IMPLIKASI PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP) TERHADAP PENDAPATAN
PETANI MANGGA GEDONG GINCU DI
KECAMATAN SEDONG,
KABUPATEN CIREBON
JAWA BARAT
SKRIPSI
DEWI SRI HARTANTI H34060434
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010i RINGKASAN
DEWI SRI HARTANTI. Implikasi Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Terhadap Pendapatan Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan WAHYU BUDI PRIATNA).
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan komoditas pertanian, salah satunya adalah buah-buahan. Mangga merupakan salah satu buah Indonesia yang mengalami peningkatan baik dalam produktivitas maupuk ekspornya. Buah-buahan Indonesia diminati oeh pasar luar negeri. Akan tetapi hal ini belum diimbangi dengan kualitas buah-buahaan Indonesia yang sesuai dengan standar negara importir. Hal ini disebabkan oleh masih tradisionalnya teknis budidaya di tingkat petani. Sentra mangga di Indonesia peringkat pertama adalah Jawa Timur, kemudian peringkat kedua adalah Jawa Barat. Sentra di Jawa Barat ada di wilayah Kabupaten Cirebon, Majalengka, dan Indramayu dengan varietas mangga yaitu mangga gedong gincu, dermayu, kidang, dan arumanis. Mangga Gedong Gincu adalah salah satu varietas mangga yang memiliki kekhasan dalam karakteristiknya. Kabupaten Cirebon menjadikan mangga gedong gincu sebagai komoditas unggulan daerah. Komitmen tersebut diwujudkan dengan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) spesifik komoditas, spesifik area, dan spesifik pasar pada tahun 2005. Kecamatan Sedong merupakan kecamatan di Kabupaten Cirebon yang memiliki jumlah pohon dan jumlah petani mangga terbesar di antara kecamatan lainnya.
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sedong. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Februari hingga April 2010. Responden penelitian adalah petani mangga gedong gincu yang menerapkan Standar Operasional Prosedur dan tidak menerapkan Standar Operasional Prosedur sebanyak 10 petani untuk petani SOP dan 20 petani untuk petani Non SOP. Penelitian ini menggunakan Analisis Pendapatan R/C Rasio dan Analisis Keuntungan Parsial.
Keragaan usahatani mangga gedong gincu antara Petani SOP dan Petani Non SOP terdapat beberapa perbedaan. Aktivitas pemupukan, petani SOP menggunakan pupuk, baik organik maupun organik dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan petani Non SOP. Aktivitas pemangkasan, petani SOP seluruhnya melakukan pemangkasan produksi. Aktivitas penyiangan, petani SOP seluruhnya menggunakan herbisida dalam penyiangan sedangkan beberapa petani Non SOP tidak menggunakan herbisida. Aktivitas pengairan anatara petani SOP dan Petani Non SOP sama, yaitu mengandalkan air dari sumber air hujan, sumur resapan, dan sungai. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) oleh petani SOP dilakukan lebih intensif dibandingkan Petani Non SOP. Pemanenan petani SOP lebih banyak dilakukan sendiri dibandingkan dengan Petani Non SOP. Kegiatan pasca panen petani SOP dan Petani Non SOP yaitu sortasi dan pengeranjangan. Perbedaan dalam aktivitas usahatani ini adanya penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pada petani SOP. Akan tetapi, petani SOP belum menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara keseluruhan dalam budidaya mangga gedong gincu sesuai dengan standar yang telah
ii
ditetapkan. Akan tetapi, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh petani SOP belum dilakukan seutuhnya sesuai standar yang telah ditetapkan.
Petani SOP mengeluarkan biaya usahatani, baik tunai maupun non tunai, lebih tinggi dibandingkan dengan Petani Non SOP. Penerimaan yang diperoleh oleh Petani SOP lebih besar dibandingkan dengan Petani Non SOP. Hal ini disebabkan Petani SOP dapat melakukan pemanenan pada luar musim (off season) karena penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP). Pengembalian atas biaya tunai dan non tunai Petani SOP lebih besar dibandingkan dengan Petani Non SOP. Hal ini terlihat dari nilai R/C Rasio Petani SOP atas biaya tunai sebesar 4,77 sedangkan untuk Petani Non SOP sebesar 1,63. Untuk R/C Rasio atas biaya total Petani SOP dan Petani Non SOP adalah 3,57 dan 1,39. Dengan demikian dapat dikatakan usahatani mangga gedong gincu berdasar Standar Operasional Prosedur (SOP) lebih efisien dibandingkan dengan usahatani mangga gedong gincu teknik konvensional (tradisional).
Dalam analisis parsial, Petani Non SOP yang akan berpindah metode produksi dari konvensional ke Standar Operasional Prosedur (SOP) akan mendapatkan keuntungan tambahan sebesar Rp 37.573.376,28. Akan tetapi Petani Non SOP perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan, yaitu adanya kebutuhan tambahan modal sebesar Rp. 5.154.096,33, peningkatan kebutuhan Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) sebesar 16,973 HOK Pria, dan tanggung jawab petani untuk menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara keseluruhan.
Penerapan Standar Operasional Prosedur secara nyata mempengaruhi pendapatan petani mangga gedong gincu. Hasil analisis statisik menunjukkan pada taraf nyata 95 persen penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) akan meningkatkan pendapatan petani mangga gedong gincu. Hal ini dapat dijadikan dasar para petani Non SOP agar kemudian dapat menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP).
iii
IMPLIKASI PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP) TERHADAP PENDAPATAN
PETANI MANGGA GEDONG GINCU DI
KECAMATAN SEDONG,
KABUPATEN CIREBON,
JAWA BARAT
Dewi Sri Hartanti H34060434
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2010
iv
Judul Skripsi : Implikasi Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Terhadap Pendapatan Petani Mangga Gedong
Gincu di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Nama : Dewi Sri Hartanti
NIM : H34060434
Disetujui, Pembimbing
Ir. Wahyu Budi Priatna, M.Si NIP. 19670410 199103 1 001
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1002
v PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Implikasi Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Terhadap Pendapatan Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidakdari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir.
Bogor, Juni 2010
Dewi Sri Hartanti H34060434
vi RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 17 April 1988. Penulis adalah anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Suharto dan Ibu Imiyati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Kebon Baru IV pada tahun 2000 dan pendidikan menengah di SMPN 1 Cirebon pada tahun 2003. Pendidikan menengah atas di SMAN 1 Cirebon diselesaikan pada tahun 2006.
Penulis diterima pada Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006. Kemudian penulis masuk pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen melalui program Mayor Minor pada tahun 2007.
Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada Departemen Sosial Lingkungan Masyarakat (Soslingmas) periode 2008-2009.
vii KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Allah SWT. Atas segala berkah dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Implikasi Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Terhadap Pendapatan Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaan usahatani mangga gedong gincu oleh petani yang menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan yang tidak menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP), menganalisis pendapatan usahatani petani mangga gedong gincu, dan menganalisis kelayakan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun ke arah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Juni 2010 Dewi Sri Hartanti
viii UCAPAN TERIMA KASIH
Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT., penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada :
1. Ir. Wahyu Budi Priatna, M.Si selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS dan Yeka Hendra Fatika, SP selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Ir. Dwi Rachmina, MS yang telah menjadi pembimbing akademik dan seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.
4. Yeka Hendra Fatika, SP selaku dosen Departemen Agribisnis atas diskusi, waktu, dan sarannya selama penyusunan skripsi.
5. Bapak Suharto dan Ibu Imiyati tercinta untuk setiap cinta, doa, dan dukungan yang telah diberikan. Semoga ini bisa jadi persembahan terbaik.
6. Sugiyanto, Beny Iswanto, Handi Suryono, Ipah Latifah untuk semua dukungan dan motivasi yang diberikan.
7. Pihak Pemerintah Kabupaten Cirebon dan Kecamatan Sedong atas bantuan, izin, waktu, dan kesempatan yang diberikan.
8. Pak Haerudin dan Bu Nung selaku petani mangga gedong gincu atas semua bantuan yang diberikan selama penelitian.
9. Kru Dokter Computer untuk semua dukungan dan pengertian yang telah diberikan.
10. Teman-teman Agribisnis seperjuangan angkatan 43 atas semangat dan kenangan selama perkuliahan dan penelitian.
11. Dwi Febiyanti, Rieska Rahmawati, Maika Fitriana, Vharessa Aknesia atas persahabatan, dukungan, dan doa yang diberikan.
12. Dan untuk semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Bogor, Juni 2010 Dewi Sri Hartanti
ix DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan ... 8 1.4 Manfaat ... 8 1.4 Ruang Lingkup ... 9 II TINJAUAN PUSTAKA ... 10 2.1 Keragaan Usahatani ... 10 2.2 Penelitian Terdahulu ... 12
III KERANGKA PEMIKIRAN ... 16
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 16
3.1.1 Konsep Fungsi Produksi ... 16
3.1.2 Teknologi dalam Usahatani ... 17
3.1.3 Usahatani ... 19
3.1.4 Penerimaan Usahatani ... 19
3.1.5 Biaya Usahatani ... 20
3.1.6 Pendapatan Usahatani ... 20
3.1.7 Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Rasio) ... 20
3.1.8 Analisis Pendapatan Parsial ... 21
3.1.9 Konsep Mutu ... 22
3.1.10 Konsep Standar ... 23
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 25
IV METODE PENELITIAN ... 28
4.1 Lokasi dan Waktu ... 28
4.2 Metode Penentuan Sampel ... 28
4.3 Desain Penelitian ... 28
4.4 Data dan Instrumentasi ... 29
4.5 Metode Pengumpulan Data ... 29
4.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 29
4.6.1 Analisis Usahatani ... 30
4.6.2 Analisis Perbandingan Rata-Rata ... 31
4.6.3 Analisis Keuntungan Parsial ... 32
V GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN RESPONDEN …... 33
5.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 33
5.2 Karakteristik Responden ... 36
VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
6.1 Keragaan Usahatani ... 44
x
6.2.1 Penerimaan Usahatani ... 64
6.2.2 Biaya Usahatani ... 65
6.2.3 Pendapatan Usahatani Mangga Gedong Gincu ... 68
6.2.4 Pengaruh Penerapan SOP Terhadap Pendapatan Petani Responden ... 70
6.3 Analisis Keuntungan Parsial ... 70
VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 74
7.1 Kesimpulan ... 74
7.2 Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76
xi DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Produksi Buah-Buahan Indonesia Tahun 2001-2005 ... ... 2 2. Perkembangan Luas Areal dan Tingkat
Produksi Buah Mangga Indonesia ... .. 3 3. Rata-Rata Harga Per Kilogram Mangga Kualitas Ekspor
(Grade A) di Tingkat Petani ... ... 4 4. Penelitian Terdahulu ... ... 15 5. Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon,
Jawa Barat Tahun 2007 ... .. 34 6. Jumlah Petani, KTB, dan Gapoktan Wilayah Sentra
Mangga di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2007 ... 35 7. Potensi Pengembangan Agribisnis Buah Mangga di Enam
Wilayah Sentra Mangga di Kabupaten Cirebon Tahun 2007 ... 36 8. Sebaran Responden Menurut Usia Petani Mangga
Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 38 9. Sebaran Responden Menurut Pendidikan Formal Petani
Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... 38 10. Sebaran Responden Menurut Pendidikan Non Formal
Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 39 11. Sebaran Responden Menurut Status Usahatani
Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 39 12. Sebaran Responden Menurut Pengalaman Bertani
Petani Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 40 13. Sebaran Responden Menurut Status Kepemilikan Pohon
Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 41 14. Sebaran Responden Menurut Jumlah Kepemilikan Pohon
Mangga Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... .. 42 15. Sebaran Responden Menurut Jumlah Penyewaan Pohon
xii
Kabupaten Cirebon Tahun 2010 ... 43 16. Sebaran Asal Bibit Mangga Gedong Gincu Petani Responden
di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009... .. 44 17. Sebaran Jarak Tanam Pohon Mangga Gedong Gincu Petani
Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 46 18. Sebaran Aktivitas Pemangkasan Mangga Gedong Gincu
Petani Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 47 19. Sebaran Frekuensi Pemupukan Usahatani Mangga
Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 48 20. Penggunaan Jenis Pupuk Usahatani Mangga Gedong Gincu
Petani Responden di Kecamatan Sedong Per Hektar Per Tahun,
Kabupaten Cirebon Tahun 2009 ... 49 21. Sebaran Aktivitas Penyiangan Usahatani Mangga
Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 50 22. Sebaran Aktivitas Pengairan Usahatani Mangga
Gedong Gincu di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 51 23. Sebaran Frekuensi Penyemprotan Usahatani Mangga
Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 53 24. Penggunaan Pestisida dalam Usahatani Mangga
Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong
Per Hektar Per Tahun Kabupaten Cirebon Tahun 2009 ... 54 25. Sebaran Aktivitas Penjarangan Buah pada Usahatani
Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong,
Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 55 26. Sebaran Aktivitas Pembungkusan Buah pada Usahatani
Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 56 27. Persentase Hama dan Penyakit Mangga Gedong Gincu
di Wilayah Sentra Kabupaten Cirebon ... 57 28. Rata-Rata Harga (dalam Rupiah) Mangga Gedong Gincu
Per Tingkat Kematangan (Disortir) di Tingkat Petani Responden
di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 58 29. Sebaran Aktivitas Pemanenan Buah pada Usahatani
Mangga Gedong Gincu Petani Responden di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 59
xiii
30. Penggunaan Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) Per Hektar Per Tahun dalam HOK (Hari Orang Kerja) pada Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani Responden
di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 61 31. Penggunaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) Per Hektar
Per Tahun dalam HOK (Hari Orang Kerja) pada Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani Responden
di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Tahun 2009 ... 62 32. Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) oleh
Petani SOP di Kecamatan Sedong
Kabupaten Cirebon Tahun 2009 ... 63 33. Lanjutan ... 64 34. Penerimaan Usahatani Mangga Gedong Gincu
Per Hektar Per Tahun, Tahun 2009 ... 65 35. Biaya Usahatani Mangga Gedong Gincu
Per Hektar Per Tahun, Tahun 2009 ... 66 36. Lanjutan ... 67 37. Pendapatan dan R/C Rasio Usahatani Mangga Gedong Gincu
Per Hektar Per Tahun 2009 ... 69 38. Group Statistik untuk Usahatani Mangga Gedong Gincu Petani
Responden di Kecamatan Sedong, tahun 2009 ... 70 39. Anggaran Parsial Usahatani Mangga Gedong Gincu
xiv DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Kurva Fungsi Produksi ... 17 2. Pengaruh Teknologi Baru Terhadap Produksi ... 18 3. Kerangka Pemikiran Operasional ... 24
xv DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Hasil Uji Perbandingan Rata-Rata Pendapatan Antara
Kelompok SOP vs Non SOP ... 78
2. Daftar Nomor Registrasi Kebun Buah Petani Mangga Gedong Gincu Kabupaten Cirebon ... 79
3. Daftar Jumlah Pohon Mangga Gedong Gincu Menurut Kecamatan di Kabupaten Cirebon Tahun 2006 ... 80
4. Lanjutan ... 81
5. Daftar Responden Petani SOP ... 82
6. Daftar Responden Petani Non SOP ... 83
7. Kuisioner Petani ... 84
8. Permentan ... 97
9. Standard Operational Procedure (SOP) Mangga Gedong Gincu Kabupaten Cirebon ... 127
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah dan kondisi alam yang subur untuk pertanian. Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen komoditas pertanian bagi dunia. Iklim tropis menjadikan Indonesia sebagai salah satu tempat bagi ketersediaan berbagai jenis kebutuhan komoditas pertanian yang khas dari wilayah tropis. Salah satu komoditas pertanian yang menjadi unggulan Indonesia adalah buah-buahan, yang lebih dikenal dengan sebutan buah-buahan tropis.
Indonesia memiliki keunggulan sumberdaya alam seperti tanah yang subur dengan wilayah daratan yang luas. Akan tetapi pada kenyataannya Indonesia belum mampu untuk menjadi negara eksportir buah-buahan terbesar di dunia. Nilai ekspor buah-buahan Indonesia masih sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Thailand yang memiliki luas wilayah lebih kecil dibandingkan Indonesia (CSIS, 2007). Peran Indonesia dalam memasok buah-buahan tropis segar dunia sangat kecil yakni 0,13 persen (Bank Indonesia, 2007). Buah-buahan tropis Indonesia sangat banyak ragamnya seperti alpukat, pisang, jambu biji, mangga, manggis, jeruk, papaya, markisa, nenas, dan belimbing. Produktivitas buah-buahan tropis Indonesia cenderung stabil selama tiga tahun terakhir (2006-2008), kecuali mangga dan pisang yang mengalami peningkatan cukup signifikan (Tabel 1). Buah-buahan Indonesia diminati oleh pasar luar negeri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan ekspor buah-buahan Indonesia ke pasar luar negeri. Akan tetapi permintaan pasar yang tinggi ini belum diimbangi dengan kualitas produk buah-buahan Indonesia yang sesuai dengan standar mutu negara importir, baik secara kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Hal ini disebabkan oleh teknik budidaya masih dilakukan secara tradisional dan musiman sehingga volume ekspor buah-buahan Indonesia menunjukan fluktuasi. (Ditjen Hortikultura Departemen Pertanian, 2006). Produksi dan volume ekspor buah-buahan Indonesia per komoditas dapat ditunjukan oleh Tabel 1.
2 Tabel 1. Produksi Buah-Buahan Indonesia Tahun 2006-2008
Komoditas Produksi (Ton) Volume ekspor (kg)
2006 2007 2008 2006 2007 2008* Pisang 5,037,472 5,454,226 6,004,615 4.443.188 2.378.460 1.969.871 Jeruk 2 565,543 2 625,884 2,467,632 1.140.737 1.100.958 1.443.210 Mangga 1 621,997 1 818,619 2,105,085 1.181.881 1.198.213 1.908.001 Nenas 1 427,781 2 237,858 1,433,133 219.653.476 110.112.419 269.663.512 Rambutan 801,077 705,823 978,259 - 396.093 724.766 Durian 747,848 594,842 682,323 2.635 2.161 32.615 Pepaya 643,451 621,524 717,899 140.083 36.934 479 Manggis 72,634 112,722 78,674 5.697.879 9.093.245 9.465.665
Sumber :BPS dan Pusdatin, Tahun 2006 (diolah)
Salah satu buah tropis Indonesia yang mengalami peningkatan baik dari produksi maupun volume ekspor adalah mangga. Mangga dikenal sebagai The Best Loved Tropical Fruit golongan buah eksotik, yaitu buah-buahan khas daerah tropis yang mahal harganya dan banyak peminatnya di pasaran luar negeri selain manggis dan pisang. Oleh karena itu, mangga merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki prospek cerah karena disamping menghasilkan devisa negara juga berperan dalam meningkatkan pendapatan petani, memfungsikan sebagian lahan yang tersedia dan berguna untuk konservasi tanah dan air (Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan RI, 2006).
Produksi mangga dunia pada tahun 2003 tercatat 28.848.000 ton (sekitar 40% dari total produksi buah tropika dunia dan 77% diantaranya berasal dari Asia. Pada periode 2001-2005 Indonesia merupakan penghasil mangga urutan ke-6 dunia dan urutan ke-38 dalam perdagangan internasional (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan RI, 2006). Ekspor mangga dari Indonesia lebih banyak diserap oleh pasar dari negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Dari tahun ke tahun permintaan mangga asal Indonesia di negara-negara tujuan ekspor cenderung terus meningkat terutama dari negara Singapore, Brunei, Taiwan, China, dan Timur Tengah (Arab Saudi, Dubai, dan Kuwait).
3 Pada kurun waktu 1999-2005, perkembangan luas areal dan tingkat produksi tanaman mangga di Indonesia telah memperlihatkan hasil yang positif dan mengalami peningkatan seperti diperlihatkan (Tabel 2). Hal ini disebabkan pengembangan usaha budidaya tanaman buah mangga di Indonesia terus dilakukan melalui berbagai upaya, seperti sejak tahun 1997-2002 pemerintah Indonesia melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura yang lebih dikenal dengan proyek IHDUA/JBIC-IP 477 telah mengembangkan kebun mangga di daerah sentra produksi agribisnis mangga yang yang difokuskan di Kabupaten Majalengka (500 ha gedong gincu), Indramayu (1.000 ha gedong gincu), dan Cirebon (1.000 ha gedong gincu) (Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan RI, 2006).
Tabel 2. Perkembangan Luas Areal dan Tingkat Produksi Buah Mangga Indonesia Tahun 1999-2005
Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (ton)
1999 36.981 862.842 2000 44.185 876.027 2001 44.208 923.294 2002 184.659 1.402.906 2003 158.894 1.526.474 2004 185.773 1.437.665 2005 176.000 1.412.884
Sumber : Direktorat Budidaya Tanaman Buah Deptan RI (2007)
Tanaman mangga di wilayah Indonesia terutama ditanam di pulau Jawa (70 %) dan yang lainnya di Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, dan Bali. Daerah sentra produksi di pulau Jawa ialah : Indramayu, Cirebon, Semarang, Kudus, Pasuruan dan Probolinggo. Jawa Barat merupakan produsen mangga terbesar kedua di Indonesia, dengan kontribusi 19,99% dari total hasil panen mangga di Indonesia. Sedangkan peringkat pertama ditempati Jawa Timur dengan kontribusi 38,5% (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Banyuwangi) dengan varietas mangga
4 unggulan lalujiwo. Disusul pada posisi ketiga adalah Jawa Tengah (Rembang dan Pemalang) 17,2%. Berikutnya Sulawesi 3,5%, Bali (Buleleng) 3,8%, NTB (Lombok Barat) 3,5% dan NTT (Sumba Barat) 2,5%.
Wilayah sentra produksi mangga di Jawa Barat adalah Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Varietas mangga yang dihasilkan wilayah ini antara lain gedong gincu, harumanis, dermayu, dan kidang. Mangga gedong gincu merupakan primadona mangga Indonesia karena karakteristiknya yang khas dengan aroma sangat tajam, warna buah merah menyala, dan masih mengandung banyak serat. Mangga Gedong Gincu diminati pasar internasional serta mempunyai harga jual di tingkat petani yang tinggi dibandingkan dengan varietas mangga lainnya (Tabel 3). Sekarang ini, pangsa pasar mangga gedong gincu masih didominasi oleh pasar domestik (99 persen) dari total pemasaran, sisanya sudah masuk pasar internasional (1 persen) yaitu ke Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi.
Tabel 3. Rata-Rata Harga Per Kilogram Mangga Kualitas Ekspor (Grade A) di Tingkat Petani di Kecamatan Sedong Tahun 2007
No. Musim Panen Bulan
Rata-Rata Harga Kualitas Ekspor/ Grade A (dalam Rupiah) per kg Harumanis Dermayu Gedong
Gincu 1. Awal Panen Raya Oktober 7.000 8.000 25.000 2. Puncak Panen Raya Nopember 6.000 6.000 15.000 3. Akhir Panen Raya Desember 7.000 7.000 20.000 4. Awal Panen Off Season April 15.000 15.000 35.000 5. Puncak Panen Off Season Mei 12.500 12.500 30.000 6. Akhir Panen Off Season Juni 10.000 10.000 25.000
Sumber: Distanbunnakhut Kabupaten Cirebon Tahun 2007
Perlakuan masa panen tanaman mangga yang berbeda dapat menghasilkan dua produk mangga yang berbeda, yaitu gedong dan gedong gincu. Mangga gedong gincu dapat dipanen ketika buah mencapai kematangan 70% hingga 95% (dipanen masak), ditandai dengan mulai munculnya warna merah pada penangkal
5 buah. Perbedaan waktu panen mangga gedong gincu sekitar 10 sampai 15 hari dari panen mangga gedong biasa.
Kabupaten Cirebon menjadikan mangga gedong gincu sebagai komoditas unggulan daerah. Pemerintah fokus untuk mengembangkan mangga gedong gincu di wilayahnya baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas melalui peningkatan produksi, pembudidayaan, pengembangan varietas dan kegiatan pasca panen. Salah satu program yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon, khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon adalah melalui Program Penerapan Standard Operasional Procedure (SOP) dan Good Agricultural Practice (GAP) yang spesifik komoditas, wilayah, dan pasar pada tahun 2005 (Distanbunnakhut Kabupaten Cirebon, 2007).
1.2 Perumusan Masalah
Produk buah-buahan tropis sangat diminati pasar internasional. Salah satunya yaitu mangga gedong. Permasalahan yang dihadapi oleh mangga gedong gincu adalah kualitas yang belum mampu menembus beberapa pasar internasional, meskipun produktivitasnya tinggi dan cenderung meningkat. Selama ini mangga gedong gincu telah mampu menembus negara-negara Timur Tengah, Amerika, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara di Asia. Salah satu peluang pasar yaitu permintaan dari negara-negara maju seperti Eropa, Jepang, Kanada dan Amerika. Permintaan dari negara-negara tersebut cukup tinggi tetapi syarat masuk impornya pun menuntut kualitas yang tinggi.
Pada tahun 2005 Kabupaten Cirebon mempunyai luas areal untuk mangga 6.910 ha, dengan populasi sebanyak 691.046 pohon. Dari jumlah luas dan jumlah pohon mangga yang ada, terdapat kebun mangga varietas gedong gincu seluas 2.150 ha dengan jumlah pohon yang produktif sebanyak 215.308 pohon. Produksi gedong gincu pada tahun 2005 sebanyak 35.960 ton. Sebagian besar produksi dan mutu buah yang dihasilkan di Kabupaten Cirebon masih rendah (ukuran buah, warna,rasa buah, tingkat kematangan buah tidak seragam, produktivitas buah/pohon rendah dan permukaan kulit buah tidak mulus). Hal ini diakibatkan belum diterapkannya teknologi budidaya yang baik dan benar di lapangan.
6 Sebagian besar produksi masih bersumber dari kebun produksi tradisional yang belum menerapkan teknologi budidaya modern.
Budidaya yang tradisional memberikan produksi buah mangga gedong gincu yang sangat beragam, baik kualitas (mutu), dan tingkat kematangan. Rendahnya kualitas mangga gedong gincu pada usahatani tradisional disebabkan perlakuan pada usahatani yang tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan pada kualitas yang rendah, ukuran yang beragam, dan rendahnya harga jual mangga gedong gincu dari kebun tradisional. Dengan diterapkannya Standar Operasional Prosedur (SOP), aktivitas usahatani diarahkan pada peningkatan kualitas dan produktivitas buah mangga gedong gincu. Melalui rangkaian aktivitas usahatani dari proses pemupukan hingga pemanenan, maka akan terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas pada hasil buah. Peningkatan pada kualitas (mutu buah) dan hasil produksi akan berimplikasi pada harga yang diterima petani.
Perubahan teknis budidaya dari cara konvensional menuju cara dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) tidak berubah secara frontal. Teknologi budidaya dengan SOP bersifat compatibility yang merupakan perbaikan dari cara tradisional. Teknologi budidaya berdasar Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan teknologi yang memberikan pedoman pada petani dalam penggunaan input yang optimal untuk mendapatkan produksi yang optimal.
Pemerintah Kabupaten Cirebon mempunyai komitmen untuk
mengembangkan komoditas mangga gedong gincu menjadi komoditas unggulan daerahnya menetapkan Program Penerapan Standard Operasional Procedure (SOP) dan Good Agricultural Practice (GAP) yang spesifik komoditas, spesifik wilayah, dan spesifik sasaran pasar pada tahun 2005. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas mangga gedong gincu dari Kabupaten Cirebon agar mampu memperluas pasar ekspor.
Dasar hukum penerapan GAP di Indonesia adalah Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 61/Permentan/OT.160/11/2006, tanggal 28 November 2006 untuk komoditi buah (Terlampir). Dengan demikian penerapan GAP oleh pelaku usaha mendapat dukungan legal dari pemerintah pusat maupun daerah. Departemen Pertanian (2008) menerangkan bahwa penerapan GAP melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang spesifik lokasi, spesifik komoditas dan
7 spesifik sasaran pasarnya, dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan petani agar memenuhi kebutuhan konsumen dan meningkatkan pendapatan petani mangga gedong gincu.
Penerapan SOP/GAP mangga gedong gincu ini telah berjalan selama empat tahun di kecamatan-kecamatan sentra mangga gedong gincu di Cirebon dan telah menunjukkan produktivitasnya. Pada tahun 2005, jumlah produktivitas mangga gedong adalah 3.812,12 ton menjadi 7.535, 80 ton pada tahun 2006. Kecamatan sentra tersebut diantaranya Sedong, Beber, Astanajapura, Lemahabang, Sumber, dan Dukupuntang. Kecamatan sentra mangga gedong gincu yang telah dianggap berhasil menerapkan SOP/GAP ini adalah Kecamatan Sedong.
Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon merupakan salah satu sentra mangga gedong gincu. Jumlah pohon mangga gedong gincu dan jumlah petani mangga merupakan terbesar di antara kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Cirebon. Sepuluh orang petani telah melakukan sertifikasi kebun berdasarkan penerapan SOP/GAP pada budidaya mangga gedong gincu. Keberhasilan para petani mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon tersebut diperoleh melalui teknik perbaikan sistem budi daya melalui penerapan GAP/SOP (Good Agriculture Practise/Standard Operating Procedure). Sistem tersebut sebagai salah satu upaya mendongkrak harga jual komoditas mangga gedong gincu melalui peningkatan kualitas dan kuantitas, yang disosialisasikan Dinas Pertanian Jawa Barat dan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon sejak 2007.
Dari 2.300 hektar kebun mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon, sekitar 2 persen (50 hektar) yang telah terdaftar di Departemen Pertanian. Sertifikasi merupakan syarat untuk masuk ke pasar ekspor. Pendaftaran kebun mangga sangat penting sebab untuk menembus pasar ekspor, importir mensyaratkan buah mangga dengan asal-usul yang jelas agar bisa diketahui jaminan kualitasnya. Bahkan beberapa negara mengharuskan kebun dan rumah pengemasan buah-buahan disertifikasi. Namun, tidak semua kebun mangga serta-merta bisa didaftarkan. Sebab, selain punya lahan minimal satu hektar, petani yang membudidayakan mangga juga harus memahami dan menerapkan SOP/GAP.
8 Manfaat yang dapat diperoleh petani SOP, yaitu harga yang lebih tinggi, produksi yang meningkat, dan mutu buah yang baik dapat menjadi alasan petani yang belum menerapkan Standar Operasional Prosedur menjadi Petani SOP. Akan tetapi jumlah petani SOP yang masih berjumlah sedikit memberikan gambaran adanya permasalahan di lapangan mengenai kondisi petani dan kondisi usahatani mangga gedong gincu, baik SOP maupun Non SOP.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu :
1) Bagaimana keragaan usahatani mangga gedong gincu yang menerapkan SOP (Standar Operasional Prosedur) dan yang tidak menerapkan Standar Operasional Prosedur (Non SOP) ?
2) Bagaimana pendapatan petani mangga gedong gincu yang menerapkan SOP dan yang tidak menerapkan SOP di Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat?
3) Bagaimana pengaruh penerapan Standar Operasional Prosedur terhadap keuntungan usahatani mangga gedong gincu di Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon?
1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah ;
1) Mengidentifikasi dan menganalisis keragaan usahatani mangga gedong gincu yang menerapkan SOP/GAP mangga gedong gincu.
2) Menganalisis pendapatan petani mangga gedong gincu yang menerapkan SOP dan yang tidak menerapkan SOP.
3) Menganalisis pengaruh penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap keuntungan usahatani mangga gedong gincu di Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon.
9 1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini : Peneliti
1) Mengetahui usahatani dan aktivitas petani mangga gedong gincu Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon.
2) Mengetahui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) mangga gedong gincu pada petani yang menerapkan SOP dalam usahataninya.
3) Mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan SOP terhadap pendapatan petani.
Pemerintah Daerah
1) Mengetahui kendala petani dalam penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP).
2) Mengetahui kinerja petani yang menerapkan SOP dan yang tidak menerapkan SOP.
3) Memberikan solusi berupa kebijakan dan lainnya, baik dalam peningkatan kinerja penerapan SOP mangga gedong gincu maupun peningkatan jumlah petani yang menerapkan SOP.
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian ini terbatas wilayah Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon. Aktivitas yang diamati adalah aktivitas yang dilakukan petani dalam usahatani mangga gedong gincu. Penelitian ini fokus pada aktivitas usahatani mangga gedong gincu yang dilakukan secara langsung oleh petani.
Batasan petani untuk menjadi responden adalah petani yang mengusahakan mangga gedong gincu, baik secara miliki maupun sewa. Petani yang menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan telah tercatat nama dan sertifikasinya atas penerapan SOP tersebut merupakan responden untuk petani SOP. Sedangkan petani yang tidak tercatat dan tersertifikasi atas kebun dan aktivitas budidayanya termasuk pada petani Non SOP.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keragaan Usahatani
Identifikasi terhadap keragaan usahatani perlu diteliti untuk melihat adanya perbedaan dan persamaan dalam aktivitas usahatani antara satu petani dengan petani lain dalam komoditas yang sama. Petani yang berusahatani dalam komoditas yang sama, memiliki keragaman dalam melakukan aktivitas usahataninya. Berikut adalah beberapa aktivitas petani dalam satu komoditas dan memiliki keragaan dalam proses aktivitas usahataninya.
2.1.1 Pembedengan
Pembedengan merupakan aktivitas usahatani yang Dalam Skripsi Fristiana Merliza Siregar (2008) meneliti keragaan usahatani meliputi pengolahan tanah yang dilakukan menggunakan cangkul dengan kedalaman antara 20-30 cm. Bila sudah gembur, bedengan dapat langsung dibuat. Bedengan dibuat setinggi 30-40 cm, lebar bedengan kurang lebih 100 cm, serta jarak tanam antar bedengan rata-rata 40 cm dengan tujuan agar bias dilalui petani. Selain itu, perlu dibuatkan saluran air sebagai tempat untuk penampungan dan pembuangan air yang berlebihan. Ini dibuat agar pada musim kering, air pada saluran penampungan tersebut dapat dimanfaatkan.
Aktivitas pembuatan bedengan yang berbeda, baik sesama komoditas maupun beda komoditas merupakan hal yang dapat diteliti untuk melihat perbedaan keragaan petani dalam aktivitas pembedengan.
2.1.2 Bibit
Dalam Skripsi Fristiana Merliza Siregar (2008) meneliti keragaan usahatani pengadaan benih. Untuk budidaya cabai merah, benih diadakan sendiri oleh petani. Petani mengambil biji atau benih dari buah tanaman induk. Tanaman induk harus berasal dari tanaman yang sehat dan buah yang baik. Tanaman cabai yang dijadikan induk pun perlu dipilih yang berjenis murni. Jenis murni artinya tanaman yang tidak berbaur dengan tanaman sama atau dari jenis lain. Selain harus berasal dari tanaman induk pilihan, buah cabai yang akan diambil bijinya
11 harus berbentuk sempurna, tidak cacat, bebas hama penyakit, dan umurnya cukup tua. Menurut petani syarat lainnya adalah kelopak buahnya tidak pecah.
Dalam penelitian Bayu Sumbara (2008) tentang keragaan usahatani tembakau dan virginia di kabupaten garut, varietas tembakau Virginia dilakukan oleh beberapa pihak seperti petani tembakau Virginia, Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, dan perwakilan dari CV. Tresno Adi. Bibit tembakau Virginia belum tersedia di Kabupaten Garut sehingga petani harus membeli ke CV. Tresno Adi yang dikoordinir oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Garut apabila ingin menanam pada musim selanjutnya. Sedangkan pada usahatani tembakau Mole, pemilihan tanaman tembakau yang akan dijadikan bibit diseleksi terlebih dulu dengan memilih tanaman tembakau yang bagus pertumbuhannya dan bebas dari hama penyakit.
Adanya perbedaan pemilihan, sumber, dan asal bibit menyebabkan keragaan usahatani untuk bibit akan dijadikan objek penelitian.
2.1.3 Pemupukan
Pemupukan merupakan objek keragaan usahatani yang dapat diteliti karena teknik, bahan, dan cara pemupukan pada tiap komoditas, varietas dalam satu komoditas berbeda-beda. Dalam usahatani cabai merah (Fristiana Merliza Siregar, 2008), pemupukan dilakukan sebanyak dua kali. Pemupukan pertama dilakukan bersamaan proses pengolahan lahan dengan 1 kg pupuk kandang/kompos setiap lubangnya. Pemupukan susulan dilakukan pada saat awal pertumbuhan, pembentukan bunga, dan buah serta saat proses pematangan. Waktu pemberiannya adalah saat tanaman berumur 1, 3, 5 minggu. Pupuk yang biasa digunakan petani adalah pupuk cair organic yang terbuat dari kotoran ternak (urine kambing, domba, dan sapi) atau bias juga terbuat dari kulit udang, bulu ayam, ikan busuk.
Pemupukan pada usahatani tembakau Mole dan Virginia berbeda dalam intensitas pemupukan. Pada tembakau Mole, intensitas pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali (pemupukan bedengan persemaian, dan pemupukan pada saat pemeliharaan tanaman) sedangkan pada tembakau Virginia dilakukan sebanyak dua kali (pada saat pemeliharaan tanaman).
12 2.2 Penelitian Terdahulu
2.2.1 Penelitian Mengenai Mangga Gedong Gincu
Penelitian Shilvia Agung Dhiany (2009) dengan judul Analisis Daya Saing usahatani Mangga Gedong Gincu (Mangifera Indica L) Kasus di Desa Sliyeg Lor, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, Jawa Barat. Usahatani memiliki nilai Rasio Biaya Privat dan Rasio Sumberdaya Domestik kurang dari 1. Nilai tersebut mengindikasikan usahatani memiliki daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif). Meskipun tanpa bantuan dan intervensi pemerintah, komoditas Mangga Gedong Gincu memiliki daya saing dan bertahan di pasar persaingan sempurna. Usahatani mangga gedong gincu di Desa Sliyeg, Kab Indramayu memiliki keuntungan Privat dan Keuntungan Sosial positif. Nilai tersebut mengindikasikan usahatani menghasilkan keuntungan, baik secara financial maupun ekonomi. Penerapan kebijakan pemerintah berupa subsidi pada input usahatani Mangga Gedong Gincu memberikan keuntungan pada petani karena mampu mengurangi biaya input tradable dan input non tradable sedangkan kebijakan pemerintah pada output berupa distorsi harga berdampak pada berkurangnya penerimaan petani.
Penelitian Yeyen Eryani (2006) dengan judul Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu (Mangifera indica. L) di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa proses pemasaran mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon melibatkan beberapa lembaga tataniaga, seperti petani, pedagang, pengumpul kecil, pengumpul besar, pedagang pengecer, pedagang di Pasar Induk, supermarket, dan eksportir. Struktur pasar yang terjadi cenderung mengarah pada pasar bersaing tidak sempurna. Struktur pasar yang terjadi antara petani mangga gedong gincu, pedagang pengumpul besar, dan pedagang pengumpul kecil adalah struktur pasar oligopsoni. Struktur pasar yang terjadi antara pedagang pengumpul besar dan pedagang di pasar bersifat oligopoli. Struktur pasar yang terjadi antara pengumpul besar dan eksportir dan supermarket adalah olgopsoni. Dari kedelapan saluran pemasaran yang ada di Kabupaten Cirebon,saluran pemasaran 2 (petani-pedagang pengumpul besar-pedagang pengecer-di pasar local-konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling
13 efisien berdasarkan nilai farmer’s share terbesar yang diterima petani mangga gedong gincu yaitu sebesar 61,07%.
2.2.2 Penelitian Mengenai Pengaruh Teknologi Terhadap Pendapatan Petani Penelitian Valentinus Ladja Dede (1985) dengan judul Tesis Pengaruh Teknologi Pola Tanam pada Pendapatan Petani di Daerah yang Beriklim Kering, Kasus Wilayah Pengembangan Pertanian AROKI di Nusa Tenggara Timur. Dalam penelitiannya, adanya teknologi baru seperti penggunaan pupuk,varitas unggul,pengaturan waktu tanam telah meningkatkan penerimaan petani antara 21% walaupun dengan curah hujan yang terbatas antara 4-5 bulan dalam setahun dan kesuburan tanah yang marjinal.
Penelitian Akbar Zamani (2008) dengan judul Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Produksi Usahatani Belimbing Depok Varietas Dewa Dewi (Averrhoa Carambola). Hasil penelitian tersebut menyebutkan, pengeluaran biaya terbesar untuk petani SOP dan non SOP adalah biaya untuk Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) dan Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK). Biaya TKLK yang dikeluarkan petani SOP yaitu sebesar Rp. 1.247.200 atau sekitar 30,97% dari biaya total produksi dan untk petani non SOP mengeluarkan biaya tersebut sebesar Rp. 1.177.600 atau 30,98% dari total biaya produksi. Penerimaan Tunai yang diterima petani SOP dan non SOP yaitu masing-masing Rp. 6.288.876 dan Rp. 4.803.976. Pendapatan petani SOP atas biaya tunai dan biaya total untuk satu musim panen masing-masing Rp. 3.701.019 dan Rp. 2.261.114 sedangkan untuk petani non SOP masing-masing sebesar Rp. 2.816.139 dan Rp. 1.002.916. Sehingga R/C rasio atas biaya tunai dan total untuk petani SOP masing-masing 2,43 dan 1,56 sedangkan R/C rasio atas biaya tunai dan total yang diperoleh petani non SOP yaitu sebesar 2,42 dan 1,26.
2.2.3 Penelitian Mengenai Pendapatan Usahatani
Penelitian Teguh Purwadi (2009) dengan judul Analisis Pendapatan Usahatani Pisang Ambon melalui Program Primatani. Hasil analisis biaya usahatani menunjukkan bahwa pada tahun 2008 total biaya usahatani pisang per hektar sebesar Rp. 16.991.076,49 yang terdiri dari biaya tunai Rp. 11.298.555,48
14 dan biaya tidak tunai sebesar Rp. 5.692.521,01. Dari Struktur biaya yang dikeluarkan petani dapat dilihat bahwa dalam budidaya pisang ini petani telah menjadikan pisang sebagai usahatani komersial dimana petani lebih banyak menggunakan factor produksi yang dibeli secara tunai. Hasil analisis penerimaan usahatani menunjukkan bahwa pada tahun 2008 petani di Desa Talaga per hektar produksi yang dihasilkan sebesar 20.526,48 kg, dari jumlah produksi petani mendapatkan penerimaan tunai sebesar Rp. 33.937.045,18. Pendapatan yang diperoleh selama satu tahun dari luas lahan satu hektar adalah sebesar Rp. 16.945.968,69. Hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa budidaya yang dilakukan petani menguntungkan untuk dijalankan dengan nilai imbangan biaya dan penerimaan sebesar 3,00 terhadap biaya tunai dan 2,00 terhadap biaya total.
Penelitian Rosana Podesta (2009) dengan judul Pengaruh Penggunaan Benih Sertifikat terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi Pandan Wangi. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani padi Pandan Wangi benih sertifikat lebih efisien secara teknis dibandingkan usahatani dengan benih non sertifikat. Hasil analisis pendapatan menunjukkan bahwa pendapatan tunai maupun pendapatan total usahatani padi Pandan Wangi benih bersertifikat baik MT I maupun MT II lebih besar daripada usahatani padi Pandan Wangi dengan benih non sertifikat. Akan tetapi, nilai R/C rasio atas biaya tunai usahatani padi pandan wangi benih non sertifikat MT II lebih besar dibandingkan nilai R/C rasio yang lain. Hal ini karena komponen terbesar biaya tunai berasal dari benih dan benih yang digunakan adalah benih non sertifikat yang harganya lebih murah jika dibandingkan dengan benih bersertifikat. Beberapa alasan tersebut yang mengakibatkan petani lebih memilih menggunakan benih non sertifikat dibandingkan benih yang bersertifikat.
15 Tabel 4. Penelitian Terdahulu
No. Nama Tahun
Penelitian
Judul Skripsi Alat Analisis
1. Teguh Purwadi 2009 Analisis Pendapatan
Usahatani Pisang Ambon melalui Program Primatani
R/C Rasio
2. Rosana Podesta 2009 Pengaruh Penggunaan
Benih Sertifikat terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi Pandan Wangi
R/C Rasio Analisis Frontier
3. Akbar Zamani 2008 Analisis Pendapatan
dan Efisiensi
Penggunaan Produksi Usahatani Belimbing Depok Varietas Dewa Dewi (Averrhoa Carambola)
R/C Rasio Analisis Efisiensi
Penelitian yang telah dilakukan memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Persamaan dengan penelitian oleh Akbar Zamani yang meneliti mengenai tanaman tahunan dengan menggunakan Analisis Pendapatan R/C Rasio. Perbedaannya adalah dalam penelitian ini menggunakan analisis parsial dengan Metode Keuntungan Parsial untuk mengevaluasi penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap pendapatan petani.
2.2 Definisi Operasional
Mangga Gedong Gincu adalah mangga jenis gedong yang dipanen pada kematangan antara 70% hingga 95%.
Petani SOP adalah petani yang telah tersertifikasi oleh Departemen Pertanian Jawa Barat atas kebun buah mangga gedong gincu.
Petani Non SOP adalah petani yang tidak tersertifikasi oleh Departemen Pertanian Jawa Barat atas kebun buah mangga gedong gincu.
Proses sertifikasi adalah proses pendaftaran kebun buah mangga yang telah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP).
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Konsep Fungsi Produksi
Produksi dapat didefinisikan sebagai proses menciptakan barang atau jasa ekonomi dengan menggunakan barang atau jasa lainnya. Dasar pemikiran ini memberikan pengertian bahwa untuk menghasilkan output suatu komoditas tertentu dibutuhkan dua atau lebih faktor produksi. Fungsi produksi didefinisikan sebagai hubungan teknis antara input dan output yang ditandai jumlah output maksimal yang dapat diproduksikan dengan satu set kombinasi input tertentu (Halcrow 1992, diacu dalam Nur Yulistia 2009).
Menurut Doll dan Orazem dalam Nur Yulistia 2009, dalam bentuk matematika sederhana, fungsi produksi dapat dituliskan sebagai berikut :
Y = F (X1,X2,X3,....,Xn)
Keterangan :
Y = hasil produksi (output)
X1,X2,X3,....,Xn = faktor-faktor produksi (input)
Berdasarkan fungsi di atas, petani dapat melakukan tindakan yang mampu meningkatkan produksi (Y) dengan cara menambah jumlah salah satu dari input yang digunakan atau menambah beberapa jumlah input (lebih dari satu) yang digunakan. Dalam produksi pertanian, hasil fisik dihasilkan oleh bekerjanya beberapa faktor produksi sekaligus, yaitu tanah, modal, dan tenaga kerja. Untuk dapat menggambarkan fungsi produksi ini secara jelas dan menganalisis peranan masing-masing faktor produksi, maka dari sejumlah faktor-faktor produksi itu salah satu faktor produksi dianggap sebagai variabel yang berubah-ubah, sedangkan faktor-faktor produksi lainnya dianggap konstan.
17 Gambar 1. Kurva Fungsi Produksi
Sumber : Halcrow 1992 diacu dalam Nur Yulistia 2009
3.1.2 Teknologi dalam Usahatani
Menurut Hernanto (1989, diacu dalam Nur Yulistia 2009) mengemukakan bahwa penggunaan teknologi baru atau adopsi teknologi baru pada pertanian akan berpengaruh terhadap biaya usahatani. Selain akan mempengaruhi biaya, penggunaan teknologi baru juga berpengaruh terhadap penerimaan petani. Peningkatan produksi yang terpenting pada dasarnya adalah adanya kenaikan produktivitas per satuan luas dan waktu. Bentuk-bentuk teknologi tersebut dapat berupa cara budidaya yang baik, introduksi teknologi kimia seperti pupuk dan obat-obatan, introduksi teknologi biologis seperti bibit-bibit unggul dan teknologi mekanis meliputi penggunaan alat-alat pertanian yang dapat meredusir tenaga kerja. Dengan demikian teknologi itu dapat menyentuh segenap aspek kegiatan produksi. Penggunaan teknologi pada dasarnya adalah akan memperbesar pengeluaran biaya tetap, biaya pemeliharaan, dan tambahan tenaga kerja. Ini berarti dapat mengubah komposisi biaya tetap maupun variabel.
Hal yang berbeda dikemukakan oleh Halcrow (1992, diacu dalam Nur Yulistia 2009), yang menyatakan bahwa ada dua kemungkinan yang dapat terjadi dari adanya pengaruh teknologi baru, yaitu:
1) Menaikan fungsi produksi sehingga output yang lebih tinggi dapat dihasilkan dengan menggunakan input yang sama.
(y)
(x) 0
18 2) Menggeser ke kiri kurva Total Produksi (TP) (seperti yang disajikan pada
Gambar 2) yaitu jumlah output yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan sumberdaya yang lebih sedikit.
Secara umum dapat dikatakan bahwa dari teknologi baru dapat dihasilkan output yang lebih besar dengan penggunaan input yang sama atau dalamkata lain dapat menaikkan produktivitas. Kenaikan ini tidak saja menyangkut kuantitas tetapi juga kualitas. Baik kualitas input maupun kualitas output. Teknologi baru secara kualitatif maupun kuantitatif dapat merubah fungsi produksi dan perubahan ini lebih menguntungkan pada berbagai tingkat sumberdaya. Hal terpenting dari penggunaan teknologi baru adalah menaikkan output pada penggunaan input yang sama (Gambar 2A) atau penghematan sumberdaya untuk mencapai output tertentu (Gambar 2.B).
Gambar 2.A Gambar 2.B
Keterangan :
1 = TP (Teknologi Baru) 2 = TP (Teknologi Lama)
Gambar 2. Pengaruh Teknologi Baru Terhadap Produksi Sumber : Halcrow 1992 diacu dalam Nur Yulistia 2009
Hadirnya teknologi baru tentunya akan mendorong seorang petani untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Petani selalu mengandalkan asas memaksimumkan keuntungan (profit maximization) menurut Soekartawi (1989) dapat dicirikan sebagai berikut:
1) Cepatnya mengadopsi inovasi hal-hal yang baru dan karenanya petani tersebut seiring disebut sebagai adpters yang cepat (early adopters).
2) Derajat kosmopolitannya tinggi, yaitu mobilitas yang cepat, pergi kesana-kemari untuk memperoleh informasi.
Y X 2 1 Y X 2 1
19 3) Mampu dan mau mencoba hal-hal atau teknologi baru, karenanya di samping
mereka digolongkan sebagai petani maju juga umumnya petani komersial.
3.1.3 Usahatani
Menurut Ken Suratiyah, ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaiknya. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara menentukan, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin. Menurut Daniel, ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani mengkombinasikan dan mengoperasikan berbagai faktor produksi seperti lahan, tenaga, dan modal sebagai dasar bagaimana petani memilih jenis dan besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak sehingga memberikan hasil maksimal dan kontinyu.
Menurut Vink (1984, diacu dalam Ken Suratiyah 2009), ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari norma-norma yang digunakan untuk mengatur usahatani agar memperoleh pendapatan yang setinggi-tingginya. Menurut Prawirakusumo (1990, diacu dalam Ken Suratiyah 2009), ilmu usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurut Soekartawi et al. (1986) tujuan berusahatani adalah memaksimalkan keuntungan atau meminimumkan biaya. Ciri usahatani Indonesia: 1) sempitnya lahan milik petani, 2) kurangnya modal, 3) terbatasnya pengetahuan petani dan kurang dinamis, dan 4) tingkat pendapatan petani yang rendah.
3.1.4 Penerimaan Usahatani
Dalam Soekartawi et al (1986), pendapatan usahatani didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual
20 maupun yang tidak dijual. Jangka waktu pembukuan umumnya satu tahun dan mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, disimpan, digudangkan pada akhir tahun. Pendapatan kotor disebut juga dengan penerimaan.
3.1.5 Biaya Usahatani
Soekartawi et al. (1986) biaya usahatani meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan tidak berpengaruh terhadap besarnya jumlah produksi. Biaya tetap meliputi pajak, penyusutan alat produksi, bunga pinjaman, sewa lahan, dan iuran irigasi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya tergantung dari jumlah produksi.
Pengelompokkan biaya usahatani yang lain adalah biaya tunai dan biaya tidak tunai (Hernanto 1995, diacu dalam Teguh Purwadi 2009). Biaya tunai dan tidak tunai berasal dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang termasuk dalam biaya tunai adalah iuran irigasi dan pajak tanah. Biaya diperhitungkan atau tidak tunai yang merupakan biaya tetap adalah biaya penyusutan dan biaya tenaga kerja keluarga. Sedangkan yang termasuk biaya variabel yaitu sewa lahan.
3.1.6 Pendapatan Usahatani
Selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal milik sendiri atau modal pinjamanyang diinvestasikan ke dalam usahatani yang dapat digunakan untuk membandingkan beberapa penampilan usahatani (Soekartawi et al. 1986).
3.1.7 Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Rasio)
Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi. Oleh karena itu, pendapatan usahatani merupakan keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk
21 membandingkan keragaan beberapa usahatani. Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak, juga dinilai efisiensinya. Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah penerimaan (R) untuk setiap biaya (C) yang dikeluarkan (R/C). Rasio ini menunjukkan pendapatan kotor yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk produksi.
Analisis rasio ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif terhadap kegiatan usahatani sehingga dapat dijadikan penelitian terhadap keputusan petani untuk menjalankan usahatani tertentu. Usahatani efisien apabila R/C lebih besar dari 1 (R/C > 1) artinya untuk setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan lebih dari Rp. 1,00. Sebaliknya jika rasio R/C lebih kecil satu (R/C < 1) maka dikatakan bahwa setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan kurang dari Rp. 1,00 sehingga usahatani dinilai tidak efisien. Semakin tinggi nilai R/C semakin menguntungkan usahatani tersebut (Gray et al. 1992).
3.1.8 Analisis Pendapatan Parsial
Analisis pendapatan parsial dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi akibat-akibat yang disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam metode produksi atau organisasi usahatani. Dalam analisis anggaran parsial hanya diperhatikan faktor-faktor yang ada kaitannya dengan perubahan tersebut. Pendekatan dengan anggaran parsial memiliki beberapa manfaat yaitu tidak memerlukan banyak data yang tidak perlu bila dibandingkan dengan anggaran usahatani keseluruhan (whole-farm budgeting). Analisis anggaran parsial tidak memerlukan informasi mengenai segi-segi usahatani yang tidak dipengaruhi oleh perubahan yang sedang diamati karena keragaan bagian-bagian ini tidak akan berubah. Karena itu, analisis anggaran parsial umumnya lebih sederhana dari pada analisis usahatani keseluruhan. Juga karena sifatnya, anggaran parsial dapat diterapkan pada keadaaan usahatani yang lebih luas dari pada anggaran usahatani keseluruhan.
3.1.8.1 Anggaran Keuntungan Parsial
Anggaran keuntungan parsial sangat tepat untuk dipakai mengevaluasi pengaruh perubahan-perubahan kecil dalam organisasi usahatani atau metode
22 produksi. Anggaran parsial memberikan cara yang tepat dan mudah membandingkan keuntungan alternatif-alternatif tersebut. Langkah pertama adalah menjelaskan perubahan yang terjadi dalam organisasi usahatani atau metode produksi, secara hati-hati dan tepat. Langkah kedua adalah mendaftar dan menghitung keuntungan dan kerugian yang diakubatkan oleh perubahan tersebut. Kerugian dapat digolongkan menjadi dua kelompok, pertama yaitu pengeluaran atau biaya tambahan yang terjadi akibat perubahan, kedua yaitu pendapatan kotor atau penghasilan yang hilang dan tidak akan diterima lagi sebagai akibat terjadinya perubahan. Kerugian ini harus ditambahkan pada kelompok yang pertama.
Keuntungan dapat juga digolongkan menjadi dua kelompok. Pertama, tiap pengeluaran atau biaya yang dihemat sebagai akibat perubahan tersebut. Kedua, tambahan pendapatan kotor atau penghasilan yang timbul sebagai akibat adanya perubahan tersebut. Keuntungan ini harus ditambahkan pada kelompok yang pertama.
Perubahan keuntungan usahatani yang berkaitan dengan perubahan anggaran dapat dihitung dengan cara mengurangi keuntungan total dan kerugian total. Apabila keuntungan total lebih besar dibandingkan dengan kerugian total, maka anggaran jelas menunjukkan bahwa perubahan yang diusulkan itu menguntungkan. Apabila terjadi sebaliknya, maka perubahan yang diusulkan tidak menguntungkan. Tentu saja penilaian perubahan keuntungan usahatani ini bergantung kepada kebenaran data yang digunakan dalam anggaran.
3.1.9 Konsep Mutu
J.M Muran mendefinisikan mutu sebagai “Fitness for Use” (cocok atau layak digunakan). Artinya suatu produk atau jasa harus memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan (Tunggal 1993). Menurut Philips B. Crosby mendefinisikan mutu sebagai “Conformance to Requirement”. Dengan definisi ini, Crosby menitikberatkan kegiatan mutu perusahaan untuk (1) mencoba mengerti harapan-harapan konsumen, (2) memenuhi harapan-harapan-harapan-harapan tersebut sehingga (3) perlu pandangan eksternal mengenai mutu agar penyususnan sasaran mutu lebih
23 realistis dan sesuai dengan permintaan atau keinginan (Tenner 1992, dalam Tjahja Muhandri dan Darwin Kadarisman 2006).
Dari berbagai definisi mutu yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa semua ahli sepakat, mutu harus berorientasi kepada kepuasan pelanggan. Hal ini membawa dampak pada persaingan yang semakin ketat (akibat kemajuan teknologi informasi, produksi, dan transportasi) menyebabkan persaingan antar industri benar-benar ditentukan oleh kemampuan mutu mereka. Namun usaha pemenuhan spesifikasi mutu yang diinginkan oleh konsumen kadang-kadang sulit untuk dilakukan oleh sebuah perusahaan. Hal ini disebabkan oleh :
1) Konsumen sulit mendefinisikan spesifikasi keinginannya secara benar, jelas, dan lengkap.
2) Produsen tidak mudah menerjemahkan kebutuhan konsumen dengan baik.
3.1.10 Konsep Standar
Menurut International Organization for Standardization (ISO), standar adalah spesifikasi teknis atau dokumen setara yang tersedia untuk masyarakat, dihasilkan dari konsensus atau persetujuan umum yang didasarkan kepada IPTEK atau pengalaman agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat serta diakui oleh badan yang berwenang baik tingkat nasional, regional, atau internasional. Mengacu pada definisi tersebut, maka standar bersifat dinamis, meningkat seiring dengan peningkatan teknologi dan tuntutan konsumen. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya standar, diantaranya: 1) Adanya perbaikan produk yang menyesuaikan dengan standar
2) Mencegah dan menghilangkan hambatan perdagangan 3) Meningkatkan daerah penjualan produk
4) Memudahkan terjadinya kerja sama IPTEK
Industri penghasil produk dapat mengikuti standar yang ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga yang diakui, tetapi dapat pula membuat dan menetapkan sendiri standar yang akan digunakan (sesuai dengan permintaan konsumen). Pembuatan dan penetapan standar mempunyai tujuan utama agar suatu produk
24 atau jasa yang diterima konsumen sudah layak untuk digunakan (fitness for use). Selain itu, penetapan standar mempunyai tujuan lain, yaitu :
1) Pengendalian keragaman (mengurangi variasi)
Dengan standar yang ada, batas toleransi prosuk yang diterima konsumen menjadi jelas. Produk yang berada di luar batas toleransi tidak akan diterima oleh konsumen (menjadi waste).
2) Untuk “compatibility”(kecocokan)
Standar dibuat dengan berbagai pertimbangan (segi konsumen, kemampuan produsen, IPTEK, lingkungan, dan sebagainya). Dengan standar tersebut maka diharapkan produk atau jasa akan sesuai (cocok) dengan konsumen yang akan menggunakan.
3) Kemampuan penjualan
Dengan mengikuti standar yang telah ada, maka produk akan diakui oleh konsumen sehingga produk atau jasa akan diterima konsumen.
4) Meningkatkan kesehatan dan keamanan produk
Upaya untuk melindungi konsumen dari bahaya yang disebabkan oleh produk merupakan salah satu isu yang paling gencar dari tujuan pembuatan standar oleh pemerintah (lembaga yang ditunjuk). Produsen yang menghasilkan produk di luar standar tidak hanya mengalami risiko yang tidak laku, tetapi juga akan mendapat sanksi hukum.
5) Meningkatkan kelestarian lingkungan
Keterbatasan daya dukung lingkungan terhadap berbagai pencemaran yang timbul dari adanya aktivitas industri mendorong dibuatnya standar untuk tujuan perlindungan lingkungan. Bahkan untuk negara-negara tertentu, kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi jika industri ingin mengirimkan produknya.
Secara teoritis, pembagian jenis standar dilakukan dengan cara beragam, sesuai dengan dasar yang digunakan
1) Berdasarkan lingkungan penerapannya (Standar Internasional, Nasional, Regional, Perusahaan)
25 2) Berdasarkan kategori subyek (Standar Produk, Standar Bahan Mentah, Standar
Proses). Standar Proses adalah urutan, tahapan, termasuk kondisi tiap tahap yang harus dilalui oleh bahan sebelum menjadi produk dan dikirim ke konsumen.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Kondisi sumber daya alam Indonesia sebagai negara tropis yang subur untuk pertanian, mempunyai peluang yang sangat baik untuk memposisikan diri sebagai salah satu produsen komoditas pertanian bagi dunia. Iklim yang sedemikian rupa telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu tempat bagi ketersediaan berbagai komoditas pertanian, khususnya buah-buahan tropis. Permintaan pasar internasional akan mangga Gedong Gincu cukup tinggi. mangga dikenal sebagai The Best Loved Tropical Fruit dan mangga termasuk ke dalam golongan buah eksotik, yaitu buah-buahan khas daerah tropis yang mahal harganya dan banyak peminatnya di pasaran luar negeri.
Ekspor mangga dari Indonesia lebih banyak diserap oleh pasar dari negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selanjutnya peluang pasar lainnya yang dapat diraih produsen mangga termasuk Indonesia antara lain : Amerika, Kanada (4,2%), Eropa (24%), Timur Tengah (14%), Jepang (3%) dan Singapura (5%). Selain itu mangga Gedong Gincu merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki prospek cerah, karena disamping menghasilkan devisa negara juga berperan dalam meningkatkan pendapatan petani, memfungsikan sebagian lahan yang tersedia dan berguna untuk konservasi tanah dan air.
Saat ini kita telah memasuki era globalisasi ekonomi yang memaksa petani sebagai produsen utama produk-produk pertanian secara langsung dan tidak langsung memasuki persaingan dengan banyak produsen lain ditingkat global. Produk-produk pertanian tidak hanya bersaing dengan produk-produk pertanian luar negeri di pasar global tetapi juga di pasar domestik. Maka dari itu, perbaikan kualitas buah nasional merupakan suatu tuntutan, baik untuk memenuhi konsumsi domestik yang semakin ditantang oleh saingan buah impor, maupun untuk tujuan ekspor.