TAHAP I : STUDI PENDAHULUAN
F. Penjelasan Istilah Penelitian 1. Definisi Konsep Variabel
a. Variabel Independen (Bebas)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya adalah pengembangan instrumen asesmen. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) menyebutkan bahwa pengembangan yaitu proses, cara, perbuatan mengembangkan, atau suatu upaya untuk meningkatkan mutu, dan instrumen/in·stru·men/ /instrumén/ n 1 alat yg dipakai untuk me-ngerjakan sesuatu (spt alat yg dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan kimia); perkakas; 2 sarana penelitian (berupa seperangkat tes dsb) untuk mengumpul-kan data sbg bahan pengolahan; 3 alat-alat musik (spt piano, biola, gitar, suling, trompet); 4 ki orang yg dipakai sbg alat (diperalat) orang lain (pihak lain); 5 dokumen resmi spt akta, surat obligasi. Sedangkan asesmen berasal dari bahasa Inggris to assess (kk.menaksir); Assessment (kb:taksiran).
Moh. Amin (1995) mengemukakan tentang perlunya asesmen dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Menurut Lerner (1988) dalam Abdurrahman (2003: 46) mengemukakan asesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang seorang anak yang akan digunakan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan anak tersebut. Asesmen adalah proses sistematis dalam mengumpulkan data seorang anak. Dalam konteks pendidikan asesmen berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan (Rochyadi, 2005).
Berdasarkan batasan yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan instrumen asesmen merupakan
49
Annisa Nugraha Wahidah, 2015
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
butir-butir instrumen yang dikembangkan sesuai dengan aspek-aspek perkembangan tertentu yang mengacu pada sebuah teori perkembangan beserta dengan tugas perkembangannya. Setiap aspek perkembangan pada individu, terutama anak tunarungu terdapat teori-teori khusus yang membahas perkembangan tersebut. Maka instrumen asesmen ini disesuaikan dengan teori-teori para ahli dalam setiap aspek perkembangan tersebut.
b. Variabel Dependen (Terikat)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif anak tunarungu usia sekolah. Menurut Tilton (dalam Yuwono, 2009, hlm. 61) mengemukakan “bahasa reseptif adalah kemampuan pikiran manusia untuk mendengarkan bahasa bicara dari orang lain dan menguraikan hal tersebut dalam gambaran mental yang bermakna atau pola pikiran, dimana dipahami dan digunakan oleh penerima”. Dapat disimpulkan bahwa bahasa reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap tingkah laku seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata yang diucapkan seseorang. Fungsi reseptif dapat terlihat dengan adanya reaksi terhadap suara. Dalam gangguan bahasa reseptif, anak tidak memahami apa yang dibicarakan atau makna kata yang disampaikan.
Yuwono (2009, hlm. 66), mengungkapkan “bahasa ekspresif diartikan sebagai kemampuan anak dalam menggunakan bahasa baik secara verbal, tulisan, symbol, isyarat ataupun gesture”. Dapat disimpulkan bahwa bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik. Fungsi bahasa ekspresif adalah kemampuan anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum
anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, isyarat, dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal. Dalam gangguan berbahasa ekspresif, anak mengalami kesulitan mengekspresikan dirinya dan mengungkapkan keinginannya, sehingga sering terjadi kesalahan dalam berkomunikasi. 2. Definisi Operasional Variabel
a. Variabel bebas
Variabel independen atau bebas ini sering disebut variabel stimulus atau input yang dapat mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2011).
Pengembangan instrumen dilakukan berdasarkan teori perkembangan pada salah satu aspek perkembangan sehingga instrumen asesmen yang dibuat akan lebih fokus atau khusus untuk memperoleh informasi mengenai salah satu aspek perkembangan tersebut. Setelah instrumen asesmen dirumuskan sesuai dengan teori perkembangan yang menjadi acuan, maka instrumen asesmen yang telah divalidasi tersebut akan diserahkan kepada guru, untuk dilakukan uji coba disetiap sekolahnya. Instrumen asesmen dapat dikatakan fungsional jika menurut guru butir-butir instrumen yang terdapat dalam asesmen tersebut dapat menggali kemampuan, kebutuhan dan perkembangan anak tersebut.
Intrumen asesmen yang peneliti susun ditujukan pada anak tunarungu usia sekolah yang usianya berkisar 7-9 tahun. Instrumen asesmen ini disusun sebagai alat untuk mengetahui perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu. Butir instrumen yang menjadi tugas perkembangangan di setiap tahapan perkembangan diadopsi atau dikembangkan dari teori Myklebust
51
Annisa Nugraha Wahidah, 2015
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
mengenai perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif serta dikembangkan dari teori Lewis mengenai teori perkembangan bahasa pada anak tunarungu. Adapun pelaksanaan penelitian mengenai pengembangan instrumen asesmen bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah sebagai berikut:
1. Melihat proses pembelajaraan yang sedang berlangsung di sekolah untuk memperoleh kondisi objektif mengenai bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu saat di kelas
2. Melakukan wawancara guru dan orang tua untuk mengetahui perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah pada saat diluar pembelajaran
3. Melakukan studi literatur mengenai teori-teori perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif, yaitu teori Myklebust dan teori Lewis
4. Melakukan analisis kondisi objektif anak tunarungu usia sekolah di lapangan dengan teori perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif menurut para ahli
5. Membuat kisi-kisi instrumen asesmen bahasa reseptif dan bahasa ekspresif berdasarkan analisis hasil temuan
6. Merumuskan instrumen asesmen bahasa reseptif dan bahasa ekspresif
b. Variabel Terikat
Variabel independen atau terikat ini disebut juga sebagai output, hasil, atau konsekuen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011).
Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah. Bahasa reseptif dan bahasa ekspresif dalam penelitian ini lebih menekankan pada
tahap-tahap yang anak tunarungu lewati dalam perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresifnya seperti yang dikemukakan pada teri Myklebust. Berdasarkan tahap-tahap perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif selanjutnya ditunrunkan ke aspek-aspek perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif ,seperti fungsi simbol, penguasaan kosakat. Kemampuan menyelesaikan tugas, ketepatan bentuk, ketepatan tulisan, kesadaran bunyi, ketepatan pengucapan bunyi, komunikasi, kemampuan anak bertanya, keamampuan anak bercerita, artikulasi, membaca ujaran, berisyarat atau memberi tanda. Teori perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif yang dijadikan sebagai dasar untuk selanjutnya dikembangkan ialah teori perkembangan Myklebust dan Lewis. Aspek perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah kemudian dibuat menjadi beberapa indikator yang akan diukur dalam instrumen asesmen dan menjadi butir-butir instrumen asesmen.
Dirumuskannya instrumen asesmen bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah yang sezsuai dengan kondisi objektif maka dapat diketahuinya perkembangan bahasa reseptif dan bahasa ekspresif pada anak tunarungu usia sekolah serta dapat terungkapnya kemampuan, kebutuhan serta hambatan bahasa reseptif dan ekspresif pada nak tunarungu usia sekolah.
Penilaian dalam pelaksanaan ujicoba asesmen yang dilakukan oleh guru berdasarkan yang tercantum dalam instrumen asesmen yang telah disediakan. Anak tunarungu diberikan nilai 3 ketika mampu melakukan instruksi secara mandi, diberikan nilai 2 ketika mampu melakukan instruksi dengan bantuan, dan diberikan nilai 1 ketika anak tidak mampu melakukan sesuai dengan yang diinstruksikan walaupun sudah diberikan bantuan oleh asesor.
53
Annisa Nugraha Wahidah, 2015
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BAHASA RESEPTIF DAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK TUNARUNGU USIA SEKOLAH
BAB V