• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjatuhan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib

Dalam dokumen PENDETENSIAN DAN DEPORTASI (Halaman 12-34)

BAB III PENGELOLAAN RUMAH DETENSI IMIGRASI

C. Penjatuhan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib

E. Penanganan Kelahiran, Kematian, Pelanggaran, Mogok Makan, Pemeriksaan Kesehatan Dan Melarikan Diri.

F. Pemulangan Dan Deportasi.

1. Tahapan Proses Pemulangan Dan Deportasi. 2. Perbedaan Deportasi Dan Pemulangan.

3. Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan (SOPAP) Deportasi Deteni.

a) Aplikasi Penanganan Deteni (Simkim versi 2) A. Pengenalan Aplikasi Penanganan Deteni. B. Manfaat Aplikasi Penanganan Deteni.

b) Permasalahan dan Solusi Atas Permasalahan Pendetensian dan Deportasi

A. Permasalahan Pendetensian dan Deportasi 1. Permasalahan Pendetesian.

2. Permasalahan Deportasi.

B. Solusi Atas Permasalahan Pendetensian dan Deportasi 1. Solusi Atas Permasalahan Pendetesian.

2. Solusi Permasalahan Deportasi. c) Penutup

1. Kesimpulan. 2. Saran.

E. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari modul ini adalah: 1. Dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan di bidang keimigrasian,

terutama pendetensian dan deportasi.

2. Dapat dijadikan bahan penulisan untuk mengembangkan kompetensi pegawai dalam membuat skripsi, thesis, karya tulis atau karya ilmiah hasil penelitian pengkajian, survei, evaluasi, tinjauan atau ulasan ilmiah dengan gagasan sendiri di bidang keimigrasian.

3. Dapat dijadikan pedoman bagi Petugas maupun Pejabat Imigrasi dalam melaksanakan tugas di Rumah Detensi Imigrasi.

F. Petunjuk Belajar

Dalam proses pembelajaran modul best practise berjudul “Pendetensian dan Deportasi”, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara baik, peserta disarankan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Membaca secara cermat dan seksama serta mempelajari semua materi dalam modul ini secara berurutan mulai dari bab 1-V.

2. Belajarlah secara mandiri maupun berkelompok dengan cara berdiskusi. 3. Anda disarankan mempelajari bahan-bahan dari sumber-sumber lain

yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti yang tertera pada Daftar Pustaka di dalam modul ini, dan jangan segan-segan bertanya kepada siapapun yang memiliki pengetahuan tentang pendetensian dan deportasi.

BAB II

KONSEP RUMAH DETENSI IMIGRASI

Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan konsep Rumah Detensi Imigrasi

A. Apa Itu Rumah Detensi Imigrasi

Rumah itu bukan hanya sebuah bangunan untuk ditempati namun rumah memiliki makna yang sangat dalam. Konsep rumah sebagai tempat yang dapat menciptakan kenyamanan, kehangatan dan kebahagiaan dalam hati. Rumah bukan hanya diartikan sebuah bangunan namun dapat disebut sebagai tempat ternyaman di dunia karena orang-orang yang berada di dalam rumah menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik sehingga setiap penghuni rumah saling berbagi cerita keluh kesah. Bangunan semewah apapun belum tentu menciptakan rasa nyaman dan bahagia apabila orang- orang yang berada di dalam rumah berhasil menciptakan kenyamanan saat berada di dalam rumah.

Hubungan antara konsep rumah dengan Rumah Detensi Imigrasi adalah memberikan rasa nyaman kepada para penghuni yang tinggal di Rumah Detensi Imigrasi dikarenakan para deteni saling berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya serta menganggap para penghuni Rumah Detensi Imigrasi merupakan bagian dari keluarga.

Pada tahun 2004, istilah Karantina Imigrasi berubah menjadi Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Konsep diberikan nama atau istilah Rumah Detensi Imigrasi dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut:

1. Orang asing yang melanggar Undang-Undang Imigrasi akan dideportasi ke negara asal deteni yang berarti mereka membutuhkan tempat

penampungan sementara dalam rangka menunggu proses pelaksanaan deportasi ke negara asalnya.

2. Deteni yang ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi mengingatkan rasa kangen terhadap keluarganya dan akan berkumpul bersama keluarganya di negara asalnya setelah dideportasi.

Rumah Detensi Imigrasi dibangun karena meningkatnya lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama pelanggaran keimigrasian. Berdasarkan ketentuan pasal 3 Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.PR.07.04 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi menyebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi mempunyai fungsi adalah melaksanakan tugas penindakan, pengisolasian dan pemulangan dan pengusiran atau deportasi. Berdasarkan ketentuan pasal 4 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-11.OT.01.01 Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi menyebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang menyelenggarakan fungsi yaitu:

a. Pelaksanaan tugas pendetensian, pengisolasian dan pendeportasian. b. Pelaksanaan tugas pemulangan dan pengusulan penangkalan. c. Pelaksanaan fasilitasi penempatan orang asing ke negara ketiga. d. Pelaksanaan pengelolaan tata usaha.

Sehubungan dengan implementasi fungsi Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang sebagaimana diatur dalam huruf c, sampai saat ini tidak ada instrumen yang memberikan kewenangan pada Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang dalam rangka pelaksanaan fasilitasi penempatan orang asing ke negara ke tiga.

B. Perbedaan Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi

Rumah Detensi Imigrasi Ruang Detensi Imigrasi

Berbentuk sebuah ruang sel yang jumlah ruangannya banyak, misalnya Rumah Detensi Imigrasi Jakarta berjumlah 51 sel.

Berbentuk suatu ruangan tertentu dan ruangan selnya berjumlah 1-2 kecuali ruang sel di Direktorat Jenderal Imigrasi berjumlah 5 ruang.

Unit pelaksana teknis yang berada di bawah Direktorat Jenderal Imigrasi

Bagian dari Kantor Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Imigrasi atau Tempat Pemeriksaan Imigrasi Masa pendetensian dalam jangka

waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun.

Masa pendetensian dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.

C. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi Dan Ruang Detensi

Imigrasi

Pejabat Imigrasi berwenang menempatkan orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi. Ruang Detensi Imigrasi berbentuk suatu ruangan tertentu dan merupakan bagian dari kantor Direktorat Jenderal, Kantor Imigrasi, atau Tempat Pemeriksaan Imigrasi. Pendetensian orang asing pada Rumah Detensi Imigrasi adalah wewenang Kepala Rumah Detensi Imigrasi sesuai surat keputusan tindakan keimigrasian yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Imigrasi, Kepala Divisi Keimigrasian atau Direktur Jenderal Imigrasi Up. Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Pendetensian orang asing pada Ruang Detensi Imigrasi di Kantor Imigrasi adalah wewenang Kepala Kantor Imigrasi sesuai surat keputusan tindakan keimigrasian yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Imigrasi.

1. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi

Pendetensian terhadap orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi, jika orang asing tersebut :

a. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki Izin Tinggal yang sah atau memiliki Izin Tinggal yang tidak berlaku lagi.

b. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki Dokumen Perjalanan yang sah.

c. Dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa pembatalan izin tinggal berupa pembatalan izin tinggal karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang- undangan atau mengganggu keamanan dan ketertiban.

d. Menunggu pelaksanaan Deportasi.

e. Pemindahan dari Ruang Detensi Imigrasi.

2. Kriteria Penghuni Ruang Detensi Imigrasi Pendetensian terhadap orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi, jika orang asing tersebut:

a. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki izin tinggal yang sah atau memiliki izin tinggal yang tidak berlaku lagi.

b. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki dokumen perjalanan yang sah.

c. Dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa pembatalan Izin Tinggal karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

d. Menunggu pelaksanaan deportasi.

e. Menunggu keberangkatan keluar wilayah Indonesia karena ditolak pemberian tanda masuk.

3. Kondisi Penempatan Deteni Ke Rumah Detensi Imigrasi Tanpa Melalui Ruang Detensi Imigrasi

a. Melebihi kapasitas penempatan orang asing di Ruang Detensi Imigrasi, contohnya: ruang detensi Imigrasi di Kantor Imigrasi setempat penuh dikarenakan banyaknya orang asing yang didetensi pada saat dilakukan operasi gabungan Tim Pengawasan Orang Asing (TIMPORA).

b. Prinsip efektifitas dan efisiensi untuk sejak awal ditempatkan dalam Rumah Detensi Imigrasi, contohnya: orang asing yang didetensi tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah dan berlaku.

C. Kondisi Deteni Dikeluarkan Sementara Dari Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi

Kepala Rumah Detensi Imigrasi atau Kepala Kantor Imigrasi dapat melakukan pengeluaran sementara bagi orang asing penghuni Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi, apabila kondisi:

a) Deteni keluarga. b) Deteni yang sakit.

c) Deteni yang akan melahirkan.

D. Masa Berakhirnya Orang Asing Penghuni Rumah atau Ruang

Detensi Imigrasi

Masa berakhirnya deteni atau orang asing penghuni Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi, antara lain :

1. Deteni telah memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku. 2. Deteni telah diberikan persetujuan oleh perwakilan negara asal deteni

berupa penerbitan Emergency Travel Document (ETD) bagi deteni yang tidak memiliki dokumen perjalanan negara asing.

3. Deteni telah mempersiapkan tiket untuk pulang ke negara asal.

4. Petugas Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi telah mempersiapkan surat keputusan pendeportasian dan surat Perintah Pengeluaran Deteni.

5. Petugas Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi telah mempersiapkan Surat Perintah Pengawalan untuk petugas dan Surat Pengantar Deportasi kepada Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) yang dituju.

E. Kondisi Masa Pendetensian Penghuni Rumah Detensi Imigrasi

Terlampaui

Orang Asing yang telah berada di Rumah Detensi Imigrasi untuk waktu 10 (sepuluh) tahun atau lebih dapat diberikan izin berada di luar Rumah Detensi Imigrasi dan dikecualikan dari kewajiban memiliki Izin Tinggal berdasarkan permohonan. Permohonan tersebut diajukan oleh Deteni kepada Kepala Rumah Detensi Imigrasi dengan mengisi aplikasi data dan melampirkan persyaratan:

1. Alamat deteni.

2. Surat pernyataan yang memuat kesediaan wajib melapor kepada Kepala Rumah Detensi Imigrasi atau Kepala Kantor Imigrasi yang membawahi tempat tinggalnya. Kewajiban deteni melapor mengenai:

1. Keberadaannya secara periodik setiap 1 (satu) bulan. 2. Perubahan status sipil, pekerjaan, atau alamat. 3. Surat keterangan bertempat tinggal dari rukun tetangga.

F. Perlindungan Hak Asasi Manusia Bagi Deteni

Dalam rangka sebagai upaya mewujudkan pemenuhan, penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 dan kemudian diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui penerbitan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa setiap orang tanpa mengenal identitas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) wajib dijunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Salah satu subjek yang memerlukan pemenuhan terhadap hak asasi manusia adalah deteni yang saat ini berada di Rumah Detensi Imigrasi di seluruh Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur 10 (sepuluh) jenis Hak Asasi Manusia antara lain:

1. Hak untuk hidup diatur dalam pasal 9.

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan diatur dalam pasal 10. 3. Hak mengembangkan diri diatur dalam pasal 11.

4. Hak memperoleh keadilan diatur dalam pasal 17. 5. Hak atas kebebasan pribadi diatur dalam pasal 20. 6. Hak atas rasa aman diatur dalam pasal 28.

7. Hak atas kesejahteraan diatur dalam pasal 36.

8. Hak turut serta dalam pemerintahan diatur dalam pasal 43. 9. Hak wanita diatur dalam pasal 45.

Berkaitan dengan penempatan deteni di Rumah Detensi Imigrasi, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban mengkoordinasikan dan memberikan petunjuk pelaksanaan tugas terhadap bawahannya di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) terutama dalam hal memberitahukan hak dan kewajiban deteni. Dengan demikian, setiap Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang tersebar di 13 (tiga belas) kota di wilayah Indonesia telah memberikan penghormatan, pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia bagi para deteni.

Hak deteni, antara lain:

1. Melaksanakan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing dalam waktu dan tempat yang telah disediakan.

2. Mendapatkan perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani. 3. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak. 4. Keluhan deteni ditanggapi.

5. Menerima kunjungan keluarga, sponsor, penasihat hukum, rohaniawan, dokter perwakilan negara.

Berkaitan dengan perlindungan Hak Asasi Manusia bagi deteni maka pemenuhan kebutuhan dasar tersebut antara lain persediaan air bersih, penyediaan kebutuhan makanan dan minuman, kesehatan dan kebersihan, ibadah, kunjungan dan penyegaran atau hiburan menjadi hal mutlak yang harus disediakan oleh setiap Rumah Detensi Imigrasi di Indonesia. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut maka akan tercipta pelayanan deteni yang berdimensi hak asasi manusia.

G. Kewajiban Deteni

Berikut ini adalah kewajiban deteni, meliputi:

a) Menaati peraturan tata tertib yang berlaku. b) Memelihara perikehdupan yang aman dan tertib. c) Memelihara barang inventaris.

d) Menghormati hak orang lain.

e) Memberikan keterangan yang benar kepada petugas Rumah Detensi Imigrasi.

BAB III

PENGELOLAAN RUMAH DETENSI IMIGRASI

Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi

Bahwa kata “pengelolaan” dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pula pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1993:31). Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.

Dalam rangka mendukung terciptanya pengaturan dan penataan yang berkaitan dengan pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi seperti: pendetensian, pelayanan deteni, penjatuhan sanksi pelanggaran tata tertib, pemindahan deteni, penanganan kelahiran, kematian, pelanggaran, mogok makan, pemeriksaan kesehatan dan melarikan diri maka peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan sumber daya lainnya seharusnya dapat dimaksimalkan guna mewujudkan Rumah Detensi Imigrasi yang maju dan profesional.

A. Pendetensian

1. Penerimaan

1. Penerimaan calon deteni dari Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia u.p Divisi Keimigrasian, dan atau Kantor Imigrasi dilakukan di Rumah Detensi Imigrasi oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan atau petugas yang ditunjuk.

2. Terhadap penerimaan calon deteni tersebut, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk harus memeriksa kelengkapan administrasi yang menyertai dengan penyerahan calon deteni.

3. Kelengkapan administratif bagi calon deteni yang akan ditempatkan dalam Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi, meliputi :

a) Surat Keputusan Tindakan Administratif Keimigrasian. b) Berita Acara Serah Terima calon deteni yang dilampiri:

i. Berita acara pemeriksaan dan berita acara pendapat. ii. Dokumen perjalanan bagi calon deteni yang memiliki. iii. Barang-barang Milik Calon Deteni.

4. Dalam hal kelengkapan administrasi bagi calon deteni tidak terpenuhi, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk untuk menolak penerimaan deteni berdasarkan perintah Kepala Rudenim, yang kemudian ditindaklanjuti dengan membuat surat penolakan yang ditandatangani oleh Kepala Rudenim.

5. Dalam hal kelengkapan administrasi bagi calon deteni terpenuhi, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk menyerahkan calon deteni kepada Kepala Seksi Kesehatan, Kepala Seksi Perawatan dan Kesehatan, atau petugas yang ditunjuk untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan calon deteni setelah ada rekomendasi medis.

6. Untuk pemeriksaan calon Deteni perempuan, dapat dilakukan pula pemeriksaan kehamilan oleh petugas kesehatan yang ditunjuk. 7. Terhadap hasil pemeriksaan kesehatan calon Deteni, diketahui

hamil dan/atau mengidap penyakit menular dan berbahaya, petugas kesehatan atau petugas yang ditunjuk membuat surat

keterangan hasil pemeriksaan kesehatan yang ditujukan kepada Kepala Bidang Registrasi atau Kepala Rudenim.

8. Terhadap calon Deteni yang hamil, sakit, anak, dapat ditempatkan di tempat lain di luar Rudenim yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Rudenim.

9. Deteni yang telah dinyatakan lengkap persyaratan administrasinya dan hasil pemeriksaan kesehatannya dinyatakan baik, ditindaklanjuti oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk dengan menerbitkan Berita Acara Serah Terima sejumlah dua rangkap dan ditandatangani, dengan rincian:

a) Satu rangkap diserahkan kepada Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia u.p. Divisi Keimigrasian, atau Kantor Imigrasi sebagai pengirim.

b) Satu rangkap lainnya pertinggal pada Bidang Registrasi dan Perawatan atau Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.

2. Registrasi

a) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi mengajukan keputusan pendetensian kepada Kepala Rudenim.

b) Kepala Rudenim menandatangani keputusan pendetensian.

c) Berdasarkan keputusan pendetensian, petugas registrasi melakukan registrasi dengan tahapan meliputi:

(1) Mengidentifikasi dan memverifikasi identitas diri deteni;

(2) Melakukan penggeledahan terhadap badan deteni berikut barang bawaannya. Dalam hal penggeledahan terhadap deteni wanita dilakukan oleh petugas wanita;

(3) Apabila dalam penggeledahan ditemukan barang bawaan berupa alat komunikasi (telepon seluler, portable computer, tablet, uang, dokumen perjalanan dan barang lainnya yang dapat membahayakan diri sendiri dan/atau orang lain (seperti

gunting, pisau dan sejenisnya) harus diamankan petugas dan kepada Deteni diberikan surat tanda penerimaan berdasarkan pertimbangan Kepala Rudenim.

(4) Melakukan input data meliputi registrasi manual dan elektronik. Registrasi manual terdiri atas:

a) Pemberian nomor berkas.

b) Pencatatan data pada buku registrasi. c) Pengambilan foto dan sidik jari.

d) Pencatatan data pada kartu deteni sejumlah dua rangkap.

e) Penyimpanan dan pengamanan barang bawaan. 5) Pengambilan data biometrik foto dan sidik jari.

6) Pemindaian dokumen Laporan Kejadian (LK) yang terlampir pada Berita Acara Serah Terima.

7) Inventarisasi barang titipan termasuk dokumen perjalanan yang dimiliki Deteni, yang terlampir pada Berita Acara Serah Terima.

8) Pemeriksaan kesehatan Deteni sebelum penempatan dalam ruangan.

9) Penerbitan Surat Perintah Pendetensian untuk penempatan Deteni.

10) Penerbitan surat pemberitahuan kepada perwakilan negara asal Deteni dalam rangka pendeportasian/pemulangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Imigrasi dan Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

d) Setelah selesainya proses registrasi sebagaimana dimaksud pada huruf c), Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, Kepala Subseksi Registrasi atau petugas registrasi yang ditunjuk melaporkan kepada Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.

e) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan atau petugas yang ditunjuk lebih lanjut menyerahkan deteni kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban atau petugas yang ditunjuk untuk penempatan pada kamar/ruang di Rudenim.

3. Perawatan

a) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk mempersiapkan kebutuhan makan dan minum deteni, peralatan tidur, mandi dan cuci, serta perlengkapan ibadah.

b) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk dapat juga memberikan kebutuhan lain seperti olahraga, rekreasi, atau buku bacaan.

c) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk melaporkan kepada Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.

d) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan menyerahkan deteni kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban untuk penempatan pada kamar/ruang di Rudenim.

4. Penempatan

a) Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban menerima deteni dari Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan dengan kelengkapan daftar deteni, dan dicatatkan dalam buku ekspedisi.

b) Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban menugaskan Kepala Seksi Penempatan atau Kepala Subseksi ketertiban untuk :

1) Menyiapkan tempat/blok/ruangan 2) Menempatkan deteni sesuai klasifikasi :

a. Jenis kelamin. b. Status deteni. c. Agama. d. Keamanan.

e. Status ada atau tidak adanya cacat fisik atau cacat jiwa pada deteni

3) Membuat daftar nama pada tempat/blok/ruangan dimana deteni ditempatkan.

4) Kepala Seksi Penempatan atau Kepala Subseksi Ketertiban menyerahkan daftar deteni penghuni tempat/blok/ruangan kepada Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Ketertiban dalam rangka pengamanan.

5. Pengamanan

a) Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Keamanan menyiapkan jadwal penjagaan tempat/blok/ruangan dan lingkungan kantor dengan sistem bergilir.

b) Membentuk regu pengamanan/penjagaan yang wilayah penjagaannya berganti secara rutin.

c) Membentuk regu pengawalan yang bertugas melakukan pengawalan terhadap deteni yang keluar dari Rudenim untuk keperluan antara lain deportasi, dipindahkan ke Rudenim lain, berobat, keperluan ke perwakilan negaranya atau dibutuhkan dalam rangka kepentingan pemeriksaan di Direktorat Jenderal Imigrasi sesuai kebutuhan dan pertimbangan keamanan.

d) Dalam hal terjadi pelanggaran tata tertib dan/atau gangguan keamanan yang dilakukan oleh deteni, Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Keamanan dapat menempatkan deteni di ruang isolasi.

e) Membuat laporan mengenai perkembangan situasi keamanan lingkungan Rudenim dan pelaksanaan pengamanan kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban untuk diteruskan kepada Kepala Rudenim.

f) Berkaitan dengan perawatan kesehatan deteni, Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban bekerjasama dengan Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Seksi Perawatan dan kesehatan untuk pelayanan kesehatan secara berkala dan berkesinambungan.

B. Pelayanan Deteni

a. Persediaan Air Bersih

Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau Seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas untuk mengupayakan tersedianya air bersih yang cukup.

b. Penyediaan kebutuhan

Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau Seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas menyediakan:

1) Makanan dan minuman yang layak sebanyak 3 (tiga) kali sehari. 2) Makanan tambahan untuk kesehatan atau daya tahan tubuh Deteni

(extra fooding).

3) Pengaturan pemberian makanan, seperti cara pembagian, jadwal makan deteni yang menjalankan ibadah keagamaan, seperti puasa, disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka.

4) Pemberian jenis makanan dan minuman tertentu bagi deteni berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan.

5) Pemberian makanan dan minuman bagi deteni yang datang untuk ditempatkan di Rudenim diluar jam makan, berdasarkan rekomendasi Kepala Rudenim.

c. Kesehatan dan Kebersihan

Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas mengupayakan kesehatan dan kebersihan dengan melakukan:

1) Pemeriksaan kesehatan deteni secara rutin.

2) Dalam hal kondisi kesehatan deteni tidak dapat ditangani oleh petugas kesehatan rudenim, pemeriksaan kesehatan deteni dapat dilakukan di klinik, puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan

Dalam dokumen PENDETENSIAN DAN DEPORTASI (Halaman 12-34)

Dokumen terkait