58
Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam sebuah penelitian. Tahap analisis data dilakukan untuk menemukan jawaban-jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian tersebut. Adanya tahap analisis data, semua masalah yang terdapat dalam sebuah penelitian akan terjawabkan. Analisis data pada penelitian ini meliputi (a) bentuk tindak tutur penolakan yang terdapat dalam novel Bumi Manusia, (b) strategi penolakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel Bumi Manusia, (c) alasan mengapa para tokoh menggunakan strategi penolakan dalam novel Bumi Manusia.
Peneliti menganalisis 58 data yang berisi jenis strategi penolakan berdasarkan teori Takahashi dan Weltz. Data dikumpulkan setelah mengelompokkannya berdasarkan klasifikasi penolakan dan teori jarak sosial yaitu penolakan langsung, penolakan tidak langsung, dan tambahan untuk penolakan sebagai jenis penggunaan strategi penolakan yang ditemukan dalam novel. Ada cara langsung dan tidak langsung yang digunakan oleh tokoh untuk menyampaikan pilihan strategi penolakan. Bab ini menjelaskan situasi konteks, peserta, dan interaksi dalam analisis data yang terkait satu sama lain dalam menganalisis penolakan dan adanya jarak sosial yang mempengaruhi pilihan strategi penolakan yang dinyatakan oleh tokoh. Penggunaan setiap strategi penolakan digunakan untuk memahami makna dari ucapan dan mencapai tujuan ucapan dalam konteks tertentu.
Tipe Penolakan
Strategi Penolakan Jumlah Nomor Data
Penolakan Langsung
(PL)
- Pernyataan Non-Performatif
- Pernyataan Kemampuan Kemauan Negatif - 13 - 4 01, 03, 04, 05, 06, 07, 08, 10, 13, 14, 15, 16, 17 02, 09, 11, 12 Penolakan Tidak Langsung (PTL)
- Pernyataan Mengkritik Pemohon /Opini Negatif
- Pernyataan Pengalihan Topik
- Pernyataan Prinsip
- Pernyataan Janji Penerimaan Masa Depan - Pernyataan Alternatif - Pernyataan/Alasan/Penjelasan - Pernyataan Filosofi - 5 - 2 - 2 - 7 - 1 - 4 - 2 01, 24, 26, 33, 36 02, 06 03, 09 04, 05, 07, 10, 16, 29, 31 08 11, 15, 19, 20 12, 38
- Pernyataan Pengulangan Bagian dari Permintaan - Pernyataan Keinginan - Pernyataan Penyesalan/Permintaan Maaf - Keberangkatan Fisik - Pernyataan Perintah - 2 - 6 - 3 - 1 - 4 13, 34 14, 17, 18, 22, 23, 27 20, 25, 28 25 30, 31, 35, 37 Tambahan Penolakan (TP) - Pernyataan Syukur - 1 01 Total 58
Tabel 1: Frekuensi Jumlah Data Strategi Penolakan
Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat tiga tipe penolakan yaitu penolakan langsung, penolakan tidak langsung dan tambahan untuk penolakan. Penolakan langsung terdapat 13 data yang termasuk ke dalam Pernyataan Non-Performatif dan 4 data yang termasuk ke dalam Pernyataan Kemampuan
Kemauan Negatif. Sedangkan untuk penolakan tidak langsung terdapat 5 data Pernyataan Mengkritik Pemohon /Opini Negatif, 2 Pernyataan Pengalihan Topik, 2 Pernyataan Prinsip, 8 Pernyataan Janji Penerimaan Masa Depan, 1 Pernyataan Alternatif, 4 Pernyataan/Alasan/Penjelasan, 2 Pernyataan Filosofi, 2 Pernyataan Pengulangan Bagian dari Permintaan, 6 Pernyataan Keinginan, 3 Pernyataan Penyesalan/Permintaan Maaf, 1 Keberangkatan Fisik, dan 2 Pernyataan Perintah. Pada tambahan untuk penolakan terdiri dari 1 data yaitu Pernyataan Syukur. Dapat disimpulkan bahwa penolakan tidak langsung adalah penolakan yang paling sering digunakan oleh para tokoh.
A. Penolakan Langsung
Sebuah tindakan yang diterapkan dalam menyampaikan strategi penolakan tanpa alasan. Hal tersebut dilakukan karena penutur telah menggunakan penolakan langsung yang jelas. Dengan demikian, para lawan tutur tidak perlu menafsirkan maksud dari ucapan penutur. Dengan penolakan langsung, penutur tidak memperhatikan wajah lawan tutur ketika melakukan strategi penolakan. Hal ini dipicu karena hubungan dekat yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur.
PL/Nperf (Non-Performatif) (1) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di dalam sebuah dokar model terbaru ketika Minke dan Robert Suurhof dalam perjalanan ke rumah bidadari yang diceritakan Robert. Minke tidak tahu tujuan mereka menaiki dokar tersebut dan bertanya kepada Robert. Jawaban Robert hanya mengolok-olok Minke dan bependapat bahwa Minke akan menjadi bupati. Minke pun menolak pernyataan Robert tentang dirinya yang akan menjadi bupati.
Bentuk Tuturan
"Kau memperolok aku, Rob."
akan mendapat kebupatian tandus. Aku doakan kau akan mendapat yang subur. Kalau dewi itu kelak mendampingimu jadi Raden Ayu, aduhai, semua bupati di Jawa akan demam kapialu karena iri."
"Siapa yang bilang aku akan jadi bupati?"
"Aku. Dan aku akan meneruskan sekolah ke Nederland. Aku akan jadi insinyur. Pada waktu itu kita akan bisa bertemu lagi. Aku akan berkunjung padamu bersama istriku. Tahu kau pertanyaan pertama yang bakal kuajukan?"
"Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati."
"Dengarkan dulu. Aku akan bertanya: Hai philogynik, mata kranjang, buaya darat, mana haremmu?"
"Rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradab."
"Mana ada Jawa, dan bupati pula, bukan buaya darat?" "Aku takkan jadi bupati."
(BM/01/h23/PL/NPerf) Percakapan pada data (1) menunjukkan bahwa Robert dan Minke menggunakan strategi penolakan langsung dengan mengatakan "Tidak....", "Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati.", dan "Aku
takkan jadi bupati.". Strategi penolakan langsung tersebut masuk ke
dalam klasifikasi penolakan langsung non-performatif dan kemampuan kemauan negatif. Penggunaan strategi penolakan langsung tersebut menunjukkan bahwa Minke dan Robert mempunyai hubungan dekat sebagai teman. Strategi penolakan langsung tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Minke tidak suka pendapat Robert yang menyatakan bahwa dia akan jadi bupati. Melihat dari data (1), bisa terlihat bahwa Minke dan Robert tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh lawan bicara satu sama lain. Robert mengatakan "Tidak. Pada suatu kali kau akan jadi bupati...." kepada Minke saat Minke mengatakan "Kau memperolok aku, Rob." Jawaban Robert termasuk ke dalam pernyataan non-performatif.
dengan mengatakan "Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati." dan "Aku takkan jadi bupati." pada penyataan Minke tersebut terlihat bahwa Minke sangat tidak suka dan menolak pendapat Robert tersebut. Pernyatan Minke dalam strategi penolakan langsung tersebut masuk ke dalam penyataan non-performatif.
(2) Konteks Tuturan
Percakapan tersebut terjadi antara Minke dan Annelies. Percakapan mereka terjadi pada saat Annelies mengajak Minke berkeliling kampung-kampung yang berada di atas tanah milik keluarga Annelies. Minke melihat rumpunan glagah dan mengajak Annelies untuk melihat, tetapi Annelies menolak ajakan Minke.
Bentuk Tuturan
"Mari ke sana," aku mengajak.
"Tidak," jawabnya tegas dan bahunya diangkat. Kepalanya agak bergidik.
(BM/03/h53-54/PL/NPerf) Data (2) menunjukkan percakapan terjadi antara Minke dan Annelies. Percakapan mereka terjadi pada saat Annelies mengajak Minke berkeliling kampung-kampung yang berada di atas tanah milik keluarga Annelies. Minke melihat rumpunan glagah dan mengajak Annelies untuk melihat, tetapi Annelies menolak ajakan Minke.
Data (2) menunjukkan Annelies menggunakan penolakan langsung "Tidak," dan menunjukkan hubungan dekat antara Annelies dan Minke yang pada dasarnya memiliki jarak usia yang tidak jauh. Hal ini dapat dilihat dari status Minke sebagai siswa H.B.S dan Annelies sebagai adik dari Robert Mellema yang usianya sama seperti Minke. Annelies dapat menolak ajakan Minke tanpa harus menggunakan ucapan yang sopan. Annelies menunjukkan bahwa ia
benar-benar tidak suka melihat rumpunan glagah tersebut dengan menggunakan penolakan langsung dan bahasa tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanannya.
Percakapan pada data (2) termasuk penolakan langsung non-performatif yang digunakan Annelies untuk menolak ajakan Minke dengan mengatakan "Tidak," dan menunjukkan percakapan yang santai dan informal.
(3) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di bengkel mebel milik Jean Marais. Minke dan jean Marais adalah participant yang terlibat dalm percakapan ini. Minke berkunjung ke bengkel Jean untuk membicarakan tentang keadaan dirinya yang serba tersihir dan pendapat umum tentang keluarga Nyai Ontosoroh. Jean Marais pun menyimpulkan bahwa Minke sedang jatuh cinta, Minke mengakui kecantikan Annelies tapi ia menolak pernyataan Jean yang mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta.
Bentuk Tuturan
"Kau dalam kesulitan, Minke. Kau jatuh cinta."
"Tidak, Jean. Tak pernah aku jatuh cinta. Memang dara itu sangat menarik, menawan, tapi jatuh cinta aku tidak."
(BM/04/h77/PL/NPerf) Data (3) menunjukkan Minke menggunakan penolakan langsung dengan mengatakan "Tidak, Jean. Tak pernah aku jatuh
cinta. Memang dara itu sangat menarik, menawan, tapi jatuh cinta aku tidak." percakapan tersebut menunjukkan kedekatan
hubungan antara Minke dan Jean Marais karena Jean merupakan sahabat Minke. Minke menolak pernyataan Jean dengan menggunakan penolakan langsung.
Minke ingin menunjukkan percakapan santai antara dia dan sahabatnya tersebut, itu sebabnya ia menggunakan penolakan langsung secara bebas.
(4) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di dalam kamar Nyai Ontosoroh ketika Annelies memasuki kamar ibunya dengan alasan tidak bisa tidur. Nyai mulai bercerita kepada Annelies tentang asal mula mengapa ia bisa tinggal bersama Tuan Mellema. Annelies bertanya kepada ibunya tentang keluarganya di Tulangan dan mengusulkan untuk menengok keluarga yang berada di Tulangan.
Bentuk Tuturan
"Mungkin lebih baik kalau kita pernah menengoknya, Ma?"
"Tidak. Sudah baik begitu. Biar putus semua yang sudah-sudah. Luka terhadap kebanggaan dan hargadiri tak juga mau hilang. Bila teringat kembali bagaimana hina aku dijual... Aku tak mampu mengampuni kerakusan Sastrotomo dan kelemahan istrinya. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa."
(BM/05/h138/PL/NPerf) Data (4) menunjukkan bahwa Nyai menggunakan penolakan langsung untuk menolak usul dari Annelies. Penolakan langsung tersebut menunjukkan hubungan dekat antara Annelies dan ibunya, Nyai Ontosoroh. Melalui penolakan langsung "Tidak. Sudah baik
begitu..." Nyai menyatakan bahwa menurutnya lebih baik untuk sama
sekali tidak mempunyai hubungan dengan keluarga di Tulangan karena mereka sudah menjual Nyai kepada Tuan Herman Mellema.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa Nyai menolak usul dari Annelies untuk menyambung kembali tali silahturahmi dengan keluarga di Tulangan dengan mengatakan "Tidak. Sudah baik
langsung non-performatif. Percakapan antara ibu dan anak tersebut merupakan percakapan santai dan informal, oleh karena itu Nyai menggunakan penolakan langsung untuk menolak usul dari Annelies.
(5) Kontrks Tuturan
Annelies, Nyai, dan Robert Mellema adalah participant yamg terlibat dalam percakapan tersebut. Percakapan dilihat dari sudut pandang Annelies ketika ia bercerita kepada Minke tentang kisah keluarganya. Annelies bercerita tentang bagaimana Papanya pulang ke rumah dengan penampilan yang tidak seperti biasanya setelah beberapa hari pergi dari rumah dan tidak menegur ataupun menengok. Tuan Mellema langsung masuk ke dalam rumah, Robert Mellema pun menggerutu dan mengejar papanya tersebut. Nyai memberi izin kepada Annelies bahwa ia boleh mengikuti abangnya. Annelies menolak izin dari ibunya tersebut.
Bentuk Tuturan
"Kalau suka, kau boleh ikuti contoh abangmu."
"Tidak, Ma," Seruku dan kupeluk lehernya. "Aku hanya ikut Mama. Aku juga Pribumi seperti Mama."
(BM/06/h151/PL/NPerf) Data (5) menunjukkan bahwa Annelies menyatakan penolakan langsung dengan mengucapkan "Tidak, Ma," dan menggunakan alasan "Aku hanya ikut Mama. Aku juga Pribumi seperti Mama." penolakan tersebut digunakan untuk menunjukkan hubungan akrab antara Annelies dan ibunya, oleh karena itu Annelies menggunakan penolakan langsung untuk menolak usul dari ibunya.
Annelies menggunakan penolakan langsung non-performatif. Annelies menolak dengan mengatakan "Tidak, Ma," dan menggunakan alasan "Aku hanya ikut Mama. Aku juga Pribumi seperti Mama." Percakapan antara ibu dan anak tersebut merupakan percakapan santai dan informal, Annelies menyampaikan ungkapan
langsung ketika dia menolak secara bebas.
(6) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi antara Robert Mellema dan Minke ketika Robert mengundang Minke ke kamarnya. Robert dan Minke membicarakan tentang sekolah dan alasan mengapa Minke tinggal di rumahnya. Robert mengalihkan pembicaraan dengan cara mengajak Minke bermain catur, tapi minke menolak ajakan Robert tersebut.
Bentuk Tuturan
"Rumah ini terlalu sepi bagiku," ia mengalihkan pembicaraan. "Kau suka main catur barangkali?"
"Sayang tidak, Rob."
(BM/07/h156/PL/NPerf) Pemilihan penolakan langsung "Sayang tidak, Rob." digunakan Minke untuk menolak Robert yang mengajaknya bermain catur. Percakapan data (6) menunjukkan bahwa antara Robert dan Minke mempunyai hubungan karena umur mereka yang sebaya. Minke menolak ajakan Robert dengan menggunakan penolakan langsung non-performatif. Alasan Minke menggunakan penolakan langsung karena ia ingin menunjukkan obrolan yang santai dan bisa berekspresi secara bebas.
(7) Konteks Tuturan
Minke dan Robert Mellema yang menjadi participant dalam percakapan tersebut. Percakapan mereka terjadi di dalam kamar Robert Mellema. Robert bercerita tentang keinginannya menjadi awak kapal dan berlayar mengelilingi dunia. Minke beranggapan bahwa mungkin Mama tidak akan mengijinkan Robert untuk pergi, dan menyarankan untuk membicarakan hal tersebut kepada Mama atau Papa terlebih dahulu. Robert menolak, dan Minke menawarkan dirinya untuk menanyampaikan hal tersebut kepada Mama, Robert juga menolak tawaran Minke.
Bentuk Tuturan
"Lebih baik bicarakan dulu dengan Mama." ia menggeleng. "Atau Papa," aku menyarankan.
"Sayang," ia mengeluh dalam.
"Tak pernah aku lihat kau bicara dengan Mama. Kiranya baik kalau aku yang menyampaikan?"
"Tidak. Terimakasih. Dari Suurhof aku dengar kau seorang buaya darat."
(BM/08/h158/PL/NPerf) Data (7) menunjukkan penolakan langsung non-performatif yang ditujukan Robert untuk menolak saran dan tawaran dari Minke. Robert menggunakan "Sayang," dan "Tidak. Terimakasih." ketika Minke menyarankan Robert untuk membicarakan keinginan Robert untuk menjadi awak kapal kepada Mama atau Papa terlebih dahulu dan ketika Minke menawarkan untuk menyampaikan hal tersebut kepada Mama. Robert dan Minke menunjukkan percakapan yang santaai dan informal dengan menggunakan penolakan langsung. Dengan menggunakan penolakan langsung "Sayang," dan "Tidak.
Terimakasih." menunjukkan bahwa hubungan dekat antara Minke dan
Robert karena merupakan teman sebaya. Oleh karena itu, Robert bisa menggunakan penolakan langsung.
(8) Konteks Tuturan
Lokasi percakapan di atas terjadi di dalam sebuah kamar di gedung bupati dengan participant Minke dan ibunya atau yang biasa dia panggil Bunda. Bunda bertanya tentang kehidupan sekolah Minke dan memberi nasihat kehidupan untuk Minke. Bunda beranggapan bahwa Minke akan menjadi bupati suatu saat nanti.
Bentuk Tuturan
"Syukur, Gus. Orangtua hanya bisa mendoakan. Mengapa kau baru datang? Ayahandamu sudah begitu kuatir, Gus. Marah-marah setiap hari karena kau. Mendadak saja Ayahandamu diangkat jadi bupati. Tak ada yang menduga secepat itu. Kau pun kelak akan sampai setinggi itu.
Kau pasti dapat. Ayahanda hanya tahu Jawa, kau tahu Belanda, kau siswa H.B.S. Ayahandamu hanya dari Sekolah Rakyat. Kau punya pergaulan luas dengan Belanda. Ayahandamu tidak. Kau pasti jadi bupati kelak."
"Tidak, Bunda, sahaya tidak ingin."
(BM/10/h190/PL/NPerf) Data (8) menunjukkan pemilihan penolakan "Tidak, Bunda,
sahaya tidak ingin." digunakan Minke untuk menolak anggapan
Bunda. Minke menunjukkan bahwa dia memiliki hubungan yang dekat dengan bundanya tersebut. Minke juga menambahkan alasannya menolak anggapan bunda karena Minke ingin menjadi manusia bebas yang tidak diperintah dan tidak memerintah.
Percakapan tersebut menunjukkan bahwa Minke menggunakan penolakan langsung non-performatif. Alasan Minke menggunakan penolakan langsung karena ingin menunjukkan percakapan yang santai tapi tidak melupakan sopan santun dengan menggunakan kata panggil "sahaya" untuk menyebut dirinya.
(9) Konteks Tuturan
Lokasi percakapan terjadi di Wonokromo, ketika Mama mencurigai putra sulungnya, Robert Mellema, yang telah mengirimkan surat kaleng pada polisi untuk menangkap Minke. Mama memanggil Robert untuk bertanya tentang surat kaleng tersebut dan menyuruh Robert untuk pergi ke Surabaya dan mencari keterangan tentang Minke. Mama menyuruh Annelies untuk tidur karena suhu badan Annelies mulai naik dan akan jatuh sakit, tetapi Annelies menolak perintah Mama.
Bentuk Tuturan
"Kau tidur saja, Ann," hibur Nyai. "Tidak."
Percakapan data (9) terjadi di antara Mama dan Annelies ketika Mama menyuruh Annelies untuk tidur karena Mama sudah mulai khawatir tentang kesehatan Annelies. Annelies menolak perintah Mama dengan menggunakan penolakan langsung "Tidak". Annelies dapat menggunakan penolakan langsung tanpa harus khawatir menyinggung perasaan Mamanya. Annelies menolak perintah Mamanya karena ia ingin mengetahui apakah Robert berhasil mencari berita tentang keberadaan Minke.
Penolakan langsung yang digunakan oleh Annelies adalah penolakan langsung non-performatif. Annelies menunjukkan kedekatan antara dia dan Mama dengan menggunakan penolakan langsung. Menimbulkan kesan percakapan yang santai dan informal.
(10) Konteks Tuturan
Lokasi percakapan terjadi di Wonokromo antara Annelies dan Mama. Annelies bertanya kepada Mama, ia menanyakan apakah Robert sudah pulang dari Surabaya. Mama sendiri tidak tahu keberadaan Robert saat itu, ia pun marah pada putra sulungnya tersebut. Annelies menyarankan agar dirinya menunggu Robert di depan, tetapi Mama menolak saran Annelies. Annelies dan Mama duduk di ruangdepan menunggu Robert yang belum juga datang. Mama mengejek Annelies yang jatuh sakit hanya karena ditinggal pergi oleh Minke, Annelies tersinggung dengan perkataan mamanya tersebut. Mama menawarkan mengambilkan makan untuk Annelies tetapi Annelies menolaknya.
Bentuk Tuturan
"Biar dia kutunggu di depan, Ma," ujar Annelies.
"Tidak. Kau tunggu di sini atau di luar sana sama saja. Di
ruangdepan sana lebih baik, sambil menemani Mama."
Nyai memapah Annelies, dan mereka duduk berjajar di kursi.
Dan Robert belum juga datang. Bunyi pendule itu mengganggu suasana menunggu.antara sebentar Nyai meninjau pelataran. Dan sulung itu belum juga muncul.
"Bagaimana bisa jadi, Ann, kau baru beberapa hari bertemu sudah jatuh tergila-gila begini? Semestinya dia yang tergila-gila padamu."
Annelies tak menjawab. Nampaknya tersinggung. "Aku ambilkan makan, ya?"
"Tak usah Ma." tapi Nyai pergi juga ke belakang mengambil dua piring nasi ramas, sendok-garpu dan minum.
(BM/14/h264/PL/NPerf) Data (10) menunjukkan bahwa Mama menggunakan penolakan langsung "Tidak. Kau tunggu di sini atau di luar sana sama saja.
Di ruangdepan sana lebih baik, sambil menemani Mama." dan
Annelies menggunakan penolakan langsung "Tak usah Ma." hal tersebut menunjukkan hubungan keakraban ibu dan anak, karena mereka bebas menggunakan penolakan langsung tanpa harus khawatir menyinggung lawan bicara, hal ini dapat dilihat ketika Annelies sedikit tersinggung dengan ejekan mamanya tetapi langsung menjawab tawaran dari Mama dengan penolakan langsung.
Annelies menunjukkan kedekatan antara dia dan Mama dengan menggunakan penolakan langsung, begitu juga sebaliknya. Menimbulkan kesan percakapan yang santai dan informal. Penolakan langsung yang mereka utarakan adalah penolakan langsung non-performatif. Situasi percakapan yang terjadi
(11) Konteks Tuturan
Lokasi percakapan terjadi di Wonokromo antara Minke dan gurunya, Juffrouw Magda Peters. Minke mengajak Juffrouw berkunjung ke Wonokromo untuk bertemu dengan Mama secara langsung agar Juffrouw bisa menilai sendiri berita yang beredar di masyarakat tersebut benar atau tidak. Pada akhirnya, sifat dan tata krama Mama membuat Juffrouw Magda Peters kagum dengannya dan sangat memuji dia. Minke pun menawarkan Juffrouw untuk berkunjung lagi ke Wonokromo di lain waktu, tetapi Juffrouw menolak tawaran Minke.
Bentuk Tuturan
"Silakan Juffrouw sekali-sekali datang lagi." "Sayang. Tidak mungkin."
"Kalau begitu sebagai tamuku." "Tidak mungkin, Minke."
(BM/15/h348/PL/NPerf) Data (11) menunjukkan bahwa Jufrouw Magda Peters adalah guru kesayangan Minke. Sebagai guru dan murid, Juffrouw dan Minke mempunyai hubungan dekat dan akrab. Juffrouw menolak tawaran Minke dengan menggunakan penolakan langsung "Sayang. Tidak
mungkin." dan "Tidak mungkin, Minke." penolakan langsung
tersebut menunjukkan bahwa mereka mempunyai hubungan akrab dan tidak sungkan untuk menggunakan penolakan langsung.
Penolakan langsung yang digunakan Juffrouw Magda Peters merupakan penolakan langsung non-performatif. Percakapan di atas terlihat bahwa Juffrouw menolak tawaran Minke, tetapi Minke menawarkan lagi yang menyebabkan Juffrouw kembali menolak tawaran tersebut. Situasi percakapan di atas bersifat informal dan santai yang menyebabkan Juffrouw Magda Peters secara bebas dapat menggunakan penolakan langsung tanpa harus khawatir menyinggung perasaan lawan bicara.
(12) Konteks Tuturan
Minke mengajak Jean Marais dan anaknya, May, untuk pergi mengunjungi Mama di Wonokromo. Minke memperkenalkan Jean Marais dengan Mama sedangkan May langsung akrab dan bermain bersama Annelies di dalam rumah. Minke menjelaskan kepada Mama bahwa Jean Marais datang ke rumah karena ingin meminta izin untuk melukis wajah Mama, tetapi Mama tidak mau dan menolak untuk dilukis.
Bentuk Tuturan
"Tuan Martinet dokter pandai," kataku dalam Melayu. "Dia yang menyembuhkan Annelies. Kami sangat berterimakasih. Sedang sahabatku ini, Mama, dia datang minta ijin untuk melukis Mama, sekiranya Mama setuju dan ada waktu."
"Apa guna dilukis?" "Mevrouw," panggil Jean. "Nyai, Tuan, bukan Mevrouw."
"Minke sangat mengagumi Mevrouw..." "Nyai, Tuan."
"... Sebagai wanita pribumi luarbiasa. Dia banyak menyanjung Mevrouw, maka..."
"Nyai, Tuan."
"... Maka kami bersepakat untuk mengabadikan dalam lukisan. Kelak, entah satu atau empatpuluh tahun yang akan datang, orang tentu akan masih tetap mengenal dan mengagumi."
"Maaf. Tak ada keinginanku untuk dikagumi."
"Dapat dimengerti. Hanya orang pandir mengagumi diri sendiri. Tapi yang mngagumi Mevrouw bukan Mevrouw pribadi, bukan--justru saksi hidup pada jamannya."
"Sayang, Tuan, tidak ada kesediaanku. Berpotret pun tidak." "Kalau begitu--ya, memang sayang sekali. Kalau begitu--kalau begitu, ... boleh kiranya memandangi Mevrouw uuntuk dihafal dalam hati?" tanyanya sopan dan kikuk. Nyai jadi kemerahan. "Untuk kulukis kemudian di rumah?"
"Pandang Nyai disapukan padaku, kemudian pada rumah, kemudian pada punggung papannama di kejauhan sana. Akhirnya pada meja kebun. Ia nampak risi, rikuh, dan salah tingkah.
"Jangan. Jangan, Tuan," ia tersipu. "Dan kau, Minke, apa saja kau ceritakan di luar sana tentang diriku?"
"Tak ada yang buruk, Mevrouw. Semua pujian semata." Melihat kebingungan Nyai buru-buru aku bilang:
"Sekarang ini Mama belum lagi suka. Mungkin lain kali." "Lain kali juga tidak."
(BM/16/h389/PL/NPerf) Data (12) menunjukkan bahwa Mama menolak permintaan Jean Marais dengan penolakan langsung. Penolakan langsung yang Mama lakukan pada data di atas bukan menunjukkan bahwa Mama dan Jean mempunyai hubungan dekat melainkan menunjukkan bahwa Mama sedang dalam keadaan terancam. Hal ini dapat dilihat dari penolakan tidak langsung yang Mama utarakan sebelum Mama
menggunakan penolakan langsung. Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan dari Jean Marais untuk dilukis, tetapi Jean tetap bersikukuh dan memandangi wajah Mama yang membuat Mama tidak nyaman dan merasa terancam, itu sebabnya Mama menggunakan penolakan langsung untuk menolak permintaan Jean.
Penolakan langsung yang Mama gunakan dalam percakapan di atas adalah penolakan langsung non performatif. Mama menggunakan "Sayang, Tuan, tidak ada kesediaanku. Berpotret pun tidak.", "Jangan. Jangan, Tuan,", dan "Lain kali juga tidak." Penolakan langsung tersebut menunjukkan bahwa Mama memang benar-benar tidak mau untuk dilukis. Situasi yang terjadi pada percakapan di atas terlihat agak sedikit canggung, karena perubahan penolakan yang Mama lakukan untuk menolak permintaan Jean Marais.
(13) Konteks Tuturan
Minke dan Darsam mengejar si Gendut, Gendut adalah orang yang dicurigai Darsam dan Minke sebagai anak buah dari Robert Mellema yang ditugaskan untuk memata-matai Minke. Darsam mengejar si Gendut saat dia melihat Gendut berjalan ke jurusan Surabaya. Minke telah melarang Darsam, tetapi Darsam tetap mengejar si Gendut. Minke pun mengejar Darsam, ia tak ingin ada sesuatu yang terjadi dan sampai berurusan dengan polisi. Si Gendut hilang di pelataran rumah Ah Tjong, Minke mengajak Darsam untuk pulang dan tidak meneruskan mengejar si Gendut, tetapi Darsam menolak ajakan Minke.
Bentuk Tuturan
"Sudah, mari pulang. Jangan diteruskan." "Tidak bisa. Dia harus dikasih pelajaran."
Tak dapat dicegah. Ia berjalan melalui deretan jendela samping rumah. (BM/17/h400/PL/NPerf)
Data (13) menunjukkan bahwa Darsam menggunakan penolakan langsung untuk menolak ajakan dari Minke. Penolakan langsung ini menunjukkan kedekatan antara Darsam dan Minke walaupun Minke berstatus sebagai tamu dari atasannya yaitu Nyai Ontosoroh, yang biasa disebut dengan panggilan Mama, dan tamu dari Annelies. Darsam adalah pendekar Madura yang bekerja untuk Nyai Ontosoroh dengan waktu yang cukup lama, itulah sebabnya Darsam mempunyai kedekatan dengan Nyai, Annelies maupun Minke.
Penolakan langsung yang Darsam gunakan dalam percakapan di atas adalah penolakan langsung non-performatif. Darsam menggunakan "Tidak bisa. Dia harus dikasih pelajaran." dan ditambah dengan gerak tubuh langsung berjalan melalui deretan jendela samping rumah. Darsam dipenuhi emosi pada si Gendut, itulah yang menyebabkan Darsam tidak mendengarkan dan menolak ajakan Minke untuk pulang dan berhenti mengejar si Gendut.
PL/KKN (Kemampuan Kemauan Negatif) (14) Konteks Tuturan
Annelies dan ibunya, Nyai Ontosoroh adalah participant yang terlibat dalam dialog tersebut. Nyai duduk di kursi samping Minke dan menjelaskan alasan mengapa Annelies bertingkah laku berbeda tidak seperti anak-anak Indo lain. Annelies menolak pernyataan ibunya yang mengatakan bahwa dia adalah seorang Indo.
Bentuk Tuturan
"Karena itu aku senang kau datang, Nyo. Kan nama Sinyo Minke? Dia tak pernah bergaul wajar seperti anak-anak Indo lain. Dia tidak menjadi Indo, Nyo."
"Aku bukan Indo," bantah si gadis. "Tak mau jadi Indo. Aku mau
hanya seperti Mama."
Percakapan data (14) menunjukkan pilihan penolakan langsung "Aku bukan Indo," dan "Tak mau jadi Indo. Aku mau hanya
seperti Mama." digunakan oleh Annelies untuk menolak pernyataan
ibunya. Pada percakapan tersebut, Annelies menunjukkan bahwa ia mempunyai hubungan yang dekat dengan ibunya.
Pada percakapan tersebut dapat dilihat bahwa Annelies menolak pernyataan ibunya dengan strategi penolakan langsung kemampuan penolakan negatif dengan mengatakan "Tak mau jadi
Indo. Aku mau hanya seperti Mama." alasan mengapa Annelies
menggunakan penolakan langsung adalah Annelies ingin menunjukkan percakapan yang akrab karena percakapan tersebut termasuk percakapan informal.
(15) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Robert di dalam kamar Robert Mellema. Setelah berbincang cukup lama dengan Minke, Robert mulai menunjukkan aura permusuhannya kepada Minke. Robert mulai mempertanyakan alasan Minke tinggal di rumahnya dan siapa yang mengizinkan Minke tinggal di rumahnya. Minke menjawabbahwa Mama yang menyuruhnya untuk tinggal di rumah keluarga Mellema. Mama mengirim surat untuk Minke yang sampai saat ini masih disimpan oleh Minke. Robert pun meminta untuk membaca surat tersebut tapi Minke menolak permintaan Robert.
Bentuk Tuturan
"Tahu betul, Rob. Aku masih simpan surat Mama itu." "Coba aku baca."
"Untukku, Rob, bukan untukmu, sayang."
(BM/09/h159/PL/KKN) Data (15) menunjukkan bahwa Minke menyampaikan penolakan langsung dengan mengatakan "Untukku, Rob, bukan
Minke dan Robert mengenal satu sama lain. Kedekatan di antara Minke dan Robert Mellema yang menyebabkan Minke menggunakan penolakan langsung terhadap permintaan Robert.
Menurut data di atas, dapat dilihat bahwa Minke menggunakan penolakan langsung kemampuan keamuan negatif. Minke menolak permintaan Robert untuk membaca surat dari Mama karena memang surat tersebut bukan ditujukan untuk Robert, melainkan untuk Minke.
(16) Konteks Tuturan
Minke diundang oleh Tuan Assisten Residen untuk makan. MInke dijemput oleh kereta dan langsung dibawa ke belakang gedung keresidenan. Pada kesempatan itu, Minke bertemu dua orang dara yang merupakan anak dari Tuan Assusten Residen yaitu Sarah dan Miriam de la Croix. Minke berbincang-bincang dengan Sarah dan Miriam, mereka membicarakan tentang sekolah karena Sarah dan Miriam merupakan alumni dari H.B.S. sekolah yang sama dengan Minke. Sarah dan Miriam de la Croix sempat membuat Minke kesal karena mereka sering mengerjai Minke dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk di akal seperti saat Sarah bertanya kepada Minke tentang Douwes Dekker. Minke menjawab pertanyaan tersebut secara serius, tetapi Sarah dan Miriam hanya bercanda dengan Minke.
Bentuk Tuturan
"Ayoh, Mir, bercerita kau tentang pacarmu," desak Sarah berkobar-kobar.
"Tidak. Tak ada urusan dngan tamu kita. Baik kita bicara soal
lain," tolak Miriam.
(BM/11/h211/PL/KKN) Data (16) menunjukkan bahwa Miriam menolak permintaan Sarah dengan penolakan langsung "Tidak. Tak ada urusan dngan
tamu kita. Baik kita bicara soal lain," penolakan lansung tersebut
menunjukkan kedekatan antara Sarah dan Miriam sebagai kakak adik. Penolakan langsung tersebut masuk ke dalam penolakan langsung kemampuan kemauan negatif. Miriam tidak keberatan untuk bercerita
tentang pacarnya, tetapi berhubung Minke tidak tahu apapun tentang hal tersebut maka Miriam menolak permintaan Sarah tersebut karena tidak ada urusan dengan tamu mereka yaitu Minke.
(17) Konteks Tuturan
Lokasi percakapan terjadi di Wonokromo ketika Minke dibawa agen polisi kelas satu untuk kembali ke B. Ketika dokar yang Minke naiki mulai menjauh, Annelies mulai menangis dan mengajak Mamanya untuk mengikuti Minke.
Bentuk Tuturan
"Mari ikuti dia, Ma"
"Tidak perlu. Masih terlalu pagi. Lagipula jelas dia akan dibawa
ke B."
(BM/12/h233/PL/KKN) Data (17) menunjukkan bahwa Mama menolak ajakan Annelies untuk mengikuti Minke dengan menggunakan penolakan langsung yang didukung dengan alasan bahwa hari masih terlalu pagi dan Mama sudah tahu ke mana Minke akan dibawa untuk meyakinkan Annelies bahwa mereka tidak perlu mengikuti Minke. Mama menggunakan penolakan langsung kemampuan kemauan negatif. Mama tidak keberatan jika memang diharuskan mengikuti Minke untuk memastikan keselamatan Minke, tetapi Mama mempertimbangkan hal-hal lain yang masih harus diselesaikan dan dijaga, oleh karena itu Mama menolak ajakan Annelies untuk mengikuti Minke.
Penolakan langsung tersebut menunjukkan kedekatan antara Mama dan anaknya, yaitu Annelies. Situasi percakapan di atas bersifat informal dan santai yang menyebabkan Mama secara bebas dapat menggunakan penolakan langsung tanpa harus khawatir menyinggung
perasaan lawan bicara.
B. Penolakan Tidak Langsung
Strategi penolakan tidak langsung biasanya digunakan untuk menghindari wajah mengancam dari penutur agar perasaan lawan tutur tidak tersinggung. Oleh karena itu, penutur mengucapkan sebuah penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan, undangan, perintah, dll. Dengan menggunakan bentuk tidak langsung, penutur merasakan kemudahan untuk menolak tindakan yang dilakukan oleh lawan tutur. Selain itu, penolakan tidak langsung digunakan untuk mengurangi wajah negatif serta menjaga perasaan lawan tutur. Penolakan tidak langsung juga digunakan untuk merubah penolakan menjadi lebih lembut.
PTL/MPON (Mengkritik Pemohon/Opini Negatif) (18) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies yang berlokasi di rumah keluarga Mellema. Data di atas terjadi ketika Mama masuk ke dalam rumah agar meninggalkan Annelies dan Minke bisa berbicara berdua. Minke bertanya tentang keberadaan ayah Annelies yaitu Tuan Mellema. Pertanyaan tersebut membuat Annelies mengerutkan kening dan merasa tidak nyaman.
Bentuk Tuturan
"Mana ayahmu?" tanyaku menyingkir percakapan sambungan sebelumnya.
Annelies mengerutkan kening. Kecerahannya hilang:
"Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku sendiri tak ada
keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu."
(BM/01/h41/PTL/MPON) Data (18) menunjukkan bahwa Annelies menggunakan penolakan tidak langsung "Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku
sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu." dan menggunakan pertanyaan "Suka kau mendengarkan
musik?" untuk mengalihkan topik pembicaraan. Penolakan tidak
langsung tersebut menunjukkan bahwa Annelies dan Minke baru berkenalan dan belum terlalu akrab. Penolakan Annelies tersebut juga menunjukkan bahwa Minke telah menyentuh topik yang sangat dihindari oleh Annelies yaitu topik mengenai Ayahnya atau Tuan Mellema.
Percakapan tersebut menunjukkan penolakan tidak langsung mengkritik pemohon/opini negatif. Annelies menolak dengan mengatakan "Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku
sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu." tetapi Minke tetap bertanya dan Annelies akhirnya
mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari pertanyaan Minke.
(19) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies dan berlokasi di kamar Minke di dalam kediaman keluarga Mellema. Minke sedang menyelesaikan soal-soal aljabar di dalam kamarnya ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, pintu kamar Minke diketuk dan masuklah Annelies ke dalam kamar Minke. Annelies langsung menarik Minke untuk dibawa ke kamarnya sendiri karena beberapa hari belakangan ini Minke sudah tidak pernah menyelimuti Annelies karena Minke berpendapat bahwa Annelies nampak semakin sehat dan ia hatus melakukan semua itu sendiri. Annelies langsung naik ke ranjang dan meminta Minke untuk menyelimutinya.
Bentuk Tuturan
"Selimuti aku, Mas."
"Masa kau akan terus jadi manja begini?" protesku.
Data (19) menunjukkan bahwa Minke menolak permintaan Annelies yang menyuruhnya untuk menyelimuti dirinya dengan menggunakan penolakan tidak langsung. Hal ini terjadi bukan karena Minke dan Annelies tidak mempunyai hubungan yang dekat, melainkan Minke tidak mau Annelies kembali sakit karena kesehatan Annelies belum kembali pulih seperti sediakala. Minke menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif dengan mengutarakan "Masa kau
akan terus jadi manja begini?" Minke memprotes Annelies karena
semenjak ia jatuh sakit, Annelies menjadi semakin manja kepada Minke. Minke berpikir bahwa Annelies sudah nampak semakin sehat dan harus kembali pada rutinitas yang sebelumnya dan tidak selalu bergantung pada Minke.
(20) Konteks Tuturan
Minke mengajak Jean Marais dan anaknya, May, untuk pergi mengunjungi Mama di Wonokromo. Minke memperkenalkan Jean Marais dengan Mama sedangkan May langsung akrab dan bermain bersama Annelies di dalam rumah. Minke menjelaskan kepada Mama bahwa Jean Marais datang ke rumah karena ingin meminta izin untuk melukis wajah Mama, tetapi Mama tidak mau dan menolak untuk dilukis.
Bentuk Tuturan
"Tuan Martinet dokter pandai," kataku dalam Melayu. "Dia yang menyembuhkan Annelies. Kami sangat berterimakasih. Sedang sahabatku ini, Mama, dia dtang minta ijin untuk melukis Mama, sekiranya Mama setuju dan ada waktu."
"Apa guna dilukis?"
Data (20) menunjukkan bahwa Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan dari Jean Marais yang meminta izin untuk melukis wajah Mama. Hal ini menunjukkan bahwa Mama tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan Jean Marais. Mama menggunakan penolakan tidak langsung pernyatan mengkritik pemohon opini negatif dengan mengutarakan "Apa guna
dilukis?" Mama menggunakan penolakan tidak langsung karena
ingin menjaga perasaan Jean Marais.
(21) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Maarten Nijman di kantor S. N. v/d D. Maarten Nijeman memperingatkan Minke agar jangan terlalu dekat dengan Juffrouw Magda Peters.
Bentuk Tuturan
"Hmm. Aku kira ada baiknya Tuan agak menjauh sedikit." "Dia begitu baik."
"Baik? Itu memang senjata baginya untuk menjerumuskan orang, kiraku."
"Menjerumuskan?"
"Tentu Tuan tidak pernah dengar: menjerumuskan orang bisa juga dengan jalan kebaikan."
(BM/33/h437/PTL/MPON) Data (21) menunjukkan bahwa Maarten Nijman menawarkan Minke untuk bekerja sepenuhnya di kantor tersebut jika memang benar sekolah telah mengeluarkan Minke. Minke datang menemui Maarten Nijman untuk memberikan jawaban dengan cara menceritakan keputusan sidang Dewan Guru tadi. Maarten Nijeman memperingatkan Minke agar jangan terlalu dekat dengan Juffrouw Magda Peters. Minke menolak usul dari Maarten Nijman yang mengusulkan untuk tidak terlalu dekan dengan Juffrouw Magda
Peters dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif "Dia begitu baik." untuk menampik usul dari Maarten Nijman.
(22) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara hakim dan Mama yang berlokasi di Pengadilan. Annelies dan Mama mendapat panggilan untuk datang ke Pengadilan, Annelies tidak bisa berangkat karena sakit dan digantikan oleh Minke yang menemani mama. Mereka datang tanpa ditemani oleh advokat. Hakim bertanya tentang keberadaan Annelies dan alasannya tidak datang ke Pengadilan. Mama menjawab dengan mengatakan bahwa Annelies sakit dan sedang dirawat oleh Dokter Martinet. Hakim tidak percaya dan menanyakan surat keterangan dari dokter.
Bentuk Tuturan
"Ada dibawa surat keterangan Tuan Dokter?" Aku terkejut mendegar jawaban Nyai yang kasar:
"Apa Pengadilan juga sudah memutuskan mulutku tak dapat
dipercaya?"
(BM/36/h510/PTL/MPON) Data (22) menunjukkan bahwa Mama menolak permintaan dan keputusan dari Hakim dengan menggunakan penolakan tidak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai hubungan yang dekat. Mama menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif dengan mengatakan "Apa Pengadilan juga sudah
memutuskan mulutku tak dapat dipercaya?" ketika hakim
meminta surat keterangan dokter dan "Apa masih perlu orang yang
akan kehilangan segalanya bersikap sopan menghadapi kehilangannya? ...." ketika hakim berkata bahwa Mama semestinya
sedang sakit untuk menolak keputusan Hakim yang mengatakan bahwa Annelies akan pergi lima hari yang akan datang. Penolakan tidak langsung pernyataan mengkritik pemohon/opini negatif yang Mama gunakan untuk menolak permintaan dan keputusan dari Hakim karena Mama mencoba untuk menghalangi lawan dengan mengkritik pemohon atau memberikan pendapat serta perasaan negatif untuk menolak permintaan dan keputusan tersebut.
PTL/PT (Pengalihan Topik) (23) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies yang berlokasi di rumah keluarga Mellema. Data di atas terjadi ketika Mama masuk ke dalam rumah agar meninggalkan Annelies dan Minke bisa berbicara berdua. Minke bertanya tentang keberadaan ayah Annelies yaitu Tuan Mellema. Pertanyaan tersebut membuat Annelies mengerutkan kening dan merasa tidak nyaman.
Bentuk Tuturan
"Mana ayahmu?" tanyaku menyingkir percakapan sambungan sebelumnya.
Annelies mengerutkan kening. Kecerahannya hilang:
"Tak perlu kau ketahui. Untuk apa? Sedang aku sendiri tak ada keinginan untuk tahu. Mama pun tidak ingin tahu."
"Mengapa?" tanyaku.
"Suka kau mendengarkan musik?" "Tidak sekarang."
(BM/02/h41/PTL/PT) Data (23) menunjukkan bahwa Annelies menggunakan penolakan tidak langsung dengan mengutarakan pertanyaan "Suka kau
mendengarkan musik?" untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Penolakan tidak langsung yang diutarakan Annelies menunjukkan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yag diajukan oleh Minke. Sedangkan pengalihan topik yang diutarakan Annelies setelah
Minke kembali bertanya "Mengapa?" menunjukkan bahwa Annelies sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Minke.
(24) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di bengkel mebel milik Jean Marais. Minke dan jean Marais adalah participant yang terlibat dalm percakapan ini. Minke berkunjung ke bengkel Jean untuk membicarakan tentang keadaan dirinya yang serba tersihir dan pendapat umum tentang keluarga Nyai Ontosoroh. Minke melihat Jean Marais sedang melukis sesuatu yang dianggap Minke sebagai suatu kekejaman. Jean Marais pun menceritakan maksud dari lukisan tersebut. Jean bercerita bahwa lukisan tersebut adalah wanita yang dicintainya yang sekaligus ibu dari anaknya, May. Minke pun meminta jean untuk bercerita lebih tentang ibu May.
Bentuk Tuturan
"Ceritai aku tentang ibu May," kataku mengelak. "Tentu luarbiasa, dari seorang yang hendak kau bunuh jadi seorang yang kau cintai. Ayoh, Jean."
"Lain kali sajalah. Hatiku belum lagi bersuasana cerita. Coba lihat
sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?"
(BM/06/h82/PTL/PT) Data (24) menunjukkan bahwa Jean Marais menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung "....Coba lihat sketsa ini
saja. Bagaimana pendapatmu?" untuk mengalihkan topik
pembicaraan. Jean Marais merupakan sahabat Minke, mereka mempunyai hubungan yang sangat akrab, penggunaan penolakan tidak langsung pada percakapan di atas didasari oleh ketidaknyamanan Jean Marais menceritakan kisah tentang ibu May karena ia tidak mau May mendengarkan kisah tersebut. Pengalihan topik yang digunakan untuk mengarahkan pembicaran jauh dari permintaan, hal itu menunjukkan bahwa Jean Marais sangat tidak ingin membahas topik tersebut pada waktu itu.
PTL/PP (Pernyataan Prinsip) (25) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minem dan Annelies ketika Annelies mengajak Minke berjalan-jalan melihat keadaan di sekitar rumahnya termasuk peternakan milik keluarga Annelies. Annelies bertanya tentang jumlah hasil perahan Minem dalam sehari, Minem menjawab bahwa tidak ada kenaikan dalam hasil perahannya. Annelies mengingatkan Minem bahwa ia tidak bisa jadi mandor perah jika tidak ada kenaikan dari hasil perahannya. Minem beranggapan ia tetap bisa jadi mandor perah jika Annelies menghendakinya menjadi mandor perah. Annelies menolak anggapan dari Minem.
Bentuk Tuturan
"Mana bisa jadi mandor perah kalau begitu?" "Kalau Non sudi kan bisa saja?"
"Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari yang lain-lain
kau takkan bisa memberi contoh kerja yang baik. Tak mungkin bisa jadi mandor, Yu."
(BM/03/h47/PTL/PP) Data (25) menunjukkan bahwa Annelies mengucapkan penolakan tidak langsung "Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari
yang lain-lain kau takkan bisa memberi contoh kerja yang baik. Tak mungkin bisa jadi mandor, Yu.". Terdapat jarak sosial di antara
Annelies dan Minem. Jarak sosial tersebut yang menyebabkan Annelies menggunakan penolakan tidak langsung kepada Minem.
Penolakan tidak langsung yang digunakan oleh Annelies adalah penolakan tidak langsung prinsip. Annelies mempunyai prinsip bahwa jika hasil perahan Minem tidak lebih banyak dari pekerja yang lain, maka Minem tidak bisa dijadikan mandor karena tidak memberi contoh kerja yang baik untuk pekerja lainnya.
(26) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh atau yang biasa dipanggil dengan Mama. Minke menyusun kembali cerita lisan dari Annelies tentang Mama. Percakapan di atas bertempatkan di dalam kamar Mama ketia Annelies tiba-tiba datang ke kamar dan meminta untuk tidur bersama Mama. Annelies bertanya tentang cerita awal bagaimana Mamanya bisa bersama dengan ayahnya, tuan Herman Mellema.
Bentuk Tuturan
Juga ke tempat baru ini beberapa kali ayah datang menengok, dan aku tetap menolak menemuinya.
"Temui ayahmu," sekali Tuan Mellema menyuruh, "dia toh ayahmu sendiri."
"Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan
tamu Tuan, sudah aku usir."
(BM/09/h130/PTL/PP) Data (26) menunjukkan bahwa Mama bercerita tentang kisahnya yang dijual oleh ayah kandungnya sendiri hanya demi uang dan jabatan. Mama mempunyai dendam yang sangat mendalam kepada orangtuanya karena mereka lebih memilih uang dan jabatan daripada darah dagingnya sendiri. Beberapa kali ayah Mama, Sastrotomo, datang untuk menengok ke rumah Tuan Mellema, tetapi Mama menolak untuk menemuinya. Hingga akhirnya Tuan Mellema menyuruh Mama untuk menemuinya.
Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak perintah dari Tuan Mellema. Hal tersebt menunjukkan bahwa walaupun Mama dan Tuan Mellema sudah sering berbincang dan lama kelamaan Mama merasa sederajat dengan Tuan Mellema.tetapi Mama tetap mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung dengan orang lain dan tidak membiarkan dirinya terlalu akrab dengan Tuan Mellema. Itulah sebabnya mengapa Mama menggunakan
penolakan tidak langsung untuk menolak perintah dari tuan Mellema. Penolakan tidak langsung yang diutarakan Mama adalah penolakan tidak langsung pernyataan prinsip dengan mengatakan "Aku memang ada ayah, dulu, sekarang tidak. Kalau dia bukan
tamu Tuan, sudah aku usir.". Mama menunjukkan sikap sopan
dengan mengatakan "...kalau dia bukan tamu Tuan, sudah aku
usir." hal itu menunjukkan bahwa Mama masih menunjukkan rasa
hormat kepada Tuan Mellema.
PTL/JMD (Janji Penerimaan Masa Depan) (27) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di rumah keluarga Mellema antara Minke dan Mama. Saat Minke ingin pulang, Mama membujuk Minke untuk sering main ke rumahnya dan bahkan tinggal di rumahnya. Mama mengatakan bahwa Annelies tidak punya teman dan sangat senang atas kehadiran Minke di rumahnya.
Bentuk Tuturan
Darsam mengangkat tangan, tanpa bicara, kemudian pergi "Sinyo, Minke," Nyai merajuk, "Annelies tak punya teman. Dia senang Sinyo datang kemari. Kau memang tak punya banyak waktu. Itu aku tahu. Biar begitu usahakan sering datang kemari. Tak perlu kuatir pada Tuan Mellema. Itu urusanku. Kalau Sinyo suka, kami akan senang kalau Sinyo mau tinggal di sini. Sinyo bisa diantar dengan bendi setiap hari pulang balik. Itu kalau Sinyo suka."
Rumah dan keluarga aneh dan seram ini! Pantas orang menganggapnya angker. Dan aku menjawab:
"Biar kupikir-pikir dulu, Mama. Terima kasih atas undangan
pemurah itu."
"Jangan tidak, Minke," Annelies merajuk.
"Ya, Nyo, pikirlah. Kalau tidak ada keberatan, biar semua nanti diurus oleh Annelies. Kan begitu, Ann?"
Annelies Mellema mengangguk mengiakan.
(BM/04/h69/PTL/JMD) Data (27) menunjukkan Minke menggunakan penolakan tidak langsung "Biar kupikir-pikir dulu, Mama. Terima kasih atas
undangan pemurah itu." untuk menolak permintaan Mama
menunjukkan bahwa Mama dan Minke bellum memiliki hubungan yang akrab, karena mereka baru berkenalan pada hari itu, hal tersebut yang membuat Minke agak sedikit ketakutan karena mereka belum lama mengenal satu sama lain tetapi Mama sudah meminta Minke untuk sering main bahkan tinggal di kediaman Mellema untuk menemani putrinya, Annelies.
Penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan. Penolakan tersebut mungkin berisi janji bahwa permintaan akan dicapai pada lain waktu, ketika ada kondisi yang menguntungkan untuk penyelesaiannya.
(28) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di bengkel mebel milik Jean Marais. Minke dan jean Marais adalah participant yang terlibat dalm percakapan ini. Minke berkunjung ke bengkel Jean untuk membicarakan tentang keadaan dirinya yang serba tersihir dan pendapat umum tentang keluarga Nyai Ontosoroh. Minke melihat Jean Marais sedang melukis sesuatu yang dianggap Minke sebagai suatu kekejaman. Jean Marais pun menceritakan maksud dari lukisan tersebut. Jean bercerita bahwa lukisan tersebut adalah wanita yang dicintainya yang sekaligus ibu dari anaknya, May. Minke pun meminta jean untuk bercerita lebih tentang ibu May.
Bentuk Tuturan
"Ceritai aku tentang ibu May," kataku mengelak. "Tentu luarbiasa, dari seorang yang hendak kau bunuh jadi seorang yang kau cintai. Ayoh, Jean."
"Lain kali sajalah. Hatiku belum lagi bersuasana cerita. Coba lihat sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?"
(BM/05/h82/PTL/JMD) Data (28) menunjukkan bahwa Jean Marais menolak dengan menggunakan penolakan tidak langsung "Lain kali sajalah. Hatiku
belum lagi bersuasana cerita...." dan pernyataan "....Coba lihat sketsa ini saja. Bagaimana pendapatmu?" untuk mengalihkan topik
pembicaraan. Jean Marais merupakan sahabat Minke, mereka mempunyai hubungan yang sangat akrab, penggunaan penolakan tidak langsung pada percakapan di atas didasari oleh ketidaknyamanan Jean Marais menceritakan kisah tentang ibu May karena ia tidak mau May mendengarkan kisah tersebut.
(29) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Minke dan Annelies di kediaman keluarga Mellema. Minke akhirnya datang kembali ke kediaman keluarga Mellema, Annelies membawanya masuk ke kamar bersama dengan Darsam yang membantu membawa kopor Minke. Annelies membantu Minke membereskan isi kopornya dan menemukan tiga pucuk surat yang semuanya dari B.
Bentuk Tuturan
"Mas!" itulah untuk pertama kali ia memanggil aku-panggilan yang mendebarkan, menimbulkan suasana seakan aku berada di tengah keluarga Jawa. "Ini ada tiga pucuk surat. Kau belum lagi membacanya. Mengapa tak dibaca?"
Rasanya semua orang menuntut aku membaca surat-surat yang kuterima.
"Tiga pucuk, Mas, semua dari B." "Ya, nanti kubaca."
(BM/07/h93/PTL/JMD) Data (29) menunjukkan bahwa Minke menggunakan penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan untuk menolak pemberitahuan yang sekaligus perintah dari Annelies untuk Minke agar dia membaca ketiga surat tersebut. Minke dan Annelies sudah cukup akrab, hal ini dapat dilihat dari keberadaan Minke yang menginap di rumah Annelies. Minke menolak Annelies dengan penolakan tidak langsung "Ya, nanti kubaca." karena semua surat itu berasal dari B,
atau kampung halaman Minke. Minke menolak Annelies karena ia tidak mau membaca surat dari B tersebut, Minke merasa semua orang menuntutnya untuk membaca surat tersebut.
(30) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi antara Robert Mellema dan Minke ketika Robert mengundang Minke ke kamarnya. Robert dan Minke membicarakan tentang sekolah dan alasan mengapa Minke tinggal di rumahnya. Robert kembali mengajak Minke berburu dan mengajaknya jalan-jalan setelah ditolak Minke atas ajakannya untuk bermain catur.
Bentuk Tuturan
"Ya, sayang sekali. Berburu bagaimana? Mari berburu."
"Sayang, Rob, aku membutuhkan waktu untuk belajar.
Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?"
"Baik, lain kali," ia tembuskan pandangnya pada mataku. Aku tahu ada ancaman dalam pandang itu. Ia jatuhkan telapak tangan kanan pada paha. "Bagaimana kalu kita jalan-jalan sekarang?"
"Sayang, Rob, aku harus belajar."
(BM/10/h156/PTL/JMD) Data (30) menunjukan bahwa Minke mengungkapan penolakan tidak langsung atas ajakan Robert berburu dengan "Sayang, Rob, aku
membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?" dan ajakan Robert berjalan-jalan
dengan "Sayang, Rob, aku harus belajar.". Hal ini menunjukkan bahwa Minke dan Robert Mellema adalah teman sebaya tapi tidak mempunyai hubungan yang akrab. Minke menolak dengan penolakan tidak langsung karena Minke telah menolak secara langsung ajakan Robert untuk bermain catur dan ia tidak mau menyinggung perasaan Robert sehingga ia menggunakan penolakan tidak langsung.
Penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung janji penerimaan masa depan "Sayang, Rob,
aku membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?" Minke menggunaan janji
penerimaan masa depan untuk meyakinkan Robert bahwa dia bisa memenuhi permintaannya pada lain waktu. Minke juga menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan/alasan/penjelasan "Sayang, Rob,
aku harus belajar." untuk menolak permintaan dengan
menunjukkan alasan yang mungkin umum atau khusus.
(31) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Robert Mellema dengan Babah Ah Tjong di dalam kediaman rumah Babah Ah Tjong. Robert sudah beberapa hari tinggal di rumah Babah Ah Tjong, ia dilayani oleh wanita-wanita simpanan di rumah plesiran Babah Ah Tjong. Robert meminta bon dari Babah Ah Tjong untuk ditandatangani, tetapi Babah menolak permintaan Robert tersebut.
Bentuk Tuturan
"Biar aku tandatangani bonnya," katanya ragu.
"Ai, Nyo, kita beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa. Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? Pendeknya
setiap saat boleh datang kemali. Boleh pakai kamal mana saja selama tidak telkunci, tanpa batas waktu, siang atau malam. Boleh pilih olang mana saja. Kalau pintu dan jendela depan telkunci Sinyo masuk saja dali pintu belakang. Tukangkebun dan penjaga nanti kubilangi."
(BM/16/h262/PTL/JMD) Data (31) menunjukkan bahwa Babah menggunakan penolakan tidak langsung Janji Penerimaan Masa Depan dengan mengatakan "Ai, Nyo, kita beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa. Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? Pendeknya setiap saat
boleh datang kemali. Boleh pakai kamal mana saja selama tidak telkunci, tanpa batas waktu, siang atau malam. Boleh pilih olang mana saja. Kalau pintu dan jendela depan telkunci Sinyo masuk
saja dali pintu belakang. Tukangkebun dan penjaga nanti kubilangi." Babah menolak permintaan Robert dengan menjelaskan
dan menjanjikan bahwa suatu saat Robert dan Babah bisa menjadi engko atau rekan dan Robert boleh datang kapan saja dan boleh dilayani dengan siapa saja.
(32) Konteks Tuturan
Minke mengajak Jean Marais dan anaknya, May, untuk pergi mengunjungi Mama di Wonokromo. Minke memperkenalkan Jean Marais dengan Mama sedangkan May langsung akrab dan bermain bersama Annelies di dalam rumah. Minke menjelaskan kepada Mama bahwa Jean Marais datang ke rumah karena ingin meminta izin untuk melukis wajah Mama, tetapi Mama tidak mau dan menolak untuk dilukis.
Bentuk Tuturan
"Jangan. Jangan, Tuan," ia tersipu. "Dan kau, Minke, apa saja kau ceritakan di luar sana tentang diriku?"
"Tak ada yang buruk, Mevrouw. Semua pujian semata." Melihat kebingungan Nyai buru-buru aku bilang:
"Sekarang ini Mama belum lagi suka. Mungkin lain kali." "Lain kali juga tidak."
(BM/29/h388-389/PTL/JMD) Data (32) menunjukkan bahwa Mama menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak permintaan dari Jean Marais yang meminta izin untuk melukis wajah Mama. Hal ini menunjukkan bahwa Mama tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan Jean Marais, serta penolakan tidak langsung pernyataan janji penerimaan masa depan "Sekarang ini Mama belum lagi suka. Mungkin lain kali." yang dilontarkan oleh Minke untuk menyelamatkan situasi percakapan. Situasi percakapan di atas terlihat canggung, hal itu dapat terlihat dari perubahan penolakan yang Mama gunakan dan penyelamatan yang Minke lakukan untuk menyelamatkan situasi percakapan.
(33) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Jean Marais dan Minke yang berlokasi di rumah Jean Marais. Minke dan Jean Marais berbicara tentang Sidang Pengadilan. Jean Marais bertanya kepada Minke tentang Wiroguno dan Pronocitro.
Bentuk Tuturan
"Baca tulisan Kommer. Dia marah seperti singa terluka. Dia ada pada pihakmu."
"Ceritakan sajalah. Aku segan baca."
"... Kommer menilai jaksa dan hakim itu tidak berbudi Eropa, lebih buruk dari pengadilan Pribumi yang dilakukan Wiroguno, atas diri Pronocitro--barang duaratus limapuluh tahunan yang lalu. Minke, siapa mereka? Aku tak tahu."
"Lain kali sajalah aku ceritakan."
(BM/31/h430/PTL/JMD) Data (33) menunjukkan bahwa Minke menolak pertanyaan dari Jean Marais Marais tentang Wiroguno dan Pronocitro dengan menggunakan penolakan tidak langsung pernyataan janji penerimaan masa depan "Lain kali sajalah aku ceritakan." Minke menggunakan penolakan tidak langsung bukan bererti dia tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Jean Marais, tetapi karena suasana hati Minke yang sedang tidak stabil karena baru saja dikeluarkan dari sekolahnya akibat dari terbongkarnya kehidupan rumahtangga Minke.
PTL/PA (Pernyataan Alternatif) (34) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di kediaman keluarga Mellema di antara Minke dan Annelies. Minke mengikuti Annelies keluar kamar dan duduk di sebuah bangku batu di tepi kolam. Annelies bertanya sekaligus beranggapan bahwa Minke lebih suka jika ia berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa.
Bentuk Tuturan
"Apa Mas lebih suka kalau aku bicara Jawa?"
Tidak, aku tak hendak menganiayanya dengan bahasa yang memaksa ia menaruh diri pada kedudukan sosial dalam tatahidup Jawa yang
pelik itu.
"Belanda sajalah," kataku.
(BM/08/h94/PTL/PA) Data (34) menunjukkan bahwa Minke mengungkapkan penolakan tidak langsung dengan mengatakan "Belanda sajalah," hubungan di antara Minke dan Annelies sudah cukup akrab, tetapi Minke masih menggunakan penolakan tidak langsung karena ia tidak mau menganiaya Annelies dengan bahasa yang memaksa ia menaruh diri pada kedudukan sosial dalam tatahidup Jawa yang pelik. Minke tidak begitu suka dengan budaya negaranya sendiri, ia lebih memilih untuk berkiblat pada budaya Eropa.
Minke menggunakan penolakan tidak langsung dengan memberikan alternatif atau pilihan lain "Belanda sajalah," saat Annelies bertanya sekaligus menawarkan apakah Minke lebih suka saat ia menggunakan bahasa Jawa. Penggunaan penolakan tidak langsung alternatif dapat melunakkan kekuatan penolakan.
PTL/PAP (Pernyataan/Alasan/Penjelasan) (35) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi antara Robert Mellema dan Minke ketika Robert mengundang Minke ke kamarnya. Robert dan Minke membicarakan tentang sekolah dan alasan mengapa Minke tinggal di rumahnya. Robert kembali mengajak Minke berburu dan mengajaknya jalan-jalan setelah ditolak Minke atas ajakannya untuk bermain catur.
Bentuk Tuturan
"Ya, sayang sekali. Berburu bagaimana? Mari berburu."
"Sayang, Rob, aku membutuhkan waktu untuk belajar. Sebenarnya aku suka juga. Bagaimana kalau lain waktu?"
"Baik, lain kali," ia tembuskan pandangnya pada mataku. Aku tahu ada ancaman dalam pandang itu. Ia jatuhkan telapak tangan kanan pada paha. "Bagaimana kalu kita jalan-jalan sekarang?"
"Sayang, Rob, aku harus belajar."
(BM/11/h156/PTL/PAP) Data (35) menunjukkan bahwa penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung. Penolakan tidak langsung yang digunakan Minke adalah penolakan tidak langsung pernyataan / alasan / penjelasan "Sayang, Rob, aku harus belajar." untuk menolak permintaan dengan menunjukkan alasan yang mungkin umum atau khusus.
(36) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Robert Mellema dengan Babah Ah Tjong di dalam kediaman rumah Babah Ah Tjong. Robert sudah beberapa hari tinggal di rumah Babah Ah Tjong, ia dilayani oleh wanita-wanita simpanan di rumah plesiran Babah Ah Tjong. Robert meminta bon dari Babah Ah Tjong untuk ditandatangani, tetapi Babah menolak permintaan Robert tersebut.
Bentuk Tuturan
"Biar aku tandatangani bonnya," katanya ragu.
"Ai, Nyo, kita beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa.
Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? Pendeknya
setiap saat boleh datang kemali. Boleh pakai kamal mana saja selama tidak telkunci, tanpa batas waktu, siang atau malam. Boleh pilih olang mana saja. Kalau pintu dan jendela depan telkunci Sinyo masuk saja dali pintu belakang.Tukang kebun dan penjaga nanti kubilangi."
(BM/15/h262/PTL/PAP) Data (37) menunjukkan bahwa Babah menolak permintaan Robert dengan menggunakan penolakan tidak langsung, walaupun mereka bertetangga dan Babah mempunyai prinsip bahwa ia harus bersikap baik kepada tetangganya tetapi Robert dan Babah jarang sekali bertemu, mereka tidak mempunyai hubungan yang dekat. Hal tersebut yang menyebabkan Babah menggunakan penolakan tidak langsung.
Babah menggunakan penolakan tidak langsung Pernyataan/Alasan/Penjelasan dengan mengatakan "Ai, Nyo, kita
beltetangga baik. Sinyo tak pellu kelualkan apa-apa. Jangan kuatil. Siapa tahu kelak kita bisa jadi engko? ...". Babah secara tidak
langsung menolak Robert dengan menunjukkan beberapa alasan seperti hubungannya dengan Robert yang rumahnya bertetangga baik.
(38) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Annelies dan Minke di kediaman keluarga Mellema. Minke menggendong Annelies dan membawanya ke jendela, tempat di mana Minke diceramahi oleh dokter Martinet. Mereka melihat pemandangan perladangan yang luas terbentang di depan mata. Minke bertanya apakah dia kedinginan dan menyuruh Annelies untuk tidur kembali karena keadaan fisiknya yang belum pulih.
Bentuk Tuturan
"Lebih baik kau tidur lagi."
"Aku ingin di dekatmu begini. Lama sekali, dan kau tak juga
datang."
"Aku sudah datang, Ann."
(BM/19/h308/PTL/PAP) Data (38) menunjukkan bahwa Annelies menggunakan penolakan tidak langsung untuk menolak usul dari Minke pernyataan/alasan/penjelasan "...Lama sekali, dan kau tak juga
datang." Annelies secara tidak langsung menolak usul dari Minke
dengan menggunakan penjelasan bahwa Annelies terlalu lama menunggu Minke yang tidak juga datang.
(39) Konteks Tuturan
Percakapan terjadi di antara Juffrouw Magda Peters dan Mama atau Nyai Ontosoroh di kediaman keluarga Mellema. Juffrouw Magda Peters mengunjungi kediaman keluarga Mellema karena Juffrouw ingin tahu lebih dalam tentang Nyai Ontosoroh. Juffrouw datang bersama dengan Minke, dengan Minke pula Juffrouw dikenalkan
kepada Annelies dan Nyai Ontosoroh. Juffrouw kemudian berbincang-bincang dengan Nyai membicarakan kemajuan Minke di sekolah. Mereka berbincang dengan menggunakan bahasa Belanda, Juffrouw Magda Peters memanggil Nyai dengan sebutan Mevrouw atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Nyonya.
Bentuk Tuturan
"Mevrouw, kedatanganku sebenarnya untuk urusan sekolah. Kami ingin mendapatkan keterangan yang pasti: apa Minke di sini bisa belajar dengan baik?"
"Dia berangkat pada pagihari dan pulang pada sorehari. Di malamhari dia membaca, belajar atau menulis. Maafkan, Juffrouw, aku tidak biasa dipanggil Mevrouw, dan memang bukan seorang mevrouw.
Sebutan itu tidak tepat, bukan hakku. Panggil saja Nyai seperti
dilakukan semua orang, karena itulah aku Juffrouw."
(BM/20/h339/PTL/PAP) Data (39) menunjukkan bahwa Nyai menjelaskan alasan bahwa dia bukan seorang Mevrouw atau Nyonya dan tidak biasa dipanggil dengan sebutan tersebut serta bukan haknya untuk dipanggil dengan sebutan tersebut. Nyai Ontosoroh menolak sebutan yang diberikan oleh Juffrouw Magda Peters untuk memanggil Nyai dengan sebutan Mevrouw. Penolakan tidak langsung tersebut menunjukkan bahwa Nyai dan Juffrouw Magda Peters tidak mempunyai hubungan yang akrab karena mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
PTL/PF (Pernyataan Filosofi) (40) Konteks Tuturan
Minke dan Robert Mellema yang menjadi participant dalam percakapan tersebut. Percakapan mereka terjadi di dalam kamar Robert Mellema. Robert bercerita tentang keinginannya menjadi awak kapal dan berlayar mengelilingi dunia. Minke beranggapan bahwa mungkin Mama tidak akan mengijinkan Robert untuk pergi, dan menyarankan untuk membicarakan hal tersebut kepada Mama atau Papa terlebih dahulu. Robert menolak, dan Minke menawarkan dirinya untuk menanyampaikan hal tersebut kepada Mama, Robert juga menolak tawaran Minke dan mengalihkan pembicaraan dengan menyatakan bahwa Minke adalah seorang buaya darat.