14 Arso Sostroatmodjo,
LAKI-LAK
D. Penolakan Terhadap Konsep Idah Bagi Laki-Lak
Perubahan dan perkembangan zaman merupakan suatu sunatullah. Perubahan itu berimbas pada perkembangan ilmu pengetahuan yang beraneka ragam. Ketika perubahan itu menawarkan suatu pemikiran yang berbeda dengan pemahaman umum masyarakat yang sudah mapan, pasti akan menuai suatu perdebatan yang kontroversial, ada yang mendukung, ada yang menolak, bahkan ada yang mendukung dengan revisi. Sebagai contoh mengenai perubahan terhadap hukum keluarga yang ditawarkan oleh sekelompok ilmuan muslim yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender, pembaharuan hukum Islam yang mereka tawarkan salah
satunya mengenai keharusan idah bagi laki-laki (suami). Sejak konsep tersebut dipublikasikan pada tahun 2004, tidak sedikit dari pakar hukum Islam mengkritisi dan menolak konsep-konsep yang mereka tawarkan.
Dalam Alquran surat al-Baqoroh (2) ayat 228 yang menunjukan bahwa ketentuan idah diperuntukkan bagi wanita (istri), ayat ini juga yang dijadikan dasar bagi penetapan beridah dalam peraturan mengenai hukum keluarga yang berlaku di Indonesia. Dalil-dalil yang sudah ada dalam Alquran mengenai idah nampaknya tidak digunakan oleh kalangan pembaharu hukum Islam, sehingga konsep yang mereka tawarkan tidak berdasarkan ketentuan dalam Alquran.
Penentuan segala aturan dalam CLD-KHI yang dijadikan pendekatan dalam merumuskan aturan-aturannya mengguanakan kaidah
“
(menganulir ketentuan-ketentuan ajaran dengan menggunakan logika kemaslahatan adalah diperbolehkan), selain itu mereka menggunakan kaidah yang menyatakan
bahwa,..”akal publik memiliki kewenangan untuk menyulih dan mengamandemen
sejumlah ketentuan “dogmatik” agama menyangkut perkara-perkara publik. Sehingga ketika terjadi pertentangan antara akal publik dengan bunyi harfiah teks ajaran, maka akal publik berotoritas untuk mengedit,menyempurnakan dan memodifikasinya”.
Modifikasi ini menurut tim perumus pembaharuan hukum keluarga sangat dibutuhkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat patrikuler seperti idah, poligami dan lain-lain. Oleh karena itu, menurut tim tersebut “mengubah gaya berfikir deduktif ke
induktif” merupakan hal penting bagi KHI untuk menimba sebanyak-banyaknya dari kearifan lokal.
Dari beberapa kaidah dan alasan yang mereka kemukakan sangat jelas bahwa mereka menggunakan antroposentrisme dan mengutamakan asas kemanusiaan, menolak ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang dinilai tidak sesuai dengan akal dan ketentuan publik. Bila kita cermati dengan seksama, konsep tersebut merupakan buah dari pemikiran kalangan feminis yang memperjuangkan hak dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Rumusan dalam CLD-KHI yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, pluralis, demokratis dan humanis sebagai prinsip dasar penetapan aturan-atuaran mngenai hukum keluarga, menjadi barometer dalam menentukan suatu hukum yang termaktub di dalam perumusan peraturan tersebut. Sekilas, ini adalah prinsip yang indah dan terkesan sangat sederhana. Tetapi pada dasarnya ini adalah suatu pengaburan belaka dari suatu yang sudah jelas. Apalagi jika melihat ukuran-ukuran HAM dan kesetaraan yang tidak tunggal, penulis menyebut prinsip ini sebagai
“apologi dibawah alam sadar.”
Hal lain yang dijadikan sebagai teori hukum dalam penetapan aturan CLD- KHI yaitu kearifan lokal, hal ini menandakan bahwa teori yang mereka anut yaitu teori receptie yang terkandung di dalamnya penyimpangan (inkonsisten), pembentukan suatu aturan yang berlandaskan teori hukum tersebut jelas sangat
menyimpang, selain berorientasi ke Barat dan dalam penetapan peraturannya mengingkari ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang qat‟i sebagai hak Allah yang bertentangan dengan akal, terutama akal publik , juga menolak metode deduktif dan mengutamakan metode induktif.
Prinsip yang mereka gunakan telah mengalami ketidak sinkronan akibatnya menjadi salah kaprah dan bertentangan dengan syariat. Mengutip dari kritik yang dilontarkan oleh Huzaemah Tahido Yanggo dalam Kontroversi Revisi Hukum Islam, menurutnya bahwa rumusan dalam CLD-KHI merupakan bid‟ah yang menyesatkan, penyimpangan, perusakan, dan perubahan dari hukum Islam yang asli dan hanya sebagai pembaharuan liberal yang tidak mengikuti cara-cara dan kaidah-kaidah yang dicanangkan dalam penetapan hukum Islam, menurutnya penggagas pembaharuan hukum Islam merupakan orang-orang yang berpaham liberal yang berprinsip bukan untuk ketaatan pada Allah, tetapi hanya penghambaan terhadap demokrasi dan nilai- nilai sekular.64
Sementara itu, lebih tegas lagi Huzaemah menilai bahwa aturan dalam CLD- KHI dinilai tidak sesuai dengan ketentuan Alquran dan hadis serta fikih yang dianut mayoritas muslim. Berikut catatan Huzaemah atas CLD-KHI:
Sudut pandang yang digunakan subyektif, sesuai dengan karakter dan kecenderungan para penulisnya.
64
Huzaemah Tahido Yanggo, Kontroversi Revisi Hukum Islam (Jakarta: Adelina, 2005), h. 1- 2.
Sudut pandang gaya bahasa dan ungkapan yang dipakainya terkesan sentimentil, sinis, menggugat, arogan, dan inkonsisten.
Sudut pandang visi dan misi yang dibawa adalah pluralisme, demokrasi, dan HAM, keseteraan gender, emansipatoris, humanis, inklusif, dan dekonstruksi syariat Islam, dan lain-lain. Pendekatan utama yang dilakukan oleh tim perumus CLD adalah gender, pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi, tidak melakukan pendekatan metodologi istinbat hukum Islam, yang disebutkan sendiri oleh tim perumus CLD tersebut, yaitu berdasarkan maqashid syariah. Tetapi perumusan CLD-KHI justru bertentangan dengan maqashid syariah tersebut.
Sudut pandang masalah yang dibahas dan digugat adalah: 1. Alquran dan hadis di sesuaikan dengan rasio dan adat serta kondisi sosial di masyarakat, Alquran dan hadis harus dipahami dari sudut maqashidnya (tujuannya) untuk kemaslahatan, tidak hanya melihat harfiyahnya; 2. Karya para ulama klasik dituding sangat Arabis dan sudah purba, tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Oleh sebab itu harus ditinggalkan; 3. Paradigma dan orientasi keberagamaan (dari teosentris ke antroposentris); 4. Problem kemanusiaan dan hubungan antar agama, antara lain nikah beda agama, nikah kontrak, waris beda agama, perwalian anak dari perkawinan beda agama.
Kaidah-kaidah yang digunakan: ”Yang menjadi perhatian mujtahid (dalam mengistinbatkan hukum dari Alquran dan hadis) adalah pada maqashid
yang dikandung nash, bukan pada lafaz atau aksaranya.” ”Boleh
menganulir ketentuan-ketentuan nash (ajaran agama Islam) dengan
menggunakan logika kemaslahatan, serta “Mengamandemen nash-nash (sejumlah ketentuan dogmatika agama) dengan akal/rasio berkenaan dengan perkara-perkara publik.”65
Menurut penulis, rancangan dan aturan yang tertera di dalam CLD-KHI merupakan konsep yang dalam menetapkan aturan-aturannya tidak mengkaji lebih dalam tentang hukum Islam, yang bila dipahami dan dikaji lebih dalam, maka sebenarnya hukum Islam menjunjung tinggi demokrasi, hak asasi manusia, dan terlebih lagi hukum Islam memberikan suatu keadilan yang sama, walau memang kadang manusia tidak memahami akan arti di balik ketentuan yang telah Allah tetapkan bagi kemaslahatan manusia itu sendiri. Konsep idah bagi laki-laki merupakan hal yang bertentangan dengan syariat yang seharusnya menjadi pedoman bagi setiap ahli hukum, khususnya hukum Islam. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar karena hal yang demikian merupakan rahmat dari Allah selaku pembuat aturan bagi manusia.
Dalam Alquran dengan tegas dijelaskan bahwa idah diwajibkan bagi perempuan, idah yang memiliki nilai luhur yaitu ketundukan seorang hamba pada
65
penciptanya yang jika dijalankan merupakan ibadah, nilai ibadah ini tidak dianggap oleh penggagas konsep idah bagi laki-laki. Nash yang jelas dalam Alquran sudah tidak dapat dirubah lagi, kendati ilmu pengetahuan berkembang pesat sehingga menutup kemungkinan untuk menutup segala hikmah dalam beridah tidak lantas ketetapan dalam Alquran diselewengkan dan ditafsirkan secara liberal.
Dalam suatu kaidah usul fikih dijelaskan:
Artinya: Tidak ada celah ijtihad dalam permasalahan yang telah ada nashnya.
Kaidah tersebut menunjukan bahwa konsep idah bagi laki-laki tidak benar, segala bentuk peraturan tentang idah telah ditetapkan dalam Alquran secara jelas dan tegas, pemahaman manusia yang terbatas mengharuskan tunduk pada aturan-aturan yang telah qat’i yang ditetapkan oleh Allah.
Segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah seharusnya diikuti oleh manusia selaku ciptaan-Nya, ketentuan dalam Alquran seharusnya disesuaikan dengan aturan dalam kehidupan manusia bukan Alquran disesuaikan dengan keinginannya, perintah Allah merupakan ketentuan yang dapat disesuaikan dengan segala waktu dan tempat hal yang demikian itu tidak lantas disalahgunakan dengan menentukan sesuatu sekehendak hati.
76
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan dan analisa di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal penting yang merupakan jawaban dari permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, antara lain:
1. Idah merupakan masa tunggu yang wajib dijalani oleh wanita ketika ditinggal mati oleh suaminya atau ketika perkawinannya putus karena perceraian. Kewajiban menjalankan masa tunggu (idah) tersebut telah terdapat dalam surat Al-Baqoroh ayat 228, kemudian telah diatur pula dalam Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 11, serta Kompilasi Hukum Islam pasal 153. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, berkembangnya ilmu pengetahuan, dan semakin majunya teknologi, menyebabkan hadirnya konsep baru. Idah bagi laki-laki merupakan suatu jawaban dari perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan yang menuntut reformasi dalam bidang hukum keluarga. Aturan yang berlaku selama ini dianggap sudah tidak relevan lagi, oleh karena itu aturan yang berlaku harus direvisi dengan aturan baru berdasarkan Hak Asasi Manusia, demokrasi, pluralis dan kesetaraan gender. 2. Dalam proses membentuk hukum Islam di Indonesia, ada beberapa prinsip
dalam sistem hukum Indonesia. Kedua, harus mengupayakan bagaimana hukum baru tersebut dapat diterima dan dijalankan secara efektif oleh masyarakat. Ketiga, harus ada penciptaan dan penyusunan kembali lembaga- lembaga hukum baru.
3. Konsep idah bagi laki-laki tidak relevan dengan perkembangan reformasi hukum keluarga di Indonesia. Konsep idah bagi laki-laki bertentangan dengan Alquran. Selain itu, konsep tersebut tidak memperhatikan dan menggunakan prinsip-prinsip dalam membentuk hukum Islam di Indonesia serta tidak memperhatikan kaidah-kaidah dalam menetapkan hukum Islam. Konsep idah bagi laki-laki bertentangan dengan kondisi sosiologis masyarakat Indonesia, masyarakat Indonesia sangat patuh dan tunduk pada aturan-aturan yang terdapat dalam Alquran.
B. Saran-saran
Dari semua penjelasan yang telah penulis kemukakan, menurut penulis ada beberapa hal yang pantas dijadikan saran konstruktif antara lain:
1. Di era globalisasi yang marak dengan paham mengenai kesetaraan gender, semua pihak terutama kaum intelektual hendaknya lebih selektif dan kritis dalam menerima setiap informasi. Sebab, globalisasi bukan hanya berdampak positif, tetapi dampak dari globalisasi merupakan gaya penjajahan baru bagi dunia ketiga, termasuk penjajahan melalui hegemoni cara pikir dan
paradigma. Oleh sebab itu, peran aktif para ahli ilmu dan ulama lebih ekstra dalam menyampaikan sesuatu yang dianggap menyimpang.
2. Ketentuan yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam, hendaknya dipatuhi oleh umat Islam di Indonesia, karena Kompilasi Hukum Islam dapat dinyatakan sebagai ijma Ulama Indonesia. Tentunya para Ulama dalam menyusun Kompilasi Hukum Islam berpijak pada kemaslahatan umat.
Demikianlah kesimpulan yang dapat dicapai dari studi ini. Penyusun sangat menyadari bahwa hasil yang diperoleh dari penelitian ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mempersilakan peneliti berikutnya untuk menfalsifikasi kesimpulan-kesimpulan yang telah penyusun peroleh saat ini. Karena, "kebenaran hari ini hanyalah sebuah kealpaan di hari esok".
79 Jakarta: Rajawali Pers, 1997, Cet. Ke-I.
. Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: PT. Raja Grafindo, Pustaka Pelajar, 1997, Cet. Ke-VI.
Ali, Zainudin. Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2006, Cet. Ke-I.
Asqalani, Al, Ibnu Hajar. Terjemah Lengkap Bulugul Maram, Penerjemah Abdul Rosyad Siddiq, Jakarta: Akbar Media Sarana, 2007, Cet. Ke-I.
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
As-Suyuthi, Jalaluddin Al-Itqan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Ilmiyyah, 1987.
Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, penerjemah Tim Abdul Hayyie. Jakarta: Gema Insani, 2008.
Asy-Syanqithti, Syaikh. Adhwaul Bayan, penerjemah Fathurazi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2006. Cet. Ke-I.
Ayyub, Syekh Hasan. Fikih Keluarga, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008, Cet. Ke-V. Az-Zuhaily Wahbah. al-Fiqh al-Islamiy Wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr,
1996, Juz VII.
al-Wajiz fi Ushuli al-Fiqh, Libanon: Darl al-Fikr, 1995.
Azizy, A. Qodri, Eklektisisme Hukum Nasional (Kompetisi Antara Hukum Islam Dan
Hukum Umum, Yogyakarta: Gama Media Offset, 2004, Cet. Ke- II.
Barudi, Al, Syaikh Imad Zaki. Tafsir Wanita, Penerjemah Samson Rahman, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2004, Cet. Ke-I.
Departemen Agama Republik Indonesia, al-Quran dan Terjmemahannya.
Dimyati, Al, Abu Bakar bin Muhammad, I’anah al-Tholibin, Libanon: Darul Ihyal al- Turas al-Arabi, t. th, Juz IV.
Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1983, Cet. Ke-XII.
Effendi, Deden, Kompleksitas Hakim Pengadilan Agama, Jakarta : Departemen Agama RI, 1985.
Fauzi, Muhammad Agama dan Realitas Sosial: Renungan dan Jalan Menuju Kebahagiaan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Halim, Abdul, ed. Meretas Kebekuan Ijtihad: Isu-Isu Penting Hukum Islam Kontemporer di Indonesia, Jakarta: Ciputat Press, 2005, Cet. Ke-II.
Ismail, Nurjanah. Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-Laki dalam Penafsiran, Yogyakarta: LKiS, 2003, Cet. Ke-I.
Jaziri, Al, Abd. Al-Rahman. al-Fiqh ala al-Mazahibal-Arba’ah, Beirut: Dar al-Fikr, al-Araby, 2004, Juz IV.
J, Moleng Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Kansil, C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Kompilasi Hukum Islam. Hukum Perkawinan, Kewarisan dan Perwakafan, Bandung:
Nuansa Aulia, 2008.
Manan, Abdul. Reformasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2006. Hakim dalam Penyelenggraan Peradilan (Suatu Sistem dalam Kajian
Peradilan Islam), Jakarta: Kencana, 2007, Cet. Ke-I.
Manshur, Abd al-Qadir. Buku Pintar Fikih Wanita, Jakarta: Zaman, 2009.
Majah, Al-hafiz abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Quzwini Ibnu. Sunan Ibnu Majah, Beirut, Dar al-Fikr, t.th, Juz I.
Mirgani, Al, Al-Imam Muhammad Usman Abdullah. Tafsir al-Maraghi. Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi, 1974, Juz XXVIII.
Tajut Tafasir, penerjemah Bahrun Abu Bakar. Jakarta: Sinar Baru Algensindo, 2009, Cet. Ke-I.
Mughiyah, Muhammad Jawd, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta, Penerbit Lentera, 2005, Cet. Ke-XV.
Mulia, Siti Musdah, Sulistiawati Irianto (ed). Perempuan dan Hukum. Menuju Hukum yang Berprespektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006.
Muslimah Reformis Perempuan Pembaru Keagamaan, Bandung: Mizan, 2005.
Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, Jakarta: Kibar Press, 2007, Cet. Ke- II.
Munawar, Al, Said Agil Husin. Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, Jakarta: Penamadani, 2004, Cet. Ke-I.
Munawir, Ahmad Warson. Al Munawir Kamus Arab Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif, 2002, Cet. Ke-XXV.
Mustofa dan Abdul Wahid, Hukum Islam Kontemporer, Jakarta, Sinar Grafika, 2009, Cet. Ke-I.
Nawawi, Shahih Muslim, Kairo, Daar al-Hadits, 2005, Juz V.
Qatalani, Al, Imam Shihabuddin. Irsadu al-Shari lisarhi Shahih al-Bukhari, Libanon: Darl al-Kutub al-Ilmiyah, 1996, Juz XII.
Qattan, Al, Manna’ Khalil. Mabahis fi ‘Ulumal-Qur’an, Riyad: Mansurat al-‘Asr al- Hadis, t.th.
Ridwan. Membongkar Fikih Negara Wacana Keadilan Gender dalam Hukum Keluarga Islam, Yogyakarta, PSG STAIN Purwokerto & Unggun Religi, 2005, Cet. Ke-I.
Rofiq, Ahmad, Fiqih Konstektual dari Normatif ke Pemaknaan Sosial, ed. Muammar Ramadan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
. Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998.
Rosyadi, Rahmad dan Rais Ahmad, Formalisasi Syariat Islam dalam Perspektif Tata Hukum di Indonesia, Bogor: Ghalia Indonesia, 2006, Cet. Ke-I.
Sabiq, Sayyid. Fiqih Sunnah, Mesir, Dar al-Fath lil i’Lam al-Arabi, jilid 3, 2000, Cet. Ke-I.
Saleh, K.Wantjik. Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1978, Cet. Ke-IV.
Satta, Utsman bin Muhammad. Hasiyat I’anat al-Thalibin, Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiah, 2007. Cet. Ke-III.
Shadiq, Al, Muhammad Zain dan Mukhtar, Membangun Keluarga Humanis, CLD Kompilasi Hukum Islam yang Kontroversial itu, Jakarta: Grahacipta: 2005. Shomad, Abd. Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia,
Jakarta: Kencana, 2010, Cet. Ke-I.
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Yogyakarta: Liberty, 1982, Cet. Ke-I.
Sostroatmodjo, Arso. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1981, Cet.Ke-III.
Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2007.
Usul Fiqh Jilid I, Jakarta: Kencana, 2008, Cet. Ke-III.
Syatibi, Al, Abu Ishak. al-Muwafaqat Fi Ushul al-Syari’at.Beirut, Dar al-Fikr, t.th.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta: Balai Pustaka, 1989, Cet. Ke-II.
Tim Penyusun, Buku III: Pengantar Tehnik Analisa Gender. Jakarta: Kantor Menteri Negara Urusan Perempuan, 1992.
Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan Peraturan Pelaksanaan, Jakarta: PT. Pradya Paramita,1987.
Wahab, Khalaf Abdul. Ilmu Ushul al-Fiqh, Jakarta: Majlis al-A'la al-Indonesia Li al- Dakwah al-Islamiyah, 1972, Cet. Ke-IX.
Wiriadihardja, Mufti. Kitab Pelajaran Tata Hukum Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Gajah Mada, 1972, Cet. Ke-I.
Yanggo, Chuzaimah T. dkk. Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 1994, Cet. Ke-I.
Yunus, Mahmud. Kamus Arab Indonesia, Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuriyah, 1989.
Zahrah, Muhammad Abu. Ahwal al-Syakhsiyyah. Beirut: Dar al-Fikr al-Araby, 2002.
Zu’fiyyu, Al, Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mugirah bin Barzabah al-Bukhoriyyu. Shahih al-Bukhori. Lebanon, Dar Al-Kotob Al-Ilmiah, 2004, Cet. Ke-IV.
INTERNET & JURNAL
Aripin, Jaenal. Reformasi Hukum dan Implikasinya Terhadap Eksistensi Peradilan
Agama di Indonesia, artikel diakses dalam
http://ern.pendis.kemenag.go.id/DokPdf/ern-vi-01.pdf. tanggal 27 Maret 2011.
Latif Fauzi, Muhammad. Sharia di Ruang Publik Indonesia, Melihat Perdebatan
Hukum Keluarga Islam di Era Reformasi, artikel diakses pada
http://ern.pendis.kemenag.go.id/DokPdf/ern-v-01.pdf.pada tanggal,10 Februari 2011.
Mas’udi, Masdar F. Meletakkan Maslahat Sebagai Kerangka Acuan Syari‘ah, Ulumul Qur‘an, Vol. IV, 1995.
Soekanto, Soerjono. Ilmu-Ilmu Hukum dan Pembangunan Hukum, Analisis Pendidikan. No.02, Tahun ke-4 (1983).