• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Gerakan Anti Swapraja di Surakarta Tahun 1945-1946

METODOLOGI PENELITIAN

3.3 Penulisan Laporan Penelitian (Historiografi)

Historiografi merupakan tahapan akhir yang dilakukan dalam prosedur penelitian ini. Tahapan ini merupakan langkah penyusunan hal-hal yang telah penulis dapatkan dalam bentuk penulisan skripsi. Historiografi berarti pelukisan sejarah, gambaran sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada waktu yang telah lalu yang disebut sejarah (Ismaun, 2005: 28). Pada penulisan ini peneliti merekonstruksi

berbagai fakta yang telah ditemukan dan yang telah dipahami serta dimengerti secara mendalam sehingga sehingga penulis dapat menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian yang telah dilakukan.

Berbagai penafsiran yang telah didapatkan dikaitkan menjadi beberapa fakta, disusun ke dalam sebuah skripsi. Di dalam skripsi ini tertuang berbagai hal yang telah dilakukan dan dihadapi oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Selain itu, dituangkan pula berbagai informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

Fakta yang didapat oleh penulis tidak hanya ketika melakukan penelitian saja, namun peneliti juga mendapatkannya ketika penulisan laporan ini sedang disusun. Fakta baru ini memberikan informasi dan kontribusi yang penting sehingga penulisan laporan ini menjadi lebih baik lagi. Fakta baru juga dicari oleh penulis ketika merasa ada yang kurang dalam penelitian ini.

Skripsi ini ditulis dengan menggunakan sistematika yang berlaku dalam jurusan Pendidikan Sejarah dengan menggunakan ejaan yang disempurnakan. Penulisan skripsi ini mengacu pada buku pedoman karya ilmiah yang dikeluarkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia. Penulisan ini ditujukan sebagai salah satu tugas akhir akademis yang harus ditempuh oleh mahasiswa dalam jurusan Pendidikan Sejarah untuk menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana.

Hasil penelitian akan disusun ke dalam lima bab, yang terdiri dari Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian, Pembahasan, dan Kesimpulan. Pembagian penyusunan kedalam lima bab ini bertujuan untuk memudahkan pemahamam terhadap karya tulis ini.

Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini berisi mengenai latar belakang masalah yang menjelaskan kerangka pemikiran mengenai pentingnya penelitian terhadap Sikap Kasunanan Surakarta Dalam Mengatasi Gerakan Anti Swapraja di Surakarta tahun 1945-1946. Untuk memfokuskan penelitian maka bab ini dilengkapi pula dengan rumusan masalah dan pembatasan masalah. Bab ini juga memuat mengenai metode penelitian yang digunakan serta dilengkapi dengan uraian sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka. Dalam bab ini dipaparkan mengenai sumber-sumber buku dan sumber lain yang digunakan oleh penulis sebagai sumber rujukan yang dianggap relevan dalam proses penelitian terhadap judul penelitian Sikap Kasunanan Surakarta Dalam Gerakan Anti Swapraja Di Surakarta Tahun 1945-1946. Dijelaskan pula tentang beberapa kajian dan materi yang berkaitan dengan konsep Revolusi Indonesia, Kasunanan Surakarta secara umum dan Gerakan-gerakan sosial di Surakarta.

Bab III Metodologi Penelitian. Bab ini akan menjelaskan mengenai serangkaian kegiatan serta cara-cara yang ditempuh dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan sumber yang relevan dengan masalah yang sedang dikaji oleh penulis. Diantaranya heuristik, yaitu proses pengumpulan data-data yang dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini. Kritik yaitu melakukan penilaian secara intern dan ekstern terhadap data yang telah diperoleh dalam langkah sebelumnya, untuk mendapatkan berbagai informasi yang akurat berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, interpretasi yaitu penafsiran terhadap fakta yang telah ditemukan karena

pemahaman dan pemikiran yang dilakukan terhadap permasalahan yang diteliti, serta historiografi yaitu tahapan terakhir dalam sebuah penelitian sejarah yang merupakan suatu kegiatan penulisan dan proses penyusunan hasil penelitian.

BAB IV Sikap Kasunanan Surakarta Dalam Gerakan Anti Swapraja Di Surakarta Tahun 1945-1946. Bab ini merupakan pembahasan atas jawaban pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah diantaranya: Pertama, latar belakang munculnya Gerakan Anti Swaparaja. Kedua, tindakan rakyat dalam Gerakan Anti Swapraja. Ketiga, dinamika politik yang terjadi dalam internal Kasunanan Surakarta. Keempat, tindakan Kasunanan Surakarta dalam penyelesaian Gerakan Anti Swapraja. Pada bab ini juga berisi tentang seluruh jawaban-jawaban atas rumusan masalah yang telah dibuat. Jadi pada umumnya dalam bab ini penulis memaparkan seluruh data-data yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

Bab V Kesimpulan. Didalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan serta sebagai inti dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya dan menguraikan hasil temuan penulis tentang permasalahan yang dikaji pada penulisan skripsi ini.

BAB V

KESIMPULAN

Pada bab ini penulis mendeskripsikan jawaban dari rumusan masalah penelitian yang berjudul ‘Sikap Kasunanan Surakarta Dalam Mengatasi Gerakan Anti Swapraja Tahun 1945-1946’. Gerakan anti swapraja ini merupakan salah satu gerakan sosial yang terjadi pada masa revolusi nasional, adanya gerakan ini mengakibatkan adanya perubahan besar di Surakarta dan menjadi salah satu yang sedang dipermasalahkan kembali oleh rakyat Surakarta saat ini yang menginginkan dikembalikannya keistimewaan Surakarta kepada Kasunanan Surakarta kepada pemerintah pusat. Latar belakang adanya gerakan ini pun mengalami permasalahan yang sangat kompleks menyebabkan gerakan ini bukan hanya memperjuangkan tujuan awalnya saja melainkan adanya beberapa kepentingan di dalamnya. Maka dari itu penulis membaginya dalam beberapa kesimpulan yang mendasar dari penelitian ini diantaranya sebagai berikut :

Pertama, apabila Kasunanan Surakarta bersikap menerima secara 100% kemerdekaan Indonesia tanpa harus terpengaruh kembali dengan keinginan Belanda yang ingin kembali masuk ke Indonesia mungkin segala kebijakan yang diambil oleh Kasunanan terhadap rakyat mengalami perubahan dan mengikuti irama politik Inodnesia yang sudah merdeka. Kasunanan tetap memakai peraturan yang sudah usang yang telah digunakan selama ratusan tahun yang bersifat kaku dan tetap digunakan setelah Indonesia merdeka sehingga peraturan tersebut dianggap sebagai penjajahan baru bagi rakyat Surakarta. Terlebih lagi Kasunanan

pun masih tetap melakukan hubungan dengan Belanda bahkan ada kesan membantu Belanda untuk kembali masuk kedalam Surakarta.

Kedua, persaingan antara Kasunanan dan Mangkunegaran. Persaingan selama ratusan tahun antara dua keraton di Surakarta ini pun ikut memperlemah posisi kedua keraton tersebut dalam pandangan rakyat. Kasunanan dan Mangkunegaran ini selalu melakukan persaingan dalam segala hal terutama dalam upacara-upacara keagamaan maupun upacara adat istiadat, dua keraton ini bersaing dengan kemewahannya dan kemerihannya sedangkan rakyat Kasunanan dan Mangkunegaran mengalami kemiskinan dan tingkat kesehatan yang rendah menyebabkan benih-benih kebencian tersebut pun semakin berkembang.

Ketiga, terbukanya rakyat Surakarta dengan paham-paham baru. Surakarta sejak masa pergerakan selalu terbuka dengan paham-paham baru ini pun sehingga tidak heran apabila di Surakarta selalu terjadi aksi-aksi protes rakyat terhadap Kasunanan. Maka tidak aneh apabila rakyat Surakarta sangat terbuka dengan paham-paham baru yang muncul dan berkembang di Surakarta, hal ini juga dilatar belakangi oleh konflik sosial yang terjadi antara Kasunanan dengan rakyatnya dimana Kasunanan sebagai penguasa Surakarta memberikan jarak yang sangat jauh dengan rakyat bahkan ada kesan seolah Kasunanan tidak dapat tersentuh oleh rakyat jelata. Sehingga menyebabkan rakyat mendukung adanya revolusi di Surakarta.

Keempat, perkembangan laskar rakyat di Surakarta. lahirnya laskar-laskar rakyat di Surakarta ini pun tidak terlepas dari adanya peran pembantu BKR untuk menjaga keamanan di wilayah masing-masing karena pada awal

kemerdekaan anggota BKR sangat sedikit, akhirnya terbentuklah laskar-lasakr rakyat di Surakarta. Keterbukannya Surakarta dengan paham-paham baru ini yang menyebabkan laskar-laskar rakyat ini mulai memiliki ideologi dalam perjuangannya hingga pada akhirnya laskar-laskar rakyat inilah yang menjadi motor adanya revolusi di Surakarta.

Kelima, keadaan politik nasional Indonesia. Seandainya para elit politik saat itu tidak terjadi konflik internal yang menyebabkan stabilitas nasional terganggu tidak akan adanya revolusi di Indonesia. Setelah adanya konflik yang terjadi dalam tubuh pemerintah pusat, pemerintah pusat pun mendapatkan rongrongan dari Belanda yang ingin menduduki Indonesia kembali. Banyaknya sikap yang berbeda dalam menanggapi rencana Belanda ini membuat suara terpecah antara pemerintah pusat dengan sebagian kelompok yang menyebabkan kelompok-kelompok yang tidak meyukai cara pemerintaha dalam menyelesaikan masalahnya ini maka terciptalah kelompok oposisi yang bertujuan untuk menjatuhkan kabinet saat itu.

Keenam, adanya krisis kekuasaan dalam tubuh Kasunanan. Kasunanan sejak kematiannya Pakubuwono X mengalami krisis kekuasaan yang menyebabkan dalam tubuh Kasunanan pun terpecah. Pada awal kemerdekaan Kasunanan dipimpin oleh Pakubuwono XII yang masih teramat muda saat memerintah sehingga pemerintah dipegang oleh pepatih dalem sebagai wali dan segala pengambil keputusan sedangkan Sunan hanya sebagai boneka pemerintahan saja, hal yang sama pun terjadi dalam Mangkunegaran. Maka tidak heran apabila pada masa revolusi Kasunanan bersikap tidak tegas dan kaku sehingga dengan mudahnya menghilangkan status keistimewaannya.

REKOMENDASI

Penelitian ini yang berjudul ‘Sikap Kasunanan Surakarta Dalam Mengatasi Gerakan Anti Swapraja Di Surakarta Tahun 1945-1946. Dapat membantu untuk menjelaskan materi pembelajaran sejarah kelas XII IPS dengan menggunakan Standar Kompetensi:Menganalisis Perjuangan Bangsa Indonesia sejak Proklamasi hingga lahirnya Orde Baru dengan Kompetensi Dasar : Menganalisis perjuangan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemeredekaan dari ancaman disintegrasi bangsa terutama dalam bentuk pergolakan dan pemberontakan (antara lain: PKI Madiun 1948, DI/TII, Andi Azis, RMS, PRRI, Permesta dan G30S). Penelitian ini dapat membantu dalam menjelaskan tentang masa revolusi Indonesia yang begitu banyaknya konflik internal yang menciptakan keadaan tidak kondusif Indonesa pasca kemerdekaan.

Nilai yang dapat diambil dari penelitian ini untuk menimbulkan rasa kebangsaan bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah meluntur sebagai dampak negative dari adanya globalisasi sehingga banyak pemuda-pemudi Indonesia yang cenderung melupakan nilai kemerdekaan yang semestinya mereka pertahankan sesuatu yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, mempertahankan disini bukan lagi dengan mengangkat senjata melainkan dengan prestasi yang membanggakan Indonesia dimata dunia internasional. Nilai selanjutnya yang dapat diambil ialah betapa pentingnya bagi kita sebagai warga Negara Indonesia untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia yang beraneka ragam baik itu seni, hukum adat maupun bahasa daerah yang merupakan identitas bangsa Indonesia.

Dokumen terkait