2.1 Pariwisata
Dalam arti luas, pariwisata adalah kegiatan rekreasi diluar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain.
Sebagai suatu aktifitas, pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat. Yang bila dirangkai menjadi satu istilah pariwisata, yang berarti : pergi secara lengkap meninggalkan rumah (kampung) berkeliling terus-menerus. Menurut Undang-Undang Kepariwisataan No.9, BAB I, Pasal 1, Tahun 1990 yang dimaksud dengan Pariwisata adalah kegatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara suka-rela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.
Sementara Marpaung (2002:13) mendefinisikan pariwisata sebagai:
“Pariwisata adalah perpindahan sementara yang dilakukan manusia dengan tujuan keluar dari pekerjaan-pekerjaan rutin, keluar dari tempat kediamannya. Aktifitas dilakukan selama mereka tinggal ditempat yang dituju dan fasilitas dibuat untuk memenuhi kebutuhan mereka.”
Menurut Undang-Undang Kepariwisataan No.9, BAB I, Pasal 1, Tahun 1990 yang dimaksud dengan Pariwisata adalah kegatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara suka-rela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Jadi pariwisata merupakan perjalanan yang dilakukan manusia ke daerah yang bukan merupakan tempat tinggalnya dalam waktu paling tidak satu malam dengan tujuan perjalanannya bukan untuk mencari nafkah, pendapatan atau penghidupan ditempat tujuan.
Definisi pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006:1) sebagai berikut:
“Pariwisata adalah fenomena pengerakan manusia, barang dan jasa yang sangat komplek. Ia terkait erat dengan organisasi, hubungan-hubungan kelembagaan dan individu, kebutuhan layanan, penyediaan kebutuhan layanan dan sebagainya.”
Menurut Undang – Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional, maka tujuan pembangunan pariwisata adalah :
i)Mengembangkan dan memperluas diversifikasi produk dan kualitas pariwisata nasional;
ii)Berbasis pada pemberdayaan masyarakat, kesenian dan sumber daya (pesona) alam lokal dengan memperhatikan kelestarian seni dan budaya tradisional serta kelestarian lingkungan hidup setempat dan;
iii)Mengembangkan serta memperluas pasar pariwisata terutama pasar luar negeri.
Pariwisata disebut sebagai Generator pembangunan karena mampu menjadi sektor andalan untuk menghasilkan devisa . Kegiatan pariwisata memiliki peran penting dalam strategi-strategi ekonomi diberbagai negara termasuk Indonesia.
Unsur-unsur pariwisata, menurut Pendit (2006) terdiri dari:
1. Politik pemerintah, merupakan sikap pemerintah terhadap kepariwisataan yang ada. Politik pemerintah dapat bersifat secara langsung, yaitu sikap pemerintah terhadap wisatawan yang datang ke daerah wisata dan tak langsung yaitu kondisikestabilan politik, ekonomi, dan keamanan daerah yang bersangkutan.
2. Kesempatan berbelanja, tersedianya tempat belanja yang dibutuhkan wisatawan juga barang-barang khas tempat wisata.
3. Promosi adalah propaganda kepariwisataan dengan didasarkan atas rencana atau propaganda secara teratur dan kontinu ke dalam negeri maupun luar negeri.
4. Harga yaitu harga barang-barang, sarana dan prasarana yang ada.
Pada intinya wisatawan sama seperti konsumen pada umumnya yang menginginkan harga murah dengan kualitas yang baik.
5. Pengangkutan, meliputi: keadaan jalan, alat angkut, dan kelancaran transportasi ditempat wisata.
6. Akomodasi merupakan rumah sementara bagi wisatawan. Hal yang penting diperhatikan dari akomodasi adalah kenyamanan, pelayanan yang baik dan kebersihan sanitasinya.
7. Atraksi adalah segala pertunjukan yang mempunyai nilai manfaat untuk dilihat atau diperhatikan termasuk objek wisata itu sendiri.
8. Jarak dan waktu, berkaitan dengan lamanya waktu yang harus dikorbankan wisatawan untuk mencapai tempat wisata. Semakin cepat mencapainya semakin baik.
9. Sifat ramah tamah, wisatawan sangat menyenangi keramahan dari penduduk yang ada ditempat wisata tersebut.
Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi.
Diwakili dari kegiatan yang semula hanya diminati oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya pada awal abad ke-20 kini telah menjadi bagian dari hak asasi manusia.
Menurut Pendit (1994), ada beberapa jenis pariwisata yang sudah dikenal, antara lain:
a.Wisata Budaya
b.Wisata Kesehatan
c.Wisata Olahraga
d.Wisata Kormersial
e.Wisata Industri
f.Wisata Bahari
g.Wisata Cagar Alam
h.Wisata Bulan Madu
2.2 Wisatawan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1 dan 2 dirumuskan.
a.Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.
b.Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
Wisatawan memiliki beragam motif, minat, ekspektasi, karakteristik, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Menurut United Nation Conference on Travel and Tourism dalam Pitana dan Gayatri (2005 : 42) yaitu “ setiap orang yang mengunjungi negara yang bukan merupakan tempat tinggalnya untuk berbagaii tujuan, tetapi bukan untuk mencari pekerjaan atau penghidupan dari negara yang dikunjungi”. Batasan ini hanya berlaku untuk wisatawan domestik dengan membagi negara atas daerah.
WTO (World Tourism Organization) dalam Eridiana (2008: 25) mendefinisikan wisatawan sebagai berikut:
“Seseorang dikatakan sebagai Tourist apabila dari visitor yang menghabiskan waktu paling tidak satu malam (24) jam didaerah yang dikunjungi. Sedangkan visitor itu sendri diartikan orang yang melakukan perjalanan ke daerah yang bukan merupakan tempat tinggalnya kurang dari 12 bulan dan tujuan perjalanan bukanlah untuk terlibat dalam kegiatan mencari nafkah, pendapatan atau penghidupan ditempat tujuan.”
Jadi wisatawan mempunyai beberapaa elemen yang dianut dalam beberapa batasan, batasan tentang wisatawan juga sangat bervariasi, mulai dari yang umum sampai dengan yang sangat spesifik. Yaitu tujuan perjalanan sebagai pesiar (leasure),jarak/batas, perjalanan darri tempat asal,durasi atau waktu lamanya perjalanan dan tempat tinggal orang yang melakukan perjalanan.
Berdasarkan sifat perjalanan,lokasi dimana perjalanan dilakukan wisatawan dapat diklarifikasikan sebagai berikut ( Karyono, 1997).
1.Foreign Tourist (Wisatawan asing)
Orang asing yang melakukan perjalanan wisata yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan negara diaman ia biasanya tinggal. Wisatawan asing disebut juga wisatawan mancanegara atau disingkat wisman.
2.Domestic Foreign Tourist
Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal disuatu negara karena tugas dan melakukan perjalanan wisata diwilayah negara di mana ia tinggal. Misalnya, staf kedutaan belanda yang mendapatkan cuti tahunan,
tetapi ia tidak pulang ke Belanda, dan melakukan perjalanan wisata diIndonesia (Tempat ia bertugas).
3.Domestic Tourist (Wisatawan Nusantara)
Seorang warga negara suatu negara yang melakukan perjalanan wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan negaranya. Misalnya, warga negara indonesia yang melakukan perjalanan ke Bali atau ke Danau Toba. Wisatawan ini disingkat Wisnus.
4.Indigenous Foreign Tourist
Warga negara suatu negara tertentu yang karena tugasnya atau jabatannya berada diluar negeri, pulang ke negera asalnya dan melakukan perjalanan wisata diwilayah negaranya sendiri. Misalnya, warga negara prancis yang bertugas sebagai konsultan diperusahaan asing diIndonesia, ketika liburan ia kembali ke Prancis dan melakukan perjalanan wisata disana. Jenis wisatawan ini merupakan kebalikan dari Domestic Foreign Tourist.
5.Transit Tourist
Wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke suatau negara tertentu yang terpaksa singgah pada suatu pelabuhan/airport/stasiun bukan atas kemauannya sendiri.
6.Businnes Tourist
Orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis bukan wisata, tetapi perjalanan wisata akan dilakukannya setelah tujuan yang utama selesai.
Jadi perjalanan wisata merupakan tujuan sekunder, setelah tujuan primer yaitu bisnis selesai dilakukan.
Motif seseorang dalam melakukan suatu perjalanan wisata adalah untuk melepaskan diri dari rasa jenuh/bosan terhadap suatu kegiatan/rutinitas.
Dan kegiatan ini merupakan suatu cara alternatif yang dilakukan seseorang untuk melepaskan dirinya dari rasa jenuh tersebut dengan tujuan untuk bersenang-senang.
2.3 Peningkatan jumlah wisatawan
Perencanaan dan pengembangan seluruh objek wisata yang ada diKabupaten Karanganyar dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah arus kunjungan baik domestik maupun mancanegara agar berkunjung ketempat-tempat wisata yang ada diKabupaten Karanganyar. Peningkatan jumlah wisatawan memerlukan sebuah perencanaan strategis dan pengembangan agar berjalan sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 ke enam bagi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bahwa tujuan pengembangan Kepariwisataan adalah:
a.Menyiapkan informasi yang lengkap dibidang kebudayaan dan pariwisata.
b.Meningkatkan kerjasama dengan daerah dan kerjasama internasional dalam rangka menunjang promosi pariwisata Indonesia.
c.Mendorong pengembangan destinasi pariwisata unggulan.
d.Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian peningkatan budaya dan daya tarik wisata.
Pengaruh kunjungan wisatawan sangat berarti untuk mengembangkan industri pariwisata dan tentunya pendapatan asli daerah. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung maka akan memberi dampak positif bagi Daerah Tujuan Wisata (DTW) dan tentunya akan memberikan keuntungan dan manfaat bagi pelaku pembangunan ( Pemerintah, Masyarakat, Dunia Usaha).