• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN TEORITIS

C. Penjelasan Bank Sampah

1. Pengertian Bank Sampah

Pengelolaan lingkungan dalam hal ini sampah dengan paradigma awal, yaitu pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan (P3) masih menghadapi kendala dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah. Salah satu upaya untuk mengatasai masalah tersebut dengan pengembangan bank sampah yang merupakan kegiatan mengajarkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memilah dalam pengelolaan sampah secara bijak dan pada gilirannya akan mengurangi sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bank Sampah dapat berperan sebagai drooping point bagi produsen untuk produk dan kemasan produk yang masa pakainya telah usai.46

Bank sampah memiliki konsep dimana masyarakat sebagai nasabah dapat membawa sampah tertentu dan kering yang bisa diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat dan diberikan imbalan berupa uang yang ditabungkan. Sistem pengambilan uang tersebut minimum diambil tiga (3) bulan setelah masa penyimpanan. Waktu pengambilan hasil tabungan juga memperhatikan dengan jenis tabungan yang dibuat oleh nasabah. Misalnya, jenis tabungan hari raya, maka uang tabungan hanya boleh diambil menjelang hari raya. Singkatnya bank sampah merupakan salah satu kegiatan alternatif

46

Kementerian Lingkungan Hidup, Rakernas Bank Sampah: Dari Sampah Membangun Ekonomi Kerakyatan, 2012, www.menlh.go.id, h. v-vi, diakses tanggal 1 April 2014

41

mengajak masyarakat peduli akan sampah dengan cara melakukan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga seperti pemilahan, pengurangan volume sampah (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle).47

Pelaksanaan bank sampah pada prinsipnya adalah salah satu rekyasa sosial (social engineering) untuk mengajak masyarakat memilah sampah dan dapat memberikan tujuan nyata bagi masyarakat berupa kesempatan kerja dalam melaksanakan manajemen operasi bank sampah dan investasi dalam bentuk tabungan.48 Pelopor perkembangan bank sampah di Indonesia adalah bank sampah Gemah Ripah yang didirikan oleh masyarakat Dusun Bandengan Bantul D.I. Yogyakarta.49 Statistik perkembangan bank sampah di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Statistik Perkembangan bank sampah di Indonesia Tahun 2012 No Bulan Jumlah Bank

Sampah Nasabah Jumlah Sampah/ Bln Perputaran Uang/ Bln 1. Februari 471 47.125 755.600 Kg 1.648.320.000 2. Mei 886 84.623 2.001.788 Kg 3.182.281.000 Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, www.menlh.go.id, 1 April 2014 2. Jenis-Jenis Sampah

Menurut Karden Eddy Sontang Manik jenis sampah berdasarkan zat pembentuknya dapat dibedakan sebagai sampah organik dan anoraganik.50

47

Tim Pemberdayaan Bank Sampah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta,

Laporan Kegiatan pemberdayaan perempuan melaluibank sampah, Kerjasama dengan KPP&PA, hal 34-38, 2013

48

Devita Permanasari dan Erni Damanhuri, Penelitian: Studi Efektivitas Bank Sampah Sebagai Salah Satu Pendekatan Dalam Pengelolaan Sampah yang Berbasis Masyarakat,h. SW2,

www.ftsl.itb.ac.id, diakses tanggal 15 Mei 2014

49

Artikel: Bank Sampah Pertama di Dunia dari Indonesia,

www.indonesiaberprestasi.web,id, diakses tanggal 31 Maret 2014

50

Karden Eddy Sontang Manik, Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2009), Cet. Ke-3, h. 67-67

42

Sampah organik yang biasa disebut sampah basah merupakan sampah yang bisa membusuk karena aktivitas mikrooganisme, yang menghasilkan gas metan, gas H2S yang bersifat beracun.51 Contoh sampah organik ini seperti sampah berupa sayuran, buah-buahan dan sisa dari pemotongan hewan di pasar tradisional dan aktivitas memasak dan makan. Sedangkan anorganik merupakan sampah yang memiliki ciri tidak membusuk dan dapat didaur ulang. Sampah jenis ini dibagi menjadi dua, pertama sampah yang mudah terbakar, seperti sampah kertas, kardus, platik, textil, karet, kulit, kayu, dan furniture, kedua sampah yang tidak mudah terbakar seperti gelas, tembikar, keramik dan kaleng.52

Jenis sampah juga sering dikelompokkan menjadi limbah benda padat (waste), limbah cair atau air bekas (sewage), dan kotoran manusia (human waste). Namun secara umum, pengelompokkan sampah hanya untuk benda-benda padat dengan pembagian sebagai berikut:

a. Sampah yang mudah membusuk (garbage), misalnya sisa makanan. b. Sampah yang tidak mudah membusuk (rubish), terdiri dari:

1) Sampah yang mudah terbakar, misalnya kertas, kayu dan 2) Sampah yang tidak mudah terbakar, misalnya kaca, kaleng.

c. Sampah bangkai binatang (dead animal), terutama binatang besar seperti kucing, anjing dan tikus.

d. Sampah berupa abu hasil pembakaran (ashes), misalnya abu pembakaran kayu, batu bara, arang.

51

Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2007), Cet. Ke-7, h. 153

52

Cahyadi Pitoyo, Jurnal: Studi Komposisi Sampah Perkotaan Pada Tingkat Rumah Tangga di kota Depok, h. 7, www.gunadarma.ac.id, diakses tanggal 10 Mei 2014

43

e. Sampah padat hasil industri (industrial waste), misalnya potongan besi, kaleng, kaca.

f. Sampah padat yang berserakan di jalan-jalan (street sweeping), yaitu sampah yang dibuang oleh penumpang atau pengemudi kendaraan bermotor.53

3. Sumber-sumber sampah

Sumber-sumber sampah dapat dikelompokkan kedalam Delapan bagian antara lain sebagai berikut:

a. Sampah dari rumah tangga, yaitu sampah yang biasanya berupa sisa pengolahan makanan, perlengkapan bekas rumah tangga seperti kertas, kardus, gelas, kain, sampah kebun/halaman dan lain-lain.

b. Sampah dari pertanian, yaitu sampah dari kegiatan pertanian seperti jerami, pertisida/pupuk dan sejenisnya.

c. Sampah dari perdagangan dan perkantoran, yaitu sampah yang berasal dari daerah perdagangan seperti toko, pasar tradisional, warung, lembaga pendidikan, kantor pemerintahan dan sebagainya.

d. Sampah dari industri, yaitu sampah yang berasal dari seluruh rangkaian proses produksi (bahan-bahan serpihan/potongan kimia), perlakuan dan pengemasan produk kertas, kayu, plastik dan lain-lain.

e. Sampah dari sisa bangunan dan konstruksi gedung, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung, seperti kayu, bambu, triplek, semen, pasir, batu-bata, besi dan sebagainya.

53

Karden Eddy Sontang Manik, Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2009), Cet. Ke-3, h. 67-68

44

f. Sampah yang berasal dari jalan raya, yaitu sampah dari pembersihan jalan yang umumnya terdiri dari kertas, plastik, debu, pasir, daun-daun dan sebagainya.

g. Sampah yang berasal dari pertambangan, yaitu sampah yang berasal dari pertambangan misalnya batu-batuan, tanah cadas, pasir, arang dan sejenisnya.

h. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan, yaitu sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan berupa kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan, bangkai ternak dan sebagainya.54

4. Faktor-Faktor yang memengaruhi sampah

Juli Soemirat menjelaskan faktor-faktor yang dapat memengaruhi sampah, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

a. Jumlah penduduk, maksudnya semakin besar jumlah penduduk maka semakin banyak pula jumlah sampah hasil dari berbagai kegiatan manusia. b. Keadaan sosial ekonomi, maksudnya semakin tinggi keadaan sosial

ekonomi seseorang atau masyarakat, maka semakin banyak jumlah perkapita sampah yang dibuang. Kualitas sampah disini semakin banyak yang bersifat tidak dapat membusuk atau anorganik.

c. Kemajuan teknologi, maksudnya dengan terjadinya kemajuan teknologi akan dapat menambah jumlah maupun kualitas sampah. Oleh karena

54

Chairil Nizar, Sumber-sumber Sampah, www.ilmusipil.com , diakses tanggal 10 Mei 2014

45

pemakaian bahan baku dan cara pengepakan yang semakin beragam, dan produk manufaktur yang semakin beragam pula.55

Dokumen terkait