KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI
3.2 Pentahapan Pengembangan Sanitasi
3.2.1 Pentahapan Pengembangan Air Limbah Domestik
Beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam memecahkan permasalahan pengelolaan air limbah domestik adalah kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah, karakteristik tata guna lahan, serta risiko kesehatan lingkungan. Analisis yang dilakukan menghasilkan suatu peta yang menggambarkan zona dan sistem pengelolaan air limbah yang akan menjadi bahan untuk tahapan pengembangan air limbah domestik.
Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan pembangunan fisik di Kota Padang Panjang, menyebabkan bertambahnya tekanan lingkungan akibat pencemaran limbah domestik baik dari air limbah cucian dan kamar mandi (grey water) dan limbah dari WC (Black Water). Berdasarkan hasil pemantauan dari Kantor Lingkungan Hidup Kota Padang Panjang tahun 2013, sungai sungai di Kota Padang Panjang berada pada status cemar berat (nilai total dan fecal colli berada diatas baku mutu kelas 4. Pemantauan pada sumber air tanah milik masyarakat memperlihatkan penurunan kualitas, terutama pencemaran bakteri Coli . Sumber pencemar air sungai antara lain limbah domestic pemukiman yang langsung dibuang tanpa pengolahan, limbah domestik pasar, industry dan pencemaran pupuk atau pestisida. Salah satu sumber pencemar air tanah yang dominan adalah septik tank system resapan yang letaknya berdekatan dengan sumber air.
Di dalam strategi sanitasi kota ini telah ditentukan wilayah prioritas pengembangan sistem pengelolaan air limbah secara umum apakah sistem on site maupun sistem off site. Kriteria yang dipergunakan antara lain dalam penentuan prioritas pengembangan tersebut adalah:
SSK PEMUTAKHIRAN
Kota Padang Panjang 2016
III- 4 Kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (urban, peri urban, rural), karakteristik tata guna lahan/Central Of Business District (CBD) serta resiko kesehatan lingkungan.
Sejak tahun 2010 pemerintah Kota Padang Panjang melalui Kantor Lingkungan Hidup sudah mencoba mengembangkan pembangunan septik tank komunal di kawasan permukiman padat sekitar Batang Aia Bakarek-Karek namun sering terkendala dengan ketersediaan tanah dan kesediaan warga. Pada tahun 2012 juga sudah dilakukan forum diskusi aktual yang membahas kondisi pengelolaan air limbah rumah tangga di Kota Padang Panjang. Dimana permasalahan pembangunan IPAL komunal adalah masalah ketersediaan lahan, ketersediaan warga dan kondisi lahan yang berkontur. Dari hasil diskusi tersebut direkomendasikan pada Pemerintah Kota Padang Panjang bahwa pengelolaan air limbah yang potensial dikembangkan adalah septik tank individu atau komunal skala kecil.
Dengan mengacu kepada hasil Studi EHRA, Persepsi SKPD dan penerima dampak, maka dengan sangat mudah menentukan kelurahan mana yang menjadi prioritas dan kelurahan mana yang masih dapat dikembangkan beberapa tahun kemudian sesuai dengan urutannya. Dari hasil perhitungan tersebut area beresiko ditetapkan secara subjektif dapat dijadikan dasar penetapan pembagian zona, dapat dipilih secara berurutan dari atas ke bawah kawasan mana yang merupakan kawasan mendesak . Untuk penentuan zona area beresiko sektor air limbah dapat diperhatikan sebagai kawasan sangat mendesak yang terdiri dari kelurahan sebagai berikut
Tabel 3. 2
Zona area beresiko sangat tinggi Air Limbah Domestik Kelurahan Pasar baru Nilai 4
Kelurahan Balai – Balai Nilai 4 Kelurahan Ekor Lubuk Nilai 4 Kelurahan Sigando Nilai 4
Tabel 3. 3
Zona area beresiko tinggi Air Limbah Domestik Kelurahan Pasar Usang Nilai 3
Kelurahan Kampung Manggis Nilai 3 Keluraha Tanah Hitam Nilai 3 Kelurahan Koto Panjang Nilai 3 Kelurahan Koto Katik Nilai 3 Kelurahan Ganting Nilai 3
SSK PEMUTAKHIRAN
Kota Padang Panjang 2016
III- 5 Tabel 3. 4
Zona area beresiko rendah Air Limbah Domestik Kelurahan Silaing Atas Nilai 2
Kelurahan Silaing Bawah Nilai 2 Kelurahan Bukit Surungan Nilai 2
Kelurahan Ngalau Nilai 2
Kelurahan Guguk Malintang Nilai 2 Kelurahan Tanah Pak Lambik Nilai 2
Tahapan pengembangan air limbah Kota Padang Panjang Tahun 2016-2019 adalah sebagai berikut:
1. Pengelolahan Limbah Domestik Individual/Komunal Jangka Pendek
Meliputi Kelurahan Pasar Baru, Balai – Balai, Ekor Lubuk dan kelurahan Sigando Dapat disimpulkan bahwa kelurahan diatas merupakan kelurahan yang pengelolaan air limbahnya mendesak untuk ditindak lanjuti melalui pengembangan septik tank individu maupun septik tank komunal atau IPAL komunal
2. Pengelolahan Limbah Domestik Individual/Komunal Jangka Menengah
Meliputi Kelurahan Pasar Usang, Kampung Manggis, Tanah hitam, Koto Panjang, Koto Katik dan Kelurahan Ganting. Kelurahan ini berada pada resiko sanitasi yang tinggi.
3. Pengelolahan Limbah Domestik Individual/Komunal Jangka Panjang
Meliputi Kelurahan Silaing Bawah, Silaing Atas, Bukit Surungan, Ngalau, Guguk Malintang dan Kelurahan Tanah pak Lambik. Kelurahan – kelurahan ini berada pada resiko sanitasi rendah
Zona-zona tersebut ditampilkan dalam peta tahapan pengembangan air limbah domestik yang merupakan dasar bagi Kota Padang Panjang dalam pengembangan rencana berjangka pengelolaan air limbah sebagaimana terlihat pada gambar
Catatan : Pada tahun 2012 juga sudah dilakukan forum diskusi aktual yang membahas kondisi pengelolaan air limbah rumah tangga di Kota Padang Panjang. Dimana permasalahan pembangunan IPAL komunal adalah masalah ketersediaan lahan, ketersediaan warga dan kondisi lahan yang berkontur. Dari hasil diskusi tersebut direkomendasikan pada Pemerintah Kota Padang Panjang bahwa pengelolaan air limbah yang potensial dikembangkan adalah septik tank individu atau komunal skala kecil, dengan catatan perbaikan IPLT segerakan dilaksanakan pada tahun 2017
SSK PEMUTAKHIRAN
Kota Padang Panjang 2016
III- 6 Gambar 3. 1
SSK PEMUTAKHIRAN
Kota Padang Panjang 2016
III- 7 Adapun target cakupan layanan yang ingin dicapai dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang secara lebih rinci disampaikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 3. 5
Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kota Padang Panjang
No Sistem
Cakupan layanan eksisting*
(%)
Target cakupan layanan* (%) Jangka
pendek menengah Jangka panjang Jangka
(a) (b) (c) (d) (e) (f)
Wilayah Perkotaan
A Buang Air Besar Sembarangan (BABS)** 3,3 2 0 0
B Sistem Pengolahan Air limbah Setempat
On-site
1 Cubluk dan Sejenisnya*** 74,4 55 35 15
2 Tangki Septik Individual Aman 13,3 31 45 69
C Sistem Komunal
1 MCK/MCK++/MCK Umum 4 5 6 6
2 IPAL Komunal 2 3 4 4
3 Tangki Septik Komunal 3 4 5 6
Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off-site)
- - - -
Sub-Total 100 100 100 100
Keterangan:
*) Cakupan layanan adalah persentase penduduk terlayani oleh sistem dimaksud atas total penduduk **) Buang air besar lansung di kebun, kolam, sawah, sungai dll.
***)Termasuk di dalamnya adalah Tangki septik individual yang tidak kedap (tidak pernah disedot lebih dari 5 tahun), jamban yang tidak memiliki fasilitas pengolahan (dibuang langsung ke lingkungan) atau yang dikenal juga dengan istilah BABS terselubung.
Kota Padang Panjang sudah memiliki 2 unit truck tinja namun yang beroperasi cuma 1 truk tinja dengan frekwensi operasi rata-rata 12-15 kali/bulan dan 1 unit Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang sekarang tidak aktif karena rusak akibat gempa tahun 2009. Sehingga lumpur tinja tersebut tidak bisa diolah di IPLT.