• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentas Seni Sendratari Sintren Van Pekalongan (Solasih Solandono)

Pentas Seni Sendratari Sintren Van Pekalongan (Solasih Solandono) di TMII

(Dok. Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan, 2010) Foto 19

Pentas di acara nikahan

85

Berdasarkan aktivitas Sanggar Tari Kaloka yang terkait dengan kegiatan-kegiatan tari yang dilakukan maka dapat dilihat peranan sanggar terhadap perkembangan tari secara kualitatif dan kuantitatif.

Perkembangan kualitatif merupakan proses pembaharuan sebuah kreativitas yang sudah ada secara berkesinambungan agar bersifat progresif tanpa mengurangi nilai-nilai yang sudah ada. Peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan secara kualitatif dapat dilihat dari sejauh mana usaha pengembangan tari yang sudah ada dilakukan dengan proses kreativitas secara terus-menerus ke arah yang lebih baik/maju melalui kegiatan penggarapan tari. Salah satu kegiatan penggarapan tari yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka adalah perekonstruksian Tari Sintrenan menjadi Tari Sintren Garap.

Sanggar Tari Kaloka juga melakukan kegiatan penggarapan karya tari yang hanya dilakukan untuk kepentingan pementasan dan lomba saja dan belum memiliki hak untuk penciptaan karya tersebut. Selain itu penggarapan melalui kreativitas drama tari juga dilakukan untuk penilaian ujian pergelaran siswa SMA. Garapan karya tari untuk pementasan, lomba, dan penilaian ujian pergelaran tersebut merupakan peranan yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka untuk berkreativitas dalam mengembangkan karya tari tersebut agar menjadi lebih baik.

Sanggar Tari Kaloka mendapat kepercayaan dari Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan untuk merekonstruksi Tari Sintrenan menjadi Tari Sintren Garap yang dijadikan salah satu tarian identitas khas Kota Pekalongan. Perekonstruksian Tari Sintrenan menjadi Tari Sintren Garap merupakan peranan yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka untuk

berkreativitas dengan karya tari yang sudah ada yaitu Tari Sintrenan yang dikembangkan menjadi Tari Sintren Garap dan oleh Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan dijadikan tarian identitas khas Kota Pekalongan.

Perkembangan kuantitatif merupakan proses penyebaran tari melalui upaya dan kegiatan-kegiatan tari agar lebih luas dan dikenal oleh masyarakat. Peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan kuantitatif dapat dilihat dari kegiatan pelatihan yang dilakukan baik pelatihan rutin maupun khusus/insidental, serta mengadakan atau ikut serta dalam berbagai kegiatan pementasan.

Prestasi yang dicapai siswa Sanggar Tari Kaloka dalam perlombaan merupakan hasil dari kegiatan pelatihan tari rutin Sanggar Tari Kaloka yang membuktikan bahwa peranan yang dilakukan oleh Sanggar Tari Kaloka lebih berkembang sehingga mencapai hasil yang maksimal. Pada kegiatan pelatihan tari khusus, Sanggar Tari Kaloka melakukan kegiatan penggarapan tari baik untuk acara pementasan, perlombaan, maupun penilaian ujian pergelaran siswa SMA. Pelatihan tari khusus/insidental menunjukkan peranan penyebaran tari di luar sanggar/ke lingkup yang lebih luas. Sedangkan pelatihan tari rutin di sanggar menunjukkan peranan penyebaran tari kepada di lingkup Sanggar Tari Kaloka. Peranan Sanggar Tari Kaloka dalam penyebaran tari melalui kegiatan pelatihan tari tidak hanya dalam lingkup sanggar (pelatih ke siswa), jangkauan penyebaran lebih luas jika siswa yang mengikuti kegiatan pelatihan tari di Sanggar Tari Kaloka mempelajari lebih lanjut seni tari sebagai proses penyebaran ke masyarakat luas sebagai pelatih/guru tari dan menjadikannya profesi.

87

Pementasan juga merupakan salah satu peranan penyebaran tari kepada masyarakat luas sebagai sarana promosi dan penyampaian informasi melalui pertunjukkan pentas yang dilakukan oleh Sanggar Tari Kaloka. Peranan Sanggar Tari Kaloka pada kegiatan pementasan dapat dilihat dari upaya yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka untuk penyebaran tari kepada masyarakat Kota Pekalongan dan juga masyarakat luar Kota Pekalongan.

4.5 Faktor yang Memengaruhi Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan

Perkembangan tari di Kota Pekalongan tidak lepas dari besarnya peranan Sanggar Tari Kaloka. Beberapa peranan untuk mengembangkan tari dilakukan Sanggar Tari Kaloka melalui kegiatan-kegiatan tari di Kota Pekalongan. Peranan yang dilakukan oleh Sanggar Tari Kaloka tidak semua berjalan dengan lancar. Beberapa peranan dapat berjalan dengan lancar karena beberapa faktor pendukung, sedangkan beberapa faktor penghambat menjadi kendala bagi Sanggar Tari Kaloka dalam menjalankan peranannya untuk mengembangkan tari di Kota Pekalongan.

4.5.1 Faktor Pendukung Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan

Beberapa faktor pendukung Sanggar Tari Kaloka dalam menjalankan peranannya mengembangkan tari di Kota Pekalongan:

1. Jalinan Kerjasama

Kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama dan mendapatkan hasil yang cepat dan baik. Interaksi terjadi didalam kerjasama karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain sehingga senantiasa membutuhkan orang lain. Kerjasama berlangsung jika individu yang bersangkutan memiliki kepentingan yang sama dalam usaha tersebut untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama juga diartikan sebagai suatu proses menyelesaikan pekerjaan secara berkelompok atau bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat dan ringan daripada dikerjakan sendiri.

Foto 20

Pementasan Sendratari Ramayana Pekan Batik Nusantara 2014 dengan Sanggar Seni Rahayu Raras

89

Sanggar Tari Kaloka menjalin kerjasama dengan berbagai instansi maupun lembaga. Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan sudah bertahun-tahun menjalin kerjasama dengan Sanggar Tari Kaloka. Beberapa sanggar seni di dalam Kota maupun di luar Kota Pekalongan pun menjadi mitra dalam kerjasama dengan Sanggar Tari Kaloka. Beberapa sanggar seni yang menjalin kerjasama dengan Sanggar Tari Kaloka yaitu Sanggar Sekar Kedhaton, Sanggar Ibu Pertiwi (Paguyuban Karawitan), Sanggar Rahayu Raras, Sanggar Tari Kartika, Sanggar Tari Surya Budhaya, Sanggar Laras Wisata, Sanggar Tari Wira Budhaya, Sanggar Sufi Habib Muhammad Lutfi. Sanggar Tari Kaloka juga sering mendapatkan kepercayaan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan dan sekolah-sekolah di Kota Pekalongan. Selain instansi dan sanggar seni di dalam Kota Pekalongan Sanggar Tari Kaloka juga menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Berbagai bentuk kerjasama Sanggar Tari Kaloka dengan beberapa instansi dan lembaga menunjukkan bukti wujud peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap seni dan perkembangan seni khususnya seni tari di Kota Pekalongan. Kepercayaan yang diberikan dalam bentuk kerjasama juga menunjukkan eksistensi Sanggar Tari Kaloka dari awal berdiri sampai sekarang. Sanggar Tari Kaloka semakin dikenal oleh masyarakat luas dengan menjalin kerjasama untuk perkembangan tari Kota Pekalongan.

Kerjasama merupakan salah satu wujud dari hasil peranan yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan tari yang terjadi di Kota

Pekalongan karena dengan kerjasama yang dijalin Sanggar Tari Kaloka dengan beberapa instansi/lembaga pemerintah, sanggar maupun masyarakat membuktikan bahwa Sanggar Tari Kaloka telah dipercaya sebagai sanggar yang mempunyai peran penting melalui berbagai upaya kegiatan pelestarian yang dilakukan sebagai proses dalam mengembangkan seni budaya khususnya bidang tari di dalam maupun luar Kota Pekalongan.

2. Kreativitas dalam Mengembangkan Tari

Sanggar Tari Kaloka memiliki kemampuan untuk mencipta/daya cipta terhadap inovasi karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada. Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah hingga menciptakan ide-ide untuk lebih berkembang.

Salah satu bentuk kreativitas yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka yaitu merekonstruksi Tari Sintren Garap. Hal tersebut merupakan kreativitas Sanggar Tari Kaloka dalam menciptakan inovasi terhadap karya yang sudah ada menjadi lebih menarik. Sanggar Tari Kaloka juga memecahkan masalah pro-kontra pandangan masyarakat terhadap kesenian yang bertentangan dengan identitas Kota Pekalongan sebagai kota santri. Kesenian dinilai tidak sejalan dengan kaidah-kaidah Islam. Dalam hal ini Sanggar Tari Kaloka kreatif dalam mengolah kesenian yang ada agar dapat berjalan beriringan dengan kaidah Islam sehingga tidak menimbulkan kontra dengan identitas Kota Pekalongan sebagai kota santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Hal itu dapat dilihat dari kostum tari saat pementasan jika diminta untuk berpakaian islami maka Sanggar Tari Kaloka mengkreasikan kostum tari dengan busana yang syarat islami tanpa mengubah

91

nilai asli yang terkandung dalam karya seni tari yang disajikan. Kreativitas Sanggar Tari Kaloka juga dapat dilihat dari kemampuan mencipta karya drama tari untuk pergelaran siswa SMA Kota Pekalongan sebagai penilaian ujian akhir pelajaran seni budaya dan beberapa pementasan yang menentukan tema tertentu untuk penyajian pertunjukkan tarinya.

3. Pelopor/penggerak Masyarakat untuk Mengembangkan Tari

Sanggar Tari Kaloka merupakan salah satu sanggar tari di Kota Pekalongan yang mempunyai peran penting dalam perkembangan tari yang ada di Kota Pekalongan. Kepercayaan dari instansi/lembaga pemerintah, sanggar seni dan masyarakat membuat Sanggar Tari Kaloka menjadi sanggar yang paling menonjol atau menjadi pelopor untuk pelestarian budaya khususnya perkembangan tari di Kota Pekalongan. Sanggar Tari Kaloka mempunyai peran yang lebih besar dibandingkan sanggar-sanggar lain yang ada di Kota Pekalongan dalam mengembangkan tari di Kota Pekalongan. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa instansi/lembaga pemerintah dan masyarakat yang mempercayakan kegiatan tari kepada Sanggar Tari Kaloka. Eksistensi Sanggar Tari Kaloka yang masih bertahan sampai saat ini juga menunjukkan bahwa Sanggar Tari Kaloka menjadi penggerak bagi seniman/sanggar tari lain untuk ikut berkembang dan meningkatkan mutu organisasinya untuk melestarikan budaya khususnya mengembangkan tari yang ada baik di dalam maupun di luar Kota Pekalongan. 4. Anak Didik Sebagai Generasi Penerus dalam Mengembangkan Tari

Sanggar Tari Kaloka sejak awal didirikan pada tanggal 1 Januari 1994 sudah memiliki banyak siswa yang mempelajari seni tari dalam kegiatan pelatihan

tari di sanggar. Setiap siswa memiliki pemikiran berbeda dalam mempelajari tari, ada yang mempelajari tari hanya untuk konsumsi pribadi dan ada yang mendalami sampai ke perguruan tinggi untuk terus mengembangkan minat dan bakatnya yang nantinya dapat diajarkan kembali kepada generasi selanjutnya untuk dijadikan profesi. Sanggar Tari Kaloka memiliki banyak siswa yang menjadi generasi penerus dalam melestarikan budaya mengajarkan seni tari baik menjadi guru di sekolah maupun pelatih dan membuka sanggar tari.

Foto 21

Alumni Siswa Sanggar Tari Kaloka dengan Siswanya

93

5. Pencapaian Prestasi dibidang Tari

Prestasi diperoleh dari usaha yang telah dikerjakan dan dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan serta ketahanan diri dalam menghadapi segala situasi. Prestasi adalah hasil atas usaha yang dilakukan dengan kemampuan diri dan kesungguhannya dalam mencapai hasil yang diinginkan. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan tanpa usaha baik berupa pengetahuan maupun keterampilan.

Sanggar Tari Kaloka telah mencapai berbagai prestasi yang mengharumkan nama Sanggar Tari Kaloka dan Kota Pekalongan. Beberapa prestasi yang telah dicapai oleh Sanggar Tari Kaloka yaitu:

1. Juara II Festival Sintren di Kabupaten Pekalongan

2. Juara Nasional Festival Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 2003 3. Juara II tingkat Kotamadya lomba tari kelompok SD tahun 2003

4. Juara I tingkat Kotamadya dan juara harapan I tingkat Karisidenan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) tahun 2005

5. Juara I tingkat Kotamadya lomba tari Batik tahun 2006

6. Juara II tingkat Kotamadya lomba tari SMP peringatan HUT RI tahun 2008 7. Juara III tingkat Kotamadya lomba tari kelompok tahun 2010

8. Juara Umum tingkat Nasional lomba tari dolanan tahun 2014

Prestasi yang telah dicapai Sanggar Tari Kaloka membuktikan hasil pencapaian dari usaha yang telah dikerjakan. Masih banyak lagi prestasi yang telah dicapai Sanggar Tari Kaloka dari awal berdirinya sanggar pada tanggal 1 Januari 1994. Prestasi yang telah dicapai Sanggar Tari Kaloka merupakan bukti

peranannya terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan. Sanggar Tari Kaloka melaksanakan perannya dengan baik sebagai organisasi yang bergerak dibidang tari dengan tujuan untuk melestarikan budaya sehingga dapat mengembangkan tari di Kota Pekalongan melalui prestasi-prestasi yang telah diraih dalam bidang kesenian yaitu seni tari.

Melalui kerjasama yang dijalin oleh Sanggar Tari Kaloka dengan beberapa instansi dan lembaga pemerintah, serta prestasi-prestasi yang telah dicapai merupakan bentuk kemajuan bagi perkembangan seni khususnya seni tari di Kota Pekalongan. Kerjasama yang dijalin dan prestasi yang diraih tidak dicapai dengan proses yang mudah, banyak kendala yang mengiringi selama proses pencapaian tersebut.

4.5.2 Faktor Penghambat Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan

Beberapa kendala yang dihadapi Sanggar Tari Kaloka dalam peranannya melestarikan budaya khususnya dalam mengembangkan tari di Kota Pekalongan dikarenakan berbagai faktor penghambat yaitu:

1. Kurangnya Minat Masyarakat Terhadap Tari

Kesadaran masyarakat akan pelestarian budaya saat ini berkurang, hal ini disebabkan kurangnya minat masyarakat dalam mempelajari dan mengembangkan budaya yang ada. Pada Sanggar Tari Kaloka dapat dilihat dari keadaan siswa yang mengikuti kegiatan pelatihan tari di sanggar. Sebagian masyarakat mempunyai pandangan berbeda terhadap tari dan mengesampingkan pengetahuan budaya

95

khususnya dalam mempelajari tari. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan tari kurangnya minat masyarakat dalam mempelajari tari.

2. Pertentangan Masyarakat Terhadap Pandangan Tari

Kesenian identik tidak mengenal batasan dalam karya yang dibuat dan dinilai bertentangan dengan kaidah islam. Hal itu dapat dilihat dari hasil karya maupun kostum yang dipakai saat pertunjukkan tari. Meskipun tidak semua masyarakat beranggapan seni tidak sejalan dengan kaidah Islam, namun beberapa masyarakat masih mempunyai pandangan berbeda terhadap kesenian khususnya seni tari. Hal ini menjadi pro-kontra dan perdebatan diantara pelaku seni dan masyarakat khususnya di Kota Pekalongan yang merupakan kota santri dan sangat menjunjung tinggi kaidah/nilai Islami, sehingga menjadikan para pelaku seni terbatas dalam menuangkan ekspresinya menciptakan sebuah karya seni.

3. Keterlibatan Seniman dari Luar Kota Pekalongan

Pemerintah Kota mempunyai andil besar dalam perkembangan budaya khususnya tari yang terjadi di Kota Pekalongan. Dalam kurun waktu tiga tahun ini Pemerintahan Kota Pekalongan melibatkan beberapa seniman/sanggar dari luar Kota Pekalongan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan atau acara kesenian. Dalam hal ini para seniman/sanggar di Kota Pekalongan semakin tergeser/terbatas ruang geraknya untuk mengekspresikan karya seninya dalam kegiatan atau acara kesenian sehingga sanggar tari lokal termasuk Sanggar Tari Kaloka kurang optimal dalam melaksanakan peranannya terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan.

96

BAB 5

PENUTUP

5.1 Simpulan

Peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan melalui kegiatan penggarapan, pelatihan, dan pementasan tari. Berdasarkan kegiatan tari yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka, maka dapat dilihat peranan sanggar terhadap perkembangan tari secara kualitatif dan kuantitatif. Perkembangan secara kualitatif yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka dapat dilihat dari peran Sanggar Tari Kaloka dalam mengembangkan tari yang sudah ada dengan kreativitas secara terus-menerus agar lebih baik melalui kegiatan penggarapan tari, sedangkan peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan tari secara kuantitatif dapat dilihat melalui kegiatan pelatihan dan pementasan tari yang merupakan usaha penyebaran tari agar lebih luas dan dikenal oleh masyarakat.

Faktor pendukung yang memengaruhi peranan Sanggar Tari Kaloka yaitu: (1) jalinan kerjasama dengan lembaga pemerintah, sekolah formal, dan masyarakat Kota Pekalongan, (2) kreativitas Sanggar Tari Kaloka dalam mengembangkan tari, (3) sebagai pelopor/penggerak masyarakat untuk mengembangkan tari, (4) memiliki anak didik sebagai generasi penerus dalam mengembangkan tari, (5) mencapai prestasi dibidang tari. Sedangkan faktor penghambat peranan Sanggar Tari Kaloka yaitu: (1) kurangnya minat masyarakat

97

terhadap tari, (2) pertentangan antar masyarakat terhadap pandangan tari, (3) keterlibatan seniman dari luar Kota Pekalongan.

5.2 Saran

Berdasarkan simpulan dalam penelitian yang telah dilakukan peneliti, saran yang diperoleh sebagai berikut:

1. Bagi Sanggar Tari Kaloka diharapkan lebih mengoptimalkan peranannya terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan

2. Bagi Pemerintah Kota Pekalongan hendaknya lebih memprioritaskan dan mendukung sanggar tari lokal di setiap agenda pemerintahan agar perkembangan tari di Kota Pekalongan lebih maju

3. Bagi masyarakat hendaknya mendukung dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tari yang mempunyai peran bagi perkembangan tari di Kota Pekalongan.

98

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Badan Pusat Statistik Kota Pekalongan. 2014. Kota Pekalongan Dalam Angka 2014. Pekalongan: BPS Kota Pekalongan

Hadi, Sumandiyo. 2005. Sosiologi Tari. Yogyakarta: Penerbit Pustaka

Hartono. 2011. Pembelajaran Tari Anak Usia Dini. Semarang: UNNES PRESS

Indriyanto. 2001. “Kebangkitan Tari Rakyat dalam Kancah Perkembangan Tari di Jawa Tengah”. Dalam Jurnal Harmonia. Volume 2 No. 2. Hal: 59-65. Semarang: FPBS IKIP Semarang

Jazuli, Muhammad. 1994. Telaah Teoritis Seni Tari. Semarang: IKIP Semarang Press

---.2001. Metode Penelitian Kualitatif. Semarang: Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Semarang

---. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni. Surabaya: Unesa University Press

---. 2008. Pendidikan Seni Budaya: Suplemen Pembelajaran Seni Tari. Semarang: UNNES PRESS

Malarsih. 1998. “Tari: Sebuah Fenomena Keindahan Seni yang Kebenaran

Keindahannya Masih Perlu Ditelaah Secara Filsafati”. Dalam Jurnal Lingua Artistika. Volume XXI No. 2. Hal: 366-376. Semarang: IKIP Semarang

Matthew B.Miles, A.Michael Huberman. 2007. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia Press Moleong. Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

99

Ngalimun; Haris Fadilah; dan Alpha Ariani. 2013. Perkembangan dan Pengembangan Kreativitas. Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Rahadinta, Award. 2011. Peranan Warnet sebagai Sarana Mengakses Informasi Musik bagi Remaja di Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali. Skripsi Jurusan Sendratasik. Semarang: FBS UNNES

Rohidi. 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung: Penerbit Nuansa

Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukkan. Jakarta : Sinar Harapan Sugiyono. 2010. Metode Penelitiaan Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta

Susanti, Dewi. 2013. Perkembangan Kesenian Barongsai dan Liong di Sasana Wushu Naga Sakti Semarang. Skripsi Jurusan Sendratasik. Semarang: FBS UNNES

Soekanto, Soerjono. 2013. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Veronica, Eny. 2012. Upaya Mempertahankan Eksistensi Tari Kridha Jati di Sanggar Hayu Budaya Kelurahan Pengkol Jepara. Jurnal Jurusan Sendratasik FBS. Semarang: UNNES PRESS

Yusuf, Syamsu. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

http://oss.pekalongankota.go.id/ (diunduh pada tanggal 21 November 2014) http://pekalongankota.bps.go.id/ (diunduh pada tanggal 21 November 2014) http://sekolahtarigenecela.blogspot.com/ (diunduh pada tanggal 30 September

2014)

100

101

Lampiran 1

LAMPIRAN FOTO-FOTO

Foto 1: Penampilan Tari Batik Jlamprang pada acara Pekan Batik Nusantara 2014

Foto 3: Penampilan Tari Sopek pada acara Pekan Batik Internasional 2013

Foto 4: Penampilan Tari Batik Arwana pada acara Pekan Batik Internasional 2013

103

Foto 5: Penampilan Tari Rebana Santri pada acara HUT Kota Pekalongan 2015

Foto 6: Wawancara dengan bapak Bambang Irianto selaku pendiri Sanggar Tari Kaloka Kota Pekalongan

Lampiran 2

INSTRUMEN PENELITIAN

1. Pedoman Observasi

Dalam Penelitian “Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan” peneliti melakukan observasi dengan

pembatasan:

1. Gambaran umum lokasi penelitian 2. Kegiatan Sanggar Tari Kaloka

3. Perkembangan Tari di Kota Pekalongan

2. Pedoman Wawancara

Wawancara dilakukan untuk memperoleh data lebih mendalam mengenai informasi yang diperlukan kepada narasumber guna megkaji penelitian tentang peranan Sanggar Tari Kaloka terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan. Dalam pelaksanaan wawancara peneliti membatasi data/informasi yang berhubungan dengan:

a. Sejarah berdirinya Sanggar Tari Kaloka b. Kegiatan Sanggar Tari Kaloka

c. Kondisi tari di Kota Pekalongan

105

Penelitian dengan judul “Peranan Sanggar Tari Kaloka Terhadap Perkembangan Tari di Kota Pekalongan” melakukan wawancara dengan

membatasi narasumber yaitu:

a. Bapak Bambang Irianto, S.Pd. selaku pendiri dan pengelola Sanggar Tari Kaloka

b. Ibu Esti Ediarti selaku pelatih Sanggar Tari Kaloka

c. Ibu Endang Suprapti, S.Kar. selaku kepala bidang kebudayaan Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan

d. Ibu Eni Ratnawati, S.Pd. selaku kepala bidang kesenian dan kebudayaan PGRI Kota Pekalongan dan kepala SD N 1 Karangmalang Kota Pekalongan (pengamat seni di Kota Pekalongan)

INSTRUMEN PERTANYAAN

A. Bambang Irianto (pendiri/pengelola sanggar) 1. Kapan Sanggar Tari Kaloka didirikan ?

2. Bagaimana sejarah terbentuknya Sanggar Tari Kaloka ? 3. Apa tujuan didirikannya Sanggar Tari Kaloka ?

4. Bagaimana kegiatan tari Sanggar Tari Kaloka ?

5. Mengapa Sanggar Tari Kaloka berperan terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan ?

6. Apa faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi Sanggar Tari Kaloka dalam menjalankan perannya mengembangkan tari ?

B. Esti Ediarti (pelatih sanggar)

1. Apa kegiatan tari yang dilakukan Sanggar Tari Kaloka ? 2. Bagaimana kegiatan pelatihan tari di Sanggar Tari Kaloka ?

3. Bagaimana pembagian kelompok siswa dalam kegiatan pelatihan tari ? 4. Apa saja materi yang diajarkan kepada siswa ?

5. Apa strategi yang digunakan dalam pelatihan tari ?

6. Apa kendala yang ditemui selama kegiatan pelatihan tari berlangsung ? 7. Mengapa Sanggar Tari Kaloka berperan terhadap perkembangan tari di

Kota Pekalongan ?

C. Endang Suprapti (Dinas Perhubungan, Pariwisata, dan Kebudayaan Kota Pekalongan)

1. Bagaimana kondisi tari di Kota Pekalongan ?

2. Mengapa Sanggar Tari Kaloka berperan terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan ?

3. Apa saran dan harapan anda untuk Sanggar Tari Kaloka ? D. Eni Ratnawati (pengamat seni)

1. Bagaimana kondisi tari di Kota Pekalongan ?

2. Mengapa Sanggar Tari Kaloka berperan terhadap perkembangan tari di Kota Pekalongan ?

107

TRANSKRIP WAWANCARA

A. Bambang Irianto (pendiri/pengelola sanggar) 1. Kapan Sanggar Tari Kaloka didirikan ?

Pada tanggal 1 Januari 1994.

2. Bagaimana sejarah terbentuknya Sanggar Tari Kaloka ?

Saya bersama istri mengajarkan tari kepada anak-anak. Setelah musyawarah dengan teman-teman saya yang juga mempunyai keahlian menari kemudian kami sepakat mendirikan sanggar tari yang bernama

Dokumen terkait