SKRIPSI
STUDI NON UNIFORM BIAYA POKOK PRODUKSI (BPP) PEMBANGKIT TERHADAP TARIF LISTRIK DI REGIONAL
SUMATERA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro Sub Konsentrasi
Teknik Energi Listrik
Oleh:
YOSEF DERRY SANDERS TARIGAN NIM: 110402100
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
ABSTRAK
Biaya Pokok Produksi (BPP) adalah harga yang harus dibayar oleh Negara untuk membangkitkan satuan tenaga listrik agar nantinya dapat dialirkan ke masyarakat. Pulau Sumatera terdiri dari 9 Provinsi memiliki harga BPP yang berbeda (non uniform) hal ini disebabkan perbedaan banyaknya jenis pembangkit dan jenis bahan bakar yang digunakan, biaya investasi, gaji pegawai dan biaya pendukung. Saat ini BPP di tiap Provinsi di Sumatera terbilang tinggi melebihi dari harga jual atau harga tarif dasar listrik (TDL) Rp. 1.433 dan meningkat di tahun selanjutnya. Dalam skripsi ini BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d 2018 meningkat di beberapa Provinsi dengan harga berikut Aceh: Rp.1.383; Rp.1,491, Sumatera Utara: Rp1.235; Rp1.308, Riau: Rp1.349; Rp1.470, Bangka: Rp1.034;
Rp2.247, Belitung: Rp1.619; Rp1.889. Namun ada juga Provinsi yang harga BPP lebih murah bahkan menurun di tahun setelahnya lebih rendah dari harga tarif dasar listrik yaitu Rp.1.433 seperti: Sumatera Barat: Rp.1.074; Rp971, Sumatera Selatan,Jambi dan Bengkulu (S2JB): Rp1.046; Rp961. Meningkatnya harga BPP disebabkan masih besarnya penggunaan bahan bakar minyak sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik di Provinsi tersebut, namun Provinsi dengan BPP yang murah menggunakan energi baru tebarukan (EBT) yang besar sebagai pembangkit tenaga listrik di Provinsinya. Besarnya harga BPP dibandingkan dengan tarif dasar listrik adalah permasalahan dikarenakan sangat merugikan berdasarkan biaya per tahun yang dikeluarkan oleh Provinsi tersebut, dengan metode komparatif membandingkan harga BPP termahal Rp.2.247 di Provinsi Bangka menguras biaya tahunan mencapai 3 Milliar rupiah dan BPP yang termurah di Provinsi Lampung Rp.961 hanya dengan membayar biaya tahunan sebesar 7 Milliar rupiah dapat membangkitkan 360 MW tenaga listrik. Penggunaan EBT dapat menurunkan harga BPP dan di kemudian hari dapat menekan harga TDL untuk menciptakan keekonominan TDL.
Kata Kunci: Biaya Pokok Pembangkit (non uniform), Tarif Dasar Listrik, Energi Baru dan Terbarukan (EBT)
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan kasih-Nya skripsi ini dapat disusun dan diselesaikan. Skripsi ini merupakan bagian dari kurikulum yang harus diselesaikan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana Strata Satu di Departemen Teknik Elektro, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini sebagai berikut:
“Studi Non Uniform Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkit Terhadap Tarif Listrik di Regional Sumatera”
Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua tercinta, dr. M.
Bastanta Tarigan dan drg. Ruth Juliani Baru, yang telah membesarkan penulis dengan kasih sayang yang tak ternilai harganya, serta adik penulis, Kevin Aginta Tarigan S.Ked, Keluarga Besar Sei Padang dan Sei Bengawan, Cesilia Grace Sembiring Depari A.md yang selalu memberikan motivasi dan semangat dari awal mulai perkuliahan sampai saat ini, Serta seluruh keluarga besar penulis yang selalu memberikan semangat dan mendoakan penulis selama masa studi hingga menyelesaikan skripsi ini.
Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari berbagai kesulitan, namun atas bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Selama masa perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini, penulis juga
banyak mendapat bantuan, dukungan, dan masukan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Fahmi, ST., M.Sc., IPM., selaku Ketua Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Ir. Surya Tarmizi Kasim, M. Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan banyak masukan serta memberi bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Bapak Ir. Eddy Warman, MT selaku Dosen Pembanding skripsi yang telah banyak memberikan masukan dan arahan dalam penyempurnaan penulisan skripsi ini.
4. Bapak Muhammad Safril, ST, MT selaku Dosen Pembanding skripsi yang telah banyak memberikan masukan dan arahan dalam penyempurnaan penulisan skripsi ini.
5. Ibu Naemah Mubarakah, ST, MT selaku Dosen Wali Penulis yang telah banyak memberikan bimbingan selama masa perkuliahan.
6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen yang telah mendidik dan memberikan pengalaman hidup yang berharga selama masa perkuliahan.
7. Seluruh staf pegawai Departemen Teknik Elektro FT USU yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi.
8. Ibu Dewi Tatiana selaku PLH Senior Manager SDM dan Umum Manager Pengembangan SDM, PT. PLN (Persero) yang memberi fasilitas data dalam pengerjaan skripsi ini
9. Saudara sepupu yang selalu member motivasi dan semangat dalam pengerjaan skripsi; Karina Beatrix Ginting S.Kom, Yara Olivia S.H, Jeremia Arapenta Ginting, Angga Pratama Sebayang, Audi Sebayang, Aryanta Sebayang, Andrea Metami Tarigan, Yoel Rainer Christopher Tarigan, Sherry Anastasia, Keisha Tarigan, Andrew Tarigan, Giovano Felipe Barus, Nicholas Barus, Febby Monika Ginting, Jessica Amanda Ginting, Kesya Ginting dan Benedicta Tarigan.
10. Teman-teman Teknik Elektro USU stambuk 2011 yang selalu memberikan semangat selama masa perkuliahan dan masa pengerjaan skripsi ini
11. Kawan seperjuangan kuliah: Riko, Ferro, Yoshua, Fernando, Tidaucy, Andreas, Bill, Fandry, Andri Sihite, Hans, Sandro, Albert, Emir, Rizky, Yudha, Harris, Canboy, Frans, Mian, Eric Khatio, Eric Silaban Joshia, Ari Frahma, Biondi Laurens, Faisal Hasibuan, Risjen, Mangatur, Luhut, Riandi, Marco dll.
12. Teman seperjuangan di akhir masa kuliah dan di masa penulisan skripsi: Andri Firdaus Sihite dan Fandry Haholongan Panggabean.
13. Junior Teknik Elektro yang turut juga membantu dalam pengerjaan skripsi ini:
Jackson, Sidiq, Sartika, dan Febrian.
14. Seluruh Abang / Kakak senior dan Adik junior Teknik Elektro yang telah memberi banyak bantuan dan doa kepada penulis selama masa perkuliahan hingga penyelesaian skripsi.
15. Semua pihak yang penulis tidak dapat sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna dan masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi isi maupun susunan bahasanya. Untuk itu,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Penulis berharap agar penulisan skripsi ini dapat berguna bagi masyarakat. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
Medan, Agustus 2018 Penulis,
Yosef Derry Sanders Tarigan
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI... ... iv
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL... ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan ... 4
1.4 Batasan Masalah... 4
1.5 Manfaat ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1 Sistem Kelistrikan Regional Sumatera …....……….... 6
2.2 Kondisi dan Penanggulangan kelistrikan Sumatera……….. 9
2.3 Penanggulangan Jangka Pendek Kelistrikan Sumatera ... 11
2.4 Penanggulangan Jangka Menengah Kelisrikan Sumatera... 12
2.5 Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangitan ... 14
2.6 Penjualan Tenaga Listrik... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Tempat dan Waktu ... 19
3.2 Pelaksanaan Penelitian ... 19
3.3 Variabel yang Diamati ... 19
3.4 Prosedur Penelitian... 20
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 23
4.1 UMUM ... 23
4.2 DAYA MAMPU PEMBANGKIT REGIONAL SUMATERA .. 23
4.2a Regional Sumbagut ... 26
4.2.1 Sumatera Utara ... 26
4.2.2 Aceh ... 29
4.2b Regional Sumbagselteng ... 29
4.2.3 Sumatera Barat ... 29
4.2.4 Jambi ... 30
4.2.5 Riau ... 31
4.2.6 Lampung ... 32
4.2.7 Bangka Belitung ... 33
4.2.8 Sumatera Selatan ... 34
4.2.9 Bengkulu ... 35
4.3 PERBANDINGAN BPP PEMBANGKITAN 2016 VS 2017….. 37
4.4 TARIF LISTRIK DI SUMATERA 2016s.d 2018……… 38
4.4.1 Tarif Listrik Tahun 2016 ... 38
4.4.2 Tarif Listrik Tahun 2017 ... 39
4.4.3 Tarif Listrik Tahun 2018 ... 39
4.4.4 Rata rata Tarif Listrik dalam 3 tahun ... 40
4.4.5 Perbandinga rata- rata BPP Sumatera 2016 dan TDL ... 41
4.4.6 Perbandingan rata- rata BPP Sumatera 2017 dan TDL ... 42
4.5 STRATEGI MENURUNKAN HARGA BPP PEMBANGKIT ... 43
4.6 Perhitungan Biaya tahunan BPP 2016 dan 2017 ... 46
A. ... 46
a. Aceh ... 46
b. Sumatera Utara ... 47
B. Sumbagselteng... ... 48
c. Sumatera Barat ... 48
d. Riau ... 49
e. Jambi ... 50
f. Sumatera Selatan ... 51
g. Bengkulu ... 52
h. Lampung ... 53
i. Bangka... 54
j. Belitung ... 55 BAB V KESIMPULAN ... 57
5.1 KESIMPULAN ... 57
5.2 SARAN ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
LAMPIRAN ... 60
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Peta Pembagian Sum Sistem Sumbagut dan Sumbagsel ... 6
Gambar 2.2 Bauran Bahan Bakar Pembangkit Listrik di Sumatera ... 15
Gambar 3.1 Flowchart Prosedur Penelitian ... 20
Gambar 4.1 Sistem Kelistrikan Sumatera sampai tahun 2018 ... 21
Gambar 4.2 Fuel Mix Sistem Sumbagut ... 22
Gambar 4.3 Fuel Mix Sistem Sumbagselteng ... 22
Gambar 4.4 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Sumatera Utara ... 27
Gambar 4.c Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Aceh ... 28
Gambar 4.6 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Sumatera Barat... 29
Gambar 4.7 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Jambi ... 30
Gambar 4.8 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Riau ... 31
Gambar 4.9 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Lampung ... 32
Gambar 4.10 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Bangka Belitung ... 33
Gambar 4.11 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Sumatera Selatan ... 34
Gambar 4.12 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov. Bengkulu ... 34
Gambar 4.13 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Aceh ... 44
Gambar 4.14 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Sumut ... 45
Gambar 4.15 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov.
Sumater Barat ... 46
Gambar 4.16 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Riau ... 47
Gambar 4.17 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Jambi ... 48
Gambar 4.18 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Sumatera Selatan ... 49
Gambar 4.19 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Bengkulu ... .. 50
Gambar 4.20 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Lampung ... 51
Gambar 4.21 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Bangka ... 52
Gambar 4.22 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Prov. Belitung ... 53
Gambar 4.23 Grafik Perbandingan Provinsi dengan BPP termahal dan termurah... 54
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Sumatera 2016 ... 8
Tabel 2.2 Besaran Bauran Bahan Bakar Pembangki Listrik di Sumatera... ... 16
Tabel 2.3 BPP tahun 2016- 2017 wilayah Sumatera... 16
Tabel 2.4 BPP tahun 2017- 2018 wilayah Sumatera ... 17
Tabel 4.1 Kapasitas Terpasang Provinsi Sumatera Utara ... 26
Tabel 4.2 Kapasitas Terpasang Provinsi Aceh ... 28
Tabel 4.3 Kapasitas cerpasang Provinsi Sumatera Barat ... 29
Tabel 4.4 Kapasitas Terpasang Provinsi Jambi ... 30
Tabel 4. 5 Kapasias Terpasang Provinsi Riau ... 31
Tabel 4. 6 Kapasitas Terpasang Provinsi Lampung ... 32
Tabel 4.7 Kapasitas Terpasang Provinsi Bangka Belitung ... 33
Tabel 4.8 Kapasitas Terpasang Provinsi Sumatera Selatan ... 34
Tabel 4.9 Kapasitas Terpasang Provinsi Bengkulu ... 35
Tabel 4.10 Biaya Pokok Pembangkit 2016 vs 2017 ... 37
Tabel 4.11 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga Tahun 2016 ... 38
Tabel 4.12 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga Tahun 2017 ... 39
Tabel 4.13 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga Tahun 2018 ... 39
Tabel 4.14 Rata rata harga tarif dasar listrik selama 3 tahun ... 41
Tabel 4.15 Perbandingan BPP Sumatera 2016 vs TDL ... 41
Tabel 4.16 Perbandingan BPP Sumatera 2017 vs TDL ... 42
Tabel 4.17 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Aceh ... 46
Tabel 4.18 Perhitungna Biaya Tahunan Provinsi Sumatera Utara ... 47
Tabel 4.19 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Sumatera Barat ... 48
Tabel 4.20 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Riau ... 49
Tabel 4.21 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Jambi ... 50
Tabel 4.22 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Sumatera Selatan ... 51
Tabel 4.23 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Bengkulu ... 52
Tabel 4.24 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Lampung ... 53
Tabel 4.25 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Bangka... 54
Tabel 4.26 Perhitungan Biaya Tahunan Provinsi Belitung ... 55
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah sistem kelistrikan di Indonesia sempat mengalami jatuh bangun pada tahun 1997. Dimana di saat bersamaan terjadi fenomena krisis moneter di Indonesia yang menyebabkan kurangnya daya beli masyarakat, rendahnya angka pendapatan, pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan negara maupun swasta, lonjakan barang barang pokok sehingga menyebabkan buruknya pembangunan infrastruktur tenaga kelistrikan, kurangnya sumber daya manusia walaupun sumber daya alam di Indonesia sangat mendukung dan melimpah adanya.
Saat ini dimana sistem ketenaga listrikan Indonesia sudah mulai meningkat dan membaik. Sejak dicanangkannya program percepatan pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW oleh Pemerintah Presiden Jokowi mulai tahun 2015 s.d. 2019. Bahwa sebagaimana dimaklumi kurun waktu tahun 1998 s.d. 2004 sistem kelistrikan di Sumatera Utara mengalami krisis yang berkepanjangan, dimana sektor pembangkitan mengalami defisit daya listrik sebesar kurang lebih sebesar 225 MW dengan pembangkit yang siap beroperasi sebesar 1567 MW dan Beban puncak yang mencapai 1772 MW dan PT. PLN mengalami krisis keuangan untuk memenuhi kebutuhan operasional pembangkit dan pemeliharaan terabaikan. Di tahun 2004 s.d. 2009 kondisi berangsur membaik dan pertumbuhan ekonomi pun sudah mulai membaik, namum pemadaman listrik masih sangat tinggi dimana defisit mendekati 300 MW sehingga memasuki tahun 2009 s.d. 2014 PT. PLN wilayah Sumatera Utara berupaya keras mengatasi krisis
dengan melakukan program penyewaan genset, bantuan suplai listrik dari PT.
Inalum sebesar 90 Mw dan program dimana Mall, Hotel dan konsumen besar PLN pada jam beban puncak tidak menggunakan daya listrik dari PLN untuk mengatasi defisti daya sistem Sumbagut.
Wilayah regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) saat ini sudah terpenuhi kebutuhan listriknya sebesar, dari data tahun 2016 Aceh 326 MW, Sumatra Utara 1760 MW, dan Riau 555 MW. Data tersebut berdasarkan Sistem Ketenaga Listrikan Sumatra tahun 2016. Namun tetap ada kekurangan & kesulitan yang dialami PLN sendiri, bukan hanya kesulitan finansial juga meliputi kesulitan memberi pasokan listrik kepada masyarakat. Salah satu faktor penyebab kerugian yang sangat besar jumlahnya ini karena biaya produksi lebih besar dari penerimaan, mesin mesin listrik yang sudah tua dan pengadaan pembangunan sistem kelistrikan baru yang terhambat pula. Ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat di Indonesia dalam penggunaan listrik yang mana ini bisa terlihat dari pertumbuhan kebutuhan energi listrik untuk layanan publik yang terus meningkat. Permintaan tenaga listrik diperkirakan terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 8,1% per tahun.
Untuk wilayah Sumatera sendiri terdiri dari 2 wilayah sub sistem yaitu:
Sumbagut yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Nias dan Sumbangselteng yang meliputi: Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung dan Bengkulu. Setiap provinsi sendiri memiliki kemampuan daya listrik yang berbeda-beda dan jenis pembangkit yang berbeda- beda pula. Adanya variasi dalam jenis pembangkit sendiri, tentu saja mengikuti dengan BPP (Biaya Pokok Pembangkitan) yang berbeda pula di setiap provinsi sesuai dengan jenis
pembangkitnya dan BPP sendiri adalah salah satu faktor dalam menentukan TDL (Tarif Dasar Listrik).
Saat ini kita mengetahui setiap Provinsi di Indonesia memiliki tarif dasar listrik dengan jumlah harga yang sama sesuai dengan golongannya, padahal jenis dari pembangkit di setiap provinsinya berbeda beda, besaran daya mampu pembangkit yang dihasilkannya berbeda, hal ini mengikuti dengan biaya tahunan yang harus dikeluarkan oleh pemerintah dan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik, dalam skripsi ini Pulau Sumatera diambil sebagai contoh. Studi non uniform tarif listrik regional Sumatera ini bertujuanmengetahui perkembangan
kelistrikan di Sumatera setelah dibentuknya Regionalisasi dan menganalisa BPP yang tidak seragam (non uniform) di setiap Provinsi yang ada di Sumatera, serta rencana, visi dan strategi untuk menurunkan BPP ke depannya untuk mecapai keekonomian tarif dasar listrik.
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam skripi ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan sistem kelistrikan di Regional Sumatera
2. Mengetahui perkembangan kelistrikan setelah dibuat regional sumbagut dan sumbangselteng
3. Untuk mengetahui sistem non uniform BPP di Sumatera dan tarif dasar listrik.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penelitian yang diharapkan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Membandingkan besaranharga BPP Sumatera dan besaran tarif dasar listrik di Indonesia.
2. Merekayasa strategi dan rencana menurunkan BPP untuk mencapai keekonomian tarif dasar listrik
1.4 Batasan Masalah
Untuk membatasi materi yang akan dibicarakan pada skripsi ini, maka dibuat batasan masalah yang akan diteliti. Hal ini bertujuan agar materi dan cakupan studi dari skripsi ini dapat mencapai hasil yang memuaskan. Adapun yang menjadi batasan masalah pada skripsi ini adalah :
1. Analisis data tarif dasar listrik yang digunakan dari tahun 2016 sampai dengan 2018.
2. Mengevaluasi dan mempelajari sistem kelistrikan di masing- masing Provinsi di Regional Sumatera tahun 2016 sampai dengan 2018
3. Menggunakan data Biaya Pokok Pembangkit sesuai dengan yang dikeluarkan oleh PLN dan telah disahkan oleh Kementerian ESDM tahun 2016 s.d. 2017 dan tahun 2017 s.d. 2018
1.5 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari skripsi ini adalah:
1. Sebagai upaya meningkatkan kinerja infrastruktur listrik di Regional Sumatera.
2. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan dan regulasi kelistrikan di Regional Sumatera.
3. Merancang strategi menurunkan besaran harga BPP di Regional Sumatera
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Kelistrikan di Regional Sumatera.
Pulau Sumatera terdiridari 9 Provinsi, setiap Provinsinya memiliki berbagai macam jenis pembangkit yang berbeda beda, namun setiap konsumen di Sumatera bahkan Indonesia dibebankan dengan harga atau tarif listrik yang sama di setiap provinsinya. PLN membagi menjadi 2 Sub-Sistem digambarkan pada gambar 2.1 ,peta pembangian regional listrik di bawah untuk Regional Sumatera yaitu : Subsistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) dan Sumatera Bagian Selatan dan Tengah (Sumbagselteng).
Gambar2.1 Peta Pembagian Sub Sistem Sumbagut dan Sumbagselteng
Subsistem Sumbagut terdiri dari 2 Provinsi yaitu Aceh dan Provinsi Sumatera. Dimana Subsistem Sumatera Utara merupakan sistem interkoneksi dari unit pembangkit yang tersebar dari sektor Belawan sampai dengan sektor Pangkalan Susu sedangkan Sub sistem Aceh merupakan sistem interkoneksi dari unit pembangkit sektor Nagan Raya yang terdiri dari PLTD sewa yang tersebar
dari Langsa sampai Banda Aceh . Subsistem Sumbagselteng terdiri dari 8 Provinsi, yaitu: Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Bangka dan Kepulauan Belitung.
Secara sederhana listrik yang ada dan disalurkan kerumah pelanggan di Indonesia harus melalui tiga tahap yakni listrik di produksi di Pembangkitan yang terdiri dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTD (Pembangkit Listirik Tenaga Diesel), PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap), dan PLTP disalurkan melalui jaringan Transmisi melalui SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi),maupun SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi), ditambah dengan gardu induk, tower, transformator dan di distribusikan ke pelanggan baik pelanggan bisnis, rumah tangga, sosial dan publik melalui kabel TM(Tegangan Menengah) 20 KV, gardu distribusi dan kabel TR (Tegangan Rendah) 220/380 Volt. Berikut adalah peta wilayah kerja Regional Sumatera.
Pengembangan transmisi di Sumatera membentuk transmisi back-bone 500 kV yang menyatukan sistem interkoneksi Sumatera pada koridor timur.
Pusat-pusat pembangkit skala besar dan pusat-pusat beban yang besar di Sumatera akan tersambung ke sistem transmisi 500 KV ini. Transmisi ini juga akan mentransfer tenaga listrik dari pembangkit listrik di daerah yang kaya sumber energi primer murah (Sumbagsel dan Riau) ke daerah pusat beban yang kurang memiliki sumber energi primer murah (Sumbagut). Selain itu transmisi 500 KV juga dikembangkan di Sumatera Selatan sebagai feeder pemasok listrik dari PLTU mulut tambang ke stasiun konverter transmisi HVDC (High-voltage direct current) yang akan menghubungkan pulau Sumatera dan pulau Jawa.
Tabel 2. 1. Kapasitas Terpasang Pembangkit Wilayah Sumatera 2016 (MW)
Sumber data PLN dan telah diolah
Daya mampu pembangkit sistem Sumatera sampai tahun 2016 adalah 7.613 MW, mencapai dengan rincian per pembangkit seperti tabel diatas. Total beban puncak Sumatera (interkoneksi dan isolated) sampai dengan Desember 2015 adalah sekitar 4.850. Reserve marginsistem Sumatera lebih dari 30%, tetapi berdasarkan laporan evaluasi tahunan terdapat kondisi kondisi tertentu dimana sistem mengalami defisit. Defisit tersebut sebagian besar terjadi karena adanya gangguan pada sistem transmisi yang mengakibatkan bottleneck evaluasi daya dari pembangkit ke beban. Selain itu juga terjadi beberapa kerusakan beberapa pembangkit eksisting serta kondisi musiman yang mempengaruhi energi yang dihasilkan oleh PLTA sehingga menyebabkan turunnya daya mampu pasok.
Sedangkan pembangkit pembangkit baru yang direncanakan beroperasi di tahun 2014/ 2015 juga mengalami kemunduran operasi dikarenakan berbagai faktor.
Guna mengantisipasi krisis listrik tersebut, maka di tahun 2016 dilakukan sewa pembangkit serta excesspower dengan total kapasitas sebesar 2000 MW dengan lokasi tersebar di sistem Sumatera.
2.2 Kondisi dan Penanggulangan Sistem Kelistrikan Sumatera.
Pada tahun 2013, TW III sistem kelistrikan Sumatera khususnya Sumatera Utara mengalami defisit yang sangat besar akibat oleh gangguan dan keluarnya pembangkit besar pada saat yang hampir bersamaan, disamping itu pembangkit FTP1 yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2013 masih mengalami keterlambatan, seperti PLTU pangkalan susu 1, 2 dan PLTU Nagan Raya 1, 2. Di lain pihak realisasi permintaan tenaga listrik tetap tinggi.
Pada tahun 2014, kondisi kelistrikan sistem Sumatera masih defisit terutama di sistem Sumatera walaupun sudah lebih membaik dari tahun- tahun sebelumnya, hal ini disebabkan karena adanya tambahan pembangkit yang masuk pada tahun 2014 tidak sebanding dengan peningkatan kebutuhan.
Kondisi kelistrikan sistem Sumatera tahun 2015 sampai dengan skarang ini, khususnya sistem Sumbangselteng masih mengalami kekurangan pasokan daya. Kondisi ini terjadi karena cuaca yang minim curah hujan, sehingga daya mampu pembangkit- pembangkit tenaga air di Sumbagselteng menjadi sangat kecil, dan menyebabkan defisit daya. Selain itu pada tahun 2015 Sumatera mengalami bencana kabut asap sehingga mempengaruhi kinerja PLTD, PLTG dan PLTGU. Ditambah lagi proyek 35.000 MW yang direncanakan pemerintahmenemui masalah berupa kurangnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang diharapkan 7% malah turun sebesar 5% saja. Maka proyek 35.000 MW tersebut menemui keterlambatan dan harus menyesuaikan untuk menjaga keuangan PT. PLN.
2.3 Penanggulangan jangka pendek sistem kelistrikan Sumatera.
Kondisi kekurangan defisit daya penyediaan tenaga listrik sistem Sumatera periode 2013- 2015, pada dasarnya disebabkan oleh:
1. Keterlambatan penyelesaian proyek pembangkit dan transmisi tenaga listrik, baik proyek PLN maupun IPP.
2. Gangguan pada beberapa pembangkit eksisting sehingga mengalami pemadaman baik pemadaman yang direncanakan (pemeliharaan) maupun pemadaman paksa (forced outage)
3. Pertumbuhan permintaan tenaga listrik yang meningkat
4. Kondisi bencana dan musim kering yang panjang yang menyebabkan turunnya kemampuan pembangkit
Upaya jangka pendek yang dilakukan PLN untuk saat ini diprioritaskan kepada upaya- upaya sebagai berikut:
1. Penyewaan PLTD untuk memenuhi kebutuhan listrik pulau pulau terluar.
Hal ini dilakukan karena tidak ada alternatif lain selain menyewa PLTD berbahan bakar minyak.
2. Menyewa kapal Marine Vessel Power Plant dari Turki untuk mensuplai listrik sebesar 240 MW ke instalasi pembangkit tenaga uap Seicicanang.
3. Pengadaan mobile power plant (barge mounted atau truck mounted) dengan bahan bakar dual fuel (gas dan BBM). Mobile power plant ini sangat efektif untuk meregulasi krisis listrik, yaitu:
a. Memenuhi pertumbuhan demand yang terus meningkat.
b. Mengurangi sewa pembangkit berbahan bakar minyak.
c. Mengatasi kekurangan pasokan daya akibat keterlambatan proyek unit pembangkit dan transmisi.
d. Mengatasi kekurangan pasokan daya akibat keluarnya unit pembangkit eksisting baik karena gangguan maupun pemeliharaan.
e. Memenuhi demand sementara akibat adanya peristiwa besar (nasional maupun internasional)
f. Melistriki daerah yang belum memiliki pasokan listrik (peningkatan rasio elektrifikasi).
2.4 Penanggulangan jangka menengah sistem kelistrikan Sumatera.
Upaya mendesak dan harus segera dilaksanakan pada sistem kelistrikan Sumatera dalam waktu jangka menengah adalah sebagai berikut:
Menyelesaikan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan total kapasitas 9.800 MW dalam kurun waktu 2016- 2020, yang terdiri dari PLTP sebesar 950 MW, PLTU Batubara 5.150 MW, PLTA/M 724 MW, PLTG/MG 1.257 MW, PLTGU 1.280 MW, pembangkit energi terbarukan lainnya sebesar 250 MW.
Secara khusus proyek ini disebut proyek peaker dan load follower untuk memenuhi kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera:
• PLTGU/ MGU Sumbagut-2 Peaker 250 MW yang berlokasi di Provinsi Aceh dan direncanakan beroperasi dengan gas yang akan dipasok dari regiasitifikasi LGN (Liquid Gas Natural) di Arun.
• PLTG/MG Riau Peaker 200 MW yang direncanakan akan dipasok dari gas Jambi Merang sebesar 10 bbtud dan disimpan sebagai CNG (Compressed Natural Gas), dengan rencana COD tahun 2017.
• PLTG/MG Jambi Peaker 100 MW yang akan dilaksanakan dengan skema IPP, dimana pasokan gas bisa dari LNG ataupun CNG, dengan rencana COD tahun 2018.
• PLTG/MG Lampung Peaker 200 MW yang diharapkan akan mendapatkan gas dari beberapa alternatif sumber gas, juga perlu disimpan sebagai CNG, dengan rencana COD tahun 2018.
• PLTGU/MGU Sumbagut-1 Peaker, Sumbagut-3 dan Sumbagut-4 masing- masing dengan kapasitas 250 MW akan dilaksanakan sebagai proyek IPP, dengan rencana COD tahun 2018 dan 2019.
Untuk mengurangi pembangkit sewa dalam mengatasi kondisi kekurangan pasokan daya, perlu dibangun MPP (Barge Mounted atau Truck Mounted) dengan total kapasitas 400MW.
2.5 Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkitan.
Biaya Pokok Produksi Pembangkitan adalah biaya yang diperlukan untuk pembangunan, pemeliharaan dan produksi pembangkit itu sendiri. Berbicara mengenai harga pembangkitan tenaga listrik artinya berbicara mengenai harga yang berbeda dengan tarif. Dalam pembangkitan tenaga listrik ada 4 komponen yang biasanya harus diperhitungkan, komponen A, B, C dan D. Namun dalam kasus tertentu ada tambahan satu komponen lagi, komponen E.
• Komponen A
Merupakan fixed cost, yakni biaya yang tetap harus dikeluarkan harus dikeluarkan terlepas dari pembangkit listrik tersebut beroperasi atau tidak. Komponen ini terdiri dari biaya konstruksi pembangkit tersebut.
• Komponen B dan D
Komponen ini dinamakan dengan variable cost dan biasanya nilainya sangat kecil, keduanya dapat disebut dengan OM costyang berarti biaya yang dikeluarkan untuk operasi dan maintenance pembangkit.
Komponen B merupakan fixed OM Cost, seperti gaji pegawai dan karyawan, biaya management dan lain lain
Komponen D merupakan variable OM Cost, seperti biaya untuk plumas dan perawatan pembangkit.
• Komponen C
Merupakan komponen biaya bahan bakar, beberapa faktor yang mempengaruhi komponen ini adalah jenis bahan bakar, banyaknya konsumsi bahan bakar dan lamanya waktu penyalaan pembangkit.
• Komponen E ( Opsional)
Biaya ini tidaklah biaya wajib yang harus ada dalam komponen biaya pembangkitan, contoh yang paling sering adalah biaya instalasi saluran listrik dan biaya pendukung lainnya.
Sumatera sendiri memiliki jenis pembangkit yang bevariasi di setiap Provinsinya, seperti PLTA, PLTM , PLTP, PLTBm, PLTD, PLTG/ MG/ GU, PLTBB (batu bara), PLTU dsb, karena jelas perbedaan dari jenis dan bahan bakar
yang digunakan. Harga dari bahan bakar tersebut dapat sewaktu waktu naik atau turun biasanya ditentukan oleh kurs rupiah terhadap dollar, inflasi di Negara kita dan harga miyak dunia atau ICP dan juga harga daribatu bara karena salah satu pembangkit di Sumatera masih bergantung pada tenaga bahan bakar minyak dan batu bara. Berikut gambaran dan tabel bauran bahan bakar (fuel mix) pembangkit listrik yang ada di Sumatera:
Gambar 2.2 Bauran Bahan Bakar Pembangkit Listrik di Sumatera Minyak
7.5% Air 18%
32%Gas Batubara
34%
Panas Bumi7%
Biomassa 1%
Tabel 2. 2 Besaran Bauran Bahan Bakar Pembangkit Listrik di Sumatera
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyertakan 2 BPP di tahun yang berbeda, BPP tahun 2016 s.d 2017 dan BPP tahun 2017 s.d 2018 dimana nantinya dapat menjadi pembanding apakah besaran BPP di tahun setelahnya menjadi semakin meningkat atau terjadi penurunan harga BPP di tahun setelahnya. Maka dari itu besaran biaya pokok penyediaan pembangkit telah dirangkum oleh PT.
PLN dan disahkan oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No: 1404 K/20/MEM/2017 untuk BPP tahun 2016 s.d. 2017 dan No: 1172 K/20/MEM/2018 tahun 2017 s.d. 2018 sesuai dengan wilayah distribusi sistem dan subsistemnya, yaitu:
Fuel Used Energi
Primer Jan Feb Mar Total Satuan
Minyak 17,233 17,500 40,057 74,790 Kilo Liter Panas Bumi 239,169 217,163 164,303 620,635 MWH Gas 7,251 7,046 6,965 21,262 BBTU Air 547,025 501,863 572,770 1,621,657 MWH Batubara 456,766 406,460 446,739 1,309,965 TON Biomassa 29,245 27,929 23,492 80,666 MWH Fuel Cost (Rp/kWh)
Sistem Jan Feb Mar Akumulasi Satuan
SBST 579 625 575 601 Rp/kwh SBU 876 917 1,041 921 Rp/kwh SUMATERA 697 743 756 729 Rp/kwh
BPP (Rp/kWh)
Sistem Jan Feb Mar Akumulasi Satuan
SBST 934 1,080 1,167 997 Rp/kwh SBU 1,392 1,316 1,367 1,380 Rp/kwh SUMATERA 1,116 1,175 1,267 1,150 Rp/kwh
Tabel2.3 BPP tahun 2016 s.d. 2017 wilayah Sumatera
No Wilayah/ Sistem/ Subsistem BPP PEMBANGKI Rp/ Kwh
A
SUMATERA
1 SUMATERA BAGIAN UTARA
a Aceh 1,383
a.1 Pulau Weh 1,733
a.2 Pulau Simeuleu 1,817
b Sumatera Utara 1,235
b.1 Nias 2,049
2 SUMATERA BAGIAN SELATAN
No Wilayah/ Sistem/ Subsistem BPP
Rp/ Kwh
a Sumatera Barat 1074
a.1 Kepulauan Mentawai 2,096
b Riau dan Kepulauan Riau
b.1 Riau 1,349
b.2 kepulauan Riau
b.2.1 Bintan 1,583
b.2.2 Tanjung Balai Karimun 1,706
b.2.3 Natuna 2,089
b.2.4 Anambas 2,149
c Sumatera Selatan, Jambi &
Bengkulu ( S2JB)
1046
c.1 Pulau Enggano 2,322
d Lampung 1034
3 BANGKA 1,817
4 BELITUNG 1619
5 Sub Sistem Kepulauan Lainnya 2,096
RATA- RATA BPP 1677.61
Sumber: Keputusan Menteri ESDM dan telah diolah.
Tabel2.4 BPP tahun 2017 s.d. 2018 wilayah Sumatera
No Wilayah/ Sistem/ Subsistem
BPP PEMBANGKIT
Rp/ Kwh
A
SUMATERA
1 SUMATERA BAGIAN UTARA
a Aceh 1,491
a.1 Pulau Weh 1,818
a.2 Pulau Simeuleu 1,602
b Sumatera Utara 1,308
b.1 Nias 2,677
2 SUMATERA BAGIAN SELATAN
a Sumatera Barat 971
a.1 Kepulauan Mentawai 2,583
b Riau dan Kepulauan Riau
b.1 Riau 1,470
b.2 kepulauan Riau
b.2.1 Bintan 2,052
b.2.2 Tanjung Balai Karimun 1,682
b.2.3 Natuna 2,060
b.2.4 Anambas 2,677
c Sumatera Selatan, Jambi &
Bengkulu ( S2JB) 961
c.1 Pulau Enggano 2,677
d Lampung 936
3 BANGKA 2,247
4 BELITUNG 1. 887
5 Sub Sistem Kepulauan Lainnya 2,677
RATA- RATA BPP 1876.44
Sumber: Keputusan Menteri ESDM dan telah diolah.
2.6 Penjualan Tenaga Listrik.
Pertumbuhan penjualan tenaga listrik mulai pulih dari dampak krisis keuangan global pada tahun 2010. Sejak tahun 2012, PLN sangat aktif dalam penyambungan pelanggan yang berkisar 3,5 juta pelanggan pertahun dengan tujuan menyelesaikan daftar tunggu pelanggan.
Penjualan tenaga listrik untuk daerah Sumatera terbilang jauh tumbuh tinggi, yaitu rata rata 9,4% per tahunnya. Pertumbuhan ini tidak seimbang dengan penambahan kapasitas pembangkit yang hanya tumbuh rata- rata 5,2% per tahunnya. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis daya yang kronis di banyak daerah dan pada tahun 2010 krisis daya tersebut diatasi dengan melakukan sewa pembangkit.
Diperkirakan pertumbuhan penjualan tenaga listrik di Sumatera akan terus meningkat karena daftar tunggu yang masih tinggi dan akibat keterbatasan pasokan dan rasio elektrifikasi yang akan terus ditingkatkan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian Skripsidilakukan dengan mengambil data di P3B PLN Regional Sumatera dan RUPTL PLN.
3.2 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mengambil data dari P3B PLN Regional Sumatera dan RUPTL PLN, diambil sedemikian rupa, mendapatkan besaran BPP dan membandingkannya dengan TDL saat ini dan melakukan strategi menurunkan biaya pokok produksi guna dalam usaha menurunkan tarif dasar listrik.
3.3 Variabel yang Diamati
Variabel-variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi:
• Sistem kelistrikan Sumatera tahun 2016 s.d 2018
• Kapasitas terpasang sistem kelistrikan Sumatera tahun 2017- 2018
• Tarif dasar listrik yang dibebankan kepada pelanggan tahun 2016 s.d 2018
• Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkit di Sumatera tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d 2018
3.4 Prosedur Penelitian
Gambar 3.1Flowchart Prosedur Penelitian MULAI
Mendapatkan data besaran nilai BPP
Mendapatkan data pembangkit terpasang dan bauran energinya
Menganalisa biaya pengeluaran tahunan
Menarik Kesimpulan Melakukan perbandingan penggunaan bauran energi setiap
provinsinya
SELESAI
Berdasarkan flowchart prosedur penelitian, langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan data besaran nilai BPP
Dalam penelitian ini, hal utama yang dicari adalah besaran nilai BPP di Sumatera yang bersifat non uniform atau tidak seragam besarannya di setiap Provinsi. Untuk memaksimalkan penelitian BPP yang digunakan adalah BPP tahun 2016 s.d. 2017 dan 2017 s.d. 2018.
2. Mendapatkan data pembangkit terpasang dan bauran energinya.
Dalam bagian ini kita mencari data pembangkit terpasang dan sudah berkerja di setiap pembangkit di Regional Sumatera. Juga bauran energinya, seperti jenis pembangkit dan bahan bakar yang digunakan untuk beroperasi.
3. Melakukan perbandingan penggunaan bauran energi
Di bagian ini, dengan metode komparatif kita membandingkan penggunaan bauran energi di setiap Provinsi di Sumatera dan menganalisa pengaruhnya terhadap besaran nilai BPP yang non uniform
4. Melakukan analisa pengeluaran tahunan
Analisa ini dilakukan karena menggunakan BPP di 2 tahunan yang berbeda, yaitu 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018. Maka kita mencari pengeluaran dana dalam bentuk tahunan. Untuk membandingkan perbedaan besaran nilai BPP di dua tahun yang berbeda.
5. Menarik Kesimpulan
Dari penelitian diatas, dengan metode komparatif membandingkan Provinsi dengan BPP yang nilainya lebih mahal dan yang lebih murah kita menarik kesimpulan bahwasanya penggunaan pembangkit listrik dengan menggunakan EBT dan pembangkit non- minyak dapat memberikan BPP yang murah, yang nantinya dengan BPP yang murah semakin tahun maka pengeluaran biaya tahunan yang dihasilkan akan semakin lebih murah.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 UMUM.
Inilah Peta kelistrikan Sumatera sampai tahun 2018 beserta load flow, daya mampu dan beban puncak pada Sub sistem Sumbagut dan Sumbagselteng.
Di setiap Provinsi dan Subsistemnya memiliki berbagai jenis pembangkit tenaga listrik yang berbeda- beda sesuai dengan bauran bahan bakarnya(Fuel Mix). Untuk Sub Sistem Sumbagut bauran energi yang paling besar digunakan
Gambar 4.1. Sistem kelistrikan Sumatera Sampai dengan 2018
adalah minyak, batu bara dan gas. Seperti yang ditunjukkan pada tabel dan diagram dibawah.
Gambar 4.2 Bauran Bahan Bakar Kelistrikan Sistem Sumbagut
Gambar 4.3 Bauran Bahan Bakar Kelistrikan Sistem Sumbagselteng
Dan untuk Sub Sistem Sumbagselteng bauran energi terbanyak digunakan adalah batu bara dan gas. Hal ini didukung oleh adanya salah satu tambang batu bara terbesar di Sumatera Selatan.
Maka dari itu dapat diketahui pasti biaya pokok pembangkit di setiap Provinsi dan subsistem Regional Sumatera berbeda, tentu saja BPP pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak lebih mahal daripada pembangkit yang menggunakan bahan bakar air karena aspek daripada Biaya Bahan Bakar yang didapat dari pembangkit EBT dapat dengan mudah diperbaharui. Aspek lain yang menentukan perbedaan harga BPP antara lain adalah:
1. Biaya Investasi.
2. Biaya Pemeliharaan & Plumas.
3. Biaya Bahan Bakar.
4. Biaya Pegawai.
5. Biaya Pendukung
Karena berbedanya harga BPP ini maka dilakukanlah studi non uniform biaya pokok pembangkit (BPP) pembangkit terhadap tarif listrik Regional Sumatera. Ada juga beberapa faktor lain dalam penentuan TDL oleh pemerintah yaitu indikator pasar Hal ini ada 3 yaitu:
1. Harga Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika.
2. Harga minyak mentah dunia atau ICP (Indonesia Crude Price) 3. Inflasi yang terjadi di Indonesia
4.2 Kapasitas Terpasang di Regional Sumatera
Regional Sumbagut:
4.2.1 Sumatera Utara
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Utara
Table 4.1 Kapasitas Terpasangan Provinsi Sumatera Utara
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTGU PLTU
1 PLTA Asahan 180
2 PLTA Wampu 45
3 Renun 82
4 Siguragura 45
5 Sipansihoras 50
6 PT Harkat Sejahtera 30
7 PT Growth Asia, Medan 20
8 Lae Kombih III 8
9 Parluasan 10
10 PLTP Sarulla 1 110
11 PLTP Sarulla 2 220
12 PLTP Sibayak 10
13 PT. Berkat Bima Sentana 120
14 Titi Kuning 24.6
15 Glugur 80
16 Belawan 900
17 Canang Indah Coal PP 14
18 Pangkalan Susu 1 & 2 440
19 PLTU Labuhan Angin
(1&2) 230
Total 402 18 340 50 144.6 80 900 684
Total EBT dan Bahan
Bakar 810 1808.6
Total Keseluruhan 2618.6
Sumber data: PLN dan telah diolah
Gambar 4.4 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan.Bakar di Prov.
Sumatera Utara
4.2.2 Aceh
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Aceh
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
1 Krueng Isep 20
2
Pusat Listrik
Lueng Bata 77.2
3
MPP Banda
Aceh 50
4 Arun 184
5
Nagan Raya
Meulaboh 1,2 220
Total 20 77.2 50 184 220
Total EBT dan Bahan Bakar
20 531.2
Total
Keseluruhan 551.2
Tabe4.2 Kapasitas Terpasang Prov. Aceh
20 (3, 62%)
531.2 (96,37)
Aceh
EBT & Kapasitas (MW)
Bahan Bakar &
Kapasitas (MW)
Gambar 4.5 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Aceh
Regional Sumbagelteng
4.2.3 Sumatera Barat
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Barat
Table 4.3 Kapasitas Terpasang Prov Sumatera Barat
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU 1 Batang
Agam 10.5
2 Maninjau 68
3 Singkarak 175
4 Pauhlimo 142.6
5 Ombilin
(1&2) 182
6 Teluk Sirih/
Sumbar 224
Total 253.5 142.6 406
Total EBT dan Bahan Bakar
253.5 548.6
Total
Keseluruhan 802.1
253.5 (31,60%)
548.6 (68,39%)
Sumatera Barat
EBT &
Kapasitas (MW) Bahan Bakar
& Kapasitas (MW)
Gambar 4.6 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov.
Sumatera Barat
4.2.4 Jambi
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Jambi
Table 4.4 Kapasitas terpasang Prov Jambi
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU 1 PT. Rimba
Palma Sejahtera 30
2 Payo Selincah 36.4
3 Batang Hari 78
4 Bot Payo
Selincah 100
5 CNG Sungai
Gelam 92
6 MPP Tj. Jabung
Timur 33
7 Sinar Mas
Jambi Lontar 111
Total 30 36.4 303 111
Total EBT dan
Bahan bakar 30 450.4
Total
Keseluruhan 480.4
Gambar 4.7 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar di Prov.
4.2.5 Riau
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Jambi
Table 4.5 Kapastias Terpasang Prov. Riau
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
1 Koto Panjang 114
2 Tanjung Batu 5
3 Duri 26
4 Teluk Lembu 114
5 PT. Riau Power 32
6 Duri 112
7 Teluk Lembu 40
8 Perawang Mill (Unit 4-
11) 755
9 Tenayan (1&2) 220
10 Tanjung Kasam 130
11 Tembilah 14
Total 114 5 140 152 1119 32
Total EBT dan Bahan
Bakar 114 1448
Total Keseluruhan 1562
Gambar 4.8 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Riau
4.2.6 Lampung
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Lampung
Tabel 4.6 Kapastias terpasang Prov. Lampung
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
1 Besai 90
2 Batu Tegi 29.2
3 Gunung Madu- Biomassa 20
4 Tegineneng 19.3
5 Teluk Betung 11.8
6 Tarahan 16
7 MPP Tarahan Lampung 100
8 PLTP Ulu Belu 110
9 PLTP Ulu Belu (3&4) 110
10 Lampung Tengah 14
11 Tarahan (U) 1&2 200
12 Lampung Sebalang 200
Total 119.2 220 20 47.1 100 414
Total EBT dan Bahan
Bakar 359.2 561.1
Total Keseluruhan 920.3
Sumber data: PLN dan telah diolah
359.2 (39.03%) 561.1
(60,96%)
Lampung
EBT & Kapasitas (MW)
Bahan Bakar &
Kapasitas (MW)
Gambar 4.9 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Lampung
4.2.7 Bangka Belitung
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Bangka Belitung.
Table 4.7 Kapastias Terpasang Prov. Bangka Belitung
Sumber data: PLN dan telah diolah
No Nama EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTBm PLTD PLTG PLTMG PLTU
1 Tempilang 6
2 Merawang 42.3
3 Pilang 27.44
4 MPP Bangka Belitung 25
5 Bangka Baru/ Air Anyir 60
6 Belitung Baru 33
7 MPP Banga/ Air Anyir 50
Total 6 69.74 25 60 83
Total EBT dan Bahan
Bakar 6 237.74
Total Keseluruhan 243.74
6 (2,46%)
237.74 (97,53)
Bangka Belitung
EBT & Kapasitas (MW)
Bahan Bakar &
Kapasitas (MW)
Gambar 4.10 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Bangka Belitung
4.2.8 Sumatera Selatan
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Sumatera Selatan
Table 4.8 Kapastias Terpasang Prov. Sumatera Selatan
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
1 Sungai Juaro 25
2 Borang 30
3 Borang (Merah Mata) 80
4 Jakabarang CNG 50
5 Keramasan 62.85
6 Musi II 24
7 Talang Duku 53
8 AGP Borang CCGT 150
9 Gunung Megang
CCGT 110
10 Inderalaya 124
11 Keramasan/
Sumbagsel 1-4 80
12 Anak Petai 12
13 Prabumullih 12
14 Sako 12
15 Banjarsari 270
16 Bukit Asam Muara
Enim 260
17 Keban Agung (SS-2) 225
18 Keramasan 25
19 Pomalaa Nickel Mine 60
20 Simpang Belimbing 300
21 Sumsel 5 (1&2) 300
Total 25 299.85 36 1440 464
Total EBT dan Bahan
Bakar 0 2264.85
Total Keseluruhan 2264.85
Sumber data: PLN dan telah diolah
4.2.9 Bengkulu
Berikut disajikan tabel kapasitas pembangkit terpasang dan gambar diagram pembagian jenis bahan bakar yang digunakan untuk sub- regional Bengkulu
Table 4.9 Kapasitas Terpasang Prov. Bengkulu
No Nama
EBT & Kapasitas
(MW) Bahan Bakar & Kapasitas (MW) PLTA PLTM PLTP PLTD PLTG PLTMG PLTU PLTGU
1 Musi 6
2 Tes 1 42.3
Total 48.3
Total EBT dan Bahan
Bakar 48.3 0
Total Keseluruhan 48.3
Sumbe data: PLN dan telah diolah
0
2264.85 (100%)
Sumatera Selatan
EBT & Kapasitas (MW) Bahan Bakar &
Kapasitas (MW)
Gambar 4.11 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Sumatera Selatan
Gambar 4.12 Perbandingan Pembangkit EBT vs Pembangkit Bahan Bakar Prov. Bengkukulu.
4.3 Perbandingan Biaya Pokok Pembangkit (BPP) 2016 vs 2017
Dalam bab pembahasan ini dicarilah rata rata harga BPP di Regional Sumbagut dan Sumbagselteng. Juga BPP keseluruh Regional Sumatera
Tabel 4. 10Biaya Pokok Pembangkit 2016 vs 2017
No Wilayah/ Sistem/ Subsistem BPP
2016 2017
A SUMATERA
1 SUMATERA BAGIAN UTARA
A Aceh 1,383 1,491
a.1 Pulau Weh 1,733 1,818
a.2 Pulau Simeuleu 1,817 1,602
B Sumatera Utara 1,235 1,308
b.1 Nias 2,049 2,677
Rata- Rata BPP SUMBAGUT 1,643 1,779
2 SUMATERA BAGIAN SELATAN
A Sumatera Barat 1074 971
a.1 Kepulauan Mentawai 2,096 2,583
B Riau dan Kepulauan Riau
b.1 Riau 1,349 1,470
b.2 kepulauan Riau
b.2.1 Bintan 1,583 2,052
b.2.2 Tanjung Balai Karimun 1,706 1,682
b.2.3 Natuna 2,089 2,060
b.2.4 Anambas 2,149 2,677
C Sumatera Selatan, Jambi & Bengkulu ( S2JB) 1046 961
c.1 Pulau Enggano 2,322 2,677
D Lampung 1034 936
3 BANGKA 1,817 2,247
4 BELITUNG 1619 1. 887
5 Sub Sistem Kepulauan Lainnya 2,096 2,677
Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1,691 1914
RATA- RATA BPP SUMATERA 1,678 1,772
Sumber data: PLN dan telah diolah
Pada tabel 4.4dapat diketahui harga BPP yang paling murah adalah pada wilayah Lampung yaitu Rp. 1034 di tahun 2016 dan kembali menurun Rp. 936 di tahun 207. Hal ini disebabkan wilayah Provinsi Lampung banyak menggunakan banyak pembangkit listrik yang EBT :
1. PLTA Besai : 2 x 45 MW 2. PLTA Batutegi : 2 x 17,5 MW 3. PLTA Tegineneng : 3 x 5 MW 4. PLTP Ulubelu : 2 x 55 MW 5. PLTP Bandar Lampung : 2x 55 MW 6. PLTU Tarahan : 2 x 100 MW 7. PLTU Sebalang : 2 x 115 MW
Karena pembangkit listrik yang digunakan memanfaatkan EBT, maka berpengaruhkepada harga BPP dimana aspek biaya bahan bakar dapat dimininalkan.. Pembangkit yang menggunakan bahan bakar minyak atau batubara biasanya memiliki harga BPP yang lebih mahal karena terpengaruh harga minyak dan batu bara dunia .
Harga BPP yang termahal menurut tebel 4.3 terdapat pada bagian kepulauan di sekitar Sumatera, seperti :Bangka, Pulau Nias, Pulau Enggano, Pulau Anambas dan sub sistem kepulauan lainnya. Hal ini disebabkan karena sulit dijangkau dan jenis pembangkit yang beroperasi disana kebanyakan masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sebagai contoh Pulau Nias tenaga listrik disana ditopang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Gunung
Sitoli dan PLTD Teluk Dalam yang total menghasilkan 33,15 Mw. Kepulauan Anambas dan Enggano juga menggunakan PLTD yang dipasok PLN.
Provinsi Lampung dan Provinsi Bangka menjadi bukti, bahwa daerah yang menggunakan banyak pembangkit EBT memiliki biaya pokok produksi yang lebih murah jika dibandingkan dengan daerah yang menggunakan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fossil. Hal ini menjadi salah satu alasan dari ketidak seragamannya BPP yang ada di setiap provinsi di Sumatera.
4.4 TARIF LISTRIK DI INDONESIA 2016- 2018 4.4.1 TARIF LISTRIK TAHUN 2016
Berikut tabel data tarif dasar listrik golongan rumah tangga tahun 2016 Tabel 4.11 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun 2016
NO GOL
TARIF BATAS DAYA
REGULER
PRA BAYAR BIAYA
BEBAN
BIAYA PEMAKAIAN (RP/kWh)
1 R-1/ TR 1.300 VA *) 1.364,86 1.364,86
2 R-1/ TR 2.200 VA *) 1.364,86 1.364,86
3 R-2/ TR 3.500 VA s.d
5.500 VA *) 1.364,86 1.364,86
4 R-3/ TR 6.600 VA keatas *) 1.364,86 1.364,86 Sumber data PLN dan telah diolah
4.4.2 TARIF LISTRIK TAHUN 2017
Berikut tabel data tarif dasar l listrik golongan rumah tangga tahun 2017 Tabel 4.12 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun 2017
NO GOL
TARIF BATAS DAYA
REGULER PRA
BAYAR BIAYA
BEBAN
BIAYA PEMAKAIAN (RP/kWh)
1 R-1/
TR 1.300 VA *) 1.467,28 1.467,28
2 R-1/
TR 2.200 VA *) 1.467,28 1.467,28
3 R-2/
TR
3.500 VA s.d
5.500 VA *) 1.467,28 1.467,28
4 R-3/
TR 6.600 VA keatas *) 1.467,38 1.467,28
Sumber data PLN dan telah diolah
4.4.3 TARIF LISTRIK TAHUN 2018
Berikut tabel data tarif dasar listrik golongan rumah tangga tahun 2018 Tabel 4.13 Tarif Listrik Golongan Rumah Tangga tahun
NO GOL
TARIF BATAS DAYA
REGULER
PRA BAYAR BIAYA
BEBAN
BIAYA PEMAKAIAN (RP/kWh)
1 R-1/ TR 1.300 VA *) 1.467,28 1.467,28
2 R-1/ TR 2.200 VA *) 1.467,28 1.467,28
3 R-2/ TR 3.500 VA s.d
5.500 VA *) 1.467,28 1.467,28
4 R-3/ TR 6.600 VA keatas *) 1.467,38 1.467,28 Sumber data PLN dan telah diolah
Seperti data tabel yang dilampirkan diatas, dapat dilihat harga tarif dasar listrik golongan rumah tangga berubah ubah di setiap tahunnya kecuali pada tahun 2017 dan 2018 yang belum ada perubahan, tetap di angka Rp. 1.467, 28. Kenaikan yang paling drastis terjadi pada tahun 2015. Pada saat itu ada pemerintah harus membuat penyesuaian tarif harga listrik golongan rumah tangga karena mengacu pada 3 indikator pasar yang mempengaruhi harga BPP listrik yaitu, kurs Rupiah terhadap dollar AS, harga minyak mentah Indonesia atau disebut dengan ICP (Indonesia Crude Price) dan inflasi yang terjadi di Negara kita.
Di tahun 2016 harga tarif tenaga listrik menurun, dari Rp. 1.509,38 menjadi Rp.1.364,86. Hal ini disebabkan karena pada bulan desember 2015, ICP mengalami penurunan harga dari sebelumnya US$ 41,44 per barrel menjadi US$
35,47 per barrel. Serta alasan lain adalah nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika pada desember 2015 mengalami pelemahan dari sebelumnya Rp.
13.673 menjadi Rp. 13.855 per dollar Amerika.
Dan di tahun 2017 terjadi lagi penyesuaian harga tarif listrik yang mengakibatkan kenaikan dari Rp 1.34,86 menjadi 1.467,28 rupiah. Dari pasang surut tarif tenaga listrik di Indonesia, dicarilah rata ratanya selama 5 tahun dan didapat.
4.4.4 RATA- RATA TARIF LISTRIK DALAM 3 TAHUN
Dari data tarif listrik tahun 2016- 2018 diambillah rata- rata harga tarif dasar listrik selama 3 tahun dan disajikan dalam tabel dibawah ini
Tabel 4.14 Rata- rata harga tarif dasar listrik selama 5 tahun
NO
GOL
TARIF BATAS DAYA
TAHUN & BIAYA PEMAKAIAN 2016 2017 2018
Rata- Rata 1 R-1/ TR 1.300 VA 1.364,86 1.467,28 1.467,28 1433,14 2 R-1/ TR 2.200 VA 1.364,86 1.467,28 1.467,28 1433,14 3 R-2/ TR
3.500 VA s.d 5.500
VA 1.364,86 1.467,28 1.467,28 1433,14 4 R-3/ TR 6.600 VA keatas 1.364,86 1.467,38 1.467,38 1433,14 Sumber data PLN dan telah diolah
Rata- rata harga tarif dasar listrik dalam 3 tahun terakhir menurut tabel 4.14 adalah Rp. 1433,14. Sedangkan harga rata- rata BPP Sumatera menurut tabel 4.10 adalah Rp. 1.678 di tahun 2016 s.d 2017 dan meningkat menjadi Rp. 1.772 di tahun 2017 s.d. 2018.
4.4.5 PERBANDINGAN RATA- RATA BPP SUMATERA 2016 DAN TDL Dibawah disajikan perbandingan rata- rata BPP di Sumatera tahun 2016 dan tarif dasar listrik di Indonesia, terlihat harga BPP di tahun 2016 lebih mahal dibandingan dengan TDL
Table 4.15 Perbandingan BPP Sumatera 2016 vs TDL
Sumber data: PLN dan telah diolah
No. BIAYA POKOK PRODUKSI 2016 TDL
1 Rata- Rata BPP SUMBAGUT 1,643 1433,14 2 Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1,691 1433,14 3 RATA- RATA BPP SUMATERA 1,678 1433,14
4.4.6 PERBANDINGAN RATA- RATA BPP SUMATERA 2017 DAN TDL Dibawah disajikan perbandingan rata- rata BPP di Sumatera tahun 2016 dan tarif dasar listrik di Indonesia, terlihat harga BPP di tahun 2016 lebih mahal dibandingan dengan TDL
Table 4.15 Perbandingan BPP Sumatera 2016 vs TDL
Sumber data: PLN dan telah diolah
Menurut table 4.14 dan 4.15 dapat disimpulkan bahwa harga biaya pokok produksi lebih besar dibandingkan dengan harga tarif dasar listrik, dalam usaha untuk menekan harga tarif dasar listrik di tahun tahun berikutnya, haruslah dengan usaha menurunkan harga BPP terlebih dahulu untuk mencapai keekonomian tarif dasar listrik, dimana harga produksi nantinya dapat lebih murah dibandingkan harga tarif listrik. Maka dari itu, dibuatlah strategi dan rencana ke depannya untuk menurunkan harga biaya pokok produksi pembangkitan yang dibahas di subbab selanjutnya
4.5 Strategi Menurunkan Harga Biaya Pokok Produksi (BPP) Pembangkit.
Guna mendukung upaya penurunan biaya pokok produksi (BPP) Sistim Kelistrikan Regional Sumatera lebih rendah lagi, PT Perusahaan Listik Negara (PLN) harus terus mencari peluang agar BPP Pembangkit di Pusat Listrik
No. BIAYA POKOK PRODUKSI 2017 TDL
1 Rata- Rata BPP SUMBAGUT 1,779 1433,14 2 Rata- Rata BPP SUMBASELTENG 1914 1433,14 3 RATA- RATA BPP SUMATERA 1,772 1433,14
Belawan bisa lebih efisien. Salah satu usaha yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi sistem Produksi, Distribusi dan Konsumsi.
1. Produksi:
a) Menekan bauran pembangkit listrik tenaga diesel atau dengan kata lain mengurangi pemakaian pembangkit yang berbahan bakar minyak dan tidak memperbanyak atau membangun lagi pembangkit listrik dengan energi primer yang menggunakan bahan bakar minyak yang baru .
b) Meningkatkan penggunaan gas bumi, bentuk realisasi dari RUPTL 2017- 2026 Indonesia akan mengalami penambahan kapastitas PLTG atau PLTMG fakta menyatakan di sistem kelistrikan Sumatera dimana pada tahun awal 2017 pemanfaatan gas bumi meningkat dari 95 mmscfd ke 197 mmscfd di penutupan tahun 2017 setelah Pembangkit MPP Paya Pasir (75 MW) serta PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) GT 1,2 Belawan beroperasi dengan gas, dan di tahun 2018 Pada tahun 2018 pemanfaatan gas juga akan naik menjadi 197mmscfd seiring dengan beroperasinya MVPP (Marine Vessel Power Plant) 240 MW dengan Bahan Bakar Gas juga.
c) Menggunakan alternative pembangkitan tenaga listrik seperti panel surya, PLT mikrohidro atau bahan alternative lainnya sesuai dengan potensi alam di daerah tersebut.
2. Distribusi
a) Meningkatkan kualitas jaringan distribusi tenaga listrik seperti memperbaharui tiang listrik, kabel dan komponennya yang sudah rusak, pemeliharaan gardu, trafi daya dan trafo distribusi serta
meminimalkan gangguan yang dapat terjadi seperti ranting pohon dan sebagainya
b) Mempercepat pembangunan tol listrik 275 kV dan 500 kV yang direncanakan akan dibangun sepanjang 19.000 km. Tol listrik sepanjang itu dibutuhkan untuk mengaliri pasokan energi terutama dari pembangkit besar yang mayoritas banyak terdapat di Sumatera Selatan (Sumsel) ke Sumatera bagian utara yang memiliki konsumsi listrik cukup tinggi. Hal ini juga berkenaan dengan menekan biaya produksi dimana Sumatera Selatan memiliki tambang batu bara yang besar, jadi pembangkit listrik berskala besar besar dapat dibangun di Sumatera Selatan dan daya listriknya dapat dikirim ke Sumatera Utara melalui tol listrik.
c) Mengurangi losses atau penyusutan daya.
3. Konsumen:
a) Menggunakan token listrik, agar konsumen lebih mawas diri dalam penggunaan daya listrik atau tidak boros.
b) Edukasi kepada masyarakat dalam penggunaan daya listrik dan saling menjaga aset listrik yang sudah dibangun untuk menjamin kontinuitas pelayanan listrik.
Dengan usaha dan perencanaan diatas, diharapkan PT. PLN dapat menurunkan biaya pokok produksi pembangkit tenaga listrik di Regional Sumatera sehingga biaya tarif dasar listrik juga serta merta menurun dan tidak membebankan masyarakat. Bahkan diperkirakan untuk pelanggan subsidi 450 VA dapat terbebas dari biaya listrik.Harga listrik yang murah meningkatkan minat
investor untuk datang ke Indonesia dan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga usaha Indonesia dalam pembangunan listrik 35.000 MW yang masih terkendala di Indonesia dapat segera diselesaikan
4.6 Perhitungan dan analisa biaya tahunan terhadap BPP 2016 dan 2017.
4.6.1 Sumbagut a. Aceh
Berikut tabel dan diagram perbandingan perhitungan biaya tahunan, biaya tahunan tersebut dicari seperti rumus dibawah dan dibandingan antara BPP tahun 2016 s.d 2017 dan 2017 s.d. 2018 dengan rumus
(P x BPP 2016 x 8760) : (P x BPP 2017 x 8760)
P = besaran tenaga listrik (MW) 8760 = jam dalam setahun (365x 24)
Tabel 4.16 Perhitungan Biaya Tahunan Prov. Aceh
Sumber data PLN dan telah diolah No
Jenis Pembangkit
Besaran (MW)
BPP 2016
BPP 2017
faktor
pengali 2016 (Rp) 2017 (Rp)
1 PLTA 20 1,383 1,491 8760 242301600 261223200
2 PLTD 77.2 1,383 1,491 8760 935284176 1008321552
3 PLTG 50 1,383 1,491 8760 605754000 653058000
4 PLTMG 184 1,383 1,491 8760 2229174720 2403253440
5 PLTU 220 1,383 1,491 8760 2665317600 2873455200
Total 551.2 6677832096 7199311392
Gambar 4.13 Diagram Garis perbandingan biaya tahunan Provinsi Aceh