• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penolakan Tidak Langsung

Dalam dokumen BAB IV ANALISIS DATA (Halaman 22-56)

Strategi penolakan tidak langsung biasanya digunakan untuk menghindari wajah mengancam dari penutur agar perasaan lawan tutur tidak tersinggung. Oleh karena itu, penutur mengucapkan sebuah penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan, undangan, perintah, dll. Dengan menggunakan bentuk tidak langsung, penutur merasakan kemudahan untuk menolak tindakan yang dilakukan oleh lawan tutur. Selain itu, penolakan tidak langsung digunakan untuk mengurangi wajah negatif serta menjaga perasaan lawan tutur. Penolakan tidak langsung juga digunakan untuk merubah penolakan menjadi lebih lembut.

PTL/MPON (Mengkritik Pemohon/Opini Negatif) (18) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies yang berlokasi di rumah keluarga Mellema. Data di atas terjadi ketika Mama masuk ke dalam rumah agar meninggalkan Annelies dan Minke bisa berbicara berdua. Minke bertanya tentang keberadaan ayah Annelies yaitu Tuan Mellema. Pertanyaan tersebut membuat Annelies mengerutkan kening dan merasa tidak nyaman.

Bentuk Tuturan

"Mana ayahmu?" tanyaku menyingkir percakapan sambungan sebelumnya.

Annelies mengerutkan kening. Kecerahannya hilang:

"Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku sendiri tak ada

keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu."

(BM/01/h41/PTL/MPON) Data (18) menunjukkan bahwa Annelies menggunakan penolakan tidak langsung "Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku

sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu." dan menggunakan pertanyaan "Suka kau mendengarkan

musik?" untuk mengalihkan topik pembicaraan. Penolakan tidak

langsung tersebut menunjukkan bahwa Annelies dan Minke baru berkenalan dan belum terlalu akrab. Penolakan Annelies tersebut juga menunjukkan bahwa Minke telah menyentuh topik yang sangat dihindari oleh Annelies yaitu topik mengenai Ayahnya atau Tuan Mellema.

Percakapan tersebut menunjukkan penolakan tidak langsung mengkritik pemohon/opini negatif. Annelies menolak dengan mengatakan "Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku

sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu." tetapi Minke tetap bertanya dan Annelies akhirnya

mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari pertanyaan Minke.

(19) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies dan berlokasi di kamar Minke di dalam kediaman keluarga Mellema. Minke sedang menyelesaikan soal-soal aljabar di dalam kamarnya ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, pintu kamar Minke diketuk dan masuklah Annelies ke dalam kamar Minke. Annelies langsung menarik Minke untuk dibawa ke kamarnya sendiri karena beberapa hari belakangan ini Minke sudah tidak pernah menyelimuti Annelies karena Minke berpendapat bahwa Annelies nampak semakin sehat dan ia hatus melakukan semua itu sendiri. Annelies langsung naik ke ranjang dan meminta Minke untuk menyelimutinya.

Bentuk Tuturan

"Selimuti aku, Mas."

"Masa kau akan terus jadi manja begini?" protesku.

Data (19) menunjukkan bahwa Minke menolak permintaan Annelies yang menyuruhnya untuk menyelimuti dirinya dengan menggunakan penolakan tidak langsung. Hal ini terjadi bukan karena Minke dan Annelies tidak mempunyai hubungan yang dekat, melainkan Minke tidak mau Annelies kembali sakit karena kesehatan Annelies belum kembali pulih seperti sediakala. Minke menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif dengan mengutarakan "Masa kau

akan terus jadi manja begini?" Minke memprotes Annelies karena

semenjak ia jatuh sakit, Annelies menjadi semakin manja kepada Minke. Minke berpikir bahwa Annelies sudah nampak semakin sehat dan harus kembali pada rutinitas yang sebelumnya dan tidak selalu bergantung pada Minke.

(20) Konteks Tuturan

Minke mengajak Jean Marais dan anaknya, May, untuk pergi mengunjungi Mama di Wonokromo. Minke memperkenalkan Jean Marais dengan Mama sedangkan May langsung akrab dan bermain bersama Annelies di dalam rumah. Minke menjelaskan kepada Mama bahwa Jean Marais datang ke rumah karena ingin meminta izin untuk melukis wajah Mama, tetapi Mama tidak mau dan menolak untuk dilukis.

Bentuk Tuturan

"Tuan Martinet dokter pandai," kataku dalam Melayu. "Dia yang menyembuhkan Annelies. Kami sangat berterimakasih. Sedang sahabatku ini, Mama, dia dtang minta ijin untuk melukis Mama, sekiranya Mama setuju dan ada waktu."

"Apa guna dilukis?"

Data (20) menunjukkan bahwa Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan dari Jean Marais yang meminta izin untuk melukis wajah Mama. Hal ini menunjukkan bahwa Mama tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan Jean Marais. Mama menggunakan penolakan tidak langsung pernyatan mengkritik pemohon opini negatif dengan mengutarakan "Apa guna

dilukis?" Mama menggunakan penolakan tidak langsung karena

ingin menjaga perasaan Jean Marais.

(21) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minke dan Maarten Nijman di kantor S. N. v/d D. Maarten Nijeman memperingatkan Minke agar jangan terlalu dekat dengan Juffrouw Magda Peters.

Bentuk Tuturan

"Hmm. Aku kira ada baiknya Tuan agak menjauh sedikit." "Dia begitu baik."

"Baik? Itu memang senjata baginya untuk menjerumuskan orang, kiraku."

"Menjerumuskan?"

"Tentu Tuan tidak pernah dengar: menjerumuskan orang bisa juga dengan jalan kebaikan."

(BM/33/h437/PTL/MPON) Data (21) menunjukkan bahwa Maarten Nijman menawarkan Minke untuk bekerja sepenuhnya di kantor tersebut jika memang benar sekolah telah mengeluarkan Minke. Minke datang menemui Maarten Nijman untuk memberikan jawaban dengan cara menceritakan keputusan sidang Dewan Guru tadi. Maarten Nijeman memperingatkan Minke agar jangan terlalu dekat dengan Juffrouw Magda Peters. Minke menolak usul dari Maarten Nijman yang mengusulkan untuk tidak terlalu dekan dengan Juffrouw Magda

Peters dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif "Dia begitu baik." untuk menampik usul dari Maarten Nijman.

(22) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara hakim dan Mama yang berlokasi di Pengadilan. Annelies dan Mama mendapat panggilan untuk datang ke Pengadilan, Annelies tidak bisa berangkat karena sakit dan digantikan oleh Minke yang menemani mama. Mereka datang tanpa ditemani oleh advokat. Hakim bertanya tentang keberadaan Annelies dan alasannya tidak datang ke Pengadilan. Mama menjawab dengan mengatakan bahwa Annelies sakit dan sedang dirawat oleh Dokter Martinet. Hakim tidak percaya dan menanyakan surat keterangan dari dokter.

Bentuk Tuturan

"Ada dibawa surat keterangan Tuan Dokter?" Aku terkejut mendegar jawaban Nyai yang kasar:

"Apa Pengadilan juga sudah memutuskan mulutku tak dapat

dipercaya?"

(BM/36/h510/PTL/MPON) Data (22) menunjukkan bahwa Mama menolak permintaan dan keputusan dari Hakim dengan menggunakan penolakan tidak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai hubungan yang dekat. Mama menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif dengan mengatakan "Apa Pengadilan juga sudah

memutuskan mulutku tak dapat dipercaya?" ketika hakim

meminta surat keterangan dokter dan "Apa masih perlu orang yang

akan kehilangan segalanya bersikap sopan menghadapi kehilangannya? ...." ketika hakim berkata bahwa Mama semestinya

sedang sakit untuk menolak keputusan Hakim yang mengatakan bahwa Annelies akan pergi lima hari yang akan datang. Penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif yang Mama gunakan untuk menolak permintaan dan keputusan dari Hakim karena Mama mencoba untuk menghalangi lawan dengan mengkritik pemohon atau memberikan pendapat serta perasaan negatif untuk menolak permintaan dan keputusan tersebut.

PTL/PT (Pengalihan Topik) (23) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies yang berlokasi di rumah keluarga Mellema. Data di atas terjadi ketika Mama masuk ke dalam rumah agar meninggalkan Annelies dan Minke bisa berbicara berdua. Minke bertanya tentang keberadaan ayah Annelies yaitu Tuan Mellema. Pertanyaan tersebut membuat Annelies mengerutkan kening dan merasa tidak nyaman.

Bentuk Tuturan

"Mana ayahmu?" tanyaku menyingkir percakapan sambungan sebelumnya.

Annelies mengerutkan kening. Kecerahannya hilang:

"Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu."

"Mengapa?" tanyaku.

"Suka kau mendengarkan musik?" "Tidak sekarang."

(BM/02/h41/PTL/PT) Data (23) menunjukkan bahwa Annelies menggunakan penolakan tidak langsung dengan mengutarakan pertanyaan "Suka kau

mendengarkan musik?" untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Penolakan tidak langsung yang diutarakan Annelies menunjukkan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yag diajukan oleh Minke. Sedangkan pengalihan topik yang diutarakan Annelies setelah

Minke kembali bertanya "Mengapa?" menunjukkan bahwa Annelies sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Minke.

(24) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di bengkel mebel milik Jean Marais. Minke dan jean Marais adalah participant yang terlibat dalm percakapan ini. Minke berkunjung ke bengkel Jean untuk membicarakan tentang keadaan dirinya yang serba tersihir dan pendapat umum tentang keluarga Nyai Ontosoroh. Minke melihat Jean Marais sedang melukis sesuatu yang dianggap Minke sebagai suatu kekejaman. Jean Marais pun menceritakan maksud dari lukisan tersebut. Jean bercerita bahwa lukisan tersebut adalah wanita yang dicintainya yang sekaligus ibu dari anaknya, May. Minke pun meminta jean untuk bercerita lebih tentang ibu May.

Bentuk Tuturan

"Ceritai aku tentang ibu May," kataku mengelak. "Tentu luarbiasa, dari seorang yang hendak kau bunuh jadi seorang yang kau cintai. Ayoh, Jean."

"Lain kali sajalah. Hatiku belum lagi bersuasana cerita. Coba lihat

sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?"

(BM/06/h82/PTL/PT) Data (24) menunjukkan bahwa Jean Marais menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung "....Coba lihat sketsa ini

saja. Bagaimana pendapatmu?" untuk mengalihkan topik

pembicaraan. Jean Marais merupakan sahabat Minke, mereka mempunyai hubungan yang sangat akrab, penggunaan penolakan tidak langsung pada percakapan di atas didasari oleh ketidaknyamanan Jean Marais menceritakan kisah tentang ibu May karena ia tidak mau May mendengarkan kisah tersebut. Pengalihan topik yang digunakan untuk mengarahkan pembicaran jauh dari permintaan, hal itu menunjukkan bahwa Jean Marais sangat tidak ingin membahas topik tersebut pada waktu itu.

PTL/PP (Pernyataan Prinsip) (25) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minem dan Annelies ketika Annelies mengajak Minke berjalan-jalan melihat keadaan di sekitar rumahnya termasuk peternakan milik keluarga Annelies. Annelies bertanya tentang jumlah hasil perahan Minem dalam sehari, Minem menjawab bahwa tidak ada kenaikan dalam hasil perahannya. Annelies mengingatkan Minem bahwa ia tidak bisa jadi mandor perah jika tidak ada kenaikan dari hasil perahannya. Minem beranggapan ia tetap bisa jadi mandor perah jika Annelies menghendakinya menjadi mandor perah. Annelies menolak anggapan dari Minem.

Bentuk Tuturan

"Mana bisa jadi mandor perah kalau begitu?" "Kalau Non sudi kan bisa saja?"

"Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari yang lain-lain

kau takkan bisa memberi contoh kerja yang baik. Tak mungkin bisa jadi mandor, Yu."

(BM/03/h47/PTL/PP) Data (25) menunjukkan bahwa Annelies mengucapkan penolakan tidak langsung "Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari

yang lain-lain kau takkan bisa memberi contoh kerja yang baik. Tak mungkin bisa jadi mandor, Yu.". Terdapat jarak sosial di antara

Annelies dan Minem. Jarak sosial tersebut yang menyebabkan Annelies menggunakan penolakan tidak langsung kepada Minem.

Penolakan tidak langsung yang digunakan oleh Annelies adalah penolakan tidak langsung prinsip. Annelies mempunyai prinsip bahwa jika hasil perahan Minem tidak lebih banyak dari pekerja yang lain, maka Minem tidak bisa dijadikan mandor karena tidak memberi contoh kerja yang baik untuk pekerja lainnya.

(26) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh atau yang biasa dipanggil dengan Mama. Minke menyusun kembali cerita lisan dari Annelies tentang Mama. Percakapan di atas bertempatkan di dalam kamar Mama ketia Annelies tiba-tiba datang ke kamar dan meminta untuk tidur bersama Mama. Annelies bertanya tentang cerita awal bagaimana Mamanya bisa bersama dengan ayahnya, tuan Herman Mellema.

Bentuk Tuturan

Juga ke tempat baru ini beberapa kali ayah datang menengok, dan aku tetap menolak menemuinya.

"Temui ayahmu," sekali Tuan Mellema menyuruh, "dia toh ayahmu sendiri."

"Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan

tamu Tuan, sudah aku usir."

(BM/09/h130/PTL/PP) Data (26) menunjukkan bahwa Mama bercerita tentang kisahnya yang dijual oleh ayah kandungnya sendiri hanya demi uang dan jabatan. Mama mempunyai dendam yang sangat mendalam kepada orangtuanya karena mereka lebih memilih uang dan jabatan daripada darah dagingnya sendiri. Beberapa kali ayah Mama, Sastrotomo, datang untuk menengok ke rumah Tuan Mellema, tetapi Mama menolak untuk menemuinya. Hingga akhirnya Tuan Mellema menyuruh Mama untuk menemuinya.

Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak perintah dari Tuan Mellema. Hal tersebt menunjukkan bahwa walaupun Mama dan Tuan Mellema sudah sering berbincang dan lama kelamaan Mama merasa sederajat dengan Tuan Mellema.tetapi Mama tetap mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung dengan orang lain dan tidak membiarkan dirinya terlalu akrab dengan Tuan Mellema. Itulah sebabnya mengapa Mama menggunakan

penolakan tidak langsung untuk menolak perintah dari tuan Mellema. Penolakan tidak langsung yang diutarakan Mama adalah penolakan tidak langsung pernyataan prinsip dengan mengatakan "Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan

tamu Tuan, sudah aku usir.". Mama menunjukkan sikap sopan

dengan mengatakan "...kalau dia bukan tamu Tuan, sudah aku

usir." hal itu menunjukkan bahwa Mama masih menunjukkan rasa

hormat kepada Tuan Mellema.

PTL/JMD (Janji Penerimaan Masa Depan) (27) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di rumah keluarga Mellema antara Minke dan Mama. Saat Minke ingin pulang, Mama membujuk Minke untuk sering main ke rumahnya dan bahkan tinggal di rumahnya. Mama mengatakan bahwa Annelies tidak punya teman dan sangat senang atas kehadiran Minke di rumahnya.

Bentuk Tuturan

Darsam mengangkat tangan, tanpa bicara, kemudian pergi "Sinyo, Minke," Nyai merajuk, "Annelies tak punya teman. Dia senang Sinyo datang kemari. Kau memang tak punya banyak waktu. Itu aku tahu. Biar begitu usahakan sering datang kemari. Tak perlu kuatir pada Tuan Mellema. Itu urusanku. Kalau Sinyo suka, kami akan senang kalau Sinyo mau tinggal di sini. Sinyo bisa diantar dengan bendi setiap hari pulang balik. Itu kalau Sinyo suka."

Rumah dan keluarga aneh dan seram ini! Pantas orang menganggapnya angker. Dan aku menjawab:

"Biar kupikir-pikir dulu, Mama. Terima kasih atas undangan

pemurah itu."

"Jangan tidak, Minke," Annelies merajuk.

"Ya, Nyo, pikirlah. Kalau tidak ada keberatan, biar semua nanti diurus oleh Annelies. Kan begitu, Ann?"

Annelies Mellema mengangguk mengiakan.

(BM/04/h69/PTL/JMD) Data (27) menunjukkan Minke menggunakan penolakan tidak langsung "Biar kupikir-pikir dulu, Mama. Terima kasih atas

undangan pemurah itu." untuk menolak permintaan Mama

menunjukkan bahwa Mama dan Minke bellum memiliki hubungan yang akrab, karena mereka baru berkenalan pada hari itu, hal tersebut yang membuat Minke agak sedikit ketakutan karena mereka belum lama mengenal satu sama lain tetapi Mama sudah meminta Minke untuk sering main bahkan tinggal di kediaman Mellema untuk menemani putrinya, Annelies.

Penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan. Penolakan tersebut mungkin berisi janji bahwa permintaan akan dicapai pada lain waktu, ketika ada kondisi yang menguntungkan untuk penyelesaiannya.

(28) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di bengkel mebel milik Jean Marais. Minke dan jean Marais adalah participant yang terlibat dalm percakapan ini. Minke berkunjung ke bengkel Jean untuk membicarakan tentang keadaan dirinya yang serba tersihir dan pendapat umum tentang keluarga Nyai Ontosoroh. Minke melihat Jean Marais sedang melukis sesuatu yang dianggap Minke sebagai suatu kekejaman. Jean Marais pun menceritakan maksud dari lukisan tersebut. Jean bercerita bahwa lukisan tersebut adalah wanita yang dicintainya yang sekaligus ibu dari anaknya, May. Minke pun meminta jean untuk bercerita lebih tentang ibu May.

Bentuk Tuturan

"Ceritai aku tentang ibu May," kataku mengelak. "Tentu luarbiasa, dari seorang yang hendak kau bunuh jadi seorang yang kau cintai. Ayoh, Jean."

"Lain kali sajalah. Hatiku belum lagi bersuasana cerita. Coba lihat sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?"

(BM/05/h82/PTL/JMD) Data (28) menunjukkan bahwa Jean Marais menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung "Lain kali sajalah. Hatiku

belum lagi bersuasana cerita...." dan pernyataan "....Coba lihat sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?" untuk mengalihkan topik

pembicaraan. Jean Marais merupakan sahabat Minke, mereka mempunyai hubungan yang sangat akrab, penggunaan penolakan tidak langsung pada percakapan di atas didasari oleh ketidaknyamanan Jean Marais menceritakan kisah tentang ibu May karena ia tidak mau May mendengarkan kisah tersebut.

(29) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies di kediaman keluarga Mellema. Minke akhirnya datang kembali ke kediaman keluarga Mellema, Annelies membawanya masuk ke kamar bersama dengan Darsam yang membantu membawa kopor Minke. Annelies membantu Minke membereskan isi kopornya dan menemukan tiga pucuk surat yang semuanya dari B.

Bentuk Tuturan

"Mas!" itulah untuk pertama kali ia memanggil aku-panggilan yang mendebarkan, menimbulkan suasana seakan aku berada di tengah keluarga Jawa. "Ini ada tiga pucuk surat. Kau belum lagi membacanya. Mengapa tak dibaca?"

Rasanya semua orang menuntut aku membaca surat-surat yang kuterima.

"Tiga pucuk, Mas, semua dari B." "Ya, nanti kubaca."

(BM/07/h93/PTL/JMD) Data (29) menunjukkan bahwa Minke menggunakan penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan untuk menolak pemberitahuan yang sekaligus perintah dari Annelies untuk Minke agar dia membaca ketiga surat tersebut. Minke dan Annelies sudah cukup akrab, hal ini dapat dilihat dari keberadaan Minke yang menginap di rumah Annelies. Minke menolak Annelies dengan penolakan tidak langsung "Ya, nanti kubaca." karena semua surat itu berasal dari B,

atau kampung halaman Minke. Minke menolak Annelies karena ia tidak mau membaca surat dari B tersebut, Minke merasa semua orang menuntutnya untuk membaca surat tersebut.

(30) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi antara Robert Mellema dan Minke ketika Robert mengundang Minke ke kamarnya. Robert dan Minke membicarakan tentang sekolah dan alasan mengapa Minke tinggal di rumahnya. Robert kembali mengajak Minke berburu dan mengajaknya jalan-jalan setelah ditolak Minke atas ajakannya untuk bermain catur.

Bentuk Tuturan

"Ya, sayang sekali. Berburu bagaimana? Mari berburu."

"Sayang, Rob, aku membutuhkan waktu untuk belajar.

Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?"

"Baik, lain kali," ia tembuskan pandangnya pada mataku. Aku tahu ada ancaman dalam pandang itu. Ia jatuhkan telapak tangan kanan pada paha. "Bagaimana kalu kita jalan-jalan sekarang?"

"Sayang, Rob, aku harus belajar."

(BM/10/h156/PTL/JMD) Data (30) menunjukan bahwa Minke mengungkapan penolakan tidak langsung atas ajakan Robert berburu dengan "Sayang, Rob, aku

membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?" dan ajakan Robert berjalan-jalan

dengan "Sayang, Rob, aku harus belajar.". Hal ini menunjukkan bahwa Minke dan Robert Mellema adalah teman sebaya tapi tidak mempunyai hubungan yang akrab. Minke menolak dengan penolakan tidak langsung karena Minke telah menolak secara langsung ajakan Robert untuk bermain catur dan ia tidak mau menyinggung perasaan Robert sehingga ia menggunakan penolakan tidak langsung.

Penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan "Sayang, Rob,

aku membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?" Minke menggunaan janji

penerimaan masa depan untuk meyakinkan Robert bahwa dia bisa memenuhi permintaannya pada lain waktu. Minke juga menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan/alasan/penjelasan "Sayang, Rob,

aku harus belajar." untuk menolak permintaan dengan

menunjukkan alasan yang mungkin umum atau khusus.

(31) Konteks Tuturan

Percakapan terjadi di antara Robert Mellema dengan Babah Ah Tjong di dalam kediaman rumah Babah Ah Tjong. Robert sudah beberapa hari tinggal di rumah Babah Ah Tjong, ia dilayani oleh wanita-wanita simpanan di rumah plesiran Babah Ah Tjong. Robert meminta bon dari Babah Ah Tjong untuk ditandatangani, tetapi Babah menolak permintaan Robert tersebut.

Bentuk Tuturan

"Biar aku tandatangani bonnya," katanya ragu.

"Ai, Nyo, kita beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa. Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? Pendeknya

setiap saat boleh datang kemali. Boleh pakai kamal mana saja selama tidak telkunci, tanpa batas waktu, siang atau malam. Boleh pilih olang mana saja. Kalau pintu dan jendela depan telkunci Sinyo masuk saja dali pintu belakang. Tukangkebun dan penjaga nanti kubilangi."

(BM/16/h262/PTL/JMD) Data (31) menunjukkan bahwa Babah menggunakan penolakan tidak langsung Janji Penerimaan Masa Depan dengan mengatakan "Ai, Nyo, kita beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa. Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? Pendeknya setiap saat

boleh datang kemali. Boleh pakai kamal mana saja selama tidak telkunci, tanpa batas waktu, siang atau malam. Boleh pilih olang mana saja. Kalau pintu dan jendela depan telkunci Sinyo masuk

saja dali pintu belakang. Tukangkebun dan penjaga nanti

Dalam dokumen BAB IV ANALISIS DATA (Halaman 22-56)

Dokumen terkait