• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Penjualan Di bawah Tangan Harta Pailit PT Pulung Cooper Works Ltd (Dalam Pailit) dan PT Panen Djaja Abadi (Dalam

2.5. Penemuan dan Analisa Masalah

2.5.2. Studi Kasus Penjualan Di bawah Tangan Harta Pailit PT Pulung Cooper Works Ltd (Dalam Pailit) dan PT Panen Djaja Abadi (Dalam

Pailit)

Kasus ini bermulai dari permohonan pailit oleh PT Alcarindo Prima sebagai Pemohon Pailit dengan PT Pulung Cooper Works Ltd sebagai Termohon Pailit yang mana dalam putusannya Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor : 013/Pailit/2000/PN.NIAGA/JKT.PST tertanggal 15 Maret 2000 mengabulkan permohonan Pemohon seluruhnya. Adapun dasar dari permohonan pailit itu antara lain adanya utang yang jatuh waktu dan dapat ditagih tetapi belum dibayar oleh Termohon, adanya hutang termohon kepada kreditor lainnya. Dan putusan tersebut juga ditunjuk Sdr R. Joedijono, SH, Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas, dan ditunjuk Hj. Tutik Sri Suharti, sebagai Kurator. Putusan Kasasi No : 013/K/N/2000 tertanggal 9 Mei 2000 dari Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang memutuskan menolak permohonan kasasi oleh PT Pulung Cooper Works Ltd.

Kurator pada tanggal 23 Maret 2000 melakukan pengumuman isi putusan pailit dalam Berita Negara Republik Indonesia dan undangan rapat kreditur pertama di dua (2) surat kabar harian yaitu Bisnis Indonesia dan Media Indonesia. Kemudian Kurator melakukan pengumpulan aset PT Pulung Cooper Works Ltd, yang mana akan dilakukan lelang untuk memenuhi ketentuan UUK. Sebelum melakukan lelang eksekusi harta pailit maka Kurator melakukan penilaian atas harta pailit, yang dilakukan dengan penilai independen. Nilai dari harta pailit tersebut akan dijadikan nilai Harga Limit untuk barang yang akan dilelang.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Kurator adalah melakukan permohonan lelang kepada kantor lelang , salinan / fotokopi Putusan Pailit, salinan / fotokopi Penunjukkan dari Hakim Pengawas kepada Kurator, daftar harta pailit yang akan dilelang, bukti kepemilikan / hak, Surat Keterangan Tanah, Bukti Pengumuman Lelang, dan Harga Limit barang yang akan dilelang yang diserahkan sebelum pelaksanaan lelang.

Dalam pelaksanaan lelang dilakukan dengan penawaran lisan dengan semakin meningkat. Pada lelang tersebut yang terjual hanya barang-barang tetap saja (tanah dan bangunan). Khusus untuk barang bergerak tidak ada seorangpun yang mengajukan penawaran. Hal ini terlihat pada Salinan Risalah Lelang Nomor 307/2001 tertanggal 11 Juli 2001, yang dilakukan dihadapan Pejabat Lelang Kelas I Kantor Lelang Negara Jakarta II. Untuk barang bergerak, dikarenakan harta pailit tersebut belum juga terjual karena tidak ada seorang / pihak manapun yang mengajukan penawaran, maka Kurator melakukan permohonan untuk menjual barang bergerak tersebut secara di bawah tangan. Dalam beberapa kali wawancara dengan beberapa Kurator, pada dasarnya mereka tidak setuju dengan istilah ”penjualan di bawah tangan”, mereka lebih setuju dengan istilah ”penunjukan langsung”. Dalam hal ini penulis tetap menggunakan istilah penjualan di bawah tangan karena sesuai dengan bunyi pasal 185 ayat (2) UUK.

Dalam hal melakukan penjualan di bawah tangan atas harta pailit, maka Kurator dalam hal ini meminta izin terlebih dahulu kepada Hakim Pengawas, serta dengan persetujuan para Kreditur. Dalam menentukan harga penjualan di bawah tangan tersebut, Kurator menentukannya berdasarkan pada penilaian dari

penilai independen21. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari tuntutan dibelakang hari oleh dan dari pihak manapun. Sebelum melakukan penjualan di bawah tangan maka Kurator harus bersungguh-sungguh berusaha melakukan penjualan secara lelang secara maksimal terlebih dahulu, yang mana dilakukan adalah sama dengan pembahasan penulis pada sub bab di atas yaitu pembahasan mengenai prosedur lelang.

Pada kasus ini Kurator melakukan penjualan di bawah tangan adalah berdasarkan Penetapan Nomor 013/Pailit/2000/PN.Niaga.Jkt.Pst tertanggal 4 Nopember 2003. yang dasar pertimbangan penetapannya antara lain adalah :  Menimbang bahwa sesuai dengan surat Kurator PT Pulung Cooper Works Ltd

(dalam pailit) tanggal 07 Oktober 2003 No.589/PWC/TSS/KP/X/03 perihal Permohonan Penetapan Penjualan Dibawah Tangan Aset PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) dan harta pailit yang dimohonkan Kurator untuk dijual dibawah tangan adalah Aset PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit), Jl. Kedung Halang Talang, Bogor, Jawa Barat dengan penawaran tertinggi sebesar Rp 17.000.000.000,- (tujuh belas milyar rupiah);

 Menimbang bahwa harta pailit sebagaimana tersebut di atas menurut Kurator dalam suratnya akan dijual dengan penawaran tertinggi sesuai dengan Surat Penawaran atas saham PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) dari PT Sutrakabel Intimandiri tanggal 25 Agustus 2003;

 Menimbang, sehubungan dengan hal tersebut di atas maka berdasarkan Pasal 171 ayat (1) Perpu No 4 Tahun 1998 yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan Kurator boleh menjual harta pailit dengan cara dibawah tangan dengan seizin Hakim Pengawas, hal mana telah pula mendapat persetujuan 8 (delapan) kreditur dari 15 (lima belas) kreditur PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) dengan tetap berpedoman pada nilai barang yang sudah disetujui oleh kreditur sebagaimana tersebut diatas;

 Menimbang bahwa dalam melaksanakan tugas pengurusan dan atau pemberesan bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit sebagaimana dimaksud Pasal 76

C ayat (1) Perpu No 4 Tahun 1998 yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan, sehingga walaupun Kurator telah mendapat ijin untuk melakukan penjualan harta pailit sebagaimana tersebut diatas dari Hakim Pengawas (seperti halnya ijin lainnya yang dikeluarkan oleh instansi/pejabat yang berwenang yang dalam pelaksanaannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang memegang ijin) tidak berarti bahwa Kurator dapat mengalihkan tanggung jawabnya kepada Hakim Pengawas;

 Menimbang, bahwa dengan mengambil alih pertimbangan hukum-pertimbangan hukum sebagaimana tersebut di atas maka adalah sah menurut hukum bagai Hakim Pengawas untuk mengabulkan Permohonan Kurator guna melakukan penjualan harta pailit dengan jenis dan harga sebagaimana tersebut dalam suratnya No. 589/PWC/TSS/KP/X/03 tanggal 07 Oktober 2003 dengan syarat tidak boleh lebih rendah dari pada harga yang telah disepakati bersama oleh Para Kreditur sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Persetujuan Penjualan Dibawah Tangan Aset PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) tanggal 16 September 2003;

 Memperhatikan pasal 76 C jis pasal 70 jis pasal 171 ayat (1) Perpu No 4 Tahun 1998 yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang No 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan dan ketentuan-ketentuan lain yang bersangkutan;

Maka Hakim Pengawas menetapkan :

 Mengabulkan permohonan Kurator PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) Ny Hj. Tutik Sri Suharti, SH;

 Memberikan ijin kepada Kurator untuk menjual di bawah tangan harta pailit PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) yaitu Aset milik PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) yang belum laku terjual, berlokasi di Pabrik PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit) di Kedung Halang Talang, Bogor, Jawa Barat . Dengan syarat tidak boleh rendah dari harga penawaran tertinggi yang telah ditawarkan oleh PT Sutrakabel Intimandiri pada Kurator, dan telah pula disetujui oleh sebagian besar Kreditur yang hadir dalam rapat tanggal 16 September 2003.

Berdasarkan penetapan tersebut maka Kurator mencari pembeli dengan harga minimal sama dengan harga yang ditawarkan oleh PT Sutrakabel Intimandiri. Pada akhirnya Kurator mendapatkan pembeli (PT Sutrakabel Intimandiri), maka pada tanggal 27 April 2004 dilakukan pembuatan Akta Jual-Beli antara Kurator dengan Pembeli yang dibuat dihadapan Dwi Swandiani, Notaris di Bogor.

Di samping kasus tersebut di atas, maka penulis mendapatkan contoh kasus penjualan di bawah tangan untuk barang tidak bergerak, yaitu Putusan Nomor 24/Pailit.2006/PN.NIAGA.JKT.PST tertanggal 26 Juni 2006 atas permohonan pailit PT Panen Djaja Abadi, berkedudukan di Jakarta. Adapun dasar pertimbangan permohonan pailit diri sendiri PT Panen Djaja Abadi adalah :  Pemohon sejak Oktober 2003 sudah tidak beroperasi lagi dan semua karyawan

sudah tidak dipekerjakan;

 Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa menyatakan bahwa para pemegang saham menyepakati untuk dinyatakan pailit secara sukarela;

 Pemohon mempunyai hutang yang telah jatuh tempo;  Pemohon mempunyai dua (2) atau lebih kreditur;

 Pemohon tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Dan putusan tersebut mengabulkan Permohonan pailit PT Panen Djaja Abadi, juga ditunjuk Sdr Agus Subroto, SH, M.Hum, Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas, dan ditunjuk Sdr Sukran Abdul Gani, SH, sebagai Kurator.

Sebelum kepailitan PT Panen Djaja Abadi, kreditur (dalam hal ini kreditur separatis – pemegang hak tanggungan) telah berusaha menjual sendiri secara lelang namun tidak ada seorang pun yang melakukan penawaran ("TAP") dan dibatalkan karena pesertanya 1 (satu) orang. Setelah keputusan pailit maka Kurator melakukan pengumuman di koran Seputar Indonesia dan Investor Daily pada tanggal 18 Desember 2006 dan tanggal 3 Januari 2007 untuk acara pelelangan di Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) (sekarang KPKNL) Jakarta III pada tanggal 18 Januari 2007 dan pada tanggal 25 Januari

2007 diharian Seputar Indonesia dan Ekonomi Neraca, akan tetapi peminat atas aset tersebut tidak ada. Oleh karena hal tersebut Kurator bermaksud melakukan penjualan atas aset PT Panen Djaja Abadi (Dalam Pailit) dengan cara penunjukan langsung (Notariil Akta) kepada pembeli potensial yang bersedia melakukan transaksi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bahwa untuk objektivitas harga aset yang akan dijual, maka patokan harga jual oleh Kurator, tidak boleh lebih rendah dari nilai yang telah diberikan oleh Jurutaksir/appraisal yang terakhir. Dan setelah dilakukan penjualan harus melaporkan kepada Hakim Pengawas. Untuk itu Kurator meminta penetapan kepada Hakim Pengawas, dan Hakim Pengawas menerbitkan Penetapan Nomor 03.PK/N/2007 Jo No. 24/PAILIT/2006/ PN. NIAGA.JKT.PST tertanggal 21 Agustus 2008 yang pertimbangan penetapannya antara lain :

 Surat dari Sukran Abdul Gani , SH, Kurator dari PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit), tanggal 12 Agustus 2008 No 16/SAG/PDJA-P/VIII/08, yang pada pokoknya memohon dapat menerbitkan Penetapan Izin untuk menjual dengan penunjukan langsung (Notariil Akta) atas asset PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit), berupa tanah seluas 9.840 M2 yang terletak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang terdiri dari 3 (tiga) sertifikat, yaitu :

1. Tanah seluas 9.112 M2 dengan SHGB No 31 a/n Perseroan Terbatas PT Panen Djaja Abadi, di Jalan Pasar Minggu, Kel. Pejaten, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan;

2. Tanah seluas 103 M2 dengan SHGB No 485 a/n Perseroan Terbatas PT Panen Djaja Abadi, di Jalan Kamp. Pejaten Barat RT 003/RW 03, Kel. Pejaten Barat, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan;

3. Tanah seluas 625 M2 dengan SHM No 1716 a/n Eka Putranto, di Jalan Kamp. Pejaten Barat RT 003/RW 03, No 36, Kel. Pejaten Barat, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

 Menimbang bahwa terhadap asset diatas, sebelum Kepailitan PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit) di batalkan oleh Mahkamah Agung RI berdasarkan Putusan Kasasi Nomor 022K/N/2006 tanggal 30 Agustus 2006 (penyampaian Putusan Kasasi pada tanggal 03 Januari 2007), Kurator telah melakukan pengumuman di Koran Seputar Indonesia dan Investor Daily edisi 18 Desember 2006 dan edisi 3 Januari 2007 untuk acara pelelangan di Kantor

Pelayanan Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) (sekarang KPKNL) Jakarta III pada tanggal 18 Januari 2007 dan pada tanggal 25 Januari 2007 di harian Seputar Indonesia dan Ekonomi Neraca, akan tetapi peminat atas asset tersebut tidak ada, dan kemudian pada saat asset tersebut di kuasai kembali oleh Kreditor PT Bank Mandiri, Tbk (Persero) selaku pemegang jaminan, Kreditur PT Bank Mandiri, Tbk (Persero) tersebut tidak mampu melelangnya sampai terbitnya Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung RI Nomor 03PK/N/2007 tanggal 12 Juni 2007;

 Menimbang, bahwa oleh karenanya Kurator bermaksud melakukan penjualan atas asset PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit) dengan cara penunjukan langsung (Notariil Akta) kepada pembeli potensial yang bersedia melakukan transaksi dalam waktu yang tidak terlalu lama;

 Menimbang bahwa proses Kepailitan PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit) pada saat ini telah memasuki tahap pemberesan/penjualan asset, dimana asset PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit) yang ada hanya asset yang dijaminkan kepada Kreditor PT Bank Mandiri, Tbk (Persero) tersebut;

 Menimbang bahwa objectivitas harga asset yang akan dijual, maka patokan harga jual oleh Kurator, tidak boleh lebih rendah dari nilai yang telah diberikan oleh Jurutaksir/appraisal yang terakhir;

 Menimbang, bahwa segala biaya yang timbul dalam rangka pelaksanaan penjualan tersebut diambil dari penjualan harta pailit;

 Mengingat akan pasal-pasal dari undang-undang yang bersangkutan terutama pasal 185 ayat (2) Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang No 37 Tahun 2004;

Maka Hakim Pengawas menetapkan :

 Mengabulkan permohonan Sukran Abdul Gani, SH, Kurator PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit);

 Memberi izin bagi Kurator untuk menjual dengan penunjukan langsung (Notariil Akta) atas aset PT Panen Djaja Abadi (dalam pailit), berupa tanah seluas 9.840 M2 yang terletak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang terdiri dari 3 (tiga) sertifikat, yaitu :

1. Tanah seluas 9.112 M2 dengan SHGB No 31 a/n Perseroan Terbatas PT Panen Djaja Abadi, di Jalan Pasar Minggu, Kel. Pejaten, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan;

2. Tanah seluas 103 M2 dengan SHGB No 485 a/n Perseroan Terbatas PT Panen Djaja Abadi, di Jalan Kamp. Pejaten Barat RT 003/RW 03, Kel. Pejaten Barat, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan;

3. Tanah seluas 625 M2 dengan SHM No 1716 a/n Eka Putranto, di Jalan Kamp. Pejaten Barat RT 003/RW 03, No 36, Kel. Pejaten Barat, Kec. Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

 Membebankan segala biaya untuk keperluan tersebut dibebankan pada Harta Pailit;

 Menentukan harga jual tidak boleh kurang dari harga taksiran appraisal terakhir yang ada dan setelah penjualan selesai dilakukan, agar melaporkan kepada Hakim Pengawas.

Pada tanggal 1 Desember 2008 Kurator berhasil menjual aset PT Panen Djaja Abadi dengan melakukan Perjanjian Pengikatan Jual Beli dan Kuasa, yang dibuat dihadapan Indrasari K. Gunadharma, SH, MKn, Notaris di Jakarta.

Dalam pembahasan penjualan di bawah tangan (atau penunjukan langsung) kedua perusahaan di atas akan terlihat bahwa Hakim Pengawas dalam penetapannya akan mengabulkan jika (harus) ada permohonan dari Kurator yang mana Kurator dalam surat permohonannya harus menjelaskan kenapa dilakukan penjualan di bawah tangan (penunjukan langsung). Dari hasil wawancara penulis dengan para Kurator tersebut22 dapat disimpulkan bahwa penjualan di bawah tangan diperlukan karena untuk mempercepat penjualan dengan pertimbangan harga yang semakin menurun (adanya penyusutan) dan biaya pemeliharaan yang semakin besar, serta kondisi daya beli masyarakat (situasi ekonomi). Disamping itu harus ada penilaian atas aset harta pailit (yang belum terjual) dari perusahaan penilai yang independen sehingga didapat harga yang wajar. Pada kasus PT Pulung Cooper Works Ltd (dalam pailit), Hakim Pengawas dalam menetapkan untuk penjualan di bawah tangan (penunjukan langsung) harga penjualan tidak boleh lebih rendah dari pada harga yang telah sepakati besama oleh para Kreditur.

22Hasil wawancara dengan DR Tutik Sri Suharti, SH, MH,dan Sukran Abdul Gani, SH, serta Firoz Gaffar, SH, MH Kurator di Jakarta.

Sedangkan pada kasus PT Panen Djaja Abadi, Hakim Pengawas dalam menetapkan untuk penjualan di bawah tangan harga penjualan tidak boleh lebih rendah dari nilai yang telah diberikan oleh Jurutaksir/appraisal yang terakhir. Jadi penetapan Hakim Pengawas antara satu perusahaan dengan perusahaan pailit yang lain bisa jadi berbeda (tidak ada suatu kriteria yang seragam).

Dokumen terkait