BAB III PRAKTEK DAN KEGIATAN YANG DILARANG
A. Penipuan
Pasal 90 Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) menyatakan bahwa, dalam melaksanakan kegiatan perdagangan efek, setiap pihak dilarang secara langsung atau secara tidak langsung :
1. Menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apapun.
2. Turut serta menipu atau mengelabui pihak lain.
3. Membuat pemyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak- mengungkapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk
126
Bismar Nasution, Op.cit, hal.73 127
Baharuddin Lopa,Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum, Cetakan II, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara), hal.35
diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek.128
Berpedoman pada bunyi ketentuan pasal 90 Undang-Undang Pasar Modal tersebut, sedikitnya harus dipenuhi 3 unsur pelanggaran, yakni:129
1. Penipuan tersebut terjadi dalam lingkup kegiatan perdagangan saham (efek). 2. Ada kaitannya dengan informasi atau fakta materiil yang disembunyikan
maupun yang diungkapkan, tetapi tidak mengandung kebenaran, dan
3. Dengan tujuan menguntungkan atau menghindarkan kerugian pada diri pelaku atau pihak lain, atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual saham (efek).
Ketentuan pasal ini tidak hanya terbatas berlaku untuk diri si pelaku, tetapi juga untuk mereka yang turut serta atau terlibat dalam pelanggaran tersebut.
Penipuan sebagaimana dimaksud oleh pasal 90 UUPM sebenarnya dapat dianggap sama seperti penipuan dalam tindak pidana umum. Hal ini karena kejahatan mengenai efek ini juga telah diatur dalam ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (pasal 378, 390, 391 dan 392 KUHP). Tetapi karena penipuan di pasar modal lebih spesifik dan punya potensi untuk menimbulkan kekacauan ekonomi secara luas, dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian suatu negara, maka UUPM memperlakukannya secara khusus, antara lain dengan ancaman hukuman yang lebih tinggi terhadap jenis kejahatan ini (maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15 milyar). Penipuan di pasar modal, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan UUPM, dapat meliputi penipuan yang dilakukan melalui
128
Lihat pasal 90 Undang-Undang Pasar Modal 129
Jusuf Anwar, Penegakan Hukum Dan Pengawasan Pasar Modal Indonesia, Seri II, (Bandung: PT. Alumni Bandung, 2008), hal.31
prospektus atau dalam kegiatan perdagangan saham di Bursa. Selain itu penipuan juga dapat dilakukan baik atas saham yang tercatat (listing) di bursa maupun efek yang diperdagangkan di luar bursa (over the counter).130
Ayat 3 dari pasal 90 UUPM yang mengatur mengenai membuat pernyataan tidak benar atau tidak mengungkapkan fakta material, tidak hanya dimaksudkan untuk menangkal isu (rumors), yang memang banyak terjadi di bursa, tetapi juga untuk menjamin bahwa setiap informasi dan fakta material yang disampaikan memang benar dan tidak menyesatkan. Kewajiban yang tidak hanya dibebankan kepada emiten ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi investor untuk memutuskan membeli, menjual atau tetap menahan efek, karena keputusan untuk investasi ini memang selalu dilakukan berdasarkan informasi-informasi yang tepat dan benar yang menyangkut efek tersebut. Di lantai bursa sendiri pernyataan tidak benar ini dapat muncul baik dari anggota bursa, investor maupun orang dalam emiten sendiri.131
Untuk menghindari akibat yang berpotensi merugikan dan untuk melindungi investor dari praktik perdagangan yang dilakukan orang dalam (insider trading), makainsider tradingdikategorikan dalam penipuan. Peraturan pasar modal Indonesia juga telah membuat larangan insider trading. Pasal 95 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal menyatakan :
130
Lihat penjelasan pasal 90 Undang-Undang Pasar Modal 131 Hamud M. Balfas,Op. cit, hal.459-461
Orang dalam dari emiten atau perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan pembelian atau penjualan atas saham (efek) :
a. Emiten atau perusahaan publik dimaksud; atau
b. Perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan.
Peraturan pasar modal di Indonesia, juga membuat larangan mempengaruhi orang lain untuk melakukan transaksi atau memberikan tip kepada pihak lain. Pasal 96 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang pasar modal menyatakan :
Orang dalam sebagaimana dimaksud dalam pasal 95 dilarang :
a. Mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan efek dimaksud; atau
b. Memberi informasi orang dalam kepada pihak mana pun yang patut diduga dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek.
Suatu batasan misrepresentation dan omission yang menyebabkan suatu pernyataan dikategorikan menyesatkan, yaitu apabila fakta material yang diungkapkan adalah salah atau tidak lengkap dan pihak yang melakukannya mempunyai maksud melakukan penipuan.132
Jika dibuat test perbuatan yang menyesatkan akibat misrepresentation dan
omissionberdasarkan elemen-elemen yang terdapat dalam ketentuan pidana, menurut pasal 380 K.U.H.P, yang mengatur penyiaran kabar bohong, maka ketentuan tersebut tidak sesuai dan belum cukup. Oleh karena elemen-elemen ketentuan tindakan kabar
bohong dalam K.U.H.P. tersebut tidak dapat diterapkan untuk menentukan suatu perbuatan dikatakan sebagaimisrepresentationdanomission.
Pasal 380 K.U.H.P. menetapkan,
1. Terdakwa hanya dapat dihukum menurut pasal ini apabila ternyata bahwa kabar yang disiarkan itu adalah kabar bohong. Yang dianggap sebagai kabar bohong tidak saja memberitahukan suatu kabar kosong, akan tetapi juga menceritakan secara tidak betul suatu kejadian.
2. Menaikkan atau menurunkan harga barang-barang dan sebagainya dengan menyiarkan kabar bohong itu hanya dapat dihukum bahwa penyiaran kabar bohong itu dilakukan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain.133
Elemen-elemen ketentuan tindakan kabar bohong dalam KUHP belum cukup untuk menjadi ukuranmisrepresentationdanommisionyang dikategorikan perbuatan menyesatkan. Berbeda dengan pendapat-pendapat hukum yang timbul dari putusan pengadilan di Amerika Serikat yang telah merinci elemen-elemen perbuatan menyesatkan dari pendapat-pendapat pengadilan yang terus berkembang, yaitu:134
Elemen Pertama, adanya pernyataan fakta material yang salah (palsu) atau pernyataan fakta material itu tidak lengkap. Dalam elemen pertama ini penggugat harus menyatakan dan membuktikan bahwa pernyataan itu palsu, penipuan harus dinyatakan dengan sifat kekhususannya. Menetapkan bahwa pernyataan yang disampaikan telah menyesatkan dengan alasan mengapa pernyataan tersebut menyesatkan.
133
R.Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Penerbit Politea, 1976), hal.232-233. Dalam Bismar Nasution,Ibid. hal. 78
Elemen kedua, adanya kewajiban untuk menyampaikan informasi kepada publik, apabila gugatan itu didasarkan atas pernyataan fakta material yang salah atau kurang lengkap. Kewajiban untuk mengungkapkan merupakan elemen penting dalam ketentuan administrasi dan determinasi peradilan dalam menentukan penipuan. Dalam situasi ketika seseorang lalai mengungkapkan informasi material, dia melakukan penipuan hanya bila dia memiliki kewajiban untuk mengungkapkan. Kewajiban tersebut timbul dari suatu fiduciary dari kepercayaan dan kerahasiaan antara pedagang.
Elemen ketiga, adanya pengetahuan oleh pihak yang melakukan
misrepresentationatauommisiondan dilakukan dengan maksud melakukan penipuan (scienter). Mahkamah agung membuat batasan scienter sebagai suatu pernyataan yang digerakkan dengan maksud untuk menipu dan manipulasi ataudefraud. Scienter
merupakan unsur penting dalam gugatan pengadilan yang merupakan salah satu dari elemen kejahatan berdasarkanSecurity Exchange Act1934.
Elemen keempat, merupakan fakta material. Suatu unsurmisstatement secara pasti adalah material.
Elemen kelima, adanya keyakinan (reliance). Pengadilan berpendapat bahwa secara tradisional pengugat memiliki beban untuk menetapkan bahwa mereka yakin akan tindakan penipuan dari tergugat. Oleh karena itu pengugat diwajibkan menetapkan bahwa mereka menyadari akan tindakan menyesatkan yang dilakukan secara langsung oleh tergugat.
Elemen keenam, adanya kerugian (injury). Pengadilan berpendapat bahwa salah satu elemen untuk menetapkan tanggung jawab disamping elemen-elemen di muka adalah para penggugat mengalami kerugian.
Contoh kasus penipun Bre-X adalah sebuah perusahaan tambang emas dari Kanada yang beroperasi di Kalimantan, maka apa yang dilakukan oleh Bre-X tersebut tidak lain adalah penipuan. Penipuan tersebut dilakukan oleh manajemen Bre-X dengan melebih-lebihkan jumlah cadangan emas yang ada di dalam pertambangannya di Kalimantan. Manajemen Bre-X, mengelabui investornya dengan memberikan sampel tanah untuk pemeriksaan laboratorium mengenai cadangan emasnya, dengan terlebih dahulu menambahkan butiran-butiran emas ke dalam sampel tersebut. Akibat dari usaha pengelabuan investor ini, cadangan emas di dalam tambang tersebut diperkirakan berjumlah lebih dari 200 juta pon. Berita tidak benar tersebut menyebabkan harga saham Bre-X di bursa naik beberapa lipat. Tetapi setelah masalahnya diketahui umum harga saham turun pada tingkat yang sangat rendah sekali.135