencapai 91,39% dari target 80%. Meskipun dari uji cepat dan uji laboratorium menunjukkan ada beberapa sampel yang mengandung bahan berbahaya seperti Formalin, borak, residu pestisida dan lain lain tapi kadarnya masih di bawah ambang batas, sehingga masih aman untuk di konsumsi. Indikator keamanan pangan segar (uji lab) pada tahun 2015 Badan Ketahanan Pangan Daerah menargetkan 80% dan terealisasi 91,39%. Upaya Badan Ketahanan Pangan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 59 Daerah Provinsi Lampung dalam mewujudkan keamanan pangan segar antara lain melalui kegiatan :
a. Bimtek mutu dan keamanan pangan
b. Pemantauan, pengawasan dan pengendalian mutu keamanan pangan segar c. Peningkatan, penerapan standar mutu BMR (Batas Maksimum Residu)
d. Pengembangan jejaring keamanan pangan dan promosi keamanan pangan segar Masalah keamanan pangan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja, tetapi merupakan tugas bersama antara institusi dan stake holder dengan membentuk jejaring kerja (Networking) yang berjalan secara efektif dan efisien. Keamanan pangan menjadi sangat penting mengingat bahwa pada saat ini tuntutan akan mutu dan keamanan pangan oleh masyarakat dan dunia semakin tinggi.
Permasalahan dalam penanganan keamanan pangan segar di Provinsi Lampung pada tahun 2015 ini adalah terbatasnya SDM dalam penanganan keamanan pangan, masih rendahnya kesadaran masyarakat (produsen/petani/pedagang/konsumen) tentang keamanan pangan, kurangnya monitoring yang terintegrasi antara instansi yang berwenang. Dari permasalahan tersebut tindak lanjut yang diharapkan berupa pengadaan pelatihan atau bimtek untuk peningkatan kapasitas dan kapabilitas petugas pengawas serta meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pengawas keamanan pangan, koordinasi dan sinkronisasi dalam wadah jejaring keamanan pangan serta menggiatkan sosialisasi dan promosi keamanan pangan secara berkesinambungan. Jejaring keamanan pangan daerah menjadi kunci kesuksesan program keamanan pangan di daerah, oleh karena itu memerlukan upaya penguatan berupa penguatan aspek legalitas, mengaktivasi fungsi-fungsi jejaring keamanan pangan daerah (JKPD) dan mengintegrasikan program yang ada di daerah.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 60 TABEL 37. REKAP HASIL UJI CEPAT ( FORMALIN, BORAKS, METHYL YELLOW, PESTISIDADAN RHODAMIN B DAN UJI LABORATORIUM PROV. LAMPUNG TH. 2015
No. Kabupaten Jenis uji
Jumlah Sampel yang
Diuji
Hasil Uji Jumlah
Komoditi Asal Komoditi Negatif Positif Terdeteksi Aman dikonsumsi
1 Lampung Barat Formalin 5 5 0 4 Buah dan Sayur Pasar Liwa dan Pasar Hamtobio
Pestisida**) 11 9 2 11 Buah dan Sayur Pasar Liwa dan Pasar Hamtobio
2 Pringsewu Formalin 13 12 1 12 Buah dan Sayur Pagelaran, Pasar Pringsewu dan Pasar Gading Rejo
Rhodamin B 1 0 1 0 Buah dan Sayur Pasar Gading Rejo
Pestisida**) 20 14 6 19 Buah dan Sayur Pagelaran, Pasar Pringsewu dan Pasar Gading Rejo
3 Tanggamus Formalin 5 4 1 4 Buah dan Sayur Sumberrejo dan Pasar Talang Padang
Pestisida**) 16 13 3 15 Buah dan Sayur Sumberrejo dan Pasar Talang Padang
4 Pesawaran Formalin 5 5 0 5 Buah dan Sayur Pasar Wiyono, Tegineneng, dan Pasar Gedong Tataan
Pestisida**) 21 19 2 20 Buah dan Sayur Pasar Wiyono, Tegineneng, dan Pasar Gedong Tataan
5 Tulang Bawang Formalin 4 4 0 4 Buah dan Sayur Pasar Menggala
Pestisida**) 5 4 1 5 Buah dan Sayur Pasar Menggala
6 Metro Formalin 10 9 1 9 Buah dan Sayur Pasar Tejo Agung
Pestisida**) 3 2 1 2 Buah dan Sayur Pasar Tejo Agung
7 Bandar Lampung Formalin*) 16 13 3 13 Buah dan Sayur Pasar tradisional dan pasar modern Bandar Lmpung
Bktr Listeria m***) 2 0 2 0
Apel Gala Royal,
Granny Smith Hypermart Bandar Lampung
8 Lampung Timur Formalin 10 10 0 10 Buah dan Sayur Pasar Pekalongan dan Pasar Batang Hari
Rhodamin B 1 1 0 1 Buah dan Sayur Pasar Pekalongan dan Pasar Batang Hari
Pestisida**) 3 2 1 3 Buah dan Sayur Pasar Pekalongan dan Pasar Batang Hari
9 Lampung Selatan Formalin*) 6 3 2 3 Buah dan Sayur Desa Pancasila dan Pasar Natar
Pestisida**) 6 4 2 6 Buah dan Sayur Desa Pancasila dan Pasar Natar
10 Lampung Tengah Formalin 7 7 0 7 Buah dan sayur Desa Karang Endah dan Pasar Bandar Jaya
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 61
11 Lampung Utara Pestisida**) 10 5 5 9 Buah dan Sayur Pasar Pagi Lampung Utara
Formalin 0 0 0 0 Sayuran dan Buah Pasar Pagi dan Pasar Buah Stasiun Kotabumi
12 Way Kanan Formalin 3 3 0 3 sayuran dan Buah Pasar Baradatu
Pestisida**) 7 5 2 7 Buah dan Sayur Pasar Baradatu
13 Tulang Bawang Barat Pestisida**) 11 10 1 11 Buah dan Sayur Pasar Panaragan Jaya
Formalin 6 6 0 6 Sayuran dan Buah Pasar Panaragan Jaya
14 Mesuji Pestisida**) 8 7 1 7 Sayuran dan Buah Pasar Brabasan
Formalin 9 8 1 8 Sayuran dan Buah Pasar Brabasan
15 Pesisir Barat Pestisida**) 8 6 2 8 Sayuran dan Buah Pasar Way Batu Krui
Formalin 5 4 1 4 Sayuran dan Buah Pasar Way Batu Krui
Jumlah 244 199 44 223
Persentase (%) 100 81,56 18,03 91,39
Ket;
*) Telah dilakukan Uji Lab.terhadap anggur, hasil positif formalin
**) Telah dilakukan uji Laboraturium pestisida, hasilnya beberapa komoditi positif terdeteksi pestisida, namum masih dibawah batas maksimum residu (BMR) (Masih aman untuk dikonsumsi)
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 62 Permasalahan :
1. Terbatasnya SDM dalam penanganan keamanan pangan
2. Masih rendahnya kesadaran masyarakat (produsen/petani/pedagang/konsumen) tentang keamanan pangan
3. Kurangnya monitoring yang terintegrasi antara instansi yang berwenang. 4. Belum tersedianya laboratorium pengujian mutu dan keamanan pangan
Solusi :
Beberapa solusi dalam menangani permasalahan keamanan pangan segar di Provinsi Lampung, Badan Ketahanan pangan Daerah, antara lain :
1. Penguatan kelembagaan keamanan pangan segar termasuk penguatan SDM
2. Pengawasan keamanan pangan segar, termasuk pengambilan sampel keamanan pangan segar
3. Promosi dan sosialisasi keamanan pangan segar
4. Penguatan koordinasi lintas sektor, baik instansi pemerintah daerah maupun vertical yang terkait dengan penanganan keamanan pangan dengan membentuk tim koordinasi jejaring keamanan pangan daerah
5. Dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penanganan mutu dan keamanan pangan baik dari segi aturan maupun sarana pendukung seperti pembangunan sarana dan prasarana untuk laboratorium.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 63
3.3 Realisasi Anggaran Kinerja Tahun 2015
Penyerapan anggaran belanja langsung pada tahun 2015 sebesar 63,67% dari total yang dianggaran yang di alokasikan. Jika dilihat dari realisasi anggaran per sasaran penyerapan anggaran terbesar pada program/kegiatan di sasaran tingkat keamanan pangan segar yang di uji (97,39%). Sedangkan penyerapan terkecil pada program/kegiatan di sasaran peningkatan produk pangan segar yang tersertifikasi (27,75%).
Efisiensi anggaran menunjukkan bagaimana sasaran dengan indikator yang dirumuskan telah berhasil dicapai dengan memanfaatkan sumber daya/input tertentu. Semakin tinggi jumlah sumber daya yang dikeluarkan untuk mencapai keluaran tertentu, maka efisiensinya akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah sumber daya yang dihabiskan untuk mencapai sasaran, maka efisiensi anggarannya akan semakin tinggi.
Pencapaian kinerja dan anggaran pada tahun 2015 secara umum menunjukkan tingkat efisiensi anggaran yang sangat tinggi.Hal ini bisa dilihat bahwa mayoritas dari seluruh indikator menunjukkan realisasi anggarannya lebih kecil daripada realisasi kinerjanya. Ini bisa bermakna bahwa secara umum, pencapaian kinerja dari aspek program telah dicapai dengan cara yang efisien karena realisasi anggaran lebih kecil daripada yang ditargetkan dan juga lebih kecil daripada realisasi capaian kinerjanya.
Memang terdapat indikator yang realisasinya lebih rendah daripada realisasi anggarannya, seperti indikator penurunan jumlah penduduk rawan pangan, yang realisasi anggarannya mencapai82,68% namun realisasi kinerjanya baru mencapai 68%, untuk indikator semacam ini, perlu mengkaji lebih jauh factor apa sajakah yang menyumbang kepada situasi diatas, seperti menguji seberapa baik koordinasi dan sinergi dengan stakeholder telah terbangun untuk menjawab persoalan kerawanan pangan karena faktor kemiskinan, karena masalah kemiskinan tidak bisa diatasi oleh satu instansi saja tapi harus melibatkan lintas sektor. Selain itu juga perlu mengidentifikasi, bagaimana membuat efisiensi anggaran bisa ditingkatkan menjadi lebih baik.
Anggaran dan realisasi belanja langsung tahun 2015 yang dialokasikan untuk membiayai program/kegiatan dalam pencapaian indikator pembangunan di sajikan dalam tabel berikut :
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 64 Tabel 38. Pencapaian Kinerja dan anggaran
Sasaran Indikator Kinerja Anggaran
Target Realisasi % Realisasi Target Realisasi % Realisasi
Terpenuhinya kebutuhan konsumsi pangan yang
beragam, bergizi,
seimbang dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi per kapita
1. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi
2. Jumlah Konsumsi Energi 3. Jumlah Konsumsi Protein
4. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Ketersediaan 84,1 2.004 56,1 87,52 84,1 2.052 53,25 70,31 100 102,4 94,92 80,34 827.442.000 770.961.100 93,17
5. Persentase Penurunan Jumlah Penduduk Rawan Pangan
1 0,68 68 559.604.500 462.663.100 82,68
6. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat
7. Coefisien Variasi Pangan (beras) di Tingkat Konsumen HPP ≤ (HPP : 3.700) CV<10% 4.067 6 % 109,92 100 327.860.000 317.494.200 96,84
8. Persentase Peningkatan Produk Pangan Segar yang Tersertifikasi
10 % 7,4 % 74 % 2.855.514.000 792.334.750 27,75
9. Persentase Tingkat Keamanan Pangan Segar yang di Uji
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 65 3.4 Analisis Efisiensi
Bagian yang disajikan dalam tabel ini terkait dengan efisiensi anggaran untuk indikator yang pencapaian kinerjanya mencapai atau lebih dari 100%, terlihat bahwa dari 9 indikator menunjukkan pencapaian yang sama atau lebih dari 100%, yaitu sebanyak 5 indikator, sebagaimana ditunjukkan dalam tabel dibawah ini, sebagai contoh Skor Pola Pangan Harapan dengan realisasi anggaran sebesar 93,17 dari total anggaran telah mencapai kinerja 100%, Indikator peningkatan keamanan pangan segar yang diuji dengan realisasi anggaran 97,39% telah mencapai kinerja 114,24%.
Banyaknya indikator yang berhasil dicapai dengan sumber daya yang efisien menunjukkan bahwa efisiensi anggaran telah mencapai tingkat yang tinggi.Kondisi ini sejalan dengan prinsip pengelolaan anggaran public dan lebih jauh, juga sejalan dengan prinsip pemerintahan yang baik, yang salah satunya adalah pengelolaan sumber daya anggaran yang efisien dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan.
Tabel 39. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya Sasaran Strategis Indikator % Capaian Kinerja % Penyerapan Anggaran Tingkat Efisiensi Terpenuhinya kebutuhan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi per kapita
1. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi 2. Jumlah Konsumsi Energi 3. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat 4. Coefisien Variasi Pangan (beras) di Tingkat Konsumen 5. Persentase Tingkat Keamanan Pangan Segar yang di Uji
100 102,4 109,92 100 114,24 93,17 93,17 96,84 96,84 97,39 6,83 6,83 3,16 3,16 2,61
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 66 BAB IV
PENUTUP
Laporan Kinerja (LKj) Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung telah memaparkan sasaran dan indikator yang ada pada perencanaan strategis untuk mengetahui keberhasilan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Selama ini keberhasilan suatu instansi pemerintah lebih ditekankan kepada kemampuan instansi dalam menyerap sumber daya keuangan. Melalui pengukuran kinerja yang terdapat dalam LKj, maka keberhasilan suatu instansi pemerintah akan lebih dilihat dari kemampuan instansi tersebut berdasarkan sumberdaya yang dikelolanya untuk mencapai hasil sesuai dengan rencana yang telah dituangkan dalam perencanaan strategis.
Berdasarkan hasil pengukuran dan evaluasi kinerja yang dilakukan terhadap kinerja Badan Ketahanan Pangan daerah Provinsi Lampung dalam merealisasikan visi, misi, tujuan dan sasaran yang tertuang dalam Rencana Strategis, dengan cara mempertimbangkan nilai indikator kinerja masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (Benefit) dan dampak (impact), maka nilai capaian kinerja Badan ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung pada tahun anggaran 2015 sebesar 77,78%. Menurut skala pengukuran ordinal, maka nilai capaian kinerja tersebut dapat dikategorikan Baik dan Berhasil.
Demikian Laporan Kinerja Instansi (LKj) Badan Ketahanan Pangan daerah Provinsi Lampung ini disusun, dengan harapan dapat memberikan umpan balik bagi seluruh aparat yang ada pada Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Lampung agar dapat lebih meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2015 BKPD Provinsi Lampung Page 67
Survey LapangandalamrangkaSertifikasi Prima 3
SIDAK PASAR DALAM RANGKA PEMANTAUAN KEAMANAN PANG
OPTIMALISASI PEMANFAATAN PEKARANGAN MELALUI KRPL (KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI)
LOMBA CIPTA MENU
TARGET REALISASI % REALISASI TARGET REALISASI % REALISASI
1 3 4 5 6 7 8
Terpenuhinya Kebutuhan 1. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Konsumsi 84,1 84,1 100
Konsumsi Pangan yang
Beragam, bergizi, seimbang dan 2. Jumlah Konsumsi Energi 2.004 2.052 102,4
aman untuk memenuhi
kecukupan energi per kapita 3. Jumlah Konsumsi Protein 56,1 53,25 94,92
4. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Ketersediaan 87,52 70,31 80,34
a. Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi 4 SD, 112 KWT/ 4 SD, 112 KWT/ 100% 108.480.000 78.980.800 72,81
Pangan 14 Kab/Kota 14 Kab/Kota
b. Lomba Cipta Menu Tingkat Provinsi dan Nasional 2 kali 2 kali 100% 83.062.000 82.412.900 99,22
c. Promosi Pangan Segar dan Olahan 1 kali 1 kai 100% 200.000.000 198.453.500 99,23
d. Hari Pangan Sedunia TK. Provinsi dan TK. Nasional 2 kali 2 kali 100% 300.000.000 277.097.500 92,37
e. Konsolidasi Dewan Ketahanan Pangan 1 Tahun 1 Tahun 100% 38.050.000 37.437.300 98,39
f. Pengembangan Usaha Pangan Lokal 35 KWT 35 KWT 100% 97.850.000 96.579.100 98,70
a. Pengembangan Desa Mandiri Pangan 97 Desa 97 Desa 100% 119.000.000 118.571.400 99,64
559.604.500
SASARAN INDIKATOR/KEGIATAN KINERJA ANGGARAN
2
827.442.000
770.961.100 93,17
5. Persentase Penurunan Jumlah Penduduk Rawan Pangan 1 0,68 68
TABEL PENCAPAIAN KINERJA DAN ANGGARAN TAHUN 2015
462.663.100
TARGET REALISASI % REALISASI TARGET REALISASI % REALISASI
1 3 4 5 6 7 8
SASARAN INDIKATOR/KEGIATAN KINERJA ANGGARAN
2
4 Kawasan 4 Kawasan
b. Analisa dan Pemantauan SKPG dan PDRP 15 Kab/Kota 15 KabKota 100% 84.934.500 84.847.200 99,90
c. Pengembangan Cadangan Pangan Pemerintah 10,483 Ton 0 0% 133.203.000 38.627.000 29,00 Daerah
d. Pengembangan Lumbung Pangan Masyarakat 5 lumbung 5 lumbung 100% 133.187.000 131.621.900 98,82
e. Analisa dan Penyusunan Peta Ketahanan Pangan 1 Buah 1 Buah 100% 61.000.000 60.789.200 99,65 dan Kerentanan Pangan
f. Akses Pangan 1 dokumen 1 dokumen 100% 28.280.000 28.206.400 99,74
6. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Tingkat Produsen HPP ≤ 4.067 109,92 HPP = Rp. 3.700
7. Coefisien Variasi Pangan (beras) Tingkat Konsumen CV < 10% CV = 6% 100
a. Pemberdayaan Gapoktan dalam rangka Stabilisasi 77 Gapoktan 77 Gapoktan 100% 126.720.000 126.232.400 99,62 Harga Pangan
b. Alur Distribusi Pangan - - 1.140.000 1.140.000 100,00
c. Pengembangan dan Pengendalian Mobilitas Pangan 5 Kab/Kota 5 Kab/Kota 100% 100.000.000 91.649.000 91,65
d. Pembinaan Manajemen Kelembagaan 40 Gapoktan 40 Gapoktan 100% 100.000.000 98.472.800 98,47
a. Operasional Pengawasan Mutu dan Keamanan 12 Bulan 12 Bulan 100% 84.621.000 84.508.100 99,87 Pangan OKKPD
8. Persentase Peningkatan Produk Pangan Segar yang
Tersertifikasi 10% 7,40% 74% 2.855.514.000 792.334.750 327.860.000
317.494.200 96,84
27,75
TARGET REALISASI % REALISASI TARGET REALISASI % REALISASI
1 3 4 5 6 7 8
SASARAN INDIKATOR/KEGIATAN KINERJA ANGGARAN
2
b. Surveilen dan Pengawasan Produk Hasil Pertanian 6 Kab/Kota 6 Kab/Kota 100% 88.025.000 87.656.650 99,58 yang sudah Sertifikasi/Regristrasi/Produk yang
Beredar
c. Penyempurnaan Dokumen Sistem Mutu Mengacu 7 Dokumen 7 Dokumen 100% 15.103.000 15.103.000 100,00 pada ISO/IEC 17065
d. Sertifikasi, Regristrasi Produk Labelisasi Prima 3 40 Sertifikat 40 Sertifikat 100 140.666.000 140.321.200 99,75 Mendukung Terminal Agrobisnis
e. Audit Internal 20 Orang 20 Orang 100 54.449.000 54.449.000 100,00
e. Promosi Produk Unggulan Lampung yang sudah 2 Kali 2 Kali 100 66.951.000 66.316.700 99,05 Sertifikas/Regristrasi
f. Bimtek Penerapan Mutu dan Keamanan Pangan 1 Kali 1 Kali 100 24.899.000 24.685.100 99,14 Hasil Pertanian di Lokasi Sentra
g. Kajian Pengembangan Pangan Segar yang Bermutu 6 KabKota 6 Kab/Kota 100 80.800.000 80.735.000 99,92 dan Bersertifikat
h. Pembangunan Gedung Kantor dan Laboratorium 1 Unit - 15 2.300.000.000 238.560.000 10,37 Pengujian Mutu dan Sarana Prasarana OKKPD
Provinsi Lampung
a. Bimtek Mutu dan Keamanan Pangan 1 Kali 1 Kali 100 60.332.000 59.077.000 97,92
b. Pemantauan, Pengawasan dan Pengendalian 8 Kab/Kota 10 Kab/Kota 125 126.337.000 125.014.000 98,95 Mutu Keamanan Pangan Segar
c. Peningkatan Penerapan Standar BMR (Batas 12 Kab/Kota 12 KabKota 100 67.820.000 66.712.000 98,37 Maksimum Residu)
TARGET REALISASI % REALISASI TARGET REALISASI % REALISASI
1 3 4 5 6 7 8
SASARAN INDIKATOR/KEGIATAN KINERJA ANGGARAN
2
d. Pengembangan Jejaring Keamanan Pangan dan 15 Kab/Kota 15 Kab/Kota 100 163.405.000 156.180.000 95,58 Promosi Keamanan Pangan Segar