• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjarangan Buah

Dalam dokumen DEWI SRI HARTANTI H (Halaman 72-77)

Penjarangan buah adalah proses mengurangi jumlah buah per malai dengan membuang buah yang dianggap tidak baik untuk dipelihara dan hanya dipelihara 2 – 3 buah per malai. Buah yang dianggap tidak baik dibuang untuk menjaga pertumbuhan dan kualitas buah lainnya dalam satu malai. Bakal buah yang dirasa sangat kecil diantara yang lain sebaiknya dibuang. Penjarangan buah akan memperbesar ukuran buah karena nutrisi yang dihantarkan akan disalurkan untuk bakal buah yang telah dipilih (melalui proses penjarangan buah).

Sebanyak 24 petani mangga gedong gincu yang menjadi responden penelitian tidak melakukan penjarangan. Hal ini disebabkan karena pada anggapan bahwa pada dasarnya tanaman mangga gedong gincu dapat melakukan penjarangan secara alami. Jika buah pada satu malai bertumpukkan, akan secara alami beberapa buahnya akan rontok dan jatuh. Petani Non SOP umumnya menyayangkan bakal buah untuk dibuang (dijarangkan) karena akan mengurangi jumlah buah yang dapat dipanen.

Tabel 25. Sebaran Aktivitas Penjarangan Buah pada Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 Penjarangan Buah NON SOP SOP

Jumlah Persen Jumlah Persen

Ya 1 5 5 50

Tidak 19 95 5 50

Total 20 100 10 100

56 6.1.10 Pembungkusan Buah

Pembungkusan buah dilakukan untuk mencegah gangguan Organisme Penganggu Tanaman (OPT). Pembungkusan bertujuan untuk meningkatkan kualitas penampilan buah, melindungi buah dari benturan dan gesekan antar buah, melindungi buah dari serangan hama penyakit, dan melidungi buah dari kerusakan pada saat panen. Pembungkusan dilakukan menggunakan kertas khusus buah dan dibedakan warnanya disesuaikan pada umur buah. Hanya satu petani SOP yang melakukan pembungkusan buah sedangkan petani lain memilih untuk tidak memberongsong buah mangganya. Proses pembungkusan yang dilakukan belum sesuai dengan SOP. Petani yang melakukan pembungkusan hanya melakukan pembungkusan secara sederhana dengan menggunakan kertas koran biasa, bukan kertas khusus pembungkus buah. Pembungkusan juga tidak diterapkan perbedaan warna pembungkus sesuai umur buah. Beberapa petani beralasan pembungkusan akan mengakibatkan warna mangga tidak secerah mangga yang tidak dibungkus sehingga tidak menarik. Petani lainnya beralasan pembungkusan hanya membuat biaya semakin tinggi karena adanya tambahan biaya pada pembelian bahan pembungkusan dan tenaga kerja.

Tabel 26. Sebaran Aktivitas Pembungkusan Buah pada Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009

Pembungkusan Buah

NON SOP SOP

Jumlah Persen Jumlah Persen

Ya 0 0 1 10

Tidak 20 100 9 90

Total 20 100 10 100

6.1.11 Pemanenan

Pemanenan mangga gedong gincu umumnya dimulai pada bulan Agustus hingga Desember. Petani yang melakukan off season (luar musim) telah dapat memanen buah mangga pada Bulan April. Panen Raya musim terjadi pada Bulan Oktober hingga Desember. Terdapat empat petani SOP yang melakukan pemanenan off season (luar musim).

57 Petani melakukan pemanenan disesuaikan dengan beberapa faktor, seperti harga dan permintaan. Pada off season atau luar musim, petani SOP lebih memilih memanen buah mangga pada umur buah 100 hari (tingkat kematangan 70%). Hal ini dilakukan karena pada luar musim (off season) harga buah mangga tua (tingkat kematangan 70%) rata-rata Rp. 12.500,- hingga Rp. 15.000,- per kilogram. Pemanenan buah mangga gedong gincu tingkat kematangan 90-95% hanya dilakukan jika terdapat permintaan dari pembeli yang memesan. Pada off season (luar musim), pemanenan pada tingkat kematangan 85-95% (umur buah 108-115 hari) sangat berisiko. Waktu pemanenan yang berada pada musim hujan akan membuat buah rentan terkena hujan dan penyakit akibat air hujan sehingga buah akan cepat membusuk. Hal ini selaras dengan data penelitian oleh Dinas Pertanian mengenai gambaran serangan penyakit pada tiap periode waktu panen.

Tabel 27. Persentase Hama dan Penyakit Mangga Gedong Gincu di Wilayah Sentra

No. Musim Panen Bulan Pest and Disease (%) Total Antrak Nose Lalat Buah Stem-end root Busuk buah

1. Awal Panen Raya Oktober 2,6 4,9 6,0 4,2 17,7 2. Puncak Panen

Raya

Nopember 8,5 9,1 8,3 5,2 31,1

3. Akhir Panen Raya Desember 11,9 9,7 8,7 5,9 36,2 4. Awal Panen Off

Season

April 1,6 2,4 3,1 2,0 9,1

5. Puncak Panen Off

Season

Mei 4,1 4,6 4,2 2,0 14,9

6. Akhir Panen Off

Season

Juni 6,5 3,7 4,3 2,5 17,0

Sumber : Distanbunnakhut Kabupaten Cirebon Tahun 2007

Pada panen raya (Bulan Oktober hingga Desember), pemanenan pada tingkat kematangan di atas 80% lebih banyak dilakukan. Dari bulan Juni hingga Desember, harga mangga dengan tingkat kematangan di bawah 70% semakin

58 menurun. Hal ini disebabkan mulai banyaknya petani mangga (mangga gedong gincu dan mangga lain) yang memanen buahnya. Kondisi ini akan disikapi oleh beberapa petani untuk melakukan pemanenan mangga gedong gincu pada tingkat kematangan 85-90% karena kondisi harga yang lebih baik dibandingkan harga mangga pada tingkat kematangan 70%.

Tabel 28. Rata-Rata Harga (dalam Rupiah) Mangga Gedong Gincu Per Tingkat Kematangan (Disortir) di Tingkat Petani di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009

No. Musim Panen Bulan Petani SOP Petani Non SOP

70% >80% 70% >80%

1. Awal Panen Raya Agustus 10.000 12.000 6.000 10.000 2. Puncak Panen

Raya

Nopember 6.000 10.000 2.500 8.000

3. Akhir Panen Raya Desember 8.000 12.500 4.000 10.000 4. Awal Panen Off

Season

April 15.000 20.000 - -

5. Puncak Panen Off

Season

Mei 10.000 12.500 - -

6. Akhir Panen Off

Season

Juni 12.500 15.000 - -

Pemanenan mangga pada tingkat kematangan 85-95% (umur buah 108-115 hari) dilakukan secara berkala 1-2 hari sekali. Hal ini disebabkan masa kematangan antara satu buah dengan buah lain baik dalam satu pohon maupun pohon lain berada pada waktu yang tidak selalu bersamaan. Pemanenan mangga gedong gincu pada tingkat kematangan 85-95% ini dilakukan pada pagi hari pukul 05.00-06.00. Waktu panen ini untuk menghindari tindakan pencurian mangga di kebun.

Dalam SOP, pemanenan buah memiliki prosedur pelaksanaan yang telah ditentukan, yaitu menyisakan 10 centimeter tangkai pada setiap buah yang dipanen, menggunakan kertas sebagai pelapis pada boks plastik. Pada realisasinya, petani SOP belum menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP)

59 sesuai standar yang ditentukan. Penyisaan tangkai hanya pada buah-buah yang dapat dijangkau dengan tangan atau tangga. Letak buah pada bagian atas akan dipanen dengan menggunakan caduk besi. Cara ini tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Hal ini disebabkan pemanenan dengan caduk besi akan mengakibatkan buah berisiko untuk terkena benturan, getah buah, dan luka. Ini akan berpengaruh pada harga jual di tingkat petani.

Sebesar 25% dari Petani Non SOP melakukan pemanenan secara borongan. Menurut petani yang melakukan sistem borong, sistem borong memudahkan pekerjaan petani karena akan mengurangi biaya tenaga kerja. Biaya pemanenan, yaitu biaya tenaga kerja, transportasi, dan keranjang yang tidak sedikit membuat petani lebih memilih memborongkan buah mangganya. Kesepakatan pemborongan biasanya sudah dilakukan sebelum masa penen dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memberi kepastian pada petani mengenai hasil mangganya.

Pada proses borongan, penyedia alat dan tenaga kerja adalah pemborong. Pemilik pohon tidak sedikitpun mengeluarkan biaya untuk itu. Hal inilah yang membuat petani lebih tertarik pada sistem borong. Borongan biasanya dilakukan petani pada puncak panen raya mangga. Hal ini disebabkan harga mangga pada saat puncak panen raya (Bulan November) sangat jatuh, sekitar Rp. 1.500,00 – Rp. 2.000,00. Rendahnya harga mangga menyebabkan petani tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan untuk memanen buah mangga. Pemanenan yang dilakukan sendiri pada kondisi ini akan memberikan laba negatif bagi petani.

Tabel 29. Sebaran Aktivitas Pemanenan Buah pada Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009

Pemanenan

NON SOP SOP

Jumlah Persen Jumlah Persen

Borongan 5 25 1 10

Sendiri 14 70 9 90

Sendiri kemudian borongan 1 5 0 0

Total 20 100 10 100

Dalam dokumen DEWI SRI HARTANTI H (Halaman 72-77)

Dokumen terkait