C. PENJELASAN ATAS POS-POS NERACA
C.2. PENJELASAN PER POS NERACA
Rekening Kas BUN di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp248.984.834.918 merupakan saldo Rekening 502 yang ada di Bank Indonesia per 31 Desember 2004 yang siap digunakan untuk kegiatan operasional pemerintahan.
C.2.2. Rekening Kas di KPPN
Rekening Kas di KPPN sebesar Rp12.498.762.125.000 merupakan saldo Rekening KPPN di seluruh Indonesia berdasarkan ketetapan saldo besi akhir tahun anggaran. Daftar Saldo Kas di KPPN per 31 Desember 2004 dapat dilihat pada Lampiran 8.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK-RI, saldo rekapitulasi rekening koran seluruh KPPN adalah sebesar Rp11.653.341.520.000. Perbedaan jumlah saldo kas tersebut terjadi antara lain karena adanya peraturan yang menyatakan bahwa penerimaan PBB/BPHTB yang disetor ke kas negara tanggal 29 sampai dengan 31 Desember 2004 diperlakukan sebagai penerimaan tahun 2005. Saldo Kas di KPPN ini akan dikoreksi pada laporan keuangan tahun berikut bersamaan dengan diperbaikinya peraturan mengenai langkah-langkah dalam menghadapi akhir tahun anggaran 2005.
C.2.3. Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia
Rekening Kas Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia sebesar Rp38.660.204.618.670 merupakan saldo rekening pemerintah lainnya yang ada di Bank Indonesia per 31 Desember 2004, yang terdiri dari rekening-rekening yang disajikan pada Tabel 2.
Kas di Bendahara Pengeluaran Rp322,6 miliar
Tabel 2
Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia (dalam rupiah)
Jenis Rekening Jumlah Rekening 500 talangan Reksus Kosong 334.431.886.327 Rekening Menkeu c.q. Dirjen utk menampung pengembalian dana 16.334.674.372 Rekening Penerimaan Minyak 888.913.108.300 Rekening Penerimaan PPh dalam valas 19.074.300.090 Rekening Pembangunan Daerah (RPD) 740.530.536.033
Rekening Dana Investasi (RDI) 11.494.086.771.033 Rekening Pener. Pertambangan dan Perikanan 239.183.538.931
Rekening Pener. Panas Bumi 699.421.391.103 Rekening Subsidi Bunga SEDP 3 992.035.450 Rekening Pembiayaan Proyek RDA 9.608.768.719 Rekening Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 39.490.833.881 Rekening IHPH dan PSDH 317.456.249 Rekening Dana untuk pembayaran kewajiban 92.496.361.849 Rek. Valas JPY Pemerintah dlm rangka EXIM JAPAN TSL 7 38 Rek. Valas USD Pemerintah dlm rangka EXIM JAPAN TSL 7 1.314.342.169.793 Rek. Sub BUN dlm USD utk menampung setoran pihak ketiga 1.379.925.391.058 Rek. Trade Maintenance Facility and Exchange Offer 360.000.000.000 Rek.BUN Setoran Bulog Hasil Penjualan Beras PLN dlm rupiah 85.305.612.500 Rek. Penerimaan Tim Pemberesan BPPN 39.734.128.725 Rek.Sub BUN Dana DAK-DR Tahun 2002 yg belum disalurkan 16.168.946.303 Rek.Sub BUN (Rp) dlm Rangka Monetisasi Non Project Type Grantaid 123.092.255 Rek. Depkeu (Rp) untuk Monetasi Non Project Type Grantaid 2000 147.739.547.109 Rek. Depkeu (Rp) untuk Increase of Food (SKR) 2000 36.981.775.121 Rek. Depkeu (Rp) untuk Increase of Food (SKR) 2001 22.186.472.552 Rek. Depkeu (Rp) untuk Monetisasi Non Project Type Grandtaid 2001 60.803.604.315 Rek. Depkeu untuk penampungan hibah luar negeri dalam rangka
bencana 21.995.000 Rekening Sisa Anggaran Lebih (SAL) 9.604.256.500.000
Rekening BUN Nomor 502.000002 untuk obligasi dalam rangka penjaminan (di bawah pengendalian Tim Unit Pelaksana Penjaminan
Pemerintah - UP3) 11.017.733.721.564
Jumlah 38.660.204.618.670
Selain rekening-rekening tersebut di atas, dalam rangka penerapan Treasury Single Account (TSA) saat ini sedang dilakukan inventarisasi rekening pemerintah secara komprehensif.
Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK-RI masih terdapat kekurangan pembukuan pada Rekening pemerintah Lainnya di BI sebesar Rp8.727.583.320.000. Namun demikian, setelah dilakukan penelusuran terdapat Rp1.876.735.943.262 merupakan rekening khusus (kebijakan akuntansi tidak menempatkan rekening ini sebagai kas pemerintah), Rp3.497.406.708.877 bukan milik pemerintah, dan Rp3.363.660.167.197 masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Saldo Rekening Pemerintah Lainnya di Bank Indonesia ini akan dikoreksi pada laporan keuangan tahun berikut bersamaan dengan diperolehnya kepastian status kepemilikan rekening-rekening tersebut.
C.2.4. Kas di Bendahara Pengeluaran
Jumlah Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp322.614.437.433 merupakan kas (Uang yang Harus Dipertanggungjawabkan-UYHD) yang ada di bendahara pengeluaran pada kementerian negara/lembaga yang belum disetor kembali ke kas negara per 31 Desember 2004 dengan perhitungan sebagai berikut:
Pengeluaran UYHD Rp 14.990.372.531.864
Penerimaan Pengembalian UYHD (14.667.758.094.431)
Kas di Bendahara Penerimaan Rp576,99 miliar
Uang Muka dari Rekening BUN Rp2,6 triliun
Rincian Kas di Bendahara Pengeluaran pada kementerian negara/lembaga dapat dilihat di Lampiran 9.
C.2.5. Kas di Bendahara Penerimaan
Jumlah Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp576.992.798.255 mencakup seluruh kas, baik saldo rekening di bank maupun saldo uang tunai, yang berada di bawah tanggung jawab bendahara yang sumbernya berasal dari pelaksanaan tugas pemerintahan yang berupa penerimaan pendapatan negara bukan pajak yang belum disetor ke kas negara per 31 Desember 2004. Rincian Kas di Bendahara Penerimaan masing-masing kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3
Kas di Bendahara Penerimaan pada Kementerian Negara/Lembaga (dalam rupiah)
Kementerian negara/lembaga Jumlah 1. Departemen Luar Negeri (USD 55.967.288,62) 522.984.567.832 2. Departemen Hukum dan HAM 2.983.253.225 3. Departemen Keuangan 2.992.243.710 4. Departemen Perindustrian 216.897.335 5. Departemen Perhubungan 7.884.842.635
6. Departemen Kesehatan 4.903.302.222 7. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi 21.472.500
8. Departemen Sosial 125.400.000 9. Departemen Kehutanan 12.313.989.491 10. Kementerian Negara BUMN 851.327 11. Kementerian Negara Riset dan Teknologi 179.968.991 12. Kementerian Negara Lingkungan Hidup 2.165.000.000 13. Lembaga Sandi Negara 353.877 14. Kementerian PPN/ Bappenas 109.120.644 15. Badan Pertanahan Nasional 18.231.230.908 15. Badan Pengawasan Obat dan Makanan 1.673.960.426 16. Lembaga Informasi Nasional 18.655.000 17. Komisi Pemberantasan Korupsi 187.688.132
Jumlah 576.992.798.255 Keterangan:
Konversi ke dalam Rupiah menggunakan kurs tengah BI tanggal 31 Desember 2004, USD 1 = Rp9.290.
C.2.6. Uang Muka dari Rekening Bendahara Umum Negara (BUN)
Uang Muka dari Rekening BUN sebesar Rp2.574.116.076.156 merupakan pembayaran pembiayaan pendahuluan dalam rangka penarikan pinjaman luar negeri dari BUN yang belum ada penggantian dari lender per 31 Desember 2004. Rincian Uang Muka dari Rekening BUN menurut lender dan tahun anggaran dapat dilihat di Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4
Uang Muka dari Rek. BUN menurut Lender (dalam rupiah)
Lender Talangan Reimbursement Sisa Talangan
IBRD 6.694.688.592.866 5.476.395.712.177 1.218.292.880.689 ADB 5.345.882.763.448 4.902.010.223.386 443.872.540.062 OECF/JBIC 1.517.199.092.897 794.841.344.572 722.357.748.325 Lainnya 427.991.132.133 238.398.225.053 189.592.907.080
Piutang Pajak Rp28,96 triliun
Piutang Bukan Pajak Rp918,9 miliar
Tabel 5
Uang Muka dari Rek. BUN menurut Tahun Anggaran (dalam rupiah)
Tahun Talangan Reimbursement Sisa Talangan 1999/2000 3.529.817.252.591 516.964.953.298 3.012.852.299.293 2000 1.511.625.859.989 1.771.877.277.411 (260.251.417.422) 2001 2.085.737.069.977 2.414.256.935.587 (328.519.865.610) 2002 2.572.851.801.113 2.133.832.870.536 439.018.930.577 2003 2.854.166.043.672 1.977.426.483.757 876.739.559.915 2004 1.431.563.554.004 2.597.286.984.600 (1.165.723.430.596) Jumlah 2.574.116.076.156 C.2.7. Piutang Pajak
Jumlah Piutang Pajak sebesar Rp28.964.985.918.280 merupakan tagihan pajak yang telah ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) yang belum dilunasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2004, termasuk Piutang PBB dan BPHTB, dengan rincian sebagai berikut:
Piutang PPh , PPN , dan lainnya Rp 25.960.020.347.280
Piutang PBB 2.766.539.776.000
Piutang BPHTB 238.425.795.000
Jumlah Rp 28.964.985.918.280
C.2.8. Piutang Bukan Pajak
Jumlah Piutang Bukan Pajak sebesar Rp918.886.706.165 merupakan piutang penerimaan negara bukan pajak, yaitu semua hak atau klaim terhadap pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat dijadikan kas dan belum diselesaikan pada tanggal neraca yang diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun, yang berasal dari kementerian negara/lembaga dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dengan rincian pada Tabel 6.
Tabel 6
Piutang Bukan Pajak per 31 Desember 2004 (dalam rupiah)
Instansi Jumlah
1. Departemen Keuangan 2.515.680.000
2. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 495.227.844.820
3. Departemen Perindustrian 918.808.280
4. Departemen Perhubungan dan Telekomunikasi 304.792.602.842
5. Departemen Kesehatan 8.278.219.104
6. Departemen TenagaKerja dan Transmigrasi 4.812.226
7. Departemen Kehutanan 229.279.045
8. Kementerian Negara PAN 9.029.847.977
9. Kementerian PPN/Bappenas 1.200.000
10. PT Perusahaan Pengelola Aset 97.888.411.871
Bagian Lancar TPA Rp25,5 miliar Bagian Lancar Tagihan TGR Rp2,1 miliar Piutang Lain-lain Rp1,7 triliun
Piutang dari PPA sebesar Rp97.888.411.871 dapat dirinci sebagai berikut:
Hasil Pengelolaan Aset (HPA)-bersih Rp 6.520.468.924.906 Dana Cadangan Biaya Pengelolaan (150.000.000.000)
Insentif Kerja (858.234.508.523)
PPN atas Insentif Kerja (85.823.450.852)
Realisasi Hasil Pengelolaan dana atas HPA 21.477.446.340
Jumlah HPA yang harus disetor Rp 5.447.888.411.871
Hasil HPA yang sudah sudah disetorkan (5.350.000.000.000) Jumlah HPA yang masih harus disetor Rp 97.888.411.871
C.2.9. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
Jumlah Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) sebesar Rp25.519.902.850 merupakan saldo TPA kementerian negara/lembaga yang akan jatuh tempo dalam tahun anggaran 2005 yang berasal dari:
C.2.10. Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi
Jumlah Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) sebesar Rp2.126.200.147 merupakan saldo Tagihan TGR kementerian negara/ lembaga yang akan jatuh tempo dalam tahun anggaran 2005. Rincian Bagian Lancar Tagihan TGR untuk masing-masing kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7
Bagian Lancar Tagihan Tuntutan Ganti Rugi per 31 Desember 2004 (dalam rupiah)
Kementerian Negara/Lembaga Jumlah 1. Departemen Dalam Negeri 74.360.000 2. Departemen Keuangan 12.500.000 3. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 232.960.424 4. Departemen Perhubungan 400.276.289 5. Departemen Pendidikan Nasional 57.127.500 6. Departemen Agama 10.000.000 7. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi 70.167.000 8. Departemen Kehutanan 383.867.999 9. Departemen Kelautan dan Perikanan 666.334.273 10. Kementerian Negara Riset dan Teknologi 24.234.000 11. Badan Intelijen Negara 8.068.956 12. Badan Pusat Statistik 27.838.800 13. Departemen Komunikasi dan Informasi 3.229.470 14. Kepolisian RI 72.535.188 15. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 82.700.248
Jumlah 2.126.200.147
C.2.11. Piutang Lain-lain
Piutang Lain-lain sebesar Rp1.746.650.958.960 merupakan piutang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu kategori piutang sebagaimana telah dijelaskan di atas, yang berasal dari kementerian negara/lembaga antara lain terdiri dari Piutang Premi Penjaminan dan Denda, serta Piutang Dividen.
Jumlah Piutang Lain-lain yang berasal dari kementerian negara/lembaga sebesar Rp1.585.005.093.891 antara lain merupakan denda keterlambatan penyampaian
- Departemen Perhubungan Rp 1.912.078
- Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah 25.000.000.000
- Kementerian PPN/Bappenas 287.990.772
Persediaan Rp356 miliar RDI/RPD sebesar Rp62,3 t riliun Dana Bergulir Rp2,8 triliun
laporan keuangan kepada pihak ketiga (perusahaan asuransi, reasuransi dan dana pensiun) yang belum diselesaikan per 31 Desember 2004 yang diharapkan diterima dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun, dan pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga dalam rangka pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI), Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR) dan Kredit Usaha Tani Persuteraan Alam (KUTPA).
Rincian piutang lain-lain menurut kementerian negara/lembaga adalah sebagai berikut:
Dewan Perwakilan Rakyat Rp 1.030.361.120
Departemen Keuangan 1.212.400.000
Departemen Perhubungan 12.034.370.289
Departemen Kehutanan 1.568.969.196.896
Bappenas 1.758.765.586
Jumlah Rp 1.585.005.093.891
Piutang Premi penjaminan dan Denda sebesar Rp144.207.508.481 merupakan kekurangan pembayaran premi penjaminan oleh bank umum peserta program penjaminan beserta denda yang sampai dengan tanggal 31 Desember 2004 belum dilunasi.
Piutang dividen sebesar Rp17.438.356.588 merupakan pembayaran deviden BUMN kepada pemerintah yang penyelesaiannya dijadwalkan tahun 2004 namun sampai dengan 31 Desember 2004 belum diselesaikan pembayarannya. Keterlambatan penyelesaian ini mengakibatkan denda, yang diperhitungkan sebagai penambah piutang. Rincian piutang deviden per BUMN sebagai berikut:
Saldo Piutang per 31 Desember 2004
No. BUMN Dividen Denda Total
1. PT Istaka Karya 3.879.249.165 507.836.172 4.387.085.337 2. PT Yodya Karya 370.000.000 38.995.991 408.995.991 3. PT Kawasan Industri Makassar 642.275.260 - 642.275.260 4. PT Semen Gresik Tbk 12.000.000.000 - 12.000.000.000 Jumlah 16.891.524.425 546.832.163 17.438.356.588 C.2.12. Persediaan
Jumlah Persediaan sebesar Rp356.045.620.551 merupakan nilai persediaan berdasarkan neraca kementerian negara/lembaga per 31 Desember 2004. Persediaan antara lain berupa alat tulis kantor, obat-obatan, dan suku cadang. Rincian Persediaan untuk setiap kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Lampiran 10.
C.2.13. Rek. Dana Investasi/Rek. Pembangunan Daerah
Jumlah Rek. Dana Investasi/Rek. Pembangunan Daerah (RDI/RPD) sebesar Rp62.278.309.530.000 merupakan nilai dana investasi per 31 Desember 2004 berdasarkan Laporan Posisi Penerusan Pinjaman Luar Negeri.
Rincian RDI/RPD adalah sebagai berikut:
Jumlah SLA, RDI, dan RPD Rupiah Rp 32.765.273.110.000 Jumlah SLA dan RDI valas (ekuivalen rupiah) 29.513.036.420.000
Jumlah Rp62.278.309.530.000
Rincian lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran 11. C.2.14. Dana Bergulir
Jumlah Dana Bergulir sebesar Rp2.766.220.770.219 merupakan dana pemerintah yang disalurkan dalam bentuk pinjaman bergulir kepada pengusaha kecil, anggota koperasi, anggota KSM dan lain-lain yang dikelola oleh Departemen Keuangan, Departemen
Investasi Non Permanen Lainnya Rp1,4 triliun Penyertaan Modal Pemerintah Rp395,7 triliun
Perindustrian dan Perdagangan, dan Kementerian Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Dana Bergulir sebesar Rp1.040.491.388.330 dikelola oleh Departemen Keuangan disalurkan antara lain melalui Bank Pembangunan Daerah, PT Bank BUKOPIN, PT Bank BRI dan PT Bank Mandiri.
Dana Bergulir sebesar Rp40.226.564.946 dikelola oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan melalui Lembaga Pembinaan terpadu Industri Kecil dan Dagang Kecil (LPT INDAK), sedangkan sebesar Rp1.685.502.816.943 dikelola oleh Kementerian Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).
C.2.15. Investasi Non Permanen Lainnya
Investasi Non Permanen Lainnya merupakan pinjaman pendanaan Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) yang disalurkan melalui BUMN dan lembaga keuangan yang ditunjuk sebagai BUMN Pengelola dan/atau Lembaga Keuangan Pelaksana (LKP). Pinjaman pendanaan KUMK merupakan kelanjutan pendanaan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sehubungan dengan berlakunya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999, BI tidak diperkenankan lagi untuk memberikan kredit likuiditas. Untuk itu pemerintah menerbitkan Surat Utang No. SU-005/MK/1999 tanggal 29 Desember 1999 dengan pagu sebesar Rp9,97 triliun. Realisasi pencairan pinjaman pendanaan KUMK eks dana SU-005 sampai dengan 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp 1.420.053.000.000.
Rincian mengenai pencairan pinjaman pendanaan KUMK sampai dengan tanggal 31 Desember 2004 dapat dilihat pada Lampiran 12.
C.2.16. Investasi PInvestasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah
Jumlah Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) sebesar Rp395.658.528.974.064 merupakan nilai Penyertaan Modal Pemerintah per 31 Desember 2004, yang terdiri dari penyertaan modal pemerintah pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp359.981.268.249.407, penyertaan modal pemerintah pada perusahaan minoritas (non BUMN) sebesar Rp828.683.640.000 dan pada Lembaga Internasional sebesar Rp34.848.577.084.657
Penyertaan pada BUMN (kepemilikan sama dengan atau lebih dari 51%) merupakan penjumlahan total ekuitas masing-masing BUMN setelah dikalikan dengan persentase kepemilikan pemerintah pada BUMN yang bersangkutan. Penyertaan modal pemerintah pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp359.981.268.249.407 diperoleh dari laporan keuangan 158 BUMN dengan rincian 123 laporan keuangan BUMN dengan status audited sebesar Rp262.505.913.822.207, 12 laporan keuangan BUMN dengan status unaudited sebesar Rp90.585.656.000.000, dan 23 laporan keuangan BUMN dengan status prognosa sebesar Rp6.889.698.427.200.
Penyertaan modal pemerintah pada perusahaan minoritas (non BUMN) merupakan penyertaan pemerintah pada perusahaan dengan prosentase kepemilikan kurang dari 51%. Nilai penyertaan pada perusahaan minoritas adalah penjumlahan total ekuitas masing-masing perusahaan setelah dikalikan dengan persentase kepemilikan pemerintah pada perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan minoritas berjumlah 17 perusahaan. Penyertaan pada Lembaga Internasional merupakan Penyertaan Modal Pemerintah Indonesia pada beberapa organisasi/lembaga keuangan internasional/regional yang telah disetor sampai dengan 31 Desember 2004. Sisa setoran (promissory notes) tidak diperhitungkan. PMP ini dikonversikan ke dalam rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember 2004.
Rincian Penyertaan Modal Pemerintah pada BUMN dapat dilihat pada Lampiran 13, rincian Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan minoritas pada Lampiran 14, dan rincian Penyertaan Modal Pemerintah pada Lembaga Internasional dapat dilihat pada Lampiran 15.
Investasi Permanen Lainnya Rp3,1 triliun
Aset Tetap Rp229,1 triliun
C.2.17. Investasi Permanen Lainnya
Jumlah Investasi Permanen Lainnya sebesar Rp3.144.466.700.390 merupakan nilai Penyertaan Modal Pemerintah pada Otorita Batam per 31 Desember 2004 dengan menggunakan metode ekuitas. Nilai tersebut disajikan berdasarkan laporan keuangan (unaudited) Otorita Batam per 31 Desember 2004. Sampai dengan laporan keuangan ini disusun, pemeriksaan atas laporan keuangan tersebut belum selesai dilakukan. C.2.18. Aset Tetap
Jumlah Aset Tetap sebesar Rp229.071.545.428.868 merupakan nilai aset tetap berdasarkan neraca kementerian negara/lembaga per 31 Desember 2004. Aset tetap dinilai dengan menggunakan metode harga perolehan (acquisition cost) dan belum memperhitungkan depresiasi (penyusutan). Untuk aset tetap yang belum diketahui harga perolehannya dinilai sebesar Rp1 (satu rupiah). Sampai saat ini belum dilakukan penilaian atas nilai wajar aset tetap. Rincian menurut jenis aset tetap dan grafiknya dapat dilihat pada Tabel 8 dan Grafik 16.
Rincian lebih lanjut aset tetap untuk setiap kementerian negara/lembaga dapat dilihat pada Lampiran 16.
Tabel 8
Aset Tetap per 31 Desember 2004
(dalam rupiah)
Jenis Aset Tetap Jumlah
Tanah 83.635.282.924.766 Peralatan dan Mesin 61.687.965.097.396
Gedung dan Bangunan 38.896.471.338.200 Jalan, Irigasi, dan Jaringan 40.489.403.009.948 Aset Tetap Lainnya 1.901.915.011.171 Konstruksi Dalam Pengerjaan 2.460.508.047.387 Jumlah 229.071.545.428.868
Grafik 16
Komposisi Aset Tetap Berdasarkan Jenisnya per 31 Desember 2004
83,6 61,7 38,9 40,5 1,9 2,5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Tanah
P eralatan dan Mes in Gedung dan Bangunan J alan, Irigas i dan
J aringan As et Tetap L ainnya
Kons truks i dalam P engerjaan
Dana Cadangan Rp1,7 triliun
Aset Lainnya Rp68,9 triliun
C.2.19. Dana Cadangan
Dana cadangan dibentuk berdasarkan kebijakan Pemerintah pada tahun 1991 dimana pemerintah menyisihkan sebagian kelebihan realisasi pendapatan pajak untuk digunakan sebagai Cadangan Anggaran Pembangunan (CAP) sebesar Rp3.500.000.000.000. CAP merupakan restricted cash pemerintah yang akan digunakan apabila terjadi defisit dalam tahun-tahun anggaran berikutnya. CAP tersebut pernah digunakan pada tahun anggaran 1993/1994 sebesar Rp1.770.000.000.000. Saldo Rek. CAP per 31 Desember 2004 sebesar Rp1.730.000.000.000.
C.2.20. Aset Lainnya
Jumlah Aset Lainnya sebesar Rp68.915.807.829.538 merupakan saldo Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tagihan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang akan jatuh tempo lebih dari satu tahun, Kemitraan dengan Pihak Ketiga, dana yang dibatasi pengunaannya (restricted assets) dan aset lain-lain yang berasal dari kementerian negara/lembaga, PPA, Tim Pemberesan (TP), Departemen Keuangan dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BP Migas, Badan Pengelola (BP) Kemayoran, dan BP Gelanggang Olah Raga (Gelora) Bung Karno dengan rincian sebagaimana disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9
Aset Lainnya per 31 Desember 2004 (dalam rupiah)
Uraian Jumlah
Tagihan Penjualan Angsuran 396.163.190.839 Tagihan Tuntutan Ganti Rugi 33.475.182.449 Kemitraan dengan Pihak Ketiga 31.579.000
Dana yang Dibatasi Penggunaannya 11.303.683.753.573 Aset Lain-lain yang berasal dari: 57.182.454.123.677
- Kementerian Negara/Lembaga 1.418.771.733.440 - PPA 7.874.876.579.116 - TP 1.099.621.502.074 - DJPLN 1.219.482.111.037 - KKKS BP Migas 31.796.578.020.262 - BP Kemayoran 198.160.517.811 - BP Gelora Bung Karno 13.574.963.659.937
Jumlah 68.915.807.829.538
Saldo Tagihan Penjualan Angsuran sebesar Rp 396.163.190.839 berasal dari Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah sebesar Rp396.000.000.000 dan Kementerian PPN/Bappenas sebesar Rp163.190.839.
Tabel 10
Tuntutan Ganti Rugi menurut Kementerian Negara/Lembaga (dalam rupiah)
Saldo Kemitraan dengan Pihak Ketiga sebesar Rp31.579.000, merupakan kerja sama antara Departemen Kehutanan dengan pihak lain yang mempunyai ikatan dengan Departemen Kehutanan dan rekanan yang melaksanakan pekerjaan dari Departemen dan pemegang hak perijinan kehutanan.
Saldo Dana yang Dibatasi Pengunaannya sebesar Rp 11.303.683.753.573, merupakan rekening dana reboisasi yang penggunaan dananya hanya untuk kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan melalui skema pinjaman. Kebijakan pengelolaan dana tersebut diatur dengan ketentuan Inpres Nomor 9 Tahun 1999, Inpres Nomor 4 Tahun 2000 serta PP Nomor 35 Tahun 2002. Rincian per rekening disajikan pada Lampiran 17
Aset Lain-lain yang berasal dari kementerian negara/lembaga disajikan pada Tabel 11. Tabel 11
Aset Lain-lain menurut Kementerian Negara/Lembaga (dalam rupiah)
Aset Lain-lain yang berasal dari PPA sebesar Rp7.874.876.579.116 merupakan aset pemerintah eks BPPN yang masih dikelola PPA menunggu untuk dijual dan hasilnya disetorkan ke Kas Negara sebagai PNBP. Nilai aset tersebut merupakan nilai aset hasil valuasi internal BPPN per 30 April 2004. Pemerintah sedang mengupayakan untuk memperoleh nilai wajar dari seluruh aset eks BPPN. Rincian disajikan pada Lampiran 18. Aset Lain-lain yang berasal dari Tim Pemberesan (TP) sebesar Rp1.099.621.502.074
Kementerian Negara/Lembaga Jumlah 1. Dewan Perwakilan Rakyat 15.620.000 2. Badan Pemeriksa Keuangan 1.866.479.644 3. Departemen Luar Negeri1 14.816.837.218 4. Departemen Pertahanan 4.736.228.492 5. Departemen Hukum dan HAM 318.759.471 6. Departemen Keuangan 6.122.096.542 7. Departemen Perindustrian dan Perdagangan 1.204.082.242 8. Departemen Pendidikan Nasional 165.432.480
9. Departemen Kesehatan 1.074.726.326 10. Departemen Agama 147.508.593
11. Departemen Sosial 1.500.000 12. Departemen Kehutanan 1.113.548.972 13. Departemen Komunikasi dan Informasi 40.019.693 14. Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata 177.513.055 15. Kementerian Negara Koperasi dan UKM 25.850.000 16. Badan Intelejen Negara 20.810.509 17. Badan Pusat Statistik 103.796.775 18. Kementerian PPN/Bappenas 2.740.000 19. Badan Pertanahan Nasional 1.347.039.167 20. Kepolisian RI 174.593.270
Jumlah 33.475.182.449
Kementerian Negara/Lembaga Jumlah 1. Departemen Luar Negeri 385.303.685.968 2. Departemen Hukum dan HAM 64.642.289.656 3. Departemen Keuangan 13.002.880.000 4. Departemen Perhubungan 18.332.935.826 5. Departemen Agama 3.667.405.200 6. Departemen Kehutanan 742.100.730.190 7. Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata 165.442.721.000 8. Kementerian Negara Riset dan Teknologi 10.888.077.567 9. Kementerian Negara Koperasi dan UKM 331.479.349 10. Kementerian Negara PAN 12.939.946.969
10. Kementerian PPN/Bappenas 2.119.581.715
Utang PFK Rp226,2 miliar
merupakan aset pemerintah eks BPPN yang status kepemilikan dan nilainya masih bermasalah (belum bersih) sehingga belum dapat diserahkan kepada PT PPA. Rincian disajikan pada Lampiran 19.
Aset inventaris kantor eks BPPN yang berasal dari pengadaan BPPN dan BBO/BBKU belum dimasukkan dalam laporan ini karena nilai wajar aset tersebut belum ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Nilai perolehan dan nilai pengalihan aset tersebut pada saat penyerahan ke Menteri Keuangan (30 April 2004) dianggap terlalu tinggi sehingga perlu dilakukan penilaian terlebih dahulu oleh Tim Interdept.
Aset Lain-lain yang berasal dari DJPLN Departemen Keuangan sebesar Rp1.219.482.111.037 merupakan piutang macet kementerian negara/lembaga yang penagihannya dialihkan ke DJPLN, hasil bersih penagihan akan merupakan PNBP kementerian negara/lembaga yang bersangkutan. Rincian disajikan pada Lampiran 20. Aset Lain-lain yang berasal dari BP Migas sebesar Rp31.796.578.020.262 merupakan aset negara yang digunakan dalam rangka kontrak kerja sama minyak bumi dan gas alam. Angka yang disajikan merupakan nilai buku per 31 Desember 2004, yang dihitung dari harga perolehan aset sebesar Rp178.791.439.130.115 dikurangi akumulasi depresiasi sebesar Rp146.994.861.109.853. Rincian disajikan pada Lampiran 21.
Aset Lain-lain yang berasal dari BP Kemayoran sebesar Rp198.160.517.811 merupakan saldo Kas dan setara Kas BP Kemayoran per 31 Desember 2004, yang berupa deposito sebesar Rp168.090.000.000 dan giro sebesar Rp30.070.517.811
Aset Lain-lain yang berasal dari BP Gelora Bung Karno sebesar Rp13.574.963.659.937
merupakan saldo Kas dan setara Kas, piutang, dan aset tetap BP Gelora Bung Karno per 31 Desember 2004 dengan rincian sebagai berikut:
USD Rupiah Total (dalam Rp) Kas dan Setara Kas (I)
Deposito Giro 1.800.000,00 792.208,45 22.500.000.000 4.221.930.369 50.803.546.870 39.222.000.000 11.581.546.870 Piutang (II) 11.545.000.000 11.545.000.000 Aset Tetap (III)
Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Tanah 11.949.668.159 554.515.524.908 12.946.149.920.000 13.512.615.113.067 11.949.668.159 554.515.524.908 12.946.149.920.000 Jumlah I+II+III 13.574.963.659.937 *) Konversi ke dalam Rupiah menggunakan kurs tengah BI tanggal 31 Desember 2004 USD 1 = Rp9.290
C.2.21. Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)
Utang PFK sebesar Rp266.181.671.351 berasal dari jumlah potongan dalam Surat Perintah Membayar (SPM) yang belum dibayarkan kepada pihak ketiga meliputi potongan 10% gaji, 2% pensiun, dan wesel pemerintah.
Saldo Rekening Utang PFK merupakan selisih antara Penerimaan Potongan PFK dan Pengeluaran Pembayaran kepada pihak ketiga. Rekapitulasi penerimaan dan pengeluaran PFK adalah sebagai berikut:
Uraian Penerimaan Pengeluaran Saldo Pengembl. Pen. PFK 10%
Gaji 5.901.560.438.000 5.818.424.268.000 83.136.170.000 Pengembl. Pen PFK 2%
Pensiun 64.082.621.000 61.575.344.000 2.507.277.000 Pengembl. Pen PFK Beras 355.835.134.000 288.897.641.000 66.937.493.000
Pengembl. PFK 2%
Pemda 152.843.128.000 129.371.276.000 23.471.852.000 Pengembl. PFK Lain 297.951.738.351 247.822.859.000 50.128.879.351
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Rp82,1 triliun
Utang Bunga Rp43,1 triliun
C.2.22. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang
Jumlah Bagian Lancar Utang Jangka Panjang sebesar Rp82.079.302.957.375 merupakan utang pemerintah baik dalam negeri maupun luar negeri yang diperhitungkan akan dibayar atau jatuh tempo dalam tahun 2005. Jumlah Bagian Lancar Utang Luar Negeri disajikan pada Tabel 12. Sedangkan rincian Bagian Lancar Utang Luar Negeri yang akan dibayar per bulan selama tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 22.
Tabel 12
Bagian Lancar Utang Luar Negeri per Jenis Utang (dalam rupiah)
Jenis Utang Jumlah
Bilateral 16.153.493.926.222 Kredit Komersil 187.190.860.833 Kredit Ekspor 16.140.457.859.450 Leasing 756.698.620.950 Multilateral 18.748.076.084.809 Jumlah 51.985.917.352.264
Bagian Lancar Utang Dalam Negeri merupakan reklasifikasi surat utang negara (SUN) dalam negeri yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca,