THE REGIONAL HOUSE OF REPRESENTATIVE
PENJELASAN TEKNIS 1 Jalur Pendidikan di Indonesia
terdiri atas 1) pendidikan formal, 2) pendidikan nonformal, dan 3) pen- didikan informal yang ketiganya dapat saling melengkapi dan mem- perkaya (Undang-Undang No. 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pen- didikan Nasional).
2. Jenjang Pendidikan Formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikan yang diajarkan mencakup pendidikan umum, keju- ruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.
a. Pendidikan Dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Mad- rasah Ibtidaiyah (MI) atau ben- tuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawi- yah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
b. Pendidikan Menengah ber-
bentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Keju-
TECHNICAL NOTES
1. The Education System in Indonesia
consists of 1) a formal education, 2) non-formal education, and 3) infor-
mal education that all three can be complementary and enriching (Law No. 20 Year 2013 about The Nation- al Education System).
2. The Formal Education Level con- sists of primary education, second- ary education, and high education. The kind of education that taught consists of general education, voca- tional, academic, professional, reli- gious, and specific education. a. The Primary Education consists
of Elementary School and Islam- ic Elementary School or other equivalent forms and Junior High School and MTs, or other equivalent forms.
b. The Secondary Education con- sists of the senior high school, MA, Vocational School, and Vocational Madrasah Aliyah, or
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
c. Pendidikan Tinggi merupakan jen- jang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup pro- gram pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat ber-
bentuk akademi, politeknik,
sekolah tinggi, institut, atau univer- sitas.
3. Rumah Sakit adalah tempat
pemeriksaan dan perawatan
kesehatan, biasanya berada di bawah pengawasan dokter/tenaga medis, yang melayani penderita yang sakit untuk berobat rawat jalan atau rawat inap.
4. Rumah Bersalin adalah sarana pelayanan kesehatan dengan izin sebagai rumah bersalin, dilengkapi pelayanan pemeriksaan kehamilan, persalinan serta pemeriksaan ibu dan anak yang berada di bawah pengawasan bidan senior.
5. Poliklinik adalah sarana kesehatan yang dipakai untuk pelayanan bero- bat jalan, biasanya berada di bawah pengawasan dokter/tenaga medis.
6. Puskesmas (Pusat Kesehatan
Masyarakat) adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang mempunyai fungsi utama
c. The High Education consists of the education level after the secondary education that consists of diplomas, bachelor, master, specialist, and doctoral degrees that are held by the college. The colleges can be academy, polytechnic, high school, institute, or university.
3. Hospital is a place for health check, usually controlled/supervised by doctors/medical personnel to serve the ill patients to get outpatient or inpatient treatment services.
4. Maternity House is health care facility with a license as a maternity house, equipped with prenatal care, childbirth and examination of mothers and children which is un- der the supervision of a senior mid- wife.
5. Polyclinic is a health facility in which to get outpatient services, usually under the control of doctor/ medical personnel.
6. Public Health Center is technical implementation unit of regency health department that have the primary function
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat pertama. Wila- yah kerja puskesmas maksimal adalah satu kecamatan dan untuk dapat menjangkau wilayah kerjan- ya, puskesmas mempunyai jaringan pelayanan yang meliputi unit Pusk- esmas Pembantu (Pustu), unit Puskesmas Keliling (Puskel), dan
unit bidan desa/komunitas
(Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat).
7. Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
dalam penyelenggaraan pem-
bangunan kesehatan guna mem- berdayakan masyarakat dan mem-
berikan kemudahan kepada
masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar/sosial
dasar untuk mempercepat
penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
8. Balita adalah kelompok anak yang berumur lima tahun ke bawah , 0-4
as a first-level health care providers.
The working area standard of public health center is one district and to reach their working areas, public health centers have a service net- work covering subsidiary of public health center, mobile public health center units, and midwife units (Regulation of the Minister of Health of Indonesia Number 75 Year 2014 about Public Health Center).
7. Posyandu is one of Effort Communi- ty Based Health (UKBM) managed and organized from, by, for and with the community in the imple- mentation of health development in order to empower people and pro- vide convenience to the public in obtaining basic health care / social base for accelerating the reduction of Maternal Mortality and Infant Mortality Rate.
8. Toddlers are a group of children aged five years and under, 0-4 years
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
9. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat gizi.
Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, gizi baik dan lebih. (William, 2010).
a. Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan
kekurangan nutrisi, atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indo- nesia, kasus KEP (Kurng Energi Protein) adalah salah satu ma- salah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita (Lusa, 2009).
b. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat esensial (Almatsier, 2005).
c. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan per- tumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada
tingkat setinggi mungkin
9. Nutritional status is a state body as a result of food consumption and utilization of nutrients. Distin- guished by poor nutritional status, poor nutrition, good nutrition and more. (William, 2010).
a. Malnutrition is a condition in which a person is declared a lack of nutri- ents, or by another expression nu- tritional status is below average standards. The Nutrients can be proteins, carbohydrates and calo- ries. In Indonesia, cases of PEM (Protein Energy Malnutrition) is one of the major nutritional problems that are often found in infants (Lusa, 2009).
b. Status of malnutrition occurs when the body has a deficiency of one or more essential substances (Almatsier, 2005).
c. Good nutritional status or optimal
nutritional status occurs when the body gets enough nutrients are used efficiently so as to enable physical growth, brain develop- ment, employability and general health at the highest level possible (Almatsier, 2005).
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
d. Gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan sehingga menimbulkan efek toksis atau
membahayakan (Almatsier,
2005). Kelebihan berat badan pada balita terjadi karena ketid- akmampuan antara energi yang masuk dengan keluar, terlalu banyak makan, terlalu sedikit
olahraga atau keduanya.
Kelebihan berat badan anak tidak boleh diturunkan, karena
penyusutan berat akan
sekaligus menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk per- tumbuhan (Arisman, 2007). 10. Pasangan usia subur Adalah pasan-
gan suami isteri yang isterinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun dan masih haid. Atau pasangan suami istri yang istrinya berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri sudah beru- mur 50 tahun tetapi masih haid. 11. Peserta KB adalah Adalah pasangan
usia subur yang suami/isterinya
sedang memakai atau
menggunakan salah satu alat/cara
d. Better nutrition occurs when the body gets the nutrients in excessive amounts giving rise to toxic or harmful effects (Almatsier, 2005). Being over- weight in young children due to the inability of with out energy intake, too much eating, too little sport or both. Being over- weight children should not be lowered, due to heavy deprecia- tion would at once eliminate nutrients required for growth (Arisman, 2007).
10. Eligible Couple age is the couple whose wife aged between 15 to 49 years and are still menstruating. Or married couples whose wives aged less than 15 years old and already menstruating or wife is 50 years old but are still menstruating.
11. Family planning participant is eligible/fertile couple whom are husband / wife was wearing or using any of the tools / modern
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
12. Akseptor adalah orang yang
menerima serta mengikuti
(pelaksanaan) program keluarga berencana.
13. Keluarga Sejahtera adalah keluar- ga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spir- itual dan materiil yang layak, ber- taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan ling- kungan (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2009). Tingkat kesejahteraan keluarga dikelompokkan menjadi 5 (lima) tahapan, yaitu:
a. Tahapan Keluarga Pra Se-
jahtera (KPS) Yaitu keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator ”kebutuhan dasar keluarga” .
b. Tahapan Keluarga Sejahtera I Yaitu keluarga mampu memen- uhi 6 (enam) indikator tahapan KS I, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 8 (delapan) indi- kator Keluarga Sejahtera II atau
indikator ”kebutuhan
12. Acceptors are those who accept and follow the (execution) of family planning programs
13. Family Welfare is the family that was formed based on a valid mar- riage, is able to meet the needs of the spiritual and the material that is decent, devoted to God Al- mighty, have a relationship that is harmonious and balanced between members and between families with the community and the envi- ronment (UURI Number 52 of 2009). The level of family welfare grouped into five (5) stages:
a. Pra Welfare is families who do not meet one of the six (6) indi- cator Prosperous Family (1st Welfare) or indicators "family basic needs" .
b. Stage 1st Welfare is able to meet the family of 6 (six) indica- tor welfare stages I, but does not meet any of the 8 (eight) indicators for Family Welfare II or indicator "psychological needs"
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
c. Tahapan Keluarga Sejahtera
II Yaitu keluarga yang mam-
pu memenuhi 6 (enam) indi- kator tahapan KS I dan 8 (delapan) indikator KS II, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 5 (lima) indikator Keluarga Sejahtera III (KS III), atau indikator ”kebutuhan pengembangan” dari keluar- ga.
d. Tahapan Keluarga Sejahtera
III Yaitu keluarga yang mam-
pu memenuhi 6 (enam) indi- kator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, dan 5 (lima) indikator KS III, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 2 (dua) indikator Keluarga Sejahtera III Plus (KS III Plus) atau indikator self esteem keluarga.
e. Tahapan Keluarga Sejahtera III Plus Yaitu keluarga yang mam- pu memenuhi keseluruhan dari 6 (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, 5
c. Stage 2nd Welfare is That fami- ly is able to meet the 6 (six) indicators 1st stages and 8 (eight) indicators 2nd stage , but did not meet one of five (5) indicators Family Welfare 3th (3th Stage), or the indicator develomental needs from the family.
d. Stage 3th Welfare is That fami- ly is able to meet the 6 (six) indicators stages 1st, 8 (eight) indicators 2nd, and 5 (five) indi- cators 3th, but did not meet one of the two (2) indicators of the Family Welfare 3th+ or indica- tors of self esteem family.
e. Stage 3th+ is That is able to meet the entire family of 6 (six) indicator welfare stage 1st, 8 (eight) indicators welfare stage 2nd, 5 (five) indicators welfare
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
14. 21 Indikator tahapan keluarga sejahtera
a. Enam Indikator tahapan
Keluarga Sejahtera I :
1. Pada umumnya anggota
keluarga makan dua kali sehari atau lebih
2. Anggota keluarga mem-
iliki pakaian yang ber- beda untuk di rumah,
bekerja/sekolah dan
bepergian.
3. Rumah yang ditempati
keluarga mempunyai
atap, lantai dan dinding yang baik.
4. Bila ada anggota keluar-
ga sakit dibawa ke sara- na kesehatan.
5. Bila pasangan usia subur
ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan kon- trasepsi.
6. Semua anak umur 7-15
tahun dalam keluarga bersekolah.
b. Delapan Indikator tahapan
Keluarga Sejahtera II :
14. 21 Indicators stages prosperous family
a. Six stages of Family Welfare Indicators I:
1. In general, family members ate twice a day or more
2. Family members have different clothes for home, work / school and travel- ing.
3. The house occupied by the family has a roof, floor and walls are good.
4. If any family member sick were taken to health facili- ties.
5. When couples of reproduc- tive age want to go to a means of family planning contraceptive services. 6. All children aged 7-15 years
in the family attend to school.
b. Eight stages of Family Welfare Indicators II:
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
1. Pada umumnya anggota keluarga
melaksanakan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
2. Paling kurang sekali seminggu se- luruh anggota keluarga makan dag- ing/ikan/telur.
3. Seluruh anggota keluarga mem- peroleh paling kurang satu stel pakaian baru dalam setahun. 4. Luas lantai rumah paling kurang 8
m2 untuk setiap penghuni rumah. 5. Tiga bulan terakhir keluarga dalam
keadaan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas/fungsi masing- masing.
6. Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk mem- peroleh penghasilan.
7. Seluruh anggota keluarga umur 10 - 60 tahun bisa baca tulisan latin. 8. Pasangan usia subur dengan anak
dua atau lebih menggunakan alat/ obat kontrasepsi.
c. Lima Indikator tahapan Keluar-
ga Sejahtera III :
1. Keluarga berupaya mening-
katkan pengetahuan agama.
1. In general, family members practice their religion in accordance with the religion and beliefs of each.
2. At least once a week the whole family to eat meat / fish / eggs.
3. All family members acquire at least one set of new clothes in a year.
4. The floor area of the house at least 8m2 for every household.
5. The last three months the family in a healthy state so that it can carry out the task / function of each.
6. There are one or more members who are working to earn income.
7. All family members aged 10-60
years could read Latin inscription. 8. Eligible/fertile family with two or
more children using the devices / drugs contraception.
c. Five stages of Family Welfare Indi- cators III :
1. Family attempt to increase reli- gious knowledge.
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
3. Kebiasaan keluarga makan bersama paling kurang sem- inggu sekali dimanfaatkan untuk berkomunikasi.
4. Keluarga ikut dalam
kegiatan masyarakat di ling- kungan tempat tinggal.
5. Keluarga memperoleh infor-
masi dari surat kabar/ majalah/ radio/tv/internet.
c. Dua Indikator tahapan Keluarga
Sejahtera III plus :
1. Keluarga secara teratur
dengan suka rela mem- berikan sumbangan materiil untuk kegiatan sosial.
2. Ada anggota keluarga yang
aktif sebagai pengurus
perkumpulan sosial/
yayasan/ institusi masyara- kat.
15. Karang Taruna adalah or-
ganisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengem- bangan generasi muda non- partisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari,
3. The habit of families eat to- gether at least once a week used to communicate.
4. Families participating in com- munity activities in the neigh- borhood.
5. Families gain information from newspapers / magazines / radio / tv / internet.
c. Two stages of Family Welfare Indicators III plus :
1. Families regularly volunteered to contribute material for social activities.
2. There is an active member of the family as a social gathering committee / foundation / public institutions.
15. Karang Taruna is a youth organi- zation in Indonesia. Youth is a youth development nonpartisan container, which grows on the basis of consciousness and a sense of social responsibility of
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
oleh dan untuk masyarakat khu- susnya generasi muda di wila- yah Desa / Kelurahan atau komunitas sosial sederajat,
yang terutama bergerak
dibidang kesejahteraan sosial.
16. Cacat Mental Eks Psikotik
Seseorang yang mengalami kedaaan kelainan jiwa yang disebabkan oleh faktor organik, biologis maupun fungsional yang mengakibatkan peru- bahan dalam alam pikiran akan perasaan dan alam perbuatan seseorang. (UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat)
17. Udara ambi-
enadalahudara sekitar kita di
lapisan troposfer yang apa
adanya yang sehari-hari kita
hirup. Dalam keadaan nor-
mal, udara ambien ini akan
terdiri dari gas nitrogen (78%), oksigen (20%), argon (0,93%) dan gas karbon dioksida
by and for the people especially the young generation in the region Village / Sub or equal social com- munity, which is mainly engaged in social welfare.
16. Disable Ex-psychotic is A person
who experiences a state of mental disorders caused by organic fac- tors, biological and functional results in a change in the minds of the feelings and the nature of one's actions. (UU No. 4 of 1997 on Persons with Disabilities)
17. Ambient air is the air around us in the troposphere that is what their everyday we breathe. Under nor- mal circumstances, the ambient air will be comprised of nitrogen gas (78%), oxygen (20%), argon (0.93%) and carbon dioxide (0.03%)
http
://w
on
osob
okab
.bps
.go.
id/
ULASAN