BAB III PENGATURAN MENGENAI KAWASAN
C. Pentingnya Peraturan Daerah mengenai Kawasan
dalam menunjang Keselamatan Penerbangan
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jika kembali melihat pada pengaturan-pengaturan yang dimuat dalam KKOP serta di sinkronisasi dengan perkembangan masyarakat sekitar yang bermukim di sekitar
kawasan operasi penerbangan pada Bandar udara Kuala Namu, banyak masyarakat sekitar bandara kualanamu yang tidak menyadari bahwa masyarakat memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang keselamatan penerbangan. keselamatan penerbangan seolah-olah tidak hanya muncul dari pihak-pihak tertentu baik pilot, maskapai penerbangan, penyelenggara Bandar udara ataupun yang melakukan pengawasan dalam suatu penerbangan, ,melainkan ada nya peran masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam menunjang keselmatan penerbangan.
Berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam menunjang keselamatan penerbangan khususnya di Bandara Internasional Kuala Namu dapat dilihat pada peraturan yang ada yaitu di dalam Perundang-undangan Indonesia tentang penerbangan yang telah membuat ketentuan mengenai peran serta masyarakat untuk turut mewujudkan keselamatan penerbangan.
Dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan penerbangan secara optimal masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam kegiatan penerbangan.67
Peran serta masyarakat yang dimaksud dalam hal ini adalah peran serta yang berkaitan dalam upaya peningkatan dalam penyelenggaraan penerbangan,yaitu :68
a. Memantau dan menjaga ketertiban penyelenggaraan kegiatan penerbangan;
67 Pasal 396 ayat (1) UU No.1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
68 Pasal 396 ayat (2) UU No.1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
b. Memberikan masukan kepada pemerintah dalam penyempurnaan peraturan, pedoman, dan standar teknis dibidang penerbangan;
c. Memberikan masukan kepada pemerintah, pemerintah daerah dalam rangka pembinaan, penyelenggaraan dan pengawasan penerbangan;
d. Menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada pejabat yang berwenang terhadap kegiatan penyelenggaran penerbangan yang mengakibatkan dampak penting terhadap lingkungan;
e. Melaporkan apabila mengetahui ketidaksesuaian prosedur penerbangan, atau tidak berfungsinya peralatan dan fasilitas penerbangan;
f. Melaporkan apabila mengetahui terjadinya kecelakaan atau kejadian terhadap pesawat udara;
g. Mengutamakan dan mempromosikan budaya keselamatan penerbangan, dan/atau;
h. Melaksanakan gugatan perwakilan terhadap kegiatan penerbangan yang mengganggu, merugikan dan atau membahayakan kepentingan umum.
Jika melihat pada ketentuan poin-poin diatas bahwa masyarakat memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam menunjang keselamatan penerbangan.
masyarakat yang dimaksud memiliki pengertian yang luas, yakni masyarakat yang menjadi calon penumpang ataupun masyarakat yang dikategorikan dapat menikmati fasilitas bandara maupun masyarakat yang memiliki pengaruh terhadap keselamatan penerbangan, dalam hal ini ialah masyarakat yang tinggal disekitar kawasan keselamatan operasi penerbangan.
Ketentuan tersebut merupakan landasan atau dasar hukum akan pentingnya untuk dibuat peraturan yang lebih konsen lagi terhadap pengaturan kawasan keselamatan operasi penerbangan.
Disamping memiliki peran serta sebagaimana diatur dalam undang-undang penerbangan tersebut, kebanyakan masyarakat yang tinggal disekitar kawasan keselamatan operasi penerbangan tidak memahami bahkan tidak menyadari akan aktifitas-aktifitas yang membahayakan ketika dilakukan disekitar wilayah tersebut, dan bangunan-bangunan yang tinggi pula.69 Terlepas dari bangunan yang tinggi ataupun benda tumbuh lain baik yang hidup ataupun benda mati yang mebahayakan penerbangan di sekitar kawasan operasi penerbangan, ada aktifitas-aktifitas lain yang juga sama berbaha nya dan memiliki pengaruh yang besar dalam penerbangan.70
kegiatan masyarakat yang menggunakan ruang udara tanpa mengetahui ketentuannya dapat membahayakan penerbangan seperti kegiatan yang menggunakan peralatan yang dapat diterbangkan dengan tenaga sendiri atau angin atau mesin elektronis, antara lain permainan layang-layang, balon udara, parasut, paralayang, paralayang bermotor, layang gantung, layang gantungbermotor, pesawat udara ringan, aeromodeling, kembang api dan peralatan lainnya.
69 Bangunan adalah suatu benda bergerak maupun tidak bergerak yang bersifat sementara maupun tetap yang didirikan atau dipasang oleh orang atau yang telah ada secara alami, antara lain gedung-gedung, menara, mesin derek, cerobong asap,gundukan tanah, jaringan transmisi di atas tanah dan bukit atau gunung.
70 Benda tumbuh adalah segala jenis tanaman dan bangunan yang ada di sekitar KKOP.
Kite Disrupt Flight merupakan layangan yang mengganggu penerbangan.
sekalipun layangan hanya terbuat dari lembaran yang berbahan tipis yang direkatkan pada rangka bambu dan diterbangkan ke angkasa menggunakan benang, ternyata benda ini dapat mengganggu penerbangan, terutama pesawat yang melakukan take-off atau landing. Benang yang digunakan pada layangan tersebut dari bahan plastic tebal dan kuat, berpotensi menyangkut di mesin atau baling-baling pesawat yang dapat menimbulkan bahaya. Tidak hanya itu, ketinggian terbang layangan mampu menyamai badan pesawat yang berpotensi mengganggu visabilitas (jarak pandang) pilot. 71
Kenyataan lain bahwa saat musim pancaroba, permainan layangan mulai marak di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Pada saat itu maskapai penerbangan yang melayani rute internasional biasa nya juga mulai mengalihkan take-off/landing dari landas pacu utara, terminal II ke landas pacu Selatan, terminal I.72
Hal ini dilakukan karena umumnya layang-layang dimainkan diperkampungan yang dekat dengan ujung landas utara terminal II. Sementara runway selatan terminal I karena berdekatan dengan kawasan persawahan, maka terbebas dari aktivitas warga, termasuk permainan layangan. Layangan yang dimainkan disekitar kawasan Soekarno-Hatta dapat mencapai ketinggian seribbu kaki, sehingga berpotensi tersangkut ke mesin pesawat saat take-off atau landing.
Untuk pengalihan take-off atau landing dari terminal II ke terminal I, maskapai penerbangan membutuhkan waktu taxi sekitar 15 menit. Ini artinya pesawat menjadi delay. Disamping itu, maskapai penerbangan juga harus mengeluarkan
71 Handoyo,Singgih & Dudi Sudibyo, Aviapedia Ensiklopedia Umum Penerbangan Jilid 2 (Jakarta: PT.Kompas Media Nusantara,2014).
72 Ibid.
bahan bakar pesawat sekitar 100 liter untuk taxi yang semakin jauh. Bukan hanya maskapai nasional saja yang merasa tertanganggu akibat layangan, tetapi juga maskapai asing yang beroperasi di bandara Soekarno-Hatta.
Untuk mencegah munculnya layangan disekitar bandara Soekarno-Hatta , Pemerintah Kota Tangerang mengeluarkan peraturan daerah Nomor 4 Tahun 2004 tentang larangan menerbangkan layangan disekitar Kawasan Bandara Soekarno-Hatta yang mengenakan sanksi berupa kurungan badan selama tiga bulan atau denda sebesar Rp.50 juta. Meskipun demikian hingga kini aturan ini belum pernah diberlakukan kepada mereka yang melanggar.
Lain lagi dengan layangan disekita Bandara Ngurah Rai Denpasar. Mesin pesawat Singapore Airlines melilit benang layangan. Buntut kejadian ini beberapa maskapai penerbangan asing meminta pengelola Bandara Denpasar menertibkan permainan layangan. Melalui Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2000 tentang Larangan Menaikkan Layang-layang dan Permainan Sejenis di Bandar Udara Ngurah Rai dan Sekitarnya, Permerintah Daerah melarang warga memainkan layangan dalam radius Sembilan kilometer dari Bandara Ngurah Rai. Warga diizinkan memainkan layangan dengan ketinggan dibawah 100 meter dalam radius 18 kilometer dari bandara Ngurah Rai.
Warga juga diperbolehkan memainkan layangan dengan ketinggian 300 meter dalam radius 54 Kilometer dari bandara Ngurah Rai. Pelanggar Perda ini diberi sanksi pidana kurungan tiga bulan dan denda maksimum lima juta rupiah.
Melalui perda ini warga disekitar bandara Ngurah Rai, seperti Kedonganan, Jimbaran, dan Benoa tidak dapat sembarangan bermain layangan.
Gangguan layangan kerap juga dialami oleh Bandara Internasional Juanda Surabaya, terutama menjelang musim pancaroba. Apalagi terdapat desa yang merupakan salah satu lintasan area pendaratan pesawat. Jarak ketinggian pesawat melintas dikawasan ini tidak lebih dari 100 meter. Tidak hanya gangguan layangan yang dihadapi Bandara Juanda, tetapi juga sinar leser warna hijau (green laser) dan frekuensi radio illegal. Sekalipun warga acapkali diingatkan 3 risiko yang kerap mengganggu penerbangann di Bandara Juanda, tetapi tetap saja gangguan itu muncul lagi. 73
Hal-hal yang demikian yang melatarbelakangi beberapa bandara mendesak pemerintah daerah untuk melahirkan Peraturan daerah yang berkaitan dengan Kawasan Keselamatan operasi Penerbangan ataupun larangan-larangan terhadap hal-hal yang mengancam keselamtan penerbangan di wilayah sekitar kawasan keselamatan operasi penerbangan.
Jika dikaitkan dengan undang-undang penerbangan hal ini diatur didalam pasal 210, yaitu setiap orang dilarang berada didaerah tertentu dibandar udara, membuat halangan (obstacle), dan/atau melakukan kegiatan lain dikawasan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan kecuali memperoleh izin dari otoritas Bandar udara.74
Setiap orang membuat halangan (obstacle), dan/atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan dipidana dengan pidana penjara paling
73 Ibid.
74 Pasal 210 UU No.1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).75
Peraturan mengenai larangan akan larangan dan tingkat bahaya dalam kawasan operasi penerbangan juga diatur lebih khusus dalam Peraturan Menteri Perhubungan yang menyatakan bahwa untuk mempergunakan tanah, perairan atau udara disetiap kawasan yang ditetapkan dalam peraturan ini, harus mematuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :76
1. Tidak menimbulkan gangguan terhadap isyarat-isyarat navigasi penerbangan atau komunikasi radio antar Bandar udara dan pesawat udara.
2. Tida menyulitkan penerbang membedakan lampu-lampu rambu udara dengan lampu-lampu lain.
3. Tidak menyebabkan kesilauan pada mata penerbang yang mempergunakan Bandar udara.
4. Tidak melemahkan jarak pandang sekitar Bandar udara; dan
5. Tidak menyebabkan timbulnya bahaya burung atau dengan cara lain yang dapat membahayakan, atau mengganggu pendaratan, lepas landas atau gerakan pesawat udara, yang bermaksud mempergunakan pesawat udara.
Selanjutnya diatur mengenai larangan kepada setiap orang untuk :
a. Berada di daerah tertentu di Bandar udara;
b. Membuat halangan (obstacle) dan/atau :
75 Pasal 421 UU No.1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
76 Pasal 23 ayat (9) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
c. Melakukan aktivitas lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan.
Dari ketentuan-ketentuan yang diatur dalam berbagai peraturan tersebut yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan, bahwa peraturan tersebut merujuk pada pentingnya peraturan mengenai kawasan keselamatan operasi penerbangan dalam menunjang keselamatan penerbangan.
Pentingnya di bentuk peraturan daerah mengenai kawasan keselamatan operasi penerbangan adalah untuk memberikan keleluasaan pesawat terbang dalam melakukan gerakannya baik di darat maupun di udara, dan menjamin keselamatan penerbangan, diperlukan ruang bebas yang memadai agar dicapai tingkat keselamatan penerbangan yang optimal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Serta suara bising dan getaran yang ditimbulkan oleh mesin pesawat terbang dapat mengganggu kenyamanan penduduk yang tinggal dikawasan Bandar udara. dan untuk mencapai hal tersebut perlunya pengaturan dalam rangka pengendalian terhadap tumbuhan, pendirian bangunan dan berbagai kegiatan yang menggunakan ruang udara agar menjamin keselamatan penerbangan. Serta untuk memberikan dasar dalam menetapkan jenis bangunan, pemanfaatan ruang dan ketentuan teknis serta dasar pengendalian penggunaan ruang.
Dibentuknya peraturan daerah sebagai tugas dekonsentrasi pemerintah daerah atau perpanjangan dari undang-undang maupun peraturan dan/atau keputusan menteri. Pembuatan Peraturan daerah kawasan keselamatan operasi penerbangan pada Bandar Udara Internasional Kualanamu berlandaskan pada undang-undang nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan yang jelas menyatakan
bahwa pentingnya peran serta masyarakat dalam menunjang keselamatan penerbangan khususnya masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kawasan operasi penerbangan tentunya memiliki pengaruh yang besar dalam menunjang keselamatan penerbangan.
Meski sudah ada aturan KKOP Kuala Namu, namun hingga kini belum ada Perda yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk mengatur pelaksanaannya. Perda ini harus dibuat supaya pembangunan-pembangunan di sekitar radius 15 kilometer dari bandara sesuai aturan KKOP , karena pemerintah sendiri akan terkendala dalam memberikan izin jika pembangunan tersebut berada di kawasan horizontal dalam, horizontal luar.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan yang telah penulis sampaikan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :
a. Bahwa Keselamatan Penerbangan merupakan keadaan yang terwujud dari penyelenggaraan penerbangan yang lancar sesuai dengan prosedur operasi dan persyaratan kelaiakan teknis terhadap sarana dan prasarana penerbangan beserta penunjangnya. Keselamatan dan keamanan penerbangan di Indonesia merupakan tanggung jawab semua unsur baik langsung maupun tidak langsung, baik regulator, opertaor, pabrikan, pengguna dan masyarakat.
Namun demikian keberadaan tanggung jawab yang sifatnya konseptual tersebut perlu diwujudkan, salah satu caranya adalah dengan adanya kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan-peraturan oleh pemerintah dan instansi-instansinya di bidang transportasi, khususnya transportasi udara atau penerbangan.
b. Bahwa Bandar udara (airport) merupakan salah satu unsur terpenting dalam dunia penerbangan yaitu lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan atau lepas landas pesawat, menaikkan dan atau menurunkan penumpang, memuat dan atau membongkar kargo, pos serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. Karena bandara merupakan pusatnya kegiatan transportasi udara
74
sehingga harus dijamin keamanan dan keselamatan penerbangan disekitar kawasan operasi penerbangan. Dalam hal ini perlu diatur mengenai kawasan keselamatan operasi penerbangan dalam suatu bandara yaitu kawasan daratan dan/atau perairan dan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan. hal ini guna menjamin tidak adanya halangan (obstacle) disekitar bandar udara baik berupa bangunan tinggi yang menghalangi ataupun aktivitas di udara oleh masyarakat disekitar kawasan keselamatan operasi penerbangan tersebut.
c. Merujuk pada perjanjian ataupun konvensi internasional dan peraturan perundang-undangan nasional yang berlaku, bahwa pentingnya diatur mengenai kawasan keselamatan operasi penerbangan dalam rangka pengendalian terhadap tumbuhan, pendirian bangunan dan berbagai kegiatan yang menggunakan ruang udara agar menjamin keselamatan penerbangan.
Serta untuk memberikan dasar dalam menetapkan jenis bangunan, pemanfaatan ruang dan ketentuan teknis serta dasar pengendalian penggunaan ruang. Pengaturan mengenai kawasan keselamatan operasi penerbangan perlu diatur dalam bentuk Peraturan Daerah yang merupakan inisiatif dan bagian dari tugas dekosentrasi Pemerintah Daerah khususnya dalam pembahasan ini adalah Bandara Internasional Kuala Namu, untuk mengatur daerah nya terutama melindungi masyarakat yang berada di kawasan tersebut serta mewujudkan keselamtan dan keamanan penerbangan.
B. Saran
Untuk meningkat keselamatan penerbangan dalam hal ini di bandara Internasional Kuala Namu, maka penulis akan menajukan beberapa saran yaitu :
a. Bahwa para pihak harus lebih memperhatikan apa yang menjadi aspek keselamatan penerbangan, sehingga baik pemerintah maupun masyarakat secara bersama-sama bekerjasama ataupun melakukan koordinasi dalam mewujudkan penerbangan aman dan nyaman.
b. Bahwa seharusnya Otoritas Bandar Udara yang merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Perhubungan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan melalui Direktur Jenderal Perhubungan Udara yang memiliki kewenangan terhadap KKOP harus lebih intens berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan provinsi dan/atau Kabupaten didalam mengatur dalam penentuan perizinan terhadap ketinggian bangunan, serta bersama BUMN yang mengelola Bandar udara dapat melakukan sosialisasi kemasyarakat mengenai ketentuan-ketentuan hukum yang ada sehingga masyarakat menyadari bahwa mereka juga memiliki peranan penting dalam menunjang keselamatan.
c. Hendak nya pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan bersama pengelola Bandar udara dapat melakukan tindakan dalam rangka mendorong pemerintah kabupaten Deli Serdang agar segera menerbitkan aturan tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan(KKOP). Seperti hal nya pada provinsi Bali, Kota Tangerang dan beberpa kabupaten lain yang menerbitkan peraturan tentang KKOP, ini merupakan upaya dari pemerintah kabupaten dalam memberikan aturan yang tegas kepada masyarakat agar tidak
melakukan kegiatan yang membahayakan penerbangan disekitar kawasan operasi penerbangan. Juga selain kepentingan penerbangan hal ini juga untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk yang mungkin dapat terjadi disekitar kawasan keselamatan operasi penerbangan tersebut, sebagaimana dimuat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 57 Tahun 2007 Tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Di Sekitar Bandar Udara Baru Medan Provinsi Sumatera Utara.
DAFTAR PUSTAKA
A. Sumber Buku
Annand,RP., Internasional Law and Developing Countries, (Dordrecht: Martinus Nijhoff publishers,1987).
Conway, H.Mckinley, The Airport City (United State of America:Conway Publication,1980).
Handoyo,Singgih & Dudi Sudibyo, Aviapedia Ensiklopedia Umum Penerbangan, (Jakarta: PT.Kompas Media Nusantara,2011).
Handoyo,Singgih & Dudi Sudibyo, Aviapedia Ensiklopedia Umum Penerbangan Jilid 2, (Jakarta: PT.Kompas Media Nusantara,2014).
Haryoto, Edie, Transportasi Pro Rakyat, (Jakarta: PT.Gramedia,2013)
Martono, H.K, Hukum Udara Nasional dan Internasional Publik (Jakarta:Rajawali Pers,2012).
Martono, H.K, Pengantar Hukum Udara Nasional dan Internasional (Jakarta:Rajawali Pers, 2011).
Martono, H.K, Hukum Penerbangan berdasarkan UU RI Nomor.11 tahun 2009 (Bandung:Mandar Maju, 2009).
R.,Soekardo, Hukum Dagang Indonesia Jilid II, (Jakarta:Rajawali Press,1981).
Suherman,E., Hukum Udara Indonesia dan Internasional (Bandung:Alumni, 1983).
78
Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2006).
Soekanto, Soerjono & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta:Ui Press,2003).
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta:Ui Press, 2005).
Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar (Jakarta:Rajawali Press,2014).
Wiradipradja, E.Saefullah, Pengantar Hukum Udara dan Ruang Angkasa, (Bandung:Alumni, 2014).
Zainuddin, Achmad, Selintas Pelabuhan Udara, (Jogjakarta: PT.Wira Muda, 1983).
B. Jurnal Ilmiah, Makalah, Penelitian
Bagus Rahmadi Supancana, Ida, Peranan Hukum Dalam Pembangunan Kedirgantaraan Kumpulan Makalah & Paparan Ilmiah, (Jakarta:CV.Mitra Karya, 2003).
Kizza Brad, “Liability of Air Carrier for Injuries to Passangers Resulting From Domestic Hijacking and related to Incidents”, Vol.46 (10 Journal Air Law and Commerce 1951 Tahun 1980).
Febilita Wulan Sari, “Ketentuan Annex Xiv Konvensi Chicago 1944 Mengenai Standar Internasional Bandar Udara Bagi Keselamatan Penerbangan Dan Implementasinya Dalam Hukum Udara Nasional”, Vol.14 No.2 (unikom centre :2016).
C. Konvensi dan Perundang-undangan
ICAO (International Civil Aviation Organisation) Annex.
Konvensi Chicago Tahun 1944.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 1996 Tentang Kebandarudaraan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2001 Tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan.
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM Nomor 48 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 11 Tahun 2010 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 57 Tahun 2007 Tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan di Sekitar Bandar Udara Baru Medan Provinsi Sumatera Utara.
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Larangan Menaikkan Layang-layang dan Permainan Sejenis di Bandara Ngurah Rai dan Sekitarnya.
D. Website
http://id.wikipedia.org http://www.icao.int/ Annex.
http://hubud.dephub.go.id/
http://www.icao.int/Security/SFP/Pages/Annex17
http://www.icao.int/safety/DangerousGoods/Pages/annex-18.aspx https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_udara
http://hubud.dephub.go.id/?id/page/detail/45