BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Penjualan Tenaga Listrik
Pertumbuhan penjualan tenaga listrik mulai pulih dari dampak krisis keuangan global pada tahun 2010. Sejak tahun 2012, PLN sangat aktif dalam penyambungan pelanggan yang berkisar 3,5 juta pelanggan pertahun dengan tujuan menyelesaikan daftar tunggu pelanggan.
Penjualan tenaga listrik untuk daerah Sumatera terbilang jauh tumbuh tinggi, yaitu rata rata 9,4% per tahunnya. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata- rata 5,2% per tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis daya yang kronis di banyak daerah dan pada tahun 2010 krisis daya tersebut diatasi dengan melakukan sewa pembangkit.
Diperkirakan pertumbuhan penjualan tenaga listrik di Sumatera akan terus meningkat karena daftar tunggu yang masih tinggi dan akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang akan terus ditingkatkan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian Skripsidilakukan dengan mengambil data di P3B PLN Regional Sumatera dan RUPTL PLN.
3.2 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mengambil data dari P3B PLN Regional Sumatera dan RUPTL PLN, diambil sedemikian rupa, mendapatkan besaran BPP dan membandingkannya dengan TDL saat ini dan melakukan strategi menurunkan biaya pokok produksi guna dalam usaha menurunkan tarif dasar listrik.
3.3 Variabel yang Diamati
Variabel-variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi:
• Sistem kelistrikan Sumatera tahun 2016 s.d 2018
• Kapasitas terpasang sistem kelistrikan Sumatera tahun 2017- 2018
• Tarif dasar listrik yang dibebankan kepada pelanggan tahun 2016 s.d 2018
• Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkit di Sumatera tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d 2018
3.4 Prosedur Penelitian
Gambar 3.1Flowchart Prosedur Penelitian MULAI
Mendapatkan data besaran nilai BPP
Mendapatkan data pembangkit terpasang dan bauran energinya
Menganalisa biaya pengeluaran tahunan
Menarik Kesimpulan Melakukan perbandingan penggunaan bauran energi setiap
provinsinya
SELESAI
Berdasarkan flowchart prosedur penelitian, langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan data besaran nilai BPP
Dalam penelitian ini, hal utama yang dicari adalah besaran nilai BPP di Sumatera yang bersifat non uniform atau tidak seragam besarannya di setiap Provinsi. Untuk memaksimalkan penelitian BPP yang digunakan adalah BPP tahun 2016 s.d. 2017 dan 2017 s.d. 2018.
2. Mendapatkan data pembangkit terpasang dan bauran energinya.
Dalam bagian ini kita mencari data pembangkit terpasang dan sudah berkerja di setiap pembangkit di Regional Sumatera. Juga bauran energinya, seperti jenis pembangkit dan bahan bakar yang digunakan untuk beroperasi.
3. Melakukan perbandingan penggunaan bauran energi
Di bagian ini, dengan metode komparatif kita membandingkan penggunaan bauran energi di setiap Provinsi di Sumatera dan menganalisa pengaruhnya terhadap besaran nilai BPP yang non uniform
4. Melakukan analisa pengeluaran tahunan
Analisa ini dilakukan karena menggunakan BPP di 2 tahunan yang berbeda, yaitu 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Maka kita mencari pengeluaran dana dalam bentuk tahunan. Untuk membandingkan perbedaan besaran nilai BPP di dua tahun yang berbeda.
5. Menarik Kesimpulan
Dari penelitian diatas, dengan metode komparatif membandingkan Provinsi dengan BPP yang nilainya lebih mahal dan yang lebih murah kita menarik kesimpulan bahwasanya penggunaan pembangkit listrik dengan menggunakan EBT dan pembangkit non- minyak dapat memberikan BPP yang murah, yang nantinya dengan BPP yang murah semakin tahun maka pengeluaran biaya tahunan yang dihasilkan akan semakin lebih murah.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 UMUM.
Inilah Peta kelistrikan Sumatera sampai tahun 2018 beserta load flow, daya mampu dan beban puncak pada Sub sistem Sumbagut dan Sumbagselteng.
Di setiap Provinsi dan Subsistemnya memiliki berbagai jenis pembangkit tenaga listrik yang berbeda- beda sesuai dengan bauran bahan bakarnya(Fuel Mix). Untuk Sub Sistem Sumbagut bauran energi yang paling besar digunakan
Gambar 4.1. Sistem kelistrikan Sumatera Sampai dengan 2018
adalah minyak, batu bara dan gas. Seperti yang ditunjukkan pada tabel dan diagram dibawah.
Gambar 4.2 Bauran Bahan Bakar Kelistrikan Sistem Sumbagut
Gambar 4.3 Bauran Bahan Bakar Kelistrikan Sistem Sumbagselteng
Dan untuk Sub Sistem Sumbagselteng bauran energi terbanyak digunakan adalah batu bara dan gas. Hal ini didukung oleh adanya salah satu tambang batu bara terbesar di Sumatera Selatan.
Maka dari itu dapat diketahui pasti biaya pokok pembangkit di setiap Provinsi dan subsistem Regional Sumatera berbeda, tentu saja BPP pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak lebih mahal daripada pembangkit yang menggunakan bahan bakar air karena aspek daripada Biaya Bahan Bakar yang didapat dari pembangkit EBT dapat dengan mudah diperbaharui. Aspek lain yang menentukan perbedaan harga BPP antara lain adalah:
1. Biaya Investasi.
2. Biaya Pemeliharaan & Plumas.
3. Biaya Bahan Bakar.
4. Biaya Pegawai.
5. Biaya Pendukung
Karena berbedanya harga BPP ini maka dilakukanlah studi non uniform biaya pokok pembangkit (BPP) pembangkit terhadap tarif listrik Regional Sumatera. Ada juga beberapa faktor lain dalam penentuan TDL oleh pemerintah yaitu indikator pasar Hal ini ada 3 yaitu:
1. Harga Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika.
2. Harga minyak mentah dunia atau ICP (Indonesia Crude Price) 3. Inflasi yang terjadi di Indonesia
4.2 Kapasitas Terpasang di Regional Sumatera
Regional Sumbagut:
4.2.1 Sumatera Utara
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Utara
Table 4.1 Kapasitas Terpasangan Provinsi Sumatera Utara
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTGU PLTU
19 PLTU Labuhan Angin
(1&2) 230
Sumber data: PLN dan telah diolah
Gambar 4.4 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan.Bakar di Prov.
Sumatera Utara
4.2.2 Aceh
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Aceh
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
Tabe4.2 Kapasitas Terpasang Prov. Aceh
20 (3,
Gambar 4.5 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Aceh
Regional Sumbagelteng
4.2.3 Sumatera Barat
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Barat
Table 4.3 Kapasitas Terpasang Prov Sumatera Barat
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
Gambar 4.6 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov.
Sumatera Barat
4.2.4 Jambi
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Jambi
Table 4.4 Kapasitas terpasang Prov Jambi
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
Gambar 4.7 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov.
4.2.5 Riau
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Jambi
Table 4.5 Kapastias Terpasang Prov. Riau
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
8 Perawang Mill (Unit
4-11) 755
Total EBT dan Bahan
Bakar 114 1448
Total Keseluruhan 1562
Gambar 4.8 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Riau
4.2.6 Lampung
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Lampung
Tabel 4.6 Kapastias terpasang Prov. Lampung
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
Total EBT dan Bahan
Bakar 359.2 561.1
Total Keseluruhan 920.3
Sumber data: PLN dan telah diolah
359.2
Gambar 4.9 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Lampung
4.2.7 Bangka Belitung
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Bangka Belitung.
Table 4.7 Kapastias Terpasang Prov. Bangka Belitung
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
Total EBT dan Bahan
Bakar 6 237.74
Gambar 4.10 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Bangka Belitung
4.2.8 Sumatera Selatan
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Selatan
Table 4.8 Kapastias Terpasang Prov. Sumatera Selatan
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
Total EBT dan Bahan
Bakar 0 2264.85
Total Keseluruhan 2264.85
Sumber data: PLN dan telah diolah
4.2.9 Bengkulu
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Bengkulu
Table 4.9 Kapasitas Terpasang Prov. Bengkulu
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
1 Musi 6
2 Tes 1 42.3
Total 48.3
Total EBT dan Bahan
Bakar 48.3 0
Total Keseluruhan 48.3
Sumbe data: PLN dan telah diolah
0
Gambar 4.11 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Sumatera Selatan
Gambar 4.12 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Bengkukulu.
4.3 Perbandingan Biaya Pokok Pembangkit (BPP) 2016 vs 2017
Dalam bab pembahasan ini dicarilah rata rata harga BPP di Regional Sumbagut dan Sumbagselteng. Juga BPP keseluruh Regional Sumatera
Tabel 4. 10Biaya Pokok Pembangkit 2016 vs 2017
No Wilayah/ Sistem/ Subsistem BPP
2016 2017
5 Sub Sistem Kepulauan Lainnya 2,096 2,677
Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1,691 1914
RATA- RATA BPP SUMATERA 1,678 1,772
Sumber data: PLN dan telah diolah
Pada tabel 4.4dapat diketahui harga BPP yang paling murah adalah pada wilayah Lampung yaitu Rp. 1034 di tahun 2016 dan kembali menurun Rp. 936 di tahun 207. Hal ini disebabkan wilayah Provinsi Lampung banyak menggunakan banyak pembangkit listrik yang EBT :
1. PLTA Besai : 2 x 45 MW 2. PLTA Batutegi : 2 x 17,5 MW 3. PLTA Tegineneng : 3 x 5 MW 4. PLTP Ulubelu : 2 x 55 MW 5. PLTP Bandar Lampung : 2x 55 MW 6. PLTU Tarahan : 2 x 100 MW 7. PLTU Sebalang : 2 x 115 MW
Karena pembangkit listrik yang digunakan memanfaatkan EBT, maka berpengaruhkepada harga BPP dimana aspek biaya bahan bakar dapat dimininalkan.. Pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak atau batubara biasanya memiliki harga BPP yang lebih mahal karena terpengaruh harga minyak dan batu bara dunia .
Harga BPP yang termahal menurut tebel 4.3 terdapat pada bagian kepulauan di sekitar Sumatera, seperti :Bangka, Pulau Nias, Pulau Enggano, Pulau Anambas dan sub sistem kepulauan lainnya. Hal ini disebabkan karena sulit dijangkau dan jenis pembangkit yang beroperasi disana kebanyakan masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sebagai contoh Pulau Nias tenaga listrik disana ditopang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Gunung
Sitoli dan PLTD Teluk Dalam yang total menghasilkan 33,15 Mw. Kepulauan Anambas dan Enggano juga menggunakan PLTD yang dipasok PLN.
Provinsi Lampung dan Provinsi Bangka menjadi bukti, bahwa daerah yang menggunakan banyak pembangkit EBT memiliki biaya pokok produksi yang lebih murah jika dibandingkan dengan daerah yang menggunakan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fossil. Hal ini menjadi salah satu alasan dari ketidak seragamannya BPP yang ada di setiap provinsi di Sumatera.
4.4 TARIF LISTRIK DI INDONESIA 2016- 2018 4.4.1 TARIF LISTRIK TAHUN 2016
Berikut tabel data tarif dasar listrik golongan rumah tangga tahun 2016 Tabel 4.11 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun 2016
NO GOL Sumber data PLN dan telah diolah
4.4.2 TARIF LISTRIK TAHUN 2017
Berikut tabel data tarif dasar l listrik golongan rumah tangga tahun 2017 Tabel 4.12 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun 2017
NO GOL
Sumber data PLN dan telah diolah
4.4.3 TARIF LISTRIK TAHUN 2018
Berikut tabel data tarif dasar listrik golongan rumah tangga tahun 2018 Tabel 4.13 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun
NO GOL Sumber data PLN dan telah diolah
Seperti data tabel yang dilampirkan diatas, dapat dilihat harga tarif dasar listrik golongan rumah tangga berubah ubah di setiap tahunnya kecuali pada tahun 2017 dan 2018 yang belum ada perubahan, tetap di angka Rp. 1.467, 28. Kenaikan yang paling drastis terjadi pada tahun 2015. Pada saat itu ada pemerintah harus membuat penyesuaian tarif harga listrik golongan rumah tangga karena mengacu pada 3 indikator pasar yang mempengaruhi harga BPP listrik yaitu, kurs Rupiah terhadap dollar AS, harga minyak mentah Indonesia atau disebut dengan ICP (Indonesia Crude Price) dan inflasi yang terjadi di Negara kita.
Di tahun 2016 harga tarif tenaga listrik menurun, dari Rp. 1.509,38 menjadi Rp.1.364,86. Hal ini disebabkan karena pada bulan desember 2015, ICP mengalami penurunan harga dari sebelumnya US$ 41,44 per barrel menjadi US$
35,47 per barrel. Serta alasan lain adalah nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika pada desember 2015 mengalami pelemahan dari sebelumnya Rp.
13.673 menjadi Rp. 13.855 per dollar Amerika.
Dan di tahun 2017 terjadi lagi penyesuaian harga tarif listrik yang mengakibatkan kenaikan dari Rp 1.34,86 menjadi 1.467,28 rupiah. Dari pasang surut tarif tenaga listrik di Indonesia, dicarilah rata ratanya selama 5 tahun dan didapat.
4.4.4 RATA- RATA TARIF LISTRIK DALAM 3 TAHUN
Dari data tarif listrik tahun 2016- 2018 diambillah rata- rata harga tarif dasar listrik selama 3 tahun dan disajikan dalam tabel dibawah ini
Tabel 4.14 Rata- rata harga tarif dasar listrik selama 5 tahun
NO
GOL
TARIF BATAS DAYA
TAHUN & BIAYA PEMAKAIAN 2016 2017 2018 Sumber data PLN dan telah diolah
Rata- rata harga tarif dasar listrik dalam 3 tahun terakhir menurut tabel 4.14 adalah Rp. 1433,14. Sedangkan harga rata- rata BPP Sumatera menurut tabel 4.10 adalah Rp. 1.678 di tahun 2016 s.d 2017 dan meningkat menjadi Rp. 1.772 di tahun 2017 s.d. 2018.
4.4.5 PERBANDINGAN RATA- RATA BPP SUMATERA 2016 DAN TDL Dibawah disajikan perbandingan rata- rata BPP di Sumatera tahun 2016 dan tarif dasar listrik di Indonesia, terlihat harga BPP di tahun 2016 lebih mahal dibandingan dengan TDL
Table 4.15 Perbandingan BPP Sumatera 2016 vs TDL
Sumber data: PLN dan telah diolah
No. BIAYA POKOK PRODUKSI 2016 TDL
1 Rata- Rata BPP SUMBAGUT 1,643 1433,14 2 Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1,691 1433,14 3 RATA- RATA BPP SUMATERA 1,678 1433,14
4.4.6 PERBANDINGAN RATA- RATA BPP SUMATERA 2017 DAN TDL Dibawah disajikan perbandingan rata- rata BPP di Sumatera tahun 2016 dan tarif dasar listrik di Indonesia, terlihat harga BPP di tahun 2016 lebih mahal dibandingan dengan TDL
Table 4.15 Perbandingan BPP Sumatera 2016 vs TDL
Sumber data: PLN dan telah diolah
Menurut table 4.14 dan 4.15 dapat disimpulkan bahwa harga biaya pokok produksi lebih besar dibandingkan dengan harga tarif dasar listrik, dalam usaha untuk menekan harga tarif dasar listrik di tahun tahun berikutnya, haruslah dengan usaha menurunkan harga BPP terlebih dahulu untuk mencapai keekonomian tarif dasar listrik, dimana harga produksi nantinya dapat lebih murah dibandingkan harga tarif listrik. Maka dari itu, dibuatlah strategi dan rencana ke depannya untuk menurunkan harga biaya pokok produksi pembangkitan yang dibahas di subbab selanjutnya
4.5 Strategi Menurunkan Harga Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkit.
Guna mendukung upaya penurunan biaya pokok produksi (BPP) Sistim Kelistrikan Regional Sumatera lebih rendah lagi, PT Perusahaan Listik Negara (PLN) harus terus mencari peluang agar BPP Pembangkit di Pusat Listrik
No. BIAYA POKOK PRODUKSI 2017 TDL
1 Rata- Rata BPP SUMBAGUT 1,779 1433,14 2 Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1914 1433,14 3 RATA- RATA BPP SUMATERA 1,772 1433,14
Belawan bisa lebih efisien. Salah satu usaha yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi sistem Produksi, Distribusi dan Konsumsi.
1. Produksi:
a) Menekan bauran pembangkit listrik tenaga diesel atau dengan kata lain mengurangi pemakaian pembangkit yang berbahan bakar minyak dan tidak memperbanyak atau membangun lagi pembangkit listrik dengan energi primer yang menggunakan bahan bakar minyak yang baru .
b) Meningkatkan penggunaan gas bumi, bentuk realisasi dari RUPTL 2017- 2026 Indonesia akan mengalami penambahan kapastitas PLTG atau PLTMG fakta menyatakan di sistem kelistrikan Sumatera dimana pada tahun awal 2017 pemanfaatan gas bumi meningkat dari 95 mmscfd ke 197 mmscfd di penutupan tahun 2017 setelah Pembangkit MPP Paya Pasir (75 MW) serta PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) GT 1,2 Belawan beroperasi dengan gas, dan di tahun 2018 Pada tahun 2018 pemanfaatan gas juga akan naik menjadi 197mmscfd seiring dengan beroperasinya MVPP (Marine Vessel Power Plant) 240 MW dengan Bahan Bakar Gas juga.
c) Menggunakan alternative pembangkitan tenaga listrik seperti panel surya, PLT mikrohidro atau bahan alternative lainnya sesuai dengan potensi alam di daerah tersebut.
2. Distribusi
a) Meningkatkan kualitas jaringan distribusi tenaga listrik seperti memperbaharui tiang listrik, kabel dan komponennya yang sudah rusak, pemeliharaan gardu, trafi daya dan trafo distribusi serta
meminimalkan gangguan yang dapat terjadi seperti ranting pohon dan sebagainya
b) Mempercepat pembangunan tol listrik 275 kV dan 500 kV yang direncanakan akan dibangun sepanjang 19.000 km. Tol listrik sepanjang itu dibutuhkan untuk mengaliri pasokan energi terutama dari pembangkit besar yang mayoritas banyak terdapat di Sumatera Selatan (Sumsel) ke Sumatera bagian utara yang memiliki konsumsi listrik cukup tinggi. Hal ini juga berkenaan dengan menekan biaya produksi dimana Sumatera Selatan memiliki tambang batu bara yang besar, jadi pembangkit listrik berskala besar besar dapat dibangun di Sumatera Selatan dan daya listriknya dapat dikirim ke Sumatera Utara melalui tol listrik.
c) Mengurangi losses atau penyusutan daya.
3. Konsumen:
a) Menggunakan token listrik, agar konsumen lebih mawas diri dalam penggunaan daya listrik atau tidak boros.
b) Edukasi kepada masyarakat dalam penggunaan daya listrik dan saling menjaga aset listrik yang sudah dibangun untuk menjamin kontinuitas pelayanan listrik.
Dengan usaha dan perencanaan diatas, diharapkan PT. PLN dapat menurunkan biaya pokok produksi pembangkit tenaga listrik di Regional Sumatera sehingga biaya tarif dasar listrik juga serta merta menurun dan tidak membebankan masyarakat. Bahkan diperkirakan untuk pelanggan subsidi 450 VA dapat terbebas dari biaya listrik.Harga listrik yang murah meningkatkan minat
investor untuk datang ke Indonesia dan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga usaha Indonesia dalam pembangunan listrik 35.000 MW yang masih terkendala di Indonesia dapat segera diselesaikan
4.6 Perhitungan dan analisa biaya tahunan terhadap BPP 2016 dan 2017.
4.6.1 Sumbagut a. Aceh
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan, biaya tahunan tersebut dicari seperti rumus dibawah dan dibandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018 dengan rumus
(P x BPP 2016 x 8760) : (P x BPP 2017 x 8760)
P = besaran tenaga listrik (MW) 8760 = jam dalam setahun (365x 24)
Tabel 4.16 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Aceh
Sumber data PLN dan telah diolah No
Gambar 4.13 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Aceh
b. Sumatera Utara
Berikut tabel perhitungan dan diagram perbandingan biaya tahunan Prov.
Sumatera Utara, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.17 Tabel Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Sumatera Utara
No
Gambar 4.14 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Sumatera Utara
4.6.2 Sumbagselteng
c. Sumatera Barat
Berikut tabel dan gambar perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Sumatera Barat, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.18 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Sumatera Barat
Gambar4.15Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Sumatera Barat No
d.Riau
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Riau, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.19 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Riau
Sumber data PLN dan telah diolah
Gambar 4.16 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Riau No
e. Jambi
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Jambi, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.20 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Jambi
No
Jenis Pembangkit
Besaran (MW)
BPP 2016
BPP 2017
faktor
pengali 2016 (Rp) 2017 (Rp)
1 PLTBm 30 1046 961 8760 274888800 252550800
2 PLTD 36.4 1046 961 8760 333531744 306428304
3 PLTG 303 1046 961 8760 2776376880 2550763080
4 PTLU 111 1046 961 8760 1017088560 934437960
Total 480.4 4401885984 4044180144
Sumber data PLN dan telah diolah
Gambar 4.17Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Jambi
f. Sumatera Selatan
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Sumatera Selatan, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.21 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Sumatera Selatan
No
Sumber data PLN dan telah diolah
Gambar 4.18 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Sumatera Selatan
g. Bengkulu
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Bengkulu, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.22Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Bengkulu
No
Sumber data PLN dan telah diolah
Gambar 4.19Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Jambi
380
h. Lampung
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Lampung, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.23Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Lampung
Sumber data PLN dan telah diolah
Gambar 4.20Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Lampung No
i. Bangka
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Bangka, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari (365 x 24) yaitu lamanya jam dalam 1 tahun
Tabel 4.24Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Bangka
No
Sumber data: PLN dan telah diolah
0.09550152
PLTBm PLTD PLTG PLTU Total
Miliyar Rupiah
2016 2017
Gambar 4.21 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Bangka
j. Belitung
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan Prov.
Belitung, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari
Belitung, data tersebut menggunakan perbandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Dikalikan dengan faktor pengali 8760 yang berasal dari