BAB XVII UPAYA HUKUM BIASA
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL. Pasal 1
Cukup j elas. Pasal 2
a. Ruang lingkup undang-undang ini mengikut i asas-asas yang dianut oleh hukum pidana Indonesia.
b. Yang dimaksud dengan "peradilan umum" t er masuk pengkhususannya sebagaimana t er cant um dalam penj elasan Pasal 10 ayat (1) alinea t er akhir Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970. Pasal 3 Cukup j elas. Pasal 4 Cukup j elas Pasal 5 Ayat (1). Hur uf a Angka 1 s/ d 3 Cukup j elas Angka 4
Yang dimaksud dengan "t indakan lain" adalah t indakan dar i penyelidik unt uk kepent ingan penyelidikan dengan syarat :
a) t idak ber t ent angan dengan suat u at uran hukum;
b) selaras dengan kewaj iban hukum yang mengharuskan dilakukannya t indakan j abat an; c) t indakan it u harus pat ut dan masuk akal dan
d) at as per t imbangan yang layak ber dasarkan keadaan memaksa;
e) menghormat i hak asasi manusia. Hur uf b Cukup j elas. Ayat (2) Cukup j elas. Pasal 6 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2)
Kedudukan dan kepangkat an penyidik yang diat ur dalam perat ur an pemer int ah diselaraskan dan diseimbangkan dengan kedudukan dan kepangkat an penunt ut umum dan hakim peradilan umum.
Pasal 7
Ayat (1)
Hur uf a s/ d h Cukup j elas. Hur uf i
Lihat Pasal 109 ayat (2). Hur uf j
Lihat penj elasan Pasal 5 ayat (1) huruf a angka 4.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "penyidik dalam ayat ini" adalah misalnya pej abat bea dan cukai, pej abat imigrasi dan pej abat kehut anan, yang melakukan t ugas penyidikan sesuai dengan wewenang khusus yang diber ikan oleh undang-undang yang menj adi dasar hukumnya masing-masing.
Ayat (3)
Cukup j elas. Pasal 8
Cukup j elas. Pasal 9
Dalam keadaan yang mendesak dan per lu, unt uk t ugas t ert ent u demi kepent ingan penyelidikan, at as per int ah t ert ulis Ment er i Kehakiman pej abat imigr asi dapat melakukan t ugasnya sesuai dengan ket ent uan undang-undang yang ber laku.
Pasal 10
Ayat (1)
Republik Indonesia" t er masuk pegawai neger i sipil t ert ent u dalam lingkungan kepolisian negara Republik Indonesia.
Ayat (2)
Cukup j elas. Pasal 11
Pelimpahan wewenang penahanan kepada penyidik pembant u hanya diber ikan apabila per int ah dar i penyidik t idak dimungkinkan karena hal dan dalam keadaan yang sangat diper lukan at au di mana t er dapat hambat an perhubungan di daerah t er pencil at au di t empat yang belum ada pet ugas penyidik dan at au dalam hal lain yang dapat dit er ima menurut kewaj aran.
Pasal 12 Cukup j elas. Pasal 13 Cukup j elas. Pasal 14 Hur uf a s/ d h. Cukup j elas. Hur uf i
Yang dimaksud dengan "t indakan lain" ialah ant ara lain menelit i indent it a; t ersangka, barang bukt i dengan memper hat ikan secara t egas bat as wewenang dan f ungsi ant ara penyidik, penunt ut umum dan pengadilan.
Hur uf j Cukup j elas. Pasal 15 Cukup j elas Pasal 16 Ayat (1)
Yang dengan "at as per int ah penyidik" t ermasuk j uga penyidik pembant u sebagaimana dimaksud dalam penj elasan Pasal 11. Per int ah yang dimaksud ber upa suat u surat per int ah yang dibuat secar a t er sendir i, dikeluar kan sebelum penangkapan dilakukan.
Ayat (2)
Cukup j elas. Pasal 17
Yang dimaksud dengan "bukt i permulaan yang cukup" ialah bukt i permulaan unt uk menduga adanya t indak pidana sesuai dengan bunyi Pasal 1 but ir 14. Pasal ini menent ukan bahwa per int ah penangkapan t idak dapat dilakukan dengan sewenang-wenang, t et api dit uj ukan kepada mer eka yang
bet u-bet ul melakukan t indak pidana. Pasal 18
Ayat (1)
Surat per int ah penangkapan dikeluarkan oleh pej abat kepolisian negara Republik Indonesia yang ber wenang dalam melakukan penyidikan didaerah hukumnya. Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3) Cukup j elas. Pasal 19 Cukup j elas. Pasal 20 Cukup j elas Pasal 21 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3) Cukup j elas. Ayat (4) Hur uf a Cukup j elas. Hur uf b
Tersangka at au t er dakwa pecandu narkot ika sej auh mungkin dit ahan dit empat t er t ent u yang sekaligus mer upakan t empat perawat an. Pasal 22
Ayat (1)
Selama belum ada rumah t ahanan negara di t empat yang ber sangkut an, penahanan dapat dilakukan di kant or kepolisian negara, dikant or kej aksaan neger i, di lembaga pemasyarakat an, di rumah sakit dan dalam keadaan yang memaksa dit empat lain.
Ayat (2) dan ayat (3)
Tersangka at au t er dakwa hanya boleh keluar r umah at au kot a dengan izin dar i penyidik, penunt ut umum at au hakim yang member i per int ah penahanan. Ayat (4) Cukup j elas. Ayat (5) Cukup j elas. Pasal 23 Cukup j elas.
Pasal 24
Ayat (1)
Cukup j elas. Ayat (2)
Set iap per panj angan penahanan hanya dapat diber ikan oleh pej abat yang ber wenang unt uk it u at as dasar alasan dan resume hasil pemer iksaan yang diaj ukan kepadanya.
Ayat (3) Cukup j elas. Ayat (4) Cukup j elas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2)
Set iap per panj angan penahanan hanya dapat diber ikan oleh pej abat yang ber wenang unt uk it u at as dasar alasan dan resume hasil pemer iksaan yang diaj ukan kepadanya.
Ayat (3) Cukup j elas. Ayat (4) Cukup j elas Pasal 26 Cukup j elas. Pasal 27 Cukup j elas. Pasal 28 Cukup j elas. Pasal 29 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kepent ingan pemer iksaan" ialah pemer iksaan yang belum dapat diselesaikan dalam wakt u penahanan yang dit ent ukan. Yang dimaksud dengan "gangguan f isik at au ment al yang berat " ialah keadaan t ersangka at au t er dakwa yang t idak memungkinkan unt uk diper iksa karena alasan f isik at au ment al.
Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Ayat (4) Cukup j elas Ayat (5) Cukup j elas. Ayat (6) Cukup j elas. Ayat (7)
a. Walaupun berkas perkara belum dilimpahkan ke pengadilan neger i keber at an t erhadap sah at au t idaknya penahanan pada t ingkat penyidikan at au penunt ut an yang diper panj ang ber dasarkan Pasal 29, diaj ukan kepada ket ua pengadilan t inggi unt uk
b. Terhadap per panj angan penahan dalam t ingkat pemer iksaan kasasi sebagaimana t ersebut pada ayat (2) dan ayat (3), t idak dapat diaj ukan keberat an karena Mahkamah Agung merupakan peradilan t ingkat t erakhir dan yang melakukan pengawasan t ert inggi t erhadap per buat an pengadilan
Pasal 30
Cukup j elas. Pasal 31
Yang dimaksud dengan "syarat yang dit ent ukan" ialah waj ib lapor , t idak keluar rumah at au kot a. Masa penangguhan penahanan dar i seor ang t er sangka at au t er dakwa t idak t ermasuk masa st at us t ahanan.
Pasal 32
Cukup j elas. Pasal 33
Ayat (1)
Penyidik unt uk melakukan penggeledahan r umah harus ada surat izin ket ua pengadilan neger i guna menj amin hak asasi seor ang at as r umah kediamannya.
Ayat (2)
Jika yang kelakukan penggeledahan rumah it u bukan penyidik sendir i, maka pet ugas kepolisian lainnya harus dapat menunj ukan selain surat izin ket ua pengadilan neger i j uga surat per int ah t ert ulis dar i penyidik.
Ayat (3)
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "dua or ang saksi" adalah warga dar i lingkungan yang bersangkut an. Yang dimaksud dengan "ket ua lingkungan" adalah ket ua at au wakil ket ua r ukun kampung, ket ua at au wakil ket ua rukun t et angga, ket ua at au wakil ket ua rukun warga, ket ua at au wakil ket ua lembaga yang sederaj at .
Ayat (5)
Cukup j elas. Pasal 34
Ayat (1)
"keadaan yang sangat per lu dan mendesak" ialah bilamana dit empat pat ut dikhawat irkan segera melar ikan dir i at au mengulangi t indak pidana at au benda yang dapat disit a dikhawat ir kan segera dimusnahkan at au dipindahkan sedangkan surat izin dar i ket ua pengadilan neger i t idak mungkin diperoleh dengan cara yang layak dan dalam wakt u yang singkat . Ayat (2) Cukup j elas Pasal 35 Cukup j elas. Pasal 36 Cukup j elas. Pasal 37
Penggeledahan badan meliput i pemer iksaan r ongga badan, yang wanit a dilakukan oleh pej abat wanit a. Dalam hal penyidik ber pendapat per lu dilakukan pemer iksaan r ongga badan, penyidik mint a bant uan kepada pej abat kesehat an. Pasal 38 Cukup j elas. Pasal 39 Cukup j elas. Pasal 40 Cukup j elas. Pasal 41
Yang dimaksud dengan "sur at " t er masuk surat kawat , sur at t eleks dan lain sej enisnya yang mengandung suat u ber it a. Pasal 42
Pasal 43
Cukup j elas. Pasal 44
Ayat (1)
Selama belum ada rumah penyimpanan benda sit aan negar a di t empat yang bersangkut an, penyimpanan benda sit aan t ersebut dapat dilakukan di kant or kepolisian negar a Republik Indonesia, di kant or kej aksaan neger i, di kant or pengadilan neger i, di gedung bank pemer int ah, dan dalam keadaan memaksa di t empat penyimpanan lain at au t et ap dit empat semula benda it u disit a.
Ayat (2)
Cukup j elas. Pasal 45
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan benda yang dapat diamankan ant ara lain ialah benda yang mudah t erbakar, mudah meledak, yang unt uk it u harus dij aga ser t a diber i t anda khusus at au benda yang dapat membahayakan kesehat an orang dan lingkungan. Pelaksanaan lelang dilakukan oleh kant or lelang negar a set elah diadakan konsult asi dengan pihak penyidik at au penunt ut umum set empat at au hakim yang bersangkut an sesuai dengan t ingkat pemer iksaan dalam pr oses peradilan dan lembaga yang ahli dalam menent ukan sif at benda yang mudah rusak.
Ayat (2) dan ayat (3)
Benda unt uk pembukt ian yang menurut sif at nya lekas rusak dapat di j ual lelang dan uang hasil pelelangan dipakai sebagai gant i unt uk diaj ukan di sidang pengadilan sedangkan sebagian kecil dar i benda it u disisihkan unt uk dij adikan barang bukt i. Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "benda yang dirampas unt uk negar a" ialah benda yang harus diser ahkan kepada depart emen yang bersangkut an, sesuai dengan ket ent uan per at ur an perundang-undangan yang ber laku.
Pasal 46
Ayat (1)
Benda yang dikenakan penyit aan diper lukan bagi pemer iksaan sebagai barang bukt i. Selama pemer iksaan ber langsung, dapat diket ahui benda it u masih diper lukan at au t idak. Dalam hal penyidik at au penunt ut umum ber pendapat , benda yang disit a it u t idak diper lukan lagi unt uk pembukt ian, maka benda t ersebut dapat dikembalikan kepada yang
berkepent ingan at au pemiliknya. Dalam pengembalian benda sit aan hendaknya sej auh mungkin diper hat ikan segi kemanusiaan, dengan mengut amakan pengembalian benda yang menj adi sumber kehidupan.
Ayat (2)
Cukup j elas. Pasal 47
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "sur at lain" adalah sur at yang t idak langsung mempunyai hubungan dengan t indak pidana yang diper iksa akan t et api dicur igai dengan alasan yang kuat .
Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3) Cukup j elas. Pasal 48 Cukup j elas. Pasal 49 Cukup j elas. Pasal 50
Diber ikannya hak kepada t ersangka at au t er dakwa dalam pasal ini adalah unt uk menj auhkan kemungkinan t erkat ung-kat ungnya nasib seorang yang disangka melakukan t indak pidana t er ut ama mereka yang dikenakan penahanan, j angan sampai lama t idak mendapat pemer iksaan. sehingga dir asakan t idak adanya kepast ian hukum, adanya per lakuan sewenang-wenang dan t idak waj ar . Selain it u j uga unt uk mewuj udkan peradilan yang dilakukan dengan seder hana, cepat dan biaya r ingan.
Pasal 51 Hur uf a
Dengan diket ahui ser t a dimenger t i oleh orang yang disangka melakukan t indak pidana t ent ang perbuat an apa yang sebenarnya disangka t elah dilakukan olehnya, maka ia akan mer asa t er j amin kepent ingannya unt uk mengadakan persiapan dalam usaha pembelaan. Dengan demikian ia akan menget ahui ber at r ingannya sangkaan t erhadap dir inya sehingga selanj ut nya ia akan dapat memper t imbangkan t ingkat at au pembelaan yang dibut uhkan, misalnya per lu at au t idaknya ia mengusahakan bant uan hukum unt uk pembelaan t ersebut .
Hur uf b
Unt uk mengindar i kemungkinan bahwa seorang t erdakwa diper iksa ser t a diadili di sidang pengadilan at as suat u t indakan yang didakwakan at as dir inya t idak dimenger t i olehnya dan karena sidang pengadilan adalah t empat yang t er pent ing bagi t erdakwa unt uk pembelaan dir i, sebab disanalah ia dengan bebas akan dapat mengemukakan segala sesuat u yang dibut uhkannya bagi pembelaan, maka unt uk keper luan t ersebut pengadilan menyediakan j uru bahasa bagi t erdakwa yang berkebangsaan asing at au yang t idak bisa menguasai bahasa Indonesia. Pasal 52
Supaya pemer iksaan dapat mencapai hasil yang t idak menyimpang dar ipada yang sebenar nya maka t ersangka at au t er dakwa har us dij auhkan. dar i rasa t akut . Oleh karena it u waj ib dicegah adanya paksaan at au t ekanan t erhadap t ersangka at au t er dakwa.
Pasal 53
Tidak semua t ersangka at au t er dakwa menger t i bahasa Indonesia dengan baik, t erut ama or ang asing, sehingga mereka t idak mengert i apa yang sebenar nya disangkakan at au didakwakan. Oleh kar ena it u mereka ber hak mendapat bant uan j ur u bahasa.
Pasal 54 Cukup j elas. Pasal 55 Cukup j elas. Pasal 56 Ayat (1)
Menyadar i asas peradilan yang waj ib dilaksanakan secara sederhana, cepat dan dengan biaya r ingan ser t a dengan per t imbangan bahwa mereka yang diancam dengan pidana kurang dar i lima t ahun t idak dikenakan penahanan kecuali t indak pidana t ersebut dalam pasal 21 ayat (4) hur uf b, maka unt uk it u bagi mereka yang diancam dengan pidana lima t ahun at au lebih, t et api kurang dar i lima belas t ahun, penunj ukan penasihat hukumnya disesuaikan dengan perkembangan dan keadaan t er sedianya t enaga penasihat hukum di t empat it u.
Ayat (2)
Cukup j elas. Pasal 57
Pasal 58 Cukup j elas. Pasal 59 Cukup j elas. Pasal 60 Cukup j elas. Pasal 61 Cukup j elas. Pasal 62 Cukup j elas. Pasal 63 Cukup j elas. Pasal 64 Cukup j elas. Pasal 65 Cukup j elas. Pasal 66
Ket ent uan ini adalah penj elmaan dar i asas "praduga t ak bersalah". Pasal 67 Cukup j elas. Pasal 68 Cukup j elas. Pasal 69 Cukup j elas. Pasal 70 Cukup j elas. Pasal 71 Cukup j elas. Pasal 72
Yang dimaksud dengan "unt uk kepent ingan pembelaannya" ialah bahwa mereka waj ib menyimpan isi ber it a acara t ersebut unt uk dir i sendir i. Yang dimaksud dengan "t urunan" ialah dapat berupa f ot o copy. Yang dimaksud dengan "pemer iksaan" dalam pasal ini ialah pemer iksaan dalam t ingkat penyidikan, hanya unt uk pemer iksaan t ersangka. Dalam t ingkat penunt ut an ialah semua berkas perkar a t ermasuk surat - dakwaan. Pemer iksaan di t ingkat pengadilan adalah seluruh berkas perkara t ermasuk put usan hakim.
Pasal 73
Apabila t erbukt i ada penyalahgunaan dalam pasal ini diber ikan ket ent uan Pasal 70 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4). Pasal 74 Pasal 74 Cukup j elas. Pasal 75 Cukup j elas. Pasal 76 Cukup j elas. Pasal 77
Yang dimaksud dengan "penghent ian penunt ut an" t idak t ermasuk penyampingan perkara unt uk kepent ingan umum yang menj adi wewenang Jaksa Agung.
Pasal 78
Cukup j elas. Pasal 79
Cukup j elas. Pasal 80
Pasal ini ber maksud unt uk menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran melalui sarana pengawasan secara hor izont al.
Pasal 81 Cukup j elas. Pasal 82 Cukup j elas Pasal 83 Cukup j elas. Pasal 84 Cukup j elas. Pasal 85
Yang dimaksud dengan "keadaan daerah t idak mengizinkan" ialah ant ara lain t idak amannya daerah at au adanya bencana alam.
Pasal 86
Kit ab Undang-undang Hukum Pidana kit a menganut asas personalit as akt if dan asas personalit as pasif , yang membuka kemungkinan t indak pidana yang dilakukan diluar neger i dapat diadili menur ut Kit ab Undang-undang Hukum Pidana Republik Indonesia. Dengan maksud agar j
alannya-peradilan t erhadap perkara pidana t ersebut dapat mudah dan lancar , maka dit unj uk Pengadilan Neger i Jakar t a- Pusat yang ber wenang mengadilinya.
Pasal 87 Cukup j elas Pasal 88 Cukup j elas Pasal 89 Cukup j elas Pasal 90 Cukup j elas Pasal 91 Cukup j elas. Pasal 92 Cukup j elas. Pasal 93 Cukup j elas Pasal 94 Cukup j elas. Pasal 95 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "ker ugian karena dikenakan t indakan lain" ialah kerugian yang dit imbulkan oleh pemasukan rumah, penggeledahan dan penyit aan yang t idak sah menurut hukum. Ter masuk penahanan t anpa alasan ialah penahanan yang lebih lama dar ipada pidana yang dij at uhkan.
Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3) Cukup j elas. Ayat (4) Cukup j elas. Ayat (5) Cukup j elas. Pasal 96 Cukup j elas. Pasal 97 Cukup j elas
Pasal 98
Ayat (1)
Maksud Penggabungan perkara gugat an pada perkara pidana ini adalah supaya perkara gugat an t ersebut pada suat u ket ika yang sama diper iksa ser t a diput us sekaligus dengan perkara pidana yang ber sangkut an. Yang dimaksud dengan "ker ugian bagi orang lain" t ermasuk kerugian pihak kor ban.
Ayat (2)
Tidak hadir nya penunt ut umum adalah dalam hal acara pemer iksaan cepat .
Pasal 99 Cukup j elas. Pasal 100 Cukup j elas. Pasal 101 Cukup j elas. Pasal 102 Cukup j elas. Pasal 103 Cukup j elas. Pasal 104 Cukup j elas. Pasal 105 Cukup j elas. Pasal 106 Cukup j elas. Pasal 107 Ayat (1)
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a, dimint a, at au t idak dimint a berdasarkan t anggung j awabnya waj ib member ikan bant uan penyidikan kepada penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b. Unt uk it u penyidik sebagaimana t ersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf b sej ak awal waj ib member it ahukan t ent ang penyidikan it u kepada penyidik t ersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf a.
Ayat (2)
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b dalam melakukan penyidikan suat u perkar a pidana waj ib melaporkan hal. it u kepada
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a. Hal ini diper lukan dalam r angka koor dinasi dan pengawasan.
Ayat (3)
Laporan dar i penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal. 6 ayat (1) huruf b kepada penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) hur uf a diser t ai dengan ber it a acara pemer iksaan yang dikir im kepada penunt ut umum. Demikian j uga halnya apabila perkara pidana it u t idak diserahkan kepada penunt ut umum.
Pasal 108
Cukup j elas. Pasal 109
Dalam hal pember it ahuan oleh penyidik sebagaimana t ersebut pada Pasal 6 ayat (1) hur uf b dilakukan melalui penyidik t ersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf a.
Pasal 110 Cukup j elas. Pasal 111 Cukup j elas. Pasal 112 Ayat (1)
Pemanggilan t ersebut harus dilakukan dengan surat panggilan yang sah, ar t inya, sur at panggilan yang dit andat angani oleh pej abat penyidik yang ber wenang. Ayat (2) Cukup j elas. Pasal 113 Cukup j elas. Pasal 114
Unt uk menj unj ung t inggi hak asasi manusia, maka sej ak dalam t ar af penyidikan kepada t ersangka sudah dij elaskan bahwa t ersangka berhak didampingi penasihat hukum pada pemer iksaan di sidang pengadilan.
Pasal 115 Ayat (1)
Penasihat hukum mengikut i j alannya pemer iksaan secara pasif .
Ayat (2)
Pasal 116 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3)
Yang dimaksud dengan saksi yang dapat mengunt ungkan t ersangka ant ara lain adalah saksi a decharge. Ayat (4) Cukup j elas. Pasal 117 Cukup j elas. Pasal 118 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2)
Dalam hal saksi t idak mau menandat angani ber it a acara ia harus member i alasan yang kuat .
Pasal 119
Apabila penyidikan di luar daer ah hukum it u dilakukan oleh penyidik semula, maka ia waj ib didampingi oleh penyidik dar i daerah hukum di mana penyidikan it u dilakukan.
Pasal 120 Cukup j elas. Pasal 121 Cukup j elas. Pasal 122 Cukup j elas. Pasal 123 Ayat (1)
At as penahanan t ersangka oleh penyidik maka t ersangka, keluarga at au penasihat hukumnya dapat menyat akan keberat annya t erhadap penahanan t ersebut kepada penyidik, maupun kepada inst ansi yang bersangkut an, dengan diser t ai alasannya.
Ayat (2) Cukup j elas. Ayat (3) Cukup j elas. Ayat (4) Cukup j elas. Ayat (5) Cukup j elas.
Pasal 124
Cukup j elas Pasal 125
Pasal ini unt uk menghindar i t indakan sewenang-wenang yang dilakukan t er hadap seorang.
Pasal 126 Cukup j elas. Pasal 127 Cukup j elas. Pasal 128 Cukup j elas. Pasal 129 Cukup j elas. Pasal 130
Pasal ini unt uk mencegah kekelir uan dengan benda lain yang t idak ada hubungannya dengan perkar a yang bersangkut an unt uk penyit aan benda t ersebut t elah dilakukan. Pasal 131 Cukup j elas. Pasal 132 Ayat (1) Cukup j elas. Ayat (2)
Yang dimaksud dengan pej abat penyimpan umum ant ara lain adalah pej abat yang ber wenang dar i arsip negar a, cat at an sipil, balai har t a peninggalan, not ar is sesuai dengan perat uran per undang-undangan