• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : FRAMING PEMBERITAAN AGAMA DI MEDIA

D. Penodaan Agama

Penodaan agama menurut Frans Magnis Suseno (dalam jurnal Keadilan Sosial, 2015) dapat diartikan sebagai penentangan hal-hal yang dianggap suci atau yang tidak boleh diserang (tabu), yaitu simbol-simbol agama atau pemimpin agama atau kitab suci agama. Bentuk penodaan agama pada umumnya adalah perkataan atau tulisan yang menentang ketuhanan terhadap agama-agama yang mapan. Sedangkan yang tidak merupakan penodaan agama adalah (1) berkeyakinan berbeda dengan ajaran suatu agama tidak merupakan penghinaan, melainkan merupakan implikasi keyakinan yang memang berbeda, (2) begitu pula jika kelompok dengan

76 keyakinan agama tertentu mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran salah satu agama itu tidak merupakan penodaan atau penghinaan agama, (3) itu berlaku baik bagi kelompok beragama yang keyakinannya berimplikasi penolakan/ bagian dari keyakinan agama lain, misalnya implikasi keyakinan Kristiani terhadap ajaran agama Islam.122

Abu Yamin Rahman, tokoh MUI menjelaskan yang dimaksud dengan penodaan agama ialah baik berupa aliran maupun agama baru, tapi jika menyangkut dengan agama-agama yang lain dan dalam bentuk itu merupakan perampasan, atau juga penodaan. Batasannya, selama agama lain yang sudah ada tersinggung, selama itu sudah disebut dengan batas penodaan. Penodaan bertujuan merusak, penodaan tidak memiliki refrensi, hal ini berbeda dengan kritikan yang memiliki dasar atau alasan baik dari kitab yang lain maupun kitab agama Islam.123

Penistaan atau penghinaan terhadap Tuhan, dikenal dengan istilah Blasphemy( bahasa Inggris) atau Goldslastering(Bahasa Belanda). Blasphemy berasal dari Bahasa Yunani yaitu blasphemein, yang merupakan paduan dari kata blaptein(to injure yang bermakna melukai atau merusak) dan pheme(reputasi), sehingga blaspheimein mengandung arti melukai reputasi atau nama baik. Sedangkan untuk

122Siti Aminah dan Muhammad Khoirur Roziqin,” Pemantauan Kasus-Kasus Penodaan Agama di Indoensia Periode 2012-2014, Jurnal Keadilan

Sosial Edisi 5 (2015), 26-27.

123Muhammad Isnur, Agama, Negara dan Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum, 2012), 133.

77

penghinaan terhadap agama dalam artian luas disebut dengan defamation of religion.

Blasphemy dalam arti luas, diartikan sebagai penentangan hal-hal yang dianggap suci atau yang tak boleh diserang (tabu). Bentuk umumnya adalah perkataan atau tulisan yang menentang ketuhanan terhadap agama-agama yang mapan. Di beberapa negara tindakan tersebut dilarang oleh hukum. Blasphemy dilarang keras oleh tiga agama Ibrahim (Yahudi, Kristen dan Islam). Blasphemydalam agama Yahudi, adalah menghina nama Tuhan atau mengucapkan hal-hal yang mengandung kebencian terhadap Tuhan. Dalam Kristen, alam Kitab Perjanjian baru dikatakan menista roh kudus adalah dosa yang tak diampuni dan pengingkaran terhadap Trinitas juga digolongkan sebagai blasphemy. Blasphemydalam Islam adalah menghina Tuhan, Nabi Muhammad dan nabi-nabi yang diakui dalam Al Quran serta menghina Al Quran itu sendiri.124

Penodaan agama di Indoensia dapat diartikan sebagai perbuatan yang bersifat melecehkan atau menodai ajaran dan keyakinan suatu agama tertentu, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, dapat menyebabkan timbulnya kerawanan di bidang kerukunan hidup umat beragama.125 Indonesia negara yang berdasarkan hukum. Adanya Undang-undang yang mengatur tentang

124Siti Aminah dan Muhammad Khoirur Roziqin,” Pemantauan

Kasus-Kasus Penodaan Agama di Indoensia Periode 2012-2014”, 29.

125 Titik Suwariyati, Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan

Kerukunan Hidup Umat Beragama Edisi IX, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan

78 pencegahan penyalahgunaan dan/ atau penodaan agama diatur dalam UU No.1/PNPS/1965.

UU No.1/PNPS/1965 merupakan undang-undang yang hanya memuat 5 pasal. Konsideran menimbang hanya 2 poin: (a) bahwa dalam rangka pengamanan negara dan masyarakat, cita-cita revolusi nasional dan Pembangunan Nasional Semesta menuju ke masyarakat adil dan makmur, perlu mengadakan peraturan untuk mencegah penyalahgunaan atau penodaan agama. (b) bahwa untuk pengamanan revolusi dan ketentuan masyarakat, soal ini perlu diatur dengan Penetapan Presiden. Demikian juga dengan konsideran mengingat, terdapat 4 poin yaitu: 1). pasal 29 UUD, 2). pasal IV Aturan Peralihan UUD, 3). Penetapan Presiden No 2 tahun 1962 (Lembaran Negara tahun 1962 No. 34) dan, 4). pasal 2 ayat (1) Ketetapan MPRS No II/MPRS/1960.

Sedangkan substansi penting dari UU No.1/PNPS/1965 terletak pada pasal I:

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.”126

Pasal 156a KUHP sering disebut sebagai pasal penodaan agama bisa dikategorikan sebagai delik terhadap agama. Pasal 156a

126 Yayan Sopyan, “Menyoal Kebebasan Beragama Dan Penodaan Agama Di Indonesia: Telaah Atas Putusan MK No. 140/Puu-vii/2009)”, 203.

79

yang sering dijadikan rujukan hakim untuk memutus kasus penodaan agama berbunyi:

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. Yang pokoknya bersifat permusuhan,

penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia,

b. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pasal ini bisa dikategorikan sebagai delik terhadap agama. Asumsinya yang ingin dilindungi oleh pasal ini adalah agama itu sendiri. Agama, menurut pasal ini perlu dilindungi dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan orang yang bisa merendahkan dan menistakan simbol-simbol agama seperti Tuhan, Nabi, Kitab Suci, meski demikian, karena agama tidak bisa bicara makan sebenarnya pasal ini juga ditujukan untuk melindungi penganut agama.127

Kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Thahaja Purnama (Ahok) berawal saat kunjungan kerja dalam rangka panen ikan kerapu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pada saat kunjungan kerja tersebut, Ahok telah terdaftar sebagai salah satu calon Gubernur DKI Jakarta yang pemilihannya

127 Abu Rokhmad, Dialektika Mazhab Syi’ah dan Fiqh Penguasa:

Studi Analisis Putusan PN Sampang No.69/Pid.B/2012/PN.Spg tentang Tajul Muluk dan Fatwa MUI Jawa Timur tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah,

80 akan dilakasanakan pada bulan Februari 2017. Meskipun pada kunjungan kerja tersebut tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Ahok memberikan sambutan dengan sengaja memasukkan kalimat yang berkaitan dengan agenda pemilihan gubernur dengan mengaitkan surat Al Maidah ayat 51. Sambutan Ahok kepada masyarakat sebagai berikut:

“Ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun saya berhentinya Oktober 2017, jadi kalau program ini kita jalankan dengan baik pun bapak ibu masih sempet panen sama saya sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. Jadi cerita ini supaya bapak ibu semangat, jadi gak usah pikiran ah...nanti kalau gak kepilih, pasti Ahok programnya bubar, engga...saya sampai Oktober 2017, jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, ya kan dibohongi pakai Al-Maidah 51.”128

Perkataan atau pidato Ahok tersebut seolah-olah surat Al Maidah ayat 51 telah dipergunakan oleh orang lain untuk membohongi dan membodohi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah, padahal Ahok sendiri yang mendudukan atau menempatkan surat Al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi dalam proses pemilihan Kepala daerah. Adapun surat Al Maidah ayat 51 yang merupakan bagian dari Al Quran kitab suci agama Islam berbunyi,

128

81                          

Surat Al Maidah ayat 51 berdasarkan terjemahan dari Departemen Kementerian Agama adalah “ Wahai orang-orang beriman janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin (mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Di mana terjemah dan interpretasinya menjadi domain bagi pemeluk dan penganut agama Islam, baik dalam pemahamannya maupun dalam penerapannya. Perbuatan Ahok yang telah mendudukkan atau menempatkan Surat Al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi masyarakat dalam rangka pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dipandang sebagai penodaan terhadap Al Quran sebagai kitab suci Agama Islam.Sejalan dengan Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI pada 11 Oktober 2016 angka 4 yang menyatakan bahwa kandungan surat Al Maidah ayat 51 yang menyatakan larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai

82 pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al Quran.129

129

83

Dokumen terkait