• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjelasan Bahan Alkitab • Efesus 6:

Dalam dokumen Buku Guru Agama Kristen Kelas VIII (Halaman 132-135)

Bahan Alkitab: Efesus 6:18; Roma 12:

F. Penjelasan Bahan Alkitab • Efesus 6:

Peperangan orang Kristen melawan kekuatan Iblis menuntut kesungguhan dalam doa, yaitu berdoa “di dalam Roh”, “setiap waktu”, “dengan permohonan yang tak putus-putus”, “untuk segala orang kudus”. Kehidupan orang Kristen dilukiskan sebagai suatu peperangan, suatu pertentangan fatal di mana mereka terlibat melawan kuasa Iblis dan kejahatannya.

Seluruh perlengkapan senjata Allah yang disebutkan dalam Efesus 6:14-17 harus senantiasa dipakai dalam hubungan dengan melawan kuasa jahat. Tetapi semua perlengkapan itu tidak ada artinya tanpa doa dan permohonan yang tak putus-putusnya pada Allah dalam Roh. Mengapa dikatakan berdoa bagi orang-orang kudus? Karena mereka adalah orang- orang yang melakukan tugas berat dalam pemberitaan Injil Kerajaan Allah. Jadi, doa orang percaya bukan hanya ditujukan bagi diri sendiri, bagi keluarganya namun bagi seluruh umat dan semua orang kudus termasuk Paulus.

• Roma 12:12

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

Ada hubungan saling menguatkan antara “sukacita dalam pengharapan”, “kesabaran dalam kesesakan”, dan “ketekunan dalam doa”. Orang beriman yang hidup dalam pengharapan kepada Allah sudah pasti mengalami suka cita. Dalam pengharapan itulah orang beriman memiliki ketahanan diri untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan dan setia berdoa kepada Allah.

Dalam melaksanakan kehendak Allah orang percaya harus bersikap pasrah menerima segala yang diperintahkan. Kita akan berdoa: jadilah kehendak Mu-Bapa. Artinya, kita menyerahkan hidup kita dalam kedaulatan Allah. Paulus mau supaya kita menerapkan suatu perubahan yang sangat mendasar yang telah terjadi pada kita. Dulu kita berada dalam dosa, dikuasai oleh maut, tetapi sekarang kita sudah dipindahkan ke dalam hidup baru, maka, janganlah kita tetap hidup sebagai hamba Maut. Kita perlu mengingat bahwa ketaatan yang diharapkan dari kita tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi harus dijalankan dengan pertolongan dari Roh Allah, meskipun disertai pergumulan.

Roma 12:12 tidak berdiri sendiri melainkan ada dalam satu rangkaian, yaitu Roma 12:9-21. Ada sejumlah daftar dari nasihat untuk hidup dalam kasih.

• Ayat 9 tertulis kasih harus sungguh-sungguh (tidak berpura-pura). Orang-orang percaya diperintahkan untuk senantiasa membenci kejahatan dan terus-menerus mengejar kebaikan.

• Selanjutnya Ayat 10 tertulis, harus saling setia dalam kasih persaudaraan dan saling berebut dalam menunjukkan rasa hormat satu terhadap yang lain.

• Ayat 11, kita tidak boleh malas, kita harus menyala-nyala dengan Roh dan senantiasa melayani Tuhan. Menyala-nyala dengan Roh artinya hidup kita disinari oleh Roh yang menggerakkan kita untuk melakukan kehendak Allah.

• Ayat 12 menyatakan bahwa orang-orang percaya diperintahkan untuk senantiasa bersukacita dalam pengharapan, yaitu dalam segala sesuatu yang telah dijanjikan Allah di dalam Kristus. Mereka harus menanggung penderitaan dan senantiasa berdoa.

• Ayat 13 tertulis, menyediakan kebutuhan orang-orang Kudus (sesama orang percaya) dan berusaha untuk selalu memberikan tumpangan.

• Ayat 14 tertulis, orang-orang percaya harus memberkati orang-orang yang menganiaya mereka dan berhenti mengutuk orang lain.

• Ayat 15 tetrytulis orang percaya harus bersukacita dengan orang- orang yang bersukacita dan berdukacita dengan orang-orang yang berdukacita. Merasa benar-benar bersukacita atas keberhasilan orang lain merupakan sebuah tanda kedewasaan rohani yang sejati. Orang percaya diminta untuk menunjukkan solidaritasnya pada sesama.

• Ayat 16 tertulis, orang-orang percaya harus hidup harmonis satu dengan yang lain. Bersikap rendah hati dan tidak sombong, merasa diri paling benar.

• Ayat 17 tertulis, tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya mereka harus mengusahakan hal-hal yang baik secara moral di hadapan semua orang.

• Ayat 18 tertulis, sejauh dimungkinkan, orang-orang Kristen harus berusaha hidup rukun dengan semua orang. Orang Kristen harus membawa damai dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

• Ayat 19 tertulis, tidak boleh membalas dendam, tidak boleh menghakimi karena hanya Allahlah hakim yang adil. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa balas dendam dan ganti rugi adalah hak Allah.

• Ayat 20 tertulis, orang-orang percaya harus memperlakukan musuh- musuh yang kekurangan sebagaimana mereka memperlakukan orang lain yang kekurangan. Dengan memberi makan dan minum kepada musuh-musuh itu, orang-orang percaya menumpukkan bara api di atas kepala mereka. Gambaran ini tampaknya berarti bahwa

musuh akan

malu sekali atau merasa menyesal apabila diperlakukan dengan baik.

• Ayat 21 menampakkan ciri karakter terakhir yang disebutkan dalam Roma 12 menunjukkan kesadaran Paulus akan adanya suatu pergumulan di dalam kehidupan orang Kristen - “ Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan ”. Cinta kasih lebih utama dari apapun bahkan cinta kasih dan kebaikan mampu menjadi benteng dalam menghadapi kejahatan.

G. Kegiatan Pembelajaran

Pengantar

Pada bagian pengantar guru menjelaskan mengenai judul pelajaran kemudian menekankan bahwa yang menjadi ukuran dalam beribadah, berdoa dan membaca Alkitab bukanlah seberapa sering melakukannya

melainkan apa motivasi kita dalam melakukannya. Penegasan ini penting sehingga peserta didik memahami bahwa beribadah, berdoa dan membaca Alkitab merupakan praktik hidup yang mencerminkan iman kepada Allah yang diimani. Namun, kuantitas dalam beribadah, berdoa dan membaca Alkitab bukanlah menjadi ukuran ibadah, dan doa yang berkenan kepada- Nya. Semuanya harus dilakukan dalam rangka mewujudkan iman dan pengharapan pada-Nya.

Kegiatan 1

Penjelasan materi mengenai makna beribadah, berdoa dan membaca Alkitab, semuanya dilakukan dalam rangka mewujudkan iman dan percaya kepada Allah. Beribadah artinya menyembah Allah di dalam kemuliaan-Nya, berdoa artinya berkomunikasi dengan Allah dan membina hubungan yang akrab dan intens dengan-Nya.

Kegiatan 2

Dalam rangka memperkuat konsep berpikir peserta didik mengenai doa, mereka diminta mempelajari Doa Bapa Kami dan mencatat hal-hal penting yang tercakup dalam doa tersebut. Kegiatan ini merupakan pencerahan bagi peserta didik untuk memahami secara lebih dalam mengenai bagaimana

berdoa dalam ketulusan dan kejujuran tanpa kemunafikan. Doa Bapa Kami

adalah doa yang diajarkan oleh Yesus kepada kita, doa yang singkat, tidak bertele-tele namun mencakup hampir semua kebutuhan manusia. Guru menilai apakah peserta didik memahami dengan baik isi doa Bapa Kami. Jika hasil presentasi memperlihatkan pemahaman yang kurang, maka guru dapat mengulang penjelasan isi Doa Bapa Kami.

Kegiatan 3

Dalam dokumen Buku Guru Agama Kristen Kelas VIII (Halaman 132-135)