• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA

5.4 Penulisan Kata

Contoh :

2.1 Jenis Penelitian 2.2 Waktu Penelitian 2.3 Alat dan Bahan

5.4

Penulisan Kata

A.

Kata Dasar

Kata dasar ditulis dalam satu kesatuan. Contoh :

✓ Banyak orang tinggal di rumah. Saya tidak suka lari. ✓ Kamar kakak sangat rapi.

B.

Kata Berimbuhan

1. Imbuhan, antara lain sisipan awalan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Contoh :

✓ bermalam berkesinambungan mempersulit

Catatan :

tulisan kemampuan perbuatan

Imbuhan berupa kata serapan dari unsur asing, seperti – isme, man,

-wan, atau –wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Contoh :

✓ idealisme seniman wartawan manusiawi

2. Bentuk terikat ditulis satu rangkai dengan kata yang mengikuti selanjutnya.

Contoh:

✓ adikarya, hiperaktif, aerodinamika, inkonvensi. Catatan :

(1)

Tanda hubung (-) digunakan untuk merangkaikan bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital.

Contoh : ✓ non-Islam ✓ pan-Sosialisme ✓ pro-Soviet anti-ISIS

(2)

Bentuk maha yang diikuti oleh kata esa dan kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.

Contoh :

✓ Marilah bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Tuhan adalah Maha Pencipta alam semesta dan seisinya. ✓ Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa memberikan

limpahan rahmat kepada kita semua.

(3)

Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.

Contoh :

✓ Tuhan Yang Mahakuasa selalu mendengar doa-doa orang yang mau berusaha dan bertawakkal kepada-Nya

C.

Alun-alun Kanak-kanak Bersih-bersih

Catatan: Bentuk ulang pada kata yang digabung ditulis dengan mengulang unsur pertama.

Contoh:

✓ Pesan antar → pesan-pesan antar ✓ Ikan kecil → ikan-ikan kecil

✓ Angkutan barang → angkutan-angkutan barang

D.

Gabungan Kata

1. Unsur gabungan kata yang sering disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, penulisannya dipisah.

Contoh:

rumah sakit simpang tiga alat tulis botol minum buah tangan

2. Gabungan kata yang bisa menimbulkan pengertian yang salah, harus ditulis dengan menambahkan tanda penghubung (-).

Contoh:

bangku sekolah-baru anak-cucu guru anak cucu-guru

3. Gabungan kata yang penulisannya dipisah harus tetap terpisah jika mendapat imbuhan berupa awalan atau akhiran saja.

Contoh:

berjalan kaki memutar balik berburuk sangka

4. Gabungan kata harus ditulis dalam satu rangkaian kata jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus.

Contoh

menggarisbawahi ditandatangani memutarbalikan

5. Gabungan kata yang sudah menjadi satu, ditulis dalam satu rangkai kata.

Contoh:

59

E.

Pemenggalan Kata

1.

Kata dasar dapat dilakukan pemenggalan dengan kaidah antara lain:

a.

Apabila di tengah kata dasar terdapat huruf vokal yang berurutan

maka pemenggalan kata dilakukan di antara kedua huruf vokal tersebut.

Contoh: Siap si-ap Kuliah kuli-ah

b.

Pemenggalan kata dasar tidak dilakukan pada kata yang terdiri dari Huruf diftong ai, au, ei, dan oi.

Misalnya: ko-boi pu-lau san-tai

c.

Apabila di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan atau gabungan huruf konsonan di antara dua huruf vokal maka pemenggalan kata dilakukan sebelum huruf konsonan tersebut. Misalnya: Su-pa-ya

Bu-nga Sa-kit Ma-ta-ha-ri

d.

Apabila di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan maka pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan tersebut.

Misalnya: Mut-lak Ming-gu Am-bang

e.

Apabila di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing huruf melambangkan satu bunyi maka pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan pertama dan kedua.

Misalnya: Kon-sen-tra-si Sen-tral

Catatan:

Gabungan huruf konsonan tidak dipenggal jika melambangkan satu bunyi.

Contoh: kong-res ikh-las masy-hur

2.

Kata turunan dilakukan Pemenggalan di antara bentuk dasar serta unsur pembentuknya.

Misalnya: makan-an

mem-pertanggungjawabkan mempertanggung-jawabkan pergi-lah

Catatan:

a)

kata berimbuhan yang bentuk dasarnya sudah mengalami perubahan maka pemenggalan dilakukan seperti pada kata dasar. Misalnya: me-nya-pu

me-mu-tar me-no-long

b)

kata bersisipan dilakukan pemenggalan seperti pada kata dasar. Misalnya : ge-ri-gi

Si-nam-bung te-lun-juk

c)

tidak dilakukan pemenggalan kata jika menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir baris.

Misalnya:

Beberapa orang tua siswa telah menyampaikan ide tentang perayaan akhir tahun

Meskipun lapar, mereka tidak ada yang memakan kue yang telah disediakan

3.

apabila sebuah kata terdiri dari dua unsur atau lebih dan salah satu unsur tersebut bisa bergabung dengan unsur lain maka pemenggalan dilakukan di antara unsur- unsur tersebut. Setiap unsur gabungan dipenggal seperti halnya pada kata dasar. Misalnya:

- biologi bio-logi bi-o- lo-gi - fotografer foto-grafer fo- to-gra-fer - introduksi intro-duksi in- tro-duk-si

4.

Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara unsur- unsurnya.

Misalnya:

Puisi berjudul ‘Aku’ adalah karangan Chairil Anwar

Pengarang Novel Harry Potter adalah Joanne Kathleen Rowling

5.

Pemenggalan kata tidak dilakukan pada gelar dan Singkatan nama diri

yang terdiri atas dua huruf atau lebih.

• Gadis itu bergelar Kanjeng Bendara R.Ay Kencono Wulan Catatan: Hindari penulisan berikut:

• Gadis itu bergelar Kanjeng Bendara R.Ay Kencono wulan

F.

Kata Depan

Kata depan di, ke, dan dari harus ditulis terpisah dari kata yang meyertainya. Misalnya:

- Di mana dia bekerja?

- Saya pergi ke rumah temannya. - Dodo berasal dari Maluku.

61

G.

Partikel

a.

Partikel -lah, -tah , dan -kah ditulis serangkaian dengan kata yang mengawalinya.

Misalnya:

- Cobalah untuk berusaha! - Maukah kau menolongku?

b.

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mengawalinya. Misalnya:

- Tak sekali pun kau mengunjungiku. - Berapa pun itu, aku tak mau.

Catatan: Partikel pun ditulis serangkai jika menjadi unsur kata penghubung Misalnya:

- Meskipun sudah tua, ia tetap rajin bekerja. - Bagaimapun tugas ini harus dikerjakan

c.

Partikel per yang berarti ‘tiap’, ‘demi’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikuti.

- Harga buah mangga sekarang Rp 15.000 per kilogram. - Pasien di rumah sakit itu diperiksa satu per satu - Peraturan ini berlaku per 17 Agustus

H.

Singkatan dan Akronim

1. Singkatan gelar, sapaan, nama orang, pangkat atau jabatan harus diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan tersebut. Misalnya:

- H. Zaini Haji Zaini

- J.K. Rowling Joanne Kathleen Rowling - S.K.M. sarjanakesehatan masyarakat

2. a. Singkatan yang terdiri dari huruf awal pada setiap kata nama lembaga pendidikan, badan atau organisasi, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

- ITB Institut Teknologi Bandug

- ILO International Labour Organization

b. Singkatan yang terdiri dari huruf awal pada setiap kata yang bukan nama diri harusditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:

- SMP Sekolah Menengah Pertama - NIK Nomor Induk Kependudukan

3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

- ybs. yang bersangkutan - ttd. tertanda

- Sdr. Saudara

4. Singkatan yang terdiri dari dua huruf yang biasa dipakai dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Misalnya:

- a.n. atas nama

- s.d. sampai dengan

5. Singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang serta lambang kimia tidak perlu diikuti tanda titik.

Misalnya:

- Mg magnesium

- kg kilogram

- km kilometer

- Rp rupiah

6. Akronim nama diri yang terdiri dari huruf awal pada setiap kata harus ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Misalnya:

- STAN Sekolah Tinggi Administrasi Negara - PSSI Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia 7. Akronim nama diri yang terdiri dari gabungan suku kata atau

gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

Misalnya:

- Bulog Badan Urusan Logistik

- Jabotabek Jakarta Bogor Tangerang Bekasi

8. Akronim bukan nama diri yang terdiri dari gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata harus ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

- puskesmas pusat kesehatan masyarakat - tilang bukti pelanggaran

- saber sapu bersih

I.

Angka dan Bilangan

Angka Arab dan angka Romawi biasa dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.

✓ Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

63 1. Penyebutan bilangan dalam teks yang bisa dinyatakan dengan menggunakan satu atau dua kata maka bisa ditulis dengan huruf, bukan dengan angka, kecuali jika digunakan secara berurutan seperti dalam perincian.

Misalnya:

Mereka pergi ke tempat itu sampai dua kali.

Dari peristiwa kebakaran itu, sebanyak 45 orang selamat, di antaranya 20 mengalami luka ringan, 15 mengalami luka berat, dan 10 orang kritis.

2. a Bilangan harus ditulis dengan huruf apabila berada di awal kalimat.

Misalnya:

- Dua puluh mahasiswa FKM mendapatkan beasiswa bidikmisi. b. Jika bilangan terdapat pada awal kalimat dan tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata maka susunan kalimatnya harus diubah.

Misalnya:

- Tamu undangan yang hadir dalam pernikahan ini sekitar 150 orang.

Catatan: Hindari Penulisan seperti berikut.

- 150 tamu undangan hadir dalam pesta pernikahan ini.

3. Angka yang menunjukkan bilangan besar bisa ditulis sebagian dengan huruf supaya lebih mudah dibaca. Misalnya:

- Dia memperoleh dana hibah Dikti sebesar 100 juta rupiah untuk melaksanakan penelitian.

- Hotel itu mengalami kerugian 310 juta rupiah akibat kebakaran.

- Proyek pembangunan infrastruktur jalan tol memakan biaya 10 triliun rupiah.

4. Angka digunakan untuk menyatakan (a) nilai uang; (b) ukuran: panjang, berat, luas, isi, dan waktu Misalnya:

- 76 kilometer - 10 tahun - 30 menit - - Rp 3000,00 - - US$ 2,5

5. Angka digunakan untuk memberikan nomor alamat seperti nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar.

Misalnya:

6. Angka digunakan untuk memberikan nomor bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

- Bab V, Pasal 10, halaman 199

7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.

Bilangan Utuh Misalnya:

- tujuh belas (17) - dua ratus (200)

b.

Bilangan Pecahan Misalnya: - setengah atau seperdua (½) - lima persen (5%)

8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut. Misalnya:

- -abad VII Masehi - abad ke-21

- abad kedua puluh satu

9. Angka yang mendapat akhiran -an harus ditulis dengan cara berikut. Misalnya:

- dua lembar uang 20.000-an (dua lembar uang dua puluh ribuan)

- tahun 1970-an (tahun seribu sembilan ratus tujuh puluhan) 10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan

dalam peraturan perundang-undangan, kuitansi dan akta. Misalnya:

- Telah diterima uang sejumlah Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk pembayaran uang muka rumah.

11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan seperti berikut. Misalnya:

- Bukti pembelian rumah seharga Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

12. Bilangan yang dipakai sebagai unsur nama geografi atau tempat ditulis dengan huruf.

Misalnya: - Rajaampat - Simpangtiga

J.

Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

65 Misalnya:

- Pohon itu akan kutebang.

- Rotiku, rotimu, dan rotinya sudah habis terjual.

K.

Kata Sandang si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:

- Sop itu telah dimasak oleh si koki

- Akhir cerita itu, dimenangkan oleh sang tokoh utama

Catatan: Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang

merupakan unsur nama Tuhan. Misalnya:

- Kita harus selalu berdoa kepada Sang Pencipta.