BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Avian Influensa (AI)
2.1.8 Penularan AI
Sebagai penyakit yang disebabkan oleh virus, avian influenza sangat mudah menular. Penularan atau transmisi dari virus influenza secara umum dapat terjadi melalui inhalasi, kontak langsung, ataupun kontak tidak langsung (Bridges et.al. 2003).
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan sekresi dari unggas terinfeksi, pakan, air, peralatan dan baju yang terkontaminasi(Komnas FBPI 2007). Serangga, tikus, dan parasit serta manusia dapat berperan sebagai vektor mekanis dalam menularkan virus ini. Sejauh ini belum ada bukti virus HPAI ditularkan secara horizontal.
Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah.
2.1.8.1 Penularan pada unggas
Penyebaran virus HPAI selain melalui aktivitas migrasi burung-burung liar yang merupakan inang alami virus penyebab, dapat pula terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, feses, air minum, udara di daerah tercemar,
peralatan kandang tercemar, serta secara sekunder melalui pekerja kandang, kendaraan pengangkut, pakan, dan lain-lain yang berasal dari daerah tercemar. Virus HPAI ini dapat hidup pada temperatur lingkungan dalam jangka waktu yang lama dan dapat bertahan hidup pada bahan-bahan yang telah dibekukan. Satu gram dari feses hewan yang terinfeksi virus ini mengandung virus yang cukup untuk menginfeksi satu juta unggas (FR 2005).
Virus AI ini dapat menular antar unggas satu peternakan dengan peternakan lainya melalui kontak langsung dari hewan yang trinfeksi dengan hewan sehat yang peka. Penularan secara tidak langsung penularan AI ini dapat terjadi melalui :
• Dropet aerosol cairan/lendir yang berasal dari hidung dan air mata. • Paparan muntahan.
• Lubang anus (tinja) dari unggas yang sakit.
• Penularan melaui aerosol merupakan penularan yang paling utama karena konsentrasi virus yang tinggi dalam saluran pernafasan.
• Manusia (melalui sepatu dan pakaian) yang terkontaminasi. • Pakan, air, dan peralatan yang terkontaminasi virus AI.
• Penyebaran melaui perantara angin memegang peranan penting dalam penularan penyakit dalam satu kandang dan sangat terbatas ke kandang yang lain.
Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi diantara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung.
2.1.8.2 Penularan pada manusia
Sebenarnya virus flu burung tidak mudah menular kepada manusia. Tetapi hal ini bisa berubah karena terjadinya reassortant (bercampurnya materi genetik virus influenza pada hewan dan manusia) sehingga dalam perkembangannya
penyakit flu burung tidak hanya menyerang unggas, tetapi juga menyerang manusia (zoonotik) (Renstra 2005).
Kebanyakan kasus infeksi flu burung H5N1 pada manusia adalah akibat dari kontak langsung atau dekat dengan unggas yang terinfeksi (mis. ayam, bebek dan kalkun piaraan) atau permukaan yang mungkin terkontaminasi oleh kotoran burung yang terinfeksi. Pandemi influenza akan timbul jika flu burung bermutasi/berubah sehingga dapat dengan mudah ditularkan dari satu orang kepada orang lain (Annonymous 2007).
Pandemi influenza dapat timbul dari perubahan yang terjadi dalam flu burung tertentu yang sangat patogenik, tetapi tidak ada orang yang tahu kapan atau bahkan apakah hal ini akan terjadi (CDC. 2007a). Dewasa ini, belum ada laporan kasus penularan flu burung dari manusia kepada manusia yang berkelanjutan (Annonymous 2007).
Orang yang terinfeksi jenis virus flu burung yang ada dewasa ini (H5N1) menunjukkan segala macam gejala dari gejala umum yang mirip influenza manusia (demam,tenggorokan sakit, dan otot terasa sakit-sakit) sampai radang paru-paru, penyakit pernafasan berat, dan komplikasi lain yang mengancam jiwa. Gejala flu burung dapat tergantung pada subtipe dan jenis dari virus tertentu yang menyebabkan infeksi yang bersangkutan (Annonymous 2007).
Kasus kejadian HPAI pada manusia yang dilansir badan kesehatan dunia (WHO) hingga 25 Juli 2007 adalah 319 kasus dengan 192 korban meninggal dunia (WHO 2007). Sebagian besar kasus infeksi HPAI pada manusia disebabkan penularan virus dari unggas ke manusia (Beigelet al. 2005).
Bukti bahwa terjadinya transmisi dari manusia ke manusia sangat jarang ditemukan. Namun demikian berdasarkan beberapa kejadian dimana terjadi kematian pasien yang berkerabat dekat disebabkan oleh infeksi virus H5N1 (Hien et al.2004)
Tidak ada risiko yang ditimbulkan dalam mengkonsumsi daging unggas yang telah dimasak dengan baik dan matang (Mounts et al.1999). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui risiko terinfeksi H5N1 bagi para pakerja atau peternak unggas (Bridges et al. 2002), penelitian tentang risiko tenaga kesehatan yang menangani pasien avian influenza A (Schults et al.2005),
dan juga penelitian tentang kemungkinan transmisi virus H5N1 pada binatang lainnya.
2.1.8.3 Penularan pada mamalia lain
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan cara memberi makan binatang seperti kucing, macan, ataupun macan tutul dengan unggas yang terinfeksi dengan H5N1 terbukti bahwa binatang pemakan daging tersebut dapat mengalami kelainan paru berupa pneumonia dan kerusakan pada rongga alveolar yang dapat menyebabkan kematian (Keawcharoen et al. 2004; Kuikenet al. 2004).
Beberapa hewan yang ditengarai ikut menularkan virus AI itu adalah kucing dan babi. Namun dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, belum ada indikasi hewan-hewan tersebut ikut menularkan virus AI. Di Bali, masyarakat banyak yang memelihara babi dan sejauh ini tidak ada masalah. Demikian juga dengan kasus di beberapa negara seperti Thailand dan Malaysia.
Di Bangkok, Thailand semua kucing dalam suatu tempat pemukiman pada 2004 lalu mati karena terinfeksi virus flu burung. Demikian pula harimau dan macan kumbang di kebun binatang Thailand yang juga mati akibat virus H5NI. Pada 2006 dua ekor kucing yang tinggal di dekat pemukiman di Irak mati akibat virus AI. Di Jerman ada tiga ekor kucing yang mengalami nasib serupa setelah menyantap burung yang positif terjangkit virus AI (Suara Merdeka 2007).